Murai : Jurnal Papua Teologi Kontekstual ISSN : 2746-4814 Vol 5. No 2. Juli 2024 PENTINGNYA SPIRITUALITAS KRISTEN DAN INTEGRITAS BAGI SEORANG MAJELIS JEMAAT DALAM KONTEKS GKI DI TANAH PAPUA Martha Maria Wospakrik STFT GKI I. S Kijne Jayapura marthawospakrik13@gmail. ABSTRAK Dalam konteks Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua, peran majelis jemaat sangat vital dalam mengarahkan dan mendampingi jemaat. Spiritualitas Kristen dan integritas menjadi kunci bagi seorang majelis jemaat dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Kehadiran majelis jemaat yang memiliki spiritualitas mendalam dan integritas tinggi dapat menjadi teladan dan inspirasi bagi jemaat, serta memperkuat fondasi iman komunitas gereja. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pentingnya spiritualitas Kristen dan integritas bagi seorang majelis jemaat di GKI Tanah Papua. Penelitian ini juga berusaha untuk memahami bagaimana kedua aspek ini diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan pelayanan majelis jemaat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan beberapa majelis jemaat di GKI Tanah Papua serta observasi partisipatif dalam kegiatan gereja. Analisis data dilakukan dengan pendekatan tematik untuk mengidentifikasi pola dan tema yang muncul terkait spiritualitas dan integritas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa spiritualitas Kristen yang kuat dan integritas yang teguh merupakan dua elemen penting yang saling berkaitan dan tidak terpisahkan dalam diri seorang majelis jemaat. Kedua aspek ini berperan signifikan dalam membangun kepercayaan dan hubungan yang harmonis antara majelis dan Majelis yang memiliki spiritualitas mendalam dan integritas tinggi lebih mampu memberikan bimbingan yang efektif dan menjadi panutan dalam komunitas gereja. Pentingnya spiritualitas Kristen dan integritas bagi seorang majelis jemaat di GKI Tanah Papua tidak dapat diabaikan. Kedua aspek ini tidak hanya memperkuat peran majelis dalam pelayanan, tetapi juga memperkokoh iman jemaat secara Oleh karena itu, pengembangan spiritualitas dan integritas harus menjadi fokus dalam pembinaan majelis jemaat. Kata Kunci: spiritualitas Kristen, integritas, majelis jemaat. GKI Tanah Papua, pelayanan gereja. ABSTRACT In the context of the Evangelical Christian Church (GKI) in Tanah Papua, the role of the congregation assembly is vital in directing and assisting the congregation. Christian spirituality and integrity are key for a congregation in carrying out its duties and responsibilities. The presence of a congregation that has deep spirituality and high integrity can be a role model and inspiration for the congregation, as well as strengthen the faith foundation of the church community. This research aims to explore the importance of Christian spirituality and integrity for a congregational minister in GKI Tanah Papua. This research also seeks to understand how these two aspects are applied in the daily life and ministry of the congregation. This research uses a qualitative approach with a case study method. Data were collected through in-depth interviews with several congregations in GKI Tanah Papua as well as participatory observation in church Data analysis was conducted using a thematic approach to identify emerging patterns and themes related to spirituality and integrity. The results show that strong Christian spirituality and unwavering integrity are two important elements that are interrelated and inseparable in a congregation assembly. These two aspects play a significant role in building trust and harmonious relationships between the assembly and the congregation. Assemblies with deep spirituality and high integrity are better able to provide effective guidance and become role models in the church community. The importance of Christian spirituality and integrity for a church council in GKI Tanah Papua cannot be These two aspects not only strengthen the role of the assembly in ministry, but also strengthen the faith of the congregation as a whole. Therefore, the development of spirituality and integrity should be the focus of the congregation's formation. Keywords: Christian spirituality, integrity, church council. GKI Tanah Papua, church service. PENDAHULUAN Keputusan menjadi seorang