SURPLUS: Jurnal Riset Mahasiswa Ekonomi Manajemen dan Akuntansi Vol. No. Desember 2024 Website: http://ejournal. id/index. php/surplus ISSN 2828-0105 PERAN ETNOSENTRISME KONSUMEN DAN PERSEPSI KUALITAS PRODUK TERHADAP LOYALITAS KONSUMEN GENERASI Z PADA PRODUK KECANTIKAN LOKAL Karisadini1 Politeknik Ilmu Pemasyarakatan. Tangerang. Indonesia, karisadn@gmail. DOI: https://doi. org/10. 35449/surplus. ABSTRAK Penelitian ini mengkaji fenomena pertumbuhan pesat industri kecantikan lokal di Indonesia yang didorong oleh pangsa pasar Generasi Z. Meski menjadi segmen konsumen terbesar, karakteristik unik Generasi Z yang cenderung kurang loyal terhadap merek tertentu menjadi tantangan tersendiri bagi industri. Studi ini bertujuan menganalisis pengaruh persepsi kualitas produk dan etnosentrisme konsumen terhadap loyalitas konsumen Generasi Z, dengan fokus pada produk perona bibir atau lipstik lokal. Menggunakan pendekatan kuantitatif, data dikumpulkan melalui survei terhadap 290 responden yang termasuk dalam Generasi Z. Analisis regresi linear berganda dengan SPSS 29 digunakan untuk menguji hipotesis penelitian. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa tingkat loyalitas responden berada pada kategori sedang, sementara kedua variabel independen yaitu persepsi kualitas produk dan etnosentrisme konsumen, menunjukkan pengaruh positif dan signifikan terhadap loyalitas konsumen. Temuan ini berkontribusi pada literatur perilaku konsumen dan memberikan implikasi praktis bagi produsen kosmetik lokal dalam mengembangkan strategi pemasaran yang efektif untuk meningkatkan loyalitas konsumen muda, sekaligus memperkuat daya saing produk lokal di pasar global. Kata kunci: Etnosentrisme. Generasi Z. Loyalitas. Persepsi Kualitas. Produk Kecantikan PENDAHULUAN Dalam beberapa tahun terakhir, industri kecantikan lokal mengalami pertumbuhan pesat, seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya merawat diri dan Produk kecantikan lokal mulai mendapatkan tempat di pasar yang sebelumnya didominasi oleh merek internasional. Data Statista . menunjukkan bahwa pendapatan industri kecantikan dan perawatan diri di Indonesia akan mencapai 9,17 miliar US Dollar atau setara Rp. 147,6 triliun, dan diprediksikan akan meningkat sebesar 4,39 persen per tahun (CAGR) pada periode 2024-2028. Pangsa pasar terbesar bagi industri kecantikan lokal saat ini adalah generasi Z. Hasil sensus BPS . menunjukkan 71,5 juta penduduk Indonesia tergolong sebagai generasi z, dan 36 juta diantaranya adalah perempuan yang merupakan target pasar utama industri kecantikan. Menurut McKinsey & Company, generasi Z merupakan mereka yang lahir antara tahun 1996 hingga 2012 (Kim et al. , 2. Generasi Z dikenal sebagai digital native, dimana mereka sangat akrab dengan teknologi dan secara aktif Karisadini Surplus. Vol. No. Desember 2024 berkontribusi di berbagai platform sosial media. Hal ini membuat generasi Z mudah terpapar oleh informasi yang membuat mereka memiliki karakteristik konsumsi yang dinamis dan responsif terhadap tren terkini Hinduan et al. Adapun beberapa penelitian terdahulu menyatakan bahwa generasi Z memiliki loyalitas terhadap merek yang cenderung rendah (Schlossberg, 2016. Suwandi & Balqiah, 2. , di mana hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha. Di tengah ketatnya persaingan pada industri kecantikan lokal, mempertahankan loyalitas konsumen menjadi aspek penting untuk mempertahankan pangsa pasar . e Villiers. He et al. , 2. Konsep loyalitas konsumen sendiri tidak hanya memastikan pembelian berulang, namun juga memungkinkan perusahaan membangun hubungan jangka panjang dengan konsumen dan mengurangi biaya pemasaran. Dengan kata lain, memiliki konsumen yang loyal akan memberikan profit lebih bagi perusahaan (Puspaningrum, 2. Literatur terdahulu