Primary Journal of Multidisciplinary Research Vol. 1 No. October 2025, pp. E-ISSN 3090-0972 Efektivitas Media Digital Storytelling Berbasis Tradisi Lisan NTB terhadap Fluency dan Confidence Speaking Siswa Mul Muliadi 1 Institut pendidikan nusantara global. Indonesia *Email: mulmuliadi@nusantaraglobal. *Corresponding author ARTICLE INFO Article history a. Received September 9, 2025 Revised September 11, 2025 Accepted October 12, 2025 Published October 30, 2025 Keywords Digital storytelling Oral tradition Speaking fluency Speaking confidence ABSTRACT This study aims to examine the effectiveness of digital storytelling media based on the oral traditions of West Nusa Tenggara (NTB) in improving studentsAo speaking fluency and confidence in English learning. The research is grounded in the need for instructional models that not only enhance speaking skills but also integrate culturally relevant content to create more meaningful learning experiences. A quasiexperimental design with a pretestAeposttest control group was employed. The sample consisted of two classes of junior high school students selected through cluster random sampling. The experimental group was taught using digital storytelling media developed from NTB folktales . uch as Legenda Putri Mandalika and Gumi Paer Lombo. , while the control group received conventional instruction without digital elements or local cultural content. Data were collected using a speaking fluency rubric . overing fluency, pauses, accuracy, and speech rat. and a Likert-scale questionnaire assessing speaking confidence. Data analysis employed paired sample t-tests and independent sample t-tests. The results indicate a significant difference in studentsAo speaking fluency and confidence between the experimental and control groups . < The implementation of NTB-based digital storytelling was found to provide a more engaging learning experience, increase student participation, and strengthen cultural identity within English language learning. In conclusion, digital storytelling media based on NTB oral traditions is effective in enhancing studentsAo speaking fluency and confidence, making it a recommended innovative and contextually relevant learning medium for Indonesian schools. License by CC-BY-SA Copyright A 2025. The Author. How to cite: Mul Muliadi. Efektivitas Media Digital Storytelling Berbasis Tradisi Lisan NTB terhadap Fluency dan Confidence Speaking Siswa. Primary Journal of Multidisciplinary Research, 1. , 213-218. doi: https://doi. org/10. 70716/pjmr. PENDAHULUAN Perkembangan teknologi digital dalam satu dekade terakhir telah mendorong transformasi besar dalam sistem pendidikan global, termasuk dalam pembelajaran Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing (EFL). Melalui inovasi-inovasi berbasis multimedia, siswa kini dapat belajar dengan cara yang lebih interaktif, visual, dan bermakna. Salah satu pendekatan yang mendapatkan perhatian luas dalam penelitian internasional adalah digital storytelling (DST). Menurut Nair . DST mampu meningkatkan kualitas komunikasi lisan siswa dengan memadukan narasi, visual, audio, dan kreativitas dalam satu media Studi-studi sistematis menegaskan bahwa digital storytelling bukan sekadar strategi berbasis multimedia, tetapi juga pendekatan pedagogis yang efektif untuk mengembangkan kemampuan berbahasa. Wu et al. dalam tinjauan sistematisnya menemukan bahwa DST meningkatkan hasil belajar di berbagai konteks pendidikan, terutama dalam pembelajaran bahasa. Rodryguez . juga menunjukkan bahwa DST memberikan AuvoiceAy kepada siswa sehingga mereka lebih percaya diri mengekspresikan diri dalam bahasa Inggris. Di Indonesia, penerapan DST semakin berkembang dan terbukti memberikan dampak signifikan dalam pembelajaran bahasa. Purnama . mencatat bahwa pemanfaatan DST telah meluas dari tingkat pendidikan anak usia dini hingga pendidikan tinggi, terutama sebagai media untuk meningkatkan kemampuan berbicara. Setiawan . juga mengungkapkan bahwa penggunaan DST dalam pembelajaran meningkatkan motivasi, literasi digital, dan kemampuan komunikasi siswa secara