Volume 7. Nomor 2, 2026, hlm 363-378 JurnalTerapan Teknik Industri ISSN . 2722 3469 | ISSN [Onlin. 2722 4740 https://jurnal. id/index. php/jenius Analisis beban kerja fisiologis dan psikologis menggunakan metode CVL (Cardiovascular Loa. dan NASA-TLX pada pekerjaan petugas Analysis of physiological and psychological workload using the CVL (Cardiovascular Loa. and NASA-TLX methods on security Dian Elok Pertiwi. Moh Mawan Arifin*. Meilan Agustin *Universitas Borobudur. Raya Kalimalang No. Cipinang Melayu. Kota Jakarta Timur 13620 *Email: m. mawanarifin@borobudur. id*, meilanagustin@gmail. Informasi Artikel Abstrak HistoriArtikel Artikel dikirim 11/01/2026 Artikeldiperbaiki 17/03/2026 Artikel diterima 30/03/2026 Penelitian ini menganalisis beban kerja petugas keamanan di UPK PPUKMP Pulogadung yang mengelola area A102 hektar dengan pola kerja 60 jam/minggu, melebihi standar regulasi. Studi yang dilakukan bertujuan untuk mengevaluasi beban kerja fisiologis dan psikologis guna mengatasi risiko kelelahan. Pendekatan kuantitatif deskriptif dan metode purposive sampling digunakan dengan melibatkan 27 petugas keamanan sebagai Beban kerja fisiologis diukur menggunakan metode Beban Kardiovaskular (CVL) melalui pengukuran denyut jantung istirahat dan saat bekerja, sementara beban kerja psikologis dievaluasi menggunakan NASA Task Load Index (NASA-TLX), yang terdiri dari enam dimensi utama. Hasil menunjukkan bahwa semua responden diklasifikasikan tidak mengalami kelelahan fisiologis, dengan nilai %CVL di bawah 30%. Namun, penilaian NASA-TLX menunjukkan bahwa beban kerja psikologis dikategorikan sebagai tinggi, dengan skor rata-rata 75,62, di mana Temporal Demand dan Effort diidentifikasi sebagai faktor dominan. Temuan ini menyarankan bahwa meskipun beban kerja fisik relatif rendah, tekanan psikologis tetap menjadi masalah utama. Oleh karena itu, perbaikan sistem kerja, evaluasi kebutuhan tenaga kerja, penjadwalan shift yang lebih proporsional, serta peningkatan kompetensi dan fasilitas keamanan diperlukan untuk mengurangi beban kerja psikologis petugas Kata Kunci: Beban Kerja. Beban Kerja Fisiologis. Beban Kerja Psikologis. NASA-TLX. Cardiovascular Load (CVL) Abstract This study aims to analyze the level of physiological and psychological workloads among security officers at the Pulogadung Small and Medium Enterprise Development and Settlement Management Unit (UPK PPUKMP). descriptive quantitative and purposive sampling approach was used, involving 27 security officers as respondents. Physiological workload was measured using the Cardiovascular Load (CVL) method through resting and working heart rate measurements, while psychological workload was evaluated using the NASA Task Load Index (NASA-TLX), which consists of six main dimensions. The results showed that all respondents were classified as not experiencing physiological fatigue, with CVL values below 30%. However, the NASA-TLX assessment indicated that psychological workload was categorised as high, with an average score of 75. 62, where Temporal Demand JENIUS: Jurnal Terapan Teknik Industri is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License. 364 Dian Elok Pertiwi. Moh Mawan Arifin. Meilan Agustin Analisis beban kerja fisiologi dan psikologis menggunakan metode CVL (Cardiovascular Loa. dan NASA-TLX pada petugas keamanan UPK PPUKMP Pulogadung and Effort were identified as dominant factors. These findings suggest that although the physical workload is relatively low, psychological stress remains a major problem. Therefore, improvements to the work system, evaluation of manpower requirements, more proportional shift scheduling, and improvements in competence and safety facilities are needed to reduce the psychological workload of security officers. Keywords: Workload. Physiological Workload. Psychological Workload. NASA-TLX. Cardiovascular Load (CVL) Pendahuluan Sumber daya manusia (SDM) memainkan peran sentral dalam menentukan kesuksesan operasional suatu organisasi, karena itu tujuan organisasi sangat bergantung pada pemanfaatan optimal kontribusi individu . Sejumlah besar literatur menyoroti bahwa kinerja karyawan merupakan faktor kritis yang memengaruhi kemampuan organisasi dalam mencapai tujuan strategisnya . , . , . Dalam kerangka manajemen sumber daya manusia, beban kerja diakui sebagai determinan