menyatakan bahwa waktu dan usaha yang dibutuhkan untuk mempertahankan konsumen yang sudah ada akan jauh lebih sedikit dibandingkan usaha dan waktu yang dikerahkan untuk mencari konsumen baru (Patel, 2. Konsumen yang loyal memiliki rasa keterikatan yang tinggi terhadap suatu merek atau produk. Mereka percaya, bahwa merek atau produk tersebut relevan dengan nilai dan gaya hidup yang dijalaninya. Untuk mendapatkan konsumen yang loyal bukan hal yang mudah. Berbagai studi telah dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor determinan yang mempengaruhi loyalitas konsumen, di antaranya etnosentrisme konsumen (Chaudhry et al. , 2020. Makanyeza, 2. dan persepsi kualitas (Wirasti et al. , 2. Etnosentrisme konsumen merepresentasikan keyakinan konsumen yang menganggap produk domestik memiliki keunggulan komparatif dibandingkan produk dari luar negeri. Konstruk ini berperan penting dalam membentuk preferensi pembelian dan memperkuat ikatan loyalitas terhadap merek-merek lokal. Konsumen dengan tingkat etnosentrisme tinggi memiliki kecenderungan untuk memiliki keterikatan emosional dengan produk-produk domestik, sehingga terbentuknya relasi jangka panjang antara merek lokal dengan konsumen. Di sisi lain, persepsi kualitas produk juga memainkan peran penting dalam membangun Dimensi kualitas yang dipersepsikan mencakup aspek reliabilitas, durabilitas, dan utilitas produk yang ditawarkan (Solomon, 2. Ketika ekspektasi konsumen terhadap kualitas produk terpenuhi atau bahkan terlampaui, kemungkinan terjadinya perilaku pembelian berulang dan aktivitas word-of-mouth positif cenderung meningkat. Meskipun etnosentrisme konsumen dan persepsi kualitas produk merupakan variabel yang berdiri sendiri, kedua konstruk tersebut memiliki potensi sinergis dalam membentuk dan memperkuat loyalitas konsumen secara komprehensif. Penelitian mengenai hubungan antara etnosentrisme konsumen, persepsi kualitas produk, dan loyalitas konsumen pada produk kecantikan lokal masih terbatas, terutama dalam konteks Generasi Z di Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana peran etnosentrisme konsumen dan persepsi kualitas produk mempengaruhi loyalitas konsumen Generasi Z terhadap produk kecantikan lokal di Indonesia. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan tentang dinamika perilaku konsumen muda yang berpotensi memajukan industri kecantikan lokal dan memperkuat posisi merek-merek dalam negeri di tengah persaingan global. Karisadini Surplus. Vol. No. Desember 2024 Kerangka Pemikiran Penelitian Penelitian ini memiliki dua variabel independen yaitu persepsi kualitas produk (X. dan etnosentrisme konsumen (X. Selain itu terdapat satu variabel dependen yaitu Loyalitas Konsumen (Y). Kerangka pemikiran penelitian yang menggambarkan hubungan antar variabel dapat dilihat pada Gambar 1. Persepsi Kualitas Produk (X. Etnosentrisme Konsumen (X. Loyalitas Konsumen (Y) Gambar 1. Kerangka pemikiran penelitian Berdasarkan kerangka pemikiran penelitian tersebut dirumuskan hipotesis penelitian sebagai H1: Persepsi kualitas produk berpengaruh positif terhadap loyalitas konsumen generasi z pada produk kecantikan lokal H2: Etnosentrisme konsumen berpengaruh positif terhadap loyalitas konsumen generasi z pada produk kecantikan lokal METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan desain cross sectional survey, di mana pengumpulan data dari setiap elemen populasi dilaksanakan pada satu titik waktu tertentu. Pengambilan sampel menggunakan metode non-probability sampling melalui teknik voluntary sampling dengan kriteria inklusi meliputi warga negara Indonesia berjenis kelamin perempuan yang termasuk dalam generasi Z, yaitu mereka yang lahir antara tahun 1996 hingga 2012 (Kim et al. , 2. serta memiliki pengalaman pembelian produk kecantikan