T e r a p e ut i k J ur n a l Efektivitas Penerapan Terapi Inhalasi Nebulizer pada Anak yang Menderita Bronchopneumonia di Ruang Mawar Anak RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara Dyah Saraswati. Herman Dosen Program Studi D i Keperawatan AKPER PPNI Kendari Abstrak Bronchopneumonia suatu peradangan pada parenkim paru yang terlokalisir yang biasanya mengenai bronkiolus dan juga mengenai alveolus disekitarnya, yang sering menimpa anak-anak, bayi, dan balita, yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing. Nebulizer adalah alat yang dapat mengubah obat yang berbentuk larutan menjadi aerosol atau uap yang sangat halus secara terus menerus dengan tenaga yang berasal dari udara yang dipadatkan atau gelombang ultrasonik agar bisa di hisap ke dalam saluran pernapasan dan paru-paru. Tujuan studi kasus mengetahui efektivitas penerapan terapi inhalasi nebulizer pada anak yang mengalami bronchopneumonia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Subjek studi kasus ini adalah klien bronchopneumonia yang dirawat di Ruang Lambu Barakati II RSUD Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara yang berjumlah i subjek. Penelitian dilakukan sejak tanggal 9 sampai 21 Juli 2018. Setelah dilakukan penerapan terapi inhalasi nebulizer pada penderita bronchopneumonia, hasilnya keluhan yang dialami klien dapat teratasi. Dapat disimpulkan bahwa penerapan terapi inhalasi nebulizer efektif untuk mengatasi keluhan yang dialami klien yang menderita bronchopneumonia. Saran bagi masyarakat, perlu diberikan informasi tentang penggunaan nebulizer serta keefektifan terapi inhalasi nebulizer khususnya dalam mengatasi masalah atau keluhan yang di alami oleh penderita Bronchopneumonia. Kata Kunci : Bronchopneumonia, terapi inhalasi nebulizer Abstract Bronchopneumonia is an inflammation of the localized lung parenchyma which usually affects the bronchioles and also about the surrounding alveoli, which often affects children, infants and toddlers, which is caused by various etiologies such as bacteria, viruses, fungi and foreign objects. Nebulizer is a device that can convert a drug in the form of a solution into a very fine aerosol or steam continuously with energy derived from compressed air or ultrasonic waves so that it can be sucked into the respiratory tract and lungs. The purpose of the case study was to find out the effectiveness of the application of nebulizer inhalation therapy in children with bronchopneumonia. The method used in this research is descriptive method with a case study approach. The subject of this case study was a client of bronchopneumonia who was treated in the Lambu Room in Barakati II. Bahteramas Public Hospital. Southeast Sulawesi Province, which amounted to three subjects. The study was conducted from 9 to 21 July 2018. After the application of nebulizer inhalation therapy in patients with bronchopneumonia, the results of complaints experienced by clients can be resolved. It can be concluded that the application of nebulizer inhalation therapy is effective to overcome complaints experienced by clients suffering from bronchopneumonia. Suggestions for the community, need to be given information about the use of nebulizer and the effectiveness of nebulizer inhalation therapy, especially in dealing with problems or complaints experienced by patients with Bronchopneumonia. Keywords : Bronchopneumonia, nebulizer inhalation therapy 49 | V o l . I I I / N o . 