Jurnal Sistem Informasi. Teknik Komputer dan Teknologi Pendidikan (JUSTIKPEN) Volume 5. Nomor 2 Edisi Oktober- Maret 2026. Page 199-205 ISSN 2828-7924 . edia onlin. | DOI: https://doi. org/10. 55338/justikpen. Peran Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Pencegahan Bullying di Sekolah Menengah Atas Negeri 10 Batang Hari Sofyan1. Yelvi Apriandini2. Linardo Pratama3 1,2,3Program Studi Administrasi Pendidikan. Universitas Jambi. Jambi. Indonesia Email: 1sofyanzaibaski@unja. yelviapriandini2@gmail. com 3linardopratama@unja. Email Penulis Korespondensi: 1sofyanzaibaski@unja. AbstrakOe Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran kepemimpinan kepala sekolah dalam pencegahan bullying di SMA Negeri 10 Batang Hari. Bullying dalam bentuk verbal, fisik, dan sosial masih ditemukan di lingkungan sekolah sehingga diperlukan kepemimpinan yang efektif untuk menciptakan budaya sekolah yang aman dan inklusif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan kepala sekolah, guru BK, guru, dan siswa, observasi kegiatan sekolah, serta studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepala sekolah menerapkan kepemimpinan transformasional, instruksional, dan partisipatif dalam upaya pencegahan bullying. Strategi yang dilakukan meliputi deteksi dini melalui pemantauan perilaku siswa dan kolaborasi dengan guru BK dan wali kelas, penanganan kasus dengan pendekatan restoratif, serta pemantauan berkelanjutan melalui koordinasi rutin dengan warga sekolah. Selain itu, kepala sekolah membangun budaya anti-bullying melalui pembinaan karakter, sosialisasi berkelanjutan, serta integrasi nilai anti-kekerasan dalam kurikulum dan kegiatan pembelajaran. Temuan ini menunjukkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah berperan penting dalam pencegahan bullying dan pembentukan iklim sekolah yang kondusif. Kata Kunci: Kepemimpinan Kepala Sekolah. Bullying. Pencegahan. Budaya Sekolah. Kepemimpinan Transformasional AbstractOe This study aims to analyze the role of the principal's leadership in preventing bullying at Batang Hari 10 Public Senior High School. Bullying in the form of verbal, physical, and social is still found in the school environment, so effective leadership is needed to create a safe and inclusive school culture. This study used a qualitative approach with a case study Data were collected through interviews with the principal, guidance counselor, teachers, and students, observations of school activities, and documentation studies. The results showed that the principal implemented transformational, instructional, and participatory leadership in efforts to prevent bullying. The strategies implemented included early detection through monitoring student behavior and collaboration with guidance counselors and homeroom teachers, handling cases with a restorative approach, and ongoing monitoring through routine coordination with the school community. In addition, the principal built an anti-bullying culture through character development, ongoing socialization, and the integration of antiviolence values into the curriculum and learning activities. These findings indicate that the principal's leadership plays a significant role in preventing bullying and creating a conducive school climate. Keywords Principal Leadership. Bullying. Prevention. School Culture. Transformational Leadership. PENDAHULUAN Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang memiliki peran penting dalam membentuk kepribadian, karakter, serta kemampuan akademik peserta didik. Namun, dalam praktiknya, sekolah tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi wadah interaksi sosial antara siswa, guru, maupun tenaga kependidikan. Interaksi yang terjadi di lingkungan sekolah sering kali menciptakan