lokal. Adapun kategori produk kecantikan lokal yang menjadi objek pada penelitian ini adalah kategori produk perona bibir/lipstik. Penelitian melibatkan 290 responden dengan instrumen pengumpulan data berupa kuesioner daring yang dikembangkan melalui platform Google Forms. Distribusi kuesioner dilakukan melalui penyebaran tautan melalui platform media sosial (WhatsApp. Instagram, dan X) serta pemberian kuesioner secara langsung kepada responden yang memenuhi kriteria (SelfAdministered Surve. Kuesioner terdiri dari tiga bagian utama, yaitu bagian screening untuk memverifikasi kesesuaian responden dengan kriteria penelitian, bagian profiling untuk mengidentifikasi karakteristik demografis responden, dan bagian pertanyaan utama untuk mengukur variabel penelitian yang meliputi persepsi kualitas produk, etnosentrisme konsumen, dan loyalitas konsumen. Instrumen penelitian dikembangkan melalui adaptasi dari beberapa sumber penelitian Pengukuran variabel persepsi kualitas produk mengadaptasi instrumen yang dikembangkan oleh Solomon . Variabel etnosentrisme konsumen diukur menggunakan adaptasi Consumer Ethnocentric Tendencies Scale (CETSCALE) yang dikembangkan oleh Karisadini Surplus. Vol. No. Desember 2024 Shimp & Sharma . Sementara itu, pengukuran variabel loyalitas konsumen mengadaptasi instrumen yang dikembangkan oleh Hannan et al. dan Solomon et al. Pengukuran variabel menggunakan Skala Likert dengan rentang 1 sampai 5, di mana skor 1 menunjukkan sangat tidak setuju dan skor 5 menunjukkan sangat setuju. Analisis data dilakukan menggunakan software SPSS versi 29. Instrumen penelitian melalui serangkaian uji validitas untuk memastikan ketepatan pengukuran dan uji reliabilitas untuk menjamin konsistensi instrumen. Instrumen dikatakan valid apabila r-hitung > r-tabel. Data yang terkumpul pada penelitian ini berjumlah 290, maka nilai df . = 290-2= 288 dengan tingkat signifikansi 5% adalah sebesar 0,1156 . -tabe. Hasil uji validitas menyatakan bahwa seluruh item pada instrumen pengukuran penelitian ini memiliki nilai r-hitung > r-tabel sehingga dinyatakan valid. Sementara, pada uji reliabilitas instrumen, semakin dekat nilai CronbachAos Alpha dengan 1,0 maka akan semakin reliabel. Secara umum, nilai CronbachAos Alpha kurang dari 0,6 dianggap buruk, rentang 0,6 hingga 0,7 bisa diterima, dan lebih dari 0,8 adalah baik. Berdasarkan hasil uji reliabilitas pada penelitian ini, seluruh variabel memiliki nilai CronbachAos Alpha di atas 0,6, yang menunjukkan bahwa instrumen penelitian ini reliabel. Secara lebih jelas, nilai reliabilitas instrumen masing-masing variabel pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Hasil uji reliabilitas instrumen penelitian Variabel CronbachAos Alpha Keterangan Persepsi Kualitas Produk Reliabel Etnosentrisme Konsumen Reliabel Loyalitas Konsumen Reliabel Sumber: data diolah. SPSS 2024 HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Penelitian ini memiliki jumlah responden sebanyak 290 orang, dimana seluruhnya . %) memiliki jenis kelamin perempuan. Rentang usia responden yang terbanyak berada pada rentang 23-26 tahun yaitu sebesar 43,7 persen. Adapun tingkat pendidikan yang mendominasi pada penelitian ini secara berturut-turut adalah tingkat pendidikan sarjana . ,2%) dan SMA/SMK . ,1%). Pada penelitian ini pekerjaan responden dikategorikan kedalam tujuh kelompok yang berbeda. Hasil analisis deskriptif menunjukkan lebih dari separuh responden . memiliki pekerjaan sebagai pelajar/mahasiswa dengan persentase sebesar 63,4%. Pada urutan kedua ditempati oleh responden dengan pekerjaan sebagai pegawai swasta . ,6%), dan responden yang belum/tidak bekerja berada pada posisi ketiga dengan persentase sebesar 6,6%. Informasi mengenai pengeluaran per bulan digunakan untuk mendapatkan gambaran terkait latar belakang keuangan responden. Adapun pengeluaran yang dimaksud pada penelitian ini merupakan pengeluaran responden yang digunakan untuk konsumsi diluar pembelian barang mewah serta pembayaran cicilan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden dengan pengeluaran per bulan sebesar C Rp 1. 