JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 29AU Edisi KhususAU 14 - 19 ANALISIS FAKTOR KLINIS DAN FAKTOR MATERNAL TERHADAP KEBERHASILAN PERSALINAN PERVAGINAM SETELAH SEKSIO SESAREA (VBAC) DI RSCS KOTA CILEGON Analysis of Clinical and Maternal Factors Associated with the Success of Vaginal Birth After Cesarean Section (VBAC) at RSCS in Cilegon City Mitsalina Durrah Judaty1 . Nay Lufar1 . Evi Avicenna Agustin1 Polteknik Kesehatan AoAisyiyah Banten ABSTRACT Background: Vaginal Birth After Caesarean Section (VBAC) is a viable alternative to reduce the increasing rate of repeat cesarean sections. However, its success depends on several maternal and clinical factors that need to be identified to ensure maternal and neonatal safety. This study was conducted at a RSCS in Cilegon City, so the results reflect the characteristics of obstetric services at advanced health facilities. Objective: This study aims to analyze maternal and clinical factors determining the success of VBAC in a tertiary healthcare facility. Methods: This was a retrospective analytic study using medical record data of mothers with a history of cesarean section who attempted VBAC from 2023 to 2024. Independent variables included maternal age, parity, body mass index (BMI), interpregnancy interval, history of vaginal delivery, cervical dilatation at admission, and neonatal birth weight. Data were analyzed using chi-square and logistic regression tests to determine predictors of VBAC success. The research sample consisted of 100 maternal respondents, and the data was obtained from one tertiary health service facility in the period 2023Ae2024. Results: Out of all mothers attempting VBAC, 70% achieved successful vaginal delivery. Significant factors associated with successful VBAC were maternal age < 35 years . < 0. , interpregnancy interval Ou 24 months . < 0. , history of previous vaginal delivery . < 0. cervical dilatation Ou 4 cm . < 0. , and neonatal birth weight < 3,500 g . < 0. Conclusions: Maternal and clinical factors particularly maternal age, cervical readiness, and interpregnancy interval play a critical role in determining VBAC success. These findings support the need for careful antenatal selection and intrapartum monitoring to optimize VBAC Keywords: VBAC. Maternal Factors. Clinical Determinants. Vaginal Delivery. Cesarean Section ABSTRAK Latar belakang: Persalinan pervaginam setelah seksio sesarea (VBAC) merupakan strategi untuk menekan angka seksio ulangan yang terus meningkat. Namun, keberhasilannya dipengaruhi oleh faktor maternal dan klinis yang perlu diidentifikasi secara tepat guna menjamin keselamatan ibu dan Penelitian ini dilakukan di sebuah RSCS di Kota Cilegon, sehingga hasilnya mencerminkan karakteristik pelayanan obstetri pada fasilitas kesehatan tingkat lanjut. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor maternal dan klinis yang menentukan keberhasilan VBAC di fasilitas pelayanan kesehatan tersier. Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik retrospektif dengan data rekam medis ibu yang memiliki riwayat seksio sesarea dan mencoba VBAC pada periode 2023Ae2024. Variabel independen meliputi usia ibu, paritas, indeks massa tubuh (IMT), jarak antar kehamilan, riwayat persalinan pervaginam, pembukaan serviks saat masuk, dan berat badan lahir bayi. Analisis data dilakukan dengan uji chi-square dan regresi logistik untuk menentukan faktor penentu keberhasilan VBAC. Sampel penelitian berjumlah 100 responden ibu bersalin, dan data diperoleh dari satu fasilitas pelayanan kesehatan tersier pada periode 2023Ae2024. Hasil: Dari seluruh ibu yang mencoba VBAC, 70% berhasil melahirkan secara pervaginam. Faktor yang berhubungan signifikan dengan keberhasilan VBAC yaitu usia ibu < 35 tahun . < 0. , jarak antar kehamilan Ou 24 bulan . < 0. , riwayat persalinan pervaginam . < 0. , pembukaan serviks Ou 4 cm . < 0. , dan berat badan lahir bayi < 3. 