pelayan (Majelis Jemaa. merupakan suatu keputusan yang tidak Walau demikian banyak orang suka menjadi pelayan (Majelis Jemaa. Tentu setiap orang memiliki latar belakang tertentu yang mendorongnya untuk mengambil keputusan menjadi seorang pelayan (Majelis Jemaa. Alkitab secara terang-terangan memperlihatkan keberatan Nabi Yeremia terhadap panggilan Allah. Keberatan Nabi Yeremia sangat manusiawi dimana secara jujur ia menyadari ketidaksanggupannya untuk menjalankan tanggungjawab pelayanan yang akan diberikan Tuhan baginya (Lihat Kitab Yeremia 1: . Keberatan itu didasari atas kesadaran bahwa panggilan sebagai Pelayan atau hamba Tuhan berkaitan erat dengan seluruh kehidupannya, artinya bahwa konsekwensi dari suatu keputusan untuk menjadi Majelis Jemaat menuntut suatu pembaharuan hidup yang didalamnya terkandung berbagai nilai termasuk spiritualitas dan integritas yang terpatri dalam kehidupan seorang pelayan . ajelis jema. Keberatan yang sama juga dapat dilihat pada Musa ketika Allah menyuruhnya menghadap Firaun agar dapat membawa Bangsa Israel keluar dari Tanah Mesir karena jeritan penderitaan mereka yang telah Ia dengar. Keraguan Musa tampak jelas pada Kitab Keluaran 3: 10-11 sebagaimana tertulis: 1 AuJadi sekarang, pergilah. Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku orang Israel keluar dari Mesir. Tetapi Musa berkata kepada Allah. Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?Ay. Keraguan dan keberatan sebagaimana yang dialami Nabi Yeremia dan Musa merupakan hal yang sangat manusiawi tetapi juga memperlihatkan tanggungjawab yang tidak mudah dilakukan karena adanya kesadaran akan keterbatasan yang dimiliki tetapi sekaligus memberi kesadaran bahwa pengakuan terhadap suatu tanggungjawab membutuhkan komitmen yang dilandasi oleh spiritualitas dan integritas pada seseorang. Biasanya seseorang mudah mengatakan ya, terhadap suatu tugas tertentu tetapi tidak didasari atas spiritualitas dan integritas yang membentuk komitmennya saat menjalankan tugas yang diamanatkan kepadanya. Hal ini juga nampak pada keputusan seseorang menjadi Majelis Jemaat akibatnya adalah ia mencemari misi Allah yang diamanatkan kepadanya. Seorang Majelis Jemaat harus mampu menjadi teladan bagi jemaat melalui keteladanan yang nampak melalui karakter dan perkataan. Ia juga harus setia dan memiliki komitmen yang sungguh dalam menjalankan tugas sebagai Majelis Jemaat yang telah diamanatkan gereja kepadanya sebagaimana dinyatakan melalui pengakuan dihadapan Tuhan dan jemaat. METODE PENELITIAN Penelitian yang dilakukan ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi Pustaka (Library Researc. Menurut Sugiyono metode kualitatif adalah metode penelitian yang didasarkan pada filsafat postpositivisme untuk memahami kondisi obyek yang alamiah tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi. Tindakan, dll, secara holisistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa. 2 Sedangkan menurut Moleong, metode kualitatif adalah penelitian yang menggunakan paradigma kualitatif, maka secara historis penelitian ini tidak mengadakan perhitungan secara kualitatif. 3 Karena penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan kepustakaan (Library Researc. , maka penulis menggunakan teknik dokumentasi. Lembaga Alkitab Indonesia. Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2015 Sugiyono. Metode penelitian kuantitatif kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta, 2006, hal 9-10 Moleong. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rineka Cipta,1990, hal 322 Teknik dokumentasi adalah cara mencari data mengenai hal-hal atau variable yang merupakan catatan, transkrip, buku, surat kabat, majalah, prasasti, dan sebagainya 4. HASIL DAN PEMBAHASAN Spiritualitas dan Integritas sebagai prinsip hidup seorang Majelis Jemaat. Spiritualitas Kehidupan manusia di tengah dunia ini adalah jalan ziarah menuju kehidupan yang Itu berarti bahwa dalam melakukan perjalan ziarah, manusia membutuhkan penuntun yang menuntun dan membimbingnya mencapai tujuan akhir dari ziarah itu. Di dalam perjalanan ziarah yang dituntun itulah, manusia akan menemukan siapa dirinya dan apakah ia akan sampai pada tujuan hidupnya. Kesadaran ini akan membawa manusia pada suatu motin atau gerakan menuju kematangan atau kesempurnaan hidup. Gerakan menuju kepada kematangan dan kesempurnaan hidup merupakan suatu proses yang panjang dan melewati langkah-langkah atau tahap-tahap kehidupan dan pengalaman yang ditemukan oleh seseorang dalam perjalanan ziarah hidupnya yang akan membawanya mengembangkan pertumbuhan dan spiritualnya. Spiritual berasal dari kata dasar spirit yang berarti roh. Spiritual berasal dari bahasa Latin yaitu Spiritus yang berarti nafas. 