Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 1999-2006 Kesiapan Finansial Petani Kelapa Sawit dalam Peremajaan Kebun (Replantin. (Studi Kasus di Desa Sukamulya. Kecamatan Singkup. Kabupaten Ketapan. Financial Readiness of Oil Palm Farmers in Replanting (Case Study in Sukamulya Village. Singkup District. Ketapang Regenc. Ayuk Sudarwati*. Jajat Sudrajat. Shenny Oktoriana Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Tanjungpura Jl. Prof. Dr. Hadari Nawawi. Pontianak *Email: ayusasatrawidya731@gmail. (Diterima 05-02-2025. Disetujui 25-06-2. ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pendapatan usahatani kelapa sawit, serta menganalisis tingkat kemampuan ekonomi rumah tangga petani kelapa sawit dalam peremajaan kebun . Sampel pada penelitian ini adalah petani yang diambil dairi Desa Sukamulya sebanyak 64 responden. Metode analisis data yang digunakan adalah kuantitatif dianalisis dengan menggunakan Microsoft Excel. Hasil penelitian menunjukan bahwa petani kelapa sawit secara ekonomi mampu dalam membiayai peremajaan kelapa sawit. Namun, pada petani kelapa sawit umur 21 tahun belum mampu untuk memenuhi kebutuhan umah tangganya hingga tanaman menghasilkan dengan kemampuan ekonomi sebesar 54%. Hal ini dikarenakan, petani kelapa swit umur 24 tahun pada pendapatan diluar pertanian (Non Far. lebih tinggi yaitu sebesar 49% dibandingkan dengan pendapatan dari kelapa sawit. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa pada pendapatan di luar pertanian petani kelapa sawit sangat membantu petani untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Kata kunci : Peremajaan. Pendapatan. Usahatani Kelapa Sawit. ABSTRACT The purpose of this study is to analyze the income of oil palm farming, as well as to analyze the level of economic ability of oil palm farmer households in replanting. The sample in this study was farmers taken from Sukamulya Village as many as 64 respondents. The data analysis method used is quantitative analyzed using Microsoft Excel. The results of the study show that oil palm farmers are economically able to finance oil palm However, 21 year-old oil palm farmers have not been able to meet the needs of their farmers until the crop produces with 54% economic capacity. This is because 24 year-old Swiss coconut farmers have a higher income outside of agriculture (Non-Far. , which is 49% compared to income from oil palm. Thus, it can be concluded that the income outside of agriculture of oil palm farmers is very helpful for farmers to meet household needs. Keywords: Relanting. Income. Oil Palm Farming. PENDAHULUAN Tanaman kelapa sawit (Ellaeis Guineensis Jac. merupakan komoditas utama perkebunan yang memiliki peran sangat strategis dalam pembangunan perekonomian di Indonesia. Berdasarkan data statistik Dirjenbun tahun . Indonesia merupakan negara yang menduduki peringkat pertama sebagai produsen kelapa sawit dunia, hal ini didukung oleh luas areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia menduduki peringkat pertama di dunia. Luasnya perkebunan kelapa sawit di Indonesia diusahakan oleh Perusahaan Besar Swasta (PBS) dengan menempati posisi pertama yaitu 54,69 % atau seluas 7. 298 hektar, dilanjutkan Perkebunan Rakyat (PR) yaitu 41,44 % atau seluas 058 hektar dan luas Perusahaan Besar Negara (PBN) menempati posisi terakhir yaitu sebesar 3,88 % atau 565. 241 hektar. Perkebunan kelapa sawit di Indonesia tersebar di 26 Provinsi dimana pulai Sumatra dan Kalimantan merupakan sentra produsen kelapa sawit (Direktorat Jendral Perkebunan, 2. Provinsi Kalimantan Barat merupakan produsen kelapa sawit kedua tersebar kedua di Indonesia yang tercatat memiliki luas areal Perkebunan Rakyat (PR) sebesar 1. 