dinamika yang beragam, baik positif maupun negatif. Dalam konteks sosial ini, peserta didik belajar beradaptasi, bekerja sama, dan membangun relasi dengan berbagai karakter serta latar belakang yang berbeda. Interaksi tersebut idealnya membentuk nilai-nilai positif seperti empati, toleransi, dan sikap menghargai perbedaan. Namun, di sisi lain, apabila dinamika sosial ini tidak dikelola dengan baik, ketimpangan kekuasaan, tekanan sosial, dan perilaku menyimpang dapat muncul. Dari sinilah potensi terjadinya tindakan agresif dan perundungan . mulai berkembang di lingkungan sekolah. Penindasan dapat terjadi dalam berbagai bentuk: penindasan verbal, yang meliputi sebagai berikut dimaki, diolok-olok, dan diamankan. penindasan sosial/relasional, yang meliputi penyebaran rumor, mengucilkan diri dari teman sebaya, penghinaan di muka umum, dan pengucilan yang disengaja. serta perundungan elektronik/siber, yang melibatkan penyebaran teks atau gambar yang menyinggung melalui komputer atau Sofyan. Copyright A 2026. JUSTIKPEN. Page 199 Submitted: 2/12/2025. Accepted: 08/01/2026. Published: 15/01/2026 Jurnal Sistem Informasi. Teknik Komputer dan Teknologi Pendidikan (JUSTIKPEN) Volume 5. Nomor 2 Edisi Oktober- Maret 2026. Page 199-205 ISSN 2828-7924 . edia onlin. | DOI: https://doi. org/10. 55338/justikpen. perangkat seluler . Jenis perundungan lainnya termasuk perundungan seksual, yang meliputi pengiriman catatan, lelucon, gambar, olok-olok, dan rumor yang bernada seksual, serta perundungan non-verbal, yang meliputi penulisan menyebarkan gambar dan film yang menyakiti seseorang atau merusak reputasinya, serta mengirimkan surat, catatan, atau grafiti yang menyinggung. Selain itu, perilaku seksual yang dipaksakan dan kontak yang tidak diinginkan dapat menjadi bagian dari perundungan . Berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah memiliki peran penting dalam pencegahan dan penanganan bullying di lingkungan pendidikan. Kepala sekolah yang menerapkan kepemimpinan partisipatif serta menanamkan budaya empati terbukti mampu menurunkan kasus perundungan di sekolah . Penelitian lain juga menegaskan bahwa keberhasilan program anti-bullying sangat bergantung pada kemampuan kepala sekolah dalam merumuskan kebijakan yang tegas, adil, dan berpihak pada korban . , serta pada responsivitas kepala sekolah terhadap permasalahan sosial peserta didik dalam menciptakan iklim sekolah yang aman dan inklusif . Namun demikian, penelitian-penelitian tersebut masih memiliki keterbatasan. Pertama, sebagian besar kajian dilakukan pada konteks sekolah di negara maju, sehingga belum sepenuhnya merepresentasikan kondisi sosial, budaya, dan sistem pendidikan di Indonesia. Kedua, penelitian sebelumnya cenderung membahas kepemimpinan kepala sekolah secara umum, tanpa mengkaji secara mendalam bagaimana kombinasi gaya kepemimpinan kepala sekolah diterapkan secara konkret dalam pencegahan bullying melalui kebijakan, praktik pembinaan, dan budaya sekolah. Ketiga, keterkaitan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dan implementasi kebijakan anti-bullying dalam praktik keseharian sekolah masih jarang dianalisis secara komprehensif, khususnya pada jenjang sekolah menengah. Berdasarkan celah penelitian tersebut, penelitian ini memberikan kontribusi dengan menganalisis secara mendalam peran kepemimpinan kepala sekolah dalam pencegahan bullying pada konteks sekolah menengah di Indonesia. Penelitian ini tidak hanya mengidentifikasi gaya kepemimpinan yang diterapkan, tetapi juga mengkaji strategi konkret yang dilakukan kepala sekolah dalam deteksi dini, penanganan kasus, serta pembentukan budaya anti-bullying melalui integrasi kebijakan sekolah, pembinaan karakter, dan proses pembelajaran. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis dan praktis dalam pengembangan kepemimpinan sekolah yang efektif untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan inklusif. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus untuk memahami secara mendalam peran kepemimpinan kepala sekolah dalam pencegahan bullying di SMA Negeri 10 Batang Hari. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini berfokus pada penggalian makna, proses, dan dinamika kepemimpinan kepala sekolah dalam konteks nyata, bukan pada pengukuran kuantitatif fenomena . Informan penelitian ditentukan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu pemilihan informan secara sengaja berdasarkan keterlibatan dan pengetahuan mereka terhadap upaya pencegahan bullying di sekolah. Informan penelitian terdiri atas 1 kepala sekolah, 1 guru bimbingan dan konseling (BK), 1 Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, dan 4 siswa, sehingga total informan berjumlah 7 orang. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling, yaitu teknik pengambilan sampel secara sengaja berdasarkan pertimbangan tertentu yang ditetapkan oleh peneliti . Instrumen penelitian yang digunakan meliputi pedoman wawancara semi-terstruktur untuk menggali informasi mengenai kebijakan, strategi, dan praktik pencegahan bullying. lembar observasi untuk mengamati pelaksanaan kegiatan sekolah dan interaksi sosial siswa. serta lembar dokumentasi untuk menelaah dokumen pendukung seperti program sekolah. SOP pencegahan bullying, dan perangkat pembelajaran. Analisis data dilakukan secara interaktif dengan mengacu pada model Miles dan Huberman, yang meliputi tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Uji keabsahan data dilakukan melalui teknik triangulasi sumber dan teknik, dengan membandingkan data hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi. Melalui proses triangulasi ini, peneliti memastikan konsistensi dan validitas temuan sehingga data yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Sofyan. Copyright A 2026. JUSTIKPEN. Page 200 Submitted: 2/12/2025. Accepted: 08/01/2026. Published: 15/01/2026 Jurnal Sistem Informasi. Teknik Komputer dan Teknologi Pendidikan (JUSTIKPEN) Volume 5. Nomor 2 Edisi Oktober- Maret 2026. Page 199-205 ISSN 2828-7924 . edia onlin. | DOI: https://doi. org/10. 55338/justikpen. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Hasil Bab ini berisi penyajian data dan temuan penelitian mengenai Peran Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Pencegahan Bullying di Sekolah Menengah Atas Negeri 10 Batang Hari. Data penelitian diperoleh melalui teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi yang dilakukan terhadap kepala sekolah, guru, serta peserta didik sebagai informan. Penyajian data dalam bab ini dilakukan secara sistematis dengan mengacu pada rumusan masalah penelitian. Setiap temuan disusun berdasarkan tema utama yang mencerminkan dimensi fokus penelitian, meliputi: . strategi kepemimpinan kepala sekolah dalam mengidentifikasi dan menangani bentuk-bentuk bullying yang masih terjadi. tindakan kepemimpinan kepala sekolah dalam membangun budaya sekolah yang mendukung pencegahan bullying. kebijakan serta inovasi kepemimpinan kepala sekolah dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman, inklusif, dan bebas dari bullying. Setiap bagian temuan diuraikan secara deskriptif dengan menyertakan kutipan data dari hasil wawancara dan observasi untuk memperkuat interpretasi penelitian. Dengan sistematika ini, pembahasan hasil penelitian diharapkan tersaji secara runtut, logis, dan mudah dipahami. 