fundamental yang memengaruhi kapasitas kerja karyawan dan kinerja Beban kerja umumnya didefinisikan sebagai ketidakseimbangan antara tuntutan pekerjaan dan kemampuan fungsional pekerja . Ketidakseimbangan tersebut, baik berupa beban kerja berlebihan maupun tuntutan tugas yang tidak memadai. Hal ini dapat menimbulkan stres dan kelelahan terkait pekerjaan, yang pada akhirnya berdampak negatif pada produktivitas dan kualitas layanan . Dari perspektif holistik, beban kerja dapat dikategorikan menjadi dimensi fisiologis dan psikologis . Beban kerja fisiologis mencerminkan tuntutan fisik yang dikenakan pada pekerja, termasuk upaya otot dan fungsi organ tubuh, yang dipengaruhi oleh faktor internal seperti usia, status gizi, dan tingkat kebugaran fisik . , . , . Evaluasi efektif beban kerja fisiologis dapat dilakukan menggunakan metode pengukuran tidak langsung, utamanya pada detak jantung perhitungan denyut nadi untuk menentukan Cardiovascular Load (CVL) . , . Hal tersebut berfungsi sebagai indikator andal untuk menilai beban kardiovaskular selama aktivitas kerja. sisi lain, beban kerja psikologis mencakup proses kognitif dan upaya mental yang diperlukan selama pelaksanaan tugas . , termasuk perhatian, pengambilan keputusan, dan pemrosesan informasi. Untuk menilai dimensi mental ini. NASA Task Load Index (NASA-TLX) diakui secara luas sebagai alat penilaian yang kokoh dan andal. Metode ini mengevaluasi beban kerja mental melalui enam indikator yang berbeda, seperti permintaan mental, permintaan fisik, permintaan waktu, kinerja, usaha, dan frustrasi yang berdasarkan persepsi subjektif pekerja. Akibatnya, integrasi penilaian beban kerja fisiologis dan psikologis akan memberikan pemahaman komprehensif tentang kondisi kerja karyawan dan berfungsi sebagai dasar peningkatan sistem kerja dan meningkatkan kesejahteraan . Studi empiris menunjukkan bahwa beban kerja yang ekstrem sering ditemukan pada pekerjaan yang ditandai dengan risiko tinggi dan jam kerja yang panjang . , . Penelitian telah membuktikan bahwa petugas keamanan dan pekerja mekanik mengalami beban kerja mental yang signifikan akibat tuntutan usaha mental yang berlebihan dan durasi kerja yang panjang . Selain itu, temuan dari studi ergonomi memperkuat bahwa beban kerja psikologis yang tinggi berkorelasi negatif dengan stabilitas fisiologis dan kinerja kerja secara keseluruhan . Hal ini menyoroti pentingnya evaluasi beban kerja secara berkala, terutama dalam profesi yang memerlukan kewaspadaan fisik dan mental secara bersamaan, guna memastikan keselamatan kerja dan kualitas layanan. Unit Pengelola Kawasan Industri Pulogadung (UPK PPUKMP Pulogadun. , sebagai Unit Pelaksana Teknis di bawah Dinas Industri. Perdagangan. Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, menghadapi tantangan manajemen sumber daya manusia yang kompleks, terutama di unit keamanannya. Petugas keamanan bertanggung jawab atas pengamanan aset yang mencakup area seluas A102 hektar, dengan pola kerja mencapai hingga 60 jam per minggu. Durasi ini jauh melebihi standar 40 jam kerja per minggu yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2021, meskipun terdapat fleksibilitas regulasi bagi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). ISSN . 2722 3469 | ISSN [Onlin. 2722 4740 DOI 10. 37373/jenius. Mengingat risiko kelelahan fisik dan tekanan mental akibat patroli rutin dan kewaspadaan terus-menerus, analisis mendalam terhadap kondisi kerja mereka menjadi sangat diperlukan . Belum adanya penelitian yang menigintegrasikan CVL dan NASA TLX pada petugas keamanaan kawasan industri di BLUD, menjadi kebatuan dalam penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis beban kerja fisiologis menggunakan pendekatan Beban Kardiovaskular (CVL) dan beban kerja psikologis menggunakan metode NASA-TLX. Temuan penelitian ini diharapkan dapat memberikan dasar ilmiah untuk meningkatkan sistem kerja dan meningkatkan kesejahteraan kerja di lingkungan UPK PPUKMP Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif. Pendekatan ini dilakukan untuk menganalisis beban kerja fisiologis dan psikologis Petugas Keamanan pada Unit Pengelola Kawasan Pusat Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah serta Permukiman Pulogadung, menggunakan metode CVL (Cardiovascular Loa. dan NASA-TLX. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan pengukuran objektif dan subjektif terhadap beban kerja yang dirasakan oleh responden . Beban kerja fisiologis merupakan tanggapan sistem tubuh terhadap aktivitas kerja yang memerlukan energi metabolik . Metode pengukuran CVL (Cardiovascular Loa. merupakan salah satu metode pengukurnan beban kerja fisiologis yang bersifat objektif dengan cara mengukur rasio peningkatan denyut jantung saat bekerja dibandingkan dengan saat istirahat, yang mencermikan sejauh mana sistem kardiovaskular mampu menyesuaikan diri terhadap tuntutan pekerjaan. Beban kerja psikologis merupakan selisih antara tuntutan beban kerja suatu tugas dengan kapasitas maksimum. Penilaian beban kerja psikologis tidak semudah dalam menilai beban kerja Adapun Penilaian beban kerja psikologis dilakukan dengan Metode NASA-TLX. beban kerja berdasarkan enam dimensi utama, yaitu Kebutuhan Mental (KM). Kebutuhan Fisik (KF). Kebutuhan Waktu (KW. Performance (P). Tingkat Usaha (TU), dan Tingkat Frustrasi (TF) . Gambar 1. Alur kerangka penelitian Gambar 1 alur penelitian dirancang untuk mengukur beban kerja karyawan dari dua sisi, yaitu fisik dan mental. Beban fisik dipantau melalui denyut jantung . kor CVL), sementara beban mental diukur menggunakan kuesioner NASA-TLX yang melihat aspek pikiran, waktu, hingga tingkat stres. Hasil dari kedua pengukuran ini kemudian digabungkan untuk menentukan apakah beban kerja karyawan masuk kategori rendah atau justru sudah sangat tinggi. 366 Dian Elok Pertiwi. Moh Mawan Arifin. Meilan Agustin Analisis beban kerja fisiologi dan psikologis menggunakan metode CVL (Cardiovascular Loa. dan NASA-TLX pada petugas keamanan UPK PPUKMP Pulogadung Setelah tingkat beban kerja diketahui, langkah berikutnya adalah mencari akar masalahnya menggunakan diagram fishbone agar penyebab utamanya terlihat jelas. Dari sana, barulah disusun solusi praktis memakai metode 5W 1H . pa, mengapa, siapa, kapan, di mana, dan bagaiman. sebagai langkah nyata untuk memperbaiki kondisi kerja dan mengurangi kelelahan Tabel 1 menyajikan definisi operasional variabel yang merinci bagaimana beban kerja fisiologis dan psikologis diukur secara teknis dalam penelitian ini. Aspek fisik akan dipantau melalui pengukuran denyut jantung dan perhitungan %CVL. Untuk aspek mental dievaluasi menggunakan instrumen NASA-TLX yang mencakup enam dimensi emosional dan kognitif. Melalui penggunaan skala rasio dan interval ini, seluruh parameter penelitian memiliki standar pengukuran yang jelas untuk memastikan akurasi data yang diambil dari responden. Variaabel Beban Kerja Fisiologis Beban Kerja Tabel 1. Indikator-ndikator yang akan diukur. Sub Variabel Indikator Metode/Alat Ukur Denyut Jantung Denyut jantung Pengukuran nadi Denyut jantung %CVL (Cardiovascular Persentase Rumus %CVL Loa. denyut jantung kondisi istirahat Kebutuhan Aktivitas mental: NASA-TLX Mental (KM) Kebutuhan Fisik Psikologis Kebutuhan Waktu (KW) Performance (P) Tingkat Usaha (TU) Aktivitas fisik: Tekanan waktu Penilaian kerja dan terhadap hasil Besarnya energi atau tenaga mental yang Skala Rasio Rasio Interval . NASA-TLX . Interval NASA-TLX . Interval NASA-TLX . Interval NASA-TLX . Interval ISSN . 2722 3469 | ISSN [Onlin. 2722 4740 DOI 10. 37373/jenius. Variaabel Sub Variabel Tingkat Frustasi (TF) Indikator Kondisi emosional: stres, terganggu, tidak aman, kesal Metode/Alat Ukur NASA-TLX, Skala Interval Penelitian ini melibatkan 27 . ua puluh tuju. orang petugas keamanan di UPK PPUKMP Pulogadung. Seluruh responden dipilih secara purposive dengan kriteria Petugas Keamanan yang aktif di UPK PPUKMP Pulogadung, telah bekerja selama minimal 1 tahun, dan bersedia menjadi responden dan mengisi kuesioner serta mengikuti pengukuran denyut nadi. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner profil responden yang mencakup usia, jenis kelamin, dan masa kerja. Tujuannya adalah untuk mengetahui karakteristik demografis yang dapat mempengaruhi beban kerja baik secara fisiologis maupun psikologis. Hasil dan Pembahasan 1 Gambaran umum responden Penelitian ini melibatkan 27 . ua puluh tuju. orang petugas keamanan di UPK PPUKMP Pulogadung. Seluruh responden dipilih secara purposive dengan kriteria Petugas Keamanan yang aktif di UPK PPUKMP Pulogadung, telah bekerja selama minimal 1 tahun, dan bersedia menjadi responden dan mengisi kuesioner serta mengikuti pengukuran denyut nadi. Untuk waktu kerja per shift nya adalah sebagai berikut: C Shift 1 : 07. 