000 memiliki persentase terbesar, yaitu 55,5 persen. Penelitian ini menargetkan responden yang berdomisili di Indonesia. Adapun penentuan domisili pada penelitian ini dilakukan berdasarkan sebaran provinsi di Indonesia. Karisadini Surplus. Vol. No. Desember 2024 Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 30,7 persen responden berdomisili di Jawa barat, 12,4 persen responden berdomisili di DKI Jakarta, dan 12,1 persen berdomisili di D. Yogyakarta. Secara lebih lengkap, karakteristik responden pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Karakteristik responden generasi z Jumlah . Persentase (%) Karakteristik Jenis Kelamin A Perempuan Usia A 16 Ae 18 tahun A 19 Ae 22 tahun A 23 Ae 26 tahun Tingkat Pendidikan A SMP A SMA/SMK A Diploma A Sarjana A Pascasarjana Pekerjaan A Pelajar/Mahasiswa A Ibu Rumah Tangga A ASN A Pegawai Swasta A Pegawai BUMN A Wiraswasta A Tidak/Belum Bekerja Pengeluaran per bulan A C Rp 1. A Rp 1. 000 Ae Rp 3. A Rp 3. 000 Ae Rp 5. A A Rp 5. Domisili (Provins. A Banten A DKI Jakarta A Jawa Barat A Jawa Tengah A DI Yogyakarta A Jawa Timur A Lainnya Sumber: data diolah. SPSS 2024 Tingkat Loyalitas Konsumen Generasi Z Pada penelitian ini, pengkategorian nilai loyalitas konsumen generasi z dibagi menjadi tiga, yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Adapun rentang antara tiap kategori diperoleh melalui hasil penjumlahan skor pada variabel loyalitas konsumen. Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa penjumlahan skor terendah adalah 11 dan penjumlahan skor terbesar adalah 25, dimana diperoleh rentang dengan penggunaan rumus sebagai berikut: Karisadini Surplus. Vol. No. Desember 2024 ycU= ycuycnycoycaycn ycoycaycoycycnycoycyco Oe ycuycnycoycaycn ycoycnycuycnycoycyco ycycycoycoycaEa ycoycaycyceyciycuycycn ycU= 25 Oe 11 = 4,67 Sehingga diperoleh batas cut off nilai loyalitas konsumen sebagai berikut: Loyalitas rendah = 11Ae14,67 . ibulatkan menjadi 11-. Loyalitas sedang = 15,68 Ae 20,34 . ibulatkan menjadi 16-. Loyalitas tinggi = 20,35 Ae 25 . ibulatkan menjadi 21-. Dari total sebanyak 290 responden, lebih dari separuh responden generasi z memiliki loyalitas sedang . ,86%). Sementara, hanya sebanyak 33,79 persen responden generasi z yang memiliki loyalitas tinggi dan 10,34 persen lainnya memiliki loyalitas yang rendah terhadap produk kecantikan lokal. Secara lebih jelas, tingkat loyalitas generasi z dapat dilihat pada Tabel Tabel 3. Tingkat loyalitas konsumen generasi z Tingkat Loyalitas Konsumen Generasi Z Jumlah . Persentase (%) Rendah 10,34 Sedang 55,86 Tinggi 33,79 Total 100,00 Sumber: data diolah Uji Korelasi Hasil uji korelasi pearson yang disajikan pada Tabel 4 menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara variabel persepsi kualitas produk . =0,. dan etnosentrisme konsumen . =0,. pada variabel loyalitas konsumen. Variabel Tabel 4. Hasil uji korelasi Persepsi Kualitas Etnosentrisme Produk Konsumen Loyalitas Konsumen Persepsi Kualitas 0,234** 0,523** Produk Etnosentrisme 0,234** 0,363** Konsumen Loyalitas 0,523** 0,363** Konsumen Keterangan: ** Signifikan pada taraf p<0,01 Sumber: data diolah. SPSS 2024 Semakin tinggi persepsi kualitas produk dan nilai etnosentrisme konsumen yang dimiliki responden, maka akan semakin tinggi pula loyalitas responden generasi z terhadap produk kecantikan lokal. Selain itu, variabel literasi keuangan dan toleransi risiko juga memiliki hubungan yang positif dan sangat signifikan . =0,. , hal ini menunjukkan bahwa Karisadini