1 Strategi Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Mengidentifikasi dan Menangani Bentuk-Bentuk Bullying Berdasarkan wawancara dengan K1 pada 06 Oktober 2025, langkah awal pencegahan dilakukan melalui pemantauan interaksi siswa beliau mengatakan sebagai berikut: AuKami selalu berusaha memantau interaksi antar siswa, terutama di lingkungan yang berpotensi munculnya tindakan perundungan seperti di kantin, halaman sekolah, dan media sosial. Guru BK dan wali kelas juga rutin melaporkan jika ada perubahan perilaku siswa yang mencurigakan. Ay (Wawancara dengan K1. Kepala Sekolah, 06 Oktober 2. Pernyataan ini menunjukkan bahwa kepala sekolah memiliki kesadaran tinggi terhadap fungsi pengawasan dan pembinaan sebagai bagian dari tanggung jawab kepemimpinan edukatif. Hasil observasi menunjukkan bahwa kepala sekolah aktif melakukan supervisi dan koordinasi dengan guru bimbingan konseling (BK) untuk mendeteksi perilaku siswa yang berpotensi melakukan bullying. Peneliti juga menemukan bahwa terdapat papan informasi di ruang BK yang memuat alur pelaporan kasus perundungan. Temuan menunjukkan bahwa strategi kepemimpinan kepala sekolah dalam pencegahan bullying dilakukan melalui pemantauan perilaku siswa, koordinasi dengan guru BK dan wali kelas, serta penyediaan mekanisme pelaporan yang jelas bagi warga sekolah. 2 Tindakan Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Membangun Budaya Sekolah yang Mendukung Pencegahan Bullying Berdasarkan wawancara dengan K1 pada 06 Oktober 2025, beliau menyampaikan: AuKalau ada kasus perundungan, kami tidak hanya menindak pelaku, tapi juga mendampingi korban dan pembina kelas. Kami ingin setiap kasus jadi pelajaran untuk semua, bukan hanya hukuman. Ay (Wawancara dengan K1. Kepala Sekolah, 06 Oktober 2. Dari pernyataan ini, terlihat bahwa kepala sekolah menekankan pendekatan pembinaan dan refleksi, bukan hanya tindakan disiplin. Pendekatan ini mencerminkan kepemimpinan transformatif, di mana pemimpin berupaya menginspirasi perubahan perilaku dan nilai bersam. Hasil observasi mendukung temuan ini: dalam rapat dewan guru yang diamati kepala sekolah memulai rapat dengan refleksi tentang pentingnya Aumenciptakan rasa aman di sekolahAy. Ia menekankan agar guru menjadi AuTeladanAy dalam sikap menghargai perbedaan antar siswa. Dari hasil wawancara dengan K2 pada 01 Oktober 2025 diperoleh keterangan: AuKami membuat kegiatan rutin seperti AoHari Tanpa BullyAo setiap bulan. Pada hari itu, siswa diajak menulis pesan positif untuk teman-temannya, lalu pesan itu kami pajang di mading sekolah dan dibacakan saat Tujuannya supaya mereka terbiasa mengungkapkan hal-hal baik, bukan kata-kata yang . awancara dengan K2. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan pada 01 Oktober 2. Kegiatan ini menunjukkan bentuk tindakan preventif yang mengarah pada pembentukan budaya positif. Budaya positif yang dibangun di SMA Negeri 10 Batang Hari tercermin dalam berbagai perilaku dan kebiasaan warga sekolah. Hasil observasi di lapangan memperlihatkan adanya pajangan pesan anti-bullying di koridor utama Sofyan. Copyright A 2026. JUSTIKPEN. Page 201 Submitted: 2/12/2025. Accepted: 08/01/2026. Published: 15/01/2026 Jurnal Sistem Informasi. Teknik Komputer dan Teknologi Pendidikan (JUSTIKPEN) Volume 5. Nomor 2 Edisi Oktober- Maret 2026. Page 199-205 ISSN 2828-7924 . edia onlin. | DOI: https://doi. org/10. 55338/justikpen. dan poster AuStop BullyingAy di setiap kelas. Sekolah juga memiliki slogan: AuKita Hebat Tanpa Merendahkan. Ay Hal ini menunjukkan bahwa kepala sekolah menanamkan nilai anti-bullying dalam simbol dan aktivitas keseharian Berdasarkan Hasil wawancara dengan G1 02 Oktober 2025 beliau menjelaskan bahwa: AuKepala sekolah selalu libatkan kami dalam setiap penanganan dan pencegahan. Bahkan beliau minta tiap guru punya Aomentor siswaAo, terutama bagi anak-anak yang tampak menyendiri atau kurang percaya Ay (Wawancara dengan G1. Guru BK, 02 Oktober 2. Keterangan tersebut