533 hektar dengan produksi 338 ton pada tahun 2021, (Ditjenbun, 2. Kabupaten Ketapang merupakan salah satu Kesiapan Finansial Petani Kelapa Sawit dalam Peremajaan Kebun (Replantin. Ayuk Sudarwati. Jajat Sudrajat. Shenny Oktoriana wilayah dengan pertumbuhan perkebunan kelapa sawit yang cukup pesat di Provinsi Kalimantan Barat. Luas areal tanaman kelapa sawit milik Perkebunan Rakyat (PR) di Kabupaten Ketapang pada tahun 2021 sebesar 196. 283 hektar dengan total produksi 419. 593 ton (Dinas Perkebunan Kabupaten Ketapang, 2. Kecamatan Singkup memiliki jumlah produktivitas perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Ketapang dan dengan jumlah luas areal yaitu 9. 969 hektar atau sebesar 30,7 % dari total luas areal tanaman perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Ketapang. Hal ini menjadi pendukung bahwa sebagian besar masyarakat di Kecamatan Singkup di Desa Sukamulya berprofesi sebagai petani kelapa sawit dan perkebunan kelapa sawit menjadi sumber penghasilan utama dalam memenuhi kebutuhan hidup. Perkebunan kelapa sawit di Desa Sukamulya telah dioperasikan sejak tahun 2000/2001 dan 2002/2003. Sesuai dengan daur umur teknis budidaya tanaman kelapa sawit yang harus dipersiapkan untuk peremajaan setelah umur 25 tahun keatas, replanting merupakan proses peremajaan kebun kelapa sawit yang telah berusia 20-25 tahun dengan pohon kelapa sawit yang baru. Karena, pohon kelapa sawit yang telah berusia 25 tahun keatas tidak lagi produktif hasilnya dan semakin menurun setiap bulannya. Pohon kelapa sawit bisa saja tidak memberi manfaat yang besar kepada pemiliknya karena tidak produktif dan hasilnya sedikit (Saputri, 2. Kondisi ini berakibat pada kurangnya pendapatan petani dan menyebabkan rendahnya tingkat kesejahteraan petani tersebut. Ditamba lagi sebagian besar kebun swadaya menggunakan bahan tanam tidak unggul . , menyebabkan produktivitas kelapa sawit rendah dengan rata-rata 2-3 ton/ha/tahun, jauh dibawah perkebunan swasta yang berkisar 5-6 ton/ha/tahun (Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit, 2. Namun faktanya peremajaan kebun kelapa sawit membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Marlina . menyebutkan standar biaya teknis peremajaan kebun kelapa sawit pola swadaya sebesar Rp. 069 per hektar, fakta ini merupakan titik berat petani dalam melakukan peremajaan. Masalah ekonomi dalam peremajaan adalah biaya yang akan dikeluarkan petani selama masa peremajaan, tanpa adanya masukan pendapatan dari kebun kelapa sawit seperti sebelumnya sementara petani harus membiayai kebutuhan rumah tangganya, banyaknya biaya yang dibutuhkan petani sebelum masa peremajaan baik untuk konsumsi rumah tangga maupun biaya peremajaan sehingga dikaitkan dengan kemampuan ekonomi petani dalam melakukan peremajaan kelapa sawit sangatlah rendah. Mengingat kebutuhan rumah tangga yang terus meningkat sementara usahatani kelapa sawit masih tahap peremajaan maka diperlukan solusi bagi petani dalam pelaksanaan peremajaan. Hal ini menyebabkan munculnya pengambilan keputusan untuk mencurahkan waktu kerja lebih banyak ke dalam kegiatan off farm atau aktivitas kerja non farm. Untuk pendapatan on farm petani melakukan peremjaan dengan menggunakan teknik underplanting yaitu menanam tanaman baru diantara tanaman tua sehingga petani tetapmemiliki pendapatan dari kebun kelapa sawit. Dengan adanya penambahan pendapatan on farm, off farm, maupun non farm yang dilakukan petani selama pelaksanaan peremajaan diharpkan kebutuhan rumah tangga petani tetap terpenuhi. Kemampuan