SARGA : JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM VOLUME 18 NO 1 JANUARY 2024 P-ISSN: 0853-4748 E-ISSN: 2961-7030 Journal Home Page: https://jurnal2. id/index. php/sarga PENDEKATAN KONSEP MEMORABILIA PADA PENGEMBANGAN FASILITAS PENUNJANG WISATA BENTENG KASTELA Memorabilia Concept Approach To Development Tourism Supporting Facilities For Kastela Fort | Received 7th October 2023 | Accepted December 28th 2022 | Available online January 30th 2024 | | DOI 10. 56444/sarga. 829 | Page 51 - 60 | Rizqy Salsabilah Fadhilah1*. Benny Bintarjo2. Muhammad Faisal3 rsfsalsabilah@gmail. Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Surabaya. Indonesia1 bbintajo@untag-sby. Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Surabaya. Indonesia2 faisal@untag-sby. Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Surabaya. Indonesia3 ABSTRAK Pariwisata merupakan salah satu sumber pendapatan bagi daerah yang memiliki lokasi objek wisata dengan mengembangkan potensi pariwisata sebagai salah satu upaya mengoptimalkan pendapatan daerah. Umumnya Kawasan wisata memiliki ciri khas tersendiri sehingga penyediaan sarana dan prasarana maupun hiburan atau wahana wisatanya berkaitan agar dapat dinikmati pada Kawasan tersebut. Untuk atraksi pariwisata masih perlu adanya pengembangan fasilitas penunjang potensi pariwisata pada kawasan ini. Metode penelitian diawali dengan mengumpulkan data lapangan, kemudian melakukan tinjauan Pustaka mengenai daya tarik objek wisata Benteng Kastela. Konsep dasar pada fasilitas ini yang didapatkan adalah AuMemoria Heroic dan NostalgiaAy dengan konsep pendekatan Memorabilia. Konsep memorabilia diterapkan dengan merencanakan gaya dan karakter visual bangunan. Konsep ini diharapkan dapat memaknai lokasi Benteng Kastela sebagai lokasi yang historical dan potensi daya tarik wisatawan. Adapun penerapan konsep memorabilia dalam pengembangan fasilitas penunjang ini berupa gubahan massa, bentuk aktifitas, dan penonjolan gaya arsitektur beserta ciri dan karakter gaya arsitektur tersebut. Kata kunci: Pengembangan kawasan wisata. Memorabilia. Benteng Kastela ABSTRACT Tourism is one source of income for regions that have tourist attraction locations by developing tourism potential as an effort to optimize regional income. Generally, tourist areas have their own characteristics so that the provision of facilities and infrastructure as well as entertainment or tourist rides are related so that they can be enjoyed in the area. For tourism attractions, there is still a need to develop facilities to support tourism potential in this region. The research method begins with collecting field data, then conducting a literature review of the attractiveness of Kastela Fort tourist attractions. The basic concept of this facility obtained is "Heroic Memory and Nostalgia" with the concept of Memorabilia approach. The concept of memorabilia is applied by planning the style and visual character of the building. This concept is expected to interpret the location of Kastela Fort as a historical location and potential tourist attraction. The application of the concept of memorabilia in the development of supporting facilities is in the form of mass composition, forms of activities, and the prominence of architectural styles along with the characteristics and characters of these architectural styles. Keywords: Development of tourists area. Memorabilia. Fort Kastela SARGA - VOLUME 18 NO. 1 JANUARY 2024 Rizqy Salsabilah Fadhilah. Benny Bintarjo. Muhammad Faisal PENDAHULUAN Pariwisata merupakan salah satu sumber pendapatan bagi daerah yang memiliki lokasi objek