5 Berdasarkan pengertian tersebut, maka spiritualitas adalah roh yang membuat kita hidup, bernapas dan bergerak. Dengan demikian, spiritualitas dapat menggerakkan seseorang mampu untuk melakukan tanggungjawabnya dengan baik tetapi juga tidak mudah digoyahkan oleh berbagai masalah yang dihadapi. Ia akan kuat dan tegar menghadapi segala tantangan sehingga kualitas hidupnya makin meningkat. Spiritualitas merupakan suatu istilah yang sangat umum dikenal. Spiritualitas memiliki kaitan yang sangat erat dengan kualitas hidup seseorang yang diperoleh melalui kedalaman pemahamannya tentang Allah secara utuh. Spitualitas juga merupakan buah dari sebuah relasi yang baik antara seseorang dengan Yesus yang dinampakkan dalam sikap hidupnya terhadap orang lain. Spiritualitas juga berkaitan dengan kehidupan iman seseorang, dan apa yang mendorong dan memotivasi mereka, serta apa yang mereka pikir dapat membantu mereka berkembang. 7Tradisi Kristen telah mengembangkan pertumbuhan dan perkembangan hidup spiritual seseorang melalui tiga tahap yang sering disebut jalan purgativa . urifikasi atau pembersiha. , jalan illuminativa . dan jalan unitiva . Purifikasi atau pembersihan9 Secara sederhana , purifikasi berarti membuat perbaikan Ae perbaikan dalam hidup dan meninggalkan sikap-sikap yang keras dan kaku dalam diri, sebab sikap yang keras dan kaku membuat kita tertutup dan menutup diri terhadap orang-orang lain sehingga menyulitkan kita mengalami pertumbuhan dan perkembangan diri yang sehat dan normal. Ada dua jenis rintangan atau halangan yang harus dibersihkan dari kehidupan manusia pada tahap purifikasi atau pembersihan. Pertama. Seseorang dapat bertumbuh dan berkembang secara baik dan benar secara spiritual apabila dia mampu membebaskan diri dari semua kondisi eksternal yang datang dari luar. Misalnya. kecenderungan menjaga kecantikan tubuh sehingga ia tidak mau bersentuhan atau melakukan kegiatan-kegiatan yang kemungkinan besar dapat mempengaruhi kecantikan tubuhnya. Tanpa disadari seseorang dapat dengan mudah jatuh dalam materialisme yang mengakibatkan ia dengan mudah menghalalkan berbagai cara untuk menemukan apa yang diinginkannya demi kepuasan tubuh . ecantikan Hal ini tanpa disadari dapat mempengaruhi komitmennya terhadap pelayanan. dapat dengan mudah mengkomersilkan pelayanan demi kepuasan tubuhnya. Ini salah satu Arikunto Suharsimi. Manajemen Penelitian. Bandung: Remaja Rosda Karya, 1990, hal 2 http://repo. iain-tulungagung. id/17770/5/BAB II. Bandk Andar Ismail. Selamat menabur. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008, hal 106 Alister E. McGarth. Spiritualitas Kristen. Medan: Bina Media Perintis, 2007, hal 32-44 dalam Novinni Eskawantri Br Ginting,Peran Pelayan Gereja Dalam Meningkatkan Spiritualitas Jemaat di Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) Runggu Semarang: Kajian Etika Pelayan Gereja ( Jurnal Teologi Pondok Daud: STT-Pelita Kebenaran Medan. Vol 6,No 3 . Hubertus Leteng. Pertumbuhan spiritual. Jalan pencerahan hidup. Jakarta: OBOR, 2012, hal 96 Ibid, hal 97 contoh dari sekian pengaruh negatif dari luar yang sulit dibendung oleh seseorang dalam perjalanan kehidupannya. Kedua, demi pertumbuhan dan perkembangan spiritual yang baik, seseorang juga harus membebaskan diri dari ikatan-ikatan internal. Contohnya memiliki rasa cemburu dan iri hati kepada orang lain karena keberhasilannya, suka mendendam dan benci, merasa diri tidak pandai sehingga pesimis dalam menjalankan pelayanan, angkuh dan sombong sehingga tidak bersedia untuk mendengar nasehat ataupun pandangan orang lain. Ikatan internal ini tanpa disadari sangat menghambat pertumbuhan dan perkembangan spiritual seseorang. Oleh karena itu, seorang Pelayan atau hamba Tuhan harus melepaskan dan membebaskan diri dan hidupnya dari ikatan-ikatan internal ini. Kedua hal yang disebutkan tadi dapat menjadikan seorang