EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK DENGAN METODE GYSSENS DAN ATC/d PADA PASIEN INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT DI RSUD KARAWANG PERIODE JANUARI-MARET 2026 Andi Nurzakiah Amal*. Nida Kusumawati. Maulana Yusuf Alkandahri Program Studi Sarjana Farmasi. Fakultas Farmasi. Universitas Buana Perjuangan Karawang. Karawang. Indonesia. *Penulis Korespondensi: andi. amal@ubpkarawang. ABSTRAK Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering dikaitkan dengan penggunaan antibiotik tidak rasional dan berisiko menimbulkan resistensi Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pola, jumlah, dan rasionalitas penggunaan antibiotik pada pasien ISPA anak rawat inap di RSUD Karawang. Penelitian menggunakan desain deskriptif-analitik dengan pendekatan cross-sectional retrospektif pada 101 pasien usia 0Ae18 tahun periode JanuariAeMaret 2026. Analisis dilakukan menggunakan metode Gyssens dan ATC/d. Hasil penelitian menunjukkan total konsumsi antibiotik sebesar 29,86 d/100 patient-days, dengan penggunaan tertinggi cefixime . dan cefotaxime . Berdasarkan metode Gyssens, hanya 19% penggunaan antibiotik tergolong rasional, sedangkan penggunaan tidak rasional didominasi kategori IVA . %) dan kategori V . %). Penelitian ini menunjukkan perlunya penguatan program antimicrobial stewardship, penyusunan clinical pathway berbasis bukti, dan peningkatan kepatuhan terhadap pedoman terapi di RSUD Karawang. Kata Kunci: ISPA. Antibiotik. Gyssens. ATC/d. RSUD Karawang. ABSTRACT Acute respiratory infection (ARI) is a major health problem often associated with irrational antibiotic use, which may contribute to antimicrobial resistance. This study aimed to evaluate the pattern, quantity, and rationality of antibiotic use in hospitalized pediatric ARI patients at RSUD Karawang. A descriptive-analytic study with a retrospective cross-sectional approach was conducted on 101 patients aged 0Ae18 years during JanuaryAeMarch 2026. Data were analyzed using the Gyssens method and ATC/d system. The results showed a total antibiotic consumption of 29. 86 d/100 patient-days, with cefixime . and cefotaxime . as the most frequently used antibiotics. Based on the Gyssens evaluation, only 19% of antibiotic use was categorized as rational, while irrational use was dominated by category IVA . %) and category V . %). These findings indicate the need to strengthen the antimicrobial stewardship program, develop evidence-based clinical pathways, and improve adherence to therapeutic guidelines at RSUD Karawang. Keywords: ARI. Antibiotics. Gyssens. ATC/d. RSUD Karawang. PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 PENDAHULUAN jumlah kasus ISPA mencapai 877. Antibiotik merupakan salah satu kasus pada seluruh kelompok umur, terapi utama dalam penanganan penyakit 364 kasus terjadi pada balita. infeksi, namun penggunaannya yang Di Provinsi Jawa Barat. ISPA masih tidak rasional masih menjadi masalah termasuk dalam sepuluh besar penyakit Kesehatan terbanyak setiap tahunnya. Kabupaten Republik Indonesia . melaporkan Karawang bahkan menempati peringkat bahwa sekitar 40Ae62% penggunaan pertama kasus ISPA tertinggi di Jawa antibiotik tidak tepat, terutama pada Barat pada tahun 2023 dengan jumlah 782 kasus berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS). Selain itu, data Kementerian Penggunaan Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang rasional dapat meningkatkan risiko menunjukkan bahwa dalam lima tahun resistensi antimikroba, efek samping terakhir . 