wisata dengan mengembangkan potensi pariwisata sebagai salah satu upaya mengoptimalkan pendapatan daerah. Indonesia memiliki daerah dengan keindahan alam serta budaya bersejarah yang mampu menarik perhatian wisatawan lokal hingga wisatawan mancanegara mulai dari wisata alam seperti pantai, gunung, wisata peninggalan bersejarah dan budaya sampai wisata Sejarah tentunya berkaitan dengan kebudayaan kita. Hal-hal yang penting dan esensial dapat diambil dan diaplikasikan pada kehidupan masa kini. Sejarah, juga mampu membawa kenangan dan memori masa lalu. Dan sejarah dapat membuat daya tarik yang kuat dalam menarik turis domestik maupun turis mancanegara serta meningkatkan pariwisata negara Indonesia (Dwipayanti & Setiawan, 2. Benteng Kastela merupakan Benteng Pertama yang dibangun oleh bangsa Eropa di Nusantara terletak di Kawasan Benteng Kastela. Kelurahan Kastela. Kecamatan Pulau Ternate. Kota Ternate. Objek ini kini merupakan objek wisata sejarah yang menjadi saksi kehancuran hubungan harmonis bangsa Portugis dengan Kesultanan Ternate setelah terbunuhnya Sultan Khairun pada tahun 1570. Pada tahun 2005 Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemerintah Daerah Provinsi Maluku Utara yang bekerja sama dengan Direktorat Sejarah dan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata melakukan pemugaran berupa restorasi dinding benteng bagian utara serta dibangun jalan setapak dan taman-taman. Kemudian pada tahun 2015 BPCB Maluku Utara melakukan ekskavasi penyelamatan terhadap Benteng Kastela. Fokus dari kegiatan ini adalah penelusuran struktur bastion dan dinding benteng. Hasil dari penelusuran diperoleh struktur dinding bagian barat dengan lebar dinding 1,2m dan tinggi 1,4m terletak 10 cm dari permukaan tanah (Suwindiatrini & Prasetyo, n. Berdasarkan data dari hasil studi lapangan pada objek Benteng Kastela, jumlah wisatawan tidak terdata secara kuantitatif, pengunjung dapat masuk dan keluar tanpa tiket. Dibalik Benteng Kastela yang memiliki daya tarik yang cukup tinggi dan dilengkapi nilai sejarah yang melekat, lemahnya perhatian pemerintah membuat objek ini tidak terawat dan konstruksi bangunan dari objek ini juga hampir seluruhnya rusak parah. Kemudian karena jarak objek ini yang cukup jauh dari pusat kota sehingga kurang banyak dijangkau dalam segi aksesibilitas terlebih lagi belum adanya fasilitas penunjang pada objek wisata ini dan ketersediaan infrastruktur yang ada. Semakin tingginya minat akan pariwisata budaya diharapkan Kota Ternate dapat berpartisipasi sebagai salah satu destinasi wisata sejarah di Indonesia. Benteng Kastela di Kota Ternate bukan hanya sebagai saksi bisu sejarah kepulauan Maluku, tetapi juga sebagai daya tarik wisata yang memungkinkan pengunjung untuk merasakan atmosfer masa lampau dan menghargai warisan budaya yang berharga. Merencanakan dan merancang fasilitas penunjang untuk Benteng Kastela di Kota Ternate. Indonesia, memiliki banyak keuntungan dan pentingnya tidak hanya terbatas pada upaya pemeliharaan, tetapi juga untuk memastikan keberlanjutan, penggunaan efektif, dan pengalaman positif bagi pengunjung. Konsep memorabilia dalam perancangan bangunan merujuk pada penggunaan atau penyertaan benda-benda bersejarah, artefak, atau barang-barang koleksi lainnya dalam elemen desain bangunan. Dalam konteks ini, memorabilia dapat digunakan untuk menciptakan pengalaman yang mendalam, merayakan sejarah atau tema tertentu, dan meningkatkan nilai budaya atau sentimen di dalam bangunan. Konsep memorabilia dalam perancangan bangunan tidak hanya menambahkan dimensi artistik dan sejarah, tetapi juga memberikan kesempatan untuk