Journal for Quality in Women's Health Vol. 5 No. 1 March 2022 | pp. 62 - 67 p-ISSN: 2615-6660 | e-ISSN: 2615-6644 DOI: https://doi. org/10. 30994/jqwh. Analisis Kuantitas Kunjungan Ibu Hamil yang mendapatkan Konseling Gizi terhadap peningkatan Berat Badan Anis Setyowati. Lina Ratnawati. Rizka MarAoatus Sholichah* Akademi Gizi. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Karya Husada Kediri. Indonesia * Corresponding author: Rizka MarAoatus Sholichah . ms@gmail. Received: Februari 26 2022. Accepted: Maret 22 2022. Published: Maret 29 2022 ABSTRAK Masa hamil merupakan masa penting dalam kehidupan ibu dan janin. Selama masa hamil minimal kenaikan Berat Badan sebesar 10-12,5 kg. Untuk itu berbagai upaya telah diupayakan, diantaranya kegiatan ANC terpadu, dengan adanya ANC terpadu ibu akan mendapatkan konseling mengenai nutrisi selama masa kehamilannya. Namun belum ada evaluasi apakah konseling nutrisi tersebut berhubungan terhadap peningkatan berat badan ibu hamil. Dari latar belakang diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui hubungan kuantitas kunjungan ibu hamil yang dapat konseling gizi terhadap peningkatan berat badan. Desain deskriptif Responden berjumlah 27. Dilaksanakan di puskesmas Puncu, pada bulan September 2021. Instrumen menggunakan buku kunjungan konseling gizi mulai bulan Januari Ae Agustus Pengolahan data menggunakan uji statistik regresi linier dengan bantuan komputer program SPSS Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata dari 27 responden penambahan Berat Badannya 5,5 kg. Penambahan Berat Badan yang paling sering 1,9 kg dengan standar deviasi 4,59. Uji statistik regresi linier diperoleh R hitung 0,141 atau 14,1 % yang artinya bahwa hubungan variabel frekuensi kunjungan yang mendapatkan konseling gizi dengan penambahan berat badan ibu hamil menunjukkan hubungan yang lemah P-value sebesar 0,483 > 0,05 hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara frekuensi kunjungan yang mendapatkan konseling gizi terhadap peningkatan berat badan ibu hamil di puskesmas Puncu. Tidak ada hubungan frekuensi kunjungan yang mendapatkan konseling gizi terhadap peningkatan berat badan ibu hamil trimester 3 . ,483>0,. Kata kunci: berat badan ibu hamil, konseling gizi This is an open-acces article distributed under the terms of the Creative Commons AttributionShareAlike 4. 0 International License. Website: http://jqwh. org | Email: publikasistrada@gmail. Analisis Kuantitas Kunjungan Ibu Hamil yang mendapatkan Konseling Gizi PENDAHULUAN Masa hamil merupakan masa penting yang memerlukan perhatian khusus, baik secara fisik, maupun psikologis. Hal ini sangat berpengaruh terhadap kesehatan ibu serta janin yang di kandung. Salah satu indikator kesehatan ibu hamil dilihat dengan adanya penambahan berat badan. Selama masa hamil, minimal peningkatan BB ibu hamil sebesar 10-12,5 kg. Peningkatan Berat badan Ibu hamil yang tidak terwujud maka dapat beresiko terjadinya bayi lahir dengan berat lahir rendah (BBLR) (Setyowati. Angka ibu hamil dengan KEK di kabupaten Kediri masih tergolong tingi. Data Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri pada tahun 2019 menunjukan bahwa jumlah ibu hamil dengan KEK sejumlah 3,89% dari 26. 415 total ibu hami (Dinkes Kab. Kediri, 2. Indikator ibu hamil yang mengalami KEK dapat dilihat dari indikator Lingkar Lengan Atas kurang dari 23,5 cm dan BB yang Untuk mencegah kondisi seperti ini maka berbagai pihak terkait telah melakukan program untuk meningkatkan status gizi ibu hamil misalnya melalui kegiatan ANC Terpadu maupun kegiatan Continuity of Care. Dengan adanya kegiatan ANC Terpadu maka ibu hamil akan mendapat pelayanan komprehensif mulai dari bidan, dokter gigi, laboratorium, bahkan ahli gizi. Harapannya Kualitas pelayanan meningkat, sebanding dengan peningkatan kualitas kesehatan ibu hamil, sehingga lahirlah bayi sehat memiliki pertumbuhan dan perkembangan optimal. Dari latar belakang diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan analisis kuantitas kunjungan ibu hamil yang dapat konseling gizi terhadap peningkatan berat badan. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan deskriptif analitik. Penelitian ini dilaksanakan di puskesmas Puncu Kecamatan Puncu pada bulan September 2021. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu hamil yang berkunjung minimal 2 kali dan mendapatkan konseling gizi pada periode bulan JanuariAgustus 2021di puskesmas yang berjumlah 27 responden. Instrumen penelitian ini menggunakan buku kunjungan konseling gizi yang tercatat mulai bulan Januari Ae Agustus 2021 untuk mengambil data frekuensi kunjungan ibu hamil ke poli gizi, usia, gravida dan Berat badan awal dan akhir. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Pengumpulan data peningkatan berat badan dilakukan dengan cara melihat data berat badan awal kunjungan dibandingkan dengan data berat badan di akhir kunjungan . ulan Agustus 2. Pengolahan data menggunakan uji statistik regresi linier untuk melihat seberapa besar pengaruhnya frekuensi kunjungan terhadap peningkatan berat badan dengan bantuan komputer program SPSS versi 21. HASIL Analisis Univariat Distribusi frekuensi karakeristik responden Karakteristik Usia <20 th 20-35 th >35 th Kehamilan Primigravida Multigravida Sumber : Data sekunder, 2021 Journal for Quality in Women's Health Analisis Kuantitas Kunjungan Ibu Hamil yang mendapatkan Konseling Gizi Pada tabel 1. 1 diketahui bahwa dari 27 responden mayoritas usia responden antar 20 Ae 35 tahun . ,8 %), dan sebagian besar responden sudah hamil beberapa kali atau bukan kehamilan pertama . ,7 %). Frekuensi kunjungan Variabel Mean Frekuensi Kunjungan Sumber : Data Sekunder, 2021 Modus Min Max Pada tabel 1. 2 diketahui bahwa dari 27 responden rata-rata frekuensi kunjungan yang mendapat konseling gizi 2,3. Sedangkan responden yang paling sering melakukan kunjungan sebanyak 2 kali dengan standar deviasi 0,7. Frekuensi kunjungan yang dilakukan minimal 2 kali dan maksimal 5 kali. Kunjungan kehamilan sesuai dengan rekomendasi WHO tahun 2016 untuk kehamilan trimester I . sia kehamilan 0-12 mingg. sebanyak 1 kali, trimester II . sia kehamilan 12-24 mingg. sebanyak 2 kali dan trimester i . sia kehamilan 24-persalina. sebanyak 4 kali. Kunjungan kehamilan pada trimester i sesuai standar WHO lebih banyak dibanding dengan trimester I dan II untuk meningkatkan pelayanan kesehatan kepada ibu hamil serta mampu mendeteksi komplikasi pada kehamilan sehingga mampu menurunkan angka kematian ibu (AKI) (Xanda, 2. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata frekuensi kunjungan yang mendapat konseling gizi sebesar 2,3 yang artinya rata-rata kunjungan kehamilan hanya 2 kali dengan frekuensi kunjungan minimal 2 kali dan maksimal 5 kali sedangkan sesuai rekomendasi WHO seharusnya 4 kali. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat frekuensi kunjungan yang lebih dari 4 kali tetapi ratarata masih melakukan kunjungan kehamilan sebanyak 2 kali. Beberapa faktor dapat mempengaruhi frekuensi kunjungan kehamilan diantaranya pengetahuan dan dukungan suami untuk melakukan Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Tamaka . yang menunjukkan ada hubungan pengetahuan dan dukungan suami/ keluarga dengan kunjungan kehamilan di Puskesmas Kauditan (Tamaka, 2. Pengetahuan ibu terkait dengan pentingnya kunjungan kehamilan berpengaruh terhadap frekuensi kunjungan kehamilan. Ibu hamil yang mengetahui tujuan, manfaat dan waktu kunjungan kehamilan akan memotivasi dirinya untuk melakukan kunjungan kehamilan ke pelayanan kesehatan. Selain itu, dukungan anggota keluarga maupun suami berupa dorongan, memberikan semangat dan inspirasi untuk melakukan kunjungan akan mempengaruhi frekuensi kunjungan kehamilan (Tamaka. Jarak pelayanan kesehatan juga dapat mempengaruhi kunjungan kehamilan. Kecamatan Puncu merupakan daerah pedesaan dan dikelilingi dengan hutan, wilayah cukup luas, dengan jarak desa ke puskesmas cukup jauh sehingga hal ini membuat ibu hamil jarang untuk melakukan