untuk meremajakan kebun kelapa sawit sangat ditentukan oleh kemampuan modal yang dimiliki petani kelapa sawit sehingga menjadi penting untuk diamati dengan ekonomi petani, terutama pada tingkat sumber pendapatan petani dan kesiapan modal petani untuk melakukan peremajaan dalam menghadapi masa tunggu. Selain itu, rendahnya perencanaan dan pengelolaan keuangan, menyebabkan tidak adanya percadangan dana/modal yang diperlukan baik untuk peremajaan maupun peningkatan produktivitas kebun. Adanya keterbatasan modal petani melakukan peremajaan kebun kelapa sawit mengakibatkan rendahnya luas lahan kelapa sawit yang dapat Berdasarkan latar belakang diatas, penting dilakukan penelitian tentang bagaimana pendapatan usahatani kelapa sawit dan bagaimana tingkat kesiapan kemampuan ekonomi rumah tangga petani kelapa sawit dalam peremajaan kebun (Replantin. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di Desa Sukamulya. Kecamatan Singkup. Kabupaten Ketapang. Pemilihan lokasi penelitian ini dengan sengaja . dengan pertimbangan bahwa Desa Sukamulya merupakan salah satu sentra perkebunan kelapa sawit yang memasuki usia tahun tanaman . -25 tahu. dimana seharusnya petani kelapa sawit sudah melakukan persiapan untuk menghadapi peremajaan . Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kuantitatif di analisis dengan menggunakan bantuan Micorosft Excel. Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume. Nomor. Bulan Tahun: x-x Dengan penggunaan variabel, kita dapat dengan mudah memperoleh dan memahami permasalahan. Oleh karena itu, sebagai langkah awal penelitian perlu dilakukan penetapan variabel-variabel Variabel penelitian terbagi menjadi empat yaitu sebagai berikut: Pendapatan usahatani adalah selisih antara penerimaan usahatani kelapa sawit dan total biaya usahatani kelapa sawit yang diukur dalam satuan rupiah (Rp/Ha/Tahu. Pendapatan Total Rumah tangga adalah jumlah antara pendapatan usahatani kelapa sawit . n far. , pendapatan di pertanian . ff far. , dan pendapatan di luar pertanian . on far. yang diukur dalam satuan (Rp/Ha/Tahu. Pengeluaran Total Rumah Tangga adalah jumlah antara pengeluaran pangan, pengeluaran non pangan dan pengeluaran lainnya. Diukur dalam satuan (Rp/Tahu. Kemampuan Ekonomi Petani adalah jumlah antara tabungan dibagii dengan biaya peremajaan. Diukur dengan (%). Populasi dalam penelitian ini adalah kelompok tani yang terdapat di Desa Sukamulya. Kecamatan Singkup. Kabupaten Ketapang. Jumlah kelompok tani yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah 9 kelompok tani dengan jumlah keseluruhan 179 petani. Populasi tersebut dipilih secara purposive atau sengaja berdasarkan pertimbangan bahwa petani yang mengusahakan kelapa sawit di Desa Sukamulya dngan tahun tanam 2000/2001 dan 2002/2003 belum melakukan persiapan peremajaan . Penarikan sampel pada penelitian ini yaitu berjumlah 64 petani responden yang tersebar di 9 kelompok tani dengan menggunakan teknik random Sampling yaitu setiap orang dari seluruh populasi target memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sumber data. Responden yang dipilih berdasarkan status petani kelapa sawit di Desa Sukamulya yang memiliki umur tanam 21 dan 24 tahun. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah data yang berasal melalui pengumpulan data dari instansi dan lembaga terkait. Laporan-laporan instansi terkait seperti Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Barat. Dinas Perkebunan Kabupaten Ketapang. Badan Pusat Statistik (BPS), jurnal, artikel, skripsi, buku-buku yang relevan dan sumber lainnya yang berkaitan dengan penelitian (Sugiyono, 2. Analisis Data Analisis pendapatan usahatani kelapa sawit swadaya. Dengan menggunakan rumus menurut (Soekartawati, 1. Total biaya yang di keluarkan Rumus : TC = TFC TVC Keterangan: : Total Cost atau Total Biaya (R. TFC : Total Fixed Cost atau Biaya Tetap (R. TVC : Total Variable Cost atau Biaya Variabel (R. Total penerimaan yang diperoleh Rumus : TR = Y. ycE Keterangan: : Total Revenue atau Penerimaan (R. : Produksi yang diperoleh (K. ycE : Harga Jual Produk (Rp/K. Pendapatan yang diperoleh Rumus : I = TR Ae TC Keterangan: : Income atau Pendapatan (R. : Total Revenue atau Penerimaan (R. : Total Cost atau Total Biaya (R. Kesiapan Finansial Petani Kelapa Sawit dalam Peremajaan Kebun (Replantin. Ayuk Sudarwati. Jajat Sudrajat. Shenny Oktoriana Analisis tingkat kemampuan ekonomi petani dalam peremajaan kelapa sawit yaitu dengan menggunakan 2 rumus menurut (Tirta, 2. Tr = Tabungan Potensial Tr = ((OI Pendapatan/tahun x Rentang waktu menuju replantin. Tabungan yang sudah ada saat ini ) Surplus pendapatan diperoleh dengan cara menghitung selisih pendapatan rumah tangga petani dengan pengeluaran rumah tangga, dengan menggunakan rumus menurut (Soekartawati, 1. Pendapatan rumah tangga petani ycE = ycE ycE ycE Keterangan : Prt : Pendapatan Total Rumah Tangga (R. Pon farm : Pendapatan dari usahatani kelapa sawit (R. Poff farm : Pendapatan dari usahatani diluar kelapa sawit (R. Pnon farm : Pendapatan dari luar usahatani (R. Pengeluaran rumah tangga ycNycyyceycuyci = ycEycE ycEycAycE ycEycu Keterangan : Tpeng : Total Pengeluaran Petani (Rp/Tahu. : Pengeluaran untuk Pangan (Rp/Tahu. PNP : Pengeluaran untuk Non Pangan (Rp/Tahu. : Pengeluaran Lainnya . Ke = ycU 100% Keterangan: : Kemampuan Ekonomi Petani : Tabungan Potensial Rumah Tangga (R. : Biaya Peremajaan Kebun Kelapa Sawit (Rp/H. : Luas Lahan (H. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Petani Kelapa Sawit Tabel 1. Karakteristik Petani Kelapa Sawit di Desa Sukamulya Umur Tanaman (Tahu. Variabel Kategori Frekuensi Proporsi Frekuensi (Oran. (%) (Oran. Jumlah Responden 30 Ae 37 Umur Petani 38 Ae 45 46 - 54 SMP Tingkat Pendidikan SMA Jumlah Anggota Keluarga Pola I Proporsi (%) Kesiapan Finansial Petani Kelapa Sawit dalam Peremajaan Kebun (Replantin. Ayuk Sudarwati. Jajat Sudrajat. Shenny Oktoriana Sumber Mata Pencaharian Pola II Pola i Pola IV Pola V Pola VI Pola VII Pola Vi Pola IX Pola X Sumber: Data Primer Olahan . Penggolangan umur di atas 30 tahun hingga 54 tahun dikelompokan ke dalam umur produktif. Pada hasil penelitian ini diketahui bahawa sebesar 98% petani kelapa sawit umur 21 dan 24 tahun termasuk usia produktif yang berarti petani kelapa sawit umur 21 dan 24 tahun mempunyai kemampuan fisik untuk bekerja secara maksimal untuk mengelola usahataninya. Selain itu, pada kondisi umur yang masih produktif petani mendukung untuk lebih mudah menerima inovasi baru. Selanjutnya harapan untuk memperoleh pendapatan dan keuntungan kan semakin besar dan akan berdampak kepada kesejahteraan petani di daerah penelitian. Tingkat pendidikan petani kelapa sawit pada usia 21 dan 24 tahun rata-rata berada pada tingkat SMP sebesar 39% dan pada tingkat SMA sebesar 25%, sehingga dapat disimpulkan tingkat pendidikan petani kelapa sawit usia 21 dan 24 tahun dalam kategori tinggi. Pendidikan relatif tinggi akan memengaruhi petani dalam menentukan keputusan dalam berusahatani. Karena semakin tinggi tingkat pendidikan petani, maka semakin mampu petani beradaptasi dan mengikuti perkembangan yang terjadi (Hernanto, 1. Jumlah anggota keluarga merupakan seluruh anggota keluarga yang tinggal satu rumah dengan petani yang menjadi