menunjukkan adanya pola komunikasi dan koordinasi yang kuat antara kepala sekolah dan guru dalam upaya pencegahan bullying. Melalui program mentor siswa, setiap guru memiliki tanggung jawab moral untuk mendampingi beberapa siswa yang dianggap rentan, baik karena karakter pendiam maupun kondisi sosial yang membuat mereka mudah menjadi sasaran perundungan. Berdasarkan hasil wawancara, observasi, dan studi dokumentasi, dapat disimpulkan bahwa kepala sekolah SMA Negeri 10 Batang Hari berhasil mengintegrasikan nilai-nilai anti-bullying ke dalam kurikulum dan kegiatan sekolah secara sistematis. Melalui pendekatan kepemimpinan transformatif, instruksional, dan partisipatif, kepala sekolah tidak hanya menciptakan kebijakan formal, tetapi juga membangun budaya belajar yang berkarakter, empatik, dan berorientasi pada nilai kemanusiaan. Dengan demikian, upaya ini menciptakan lingkungan sekolah yang aman, positif, dan kondusif bagi pertumbuhan moral serta sosial peserta didik. Temuan menunjukkan bahwa kepala sekolah membangun budaya anti-bullying melalui pendekatan pembinaan, keteladanan guru, kegiatan rutin berbasis partisipasi siswa, serta pendampingan individual melalui program mentor siswa. 3 Kebijakan dan Inovasi Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Menciptakan Lingkungan Sekolah yang Aman. Inklusif, dan Bebas dari Bullying Berdasarkan hasil wawancara dengan K2 pada hari Rabu 01 Oktober 2025 beliau menyampaikan: AuSetiap awal bulan kami mengadakan kegiatan pembinaan karakter yang dipimpin oleh guru BK dan wali Ibu Kepala Sekolah selalu menegaskan agar kegiatan ini tidak hanya bersifat seremonial, tapi benar-benar menanamkan nilai hormat, tanggung jawab, dan empati antarsiswa. Ay . awancara dengan K2. Waka Kesiswan, 01 Oktober 2. Wawancara secara terbuka dilakukan pada hari Kamis, 02 Oktober 2025 dengan G1 sebagai berikut: AuDalam pembinaan karakter, kepala sekolah meminta kami untuk menekankan aspek saling menghargai dan pengendalian emosi. Beliau juga sering hadir langsung saat kegiatan berlangsung untuk memberi teladan dan motivasi kepada siswa. Ay . awancara dengan G1. Guru BK, 02 Oktober 2. Pernyataan kedua informan tersebut menunjukkan bahwa kepala sekolah berperan aktif dalam mendorong guru BK dan wali kelas melaksanakan pembinaan karakter secara berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan formal, tetapi bagian dari strategi kepemimpinan yang berorientasi pada pembentukan iklim sekolah yang Kegiatan pembinaan karakter di SMA Negeri 10 Batang Hari dilaksanakan secara rutin dan terjadwal sebagai bagian dari kebijakan kepala sekolah dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan beretika. Wawancara dilakukan pada hari Kamis, 02 Oktober 2025 dengan G1 Negeri Beliau menyampaikan: AuSetiap awal semester. Ibu Kepala Sekolah meminta kami melakukan pembinaan karakter, terutama tentang saling menghargai dan menolak kekerasan, supaya siswa paham sejak awal bahwa bullying tidak bisa ditoleransi di sekolah ini. Ay (Wawancara G1. Guru BK, 02 Oktober 2. Wawancara juga dilakukan dengan K2 Beliau menyampaikan: AuSelain melalui kegiatan formal, kepala sekolah juga menggerakkan OSIS untuk mengampanyekan budaya saling menghargai lewat media poster dan kegiatan AoSahabat Anti-BullyingAo. Ini supaya pesan anti-kekerasan datang dari siswa sendiri dan lebih mudah diterima teman-temannya. Ay (Wawancara dengan K2. Waka Kesiswaan 01 Oktober 2. Kedua pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kepala sekolah tidak hanya mengarahkan guru dalam menjalankan sosialisasi, tetapi juga mendorong keterlibatan aktif siswa melalui OSIS agar kampanye anti-bullying menjadi gerakan bersama di lingkungan sekolah. Hasil wawancara dengan G1 pada 02 Oktober 2025, beliau menjelaskan sebagai