Peran School Well-Being dan Grit terhadap Academic Achievement pada . Nabilla Feylisha Azzahra Peran School Well-Being dan Grit terhadap Academic Achievement pada Siswa Sekolah Menengah Atas Nabilla Feylisha Azzahra1. Fatin Rohmah Nur Wahidah2. Tri NaAoimah3. Nia Anggri Noveni4 Universitas Muhammadiyah Purwokerto email: * nabillafeylishaazzahra@gmail,com 1,2,3,4 Abstrak Artikel INFO Diterima : 08 Mei 2024 Direvisi :14 Oktober 2025 Disetujui : 6 November 2025 DOI: http://dx. org/10. 24014/jp. Academic achievement merupakan indikator penting dalam menilai keberhasilan siswa di Pencapaian akademik tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan kognitif, tetapi juga oleh faktor lingkungan seperti school well-being dan faktor personal seperti grit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh school well-being dan grit terhadap academic achievement pada siswa SMA Negeri 5 Purwokerto. Kabupaten Banyumas. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan jumlah partisipan sebanyak 342 Instrumen yang digunakan meliputi skala school well-being, skala grit, serta data nilai rapor semester gasal tahun ajaran 2023/2024 sebagai indikator academic achievement. Analisis data menggunakan uji regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa grit berpengaruh positif dan signifikan terhadap academic achievement . = 4,334. < 0,. , sedangkan school well-being berpengaruh positif namun tidak signifikan . = 0,074 > 0,. Secara simultan, kedua variabel memberikan kontribusi sebesar 6,6% terhadap academic achievement (RA = 0,. Temuan ini mengindikasikan bahwa grit memiliki peran dominan dalam menentukan academic achievement, sementara school well-being berfungsi sebagai faktor pendukung yang menciptakan lingkungan belajar kondusif. Oleh karena itu, pengembangan karakter grit dan peningkatan school well-being perlu menjadi fokus dalam upaya peningkatan academic achievement siswa. Kata kunci: Academic Achievement. Grit. School Well-being. Siswa SMA. Abstract Academic achievement is an important indicator in assessing student success in school. Academic achievement is not only influenced by cognitive abilities, but also by environmental factors such as school well-being and personal factors such as grit. This study aims to analyze the influence of school well-being and grit on academic achievement among students at SMA Negeri 5 Purwokerto. Banyumas Regency. The research method used was a quantitative approach with 342 students participating. The instruments used included a school well-being scale, a grit scale, and report card data for the first semester of the 2023/2024 academic year as an indicator of academic achievement. Data analysis used multiple linear regression tests. The results showed that grit had a positive and significant effect on academic achievement . = 4. p < 0. , while school well-being had a positive but insignificant effect . = 0. Simultaneously, both variables contributed 6. 6% to academic achievement (RA = 0. These findings indicate that grit plays a dominant role in determining academic achievement, while school well-being functions as a supporting factor that creates a conducive learning Therefore, developing grit character and improving school well-being need to be the focus of efforts to improve student academic achievement. Keywords: Academic Achievement. Grit. School Well-being. High School Students. Pendahuluan Pendidikan sangat penting untuk kehidupan manusia karena dapat memengaruhi perkembangan manusia dan meningkatkan kualitas hidup bangsa (Syarifah, 2. Pendidikan perlu mendapat perhatian penuh dalam pembangunan nasional, terutama dalam hal meningkatkan kesejahteraan individu secara keseluruhan (Hermanto, 2. Pemerintah mendirikan lembaga pendidikan formal atau sekolah bagi para siswa untuk belajar dan bersosialisasi. Tujuan didirikannya sekolah tidak hanya sebagai sarana tempat belajar siswa, tetapi juga membantu para siswa untuk mengembangkan moral, karakter, hobi dan kemampuan mereka (Santrock, 2. Setiap siswa di sekolah memiliki tujuan untuk Jurnal Psikologi. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 mencapai prestasi dengan mengikuti aktivitas di sekolah dan proses pembelajaran untuk memperluas pengetahuan mereka (Lutfiwati. Academic achievement adalah kinerja siswa yang dicatat pada transkrip dalam bentuk angka, huruf, dan nilai (Dariyo, 2. Rapor adalah laporan tentang nilai yang dicapai oleh siswa dalam satu semester selama pembelajaran berupa transkrip nilai (Zulfiandry & Mahmud, 2. Setelah mengikuti proses pembelajaran, rapor diterima sebagai tolok ukur dan untuk mengukur perkembangan keberhasilan siswa. Untuk membuat nilai rapor, wali kelas perlu menggabungkan rekap nilai dari semua guru mata pelajaran (Herawati et , 2. Menurut Azwar . academic achievement dievaluasi dari berbagai Pengukuran academic achievement didasarkan pada aspek-aspek kinerja siswa, termasuk aspek kognitif, emosional, dan psikomotori (Bloom, 1. Setiap pembelajaran dirancang untuk memberikan pembelajaran semaksimal Pencapaian academic achievement dipengaruhi oleh berbagai elemen internal dan eksternal selama proses pencapaiannya (Salsabila & Puspitasari, 2. Faktor internal siswa meliputi faktor fisiologis dan psikologis, sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi adalah lingkungan sekolah (Fuadi, 2. Lingkungan sekolah dapat mempengaruhi suasana di dalam kelas serta dapat mempengaruhi perilaku siswa dan guru (Dariyo, 2. Lingkungan kelas harus menciptakan suasana yang nyaman bagi siswa untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. Menurut Dariyo . menciptakan lingkungan kelas yang positif sangat penting untuk mendorong setiap siswa agar siswa dapat berkontribusi secara aktif dalam pembelajaran di kelas. Well-being pada siswa dapat diukur dengan mengevaluasi kondisi sekolah dan peran siswa dalam proses pembelajaran di kelas (Purwanti & Setiabudhi, 2. Hal ini bisa disebut sebagai school well-being (Wahidah & Royanto, 2. Sekolah yang ideal adalah sekolah di mana siswa menyadari potensi total mereka dan di mana siswa merasa nyaman dengan diri mereka sendiri. Hal ini karena kesejahteraan siswa berdampak pada hampir semua bidang fungsi siswa di sekolah (Rasyid, 2. Konu dan Rimpela berhasil menyusun struktur model school well-being menjadi empat dimensi, yaitu: kondisi sekolah . , sayang hubungan sosial . , pemenuhan diri . , dan kesehatan . (Konu & Rimpely, 2. School well-being sangat penting untuk memajukan berbagai tujuan pendidikan. Berdasarkan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Purwanti dan Setiabudhi . , banyak siswa mengeluhkan ruang kelas yang berdebu, ruang kelas yang panas sepanjang hari membuat mereka gelisah, ruang kelas yang berisik, dan siswa keluar masuk kelas, yang mana hal tersebut dapat mengganggu konsentrasi belajar siswa. Menurut Andjarsari et al. secara alami, lingkungan belajar yang sehat menumbuhkan semangat dan mendorong siswa untuk memiliki sikap positif. Sikap positif ini memunculkan banyak aspek positif pada siswa (Andjarsari et al. , 2. Siswa merasa senang dan bahagia berada di sekolah jika siswa merasa aman, nyaman, dan sehat. Dengan demikian, siswa memiliki kesempatan untuk berkembang lebih jauh sesuai dengan minat dan bakatnya, sehingga dapat meningkatkan academic achievement (Rahma et al. , 2. Menurut Sugara et al. masalah umum lainnya di sekolah-sekolah saat ini adalah tingginya jumlah siswa yang tidak belajar dan siswa mengalami penurunan academic achievement. Kondisi tersebut menunjukkan adanya permasalahan dalam school well-being, karena ketika siswa merasa tidak nyaman secara emosional, sosial, maupun lingkungan belajar, motivasi dan Peran School Well-Being dan Grit terhadap Academic Achievement pada . Nabilla