Jurnal Budi Pekerti Agama Islam Volume 3. Nomor 2. Tahun 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal 83-94 DOI: https://doi. org/10. 61132/jbpai. Available Online at: https://journal. id/index. php/jbpai Etika Penggunaan Media Social dalam Perspektif Hadis Studi Tentang Privasi dan Tanggung Jawab Social Zaid Almubarok Simangunsong1*). Ferizal Ferizal. Sains dan Teknologi. Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Indonesia Dosen PAI STAI Raudhatul Akmal. Indonesia E-mail : 1*zaidzabarsing@gmail. com, 2feri. naluma05@gmail. Korespondensi penulis : zaidzabarsing@gmail. Abstract : This study examines the ethics of using social media from the perspective of hadith and verses of the Qur'an with a focus on privacy and social responsibility. Social media, as the dominant means of communication, is often misused, causing privacy violations, the dissemination of inaccurate information, and other negative This study uses a literary approach to sahih hadiths and interpretations of verses of the Qur'an. The results of the study show that Islam prohibits the act of tajasuss . and ghibah . , as affirmed in the hadith: "Whoever spies on others. Allah will spy on him. " In addition. QS. Al-Isra: 36 reminds the importance of verifying information before it is disseminated. The principle of amar ma'ruf nahi munkar requires social media users to encourage kindness, share positive content, and avoid destructive behavior, such as bullying or spreading inappropriate content. The application of Islamic ethics in social media can reduce the negative impact of technology while creating safer and more beneficial interactions in cyberspace. Keywords: Ethics. Media. Social. Hadith. Privacy. Abstrak : Penelitian ini mengkaji etika penggunaan media sosial dalam perspektif hadis dan ayat Al-QurAoan dengan fokus pada privasi dan tanggung jawab sosial. Media sosial, sebagai alat komunikasi yang dominan, sering kali disalah gunakan sehingga menimbulkan pelanggaran privasi, penyebaran informasi tidak akurat, dan dampak negatif lainnya. Studi ini menggunakan pendekatan literatur terhadap hadis-hadis shahih dan tafsir ayat-ayat AlQurAoan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Islam melarang tindakan tajasuss . emata-mata. dan ghibah . , sebagaimana ditegaskan dalam hadis: "Barangsiapa yang memata-matai orang lain, maka Allah akan memata-matai dirinya. " Selain itu. QS. Al-Isra: 36 mengingatkan pentingnya memverifikasi informasi sebelum disebarkan. Prinsip amar maAoruf nahi munkar menuntut pengguna media sosial untuk mendorong kebaikan, berbagi konten positif, dan menghindari perilaku destruktif, seperti perundungan atau penyebaran konten tidak pantas. Penerapan etika Islam dalam media sosial dapat mengurangi dampak negatif teknologi sekaligus menciptakan interaksi yang lebih aman dan bermanfaat di dunia maya. Kata Kunci : Etika. Media. Sosial. Hadis. Privasi. PENDAHULUAN Etika, dalam konteks bahasa Arab dikenal dengan istilah akhlaq, adalah cabang ilmu yang membahas perilaku baik dan buruk berdasarkan nilai-nilai moral. Dalam ajaran Islam, etika berakar pada Al-Qur'an dan hadis yang mengajarkan prinsip-prinsip hidup yang bertujuan untuk menjaga keharmonisan sosial dan spiritual (Al-Ghazali M, 2. Media sosial, di sisi lain, merupakan platform digital yang memungkinkan komunikasi dan interaksi antar individu secara virtual. Platform seperti Whatsahapp. Facebook. Instagram, dan Twitter menjadi alat komunikasi utama dalam era modern. Received: Desember 09, 2024. Revised: Desember 23, 2024. Accepted: Januari 19, 2025. Online Available: Januari 21, 2025 Etika Penggunaan Media Social dalam Perspektif Hadis Studi Tentang Privasi dan Tanggung Jawab Social Namun, media sosial sering kali