berikut: AuKami menyediakan kotak pengaduan di depan ruang BK supaya siswa bisa menyampaikan keluhannya tanpa rasa takut. Selain itu, layanan konseling juga kami buka setiap jam istirahat dan setelah jam pelajaran untuk siswa yang ingin curhat atau melapor langsung. Ay . awancara dengan G1. Guru BK, 02 Oktober 2025 Sofyan. Copyright A 2026. JUSTIKPEN. Page 202 Submitted: 2/12/2025. Accepted: 08/01/2026. Published: 15/01/2026 Jurnal Sistem Informasi. Teknik Komputer dan Teknologi Pendidikan (JUSTIKPEN) Volume 5. Nomor 2 Edisi Oktober- Maret 2026. Page 199-205 ISSN 2828-7924 . edia onlin. | DOI: https://doi. org/10. 55338/justikpen. wawancara dengan S1 pada 03 Oktober 2025. Salah satu siswa menyampaikan. AuKotak pengaduan itu membantu banget, jadi kalau ada teman yang diganggu atau dibully bisa ditulis tanpa harus takut ketahuan. Kadang saya juga langsung cerita ke guru BK karena orangnya terbuka dan nggak langsung marah. Ay . awancara dengan S1. Siswa SMA N 10 Batanghari, 03 Oktober 2025 Pernyataan ini menunjukkan bahwa siswa merasa memiliki ruang aman untuk mengungkapkan masalah tanpa tekanan, sekaligus memperlihatkan adanya kepercayaan antara siswa dan pihak sekolah. Temuan menunjukkan bahwa kepala sekolah mengembangkan kebijakan dan inovasi anti-bullying melalui pembinaan karakter berkelanjutan, pelibatan OSIS, serta penyediaan layanan pengaduan dan konseling yang aman dan mudah 2 Pembahasan 1 Strategi Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Mengidentifikasi dan Menangani Bentuk-Bentuk Bullying Temuan penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah SMA Negeri 10 Batang Hari berperan penting dalam pencegahan bullying melalui pendekatan preventif dan responsif yang terintegrasi. Hasil ini memperkuat temuan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa kepala sekolah memiliki posisi strategis dalam menciptakan iklim sekolah yang aman dan inklusif melalui kebijakan dan praktik kepemimpinan yang Namun, penelitian ini memberikan penekanan tambahan pada bagaimana peran tersebut diwujudkan secara kontekstual dalam praktik keseharian sekolah. Penerapan deteksi dini melalui pemantauan perilaku siswa dan koordinasi dengan guru BK serta wali kelas. Dalam konteks ini, kepala sekolah tidak hanya berfungsi sebagai pengambil keputusan, tetapi juga sebagai penggerak sistem sosial sekolah. Temuan ini mendukung hasil penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa kepemimpinan kepala sekolah yang responsif terhadap dinamika sosial siswa mampu mencegah berkembangnya perilaku bullying secara lebih efektif. Selain itu, pendekatan pembinaan karakter dan penguatan budaya sekolah yang positif memperkuat temuan penelitian terdahulu yang menekankan pentingnya budaya empati dan keteladanan dalam menurunkan kasus perundunga. Namun, berbeda dengan penelitian sebelumnya yang lebih menyoroti aspek kebijakan formal, penelitian ini menunjukkan bahwa efektivitas pencegahan bullying juga ditentukan oleh keterlibatan aktif kepala sekolah dalam aktivitas simbolik dan keseharian sekolah, seperti keteladanan, refleksi bersama guru, serta pelibatan siswa dalam kampanye antibullying. Dengan memadukan fungsi manajerial dan kepemimpinan transformasional, kepala sekolah mampu membangun kesadaran kolektif warga sekolah terhadap pentingnya budaya anti-bullying. Hal ini menguatkan temuan penelitian yang menyatakan bahwa kebijakan anti-bullying akan berjalan efektif apabila didukung oleh kepemimpinan yang partisipatif dan berorientasi pada pembinaan, bukan semata-mata pada penegakan aturan. Dengan demikian, penelitian ini memperluas kajian sebelumnya dengan menunjukkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah dalam pencegahan bullying tidak hanya bersifat struktural, tetapi juga kultural dan relasional. 