kunjungan kehamilan ke puskesmas. Hal ini sejalan dengan penelitian Xanda . , yang menunjukkan bahwa ada hubungan jarak dengan kunjungan antenatal care di Puskesmas Candipuro Kabupaten Lampung Selatan yang artinay ibu yang jarak pelayanan kesehatan dekat lebih berpeluang melakukan kunjungan kehamilan dibandingkan dengan ibu yang jarak akses pelayanan kesehatannya jauh (Xanda, 2. Frekuensi kunjungan kehamilan di Puskesmas Puncu masih rendah, diperlukan suatu pendekatan tenaga kesehatan kepada ibu hamil, terutama bagi ibu hamil dengan jarak pelayanan kesehatan yang cukup jauh dengan tempat tinggal sehingga ibu hamil mendpatkan manfaat dan pelayanan pemeriksaan maupun konseling terkait kehamilan. Journal for Quality in Women's Health Analisis Kuantitas Kunjungan Ibu Hamil yang mendapatkan Konseling Gizi Penambahan Berat Badan Variabel Penambahan Berat Badan Sumber : Data Sekunder, 2021 Mean Modus Min Max Pada tabel 1. 3 diketahui bahwa rata-rata dari 27 responden penambahan Berat Badannya 5,5 Penambahan Berat Badan yang paling sering 1,9 kg dengan standar deviasi 4,59. Responden ada yang mengalami penurunan berat badan 3 responden sedangkan yang mengalami kenaikan berat badan sebanyak 24 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata peningkatan berat badan ibu hamil sebesar 5,5 Secara teori penambahan berat badan selama hamil akan berbeda-beda setiap orangnya, rata-rata kenaikan berat badan ibu hamil sebesar 10-12,5 kg. Beberapa faktor dapat mempengaruhi kenaikan berta badan pada ibu hamil seperti faktor karakteristik yang meliputi usia. Pada penelitian ini sebagian besar responden memiliki usia 20-35 tahun sebesar 77,8% yang tergolong dalam usia muda untuk hamil. Usia 20-35 tahun merupakan usia tidak berisiko untuk hamil dan merupakan usia paling paling baik untuk hamil dengan harapan gizi ibu hamil akan lebih baik. Pada usia tersebut perlu tambahan gizi yang banyak karena selain digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangan dirinya sendiri tetapi juga untuk pertumbuhan dan perkembangan Sedangkan terdapat responden yang mengalami penurunan berat badan bisa disebabkan usia tua karena fungsi organ yang melemah dan memerlukan tambahan energi untuk mendukung kehamilan yang berlangsung (Haryani, 2. Sebagian besar responden dengan usia 20-35 tahun membuat peningkatan berat badan selama kehamila rata-rata 5,5 kg. Informasi terkait asupan nutrisi yang sesuai pada kehamilan sangat relevan dengan peningkatan berat badan ibu hamil. Peran tenaga kesehatan terutama bidan dan ahli gizi selama masa kehamilan sangat diperlukan agar tetap terjaga peningkatan berat badan ibu hamil. Analisis Univariat Hubungan antara frekuensi kunjungan dengan penambahan berat badan Variabel Frekuensi Kunjungan 27 dan Penambahan BB Sumber : Data Sekunder, 2021 Pada tabel 1. 4 didapatkan bahwa dari hasil pengolahan data menggunakan uji statistik regresi linier diperoleh R hitung 0,141 atau 14,1 % yang artinya bahwa hubungan variabel frekuensi kunjungan yang mendapatkan konseling gizi dengan penambahan berat badan ibu hamil menunjukkan hubungan yang lemah atau frekuensi kunjungan yang mendapatkan konseling gizi hanya berpengaruh 14,1 % terhadap peningkatan berat badan. Sedangkan selebihnya dipengaruhi oleh faktor selain frekuensi Sedangkan p-value sebesar 0,483 > 0,05 hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara frekuensi kunjungan yang mendapatkan konseling gizi terhadap peningkatan berat badan ibu hamil di puskesmas Puncu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun kunjungan ibu hamil kurang dari 4 kali tetapi terjadi peningkatan berat badan ibu hamil. Hal ini bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan Fefti Ariana . , bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara frekuensi kunjungan dan konseling gizi pada saat ANC berpengaruh pada penambahan berat badan ibu hamil di Kecamatan Sedayu . , frekuensi konseling gizi memiliki pengaruh kontribusi sebesar 5,2% terhadap penambahan berat badan (R2=0,. (Atriana, 2. Kunjungan kehamilan dengan konseling gizi dapat meningkatkan pengetahuan responden yang mengakibatkan perilaku kesehatannya akan semakin baik terutama dalam hal menjaga kebutuhan gizi Journal for Quality in Women's Health Analisis Kuantitas Kunjungan Ibu Hamil yang mendapatkan Konseling Gizi selama kehamilan untuk menaikkan berat badan. Semakin banyak kunjungan maka idealnya penambahan berat badan ibu hamil juga akan semakin baik dan terpantau dengan baik. Tetapi banyak faktor yang mempengaruhi penambahan berat badan ibu hamil selain kunjungan seperti faktor status Status gizi awal ibu hamil dapat mempengaruhi peningkatan berat badan ibu hamil. Hal ini didukung penelitian yang dilakukan oleh Harti Budi Lenny. Kusumastuty Inggita. Hariadi Irwan yang menunjukkan bahwa ada hubungan antara status gizi terhadap penambahan berat badan . =0,. , r=0,. Penambahan berat badan ibu hamil dipengaruhi oleh indeks masa tubuh pra hamil serta konsumsi energi dan protein. Ibu hamil yang memiliki status gizi baik pada awal kehamilan mempengaruhi penambahan berat badan ibu selama hamil yang juga akan mempengaruhi berat badan bayi (Harti, 2. Selain itu, pola makan ibu hamil juga dapat meningkatkan berat badan ibu hamil. Hal ini sesuai dengan penelitian Harti Budi,Lenny, dkk . yang menunjukkan bahwa pola makan makanan sumber hewani memiliki hubungan terhadap peningkatan berat badan ibu hamil . =0,024, r=0,. (Harti, 2. Peran bidan juga memiliki pengaruh terhadap peningkatan berat badan ibu hamil, semakin banyak informasi yang diberikan oleh bidan kepada ibu hamil maka akan semakin baik pengetahuan ibu hamil terutama terkait pola makan saat hamil. Ibu yang memiliki pengetahuan baik akan termotivasi untuk mengatur pola makan sehingga dapat meningkatkan berat badan dan mencegah komplikasi selama kehamilan. Hai ini sejalan dengan penelitian Manik Mariati . , yang menunjukkan bahwa peran bidan memiliki nilai tertinggi dalam meningkatkan berat badan ibu hamil. Peran bidan dalam memberikan edukasi kepada ibu hamil terkait pola makan maupun gizi selama kehamilan tidak terbatas pada jumlah kunjungan yang dilakukan, jika edukasi yang diberikan sudah lengkap dan sesuai kebutuhan ibu hamil maka akan mampu mengubah perilaku ibu hamil menjadi lebih baik (Manik. Kunjungan selama kehamilan sangat penting untuk mengetahui status kesehatan ibu maupun janin dengan harapan status gizi ibu tetap terpantau dan mencegah komplikasi selama kehamilan. Kunjungan kehamilan sesuai rekomendasi WHO sebanyak 8 kali selama kehamilan dengan harapan mampu meningkatkan pelayanan kesehatan kepada ibu hamil serta mampu mendeteksi komplikasi pada kehamilan sehingga mampu menurunkan angka kematian ibu (AKI). Selain frekuensi kunjungan, beberapa faktor dapat mempengaruhi penambahan berat badan ibu hamil sehingga hal ini perlu diperhatikan sehingga dapat selaras dan saling melengkapi antara frekuensi kunjungan, edukasi yang diberikan serta peran bidan. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Usia responden mayoritas 20-35 th dan mayoritas juga bukan kehamilan pertama. Selama hamil sampai trimester 3 rata-rata frekuensi kunjungan yang mendapatkan konseling gizi sebanyak 2,3 kali. Peningkatan Berat Badan selama hamil rata-rata sebanyak 5,5 kg Tidak ada hubungan frekuensi kunjungan yang mendapatkan konseling gizi terhadap peningkatan berat badan ibu hamil trimester 3 . ,483>0,. Saran Perlu dilakukan Penelitian dengan data primer yang dilakukan melalui observasi konseling gizi pada ibu hamil, konsumsi nutrisi pada ibu hamil, serta pola aktivitas sehari-hari ibu hamil yang dapat mempengaruhi kenaikan BB ibu Hamil. Untuk penelitian selanjutnya sampel penelitian perlu dihomogenkan berdasarkan usia kehamilan awal dan usia kehamilan akhir untuk mengetahui berapa peningkatan berat badannya sesuai dengan batas minimal 10-12,5 kg selama kehamilan. Journal for Quality in Women's Health Analisis Kuantitas Kunjungan Ibu Hamil yang mendapatkan Konseling Gizi DAFTAR PUSTAKA