disalahgunakan, sehingga menimbulkan berbagai persoalan, seperti penyebaran hoaks, pelanggaran privasi, dan cyberbullying (Rahman & Lubis, 2. Oleh karena itu, diperlukan panduan etika yang kuat untuk memastikan penggunaan media sosial selaras dengan nilai-nilai agama, khususnya dalam perspektif hadis. Media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia modern, menawarkan ruang interaksi yang luas dan tak terbatas. Dengan kemampuannya yang mendukung komunikasi lintas batas geografis dan waktu, media sosial telah merevolusi cara manusia berkomunikasi, berbagi informasi, dan membangun jejaring sosial. Dari platform yang memungkinkan berbagi momen pribadi hingga media untuk menggalang dukungan terhadap isu sosial, media sosial memberikan dampak yang signifikan terhadap hampir setiap aspek kehidupan manusia (Septian Pratama, 2. Salah satu manfaat utama media sosial adalah kemampuannya dalam menyebarkan informasi dengan cepat dan luas. Berbagai isu global, seperti krisis iklim, gerakan sosial, dan pendidikan, dapat dengan mudah dijangkau oleh jutaan orang hanya dalam hitungan menit. Platform ini juga berfungsi sebagai alat untuk membangun komunitas yang kuat, mempertemukan individu-individu dengan minat, latar belakang, atau tujuan yang serupa. Selain itu, media sosial juga mendukung perkembangan ekonomi digital, di mana pelaku usaha dapat memanfaatkan platform ini untuk memasarkan produk dan menjangkau pasar yang lebih luas dengan biaya yang relatif rendah (M Fikri Hidayat & Rika Purnama, 2. Namun, di balik manfaat yang begitu besar, media sosial juga menghadirkan berbagai tantangan serius, terutama yang berkaitan dengan privasi, keamanan data, dan tanggung jawab Kasus pelanggaran privasi menjadi salah satu isu utama, di mana data pribadi pengguna seringkali dimanfaatkan tanpa izin oleh pihak ketiga untuk tujuan komersial atau bahkan Selain itu, media sosial juga menjadi ladang subur bagi penyebaran hoaks dan informasi palsu yang dapat memecah belah masyarakat. Penyebaran ujaran kebencian, bullying, dan konten negatif lainnya semakin memperburuk situasi, mengancam harmoni sosial dan memengaruhi kesehatan mental banyak pengguna. Tantangan lain yang muncul adalah bagaimana media sosial dapat memengaruhi persepsi dan pola pikir pengguna. Algoritma platform seringkali dirancang untuk menampilkan konten yang sesuai dengan preferensi pengguna, menciptakan apa yang disebut sebagai filter Hal ini dapat mengisolasi individu dari pandangan yang beragam, memperkuat bias, dan memengaruhi kemampuan mereka untuk membuat keputusan yang berdasarkan informasi yang seimbang. Jurnal Budi Pekerti Agama Islam - Volume 3. Nomor 2. Tahun 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal 83-94 Dalam menghadapi manfaat dan tantangan ini, penting untuk menyoroti aspek etika dalam menggunakan media sosial. Pengguna harus memiliki kesadaran penuh terhadap dampak dari setiap konten yang mereka bagikan, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Etika penggunaan media sosial mencakup tanggung jawab untuk memverifikasi informasi sebelum membagikannya, menghormati privasi orang lain, dan menghindari penyebaran ujaran kebencian atau konten yang merugikan. Selain itu, platform media sosial juga memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan digital yang aman, termasuk dengan mengembangkan kebijakan yang ketat untuk melawan penyebaran konten negatif dan menejauhi platform yang tidak berfaedah serta melindungi data pengguna. Dengan memahami manfaat, tantangan, dan pentingnya etika dalam penggunaan media sosial, kita dapat memanfaatkan teknologi ini dengan lebih bijak. Media sosial seharusnya menjadi alat yang memberdayakan manusia, bukan menjadi penyebab dari konflik atau kerusakan sosial. Dibutuhkan