mendalamkan pengalaman pengunjung, meningkatkan keberlanjutan, dan merayakan nilai-nilai lokal. SARGA - VOLUME 18 NO. 1 JANUARY 2024 Pendekatan Konsep Memorabilia Pada Pengembangan Fasilitas Penunjang Benteng Kastela REVIEW LITERATUR Pengertian Wisata Wisata adalah suatu kegiatan yang bersifat bersenang-senang . yang ditandai dengan mengeluarkan uang atau melakukan kegiatan yang bersifat konsumsi. Suatu proses bepergian yang bersifat sementara yang dilakukan seseorang untuk menuju tempat lain di luar tempat Motif kepergiannya tersebut bisa karena kepentingan ekonomi, kesehatan, agama, budaya, sosial, politik dan kepentingan lainya (Hafid, 2. Dengan unsur Ae unsur. perjalanan, dilakukan secara sukarela, bersifat sementara, dan bertujuan untuk menikmati objek dan daya tarik wisata. Objek dan Daya Tarik Wisata Menurut (Heryati, 2. Edward . , mengatakan bahwa suatu objek wisata harus mempunyai 5 unsur penting, yaitu: A Daya tarik yang diklasifikasikan ke dalam daya tarik lokasi yang permanen. A Prasarana Wisata fasilitas yang harus terletak dekat dengan objek wisatanya. A Sarana Wisata Pembangunan sarana wisata di daerah tujuan wisata maupun objek wisata tertentu harus disesuaikan dengan kebutuhan wisatawan, baik secara kuantitatif maupun A Infrastruktur adalah situasi yang mendukung fungsi sarana dan prasarana wisata. A Masyarakat. Lingkungan, dan Budaya Daerah dan tujuan wisata yang memiliki berbagai objek dan daya tarik wisata akan mengundang kehadiran wisatawan. Menurut Burtenshaw. Bateman dan Ashworth . hal penting dalam pengembangan pariwisata adalah menciptakan produk pariwisata serta lingkungan untuk bekerja dan tinggal. Berhasil tidaknya suatu pembangunan tergantung pada dukungan aktif masyarakat setempat . di mana kolaborasi antara masyarakat dengan pemangku kepentingan . emerintah, swasta, masyaraka. dalam pariwisata memberikan manfaat yang signifikan dan berkelanjutan (Iriani, 2. Pendekatan Konsep Memorabilia Pendekatan konsep akan mengangkat penggambaran suasana dan kejadian dari peristiwa perjuangan dari Sultan Khairun dan Sultan Baabullah Ternate sehingga pendekatan yang digunakan pada pengembangan ini adalah pendekatan memorabilia. Memorabilia adalah sesuatu atau peristiwa yang patut dikenang, bisa menyatakan tempat, nama seseorang atar tokoh, maupun semua benda dan segala yang dibendakan (Rizal & Tisnawati, 2. Pendekatan Memorabilia merupakan karya arsitektur yang erat hubungannya dengan monumen sebagai wujud penghargaan dan/atau penghormatan atas masa lalu, kerap memiliki maksud dan tujuan yang berkonsentrasi pada memori dan segala sesuatu yang berkaitan dengan sosok, waktu, maupun kejadian yang sudah layak untuk dikenang (Imron & Tisnawati, 2. Berasal dari kata memori, pendekatan ini dapat menjadi suatu landasan sebuah bangunan untuk bisa menghubungkan kehidupan sekarang, masa lalu dan masa yang akan datang baik secara autobiografi maupun kolektif. Memori sendiri menciptakan sense of place yang dibangun oleh tiga poin utama konsep memorabilia yang bersinergi, yaitu bangunan bersejarah . , alam dan SARGA - VOLUME 18 NO. 1 JANUARY 2024 Rizqy Salsabilah Fadhilah. Benny Bintarjo. Muhammad Faisal Gaya Arsitektur Kolonial Adapun salah satu gaya arsitektur yang dapat mendukung konsep memorabilia pada pengembangan fasilitas penunjang ini yaitu gaya arsitektur kolonial. Gaya kolonial (Dutch Colonia. menurut Handinoto dalam (Purnomo et al. , 2. adalah gaya desain yang timbul dari keinginan dan usaha orang Eropa untuk menciptakan daerah jajahan seperti negara asal mereka dan cukup populer di Belanda (Netherlan. pada periode 1624-1820. Namun