2 Strategi Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Mengidentifikasi dan Menangani Bentuk-bentuk Bullying yang Masih Terjadi di SMA Negeri 10 Batang Hari Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepala sekolah SMA Negeri 10 Batang Hari menerapkan kepemimpinan transformatif, instruksional, dan partisipatif dalam upaya pencegahan bullying, baik melalui kebijakan, kegiatan rutin, maupun penguatan budaya sekolah. Kepala sekolah menekankan pentingnya pembinaan karakter, komunikasi sehat, dan keterlibatan seluruh warga sekolah, sehingga setiap kasus perundungan tidak hanya menjadi masalah disiplin, tetapi juga sarana pembelajaran moral dan sosial . Integrasi nilai anti-bullying ke dalam kurikulum dan pembelajaran menunjukkan kepemimpinan instruksional . , di mana kepala sekolah memastikan proses pembelajaran selaras dengan nilai moral dan sosial. Melalui proyek Profil Pelajar Pancasila, diskusi tematik, dan konseling tematik, siswa tidak hanya belajar aspek kognitif, tetapi juga menginternalisasi empati, toleransi, dan penghargaan terhadap perbedaan. Pendekatan ini menguatkan teori . , mengenai pembelajaran sosial, di mana perilaku positif terbentuk melalui observasi dan interaksi dengan figur teladan. Secara keseluruhan, strategi kepala sekolah mengintegrasikan tindakan preventif, kurikulum, pembinaan karakter, dan kolaborasi warga sekolah untuk menciptakan lingkungan belajar yang positif, berkarakter, dan kondusif. Kepemimpinan transformatif, instruksional, dan partisipatif ini terbukti efektif dalam menanamkan nilai empati, tanggung jawab sosial, dan penghargaan terhadap perbedaan, sehingga sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar akademik, tetapi juga wahana pembentukan moral dan sosial siswa. 3 Kebijakan yang dilakukan Kepala Sekolah dalam Menciptakan Lingkungan Sekolah yang Aman dan Bebas dari Bullying Sofyan. Copyright A 2026. JUSTIKPEN. Page 203 Submitted: 2/12/2025. Accepted: 08/01/2026. Published: 15/01/2026 Jurnal Sistem Informasi. Teknik Komputer dan Teknologi Pendidikan (JUSTIKPEN) Volume 5. Nomor 2 Edisi Oktober- Maret 2026. Page 199-205 ISSN 2828-7924 . edia onlin. | DOI: https://doi. org/10. 55338/justikpen. Kepala SMA Negeri 10 Batang Hari menerapkan berbagai kebijakan strategis untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan bebas dari bullying. Kebijakan tersebut mencakup pembinaan karakter siswa secara rutin, sosialisasi dan kampanye anti-bullying, serta penyediaan kotak pengaduan dan layanan konseling Melalui langkah-langkah ini, kepala sekolah tidak hanya menegakkan disiplin, tetapi juga menanamkan nilai moral, empati, dan tanggung jawab sosial, sehingga tercipta iklim sekolah yang kondusif, inklusif, dan peduli terhadap kesejahteraan seluruh warga sekolah. Pembinaan Karakter Siswa Secara Berkala. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepala sekolah SMA Negeri 10 Batang Hari secara aktif menerapkan pembinaan karakter siswa sebagai strategi preventif terhadap bullying. Kegiatan ini dilaksanakan secara rutin dan terjadwal, seperti arahan setiap Senin setelah upacara bendera, program AuSatu Minggu Satu NilaiAy, hingga penghargaan siswa berprestasi dan kegiatan sosial seperti Jumat Berbagi. Kepala sekolah hadir langsung dalam kegiatan tersebut, memberikan teladan dan motivasi, sehingga nilai-nilai moral, empati, dan tanggung jawab dapat diinternalisasi secara nyata oleh siswa. Sosialisasi dan Kampanye Anti-Bullying. Sosialisasi dan kampanye anti-bullying menjadi salah satu kebijakan kepala sekolah untuk menanamkan kesadaran kolektif terhadap nilai inklusivitas dan keamanan di sekolah. Kegiatan ini meliputi penyuluhan, apel bersama, pemasangan poster, kampanye kreatif OSIS, dan program AuSahabat Anti-BullyingAy. Kepala