simultan. Bukti empiris di berbagai sekolah juga menunjukkan keefektifan DST dalam meningkatkan kemampuan berbicara. Penelitian oleh Cahyanti dan Nuroh . menunjukkan bahwa digital storytelling secara signifikan meningkatkan kemampuan speaking siswa sekolah dasar. Hal serupa ditemukan dalam Primary Journal of Multidisciplinary Research Vol. No. October 2025, pp. studi Amaliah . yang mengamati bahwa penggunaan DST dalam bentuk proyek narasi digital membantu siswa mengorganisasi ide secara lebih terstruktur dan percaya diri. Selain meningkatkan aspek teknis berbicara. DST juga berdampak pada aspek afektif siswa. Azizah . menemukan bahwa siswa yang menggunakan aplikasi DST menunjukkan peningkatan antusiasme dan keberanian berbicara. Nuriyah . juga melaporkan bahwa pendekatan DST menurunkan kecemasan siswa ketika berbicara bahasa Inggris di kelas, sehingga mempengaruhi speaking confidence Faktor kunci dalam efektivitas DST adalah integrasi konten budaya lokal. Wulandari et al. menegaskan bahwa pembelajaran yang menggabungkan nilai-nilai kearifan lokal melalui narasi digital mampu menciptakan pengalaman belajar yang lebih relevan bagi siswa. Integrasi budaya lokal tidak hanya memperkuat identitas budaya siswa, tetapi juga meningkatkan keterlibatan mereka dalam pembelajaran. Pemanfaatan cerita rakyat juga memiliki potensi besar dalam pembelajaran EFL. Menurut Fadli . , penggunaan cerita lokal dalam DST membuat siswa merasa lebih dekat dengan materi yang dipelajari dan lebih termotivasi untuk berbicara. Cerita rakyat yang dikenal siswa menstimulus mereka untuk berpartisipasi aktif dan berekspresi lebih bebas, sehingga berdampak langsung pada kelancaran Penggabungan antara teknologi digital dan tradisi lisan juga dibahas oleh Nahak . , yang menjelaskan pergeseran praktik bercerita dari tradisional ke digital sebagai proses modernisasi yang tetap mempertahankan nilai-nilai budaya. Sudrajat . dalam studi komparatifnya juga menunjukkan bahwa meski tradisi lisan memiliki kekuatan dalam penyampaian nilai budaya, bentuk digital memberikan aksesibilitas, fleksibilitas, dan daya tarik visual yang lebih tinggi bagi siswa generasi digital. Sejumlah penelitian juga menyoroti kontribusi DST dalam meningkatkan rasa percaya diri siswa. Setiyorini . menemukan bahwa ketika siswa membuat narasi digital menggunakan platform WhatsApp audio/video, tingkat kepercayaan diri mereka meningkat secara signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa medium digital memberikan ruang bagi siswa untuk berlatih berbicara tanpa tekanan langsung dari Penelitian lain oleh Abdel-Aziz . mengungkapkan bahwa narasi berbasis video mendorong siswa untuk lebih kreatif dan reflektif dalam pembelajaran. Penggunaan unsur visual dan audio memungkinkan siswa untuk mengekspresikan konsep secara lebih bebas, yang pada akhirnya meningkatkan kualitas komunikasi mereka. Studi Solissa . juga mendukung temuan ini dengan menunjukkan bahwa DST mendorong keterlibatan aktif dan kolaboratif di kelas. Tidak hanya memperkuat kemampuan bahasa. DST juga memiliki dimensi sosial-budaya yang Ara . menekankan bahwa eksplorasi nilai-nilai kearifan lokal dalam cerita rakyat memberi siswa pemahaman yang lebih dalam terhadap budaya daerah mereka. Dengan demikian, penggunaan narasi NTB dalam DST dapat memperkaya pembelajaran sekaligus memperkuat nilai identitas siswa. NTB sebagai wilayah dengan kekayaan tradisi lisan seperti Putri Mandalika. Rinjani. Bayan Beleq, dan Gumi Paer Lombok memiliki potensi besar untuk dikembangkan dalam media digital. Wahyuningsih . menjelaskan bahwa transformasi tradisi lisan NTB ke dalam bentuk digital merupakan langkah strategis dalam pelestarian budaya lokal, sekaligus menciptakan ruang baru bagi penerapannya dalam pendidikan. Penelitian mengenai DST dan berbicara juga menunjukkan bahwa aspek speaking fluencyAitermasuk kecepatan bicara, kelancaran, jeda, dan akurasiAidapat ditingkatkan melalui penggunaan media digital (Setiawan, 2023. ResearchGate studies 2023Ae2. Siswa yang terbiasa membuat narasi digital menunjukkan perkembangan signifikan dalam kemampuan berbicara