Feylisha Azzahra keterlibatan mereka dalam kegiatan akademik turut menurun. Dengan kata lain, rendahnya school well-being berdampak langsung pada penurunan academic achievement siswa. Salah satu hal yang mempengaruhinya adalah kurangnya kesungguhan siswa dalam belajar. Jika siswa tidak bersungguh-sungguh dalam proses pembelajaran, siswa akan bersikap tidak peduli, bosan, jenuh, dan berusaha menghindari kegiatan (Moslem et al. , 2. Grit atau kegigihan adalah salah satu faktor non-kognitif yang membantu individu untuk sukses di berbagai bidang seperti pendidikan, pekerjaan, kehidupan, dan dapat memecahkan masalah sehari-hari (Duckworth. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa grit yang merupakan faktor non-kognitif, dapat meningkatkan prestasi siswa di kelas (Takiuddin & Husnu, 2. Menurut Styowati dan Situmorang . ketika seseorang merenungkan tujuan awal atau sasaran yang ingin dicapai, grit akan muncul. Menurut Duckworth . grit ditentukan oleh dua faktor yaitu, ketekunan usaha dan konsistensi minat. Kedua komponen ini sangat penting untuk menanamkan grit dalam diri seseorang dan mendorong individu untuk bekerja atau belajar (Duckworth, 2. Studi tentang grit juga dilakukan oleh Sturman & Zappala-piemme . Grit lebih berkaitan dengan ketekunan usaha daripada konsistensi minat (Sturman & Zappala-piemme, 2. Menurut Sturman & Zappala-piemme . , perubahan minat dari tahun ke tahun tidak menunjukkan kelemahan seseorang. Minat seseorang yang beragam dan berubahubah tidak menjadi masalah selama individu tersebut tetap fokus pada apa yang akan dilakukan dan dikejar. Grit merupakan ciri psikologis yang ada dalam diri seseorang sebagai energi pendorong dalam mencapai tujuan dan citacita, serta memiliki daya juang yang kuat dalam memotivasi seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan (Takiuddin & Husnu, 2. Untuk mencapai kapasitas belajar yang tinggi, tidak hanya dibutuhkan kecerdasan tetapi juga faktor non-kognitif seperti grit (Takiuddin & Husnu, 2. Siswa dengan grit tinggi memiliki hasil akademik yang lebih baik dibandingkan dengan siswa dengan grit rendah (Takiuddin & Husnu, 2. Hal ini dikarenakan, siswa yang memiliki grit akan berusaha untuk mengatasi rintangan dan bertahan dalam kondisi apapun untuk mencapai tujuannya (Wahidah & Royanto, 2. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh school well-being dan grit terhadap academic achievement pada siswa SMA Negeri 5 Purwokerto. Kabupaten Banyumas. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat teoritis dalam memperkaya kajian psikologi pendidikan terkait faktor nonkognitif yang berperan dalam academic achievement siswa, serta manfaat praktis bagi sekolah dalam mengembangkan lingkungan belajar yang mendukung kesejahteraan siswa dan membangun karakter tangguh untuk meningkatkan academic achievement. Metode Subjek Penelitian Penelitian ini memiliki populasi siswa kelas XI SMA Negeri 5 Purwokerto. Berdasarkan data siswa aktif dari kurikulum SMA Negeri 5 Purwokerto, total populasi dari kelas XI SMA Negeri 5 Purwokerto adalah sebanyak 342 siswa. Teknik pengambilan sampel yang digunakan ialah sampel jenuh. Menurut Sugiyono . , sampel jenuh adalah teknik pemilihan sampel apabila semua anggota populasi dijadikan sampel. Oleh karena itu, sampel yang digunakan berjumlah 342 orang. Pengukuran Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan tiga instrumen utama, yaitu: . nilai rapor siswa sebagai indikator academic achievement, yang diperoleh dari rata-rata nilai rapor semester gasal tahun Jurnal Psikologi. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 ajaran 2023/2024. skala school well-being untuk mengukur tingkat kesejahteraan siswa di sekolah. skala grit untuk menilai ketekunan serta konsistensi siswa dalam mencapai tujuan akademik. Hasil uji reliabilitas menunjukkan bahwa kedua skala memiliki tingkat konsistensi internal yang baik dengan nilai CronbachAos Alpha > 0,70. Skala school well-being memperoleh nilai CronbachAos Alpha sebesar 0,840 dengan 28 dari 35 aitem dinyatakan valid, sedangkan skala grit memiliki nilai CronbachAos Alpha sebesar 0,786 dengan 13 dari 15 aitem yang valid. Analisis Data Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh school well-being dan grit terhadap academic achievement pada siswa SMA Negeri 5 Purwokerto. Kabupaten Banyumas. Analisis data yang digunakan berupa analisis regresi linear berganda menggunakan bantuan perangkat lunak, yaitu IBM SPSS Statistics versi 27 pada windows 11. Hasil Dari penelitian ini menghasilkan bahwa school well being dan grit berpengaruh terhadap academic achievement pada siswa sma negeri 5 purwokerto, dengan penjelasan sebagai berikut: Tabel 1 Data Demografi Kriteria Jenis Kelamin Usia Kelas Perempuan Laki-laki Total 14 Tahun 15 Tahun 16 Tahun 17 Tahun 18 Tahun 19 Tahun Total Medical Sainstek Sains Soshum Humaniora Total Berdasarkan tabel distribusi frekuensi, jumlah total responden dalam penelitian ini adalah 342 siswa. Jika dilihat dari jenis kelamin, mayoritas responden adalah perempuan sebanyak 183 siswa . ,51%), sedangkan laki-laki berjumlah 159 siswa . ,49%). Hal ini menunjukkan bahwa proporsi siswa perempuan sedikit lebih besar dibandingkan siswa laki-laki. Dari segi usia, sebagian besar responden berusia 16 tahun, yaitu sebanyak 200 siswa . ,48%). Kemudian diikuti oleh siswa berusia 17 tahun sebanyak 128 siswa . ,43%), 15 tahun sebanyak 7 siswa . ,05%), 18 tahun sebanyak 4 siswa . ,17%), 19 tahun sebanyak 2 siswa . ,58%), dan hanya 1 siswa . ,29%) yang berusia 14 tahun. Data ini menunjukkan bahwa mayoritas responden berada pada rentang usia remaja pertengahan, yang umumnya duduk di kelas X dan XI SMA. Berdasarkan peminatan kelas, sebagian besar responden berasal dari kelas Sainstek Peran School Well-Being dan Grit terhadap Academic Achievement pada . Nabilla Feylisha Azzahra sebanyak 103 siswa . ,12%), diikuti oleh kelas Medical sebanyak 95 siswa . ,78%), kelas Soshum sebanyak 72 siswa . ,05%), serta kelas Sains dan Humaniora yang masing-masing berjumlah 36 siswa . ,53%). Komposisi ini menunjukkan bahwa siswa dengan peminatan di bidang sains dan teknologi memiliki representasi yang lebih tinggi dibandingkan bidang sosial dan Tabel 2 Statistik Deskriptif Skala School Well-being Grit Academic achievement Min. Tabel diatas menunjukkan bahwa ketiga skala memiliki jumlah populasi sebanyak 342 Skala School Well-being memiliki skor terendah 72 dan tertinggi 129, dengan rata-rata skor 107 serta memiliki standar Skala Grit memiliki skor terendah 23 dan tertinggi 64, dengan rata-rata skor 45 Max. Mean serta memiliki standar deviasi 6. Academic achievement siswa yang menggunakan nilai rapor semester gasal siswa kelas XI SMA N 5 Purwokerto memiliki skor terendah 84 dan tertinggi 96, dengan rata-rata skor 92 serta memiliki standar deviasi 2. Tabel 3 School Well-being. Academic Achievement dan Grit Variabel School Well-being Grit 2,195 4,528 Sig. 0,029 0,000 Tabel di atas menunjukkan bahwa variabel school well-being memiliki nilai signifikansi sebesar 0,029 dan nilai t hitung sebesar 2,195. Nilai tersebut menunjukkan bahwa hipotesis diterima karena nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 . < 0,. dan nilai t hitung lebih besar dari t tabel ( = 5%. df = . , yaitu 2,195 > 1,649. Dengan demikian, school wellbeing berpengaruh secara signifikan terhadap academic achievement. Selanjutnya, variabel grit memiliki nilai signifikansi sebesar 0,000 . < 0,. dengan nilai t hitung 4,528, yang juga lebih besar dari RA 0,014 0,057 t tabel . Hasil ini menunjukkan bahwa grit berpengaruh secara signifikan terhadap academic achievement. Nilai koefisien determinasi (RA) sebesar 0,057 menunjukkan bahwa pengaruh grit terhadap academic achievement adalah sebesar 5,7%, sedangkan 94,3% sisanya dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa kedua hipotesis penelitian, baik pengaruh school well-being maupun grit terhadap academic achievement, dinyatakan Tabel 4 School Well-being dan Grit dengan Academic Achievement Variabel School Well-being Grit School Well-being dan Grit Unstandardized Coefficients 0,004 0,014 = 0,066 Sig. 1,793 4,334 11,926 0,074 <0,001 0,000 Jurnal Psikologi. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 Tabel di atas menunjukkan hasil uji regresi linear berganda antara school well-being dan grit terhadap academic achievement. Berdasarkan hasil analisis, nilai signifikansi simultan sebesar 0,000 . < 0,. menunjukkan bahwa kedua variabel independen tersebut secara bersama-sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap academic achievement Nilai RA = 0,066 mengindikasikan bahwa school well-being dan grit secara simultan memberikan kontribusi sebesar 6,6% terhadap variasi academic achievement, sedangkan sisanya 93,4% dipengaruhi oleh faktor lain di luar model penelitian ini. Secara parsial, variabel grit menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap academic achievement dengan nilai t = 4,334 dan signifikansi < 0,001 . < 0,. Hal ini berarti semakin tinggi tingkat grit yang dimiliki siswa, maka semakin tinggi pula academic achievement siswa. Sebaliknya, variabel school well-being memiliki nilai signifikansi 0,074 . > 0,. dan t = 1,793, yang menunjukkan bahwa pengaruhnya terhadap academic achievement tidak signifikan, meskipun arah pengaruhnya tetap positif. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa grit berperan lebih dominan dibandingkan school well-being dalam mempengaruhi academic achievement siswa SMA Negeri 5 Purwokerto. Pembahasan School Well-being adalah penilaian subjektif siswa tentang sejauh mana kebutuhan dasar mereka terpenuhi di lingkungan sekolah (Wahidah & Royanto, 2. Pemenuhan kebutuhan dasar siswa mencakup empat aspek utama, yaitu having . ondisi lingkungan fisik dan fasilitas sekola. , loving . ubungan sosial dan dukungan dari teman maupun gur. , being . esempatan untuk mengaktualisasikan dir. , dan health . esehatan fisik serta kesejahteraan emosiona. (Konu & Rimpely. Berdasarkan hasil penelitian ini, variabel school well-being memiliki arah pengaruh positif terhadap academic achievement, namun secara statistik pengaruhnya tidak signifikan . = 0,074 > 0,. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun siswa dengan tingkat well-being yang tinggi cenderung memiliki academic achievement lebih baik, faktor tersebut bukan satu-satunya penentu keberhasilan akademik. Bisa jadi, faktor lain seperti motivasi intrinsik, strategi belajar, dukungan keluarga, atau kondisi psikologis berperan lebih kuat dalam menentukan academic achievement siswa. Namun demikian, hasil ini tetap menunjukkan bahwa school well-being memiliki kontribusi positif dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Temuan ini mendukung pandangan Konu & Rimpely . , bahwa lingkungan sekolah yang sehat, aman, dan suportif akan membantu perkembangan siswa dalam berbagai aspek seperti identitas diri, rasa percaya diri, interaksi sosial, dan kemampuan beradaptasi. Dengan kata lain, meskipun efeknya terhadap academic achievement tidak signifikan secara langsung, school well-being dapat menjadi fondasi penting bagi terciptanya proses belajar yang bermakna dan motivasi belajar yang lebih Sementara itu, variabel grit menunjukkan pengaruh yang signifikan dan positif terhadap academic achievement . = 4,334. Hal ini menunjukkan bahwa siswa dengan tingkat grit tinggi cenderung memiliki academic achievement yang lebih baik. Grit menggambarkan ketekunan . erseverance of effor. dan konsistensi terhadap tujuan jangka panjang . onsistency of interes. (Duckworth et , 2. Siswa yang memiliki grit tinggi tidak mudah menyerah dalam menghadapi kesulitan belajar, tetap fokus terhadap tujuan akademik, serta berupaya keras untuk mencapai hasil terbaik meskipun menghadapi hambatan. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian dari Duckworth . , yang menyatakan Peran School Well-Being dan Grit terhadap Academic Achievement pada . Nabilla Feylisha Azzahra bahwa grit dapat dikembangkan melalui penemuan minat, latihan berkelanjutan, penetapan tujuan yang bermakna, serta harapan untuk bangkit dari kegagalan. Dalam konteks siswa SMA Negeri 5 Purwokerto, hal ini berarti bahwa ketekunan dan konsistensi siswa dalam belajar memiliki peran penting dalam menentukan academic achievement menumbuhkan kesejahteraan . ell-bein. Intervensi pendidikan yang memfasilitasi pengalaman belajar positif, dukungan sosial yang kuat, serta pelatihan ketekunan dan daya juang dapat menjadi strategi yang efektif untuk meningkatkan academic achievement siswa secara berkelanjutan. Selain itu, hasil penelitian ini memperkuat pendapat Sturman & Zappala-Piemme . , yang menyebutkan bahwa individu dengan perseverance of effort yang tinggi cenderung lebih mampu mempertahankan motivasi dalam jangka panjang, sehingga berkontribusi terhadap peningkatan kinerja akademik. Artinya, meskipun lingkungan sekolah berperan dalam menyediakan dukungan eksternal, keberhasilan akademik siswa lebih banyak ditentukan oleh faktor internal seperti grit yang membuat siswa tetap berupaya keras mencapai tujuannya. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa school well-being dan grit sama-sama memiliki arah pengaruh positif terhadap academic achievement siswa SMA Negeri 5 Purwokerto. Namun, pengaruh school well-being terhadap academic achievement tidak signifikan secara statistik, sedangkan grit terbukti berpengaruh positif dan signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan akademik siswa lebih banyak ditentukan oleh faktor internal berupa ketekunan dan konsistensi dalam mencapai tujuan . , dibandingkan faktor eksternal seperti kesejahteraan di lingkungan sekolah. Menariknya, hasil ini juga menggambarkan dinamika antara faktor lingkungan . chool well-bein. dan faktor personal . Meskipun school well-being tidak berpengaruh signifikan secara langsung terhadap academic achievement, lingkungan sekolah yang positif kemungkinan besar berperan dalam membentuk grit siswa. Ketika siswa merasa aman, diterima, dan mendapat dukungan sosial dari lingkungan sekolah, mereka akan lebih mudah mengembangkan ketekunan dan komitmen terhadap tujuan akademik. Dengan kata lain, school well-being mungkin berpengaruh secara tidak langsung terhadap academic achievement melalui peningkatan Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan bahwa upaya peningkatan academic achievement siswa sebaiknya tidak hanya difokuskan pada peningkatan kualitas pembelajaran semata, tetapi juga pada pengembangan karakter psikologis seperti grit serta penciptaan lingkungan sekolah yang Kesimpulan Meskipun demikian, school well-being tetap memiliki peran penting sebagai fondasi dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat, suportif, dan bermakna. Lingkungan sekolah yang positif dapat mendorong siswa untuk merasa nyaman, diterima, dan termotivasi untuk berkembang, yang pada akhirnya dapat memperkuat karakter ketekunan . Dengan demikian, peningkatan academic achievement siswa idealnya dilakukan secara holistik melalui dua pendekatan: . memperkuat faktor internal siswa, seperti pengembangan grit, motivasi belajar, dan daya juang. menciptakan faktor eksternal yang mendukung, yaitu lingkungan sekolah yang menumbuhkan well-being siswa. Pendekatan ini mampu menghasilkan siswa yang tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga memiliki daya tahan psikologis yang kuat dan siap menghadapi tantangan pendidikan di masa depan. Jurnal Psikologi. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 Daftar Pustaka