00 Ae 15. C Shift 2 : 15. 30 Ae 23. C Shift 3 : 23. 30 Ae 07. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner profil responden yang mencakup usia, jenis kelamin, dan masa kerja. Tujuannya adalah untuk mengetahui karakteristik demografis yang dapat mempengaruhi beban kerja baik secara fisiologis maupun psikologis. Adapun karakteristik responden dalam Penelitian ini ditampilkan dalam Tabel 2. Responden didominasi oleh laki-laki dengan persentase 88,89%, sementara untuk usia, kelompok terbesar berada pada rentang 31 hingga 35 tahun. Sebagian besar pekerja, 70% di memiliki masa kerja antara 6 hingga 10 tahun. Komposisi demografi ini memberikan gambaran bahwa data penelitian diambil dari kelompok pekerja usia produktif yang memiliki kematangan pengalaman dalam menjalankan Tabel 2. Gambaran umum responden Karakteristik Kategori Jumlah Persentase (%) Laki-Laki 88,89% Jenis Kelamin Perempuan 11,11% 3,70% 14,81% 25,93% Usia 18,52% 18,52% 11,11% 7,41% 1 - 5 tahun 22,22% 6 - 10 tahun 70,37% Masa Kerja 11 - 15 tahun 3,70% Di atas 15 3,70% Berdasarkan data tersebut, sebagian besar responden berada pada rentang usia 31 -35 tahun . ,93%) yang merupakan usia produktif, di mana kemampuan fisik dan mental berada pada 368 Dian Elok Pertiwi. Moh Mawan Arifin. Meilan Agustin Analisis beban kerja fisiologi dan psikologis menggunakan metode CVL (Cardiovascular Loa. dan NASA-TLX pada petugas keamanan UPK PPUKMP Pulogadung Kelompok usia ini diharapkan memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap tuntutan pekerjaan petugas keamanan yang melibatkan aktivitas tinggi, termasuk kerja shift dan kondisi darurat. Dilihat dari masa kerja, sebagian besar responden memiliki masa kerja 6-10 tahun . ,15%), menunjukkan pengalaman yang cukup dalam menjalankan prosedur Namun, durasi masa kerja yang panjang juga berpotensi meningkatkan akumulasi beban kerja, terutama bila tidak diimbangi dengan manajemen waktu istirahat dan rotasi tugas yang baik. 2 Beban kerja fisiologis Perhitungan beban kerja fisiologis dilakukan dengan metode CVL (Cardiovascular Loa. , di mana pengukuran dilakukan dengan menghitung waktu yang diperlukan dalam 10 kali denyut nadi yang diambil pada waktu operator dalam keadaan bekerja dan dalam keadaan istirahat. Data tersebut dijadikan sebagai data primer, di mana data tersebut merupakan hasil dari pengamatan langsung dengan menghitung secara manual denyut nadi menggunakan stopwatch. Pengambilan denyut nadi dilakukan sebelum Petugas Keamanan memulai pekerjaan dan pengambilan denyut nadi istirahat dilakukan pada waktu Petugas Keamanan istirahat. Pengukuran denyut nadi dilakukan dengan menghitung waktu yang dibutuhkan untuk 10 denyut nadi Petugas Keamanan. Setelah itu, waktu tersebut dikonversikan ke dalam satuan per menit dengan mengalikan hasilnya dengan 60 dengan menggunakan rumus . ! 60 Dari hasil denyut nadi . tersebut kemudian dihitung %CVL dengan rumus sebagai berikut: % %&' = ( 0 0,( ! 100% Denyut nadi maksimum untuk laki-laki didapatkan dari hasil perhitungan 220 - usia, sedangkan denyut nadi maksimum untuk perempuan didapatkan dari hasil perhitungan 200 usia. Nilai % CVL tersebut kemudian diinterpretasikan sesuai dengan klasifikasi. Tabel 3 berisi standar evaluasi beban kerja fisik berdasarkan persentase Cardiovascular Load (%CVL) yang dibagi menjadi lima tingkatan risiko. Semakin tinggi persentase %CVL, maka semakin besar risiko kelelahan yang akan dihadapi oleh pekerja, mulai dari kondisi aman di bawah 30% hingga aktivitas yang dilarang jika melebihi 100%. Klasifikasi ini merupakan acuan penting bagi perusahaan guna menentukan prioritas perbaikan lingkungan kerja, terutama pada kategori kritis yang membutuhkan tindakan segera. Tabel 3. Klarifikasi beban kerja berdasarkan % CVL Nilai % CVL (%) Keterangan < 30 Tidak terjadi kelelahan pada pekerja 30 < 60 Diperlukan perbaikan tetapi tidak mendesak 60 < 80 Diperbolehkan kerja dalam waktu singkat 80 < 100 Diperlukan tindakan perbaikan segera >100 Aktivitas kerja tidak diperbolehkan dilakukan Perhitungan % CVL untuk petugas keamanan 1 dengan usia 39 tahun. C Denyut nadi kerja: 6,67 detik Denyut nadi . ! 60 = 2,24 ! 60 = 90 Denyut nadi istirahat: 8,22 detik ISSN . 2722 3469 | ISSN [Onlin. 