2 / D e s e m b e r 2 0 1 7 T e r a p e ut i k J ur n a l PENDAHULUAN Bronchopneumonia disebut juga pneumonia lobularis yaitu suatu peradangan pada parenkim paru yang terlokalisir yang biasanya mengenai bronkiolus dan juga mengenai alveolus disekitarnya, yang sering menimpa anak-anak, bayi, dan balita, yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing. Kebanyakan kasus pneumonia disebabkan oleh mikroorganisme, tetapi ada juga sejumlah penyebab non infeksi yang perlu dipertimbangkan. Bronkopneumonia lebih sering merupakan infeksi sekunder terhadap berbagai keadaan yang melemahkan daya tahan tubuh tetapi bisa juga sebagai infeksi primer yang biasanya kita jumpai pada anak-anak dan orang dewasa (Bradley et. , 2. Bronchopneumonia biasanya didahului oleh suatu infeksi di saluran pernafasan bagian atas selama beberapa hari. Pada tahap awal, penderita bronchopneumonia mengalami tanda dan gejala yang khas seperti menggigil, demam, nyeri dada pleuritis, batuk produktif, hidung kemerahan, saat bernafas menggunakan otot aksesorius dan bisa timbul sianosis. Terdengar adanya krekels di atas paru yang sakit dan terdengan ketika terjadi konsolidasi . engisian rongga udara oleh eksuda. (NANDA, 2. Salah satu penanganan pada pasien bronkhopneumonia adalah dengan pemberian terapi inhalasi yang bertujuan untuk mempermudah mengeluarkan dahak dan juga dapat melebarkan lumen bronchus. Terapi inhalasi yang dapat diberikan pada penderita bronchopneumonia yaitu Nebulizer adalah alat yang dapat mengubah obat yang berbentuk larutan menjadi aerosol atau uap yang sangat halus secara terus menerus dengan tenaga yang berasal dari udara yang dipadatkan atau gelombang ultrasonik agar bisa di hisap ke dalam saluran pernapasan dan paru-paru (Kemal, 2. Di Indonesia, bronkopneumonia merupakan penyebab kematian nomor dua setelah kardiovaskuler dan TBC. Faktor sosial ekonomi yang rendah mempertinggi angka kematian. Kasus Kejadian Bronchopneumonia pada anak di Indonesia berkisar antara 23% Ae 27,71% /tahun. Selama kurun waktu tersebut cakupan penemuan bronkopneumonia tidak pernah mencapai target nasional temasuk target 2014 yang sebesar 80% (Riskesdas, 2. Berdasarkan uraian diatas maka penulis melakukan studi kasus dengan judul AuEfektivitas Penerapan Terapi Inhalasi Nebulizer pada Anak yang Menderita Bronchopneumonia di Ruang Mawar Anak RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara. METODE PENELITIAN Desain penelitian ini menggunakan desain penelitian bersifat deskriptif adalah jenis studi kasus dengan tujuan utama membuat deskripsi atau gambaran tentang suatu peristiwa atau keadaan secara objektif. Subjek dalam studi kasus ini ialah pasien anak yang terdiagnosa sebagai penderita bronchopneumonia yang mendapatkan terapi inhalasi nebulizer dan sedang menjalani perawatan di Ruang Mawar Anak RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara. Studi kasus ini dilaksanakan pada bulan juli 2018. Dalam studi kasus ini analisa data dilakukan secara subjektif yaitu melalui pertanyaan-pertanyaan responden yang disesuaikan dengan tujuan dalam studi kasus serta dilakukan penilaian secara objektif untuk mengetahui sejauh mana efektivitas penerapan terapi inhalasi pada anak yang mengalami bronchopneumonia. HASIL PENELITIAN Karakteristik Subjek Studi Kasus Subjek studi kasus pertama berusia 3 bulan, berjenis kelamin laki-laki, beragama Islam, beralamat di Desa Onewila, klien masuk ruang perawatan pada hari Rabu, 11 Juli 2018, dengan keluhan sesak nafas, batuk berdahak dan demam sejak 1 minggu yang lalu. Berdasarkan hasil diagnosa dari dokter, klien menderita penyakit Bronchopneumonia dan 50 | V o l . I I I / N o . 