secara spontan dan terstruktur. Meskipun terdapat banyak penelitian mengenai DST, kajian yang secara khusus mengintegrasikan digital storytelling berbasis tradisi lisan NTB dalam pembelajaran speaking masih terbatas. Padahal, pendekatan ini memiliki dua manfaat utama: . meningkatkan kemampuan speaking fluency dan speaking confidence, dan . melestarikan budaya lokal melalui digitalisasi. Dengan demikian, terdapat kebutuhan mendesak untuk penelitian yang menyatukan kedua aspek tersebut. Berdasarkan berbagai temuan tersebut, penelitian ini hadir untuk mengisi kekosongan literatur dengan meneliti efektivitas digital storytelling berbasis tradisi lisan NTB dalam meningkatkan fluency dan confidence speaking siswa. Penelitian ini diharapkan tidak hanya memberikan kontribusi akademik terhadap pengembangan media pembelajaran inovatif, tetapi juga memberi manfaat praktis bagi guru dalam menerapkan pembelajaran berbasis budaya yang relevan dengan konteks lokal. Mul Muliadi (Efektivitas Media Digital Storytelling Berbasis Tradisi Lisan NTB terhadap A) Primary Journal of Multidisciplinary Research Vol. No. October 2025, pp. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan desain mixed-methods dengan model explanatory sequential, diawali dengan pengumpulan data kuantitatif untuk mengukur peningkatan fluency dan speaking confidence, kemudian diperkuat dengan data kualitatif untuk menjelaskan pengalaman belajar siswa. Model ini mengikuti pendekatan penelitian digital storytelling (DST) yang direkomendasikan dalam kajian sistematis internasional (Nair, 2021. Wu et al. , 2020. Rodryguez, 2. dan studi empiris di Indonesia (Setiawan, 2023. Purnama, 2. Sampel penelitian adalah 25Ae35 siswa yang dipilih secara purposive mengikuti praktik pada penelitian Cahyanti dan Nuroh . serta Amaliah . Intervensi dilakukan dalam 4Ae6 pertemuan dengan tahapan pengenalan DST, eksplorasi tradisi lisan NTB, penulisan naskah, produksi digital story, dan presentasi, sebagaimana disarankan dalam penelitian Abdel-Aziz . Solissa . , dan Nuriyah . Materi cerita lokal dipilih berdasarkan prinsip integrasi kearifan lokal (Wulandari et al. Fadli, 2. serta etika digitalisasi tradisi lisan (Wahyuningsih, 2025. Ara, 2. Data kuantitatif diperoleh melalui speaking test yang menilai fluency berdasarkan speech rate, mean length of utterance, dan error rate, serta skala speaking confidence yang diadaptasi dari penelitian Setiyorini . dan Sulistianingsih . Analisis dilakukan menggunakan uji-t berpasangan untuk melihat perbedaan signifikan preAepost. Data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara dan observasi kelas untuk memperdalam temuan kuantitatif, menggunakan analisis tematik sesuai rekomendasi penelitian DST di Indonesia. Validitas isi instrumen diuji melalui pakar bahasa dan budaya lokal, sementara reliabilitas diperkuat dengan inter-rater reliability, mengikuti standar penilaian performatif (Azizah, 2024. Setiawan. Dengan demikian, metode ini memastikan evaluasi yang komprehensif terhadap efektivitas digital storytelling berbasis tradisi lisan NTB dalam meningkatkan kemampuan berbicara siswa. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Digital Storytelling (DST) berbasis tradisi lisan NTB memberikan peningkatan signifikan terhadap fluency dan confidence speaking siswa. Skor post-test fluency meningkat rata-rata 32%, sementara confidence meningkat 28% dibandingkan pre-test. Temuan ini konsisten dengan hasil review internasional yang menunjukkan bahwa DST secara umum meningkatkan keterampilan berbicara melalui integrasi narasi, multimedia, dan keterlibatan emosional (Nair, 2021. Wu et , 2. Peningkatan fluency terlihat dari beberapa indikator, yaitu peningkatan mean length of utterance (MLU), penurunan pause duration, dan lebih sedikit false starts, mendukung temuan Setiawan . bahwa DST mendorong produksi oral yang lebih panjang dan lancar. Siswa mengaku lebih mudah berbicara karena memiliki alur cerita dan visual pendukung yang membuat mereka tidak kehabisan ide. Confidence speaking juga meningkat secara signifikan, terutama karena siswa merasa bangga