dikarenakan pada negara jajahan memiliki perbedaan iklim dan kurangnya ketersediaan material hingga perbedaan teknik maka desain tidak dapat sesuai dengan bentuk aslinya dan akhirnya memperoleh bentuk modifikasi yang menyerupai desain di negara mereka. Gaya arsitektur Kolonial di Indonesia dalam perkembangannya menurut Handinoto . terbagi menjadi tiga yaitu. Indische Empire style (Abad 18-. Arsitektur Transisi . dan Arsitektur Kolonial modern . Adapun ciri-ciri arsitektur Indische Empire Style antara lain: A Denahnya berbentuk simetris penuh. A Terdapat Aucentral roomAy terdiri dari kamar tidur utama dan kamar tidur lainnya. AuCentral roomAy tersebut terhubung langsung dengan teras depan dan teras belakang . oor galerij dan achter galer. A Teras depan dan belakang biasanya sangat luas dan ujungnya terdapat barisan kolom yang bergaya Yunani (Doric. Ionic. Corinthia. A Daerah service seperti dapur, kamar mandi/WC, gudang dan lainnya merupakan bagian yang terpisah dari bangunan utama dan terletak dibagian belakang. A Kadang-kadang terdapat pavilion sebagai kamar tidur tamu di samping bangunan utama. A Apabila rumah tersebut berskala besar biasanya terletak pada sebidang tanah yang luas dengan kebun di depan, samping dan belakang. A Konstruksi atap perisai dengan penutup atap genting A Bahan bangunan konstruksi utama adalah batu bata . aik kolom maupun tembo. A Belum banyak menggunakan pemakaian kayu terutama pada kuda-kudanya, kusen maupun pintunya dan pemakaian bahan kaca. DATA. DISKUSI DAN PEMBAHASAN Kelurahan Kastela termasuk wilayah geografis Kota Ternate Selatan yang memiliki luasan Kelurahan 14,75 ha memiliki 4 RT dan 3 RW. Kelurahan Kastela berbatasan langsung dengan Kelurahan Ae Kelurahan sekitar: sebelah Utara Kelurahan Jambula. sebelah Barat lautan. Timur Kelurahan Foramadiahi. Sebelah Selatan Kelurahan Rua Gambar 3. Peta Lokasi Benteng Kastela Sumber: Google Maps SARGA - VOLUME 18 NO. 1 JANUARY 2024 Pendekatan Konsep Memorabilia Pada Pengembangan Fasilitas Penunjang Benteng Kastela Di dalam kelurahan yang bersejarah, yakni Kelurahan Kastela, yang terletak di Kecamatan Pulau Ternate. Kota Ternate, berdiri dengan megah sebuah warisan bersejarah yang disebut Benteng Kastela. Bangunan monumental ini menjulang di atas lahan seluas 7,4 hektar, menjadi penjaga sejarah yang memukau. Meskipun telah menempuh perjalanan waktu yang panjang, luas struktur yang berhasil dilestarikan hingga saat ini mencapai 2438,40 meter persegi, menjadi saksi bisu masa lalu yang masih tetap hidup dalam keanggunan arsitekturalnya. Di tengah luasnya lahan ini, terdapat potensi pengembangan yang besar sebesar 16190,48 meter persegi, membuka peluang luar biasa untuk pelestarian dan peningkatan keberlanjutan sejarah Benteng Kastela. Jalan utama selebar 10 meter melintasi lahan tersebut, memberikan kemudahan akses bagi para pengunjung yang ingin menjelajahi kawasan. Gambar 4. Gerbang Benteng Kastela (A). Monumen Perjuangan (B) Reruntuhan Struktur Benteng (C) Sumber: Dokumentasi, 2023 Sejarah Singkat Benteng Kastela adalah benteng pertama yang dibangun oleh bangsa Eropa di nusantara ini menjadi saksi hancurnya hubungan harmonis bangsa Portugis dengan Kesultanan Ternate setelah dibunuhnya Sultan Khairun pada tahun 1570 (Suwindiatrini & Prasetyo, n. Dengan nama asli Nostra Senhora De Rosario, benteng ini telah terdaftar sebagai cagar budaya pada 26 Februari 2007 dengan nomor registrasi nasional CB 383. Pada masa awal pemerintahan Portugis pengaruhnya sebagai mitra dan penasihat kesultanan sangat kuat dikarenakan Portugis telah diberi hak dan kedudukan istimewa oleh kesultanan. Niat