2 / D e s e m b e r 2 0 1 7 T e r a p e ut i k J ur n a l setelah dilakukan pengkajian Ibu klien mengatakan klien sebelumnya belum pernah dirawat di rumah sakit. Peneliti memberikan terapi inhalasi untuk mengatasi keluhan yang dialami klien yang menderita Bronchopneumonia. Subjek studi kasus ke dua berusia 3 bulan, berjenis kelamin laki-laki, beragama Islam, beralamat di Jl. Laheda / Punggolaka, klien masuk ruang perawatan pada hari Kamis, 12 Juli 2018, dengan keluhan sesak nafas, demam dan batuk. Berdasarkan pengkajian yang dilakukan ibu klien mengatakan keluhan pada anaknya tersebut mulai timbul sejak 1 bulan yang lalu, berdasarkan diagnosa dari dokter, klien menderita penyakit Bronchopneumonia. Ibu klien mengatakan sebelumnya anaknya belum pernah dirawat di rumah sakit. Peneliti memberikan terapi inhalasi untuk mengatasi keluhan yang dialami klien yang menderita Bronchopneumonia. Subjek studi kasus ke tiga berusia 1 tahun, berjenis kelamin laki-laki, beragama Islam, beralamat di Puwatu, klien masuk ruang perawatan pada hari Kamis, 12 Juli 2018, dengan keluhan sesak nafas, batuk berdahak, demam, diare. Ibu klien mengatakan keluhan sesak nafas, batuk berdahak, dan demam mulai timbul sejak 1 minggu yang lalu, sedangkan keluhan diare sejak 3 hari yang lalu. Berdasarkan hasil diagnosa dari dokter, klien menderita penyakit Bronchopneumonia. Ibu klien mengatakan sebelumnya anaknya pernah dirawat di Rumah Sakit yang sama, dan dengan penyakit yang sama tepatnya 1 bulan yang lalu, dan ini kali ke dua anaknya di rawat. Peneliti memberikan terapi inhalasi untuk mengatasi keluhan yang dialami klien yang menderita Bronchopneumonia. Hasil Pengkajian Awal Sebelum Diberikan Terapi Inhalasi Pada Pasien Bronchopneumonia Berdasarkan pengkajian awal sebelum diberikan terapi inhalasi, subjek studi kasus I memiliki keluhan demam, sesak nafas . rekuensi nafas : 54 kali/meni. dan batuk berdahak, subjek II memiliki keluhan yang sama dengan subjek I yaitu demam, sesak nafas . rekuensi nafas : 56 kali/meni. dan batuk berdahak, dan subjek i memiliki keluhan demam, sesak nafas . rekuensi nafas : 38 kali/meni. , batuk dan diare. Kemudian peneliti memberikan terapi inhalasi nebulizer untuk mengatasi keluhan yang dialami klien, target pemberian terapi inhalasi dilakukan selama 4 hari dengan frekuensi pemberian terapi dilakukan sebanyak 3 kali per hari dan di hari ke empat dilakukan evaluasi untuk mengetahui efektivitas pemberian terapi inhalasi dalam mengatasi masalah yang di alami Hasil evaluasi setelah diberikan terapi inhalasi pada pasien Bronchopneumonia Subjek I Berdasarkan hasil studi kasus, diketahui bahwa sesudah dilakukan intervensi pemberian terapi inhalasi, dimana terapi inhalasi diberikan 3 kali per hari dan observasi dilakukan di hari berikutnya, pada hari pertama, subjek I menunjukkan belum ada efek dari terapi inhalasi yang diberikan, terhadap masalah yang dialami subjek I, pada hari kedua, setelah dilakukan intervensi pemberian terapi inhalasi, pasien masih batuk namun dahak pasien mulai encer dan sesak sedikit berkurang dimana hari sebelumnya frekuensi pernafasan 54 kali per menit sedangkan di hari ke dua frekuensi pernafasan pasien 52 kali per menit, pada hari ketiga, setelah diberikan terapi inhalasi dahak pasien sudah encer dan frekuensi batuk sudah tidak sesering hari pertama dan hari kedua selain itu frekuensi nafas pasien sudah mulai membaik yaitu 48 kali permenit, dan pada hari ke empat, setelah di berikan terapi inhalasi, efek yang di dapatkan pasien yaitubatuk pasien memang belum sepenuhnya hilang namun pasien sudah sangat jarang batuk, kadang hanya sesekali, selain itu sudah tidak terdengar lagi adanya dahak saat pasien batuk, dan frekuensi nafas pasien sudah normal yaitu 40 kali per menit. Kemudian dilakukan evaluasi untuk mengetahui dan menilai bagaimana efektifitas intervensi terapi inhalasi yang dilakukan selama 4 hari 51 | V o l . I I I / N o . 