Surplus. Vol. No. Desember 2024 semakin tinggi persepsi kualitas produk maka semakin tinggi pula etnosentrisme konsumen yang dimiliki responden generasi z pada penelitian ini. Uji Asumsi Klasik Sebelum melakukan analisis regresi, terlebih dahulu dilakukan uji asumsi klasik yang terdiri dari uji normalitas, uji heterokedastisitas, dan uji multikolinearitas. Pada penelitian ini, uji normalitas dilakukan melalui uji Kolmogorov-Smirnov. Hasil pengujian menunjukkan nilai Asymp. Sig sebesar 0,200. Data dikatakan terdistribusi normal apabila memiliki nilai Asymp. Sig > 0,05. Sehingga dapat dikatakan bahwa tidak terjadi masalah normalitas pada penelitian ini. Selanjutnya, uji heterokedastisitas dilakukan dengan uji glejser. Hasil menunjukkan, variabel persepsi kualitas produk dan etnosentrisme konsumen masing-masing memiliki nilai sebesar 0,436 dan 0,714. Hal ini membuktikan bahwa tidak terdapat bias pada data yang dianalisis karena Sig > 0,05. Uji multikolinearitas dilakukan untuk mengetahui adanya korelasi yang kuat antar variabel independen. Hasil pengujian dilihat dari nilai Tolerance dan VIF. Apabila nilai Tolerance > 0,10 dan nilai VIF < 10,00 maka dinyatakan tidak terjadi multikolinearitas. Hasil pengujian menunjukkan nilai Tolerance sebesar 0,945 dan nilai VIF sebesar 1,058 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat gejala Analisis Regresi Linear Berganda. Uji Simultan (F), dan Uji Koefisien Determinasi (R. Nilai konstanta pada penelitian ini sebesar 2,583, mengindikasikan jika variabel dependen yaitu Loyalitas Konsumen adalah nol, maka loyalitas konsumen adalah sebesar konstanta 2,583%. Selanjutnya, hasil pengujian menunjukkan bahwa model ini memiliki koefisien determinasi sebesar 0,332. Hal ini berarti model regresi ini hanya menjelaskan loyalitas konsumen sebesar 33,2 persen, sementara sebesar 66,8 persen lainnya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Hasil uji regresi linear berganda menunjukkan terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara variabel persepsi kualitas produk (B=0,431. p=0,. terhadap loyalitas konsumen. Artinya, setiap kenaikan satu satuan persepsi kualitas produk akan turut meningkatkan loyalitas konsumen generasi z sebesar 0,431 Hasil ini menunjukkan bahwa semakin tinggi persepsi kualitas produk yang dimiliki oleh seseorang, maka loyalitas yang dimilikinya akan cenderung semakin tinggi (Tabel . Tabel 5. Hasil pengolahan data Variabel Std. Error Sig. Konstan 2,583 1,429 1,808 0,072 Persepsi Kualitas 0,431 0,046 0,464 9,372 Produk Etnosentrisme 0,183 0,036 0,254 5,133 Konsumen 72,310 Adjusted R2 0,330 Sig. 0,000 Keterangan: ** Signifikan pada taraf p<0,01 Sumber: Data diolah. SPSS 2024 Variabel etnosentrisme konsumen juga memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap loyalitas konsumen (B=0,183. p=0,. Hal ini menunjukkan bahwa setiap kenaikan Karisadini Surplus. Vol. No. Desember 2024 satu satuan etnosentrisme konsumen akan turut meningkatkan loyalitas konsumen sebesar 0,183 poin. Sementara, uji F dilakukan untuk melihat pengaruh variabel independen secara bersama-sama terhadap variabel dependen. Berdasarkan hasil uji F, didapatkan nilai signifikansi 0,000 dimana nilai tersebut lebih kecil daripada 0,05 sehingga dapat disimpulkan terdapat pengaruh yang simultan antara variabel persepsi kualitas produk dan etnosentrisme konsumen terhadap loyalitas konsumen. Pembahasan Loyalitas Konsumen Generasi Z Beberapa literatur terdahulu menyatakan bahwa generasi z memiliki karakteristik yang tidak loyal. Konsumen generasi z menaruh harapan yang tinggi terhadap perusahaan, memiliki loyalitas yang rendah terhadap merek, serta mengutamakan pengalaman dalam berbelanja. Hal ini membuat perusahaan membutuhkan cara baru untuk mendapatkan serta mempertahankan