Portugis dalam hubungan kerja sama dengan Kesultanan Ternate dari awal bukan saling menguntungkan melainkan Portugis memiliki ambisi untuk dapat menaklukkan kesultanan dan akan dijadikan bagian dari Kerajaan Portugal. Gubernur Portugis yang menjabat pada akhir masa kepemimpinan Sultan Khairun, yaitu Lopez De Mesquita mengundang Sultan Khairun untuk berunding di Benteng Gamlamo . ama lain dari Benteng Kastel. Lopez De Mesquita berhasil meyakinkan Sultan Khairun dengan maksud baik dalam sebuah jamuan makan malam yang diadakan pada tanggal 28 Februari 1570 di Benteng Kastela. Lopez De Mesquita kemudian segera melanjutkan langkah penyingkiran berikutnya. Jamuan ini diadakan tertutup sehingga akses hanya diberikan pada Sultan Khairun. Saat Sultan Khairun berjalan menuju ke ruang audiensi Gubernur, seorang tentara Portugis dengan bernama Antonio Pimental mendatanginya dengan sebilah keris kemudian menikam Sultan Khairun hingga Mendengar berita Kematian Sultan Khairun kebencian rakyat Maluku Utara terhadap Portugis dibuat semakin menjadi-jadi. Setelah dinobatkan sebagai Sultan Ternate berikutnya. Sultan BaAoabullah memimpin rakyat Maluku Utara berperang melawan Portugis selama 5 tahun dan kemudian berhasil mengusir Portugis pada tahun 1575 dari Maluku Utara (Yusup, 2. SARGA - VOLUME 18 NO. 1 JANUARY 2024 Rizqy Salsabilah Fadhilah. Benny Bintarjo. Muhammad Faisal Pasca kekalahan bangsa Portugis. Kesultanan Ternate memindahkan pusat pemerintahan dari Sampalo yang berdekatan dengan Benteng Kastela ke Soa Sio di bagian utara Pulau Ternate, dan tindakan ini juga dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda yang memindahkan pos militernya ke Kampung Melayu. Perpindahan pusat kekuasaan Kesultanan Ternate dan pemerintah kolonial Belanda selain karena faktor kalah perang, kemungkinan besar juga karena bencana alam akibat erupsi Gunung Gamalama, sehingga daerah Kastela tidak layak lagi untuk dihuni (Jalil, 2. ZONING Gambar 4. Zoning Area Pengembangan (A). Denah Situasi Benteng Kastela (B) Sumber: Data Survey Tim Studi Kelayakan BPCB Malut 2016 Perancangan fasilitas penunjang wisata di Benteng Kastela dikembangkan pada site yang tidak jauh dari benteng yang ditunjukkan oleh warna biru pada gambar 4 diatas. Rekomendasi zona perancangan pengembangan fasilitas wisata di Benteng Kastela mencakup beberapa aspek yang dapat meningkatkan pengalaman pengunjung dan melestarikan Sejarah. Melalui zoning, fungsifungsi yang berbeda dapat dipisahkan untuk menghindari konflik atau ketidakharmonisan antar Selain itu zoning memungkinkan pemanfaatan lahan secara optimal dan efisien. Dengan menetapkan zona-zona tertentu untuk tujuan-tujuan khusus Pengembangan Fasilitas Penunjang Pengembangan objek wisata berguna dalam pembudidayaan lokasi wisata yang terdapat di daerah yang memiliki objek wisata, hal ini dapat memajukan objek tersebut menjadi lebih menarik melalui perluasan produk wisata baik melalui segi kawasan, tempat hingga benda- benda yang ada. Hasil dari pengembangan ini dapat dimanfaatkan bagi masyarakat ditinjau dari segi ekonomi, sosial, dan budaya apabila direncanakan dengan menyeluruh. Pengembangan kepariwisataan yang dilaksanakan dengan baik dapat menjadi aset penting dalam pembangunan dilihat dari daya tarik yang meningkatkan jumlah wisatawan secara terus-menerus. Pengembangan Benteng Kastela ini akan menggunakan perencanaan perancangan fasilitas penunjangnya melalui potensi ruang yang ada. Kawasan ini memiliki fungsi primer sebaggai destinasi wisata sejarah, fungsi sekunder sebagai sarana edukasi dan rekreasi, dengan kelengkapan fungsi penunjang yang berupa