2722 4740 DOI 10. 37373/jenius. Denyut nadi . ! 60 = 6,77 ! 60 = 73 Denyut nadi maksimum: 200 Ae usia = 200 Ae 39 = 161 %CVL * ,( %CVL: ( ! 100% / . 0 0,( 4:,. %CVL: . ! 100% = 19. Kategori CVL, nilai 19,32% pada %CVL dikategorikan menjadi tidak terjadi kelelahan C Berdasarkan perhitungan persentase Cardiovascular Load (%CVL) yang dilakukan pada seluruh responden, hasilnya disajikan pada Tabel 4. Nilai %CVL menunjukkan variasi yang relatif rendah, dengan rentang antara 0,88% hingga 19,32%. Seluruh responden, baik pria maupun wanita dengan variasi usia yang berbeda, berada dalam kategori tidak terjadi kelelahan. Hal ini mengindikasikan bahwa beban kerja yang diterima masih berada dalam batas aman secara Denyut nadi kerja yang tidak meningkat secara signifikan dibandingkan denyut nadi maksimum juga memperkuat kondisi tersebut. Selain itu, perbedaan usia dan jenis kelamin tidak menunjukkan pengaruh yang berarti terhadap tingkat kelelahan. Dengan demikian, aktivitas kerja yang dilakukan dapat dikategorikan tidak menimbulkan tekanan kardiovaskular yang berlebihan. Secara keseluruhan, kondisi ini menunjukkan bahwa lingkungan dan beban kerja masih ergonomis bagi para responden Tabel 4. Tabel 4. Hasil perhitungan % CVL untuk semua responden Responden Jenis Kelamin Usia Denyut Nadi Istirahat Denyut Nadi Kerja Denyut Nadi Maks %CVL Wanita 19,32 Pria 17,91 Pria Pria 7,45 Pria Pria 10,09 Pria 1,96 Wanita 10,39 Pria 4,88 Pria 8,25 Pria 5,98 Pria 7,21 Pria Pria 2,02 Pria 3,48 Pria 1,96 Kategori Tidak terjadi Tidak terjadi Tidak terjadi Tidak terjadi Tidak terjadi Tidak terjadi Tidak terjadi Tidak terjadi Tidak terjadi Tidak terjadi Tidak terjadi Tidak terjadi Tidak terjadi Tidak terjadi Tidak terjadi Tidak terjadi 370 Dian Elok Pertiwi. Moh Mawan Arifin. Meilan Agustin Analisis beban kerja fisiologi dan psikologis menggunakan metode CVL (Cardiovascular Loa. dan NASA-TLX pada petugas keamanan UPK PPUKMP Pulogadung Responden Jenis Kelamin Usia Denyut Nadi Istirahat Denyut Nadi Kerja Denyut Nadi Maks %CVL Pria 3,13 Pria 1,79 Pria 3,48 Pria 4,46 Pria 1,83 Pria 3,77 Pria 2,56 Pria 0,88 Wanita 1,61 Pria 2,06 Pria 1,71 Kategori Tidak terjadi Tidak terjadi Tidak terjadi Tidak terjadi Tidak terjadi Tidak terjadi Tidak terjadi Tidak terjadi Tidak terjadi Tidak terjadi Tidak terjadi 3 Beban kerja psikologis Beban kerja psikologis dilakukan dengan Metode NASA-TLX. Metode NASA-TLX merupakan metode subjektif dalam pengukuran beban kerja psikologis dengan mengukur beban kerja dengan 6 . dimensi, yaitu Kebutuhan Mental (KM). Kebutuhan Fisik (KF). Kebutuhan Waktu (KW). Performance (P). Tingkat Usaha (TU), dan Tingkat Frustasi (TF). Metode NASA dilakukan dengan pembobotan, pemberian rating, dan menghitung skor WWL. Skor WWL tersebut kemudian beban dikategorikan menjadi 5 . kategori, yaitu rendah, sedang, agak tinggi, tinggi, dan tinggi sekali. responden disajikan 15 pasangan indikator yang kemudian Responden diminta untuk memilih salah satu yang paling dominan mereka rasakan dari 15 perbandingan indikator NASA-TLX. Ke 15 perbandunga indikator NASA-TLX dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Pasangan indikator yang ditanyakan Pasangan Indikator Kebutuhan Mental atau Kebutuhan Fisik Kebutuhan Mental atau Kebutuhan Waktu Kebutuhan Mental atau Performance Kebutuhan Mental atau Tingkat Usaha Kebutuhan Mental atau Tingkat Frustasi Kebutuhan Fisik atau Kebutuhan Waktu Kebutuhan Fisik atau Performance Kebutuhan Fisik atau Tingkat Usaha Kebutuhan Fisik atau Tingkat Frustasi Kebutuhan Waktu atau Performance Kebutuhan Waktu atau Tingkat Usaha Kebutuhan Waktu atau Tingkat Frustasi Performance atau Tingkat Usaha Performance atau Tingkat Frustasi Tingkat Usaha atau Tingkat Frustasi ISSN . 2722 3469 | ISSN [Onlin. 2722 4740 DOI 10. 