500 g . < 0. Kesimpulan: Faktor maternal dan klinis, khususnya usia ibu, kesiapan serviks, serta jarak antar kehamilan, memiliki peran penting terhadap keberhasilan VBAC. Hasil ini menegaskan pentingnya penilaian antenatal dan pemantauan intrapartum untuk mengoptimalkan keberhasilan VBAC. Kata Kunci: VBAC. Faktor Maternal. Determinan Klinis. Persalinan Pervaginam. Seksio Sesarea *Penulis korespondensi. Email : mitsa@poltekkes-aisyiyahbanten. J Mitsalina, dkk: Analysis of Clinical and Maternal Factors Associated with the Success of Vaginal Birth After Cesarean Section (VBAC) at RSCS in Cilegon City PENDAHULUAN Angka seksio sesarea (SC) terus meningkat secara global, termasuk di Indonesia, dan telah keselamatan maternal, beban biaya pelayanan, serta penggunaan sumber daya rumah sakit. Salah satu strategi yang direkomendasikan untuk menekan angka SC berulang adalah Vaginal Birth After Caesarean (VBAC). Meski demikian, implementasi VBAC di banyak fasilitas kesehatan masih rendah, terutama karena variasi penilaian kelayakan, keterbatasan model prediksi klinis, dan kekhawatiran terhadap risiko Sejauh ini, sebagian besar penelitian mengenai faktor penentu keberhasilan VBAC berasal dari negara maju, sehingga kurang mencerminkan kondisi manajemen pelayanan, sumber daya, serta protokol klinis di negara berkembang. Gap penelitian ini penting karena keputusan klinis terkait VBAC sangat dipengaruhi oleh bentuk tata kelola layanan, kapasitas monitoring intrapartum, kesiapsiagaan emergensi, dan kebijakan risiko di fasilitas kesehatan masing-masing. Untuk menjawab kesenjangan tersebut, penelitian ini menganalisis faktor-faktor maternal dan klinis yang berpengaruh terhadap keberhasilan VBAC pada 100 ibu bersalin di RSCS Kota Cilegon. Temuan penelitian ini diharapkan dapat memberikan dasar ilmiah tidak hanya bagi praktik klinis, tetapi juga bagi manajemen pelayanan kebidanan, termasuk penyusunan clinical pathway, penilaian risiko VBAC, dan kebijakan penurunan angka SC berulang. Penelitian terdahulu telah banyak menyoroti peranan faktor maternal dalam keberhasilan VBAC. mengemukakan bahwa usia ibu, riwayat persalinan pervaginam, dan kondisi serviks merupakan prediktor penting terhadap keberhasilan VBAC . melaporkan bahwa jarak kehamilan yang terlalu pendek berkaitan dengan meningkatnya risiko ruptur uteri serta menurunnya peluang keberhasilan VBAC . Sementara itu, . menegaskan bahwa riwayat persalinan pervaginam sebelumnya menjadi salah satu faktor paling kuat yang meningkatkan keberhasilan VBAC . Meskipun demikian, sebagian besar bukti tersebut berasal dari populasi di negara maju, sehingga kajian di konteks fasilitas kesehatan di negara berkembang masih terbatas. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan studi analitik retrospektif yang menggunakan data rekam medis ibu bersalin dengan riwayat satu kali SC yang menjalani percobaan VBAC pada periode 2023Ae2024. Sampel penelitian terdiri dari 100 ibu bersalin yang memenuhi kriteria sebagai berikut: Kriteris Inklusi: AU Riwayat satu kali seksio sesarea dengan sayatan transversal bawah. AU Kehamilan tunggal, hidup, usia kehamilan Ou 37 AU Memulai persalinan secara spontan. Kriteria Eksklusi: AU Riwayat SC dengan indikasi klasik. AU Kelainan uterus . ibroid besar, malformas. AU Kehamilan ganda, preeklamsia berat, atau komplikasi obstetri mayor. AU Rekam medis tidak lengkap. Penelitian dilakukan di RSCS Kota Cilegon yang memiliki fasilitas layanan obstetri dan neonatal komprehensif (PONEK). Data yang tidak lengkap untuk variabel utama dianalisis menggunakan metode listwise deletion untuk menjaga validitas model Kontrol potensi bias retrospektif: aAU Ekstraksi data dilakukan menggunakan formulir aAU Verifikasi ganda oleh dua peneliti independen. aAU Pembatasan sampel hanya pada kasus yang mengikuti protokol manajemen persalinan yang aAU Penggunaan sistem rekam medis elektronik mengurangi risiko misclassification bias. Justifikasi variabel independen: Variabel dipilih berdasarkan bukti kuat bahwa usia maternal, interval kehamilan, riwayat persalinan pervaginam, pembukaan serviks awal, serta taksiran berat janin merupakan indikator yang paling relevan dalam memprediksi keberhasilan VBAC menurut penelitian terdahulu. HASIL PENELITIAN Sebagian besar responden berusia < 35 tahun, dengan jarak antar kehamilan Ou 24 bulan, dan memiliki riwayat persalinan pervaginam sebelumnya. Dari seluruh subjek, 70% berhasil menjalani VBAC. Tabel 1. Hasil Analisis Bivariat Variabel Usia < 35 tahun Paritas Ou 2 IMT < 25 kg/mA Jarak kehamilan Ou 24 Riwayat persalinan Pembukaan serviks Ou 4 cm Berat lahir bayi < VBAC Proporsi lebih tinggi . , n = 75 . %) n = 68 . %) n = 55 . %) VBAC lebih kecil . , %) p-valu n = 25 . %) n = 32 . %) n = 45 . %) < 0. n = 80 . %) n = 20 . %) < 0. n = 85 . %) n = 15 . %) < 0. n = 78 . %) n = 22 . %) < 0. n = 72 . %) n = 28 . %) < 0. Data Primer . Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Vol. 29 Edisi Khusus Februari 2026 l 15 D. J Mitsalina, dkk: Analysis of Clinical and Maternal Factors Associated with the Success of Vaginal Birth After Cesarean Section (VBAC) at RSCS in Cilegon City AU Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia ibu keberhasilan VBAC. Ibu dengan usia di bawah 35 tahun lebih banyak berhasil menjalani persalinan pervaginam setelah SC sebelumnya dibandingkan kelompok usia Ou 35 tahun. Dengan kata lain, ibu yang lebih muda cenderung memiliki peluang lebih besar untuk berhasil menjalani VBAC dibandingkan dengan ibu berusia lebih tua. Paritas juga menunjukkan kecenderungan terhadap keberhasilan VBAC, meskipun tidak mencapai perbedaan yang signifikan secara statistik. Ibu dengan paritas Ou 2 tampak lebih sering berhasil menjalani VBAC dibandingkan ibu dengan paritas lebih rendah, menunjukkan bahwa pengalaman terhadap kesiapan fisiologis rahim dan proses Indeks massa tubuh (IMT) < 25 kg/mA memperlihatkan tren keberhasilan VBAC yang lebih tinggi, meski tidak signifikan. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa ibu dengan berat badan normal memiliki kondisi fisik yang lebih optimal dalam dibandingkan ibu dengan IMT lebih tinggi, yang sering kali dikaitkan dengan risiko distosia dan kebutuhan intervensi bedah. Jarak antar kehamilan juga menunjukkan peranan penting. Ibu dengan jarak kehamilan Ou 24 bulan memiliki kemungkinan lebih besar untuk berhasil menjalani VBAC dibandingkan ibu dengan jarak kehamilan yang lebih pendek. Hal ini menunjukkan bahwa interval waktu yang cukup memungkinkan penyembuhan luka uterus secara optimal, sehingga meningkatkan peluang