pelayan (Majelis Jemaa. menjadi egois sehingga mencemari pelayanannya sebagai seorang elayan atau hamba Tuhan. Itu berarti satu hal yang harus dilakukan dengan berani adalah membunuh semua manusia lama yang ada dalam dirinya dengan semua keinginan-keinginannya dan menjadi manusia baru yang mengundang dan memberi tempat utama kepada Allah yang Iluminasi atau penerangan Pertumbuhan dan perkembangan spiritual hanya dapat terjadi apabila seseorang memberi jawaban serius terhadap panggilan yang ditujukan pada dirinya. Keseriusan memberi jawaban terhadap panggilan sangat penting karena disitulah seseorang dapat mengalami pertumbuhan spiritual untuk dapat memahami dan mengerti arti dari suatu panggilan yang ditujukan kepadanya. Amatlah penting bagi seseorang untuk menyadari bahwa panggilan yang ditujukan kepadanya bukan sekedar panggilan tanpa makna, tetapi memiliki tujuan tertentu yang melibatkan sesorang yang kepadanya panggilan itu ditujukan. Panggilan itu dapat saja datang dalam berbagai bentuk, apakah melalui penglihatan dalam mimpi atau juga melalui orang lain . eluarga, jemaat, ds. Ketika seseorang meresponi panggilan itu, maka secara langsung ia bertanggungjawab untuk menjaga dirinya terhadap pengaruh luar yang kemungkinan dapat menciderai panggilan itu. Pada titik inilah, seseorang wajib memiliki relasi yang baik dengan Tuhan dan dengan orang lain disekitarnya. Relasi yang baik dengan Tuhan akan membuat seseorang memahami siapa dirinya dihadapan Tuhan dan mengapa Tuhan memanggilnya, begitu juga jika ia terbuka menerima membangun relasi yang baik dan benar dengan orang lain disekitarnya. Perlu disadari, bahwa seseorang yang tertutup terhadap orang lain tidak akan pernah mengetahui kelemahan-kelemahan dalam mewujudkan panggilan Tuhan yang ditujukan Kesediaan untuk mendengar pandangan orang lain merupakan tanda bahwa kita adalah orang yang rendah hati, memiliki mentalitas yang baik, suka untuk mengembangkan kemampuan yang kita miliki tetapi juga sadar bahwa pengetahuan dan pengalaman yang kita miliki terus-menerus mesti dikembangkan melalui pengalaman pergaulan dan kesediaan mendengar dari orang lain. Sebuah pepatah mengatakan bahwa: 10 AuBarang siapa naik dan duduk dibahu orang lain akan dapat melihat lebih jauh dari pada seorang lain, meskipun perawakannya juah lebih kecil dari padanyaAy. Unifikasi atau persekutuan Persekutuan merupakan nilai penting bagi pertumbuhan spiritual. Persekutuan yang dimaksudkan disini bukan sekedar bersekutu, tetapi lebih kepada hubungan yang erat dengan Tuhan yang tampak pada hubungan harmonis dengan sesama. Persekutuan yang erat dan harmonis dengan Tuhan dan sesama memberi dampak bagi pertumbuhan spiritual yang baik. Pemahaman ini sangat mendasar dan teologis, karena tidak mungkin spiritual seseorang dapat bertumbuh jika ia tidak memiliki relasi yang erat dan harmonis dengan Tuhan dan sesama. Sebagai manusia kita memiliki keterbatasan dan kelemahan untuk mewujudkan keinginan dan kerinduan kita memenuhi panggilan pelayanan sebagai seorang Ibid, hal 112 Pelayan atau hamba Tuhan. Di dalam unifikasi atau persekutuan ini aspek kerendahan diri menjadi penting sebagaimana diperlihatkan Yesus dalam kehidupan dan PelayananNya. AyHendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan rupa Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba,dan menjadi sama dengan manusia ( Filipi 1:5 -8. )Ay11 Pengosongan diri . sebagai dasar kerendahan diri sebagaimana Yesus melakukannya merupakan kesadaran akan persekutuan yang kudus dengan Allah. Pada titik ini bagi kita sebagai manusia sulit dilakukan karena kita tidak mau kehilangan harga diri, kehormatan, kedudukan dan sebagainya. Tugas sebagai pelayan (Majelis Jemaa. kita tempatkan sebagai jabatan kehormatan sehingga makna dari tugas itu hilang. Kita cenderung memakai jabatan ini untuk mendapat perubahan status di tengah jemaat dan Tanpa kita sadari kita menjadi orang yang egois, melayani jemaat hanya untuk memenuhi kebutuhan finansial kita sehingga pelayanan kita hanya untuk jemaat yang kaya dan mengalihkan pelayanan jemaat yang ekonomi lemah kepada Majelis Jemaat lain dan Itulah sebabnya mengapa spititualitas Kristen penting dimiliki oleh seorang Majelis Jemaat, agar: Memampukan seorang Majelis Jemaat memiliki relasi yang baik