37373/jenius. Pertanyaan ini kemudian ditanyakan kepada semua responden. Tabel 6 berisi rincian persepsi subjektif dari 27 responden terhadap enam indikator beban kerja mental dengan menggunakan skala kuesioner NASA-TLX. Data yang ada menunjukkan variasi tekanan yang dirasakan pekerja, di mana indikator Kebutuhan Waktu dan Tingkat Usaha sering kali muncul dengan nilai yang dominan pada banyak responden. Hasil penilaian mandiri ini akan menjadi basis data penting guna menghitung skor akhir beban kerja psikologis guna mengidentifikasi aspek mana yang paling memicu kelelahan mental di lingkungan kerja. Respp Tabel 6. Hasil pembobotan indikator NASA-TLX Indikator Tingkat Kebutuhan Kebutuhan Kebutuhan Performance Usaha Mental (KM) Fisik (KF) Waktu (KW) (P) (TU) Tingkat Frustasi (TF) Pada tahap selanjutnya, responden diminta untuk memberikan rating dari skala 0-100 untuk masing-masing indikator sesuai dengan beban kerja yang telah dialami Responden selama melaku perhitungan skor beban kerja total berdasarkan rata-rata tertimbang dari enam dimensi tersebut . Tabel 7 berisi kategori Rating nilai menurut Hart. Tabel 7. Kategori beban kerja Rating Nilai Kategori Beban Kerja 0Ae9 Rendah 10 Ae 29 Sedang 30 Ae 49 Agak Tinggi 50 Ae 79 Tinggi 80 Ae 100 Tinggi Sekali 372 Dian Elok Pertiwi. Moh Mawan Arifin. Meilan Agustin Analisis beban kerja fisiologi dan psikologis menggunakan metode CVL (Cardiovascular Loa. dan NASA-TLX pada petugas keamanan UPK PPUKMP Pulogadung Pertanyaan ini kemudian ditanyakan kepada semua responden. Untuk hasilnya dapat dilihat pada Tabel 8. Tabel 8 ini menyajikan nilai skor mentah . dari masing-masing indikator NASA-TLX yang diberikan oleh 27 responden dalam rentang skala 0 hingga 100. Data tersebut memperlihatkan persepsi intensitas beban kerja yang cukup tinggi, di mana banyak responden memberikan nilai di atas 70 untuk dimensi kebutuhan mental dan fisik. Skor-skor individual inilah yang nantinya akan dikalikan dengan bobot kepentingan untuk menghasilkan nilai akhir beban kerja mental yang akurat bagi setiap pekerja. Respponden Tabel 8. Hasil nilai rating pada setiap indikator NASA-TLX Indikator Kebutuhan Kebutuhan Tingkat Kebutuhan Performance Mental Waktu Usaha Fisik (KF) (P) (KM) (KW) (TU) Tingkat Frustasi (TF) Tabel 9 hasil kuesioner tersebut kemudian dihitung nilai setiap dimensi dengan cara mengkalikan bobot dengan rating. Tabel 9. Contoh perhitungan nilai dimensi Indikator Rating Beban Indikator Perbandingan (A) Kerja (B) Kebutuhan Mental (KM) Kebutuhan Fisik (KF) Kebutuhan Waktu (KW) Performance (P) Tingkat Usaha (TU) Tingkat Frustasi (TF) Nilai Dimensi (AxB) ISSN . 2722 3469 | ISSN [Onlin. 2722 4740 DOI 10. 37373/jenius. Perhitungan nilai dimensi dari semua responde terlihat pada Tabel 10. Tabel 10 menyajikan hasil perkalian antara bobot kepentingan dan skor rating untuk setiap indikator NASA-TLX, yang dikenal sebagai nilai produk . eighted ratin. Angka-angka ini menunjukkan kontribusi nyata dari setiap dimensi terhadap total beban kerja mental, di mana nilai yang tinggi mencerminkan beban dominan yang dirasakan oleh responden pada tugas tertentu. Dengan menjumlahkan seluruh nilai produk ini, peneliti dapat menentukan skor akhir beban kerja mental (WWL) untuk setiap individu guna menentukan kategori tingkat kelelahannya Respp Tabel 10. Hasil nilai dimensi pada setiap indikator NASA-TLX Indikator Tingkat Kebutuhan Kebutuhan Kebutuhan Performanc Usaha Mental (KM) Fisik (KF) Waktu (KW) e (P) (TU) Tingkat Frustasi (TF) Proses selanjutnya adalah menghitung nilai Weighted Workload (WWL) dan nilai rata-rata dari WWL tersebut. Nilai WWL didapatkan dengan menjumlahkan nilai dimensi dari setiap indikator, sedangkan nilai rata-rata WWL didapatkan dari nilai WWL dibagi dengan 15. Angka 15 merupakan jumlah perbandingan dari indikator berpasangan pada kuesioner. Tabel 11 berisi perhitungan akhir beban kerja mental untuk satu responden melalui akumulasi nilai seluruh dimensi NASA-TLX. Dengan total skor Weighted Workload (WWL) sebesar 1. 420, hasil pembagian dengan faktor bobot 15 menghasilkan nilai rata-rata sebesar 95. Berdasarkan standar yang ditetapkan, skor tersebut menempatkan beban kerja responden pada kategori "Tinggi Sekali," yang mengindikasikan perlunya intervensi segera untuk mencegah kelelahan mental yang Tabel 11. Contoh perhitungan rata-rata WWL 374 Dian Elok Pertiwi. Moh Mawan Arifin. Meilan Agustin Analisis beban kerja fisiologi dan psikologis menggunakan metode CVL (Cardiovascular Loa. dan NASA-TLX pada petugas keamanan UPK PPUKMP Pulogadung Variabel Nilai Dimensi Total WWL Rata-Rata WWL Kategori beban Kerja Keterangan Kebutuhan Mental (KM) Kebutuhan Fisik (KF) Kebutuhan Waktu (KW) Performance (P) Tingkat Usaha (TU) Tingkat Frustasi (TF) Total WWL:15 Tinggi sekali Nilai 420: 15 = 95 Tabel 12 merangkum skor akhir beban kerja mental seluruh responden yang menunjukkan bahwa mayoritas