keberhasilan persalinan Riwayat persalinan pervaginam sebelum SC terbukti sebagai faktor yang paling kuat terkait dengan keberhasilan VBAC. Ibu yang pernah melahirkan secara pervaginam sebelumnya lebih banyak berhasil menjalani VBAC dibandingkan yang tidak memiliki riwayat tersebut. Pengalaman persalinan pervaginam sebelumnya mencerminkan kemampuan kontraktilitas yang baik dan kemungkinan besar menunjukkan anatomi panggul yang memadai. Kondisi serviks saat masuk persalinan juga berhubungan dengan keberhasilan VBAC. Ibu dengan pembukaan serviks Ou 4 cm lebih sering berhasil menjalani VBAC dibandingkan mereka dengan pembukaan lebih kecil. Hal ini menunjukkan bahwa kemajuan persalinan yang baik sejak awal merupakan indikator positif keberhasilan VBAC. Selain itu, berat lahir bayi juga berpengaruh terhadap hasil persalinan. Ibu yang melahirkan bayi dengan berat < 3. 500 gram lebih banyak berhasil menjalani VBAC dibandingkan mereka yang melahirkan bayi dengan berat lebih besar. Bayi dengan berat lahir yang lebih kecil cenderung lebih mudah dilahirkan secara pervaginam dan menurunkan risiko kegagalan VBAC akibat disproporsi sefalopelvik. Temuan-temuan ini menegaskan pentingnya seleksi pasien yang tepat untuk pelaksanaan VBAC di fasilitas pelayanan kesehatan tersier. Faktor-faktor seperti usia maternal, jarak antar kehamilan, riwayat persalinan pervaginam, dan kondisi serviks saat masuk persalinan dapat digunakan sebagai indikator klinis untuk memperkirakan kemungkinan keberhasilan VBAC dan mendukung pengambilan keputusan yang aman bagi ibu dan bayi. Gambar 1. Distribusi Keberhasilan VBAC Berdasarkan Faktor Maternal dan Klinis Tabel 2. Analisis Regresi Logistik Multivariat Variabel Usia Ibu < 35 tahun Jarak antar kehamilan Ou 24 bulan Riwayat persalinan pervaginam Pembukaan serviks Ou 4 cm Berat lahir bayi < 3. Adjusted OR . % CI)) 8 . p-value < 0. < 0. Data Primer . Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa beberapa faktor maternal dan klinis memiliki hubungan independen yang bermakna terhadap keberhasilan persalinan pervaginam setelah seksio sesarea (VBAC). Ibu berusia di bawah 35 tahun memiliki kemungkinan lebih besar untuk berhasil menjalani VBAC dibandingkan ibu berusia 35 tahun atau lebih. Hal ini menggambarkan bahwa usia yang lebih muda memberikan keuntungan fisiologis dalam hal kekuatan kontraksi dan elastisitas jaringan panggul selama proses persalinan. Jarak antar kehamilan yang cukup, yaitu Ou 24 bulan, juga memberikan peluang keberhasilan VBAC yang lebih tinggi dibandingkan jarak kehamilan yang lebih pendek. Dengan kata lain, ibu yang menunggu setidaknya dua tahun sebelum hamil kembali lebih mungkin berhasil menjalani VBAC karena jaringan uterus memiliki waktu penyembuhan yang optimal sehingga menurunkan risiko komplikasi seperti ruptur Riwayat persalinan pervaginam sebelum SC menjadi salah satu faktor paling kuat yang berkaitan dengan keberhasilan VBAC. Ibu yang pernah melahirkan secara pervaginam sebelumnya memiliki peluang beberapa kali lebih besar untuk melahirkan 16 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Vol. 29 Edisi Khusus Februari 2026 D. J Mitsalina, dkk: Analysis of Clinical and Maternal Factors Associated with the Success of Vaginal Birth After Cesarean Section (VBAC) at RSCS in Cilegon City pervaginam kembali dibandingkan ibu yang belum pernah melahirkan normal. Pengalaman tersebut mencerminkan kemampuan anatomi dan fisiologis yang mendukung keberhasilan VBAC. Kondisi serviks saat masuk persalinan juga terbukti mempengaruhi hasil. Ibu yang datang dengan pembukaan serviks Ou 4 cm lebih mungkin berhasil melahirkan pervaginam dibandingkan mereka dengan pembukaan yang lebih kecil. Ini menunjukkan bahwa kemajuan persalinan yang baik sejak awal merupakan indikator kesiapan tubuh untuk melanjutkan proses persalinan secara fisiologis. Selain itu, berat lahir bayi < 3. 