konsumen generasi ini (Priporas et al. , 2017. Schlossberg, 2. Adapun berdasarkan penelitian yang dilakukan, lebih dari separuh responden generasi z pada penelitian ini tergolong memiliki loyalitas sedang . ,86%). Selain itu, 33,79 persen lainnya tergolong memiliki loyalitas tinggi. Walaupun begitu, terdapat indikasi bahwa loyalitas yang dimiliki konsumen generasi z terhadap produk lipstik lokal tergolong dalam multi-brand loyalty atau keadaan dimana konsumen secara konsisten memiliki loyalitas terhadap dua merek atau lebih, yang diiringi dengan komitmen dan keterlibatan yang tinggi terhadap merek-merek tersebut (Felix. Multi-brand loyalty sendiri dapat terbentuk apabila tidak terdapat perbedaan mencolok antara produk yang satu dengan produk kompetitor, serta kedua produk tersebut dirasa memberikan konsumen tingkat kepuasan yang terbilang sama (Dick & Basu, 1. serta rendahnya risiko untuk melakukan brand switching (Bennett & Rundel-Thiele, 2. Penelitian Felix . menunjukkan alasan lain konsumen mengadopsi multi-brand loyalty, yaitu untuk menyesuaikan produk dengan suasana hati serta acara khusus . pecial occasio. , dimana produk yang satu mungkin sesuai untuk aktivitas sehari-hari, namun tidak sesuai untuk situasi tertentu. Hal ini didukung oleh hasil analisis deskriptif yang menunjukkan bahwa responden cenderung menggunakan lipstik yang berbeda untuk acara yang berbeda. Selain itu konsumen cenderung mengadopsi multi-brand loyalty untuk menyesuaikan ketersediaan produk di toko. Konsumen generasi z menyukai kemudahan dalam berbelanja, dimana mereka ingin menghabiskan waktu sesingkat-singkatnya dalam melakukan transaksi. Dengan memiliki loyalitas terhadap beberapa merek sekaligus, konsumen memiliki fleksibilitas untuk memilih dari banyaknya opsi yang ada di pasar (Arifine & Furrer, 2. Persepsi Kualitas Produk terhadap Loyalitas Konsumen Berdasarkan hasil pengolahan data, terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara variabel persepsi kualitas produk terhadap loyalitas konsumen (B=0,431. p=0,. Hal ini menunjukkan bahwa persepsi kualitas produk merupakan faktor penting yang berkontribusi pada pembentukan loyalitas konsumen, khususnya pada kalangan Generasi Z dalam konteks produk kecantikan lokal. Dalam penelitian ini, variabel persepsi kualitas produk terbukti memberikan pengaruh yang paling dominan dibandingkan variabel lainnya terhadap loyalitas Temuan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wirasti et al. Karisadini Surplus. Vol. No. Desember 2024 Persepsi kualitas produk generasi z yang positif akan mendorong keinginan mereka untuk memiliki produk tersebut, yang pada akhirnya tercermin dalam keputusan pembelian ulang dan meningkatkan loyalitas mereka terhadap merek tersebut (Pappu et al. , 2. menyatakan bahwa persepsi konsumen terhadap kualitas produk berkaitan erat dengan komitmen mereka terhadap merek. Semakin tinggi tingkat loyalitas konsumen, semakin besar kemungkinan mereka untuk menganggap merek tersebut memiliki kualitas yang baik. Penelitian Nilowardono et al. juga menunjukkan bahwa persepsi kualitas produk memiliki pengaruh yang positif terhadap loyalitas konsumen. Hal ini mengindikasikan bahwa peningkatan persepsi kualitas produk dapat menjadi strategi efektif bagi merek kecantikan lokal dalam mempertahankan dan meningkatkan basis konsumen yang loyal. Dengan demikian, bagi merek yang ingin membangun keterikatan jangka panjang dengan konsumen Generasi Z, berfokus pada peningkatan kualitas produk dapat menjadi pendekatan yang signifikan dalam memperkuat loyalitas konsumen. Etnosentrisme Konsumen terhadap Loyalitas Konsumen Hasil analisis regresi yang dilakukan pada penelitian ini menunjukkan bahwa variabel etnosentrisme konsumen memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap loyalitas konsumen (B=0,183. p=0,. Temuan ini konsisten dengan penelitian Abosag & Farah . , yang menyatakan bahwa konsumen dengan tingkat etnosentrisme tinggi cenderung lebih loyal terhadap produk lokal dan kurang loyal terhadap produk impor atau asing. Selain itu, pada penelitian Chaudhry et al. mengenai pengaruh etnosentrisme konsumen terhadap loyalitas merek produk kosmetik lokal di India juga menunjukkan adanya pengaruh yang positif antara etnosentrisme terhadap loyalitas konsumen. Pada konteks penelitian ini, khususnya untuk produk lipstik lokal, ditemukan bahwa etnosentrisme konsumen tidak hanya didorong oleh rasa cinta terhadap produk dalam negeri, tetapi juga oleh persepsi kualitas produk lokal yang dianggap sebanding atau bahkan lebih baik daripada produk impor, ditambah dengan harga yang lebih terjangkau. Hal ini menunjukkan bahwa responden tidak hanya loyal karena faktor nasionalisme, tetapi juga karena penilaian rasional terhadap kualitas dan nilai ekonomis produk lokal. Penelitian Tabassi et al. mendukung temuan ini, menyatakan bahwa etnosentrisme konsumen cenderung berpengaruh lebih besar pada produk yang tergolong low involvement, di mana keputusan pembelian lebih sederhana dan kurang membutuhkan evaluasi mendalam. Namun, untuk produk high involvement, seperti lipstik yang secara signifikan memengaruhi kepercayaan diri dan penampilan konsumen, aspek kualitas produk menjadi lebih dominan daripada nilai etnosentrisme. Hsu & Lee . juga mengkategorikan lipstik sebagai produk high involvement karena konsumen memberikan perhatian khusus dalam memilihnya, melalui riset, evaluasi alternatif, dan pertimbangan yang matang sebelum melakukan pembelian. KESIMPULAN DAN SARAN Generasi z merupakan pangsa pasar terbesar saat ini, khususnya bagi industri kecantikan lokal yang saat ini berkembang dengan sangat pesat. Penelitian terdahulu menyatakan bahwa generasi z memiliki karakteristik konsumen yang unik, di mana mereka memiliki kecenderungan untuk tidak loyal terhadap suatu produk atau merek. Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa lebih dari separuh responden yang tergolong sebagai Karisadini Surplus. Vol. No. Desember 2024 generasi z berada pada kategori loyalitas sedang. Adapun loyalitas responden generasi z, khususnya pada produk kecantikan lokal kategori perona bibir atau lipstik tergolong sebagai multi-brand loyalty. Selanjutnya, hasil pengolahan data juga menunjukkan bahwa kedua variabel independen yaitu persepsi kualitas produk dan etnosentrisme konsumen memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap loyalitas konsumen generasi z pada produk kecantikan lokal. Variabel persepsi kualitas produk memberikan pengaruh yang paling besar dibandingkan variabel etnosentrisme konsumen. Pada konteks penelitian ini, khususnya untuk produk lipstik lokal, ditemukan bahwa etnosentrisme konsumen tidak hanya didorong oleh rasa cinta terhadap produk dalam negeri, tetapi juga oleh persepsi kualitas produk lokal yang dianggap sebanding atau bahkan lebih baik daripada produk impor, ditambah dengan harga yang lebih terjangkau. Industri kecantikan lokal dapat memanfaatkan kecenderungan Generasi Z yang berbasis pada persepsi kualitas dengan fokus pada inovasi dan peningkatan kualitas produk secara konsisten. Memberikan edukasi kepada konsumen mengenai keunggulan kualitas produk lokal melalui kampanye pemasaran yang kuat, transparansi bahan yang digunakan, dan dukungan dari influencer yang relevan. Selanjutnya, untuk memperluas pemahaman mengenai loyalitas generasi z, penelitian selanjutnya dapat melakukan kajian lebih mendalam mengenai perilaku multi-brand loyalty serta dapat membantu memberikan wawasan lebih lanjut tentang strategi pemasaran yang efektif untuk mengoptimalkan potensi pasar Generasi Z. REFERENSI