tanggungan kepala keluarga. Dapat diketahui jumlah anggota keluarga petani kelapa sawit usia 21 dan 24 tahun sebagian besar yaitu berada pada interval 3-4 atau sebesar 84%. Besarnya jumlah anggota keluarga akan berpengaruh terhadp pengembangan usahatani serta menyebabkan banyaknya biaya yang harus dikeluarkan dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga. Selain itu, besarnya jumlah anggota keluarga akan berpengaruh pada jumlah tenaga kerja dalam keluarga terutama tenaga kerja dalam usia produktif. Karena dengan banyaknya jumlah tenaga kerja yang berusia produktif maka akan membantu petani dalam meningkatkan prroduksi dalam kegiatan Sebagaian besar didaerah penelitian petani kelapa sawit usia 21 dan 24 tahun memiliki cabang usaha, karena dengan melakukan cabang usaha dapat memeperkecil resiko kegagalan usahatani dan juga mampu memberikan tambahan pendapatan terhadap petani. Sejalan dengan hasil di daerah penelitian yaitu sumber pendapatan petani kelapa sawit usia 21 dan 24 tahun yang hanya mengusahakan sumber pendapatan kelapa sawit sebagai pendapatan utama sebesar 8% atau sebanyak 5 petani, hal ini menunjukan jumlah petani kelapa sawit di daerah penelitian sebesar 92% atau sebanyak 59 petani memiliki sumber pendapatan dari kelapa sawit dan cabang usaha lainnya dalam memunuhi pendapatan rumah tangga petani. Pendapatan Rumah Tangga Pendapatan rumah tangga petani merupakan pendapatan yang diterima oleh petani baik dari usahatani kelapa sawit, usahatani luar kelapa sawit, dan pendapatan dari usaha luar pertanian yang berasal dari petani yang berguna untuk memenuhi kebutuhan atau konsumsi petani. Pada pendapatan di Desa Sukamulya yaitu meliputi pendapatan On Farm. Pendapatan Off Farm, dan Pendapatan Non Farm. Berikut mengenai pendapatan petani kelapa sawit berdasarkan pola usaha dapat dilihat pada Berdasarkan Tabel 2. Menunjukan bahwa total rata-rata pendapatan pada petani kelapa sawit umur 24 tahun lebih besar dibandingkan dengan total rata-rata pendapatan pada petani kelapa sawit umur 21 tahun yaitu dengan selisih sebesar Rp. 446/Tahun atau sebesar 8% padahal pada rata-rata pendapatan kelapa sawit (On Far. umur 21 tahun lebih besar dibandingkan pada rata-rata pendapatan kelapa sawit (On Far. pada petani kelapa sawit umur 24 tahun. Hal ini disebabkan pada petani kelapa sawit umur 24 tahun rata-rata pendapatan yang diperoleh petani didominasi pada perolehan pendapatan di luar pertanian (Non Far. yaitu sebesar 49% dari total rata-rata pendapatan. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa sumber utama pendapatan rumah tangga pada petani kelapa Kesiapan Finansial Petani Kelapa Sawit dalam Peremajaan Kebun (Replantin. Ayuk Sudarwati. Jajat Sudrajat. Shenny Oktoriana sawit umur 21 dan 24 tahun tidak bergantung pada pendapatan kelapa sawit (On Far. saja, namun pada pendapatan di luar pertanaian (Non Far. dalam memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Tabel 2. Pendapatan Petani Kelapa Sawit Umur 21 dan 24 tahun di Desa Sukamulya Agustus 2023 Ae Juli 2024 Umur 21 Tahun Umur 24 Tahun Uraian Rata-rata (Rp/Tahu. Rata-rata (Rp/Tahu. Pendapatan Kelapa Sawit (On Far. Pendapatan Luar Kelapa Sawit (Off Far. Pendapatan Luar Pertanian (Non Far. Total Pendapatan (Rp/Tahu. Sumber: Data Primer Olahan . Pengeluaran Rumah Tangga Petani Kebutuhan petani dapat dianalisis berdasarkan pengeluaran petani, menurut Sayogyo . , pengeluaran per kapita per tahun adalah total pengeluaran petani baik pengeluaran untuk pangan maupun non pangan. Pengeluaran petani dibedakan atas pengeluaran pangan dan non pangan yang dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 