2 / D e s e m b e r 2 0 1 7 T e r a p e ut i k J ur n a l dimana frekuensi terapi diberikan 3 kali per hari. Berdasarkan hasil evaluasi terhadap efektivitas terapi inhalasi untuk mengatasi keluhan yang dialami subjek I, bisa disimpulkan intervensi terapi inhalasi yang dilakukan pada subjek I di katakan efektif atau berhasil. Tabel 4. 1 Efektivitas Penerapan Terapi Inhalasi Nebulizer Di Ruang Lambu Barakati II RSUD Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara Subjek Hari/Tanggal Frekuensi pemberian Efek terapi Subjek I Hari ke I / Kamis, 12 3 kali - Belum ada Juli 2018 - Frekuensi nafas : 54 X/menit Hari ke II / JumAoat, 13 Juli 2018 3 kali Hari ke i / Sabtu, 14 Juli 2018 3 kali Hari ke IV / Senin, 16 Juli 2018 3 kali Masih mulai encer Sesak Frekuensi nafas : 52 X/menit Frekuensi batuk berkurang dan dahak encer Frekuensi nafas : 48 X/menit Batuk hilang, namun frekuensi batuk sangat jarang Frekuensi nafas : 40 X/menit Subjek II Berdasarkan hasil studi kasus pada subjek II, hasilnya tidak jauh berbeda dengan hasil studi kasus pada subjek I, dimana pada subjek II frekuensi pemberian terapi inhalasi sebanyak 3 kali per hari, dan diobservasi di hari berikutnya. Pada hari pertama setelah diberikan terapi inhalasi, belum ada efek dari terapi inhalasi yang diberikan untuk mengatasi keluhan pada subjek II. Pada hari kedua, setelah diberikan terapi inhalasi, batuk pasien sedikit berkurang, dan dahak sudah tidak sekental hari pertama, dan frekuensi nafas pasien yang sebelumnya 56 kali per menit, pada hari kedua menjadi 50 kali per menit. Pada hari ke tiga setelah diberikan terapi inhalasi, batuk klien berkurang, selain itu dahak sudah encer dan frekuensi nafas 46 kali Pada hari ke 4 setelah dilakukan intervensi pemberian terapi inhalasi, klien sudah jarang sekali batuk dan sudah tidak ada dahak, selain itu frekuensi nafas pasien menjadi 38 kali permenit. Kemudian dilakukan evaluasi untuk mengetahui dan melihat efektivitas dari intervensi pemberian terapi inhalasi yang telah dilakukan selama 4 Dapat disimpulkan bahwa intervensi pemberian terapi inhalasi yang dilakukan pada subjek II efektif atau berhasil dalam mengatasi masalah yang dialami pasien. 52 | V o l . I I I / N o . 2 / D e s e m b e r 2 0 1 7 T e r a p e ut i k J ur n a l Tabel 4. 2 Efektivitas Penerapan Terapi Inhalasi Nebulizer Di Ruang Lambu Barakati II RSUD Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara Subjek Hari/Tanggal Frekuensi pemberian Efek terapi Subjek II Hari ke I / JumAoat, 13 3 kali - Belum ada Juli 2018 - Frekuensi nafas : 56 X/menit Hari ke II / sabtu, 14 Juli 2018 3 kali Hari ke i / Senin, 16 Juli 2018 3 kali Hari ke IV / Selasa, 17 Juli 2018 3 kali Batuk mulai encer Sesak Frekuensi nafas : 50 X/menit Frekuensi batuk berkurang dan dahak encer Frekuensi nafas : 46 X/menit Batuk hilang, namun frekuensi batuk sangat jarang Tidak ada dahak Frekuensi nafas : 38 X/menit Subjek i Berdasarkan hasil studi kasus pada subjek i, hasil yang diperoleh pada subjek i yaitu pada hari pertama setelah diberikan terapi inhalasi, batuk klien berkurang sedikit, dan frekuensi nafas pasien yang sebelum