500 gram dikaitkan dengan peningkatan peluang keberhasilan VBAC dibandingkan bayi dengan berat lahir lebih tinggi. Bayi dengan berat moderat relatif lebih mudah melewati jalan lahir sehingga menurunkan risiko kegagalan VBAC akibat disproporsi sefalopelvik. Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan VBAC dipengaruhi oleh kombinasi faktor maternal dan intrapartum yang dapat diidentifikasi sejak awal Identifikasi faktor-faktor ini penting untuk membantu tenaga kesehatan dalam pengambilan keputusan klinis dan konseling pasien agar VBAC dapat dilakukan dengan aman dan efektif di fasilitas serviks dan berat bayi lahir berpengaruh signifikan terhadap keberhasilan VBAC. Hasil ini menegaskan bahwa keberhasilan VBAC bukan hanya ditentukan oleh riwayat obstetri, tetapi juga kesiapan kondisi klinis saat persalinan berlangsung. Temuan penelitian ini pervaginam setelah seksio sesarea (VBAC) sangat dipengaruhi oleh faktor maternal dan klinis yang dapat diidentifikasi sejak awal persalinan. Hal ini menegaskan pentingnya seleksi pasien berbasis risiko sebagai strategi utama untuk menekan angka seksio sesarea berulang di fasilitas kesehatan tersier. Usia Ibu Ibu dengan usia < 35 tahun memiliki peluang lebih tinggi untuk berhasil VBAC dibandingkan dengan yang lebih tua, sejalan dengan hasil studi sebelumnya4,5. Riwayat persalinan pervaginam sebelumnya juga menjadi prediktor kuat karena menunjukkan kesiapan fisiologis rahim dan serviks. Usia maternal yang lebih muda berhubungan dengan peluang keberhasilan VBAC yang lebih tinggi. Secara fisiologis, elastisitas jaringan panggul dan kemampuan kontraksi uterus pada usia reproduktif optimal mendukung proses persalinan yang lebih efisien. Kondisi ini menunjukkan bahwa faktor usia memainkan peran penting dalam kesiapan fisik ibu menjalani persalinan spontan. Hasil ini sejalan dengan temuan Guise et al. , yang mengonfirmasi bahwa usia merupakan determinan konsisten dalam keberhasilan VBAC di berbagai populasi1. Oleh karena itu, dalam praktik klinis, ibu berusia di bawah 35 tahun dengan riwayat satu kali seksio sesarea dapat diberikan konseling yang menekankan potensi keberhasilan persalinan normal dengan pengawasan ketat selama proses persalinan. Jarak antar kehamilan Gambar 2. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Keberhasilan VBAC (Analisis Multivaria. Gambar 2 menampilkan grafik batang vertikal antar-faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan VBAC. Sumbu horizontal menunjukkan lima variabel independen utama . sia < 35 tahun, jarak antar kehamilan Ou 24 bulan, riwayat persalinan pervaginam, pembukaan serviks Ou 4 cm, dan berat lahir bayi < Setiap peningkatan peluang keberhasilan VBAC untuk masing-masing Jarak antara kehamilan yang memadai, khususnya lebih dari dua tahun, berperan penting dalam memberikan waktu yang cukup bagi proses penyembuhan jaringan uterus pasca operasi. Pemulihan yang optimal ini berkontribusi pada penurunan risiko ruptur uteri serta komplikasi obstetri Temuan tersebut sejalan dengan hasil penelitian Shipp et al. , yang menunjukkan bahwa jarak kehamilan yang terlalu