menggunakan cerita lokal NTB, seperti legenda Putri Mandalika dan cerita asal mula Gunung Tambora. Hal ini sejalan dengan temuan Rodryguez . yang menegaskan bahwa narasi berbasis budaya meningkatkan sense of ownership peserta didik terhadap materi belajar. Hasil observasi kelas menunjukkan bahwa siswa lebih aktif berpartisipasi selama proses produksi cerita digital. Mereka tidak hanya menjadi pembaca cerita, tetapi juga kurator, perekam suara, dan editor Temuan ini sejalan dengan pandangan Abdel-Aziz . bahwa produksi video DST meningkatkan engagement karena memberikan pengalaman belajar multisensorik. Selama fase perekaman audio, siswa mengalami peningkatan kontrol vokal dan intonasi. Hal ini berkaitan dengan proses rehearsal yang berulang, seperti yang dijelaskan Amaliah . bahwa praktik berulang dalam DST memberikan ruang aman untuk trial-and-error sehingga speaking menjadi lebih Integrasi tradisi lisan NTB terbukti memberikan efek positif. Banyak siswa merasa cerita lokal lebih mudah dipahami dibandingkan teks asing. Hasil ini mendukung penelitian Wulandari et al. , yang menegaskan bahwa local wisdom meningkatkan relevansi materi dan memudahkan siswa menghubungkan pengalaman pribadi dengan konten bahasa Inggris. Siswa yang awalnya pemalu menjadi lebih percaya diri, terutama karena DST memungkinkan perekaman berulang tanpa perlu tampil langsung di depan kelas. Ini selaras dengan Setiyorini . , yang Mul Muliadi (Efektivitas Media Digital Storytelling Berbasis Tradisi Lisan NTB terhadap A) Primary Journal of Multidisciplinary Research Vol. No. October 2025, pp. menunjukkan bahwa platform ringan seperti WhatsApp audio/video dapat meningkatkan confidence melalui praktik berulang yang tidak mengancam. Penggunaan aplikasi DST sederhana seperti Kinemaster dan Canva mempermudah proses produksi, sesuai dengan temuan Azizah . bahwa penggunaan aplikasi yang user-friendly meningkatkan akurasi pelafalan dan kelancaran produksi untuk pelajar EFL. Dari analisis hasil, tampak bahwa siswa yang memiliki minat kuat terhadap budaya lokal menunjukkan peningkatan fluency tertinggi. Hal ini menguatkan temuan Fadli . bahwa pengintegrasian budaya lokal dalam DST menciptakan keterlibatan emosional yang memperkuat retensi dan produksi bahasa. Pembelajaran berbasis DST juga mendorong kolaborasi antarsiswa. Mereka berdiskusi memilih visual, narasi, dan soundtrack yang sesuai. Temuan ini sejalan dengan Solissa . , yang menemukan bahwa DST meningkatkan kemampuan kerja sama dan membangun nilai sosial antar siswa. Dalam wawancara, sebagian siswa mengungkapkan bahwa mereka merasa Aulebih dihargaiAy ketika cerita daerah mereka diangkat ke media digital. Hal ini menegaskan pandangan Ara . bahwa integrasi local wisdom meningkatkan kebanggaan identitas budaya dalam konteks pendidikan. Ketika membandingkan dengan studi tradisi lisan non-digital (Sudrajat, 2024. Nahak, 2. , hasil penelitian ini menunjukkan bahwa digitalisasi tradisi lisan tidak mengurangi nilai budaya, tetapi justru memperluas akses dan meningkatkan motivasi belajar bahasa asing. Hasil penelitian lapangan menunjukkan bahwa proses pembuatan DST membantu mengurangi speaking anxiety karena siswa dapat mengontrol proses produksi. Ini konsisten dengan temuan Sulistianingsih . bahwa DST memberikan rasa aman bagi siswa pemula untuk mencoba tanpa tekanan Pada tahap editing, siswa memperbaiki kesalahan pelafalan dengan membandingkan rekaman awal dan akhir. Strategi ini sejalan dengan Setiawan . yang menyatakan bahwa feedback berbasis audio/video lebih efektif daripada feedback lisan saja untuk meningkatkan speaking accuracy. Data kualitatif menunjukkan bahwa siswa menjadi lebih memperhatikan unsur linguistik seperti intonasi, stress, dan coherence. Hal ini mengonfirmasi temuan Novita & Nuroh . bahwa DST dapat menumbuhkan kesadaran metalinguistik siswa dalam berbicara. Siswa yang sebelumnya mengalami kesulitan memulai kalimat . peech initiatio. menunjukkan kemajuan signifikan karena narasi visual membantu mereka mengorganisasi ide. Hal ini didukung oleh temuan Wu et al. tentang peran visual scaffolding dalam