diberikan terapi inhalasi 38 kali per menit dan setelah diberikan terapi inhalasi hari pertama menjadi 36 kali per menit. Pada hari kedua setelah diberikan terapi inhalasi batuk klien sudah mulai hilang dan frekuensi pernafasan 34 kali per menit. Pada hari ketiga setelah diberikan terapi inhalasi klien batuk hanya sesekali, frekuensi nafas 30 kali permenit, sudah tidak ada sesak dan keadaan klien sudah membaik. Kemudian berbeda dengan subjek I dan II di mana efektifitas terapi diperoleh pada hari ke 4, namun pada subjek i, efektivitas dari pemberian terapi inhalasi lebih cepat diperoleh, yaitu di hari ke tiga. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa intervensi pemberian terapi inhalasi yang dilakukan pada subjek i dimana yang ditargetkan dilakukan selama 4 hari, dengan frekuensi pemberian dalam sehari sama dengan subjek I dan II yaitu sebanyak 3 kali per hari, dikatakan efektif dan berhasil bahkan satu hari sebelum target waktu pemberian terapi. 53 | V o l . I I I / N o . 2 / D e s e m b e r 2 0 1 7 T e r a p e ut i k J ur n a l Tabel 4. 3 Efektivitas Penerapan Terapi Inhalasi Nebulizer Di Ruang Lambu Barakati II RSUD Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara Subjek Hari/Tanggal Frekuensi pemberian Efek terapi Subjek i Hari ke I / JumAoat, 13 3 kali - Batuk berkurang Juli 2018 - Frekuensi nafas : 36 X/menit Hari ke II / Sabtu, 14 Juli 2018 3 kali Hari ke i / Senin, 16 Juli 2018 3 kali Hari ke IV / Selasa, 17 Juli 2018 Terapi dihentikan Batuk - Frekuensi nafas : 34 X/menit - Batuk - Sudah tidak ada - Keadaan klien - Frekuensi nafas : 30 X/menit ----- PEMBAHASAN Pelaksanaan intervensi pemberian terapi inhalasi dilakukan sejak hari pertama pasien masuk di ruang perawatan Lambu Barakati II, dimana pertama-tama peneliti meminta persetujuan kepada orang tua subjek I. II, dan i untuk menjadi responden, menjelaskan tujuan dari penelitian, melakukan kontrak waktu dan memberikan surat pernyataan persetujuan untuk menjadi responden kepada orang tua pasien untuk ditandatangani. Kemudian setelah mendapatkan persetujuan dari responden maka peneliti melanjutkan melakukan studi kasus dengan intervensi pemberian terapi inhalasi nebulizer. Intervensi pemberian terapi inhalasi dilakukan sesegera mungkin saat pertama kali pasien masuk di ruang perawatan dimana subjek I masuk di ruang perawatan pada hari rabu tanggal 11 Juli 2018 sedangkan subjek II dan i masuk di ruang perawatan secara bersamaan yaitu pada hari kamis tanggal 12 Juli 2018. Dari hasil studi kasus tentang Auefektivitas penerapan terapi inhalasi nebulizer pada pasien BronchopneumoniaAy, diperoleh hasil adanya perbedaan keefektifitasan pemberian terapi inhalasi yang dilakukan pada subjek I, subjek II, dan subjek i yang menderita bronchopneumonia. Intervensi pemberian terapi inhalasi di targetkan diberikan selama empat hari, dimana frekuensi pemberian terapi sebanyak 3 kali per hari, dan evaluasi dilakukan di hari berikutnya. Dari hasil yang didapatkan, pada subjek I dan subjek II efektifitas pemberian terapi inhalasi berhasil di hari ke empat yang dievaluasi di hari keempatyang berarti intervensi yang dilakukan berhasil, sedangkan pada subjek i saat dilakukan evaluasi hari ke empat di dapatkan hasil bahwa terapi inhalasi yang diberikan pada subjek i telah berhasil atau efektif di hari Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa keberhasilan atau efektifitas dari intervensi 54 | V o l . I I I / N o . 