singkat dapat meningkatkan kemungkinan kegagalan persalinan pervaginam setelah seksio sesarea2. Oleh karena itu, pemberian konseling mengenai perencanaan kehamilan dan jarak ideal antar persalinan perlu diintegrasikan ke dalam layanan kesehatan reproduksi bagi perempuan dengan riwayat SC sebelumnya. Pengalaman Persalinan Pervaginam PEMBAHASAN Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor maternal seperti usia ibu, riwayat persalinan pervaginam, serta faktor klinis seperti pembukaan Pengalaman persalinan pervaginam sebelumnya terbukti menjadi salah satu faktor paling kuat dalam menentukan keberhasilan VBAC. Keberhasilan persalinan spontan pada riwayat sebelumnya Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Vol. 29 Edisi Khusus Februari 2026 l 17 D. J Mitsalina, dkk: Analysis of Clinical and Maternal Factors Associated with the Success of Vaginal Birth After Cesarean Section (VBAC) at RSCS in Cilegon City mencerminkan kapasitas anatomi dan fungsional tubuh yang mendukung proses kelahiran normal Hasil ini sejalan dengan laporan Landon et , yang menegaskan bahwa riwayat persalinan pervaginam sebelumnya merupakan prediktor positif terhadap keberhasilan VBAC3. Dalam konteks klinis, informasi ini dapat dijadikan dasar pertimbangan utama dalam menilai kelayakan pasien untuk menjalani trial of labor after cesarean (TOLAC) dengan tingkat keberhasilan yang lebih tinggi. Pembukaan Serviks Dari faktor klinis, pembukaan serviks Ou 4 cm saat masuk menjadi indikator kesiapan persalinan. Sementara berat bayi < 3. 500 gram berkorelasi positif dengan keberhasilan VBAC, sebagaimana dilaporkan dalam penelitian sebelumnya6,7. Kesiapan serviks saat masuk persalinan juga memiliki peran penting. Pembukaan serviks yang adekuat menunjukkan kesiapan tubuh untuk melanjutkan persalinan Kondisi ini memperlihatkan bahwa evaluasi dini terhadap kemajuan persalinan dapat menjadi indikator penting dalam keputusan melanjutkan TOLAC atau beralih ke tindakan seksio sesarea Kematangan dan pembukaan serviks pada saat awal persalinan menjadi indikator penting dalam menentukan arah keberhasilan VBAC. Serviks yang sudah dalam fase aktif menunjukkan kesiapan fisiologis tubuh untuk melanjutkan persalinan secara Kondisi ini menegaskan pentingnya evaluasi awal fase persalinan dan pemantauan kemajuan serviks untuk mendukung proses VBAC yang aman. Pemahaman terhadap dinamika pembukaan serviks juga membantu tenaga kesehatan dalam menentukan keputusan klinis yang tepat terkait kelanjutan TOLAC atau perlunya intervensi obstetric8. Berat mempengaruhi keberhasilan VBAC. Bayi dengan berat lahir di bawah batas disproporsi sefalopelvik lebih mudah melalui jalan lahir, sehingga menurunkan kemungkinan kegagalan persalinan. Faktor ini menunjukkan bahwa penilaian taksiran berat janin sebaiknya menjadi bagian dari evaluasi antenatal untuk menentukan kandidat VBAC yang aman9. Berat lahir bayi yang tidak berlebihan berhubungan dengan VBAC, meminimalkan risiko disproporsi sefalopelvik dan Faktor menunjukkan bahwa kondisi janin juga memiliki pengaruh penting terhadap keberhasilan persalinan. Dengan demikian, penilaian taksiran berat janin melalui pemantauan antenatal dapat membantu klinisi dalam memprediksi kemungkinan keberhasilan VBAC dan mengoptimalkan keselamatan ibu serta bayi10. Implikasi temuan ini terhadap kebijakan pelayanan kesehatan cukup luas. Rumah sakit tersier disarankan untuk mengembangkan *clinical pathway* VBAC yang terintegrasi dengan sistem penilaian risiko