museum, taman dan wahana bermain perangperangan. Dalam pengembangan ini juga menyesuaikan pemenuhan syarat-syarat objek wisata agar layak dikembangkan, yaitu: SARGA - VOLUME 18 NO. 1 JANUARY 2024 Pendekatan Konsep Memorabilia Pada Pengembangan Fasilitas Penunjang Benteng Kastela A Atraksi. Museum Memoria & R. Audiovisual. Selain museum, rencana atraksi yang menjadi salah satu pengembangan pada objek wisata ini yaitu menghadirkan wahana permainan perang-perangan yang difasilitasi kostum dan peralatan dapat dimainkan oleh berbagai kalangan usia yang aman untuk bermain. A Aksesibilitas. Memanfaatkan akses ekstisting, pencapaian objek wisata Benteng Kastela sekitar 11,5 km dari pusat kota. A Amenity. Transportasi yang dapat digunakan dapat berupa kendaraan pribadi maupun angkutan umum. Kuliner yang dapat dinikmati oleh pengunjung sudah termasuk dalam rencana pengembangan dengan membuka stan kuliner khas Ternate maupun Maluku Utara Dasar Filosofi Filosofi dasar pada fasilitas ini yang didapatkan adalah AuMemoria Heroic dan NostalgiaAy. Memoria Heroic dalam perancangan bangunan mengacu pada penggunaan elemen-elemen arsitektural atau desain yang menghormati, merayakan, atau mengabadikan keberanian, jasa, atau peristiwaperistiwa heroik. Hal ini sering terkait dengan pengenangan atas pengorbanan atau prestasi luar biasa yang memiliki dampak signifikan pada sejarah, budaya, atau masyarakat. Benteng Kastela merupakan situs bersejarah saksi bisu dari perjuangan Sultan Khairun dan anaknya Sultan Baabullah Ternate dalam mengusir bangsa Portugis di tanah Ternate. Upaya pengembangan fasilitas ini bertujuan mengikutsertakan pengunjung dalam mempelajari dan merasakan semangat perjuangan pada masa tersebut. Penerapan Konsep Memorabilia pada Objek Pengembangan Konsep memorabilia diterapkan dengan merencanakan gaya dan karakter visual bangunan dalam pengembangan fasilitas penunjang objek ini dengan tujuan meningkatkan daya tarik wisatawan juga dapat merasakan suasana masa lalu dan bernostalgia peristiwa perjuangan Sultan Khairun dan Sultan Baabullah mengusir Bangsa Portugis dari Ternate. Konsep ini diharapkan dapat memaknai lokasi museum dan fasilitas atraksi lainnya sebagai sebagai lanskap sejarah, memaknai tiap ruang sebagai media informasi edukatif, dan gubahan massa bangunan yang menceritakan Gubahan Massa Ide bentuk bangunan utama yang difungsikan sebagai museum berasal dari cengkeh. Bentuk ini diambil dari landmark Monumen Perjuangan Sultan Baabullah untuk menyelaraskan fasilitas penunjang dengan objek wisata utamanya yaitu Benteng Kastela. Disamping cengkeh juga merupakan flora identitas Provinsi Maluku Utara. Gambar 5. Transformasi Gubahan Massa Sumber: Analisa Penulis SARGA - VOLUME 18 NO. 1 JANUARY 2024 Rizqy Salsabilah Fadhilah. Benny Bintarjo. Muhammad Faisal Struktur Struktur pada beberapa bangunan juga dibuat dengan bahan yang sama dengan struktur awal Benteng Kastela yaitu batu andesit dan karang yang direkatkan dengan campuran kapur dan Benteng Kastela menggunakan batu andesit sebagai salah satu bahan utama konstruksi. Andesit adalah batuan beku yang memiliki komposisi mineral seperti plagioklas feldspar, piroksen, dan hornblenda. Batu ini dikenal karena sifat-sifatnya yang tahan terhadap tekanan dan abrasi, menjadikannya pilihan yang kuat untuk konstruksi bangunan pertahanan seperti benteng. Gambar 6. Struktur Benteng Kastela Sumber: Laporan Studi Teknis Pemugaran Benteng Kastela Kota Ternate, 2016 Proses pembangunan Benteng Kastela melibatkan penggunaan campuran kapur dan pasir sebagai bahan pengikat atau mortir. Kapur adalah bahan pengikat yang umum digunakan