dengan Tuhan. Memampukan seorang Majelis Jemaat melakukan tugasnya dengan sungguh-sungguh dan bertanggungjawab Membangun relasi yang kuat diantara sesama rekan Majelis Jemaat Melayani jemaat dengan sukacita dan kasih Menjaga kehidupan yang kudus di hadapan Tuhan dan jemaat. Jika seorang Majelis Jemaat tidak memiliki spiritualitas Kristen, maka dampaknya Relasinya dengan Tuhan terganggu. Mengalami kebosanan untuk melayani jemaat Tidak menjalankan tugasnya secara konsisten. Komitmennya menurun dan dapat memicu sikap apatis terhadap tanggungjawab Memungkinkan terjadinya keretakan relasi terhadap rekan kerja Beberapa nilai-nilai utama dari spiritualitas Kristen yaitu: Kesalehan: Nilai kesalehan mengacu pada kerinduan dan komitmen untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah. Ini mencakup ketaatan kepada ajaran Alkitab, doa, ibadah, dan ketaatan moral. Kasih: Kasih adalah nilai sentral dalam ajaran Kristus, dan spiritualitas Kristen menekankan pentingnya kasih dalam hubungan dengan Allah dan sesama. Kasih adalah motivasi utama dalam pelayanan dan membangun komunitas yang peduli. Kesaksian: Spiritualitas Kristen mengajarkan pentingnya memberikan kesaksian tentang iman kita dalam Kristus kepada dunia. Ini melibatkan berbagi pengalaman rohani, membagikan Injil, dan hidup sebagai teladan yang berarti. Pelayanan: Nilai pelayanan menekankan panggilan setiap orang percaya untuk melayani sesama dengan kasih dan kerendahan hati. Ini mencakup pelayanan dalam gereja lokal, pelayanan di luar gereja kepada orang-orang yang membutuhkan, dan penggunaan karunia rohani untuk membangun tubuh Kristus. Pengampunan: Pengampunan adalah nilai penting dalam spiritualitas Kristen yang menekankan pentingnya mengampuni orang lain sebagaimana Allah telah mengampuni kita melalui Yesus Kristus. Spiritualitas Kristen mempromosikan sikap rendah hati, penerimaan, dan kesediaan untuk mengampuni. Kesadaran akan Dosa dan Pemulihan: Spiritualitas Kristen mengakui realitas dosa manusia dan kebutuhan akan pemulihan rohani melalui kasih dan belas kasihan Allah. Lembaga Alkitab Indonesia. Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2015 Ini melibatkan pengakuan dosa, pertobatan, dan pencarian pertumbuhan spiritual dan kesempurnaan dalam Kristus. Kehidupan Doa dan Pertumbuhan Rohani: Nilai ini menekankan pentingnya hidup doa yang teratur, meditasi atas Firman Tuhan, dan pencarian pertumbuhan rohani dalam kehidupan sehari-hari. Ini melibatkan kerja keras, dedikasi, dan ketergantungan kepada Roh Kudus. Harapan dalam Kristus: Harapan adalah nilai yang kuat dalam spiritualitas Kristen, yang menekankan keyakinan akan janji-janji Allah dan kedatangan kembali Kristus. Ini memberikan dorongan dan keteguhan dalam menghadapi tantangan dan penderitaan dunia ini. Integritas Integritas, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah kualitas, sifat, atau keadaan yang menunjukkan suatu kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan untuk memancarkan wibawa dan kejujuran. Berdasarkan definisi tersebut, maka seseorang yang memiliki integritas akan memperlakukan orang lain dengan baik sebagaimana ia memperlakukan dirinya tanpa menuntut balas jasa. Disini, tampak jelas aspek kerelaan dan kesediaan menghargai orang lain dalam Menurut Sukarna . , integritas memiliki beberapa indikator yakni: 13 . Menunjukkan kejujuran, . Memenuhi komitmen . Konsisten dalam perilaku. Integritas adalah sifat orang yang selaras sepenuhnya, di mana tidak ada perbedaan antara yang dilihat dan yang dilakukan, apa yang diucapkan dan apa yang dilakukan. Integritas sangat penting dimiliki oleh setiap orang agar ia dapat bertanggungjawab terhadap tugas, pekerjaan, atau aktivitas keseharianya. Integritas berkaitan erat dengan prinsipprinsip hidup yang dimiliki seseorang . tika, moral, sikap hidup dan imanny. Seseorang yang memiliki integritas akan melaksanakan tanggungjawabnya dengan serius dan tidak mudah tergoyahkan oleh kepentingan-kepentingan lain yang berdampak pada tugas dan tanggungjawab yang dilakukan. Prinsip-prinsip hidup yang dimiliki seseorang akan menjadi pemandu dan sekaligus membentenginya dari berbagai hal yang mengganggunya dalam segala aktivitasnya. Integritas yang dimiliki seseorang akan membuatnya menjadi pribadi yang konsisten terhadap