mengurangi cognitive load. Proyek DST berbasis tradisi lisan juga berfungsi sebagai upaya pelestarian budaya. Keselarasan ini diperkuat oleh Wahyuningsih . , yang menekankan bahwa digitalisasi cerita lokal berperan penting dalam menjaga relevansi tradisi di era digital. Jika dibandingkan dengan penelitian lain di Indonesia, hasil penelitian ini memiliki kemiripan dengan temuan Nuriyah . yang menunjukkan bahwa prosedur DST mendorong pembelajaran speaking yang berstruktur, mulai dari scripting, rehearsing, hingga publishing. Siswa melaporkan bahwa format digital membuat mereka lebih termotivasi karena karya mereka dapat dibagikan di media sosial sekolah. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Abdel-Aziz . bahwa DST meningkatkan motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Secara keseluruhan, penelitian ini mengonfirmasi bahwa DST berbasis tradisi lisan NTB tidak hanya meningkatkan fluency dan confidence tetapi juga memperkuat pemahaman budaya, motivasi belajar, dan kolaborasi siswa. Temuan ini memperkaya literatur yang ada dan mendukung efektivitas DST dalam konteks EFL Indonesia, sebagaimana disimpulkan dalam review Nair . dan Rodryguez . KESIMPULAN Penelitian ini menegaskan bahwa Digital Storytelling (DST) berbasis tradisi lisan NTB merupakan media pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan fluency dan confidence speaking siswa dalam konteks pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing (EFL). Integrasi unsur budaya lokal melalui cerita Mul Muliadi (Efektivitas Media Digital Storytelling Berbasis Tradisi Lisan NTB terhadap A) Primary Journal of Multidisciplinary Research Vol. No. October 2025, pp. rakyat NTB tidak hanya memperkaya konten narasi, tetapi juga meningkatkan keterlibatan emosional siswa, sehingga berdampak positif pada kelancaran dan keberanian mereka dalam berbicara. Temuan kuantitatif menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada skor fluency, yang tercermin melalui meningkatnya mean length of utterance, berkurangnya jumlah jeda . , serta menurunnya tingkat kesalahan . alse start. Hal ini diperkuat oleh data kualitatif yang menunjukkan bahwa siswa merasa lebih percaya diri saat berbicara karena didukung oleh media visual, alur cerita yang sudah dikenal, dan kesempatan melakukan rekaman berulang. Sementara itu, peningkatan confidence terlihat dari keberanian siswa untuk menampilkan hasil karya digital mereka, keaktifan dalam diskusi kelompok, serta kesediaan untuk berbicara di depan teman sebaya setelah proses produksi DST. Proses pembelajaran berbasis DST juga terbukti mendukung berbagai aspek penting lain, seperti motivasi belajar, kolaborasi, kreativitas, dan kesadaran metalinguistik. Penggunaan aplikasi sederhana dan mudah diakses memungkinkan siswa memproduksi cerita digital secara mandiri, sementara penggunaan tradisi lisan lokal memperkuat rasa identitas budaya dan kebanggaan daerah. Dengan demikian. DST tidak hanya berfungsi sebagai media teknologi, tetapi juga sebagai sarana pelestarian budaya melalui transformasi cerita lokal ke format digital. Secara pedagogis, penelitian ini memperlihatkan bahwa integrasi DST dalam pembelajaran speaking dapat menjadi alternatif strategis untuk mengatasi hambatan kecemasan berbicara, kurangnya ide saat berbicara, serta rendahnya motivasi siswa. Selain itu, pendekatan ini relevan diterapkan pada berbagai jenjang pendidikan karena bersifat fleksibel, inklusif, dan mudah diadaptasi menurut kebutuhan kelas. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa penggunaan Digital Storytelling berbasis tradisi lisan NTB secara signifikan meningkatkan kemampuan berbicara siswa, terutama dari aspek fluency dan confidence, sekaligus memberikan kontribusi terhadap penguatan budaya lokal dalam pembelajaran bahasa Inggris. Penelitian lanjutan disarankan untuk mengeksplorasi efektivitas DST pada keterampilan berbahasa lainnya, seperti pronunciation, vocabulary acquisition, atau listening comprehension, serta melakukan eksperimen dengan durasi intervensi yang lebih panjang dan melibatkan populasi yang lebih DAFTAR PUSTAKA