3. Pengeluaran Petani Kelapa Sawit di Desa Sukamulya Agustus 2023 -Juli 2024 Rata-rata Pengeluaran Jenis Pengeluaran Persentase Persentase Umur 21 Tahun Umur 24 Tahun Pengeluaran Pengeluaran Pangan Beras 32,33 40,77 Lauk Pauk 29,90 22,43 Sayur & 16,31 20,19 Bumbu Minyak 4,16 0,34 Rokok 17,30 15,28 Total Non Pangan Sandang 13,34 46,84 Papan 39,20 25,95 Lain-lain. 47,47 27,22 Total 100,00 100,00 Total Pengeluaran Tabel 3 menunjukkan untuk pemenuhan kebutuhan makanan rata-rata pengeluaran per tahun pada petani kelapa sawit umur 21 tahun adalah Rp. 469/Tahun dan pengeluaran non pangan per tahun adalah Rp. 897/Tahun. Pada petani kelapa sawit umur 24 tahun untuk pemenuhan kebutuhan makanan rata-rata pengeluaran per tahun adalah Rp. 000/Tahun dan pengeluaran untuk non pangan per tahun adalah Rp. 000/Tahun. Alokasi pendapatan per tahun untuk pengeluaran menunjukan bahwa petani kelapa sawit cenderung lebih mengutamakan kebutuhan Alokasi pengeluaran petani kelapa sawit di Desa Sukamulya terbesar adalah mengutamakan kebutuhan pangan. Pengeluaran makanan terbesar adalah kebutuhan pokok seperti beras sebesar 32,33% pada petani kelapa sawit umur 21 tahun dan sebesar 40,77% pada petani kelapa sawit umur 24 tahun. Hal ini menunjukan bahwa mayoritas petani kelapa sawit di Desa Sukamulya mengkonsumsi beras sebagai bahan makanan pokok. Berdasarkan perhitungan pengeluaran petani kelapa sawit untuk kebutuhan pangan dan non pangan maka hasil dari perhitungan pengeluaran rumah tangga petani menuju peremajaan pada tanaman kelapa sawit umur 21 tahun yaitu sebesar Rp. 768/Tahun dengan rentang waktu 4 tahun. Sedangkan pada tanaman kelapa sawit umur 24 tahun yaitu sebesar Rp. 045/Tahun dengan rentang waktu 1 tahun. Meskipun petani memiliki pengeluaran yang cukup besar, petani responden Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume. Nomor. Bulan Tahun: x-x memiliki tabungan aktual sebagai dana daruratnya. Dalam penelitian ini pada petani kelapa sawit umur 21 tahun memiliki rata- rata tabungan aktual sebesar Rp. 327, sedangkan pada petani kelapa sawit umur 24 tahun memiliki rata-rata tabungan aktual sebesar Rp. Kemampuan Ekonomi Petani Kemampuan ekonomi petani dalam peremajaan didasarkan atas ketersediaan dana peremajaan dari total pendapatan dan tabungan aktual petani dengan biaya peremajaan yang dibutuhkan. Kebutuhan biaya peremajaan kelapa sawit di Desa Sukamulya per hektar adalah Rp. 000/Ha kebutuhan ini didasarkan pada Keputusan Dirjen Perkebunan No. 175/Kpts/Sr. 210/04/2021 tentang Standar Biaya Peremajaan Kelapa Sawit Pekebun. Sehingga, dapat diketahui kebutuhan biaya peremajaan pada kelapa sawit umur 21 tahun adalah sebesar Rp. 000 dengan rata-rata tanaman yang diremajakan sebesar 2,53 Ha. Sedangkan pada kebutuhan biaya peremajaan pada kelapa sawit umur 24 tahun adalah sebesar Rp. 000 dengan rata-rata tanaman yang diremajakan sebesar 3,07 Ha. Berdasarkan perhitungan kebutuhan biaya peremajaan yang sudah ditentukan maka kemampuan ekonomi petani dalam kesiapan finansial dalam melakukan peremajaan tanaman kelapa sawit pada umur 21 dan 24 tahun secara mandiri dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 4. Kemampuan Ekonomi Petani Dalam Peremajaan Hingga Tanaman Menghasilkan di Desa Sukamulya Agustus 2023-Juli 2024 Masa Peremajaan Hingga Masa Peremajaan Tanaman Menghasilkan Uraian Umur 21 Umur 24 Umur 21 Umur 24 Tabungan Potensial (R. Total Biaya Peremajaan (Rp/H. Luas lahan (H. 2,53 3,07 2,53 3,07 Kemampuan Ekonomi (%) Berdasarkan Tabel 4. Menunjukan bahwa bahwa kemampuan ekonomi petani dalam melakukan peremajaan secara mandiri pada