maternal. Kebijakan ini dapat meningkatkan rasionalitas pelaksanaan TOLAC, menekan angka SC berulang, dan mengoptimalkan penggunaan sumber daya rumah Secara ekonomi, keberhasilan VBAC dapat mengurangi lama rawat inap, beban biaya kesehatan, serta risiko komplikasi jangka panjang akibat tindakan operasi berulang seperti adhesi pelvis dan plasenta Meskipun memberikan temuan yang bermakna, penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan terkait dengan manajemen pelayanan kesehatan seperti kapasitas fasilitas, kompetensi tenaga kesehatan. Pertama, menyebabkan ketergantungan pada kelengkapan dan akurasi data rekam medis. Kedua, penelitian dilakukan di satu fasilitas tersier sehingga generalisasi ke fasilitas layanan primer masih terbatas. Ketiga, faktor psikososial seperti dukungan keluarga, motivasi ibu, dan preferensi terhadap jenis persalinan belum dievaluasi, padahal faktor-faktor tersebut dapat berpengaruh terhadap keberhasilan VBAC. Penelitian prospektif multicenter dengan variabel psikososial dan aspek manajemen pelayanan diharapkan dapat memberikan model prediksi keberhasilan VBAC yang lebih komprehensif. Pendekatan ini dapat memperkuat dasar ilmiah bagi pengambilan kebijakan dan praktik klinis dalam mendukung persalinan yang aman, efektif, dan berpusat pada pasien. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa usia ibu < 35 tahun, interval kehamilan Ou 24 bulan, riwayat persalinan pervaginam, pembukaan serviks Ou 4 cm, dan berat lahir bayi < 3. 500 g merupakan faktor yang berhubungan dengan keberhasilan persalinan vaginal setelah seksio sesarea (VBAC). Faktor-faktor ini tidak hanya relevan secara klinis, tetapi juga memberikan dasar penting bagi penguatan manajemen layanan Implementasi VBAC yang aman dan efektif tidak cukup hanya mengandalkan penilaian klinis individual. Diperlukan penguatan sistem pelayanan yang aAUPenyusunan clinical pathway VBAC berbasis risiko aAUPenerapan sistem penilaian risiko terstandar dalam rekam medis elektronik aAUPeningkatan kapasitas tenaga kesehatan dalam triase dan monitoring intrapartum aAUKonsistensi protokol rujukan dan kesiapsiagaan emergensi, serta optimalisasi alokasi sumber daya sesuai beban kasus dan kompetensi fasilitas Dengan memperkuat aspek sistem pelayanan, fasilitas kesehatan dapat meningkatkan keberhasilan VBAC, menurunkan angka seksio sesarea berulang, serta mendukung pencapaian mutu layanan kebidanan dan keselamatan maternal secara lebih berkelanjutan. 16 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Vol. 29 Edisi Khusus Februari 2026 D. J Mitsalina, dkk: Analysis of Clinical and Maternal Factors Associated with the Success of Vaginal Birth After Cesarean Section (VBAC) at RSCS in Cilegon City UCAPAN TERIMA KASIH Penulis sebesar-besarnya kepada seluruh tim tenaga kesehatan di RSCS Kota Cilegon tempat penelitian ini dilaksanakan atas dukungan dan kerja sama yang luar biasa selama proses pengumpulan data. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada bagian Rekam Medis serta Instalasi Obstetri dan Ginekologi yang telah memberikan izin akses terhadap data pasien sesuai dengan ketentuan. Selain itu, penulis berterima kasih kepada Poltekkes AoAisyiyah Banten. Universitas SIBERMU dan rekan sejawat yang telah memberikan masukan berharga dalam proses penyusunan naskah ini. Tidak lupa, penghargaan diberikan kepada pihak keluarga atas dukungan moral dan motivasi yang terus menguatkan selama pelaksanaan penelitian hingga penyusunan artikel ini. REFERENSI