pekerja berada pada level tekanan yang signifikan. Sebagian besar responden masuk dalam kategori "Tinggi" dan "Tinggi Sekali", dengan nilai rata-rata WWL yang banyak melampaui angka 70 hingga mencapai skor maksimal 100. Data kolektif ini menegaskan bahwa lingkungan kerja tersebut memiliki beban psikologis yang sangat berat, sehingga diperlukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem kerja untuk menjaga kesejahteraan mental para karyawan. No Responden Tabel 12. Hasil Nilai WWL Weighted Workload Rata-Rata (WWL) WWL 93,33 81,33 70,67 72,67 68,67 77,33 82,67 73,33 85,33 73,33 68,67 83,33 Kategori Beban Kerja Tinggi sekali Tinggi sekali Tinggi Agak tinngi Tinggi sekali Tinggi sekali Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi sekali Tinggi Agak tinngi Tinggi Tinggi Tinggi sekali Tinggi sekali Tinggi sekali Tinggi Tinggi Tinggi sekali Tinggi Tinggi sekali Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi sekali Tinggi Nilai terendah didapatkan sebesar 34 dengan kategori Agak Tinggi dan nilai tertinggi mencapai 100 dengan kategori Tinggi Sekali. Hasil ini menunjukkan bahwa 7% responden mengalami beban kerja psikologis dengan kategori Agak Tinggi, 52% mengalami beban kerja psikologis dengan kategori Tinggi, dan 41% mengalami beban kerja psikologis dengan kategori Tinggi Sekali. Kondisi tersebut mengindikasikan adanya beban kerja mental yang tinggi. ISSN . 2722 3469 | ISSN [Onlin. 2722 4740 DOI 10. 37373/jenius. 4 Analisis faktor penyebab Dengan menggunakan Fishbone Diagram, didapatkan penyebab beban kerja psikologis para petugas keamanan ini. Hal tersebut dapat dilihat pada Gambar 2. Dari analisis tersebut didapat faktor penyebab untuk masing-masing kategori. Man (Sumber Daya Manusi. : Rasio jumlah petugas dengan beban tanggung jawab yang tidak Meskipun beban kerja fisiologis dikategorikan ringan, namun tanggung jawab menjaga aset yang luas menimbulkan tekanan mental. Selain itu, tidak adanya petugas yang memiliki keterampilan Gada Utama dan Gada Madya menyebabkan keterbatasan dalam kemampuan teknis maupun strategi pengamanan. Keterbatasan kompetensi ini mengakibatkan petugas sering merasa terbebani secara psikologis, terutama ketika menghadapi situasi darurat atau konflik. Machine (Peralatan/Equipmen. : Dari sisi peralatan, ketersediaan fasilitas penunjang keamanan masih belum memadai. Jumlah CCTV kawasan yang tersedia tidak cukup untuk memantau seluruh titik rawan, sehingga sebagian besar pengawasan harus dilakukan secara manual melalui patroli. Beberapa CCTV yang sudah terpasang pun saat ini dalam keadaan mati dikarenakan tersambar petir. Kekurangan peralatan ini menambah tekanan psikologis petugas karena mereka harus mengandalkan tenaga dan kewaspadaan lebih tinggi. Methode (Metod. : Sistem kerja yang diterapkan masih memiliki kelemahan, khususnya pada pengaturan shift kerja. Shift yang terlalu panjang membuat petugas cepat mengalami kelelahan fisik maupun mental. Kondisi kelelahan ini berkontribusi langsung pada meningkatnya beban kerja psikologis, karena konsentrasi dan kewaspadaan harus tetap dijaga meskipun stamina sudah menurun. Pola shift yang tidak proporsional juga memperbesar risiko human error dalam menjalankan tugas pengamanan. Material: Fasilitas material yang tersedia untuk mendukung kenyamanan dan efektivitas kerja petugas juga masih terbatas. Beberapa pos jaga tidak dilengkapi dengan toilet, sehingga Petugas Keamanan yang sedang berjaga ada potensi untuk meninggalkan pos jaga untuk memenuhi kebutuhan dasar tersebut. Selain itu, ketiadaan pagar pembatas yang jelas antara area kerja dengan lingkungan sekitar menyebabkan area pengawasan lebih terbuka terhadap potensi Akibatnya, frekuensi patroli meningkat dan tingkat kewaspadaan petugas semakin tinggi, yang berdampak pada beban psikologis mereka. Environment (Lingkunga. : Lingkungan kerja di UPK PPUKMP Pulogadung memiliki karakteristik yang menantang. Pertama, kawasan tersebut rawan terhadap ancaman eksternal, seperti tindak kriminalitas, tawuran, atau gangguan keamanan lain yang dapat menimbulkan rasa cemas dan tekanan mental pada petugas. Kedua, luasnya area kerja membuat tugas patroli menjadi lebih berat, baik dari sisi kebutuhan waktu maupun tenaga. Ketiga, masyarakat sekitar memiliki karakteristik yang keras dan cenderung tidak taat aturan, sehingga