2 / D e s e m b e r 2 0 1 7 T e r a p e ut i k J ur n a l terapi inhalasi yang diberikan pada subjek I. II dan i lebih cepat diperoleh pada subjek i. Salah satu penyebab dari hal ini adalah karena adanya perbedaan usia antara subjek I, subjek II dan subjek i, dimana subjek i berusia lebih tua dari pada subjek I dan subjek II. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Kim . , mendapatkan bahwa semakin bertambahnya usia maka kemampuan anak untuk bernapas akan semakin baik, pada pemberian obat melalui inhalasi anak yang usianya lebih besar pengiriman aerosol akan lebih efektif dibandingkan dengan usia yang lebih muda. Oleh karena itu semakin bertambahnyan usia maka pemberian terapi inhalasi akan lebih efektif dan obat akan dapat masuk kesaluran pernapasan dan tidak terbuang. Nebulasi adalah salah satu terapi inhalasi dengan menggunakan alat bernama Alat ini mengubah cairan menjadi droplet aerosol sehingga dapat dihirup oleh pasien (Tanto, 2. Pemberian nebulizer menurut teori yaitu siapkan alat dan bahan, pastikan nebulizer bekerja, konektor sudah tersambung ke chamber, dan pilihlah ukuran masker yang sesuai dengan pasien. Pastikan nebulizer sudah terpasang sumber listrik, masukan obat kedalam chamber, tambahkan cairan normal salin bila diperlukan, pasang masker dengan ujung chamber sehingga menempel, nyalakan nebulizer. Apabila nebulizer bekerja dengan baik, maka akan terlihat uap keluar dari masker, kemudian minta pasien untuk melakukan inspirasi dalam melalui masker selama uap keluar, tunggu sekitar 15-20 menit sampai uap habis, periksa respon pasien terhadap obat, apabila hendak mengulangi nebulisasi, disarankan pemberian jeda selama 15-20 menit (Tanto, 2. Dalam studi kasus ini, selain terapi inhalasi nebulizer yang diterapkan pada pasien bronchopneumonia, ada terapi pengobatan lain yang membantu dalam proses pemulihan pasien yang menderita bronchopneumonia yaitu pemberian antibiotik. Terapi antibiotik diberikan sesegera mungkin secara empiris sesuai dengan dugaan mikroorganisme penyebab, apabila telah didapatkan hasil pemeriksaan terhadap kultur dan resistensi antibiotik, maka antibiotik empiris diganti dengan antibiotik yang sensitif terhadap bakteri (Muhlisin, 2. Pada bronchopneumonia rawat inap, lini pertama dapat menggunakan golongan beta laktam atau Jika tidak responsif dengan kedua antibiotik tersebut, dapat diberikan gentamisin, amikasin, atau sefalosporin sesuai petunjuk etiologi yang ditemukan. Terapi antibiotik diteruskan selama 7-10 hari jika tidak ada komplikasi. Pada neonatus dan bayi kecil, karena tingginya kejadian sepsis dan meningitis, terapi awal antibiotik intravena harus sesegera mungkin diberikan (Tridinilestari, 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil studi kasus yang telah dilakukan mengenai efektifitas pemberian terapi inhalasi nebulizer yang dilakukan pada pasien Bronchopneumonia, dapat di tarik kesimpulan bahwa adanya perbedaan keefektifitasan pemberian terapi inhalasi nebulizer yang telah dilakukan pada subjek I, subjek II dan subjek i. Dimana intervensi pemberian terapi inhalasi nebulizer ditarget dilakukan selama 4 hari dan di evaluasi di hari berikutnya, dan frekuensi pemebrian terapi yaitu 3 kali per hari pada setiap subjek. Pada subjek I dan subjek II efektifitas terapi inhalasi diperoleh sesuai target yaitu pada hari ke empat, sedangkan pada subjek i diperoleh lebih cepat dari pada target waktu pemberian intervensi, dan hal tersebut di pengaruhi oleh beberapa factor, salah satunya faktor usia. Namun intervensi pemberian terapi inhalasi nebulizer pada ketiga subjek dikatakan berhasil dan efektif. DAFTAR PUSTAKA