setiap hal yang dikatakan dengan apa yang dikerjakan. Jadi seseorang yang berintegritas adalah seseorang yang melakukan sama seperti apa yang ia katakan. Ia tidak berbicara A sedangkan prakteknya adalah B. Contoh yang paling banyak kita temukan adalah pada kegiatan-kegiatan kampanye pemilihan kepala daerah. Seorang calon akan berkampanye dengan menyatakan komitmen dan janji-janji kepada masyarakat, tetapi setelah ia terpilih, janji tinggal janji. Atau saudara pernah menonton televisi yang suara dan gerakan mulut seseorang tidak sejalan. Hasilnya adalah siaran itu dipadamkan atau menjadi bahan tertawaan. Sama nilainya dengan integritas juga merupakan hal penting yang harus terpatri dalam kehidupan seorang Majelis Jemaat. Perusahan-perusahan besar di negara-negara maju menetapkan integritas sebagai syarat penting untuk penerimaan karyawan. Maju mundurnya perusahaan ditentukan oleh integritas dari para karyawan. Bagi saya ini hal yang luar biasa, karena kebanyakan kita menetapkan kemampuan akademik sebagai yang utama dan cenderung melupakan integritas sebagai syarat penerimaan pegawai. Memang kemampuan akademik juga diperlukan tetapi jangan lupa bahwa kemampuan akademik tanpa integritas maka kemampuan akademik akan digunakan untuk kepentingan pribadi atau kelompok yang pada akhirnya akan merusak misi yang ingin kita capai. http://e-journal. id/27990/3/16 03 22896 2. Ibid Jonathan Lamb. Integritas,Memimpin di bawah pengamatan Tuhan,Jakarta: Suluh Cendekia, hal 15, 2008 Integritas merupakan kualitas hidup yang sangat mendasar dan bernilai tinggi bagi setiap orang termasuk Majelis Jemaat. Karena itu jangan heran kalau kita bertanya kepada jemaat apa yang engkau kagumi dari Majelis Jemaatmu . enatua atau syama. ? Ia akan menjawab ia sangat jujur. Majelis Jemaat kami berbuat seperti apa yang ia khotbahkan. Jawaban ini mengandung pengertian bahwa seorang pelayan (Majelis Jemaat termasuk pendet. dipandang oleh jemaat sebagai cermin dari setiap perkataan termasuk adalah khotbahkhotbahnya. Jika kita dikatakan sebagai orang yang berintegritas maka kita adalah orang yang lurus, jujur, dan tulus. Kita bisa dipercayai karena adanya konsistensi antara kata, sifat dan tindakan15 (Bukan latihan lain main lai. Integritas itu merupakan suatu sikap hidup yang melekat pada diri seseorang. Redjeki dan Heridiansyah . mengemukakan delapan indikator perilaku oarng yang berintegritas yaitu: 16 . Jujur . Konsisten antara ucapan dan tindakan . Mematuhi peraturan dan etika berorganisasi . Memegang teguh komitmen dan prinsip-prinsip yang diyakini benar . Bertanggungjawab atas tindakan, keputusan, dan resiko yang menyertainya . Kualitas individu untuk mendapatkan rasa hormat orang lain . Kepatuhan yang konsisten pada prinsip-prinsip moral yang berlaku di masyarakat . Kearifan dalam membedakan benar dan salah serta mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama. Berdasarkan delapan indikator yang telah disebutkan, maka seseorang yang memiliki integritas adalah seseorang yang mampu menjadi contoh dan teladan bagi orang lain yang dinyatakan melalui kedisiplinan hidup melalui nilai-nilai integritas yang dianutnya dan berdampak bagi pekerjaannya. Dalam Alkitab kita dapat belajar dari para nabi dalam perjanjian Lama seperti. Amos. Hosea, dan Perjanjian Baru seperti Rasul Paulus. Mereka berani memprotes ketidak benaran dalam kehidupan orang Israel dan pemimpin-pemimpin mereka karena tidak berlaku sesuai dengan status mereka sebagai bangsa pilihan Allah di tengah-tengah bangsa-bangsa kafir. Hal yang sama juga dapat kita lihat dalam sikap hidup Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus ataupun pada saat menghadapi ajaran-ajaran sesat yang merasuki gereja, berulangkali Rasul Paulus dengan berani dan lantang memberi nasehat dan menolak ajaran-jaran itu demi Injil Yesus Kristus (Lihat 2 Korintus 10:1-11 dan 11:7-. Sikap Rasul Paulus ini memperlihatkan sebuah komitmen sebagai bukti dari integritas yang ia miliki dalam menjalankan tugas pekabaran Injil dalam zaman itu. Ia sangat konsisten terhadap apa yang telah dikatakan. Rasul Paulus tidak seperti kebanyakan rasul-rasul palsu pada zaman itu yang memberitakan kebohongan-kebohongan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Integritas Rasul Paulus tampak jelas