interaksi dengan mereka sering kali menimbulkan potensi konflik yang membebani kondisi psikologis petugas Sebagian CCTV mati karena tersambar petir Rasio jumlah petugas dengan beban tanggung jawab yang tidak Banyak titik rawan yang belum terpasang CCTV Tidak adanya personil yang memiliki sertifikat gada utama dan gada madya Beban kerja psikologis yang tinggi pada petugas keamanan UPK PPUKMP Pulogadung Area kerja yang luas Tidak adanya pagar Pembatas area kerja dengan lingkungan sekitar Shift yang terlalu panjang Lingkungan yang rawan ancaman eksternal Pos jaga yang tidak Difasilitasi kamar mandi Karakter masyarakat yang keras dan tidak taat Gambar 2. Fishbone diagram faktor penyebab beban psikologis 376 Dian Elok Pertiwi. Moh Mawan Arifin. Meilan Agustin Analisis beban kerja fisiologi dan psikologis menggunakan metode CVL (Cardiovascular Loa. dan NASA-TLX pada petugas keamanan UPK PPUKMP Pulogadung Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang cukup kontras antara beban kerja fisiologis dan beban kerja psikologis pada petugas keamanan. Berdasarkan perhitungan %CVL, seluruh responden berada pada kategori tidak terjadi kelelahan dengan rentang nilai yang relatif rendah . ,8819,32%). Hal ini mengindikasikan bahwa secara fisik, pekerjaan yang dilakukan masih dalam batas aman dan tidak memberikan tekanan berlebih terhadap sistem Kondisi ini didukung oleh karakteristik responden yang didominasi usia produktif serta memiliki pengalaman kerja yang cukup, sehingga mampu beradaptasi dengan tuntutan aktivitas kerja. Dengan demikian, dari sisi fisiologis, beban kerja dapat dikategorikan ringan dan masih sesuai dengan kapasitas fisik pekerja. Namun, hasil yang berbeda ditunjukkan pada analisis beban kerja psikologis menggunakan metode NASA-TLX. Mayoritas responden berada pada kategori AutinggiAy hingga Autinggi sekaliAy, dengan nilai rata-rata WWL yang sebagian besar berada di atas 70. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun secara fisik pekerjaan tidak terlalu berat, tekanan mental yang dirasakan cukup Dimensi seperti kebutuhan waktu, tingkat usaha, dan kebutuhan mental menjadi faktor dominan yang mempengaruhi tingginya beban kerja psikologis. Kondisi kerja seperti sistem shift, tanggung jawab pengawasan area yang luas, serta keterbatasan fasilitas dan peralatan turut memperbesar tekanan mental yang dialami pekerja. Perbedaan antara beban kerja fisiologis dan psikologis ini mengindikasikan bahwa evaluasi kerja tidak dapat hanya berfokus pada aspek fisik semata, tetapi juga harus mempertimbangkan aspek mental dan lingkungan kerja. Tingginya beban kerja psikologis berpotensi menimbulkan kelelahan mental, penurunan konsentrasi, hingga risiko kesalahan kerja . uman erro. Oleh karena itu, diperlukan upaya perbaikan seperti pengaturan shift yang lebih optimal, peningkatan fasilitas keamanan, serta pengembangan kompetensi petugas untuk mengurangi tekanan kerja. Dengan pendekatan yang lebih komprehensif, diharapkan keseimbangan antara beban kerja fisik dan mental dapat tercapai sehingga kinerja dan kesejahteraan pekerja dapat meningkat. Simpulan Hasil penelitian ini mengungkap perbedaab signifikan antara tuntutan fisik yang berada dalam zona aman dengan beban psikologis yang terklasifikasi dalam kategori tinggi . kor NASATLX 75,. Kondisi fisiologis yang stabil didorong oleh karakteristik tugas yang tidak menguras energi ekstrem serta pola rotasi kerja yang mendukung pemulihan tubuh secara alami. Namun, kondisi ini berbanding terbalik dengan tekanan mental personel yang dipicu oleh dominasi indikator Temporal Demand dan Effort, mencerminkan besarnya curahan energi kognitif untuk menjaga fokus operasional. Beban kerja fisik personel keamanan dikategorikan sebagai nonkelelahan karena aktivitas fisik yang relatif ringan dan jadwal shift yang stabil. Oleh karena itu, intervensi manajerial strategis sangat mendesak untuk diimplementasikan, meliputi evaluasi kebutuhan tenaga kerja agar distribusi tugas lebih proporsional, desain ulang sistem shift kerja guna meminimalisir kejenuhan kognitif, serta penyediaan program manajemen stres. Melalui pendekatan holistik tersebut, perusahaan dapat memitigasi risiko degradasi produktivitas sekaligus menjamin keberlanjutan performa dan kesejahteraan psikofisik personel di lingkungan kerja yang penuh tekanan. Referensi