petani kelapa sawit umur 21 tahun dengan rentang waktu 4 tahun adalah sebesar 156% yaitu dalam kategori mampu dalam membiayai peremajaan dengan memiliki dana sisa sebesar Rp. 247 setelah melakukan peremajaan kebun. Sedangkan, pada petani kelapa sawit umur 24 tahun dengan rentang waktu 1 tahun adalah sebesar 102% yaitu dalam kategori mampu dalam membiayai peremajaan dengan memiliki dana sisa sebesar Rp. 067 setelah melakukan peremajaan. Sehingga, dapat disimpulkan jika petani kelapa sawit umur 21 dan 24 tahun dengan melakukan peremajaan kebun pada umur 25 tahun atau ketika usia tanaman tidak produktif nanti secara umum petani mampu dan siap, dengan artian bahwa kebutuhan rumah tangga petani sehari-hari akan terpenuhi dan petani masih memiliki dana sisa setelah melakukan peremajaan Namun, petani kelapa sawit tentunya akan menghadapi masa tunggu tanaman kelapa sawit pasca peremajan yaitu masa TBM (Tanaman Belum Menghasilka. sehingga petani juga harus mempersiapkan biaya pasca peremajaan selama 36 bulan (TBM 1 hingga TBM . Hasil penelitian menunjukan pada petani kelapa sawit umur 21 dan 24 tahun dimana tabungan potensial yang dihitung dari tabungan aktual petani, pendapatan luar kelapa sawit dan diluar pertanian menunjukan bahwa pada petani kelapa sawit umur 21 tahun dalam membiayai peremajaan hingga tanaman menghasilkan yaitu sebesar 54% yaitu dalam kategori kemampuan tidak mampu dengan kurangnya biaya dalam peremajaan kebun hingga tanaman menghasilkan sebesar Rp. 191 yang berarti petani tetap dapat melakukan peremajaan secara mandiri namun dengan cara bertahap agar petani masih dapat memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Sedangkan, pada petani kelapa sawit umur 24 tahun dalam membiayai peremajaan hingga tanaman menghasilkan yaitu sebesar 165% yaitu dalam kategori mampu dengan sisa dana dalam peremajaan hingga tanaman menghasilkan sebesar Rp. Sehingga, pada petani kelapa sawit umur 21 dan 24 tahun dengan melakukan peremajaan kebun hingga tanaman menghasilkan . elewati masa TBM 1-TBM . secara umum petani mampu dan Dengan artian petani kelapa sawit umur 24 tahun dalam memuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari akan terpenuhi dan petani masih memiliki dana sisa hingga tanaman menghasilkan nanti. Namun, pada petani umur 21 tahun dalam estimasi membiayai peremajaan kelapa sawit hingga tanaman menghasilkan petani harus menyisihkan sebagian pendapatan yang diterima dari Jurnal Artikel Nama Penulis pendapatan usahatani pada rentang waktu 4 tahun untuk ditabung dengan menambah pendapatan luar kelapa sawit dan luar pertanian dengan disertai petani melakukan peremajaan secara bertahap. KESIMPULAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa petani yang mengusahakan tanaman kelapa sawit yang berusia 21 dan 24 tahun secara ekonomi mampu dalam membiayai peremajaan kelapa sawit. Namun, pada petani kelapa sawit umur 21 tahun belum mampu untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya hingga tanaman menghasilkan. Sedangkan, pada petani kelapa sawit umur 24 tahun secara ekonomi mampu dalam membiayai peremajaan hingga tananam menghasilkan karena adanya kontribusi dari pendapatan di luar pertanian (Non Far. Saran Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dalam penelitian ini, maka saran pada penelitian ini adalah bagi petani yang mengusahakan kelapa sawit pada umur 21 dan 24 tahun harus mempersiapkan tabungan sebelum masa peremajaan hingga tanaman menghasilkan dengan meningkatkan pendapatan pada usahatani kelapa sawit (On Far. dan terus mempertahankan pendapatan di luar pertanian (Non Far. DAFTAR PUSTAKA