kesadaran kolektif dari pengguna, pembuat kebijakan, dan pengelola platform untuk menjadikan media sosial sebagai ruang yang mendukung kebaikan bersama (Nia Farahdiana & Dwi Rini, 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pandangan Hadis yang kemudian juga ada di dukung dengan ayat Al-QurAoan mengenai etika penggunaan media sosial, dengan fokus pada isu privasi dan tanggung jawab sosial. Kajian ini tidak hanya relevan untuk memahami bagaimana prinsip-prinsip agama dapat diterapkan di era digital, tetapi juga untuk memberikan panduan praktis bagi pengguna media sosial dalam menjalankan aktivitas mereka secara lebih etis dan bertanggung jawab. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi yang berarti dalam membangun kesadaran etis di masyarakat modern. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode survei yang memanfaatkan kuesioner pada Google Forms sebagai instrumen pengumpulan data utama. Kuesioner dirancang untuk menggali pandangan, pemahaman, dan praktik terkait etika penggunaan media sosial dalam perspektif hadis, khususnya yang berhubungan dengan privasi dan tanggung jawab sosial. Pendekatan ini bertujuan untuk memperoleh data yang terukur dan dapat dianalisis secara statistik untuk mendukung kesimpulan penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah mereka yang terlibat dalam dunia akademik Khususnya dilingkungan kampus. seperti Mahasiswa, dan Dosen. Sampel penelitian pun juga diambil menggunakan teknik purposive sampling, dengan kriteria responden yang pernah mempelajari ilmu keislaman, khususnya yang terkait dengan hadis. Jumlah sampel yang Etika Penggunaan Media Social dalam Perspektif Hadis Studi Tentang Privasi dan Tanggung Jawab Social ditargetkan adalah 100 orang untuk memastikan data yang representatif. Namun hasilnya yang kami dapatkan cukup baik, ada sebanyak 194 Responden. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah kuesioner yang dirancang untuk menggali persepsi dan pemahaman responden tentang topik penelitian. Kuesioner terdiri dari tiga bagian Data Demografis : Mengumpulkan informasi mengenai Nama. Status (Mahasiswa / Dose. Kemudian Universitasnya. Persepsi tentang Privasi : Mengukur sejauh mana responden memahami konsep privasi dalam Islam berdasarkan hadis, termasuk tindakan yang mereka ambil untuk menjaga privasi di media sosial. Tanggung Jawab Sosial : Mengevaluasi sejauh mana responden memahami dan menerapkan prinsip-prinsip tanggung jawab sosial berdasarkan ajaran Islam dalam aktivitas mereka di media sosial. Data dikumpulkan dengan menyebarkan kuesioner secara online melalui platform Google Forms. Penggunaan metode online dipilih untuk mempermudah distribusi dan meningkatkan tingkat partisipasi responden. Kuesioner dirancang menggunakan skala Likert 1-5 untuk mengukur tanggapan dari Pernyataan yang diberikan kepada setiap responden. HASIL DAN PEMBAHASAN Media sosial telah menjadi bagian integral dalam kehidupan sehari-hari, mempengaruhi berbagai aspek interaksi sosial, politik, dan ekonomi. Seiring dengan berkembangnya teknologi, muncul berbagai permasalahan etika, terutama terkait dengan privasi dan tanggung jawab sosial. Dalam konteks ini, hadis Nabi Muhammad SAW menjadi sumber penting dalam membentuk pandangan etis tentang penggunaan media sosial. Hadis-hadis yang berkaitan dengan perlindungan privasi dan penghargaan terhadap hak individu memberikan panduan bagi umat Islam dalam memanfaatkan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab. Privasi dalam Islam merupakan hal yang sangat dijaga, sebagaimana tercermin dalam hadis-hadis yang mengajarkan untuk tidak mengintip atau mencari-cari aib orang lain. Dalam konteks media sosial, hal ini berkaitan dengan penghormatan terhadap ruang