sekolah turut serta dalam arahan langsung, memberikan apresiasi, dan memastikan keterlibatan guru serta siswa dalam menyebarkan pesan anti-kekerasan. Strategi ini mencerminkan kepemimpinan transformasional dan kolaboratif. Penyediaan Kotak Pengaduan dan Layanan Konseling Terbuka. Kebijakan penyediaan kotak pengaduan dan layanan konseling terbuka merupakan langkah preventif dan responsif kepala sekolah untuk menciptakan ruang aman bagi siswa. Siswa dapat menyampaikan keluhan secara rahasia maupun langsung kepada guru BK, sehingga membangun kepercayaan dan komunikasi dua Hasil wawancara siswa dan observasi menunjukkan bahwa mekanisme ini efektif dalam menekan kasus bullying sekaligus memberikan pemulihan psiko6logis bagi korban. KESIMPULAN Berdasarkan temuan penelitian, kepala sekolah SMA Negeri 10 Batang Hari menunjukkan praktik kepemimpinan transformasional dan partisipatif dalam mencegah serta menangani kasus bullying. Strategi yang diterapkan mencakup deteksi dini melalui kolaborasi dengan guru bimbingan konseling, wali kelas, dan siswa. penanganan kasus secara restoratif dengan menekankan pembinaan moral dan tanggung jawab sosial. pemantauan berkelanjutan melalui rapat koordinasi dan dokumentasi resmi. Pendekatan kepemimpinan ini tidak hanya berorientasi pada penegakan aturan, tetapi juga pada pembentukan kesadaran kolektif warga sekolah, sehingga mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan berkarakter. Temuan ini menguatkan teori kepemimpinan transformasional yang menekankan peran pemimpin dalam menginspirasi, memotivasi, dan memberdayakan seluruh anggota organisasi untuk mencapai tujuan bersama. Implikasi dari temuan ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan bullying di sekolah menengah tidak dapat bergantung pada kebijakan formal semata, tetapi memerlukan kepemimpinan kepala sekolah yang aktif, suportif, dan berkelanjutan. Kepala sekolah diharapkan mampu mengintegrasikan nilai-nilai anti-bullying ke dalam budaya sekolah melalui pembinaan karakter rutin, penguatan kolaborasi guru dan siswa, serta penyediaan ruang aman seperti layanan konseling dan mekanisme pengaduan yang terbuka. Secara praktis, temuan ini dapat menjadi rujukan bagi kepala sekolah dan pengambil kebijakan pendidikan dalam merancang strategi kepemimpinan yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga berorientasi pada pembentukan iklim sekolah yang empatik, partisipatif, dan berkeadilan sosial. UCAPAN TERIMAKASIH Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penelitian ini dapat diselesaikan dengan baik. Penulis menyampaikan terima kasih kepada Bapak/Ibu Dosen Pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan arahan selama proses penelitian, kepada Kepala Sekolah. Wakil Kepala Sekolah. Guru Sosiologi, serta seluruh pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah tempat penelitian dilaksanakan atas izin dan kerja samanya, serta kepada para peserta didik yang berpartisipasi sebagai Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada orang tua dan keluarga atas doa serta dukungan yang tak terhingga, dan kepada rekan-rekan yang telah memberikan bantuan dan motivasi. Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih memiliki keterbatasan, sehingga kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan demi penyempurnaan karya ilmiah ini. Semoga penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan pihak-pihak terkait. Sofyan. Copyright A 2026. JUSTIKPEN. Page 204 Submitted: 2/12/2025. Accepted: 08/01/2026. Published: 15/01/2026 Jurnal Sistem Informasi. Teknik Komputer dan Teknologi Pendidikan (JUSTIKPEN) Volume 5. Nomor 2 Edisi Oktober- Maret 2026. Page 199-205 ISSN 2828-7924 . edia onlin. | DOI: https://doi. org/10. 55338/justikpen. REFERENCES