dalam suratnya kepada Jemaat di Filipi 1:21-22. AyBagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini berarti bagiku bekerja memberi buahAy. Rasul Paulus melihat kehidupan ini bukan sekedar mencari keuntungan atau melayani diri sendiri, tetapi hidup ini sebuah perjalanan ziarah iman yang mesti digunakan sebaik mungkin dalam ketekunan dan kejujuran . untuk berkaya dan berbuah di tengah Ia harus berani melawan keinginan-keinginan dirinya dan meletakkan Injil Yesus Kristus di atas segalanya. Perjumpaannya dengan Tuhan dalam perjalanan menuju Damsik membentuk motivasi dan integritasnya sebagai seorang Rasul. Bagaimana kita menumbuhkan dan memelihara integritas dalam diri kita: Komitmen untuk menjaga hidup kita agar benar dihadapan Allah. Rasul Paulus memperlihatkan komitmen ini melalui ajakannya kepada jemaat di Korintus:18 Ibid, hal 28 https://repository. id/10706/3/ANISA WIDYA PANGESTIKA_BAB II. Lembaga Alkitab Indonesia. Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2015 Lembaga Alkitab Indonesia. Jakarta: BPK Gunung Mulia,2015 AySaudara-saudara yang kekasih, karena kita memiliki janji Ae janji itu, marilah kita menyucikan diri dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Tuhan . Korintus 7:. Hidup secara konsisten. Dalam 2 Korintus 6:16 dikatakan AuKita adalah Bait Allah yang hidup menurut Firman AllahAy19 Memiliki komitmen untuk menjalankan tanggung jawab pelayanan. Rasul Paulus memperlihatkan hal ini dengan jelas dalam 2 Korintus 6:4-10 Ay Dalam segala hal kami menunjukan bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran, dalam menanggung dera, dalam penjara dan kerusuhan. Ay. Mengapa Spiritualitas dan Integritas penting dimiliki oleh seorang Majelis Jemaat dalam konteks GKI di Tanah Papua? (Suatu refleksi dan perenunga. Gereja Kristen Injili di Tanah Papua saat ini berada dalam kompleksitas masyarakat dan jemaat yang sangat majemuk dengan berbagai persoalan sosial, politik, ekonomi dan sebagainya yang tanpa disadari sangat mempengaruhi dinamika pelayanan dalam GKI di Tanah Papua. GKI ibarat berada dalam pusaran arus dunia yang membutuhkan ketegaran dan kekuatan dalam menghadapi kenyataan ini. Itu berarti harus ada strategi-strategi yang dilakukan dengan serius dalam menyikapi pusaran ini agar GKI di Tanah Papua tidak kehilangan arah dan tujuannya dalam pemberitaan Injil Yesus Kristus sebagai tugas yang diamanatkan kepadanya. Karena itu salah satu strateginya adalah menumbuhkan spritualitas dan integritas seorang Majelis Jemaat. Pandangan ini dilatarbelakangi oleh kenyataan riil saat ini dimana banyak orang memutuskan menjadi Majelis Jemaat. Pertanyaannya adalah, apakah keputusan tersebut lahir dari kesungguhan untuk ikut serta melayani dan mewartakan Injil Kristus ataukah karena kepentingan lain? Kenyataan ini tidak bermaksud untuk mencurigai keputusan seseorang menjadi Majelis Jemaat, tetapi hendaknya keputusan ini dilakukan dengan suatu kesadaran, kejujuran dan komitmen yang sungguh untuk menjalankan tanggungjawab yang diamanatkan gereja (GKI di Tanah Papu. kepada kepada seseorang yang telah siap menjadi Majelis Jemaat. Sebagai Majelis Jemaat tentu akan berhadapan dengan tantangan jemaat dan masyarakat yang dapat saja mempengaruhi keputusan sebagai Majelis Jemaat ( Penatua dan Syama. dan berdampak pada komitmen awal. Pengalaman pelayanan dalam gereja ini mencatat bahwa banyak Majelis Jemaat yang pada awalnya giat melayani tetapi kemudian menjadi Majelis Jemaat yang malas . ersikap malas tahu, mengundurkan diri sendiri sebelum masa periode berakhir, dan berbagai alasan lainny. Bahkan ada yang melakukan pelayanan berdasar pada status sosial jemaat atau melayani dengan pilih muka bukan melayani karena bertanggungjawab terhadap tugas penginjilan yang diamanatkan Kristus melalui GKI di Tanah Papua kepadanya. Pada sisi yang lain, kita juga dapati para Majelis Jemaat yang tidak mampu untuk menjaga kekudusan hidupnya, dan masalahmasalah etis lainnya. Inilah realita sebagian para pelayan (Majelis Jemaa. GKI di Tanah Papua yang menjadi pergumulan kita saat ini. Berdasar pada konteks sebagaimana di atas, maka penting sekali seorang Majelis Jemaat memiliki spiritualitas pelayanan yang baik agar mampu mengarahkan dan menjaganya dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab gereja (GKI di Tanah Papu. yang diamanatkan kepadanya sebagaimana ditetapkan dalam Tata Gereja dan Peraturan-peraturan Gereja Kristen Injili di Tanah Papua tahun 2022 sebagaimana tertulis dalam Bab VI, pasal 23 sebagai berikut:21 . Majelis Jemaat memiliki wewenang: Melakukan pengawasan terhadap ajaran gereja agar sesuai dengan Firman Allah. Menjaga agar Tata Gereja dan keputusan sidang gereja ditaati dan dilaksanakan di jemaat. Membuat dan menetapkan keputusan dan kebijakan Majelis Jemaat yang strategis dan tidak bertentangan dengan Tata Gerja, peraturan, pedoman dan keputusan sidang gereja. Ibid Ibid https://anyflip. com/ropgo/wzfe/basic/, hal 44. Lihat juga pada Tata Gereja dan Peraturan-peraturan Gereja Kristen Injili di Tanah Papua. Jayapura: Badan Pekerja Sinode Gereja Kristen Injili di Tanah Papua,2022, hal 62-63 d. Mengusulkan pengenaan tindakan disiplin gereja kepada anggota sidi jemaat dan Majelis Jemaat yang melanggar Firman Allah. Tata Gereja, peraturan, pedoman dan keputusan sidang gereja kepada Badan Pekerja Klasis. Mengangkat dan memberhentikan Badan Pelayan Unsur-Unsur Jemaat. Majelis Jemaat memiliki tugas: Mengumpulkan anggota jemaat sekeliling Firman Allah dan Sakramen. Mempersiapkan ibadah jemaat agar berlangsung dengan sopan dan teratur. Mengembalakan anggota jemaat. Melakukan pelayanan kasih dan keadilan kepada anggota jemaat dan sesama yang lain. Mengelola keuangan dan harta milik gereja lainnya di jemaat untuk mewujudkan panggilan persekutuan, kesaksian, pelayanan kasih, dan keadilan. Melaksanakan rapat evaluasi setiap minggu. Majelis Jemaat memiliki tanggungjawab: Mengawasi dan mengelola seluruh perbendaharaan atau harta milik Gereja di jemaat. Menindaklanjuti laporan hasil pemeriksaan Badan Pengawasan Perbendaharaan Gereja. Mempertanggungjawabkan pelaksanaan wewenang dan tugas kepada sidang jemaat. Majelis Jemaat memiliki kewajiban: Memegang teguh Alkitab sebagai Firman Allah. Menaati Tata Gereja. Peraturan. Pedaoman dan Keputusan Sidang Gereja. Menjalankan kehidupan dalam iman. Pengharapan, dan kasih dalam Yesus Kristus sebagai Kepala Gereja. Mewakili anggota jemaat di dalam dan di luar peradilan. Mengembalakan anggota jemaat dengan penuh kasih kepada Tuhan. Melaksanakan program - kegiatan strategis demi pertumbuhan jemaat. Menyusun Rencana Program Ae Kegiatan dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Jemaat untuk disahkan dalam sidang jemaat. Menyelanggarakan Sidang Jemaat. Berdasarkan Wewenang. Tugas. Tanggungjawab, dan Kewajiban Majelis Jemaat sebagaimana tertulis di atas, maka seorang Majelis Jemaat harus memiliki karakter yang baik dan dinampakkan melalui spiritualitas kristen dan integritas hidup yang utuh secara etis dan moral sehingga tanggungjawabnya sebagai seorang Majelis Jemaat dilakukan dengan baik dan setia serta bertanggungjawab kepada Tuhan dan jemaat. Kecatatan yang terjadi pada dirinya karena tidakan etis dan moral yang bertentangan dengan Firman Tuhan, akan berdampak pada seluruh pelayanan yang dilakukan kepada jemaat. Selain itu, seorang Majelis Jemaat juga harus melakukan tugas tanggungjawab kemajelisan secara profesional. Itulah sebabnya perlu sekali dilakukan pembinaan kepada Majelis Jemaat secara berkala dan terencana agar seorang Majelis Jemaat memahami secara benar tugas dan tanggungjawabnya dan melakukannya dengan setia. KESIMPULAN Berdasarkan kajian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa spiritualitas adalah roh yang menggerakkan seseorang untuk secara sungguh-sungguh yang dilandasi oleh ketaatan terhadap Tuhan dan komitmen yang tampak pada integritasnya terhadap tanggungjawab yang diberikan kepadanya. Spiritualitas dan integritas itu juga akan menuntun seseorang untuk menjaga karakter hidupnya yang tampak melalui moral dan etika serta menjalankan tugas dan tanggungjawabnya dengan serius. Demikian halnya dengan seorang Majelis Jemaat. Penting sekali seorang Majelis Jemaat memiliki spiritualitas kristen dan integritas yang baik agar hidupnya tidak mencemari tugas dan tanggungjawab yang diamanatkan gereja kepadanya melalui pelayan yang dilakukan kepada jemaat. Spiritualitas kristen dan integritas yang baik dari seorang Majelis Jemaat, akan berdampak bagi pelayanannya terhadap jemaat demikian sebaliknya. DAFTAR PUSTAKA