pribadi dan data pribadi pengguna. Hadis-hadis yang menekankan pentingnya menjaga kehormatan dan tidak mengungkapkan aib orang lain menjadi dasar untuk menghindari penyalahgunaan platform media sosial yang dapat merugikan pihak lain. Pengguna media sosial harus menyadari bahwa meskipun dunia maya terbuka, kewajiban untuk menjaga privasi tetap berlaku. Jurnal Budi Pekerti Agama Islam - Volume 3. Nomor 2. Tahun 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal 83-94 Di sisi lain, tanggung jawab sosial dalam penggunaan media sosial juga menjadi pokok bahasan penting. Hadis-hadis yang mengajarkan pentingnya amar ma'ruf nahi munkar . enyuruh yang baik dan mencegah yang buru. relevan dengan peran individu dalam membangun etika digital. Penggunaan media sosial bukan hanya tentang berbagi informasi, tetapi juga tentang memastikan bahwa informasi yang disebarkan tidak merugikan orang lain atau menyebarkan kebohongan. Tanggung jawab sosial dalam dunia digital mencakup komitmen untuk menyebarkan kebaikan dan melawan penyebaran informasi yang merugikan atau menyesatkan. Selain itu, perkembangan media sosial juga menuntut umat Islam untuk lebih kritis dalam memilih informasi yang dibagikan. Hadis yang menekankan pentingnya kehati-hatian dalam berbicara dan bertindak sangat relevan dalam konteks ini. Sebelum membagikan suatu konten, seorang Muslim dituntut untuk memastikan kebenaran informasi tersebut, serta mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain. Dalam hal ini, prinsip "hindari kata-kata yang tidak berguna" dalam hadis menunjukkan bahwa setiap interaksi di media sosial harus dipertimbangkan secara matang (Wiranata & Dhofin , 2. Secara keseluruhan, penggunaan media sosial dalam perspektif hadis mengajarkan umat Islam untuk selalu menjaga integritas, kehormatan, dan privasi orang lain. Dalam era informasi yang semakin terbuka ini, penting untuk mengedepankan nilai-nilai etika yang diajarkan dalam hadis, agar media sosial dapat menjadi sarana yang positif dalam berinteraksi, berbagi pengetahuan, dan menyebarkan kebaikan di tengah masyarakat. Penelitian ini menggunakan kuesioner untuk mengidentifikasi tingkat kesadaran dan implementasi etika penggunaan media sosial dalam perspektif hadis, khususnya terkait privasi dan tanggung jawab sosial. Responden terdiri dari 194 individu dengan berbagai latar belakang dalam data Demografis, namun yang menjadi pupulasi terbesar dalam Penelitian ini adalah mereka para Mahasiswa / Mahasiswi yang berasal dari Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Medan. Kuesioner ini mencakup pernyataan tentang kebiasaan berbagi informasi, perlindungan privasi orang lain, dan tanggung jawab dalam menggunakan media sosial. Dan Etika Penggunaan Media Social dalam Perspektif Hadis Studi Tentang Privasi dan Tanggung Jawab Social inilah status seluruh responden dalam Penelitian ini, yang kami visualkan dalam bentuk Diagram : Gambar 1. Visualisasi Status Responden Berikut ini adalah hasil dari tanggapan responden mengenai Pernyataan pada Penelitian kami: Tabel 1. NO. PERNYATAAN DAN TANGGAPAN Menjaga privasi diri dan orang lain adalah bagian dari etika Islam," sesuai dengan sabda Rasulullah, "Barang siapa yang menutup aib seorang muslim. Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. (HR. Muslim, no. Seberapa sering Anda memberikan pengingat kepada orang lain untuk menjaga privasi sesuai ajaran Islam? Gambar 2. Visualisasi Tanggapan Dari pernyataan Nomor 1 Saya percaya bahwa menjaga privasi adalah bagian dari kewajiban seorang muslim, termasuk di media sosial," sesuai dengan firman Allah: "Dan janganlah kalian membuka rahasia orang lain, janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain. " (QS. Al-Hujurat : . Sejauh mana diri anda setuju bahwa membatasi informasi pribadi yang dibagikan di media sosial adalah penting untuk menjaga privasi sesuai ajaran Islam ? Jurnal Budi Pekerti Agama Islam - Volume 3. Nomor 2. Tahun 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal 83-94 Gambar 3. Visualisasi Tanggapan Dari pernyataan Nomor 2 Saya merasa wajib untuk menghindari menyebarkan berita yang belum terbukti kebenarannya," karena Rasulullah bersabda, "Cukuplah seseorang dianggap berbohong apabila dia menceritakan setiap hal yang didengarnya. " (HR. Muslim, no. Dan dalam (QS. Al-Isra : . "Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya. " Apakah Anda selalu memeriksa kebenaran informasi yang diterima sebelum membagikannya kepada orang lain ? Gambar 4. Visualisasi Tanggapan Dari pernyataan Nomor 3 Menggunakan bahasa yang baik dan sopan di media sosial adalah kewajiban sebagai muslim," sesuai dengan firman Allah : "Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik . " (QS. Al-Isra : . Dan dalam (HR. Bukhari, no. AuDari Abu Huraira, dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda : AuBarang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Ay Apakah Anda merasa bahwa berbicara dengan baik di media sosial dapat menciptakan kedamaian dan menghindari perpecahan ? Etika Penggunaan Media Social dalam Perspektif Hadis Studi Tentang Privasi dan Tanggung Jawab Social Gambar 5. Visualisasi Tanggapan Dari pernyataan Nomor 4 Menyebarkan konten ilmu dan edukasi di media sosial adalah bentuk ibadah," merujuk pada hadis, "Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya. " (HR. Muslim, no. Dan dalam (QS. An-Nahl : . "Serulah . kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu. Dialah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat " Menurut diri anda, apakah penting untuk menyebarkan informasi yang dapat bermanfaat bagi banyak orang melalui media sosial ? Gambar 6. Visualisasi Tanggapan Dari pernyataan Nomor 5 Menghindari penyebaran konten yang tidak mendidik atau tidak bermanfaat di media sosial adalah kewajiban seorang muslim," sesuai dengan hadis, "Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya. " (HR. Tirmidzi, no. Seberapa besar diri anda merasa bertanggung jawab dalam menghindari penyebaran konten yang tidak bermanfaat di media Jurnal Budi Pekerti Agama Islam - Volume 3. Nomor 2. Tahun 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal 83-94 Gambar 7. Visualisasi Tanggapan Dari pernyataan Nomor 6 Sebagai seorang muslim, saya percaya bahwa kejujuran adalah prinsip utama yang harus diterapkan, termasuk di media sosial," sesuai dengan sabda Rasulullah : "Tinggalkanlah apa-apa yang meragukanmu dan berpeganglah pada apa yang tidak meragukanmu, karena kejujuran itu adalah ketenangan, dan kedustaan itu adalah keragu-raguan. "(HR. Muslim, no. Dan dalam (QS. AtTawbah : . "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. " Sejauh mana diri anda merasa sudah menerapkan prinsip kejujuran dalam setiap unggahan atau komentar yang Anda buat di media sosial ? Gambar 8. Visualisasi Tanggapan Dari pernyataan Nomor 7 Etika Penggunaan Media Social dalam Perspektif Hadis Studi Tentang Privasi dan Tanggung Jawab Social Sebagai seorang muslim, saya merasa wajib untuk menjauhi platform yang mempromosikan judi online di media sosial," merujuk pada hadis Rasulullah : "Barang siapa yang bermain dengan dadu, maka seakan-akan dia telah mencelupkan tangannya ke dalam daging babi dan darahnya. " (HR. Muslim, nomor 2. Dan dalam (QS. Al-Maidah : . "Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu karena . inuman kera. dan berjudi, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan salat, maka berhentilah kamu . ari mengerjakan pekerjaan " Menurut diri anda, sejauh mana peran media sosial dalam mempromosikan perjudian online mempengaruhi generasi muda ? Gambar 9. Visualisasi Tanggapan Dari pernyataan Nomor 8 Sebagai muslim, saya merasa penting untuk menjaga aurat saya di media sosial," sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur'an: "Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman. Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang biasa tampak daripadanya. " (QS. An-Nur : . Dan dalam (HR. Bukhari, no. "Dari Abdullah bin Umar, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda : Wanita itu adalah aurat, apabila ia keluar rumah, maka syaitan akan memperhatikannya. '" Seberapa sering diri anda menghindari menampilkan gambar atau video yang bisa dianggap sebagai aurat di media sosial ? Gambar 10. Visualisasi Tanggapan Dari pernyataan Nomor 9 Sebagai seorang muslim, saya sebaiknya menghindari mengunggah foto dengan non-mahram atau pacar serta berpacaran di media sosial," sesuai dengan firman Allah: "Dan janganlah kamu mendekati zina. sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. " (QS. Al-Isra : . Dan dalam (HR. Bukhari, no. "Dari Abdullah bin Abbas, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda Janganlah salah seorang dari kalian berduaan dengan seorang wanita kecuali bersama Ay Sejauh mana diri anda setuju bahwa mengunggah foto bersama lawan jenis yang bukan mahram di media sosial dapat memperburuk hubungan dan membuka pintu fitnah ? Jurnal Budi Pekerti Agama Islam - Volume 3. Nomor 2. Tahun 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal 83-94 Gambar 11. Visualisasi Tanggapan Dari pernyataan Nomor 10 KESIMPULAN Penggunaan media sosial dalam perspektif hadis mengharuskan adanya pemahaman mendalam tentang prinsip-prinsip etika yang dapat menjaga harmoni sosial dan spiritual umat. Dalam konteks privasi, hadis mendorong umat Islam untuk menjaga kerahasiaan informasi dan aib orang lain, mencerminkan pentingnya penghormatan terhadap hak pribadi di ranah digital. Pada aspek tanggung jawab sosial, penggunaan media sosial hendaknya didasarkan pada semangat amar maAoruf nahi munkar, yaitu menyebarkan kebaikan dan mencegah keburukan. Hal ini dapat diwujudkan dengan mengedepankan nilai-nilai kejujuran, kesantunan, dan niat yang tulus dalam setiap aktivitas daring. Tantangan utama seperti penyebaran hoaks dan cyberbullying memerlukan solusi praktis berbasis edukasi literasi digital, introspeksi diri, dan dakwah digital. Edukasi yang memadai akan membantu masyarakat memahami dampak negatif dari pelanggaran etika di media sosial, sementara introspeksi diri membantu setiap individu untuk mematuhi nilai-nilai agama dalam berinteraksi secara daring. Dakwah digital, jika dilakukan dengan benar, dapat menjadi alat yang ampuh untuk menyebarkan ajaran Islam dan memperbaiki tatanan sosial di era digital. Hadis memberikan arahan tegas bahwa penggunaan media sosial harus mengutamakan kebaikan, menghindari fitnah, dan menghormati sesama pengguna. Dengan mengikuti prinsipprinsip ini, media sosial dapat menjadi platform yang mendukung perkembangan spiritual dan sosial umat Islam. Pengawasan dan kolaborasi antara masyarakat, ulama, dan pemerintah juga diperlukan untuk menciptakan ekosistem digital yang lebih baik dan Islami. Etika Penggunaan Media Social dalam Perspektif Hadis Studi Tentang Privasi dan Tanggung Jawab Social Maka intinya, etika penggunaan media sosial dalam Islam tidak hanya berbicara tentang menjaga moralitas pribadi, tetapi juga berperan besar dalam membangun tanggung jawab sosial dan menjaga keharmonisan antarindividu. Prinsip-prinsip yang terkandung dalam hadis dapat menjadi pedoman universal untuk menghadapi tantangan era digital, menjadikan media sosial sebagai sarana kebaikan dan kemaslahatan umat. DAFTAR PUSTAKA