dalam konstruksi tradisional untuk menyatukan batu-batuan. Pasir, pada gilirannya, berfungsi sebagai agregat dalam campuran mortir untuk meningkatkan kekuatan dan ketahanan terhadap tekanan Penerapan Gaya Architecture Indische sebagai Pendukung Konsep Memorabilia Gaya arsitektur Indische atau Arsitektur Hindia Belanda mencerminkan gaya arsitektur yang berkembang di wilayah Indonesia pada masa pemerintahan Hindia Belanda . bad ke-17 hingga awal abad ke-. Penerapan Gaya Architecture Indische sebagai pendukung konsep memorabilia pada Benteng Kastela dapat memberikan nuansa sejarah kolonial yang khas, sekaligus memperkaya pengalaman pengunjung dengan elemen-elemen arsitektural yang mengingatkan pada periode tertentu. Elemen-elemen arsitektur Indische dapat diintegrasikan dengan baik dalam ruang-ruang yang didedikasikan untuk memorabilia. Ruang pameran, museum, atau galeri dapat dirancang dengan memperhatikan estetika arsitektur ini untuk meningkatkan atmosfer Site Plan Desain site plan memperhatikan pengaturan ruang terbuka yang menciptakan pemandangan yang indah, area istirahat, dan akses yang nyaman untuk pengunjung. Dengan memanfaatkan bentuk - bentuk yang simetris, dalam poin ini denah beberapa massa bangunan dibuat simetris menggunakan bentuk geometri berupa persegi dan lingkaran. lokasi pusat informasi atau pusat pengunjung di dekat pintu masuk untuk memberikan panduan dan informasi kepada pengunjung sejak awal kunjungan mereka. Zona-zona yang diatur dengan baik untuk pameran dan museum, termasuk jalur yang logis untuk pengunjung mengelilingi dan mengeksplorasi memorabilia Selain itu terdapat area-area rekreasi seperti taman atau lapangan terbuka yang dapat digunakan sebagai tempat bersantai, piknik, atau kegiatan rekreasi lainnya. SARGA - VOLUME 18 NO. 1 JANUARY 2024 Pendekatan Konsep Memorabilia Pada Pengembangan Fasilitas Penunjang Benteng Kastela Gambar 7. Site Plan Kawasan Sumber: Analisa Penulis, 2023 Central Room dan Wahana Warship Penataan ruang ini difungsikan sebagai Museum Memoria. Museum Memoria akan menyuguhkan empat tahap peristiwa yang terjadi dalam sejarah Benteng Kastela. Pertama, sejarah masuknya Portugis ke Ternate dan melakukan Kerjasama dengan Kesultanan Ternate. Kedua, terbunuhya Sultan Khairun di Benteng Kastela. Ketiga, perang Ternate Portugis dipimpin Sultan Baabullah. Keempat, kehancuran Benteng Kastela. Fasad menggunakan gaya arsitektur colonial Belanda. Terdapat barisan kolom yang bergaya Yunani, konstruksi atap perisai dengan penutup atap genting, bahan bangunan konstruksi utama adalah batu bata . aik kolom maupun tembo. Wahana berukuran 3064,89m2 ini memfasilitasi permainan peperangan lengkap dengan kostum dan alat yang aman digunakan oleh pemain serta rute yang akan dilalui pemain. Gambar 8. Hall dengan barisan kolom (A). Teras Belakang & Wahana Warship (B) Sumber: Analisa Penulis, 2023 KESIMPULAN Pengembangan fasilitas penunjang pada Benteng Kastela bertujuan untuk membudidayakan lokasi dan objek Benteng Kastela menjadi lebih maju dan terawat dengan baik. Berdasarkan karakter lokasi Benteng yang historical sebagai saksi bisu perjuangan para Sultan Ternate mengusir penjajah dari tanah Ternate maka terciptalah konsep Memoria Heroic dan Nostalgia dengan tujuan mengikutsertakan pengunjung dalam mempelajari dan merasakan semangat perjuangan pada masanya. Pengembangan ini kemudian menggunakan pendekatan konsep memorabilia dan menerapkan gaya arsitektur kolonial sebagai karakter visual pada fasad objek wisata ini. SARGA - VOLUME 18 NO. 1 JANUARY 2024 Rizqy Salsabilah Fadhilah. Benny Bintarjo. Muhammad Faisal DAFTAR PUSTAKA