9Ae2. angka kejadian obat, serta beban biaya pelayanan ISPA terus mengalami peningkatan. Infeksi Saluran Pernapasan terutama pada kelompok anak. Akut (ISPA) merupakan salah satu RSUD Karawang sebagai rumah penyakit infeksi yang paling sering sakit rujukan utama di Kabupaten menyebabkan penggunaan antibiotik. Karawang memiliki jumlah kunjungan terutama pada anak. ISPA umumnya pasien ISPA yang tinggi, khususnya pasien anak rawat inap yang sering kombinasi virus dan bakteri, serta menjadi penyebab utama morbiditas dan Tingginya penggunaan antibiotik pada ISPA World Health Organization (WHO) ISPA antibiotik yang tidak rasional apabila menyebabkan sekitar 4 juta kematian tidak disertai evaluasi penggunaan obat yang tepat. Oleh karena itu, diperlukan kelompok anak dan lansia (WHO, 2020. evaluasi terhadap pola penggunaan. GBD 2015 LRI Collaborators, 2. kuantitas, dan rasionalitas antibiotik Di Indonesia, berdasarkan Survei untuk mengetahui kesesuaian terapi Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, yang diberikan dengan pedoman klinis. PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 Penelitian Maret penggunaan antibiotik pada pasien ISPA anak di RSUD Karawang masih terbatas, 014/KEPK/IKI/E2/I/2026 dari Komite Etik Gyssens Kesehatan Immanuel Bandung. Populasi ATC/d. Berdasarkan permasalahan penelitian adalah seluruh data pasien tersebut, penelitian ini bertujuan untuk anak rawat inap dengan diagnosis ISPA Penelitian Kesehatan Institut di RSUD Karawang periode JanuariAe Maret 2026. Teknik pengambilan sampel penggunaan antibiotik menggunakan menggunakan total sampling, yaitu Gyssens, seluruh pasien yang memenuhi kriteria inklusi dijadikan sampel. Kriteria inklusi berdasarkan metode ATC/d pada meliputi: . pasien anak usia 0Ae<18 pasien ISPA anak rawat inap di RSUD Karawang. Hasil tercantum dalam rekam medis . eliputi bronkiolitis, bronkitis, dan bronkitis aku. , . mendapat terapi antibiotik, . ISPA yang menjalani perawatan rawat inap di pengembangan kebijakan dan clinical RSUD Karawang periode JanuariAeMaret pathway penggunaan antibiotik yang 2026, dan . memiliki data rekam medis lebih tepat dan efektif di RSUD Kriteria eksklusi meliputi: . Karawang pasien dengan gangguan pernapasan non-infeksi . PPOK, rinitis alerg. METODE PENELITIAN Penelitian . pasien tanpa terapi antibiotik, . deskriptif-analitik rekam medis tidak lengkap, serta . pasien yang dirujuk atau pulang paksa. pendekatan kuantitatif dan kualitatif Berdasarkan seleksi data, diperoleh 101 sampel yang memenuhi kriteria inklusi. cross-sectional Penelitian dilaksanakan di RSUD Karawang pada periode JanuariAe Pengumpulan secara retrospektif melalui penelusuran PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 rekam Data Chemical/Defined Daily Dos. sesuai dikumpulkan meliputi identitas pasien . sia, jenis kelamin, berat bada. , menggunakan rumus: diagnosis klinis, jenis antibiotik, dosis, yayaya = frekuensi, rute pemberian, lama terapi, dan lama WHO. Gyssens sebagai analisis kualitatif untuk menilai . ata Pendekatan prospektif yang berupa kemampuan untuk mengikuti langsung dan menangkap perubahan terapi yang terjadi selama perawatan. Metode ini memberikan kebaharuan dalam ilmu farmasi melalui penilaian digunakan sebagai dasar evaluasi dan stewardship di rumah sakit. Analisis ATC/d (Anatomical Total obat ycu 100 d WHO Microsoft Excel dan SPSS. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil pengumpulan Therapeutic retrospektif, diperoleh sebanyak 101 pasien anak dengan diagnosa Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang memenuhi kriteria inklusi dan menerima terapi antibiotik di instalasi rawat inap RSUD Karawang selama periode Januari Ae Maret 2026. KARAKTERISTIK UMUM Karakteristik Berdasarkan Jenis Kelamin Karakteristik komprehensif terhadap seluruh aspek Pengolahan interval, rute, dan durasi terapi. Hasil Total obat . d WHO . d d/patient-days inap (Length of Stay/LOS). Metode Perhitungan berdasarkan jenis kelamin dianalisis pasien laki-laki dan perempuan dalam penelitian ini. Data pasien dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di RSUD Karawang selama periode Januari hingga Maret 2026 ditampilkan pada Tabel 4. PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 Tabel 1. Karakteristik Jenis Kelamin dan Usia Pasien ISPA Anak Rawat Inap di RSUD Karawang Karakteristik Jumlah Presentase Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Kelompok Usia Neonatus . -28 har. Bayi . -11 bula. Balita . -5 tahu. Anak-Anak . -10 tahu. Remaja . -18 tahu. Total Berdasarkan Tabel 1, pasien laki-laki . %) penelitian Handayani et al. yang menyatakan kelompok usia ini . %). lebih rentan karena sistem kekebalan Temuan penelitian Maidi et al. yang sempurna dan tidak lagi mendapat menunjukkan prevalensi ISPA lebih perlindungan imun pasif secara penuh dari ibu (Afifah et al. , 2. laki-laki. Kondisi laki-laki Karakteristik Diagnosia ISPA Karakteristik sedikit serta paparan lingkungan luar ruangan yang lebih besar menjadi penyakit untuk mengidentifikasi jenis faktor kontributor utama (Dewi et al. ISPA yang paling dominan dalam Kelompok usia balita . Ae5 penelitian ini. Informasi tersebut disajikan pada Tabel 2. %), sejalan dengan Diagnosis Bronkitiolitis Bronkitis Bronkitis akut Bronkopneumonia Faringitis Tabel 2. Diagnosis ISPA. Jumlah Presentase PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 ISPA Pneumonia Rhinofaringitis Total Berdasarkan Tabel 2, jenis Bronkopneumonia merupakan bagian dari infeksi saluran pernapasan bawah ditemukan pada pasien anak dengan yang umumnya menimbulkan gejala ISPA yang menjalani rawat inap di RSUD Karawang selama periode penanganan di fasilitas kesehatan JanuariAeMaret Hal ini menunjukkan bahwa bronkopneumonia, dengan jumlah 43 pada anak, infeksi saluran pernapasan pasien atau sebesar 43% dari total memiliki kecenderungan lebih besar Temuan ini sejalan dengan untuk berkembang menjadi kondisi penelitian Polii et al. yang infeksi saluran pernapasan yang lebih bronkopneumonia pada pasien anak dengan ISPA di salah satu rumah sakit Manado. Tingginya Gambaran Penggunaan Antibiotik Penggunaan antibiotik bronkopneumonia pada anak dapat pasien infeksi saluran pernapasan dikaitkan dengan sistem imun yang akut (ISPA) di RSUD Karawang belum matang serta struktur saluran periode Januari-Maret 2026 dalam penelitian ini ditinjau berdasarkan sehingga memudahkan penyebaran jenis dan golongannya untuk melihat infeksi dari saluran pernapasan atas pola terapi yang digunakan. Data ke jaringan paru yang lebih dalam. tersebut disajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Profil Penggunaan Antibiotik. Golongan Antibiotik Jenis Antibiotik Penisilin Ampicillin i. Penisilin inhibiotor Ampicillin Sulbactam i. Makrolida Azitromisin p. Sefalosporin generasi 3 Cefixime p. Sefalosporin generasi 3 Cefotaxime i. Jumlah Presentase PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 Sefalosporin generasi 3 Ceftriaxone i. Aminoglikosida Gentamicin i. Total Keterangan : iv = intravena. po = per-oral Berdasarkan Tabel 3, antibiotik Tahun yang paling sering digunakan adalah cefotaxime intravena, dengan total Pedoman 170 kali penggunaan atau sekitar 65% childhood Pneumonia . serta Pedoman Nasional Tatalaksana ISPA WHO Cefotaxime merupakan . ampicillin untuk kasus pneumonia spektrum luas dan efektif terhadap ringan hingga sedang pada anak. bakteri gram negatif maupun gram Selain itu pedoman Acute Infection Hasil ini sejalan dengan Guideine Summary . tidak penelitian Pamula et al. di salah satu rumah sakit di Bandung, antibiotik karena sebagian besar yang menunjukkan bahwa cefotaxime disebabkan oleh infeksi virus. ISPA Penggunaan Cefotaxime atau dominan digunakan pada pasien anak ceftriaxone dalam menurut (Bradley dibandingkan antibiotik lainnya. Berdasarkan berbagai pedoman Diseases Society America guidelines lebih di tunjukan terapi, pilihan antibiotik lini pertama untuk pneumonia anak rawat inap derajat sedang hingga berat. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa antibiotik seperti amoksisilin dan Children's Hospital Antimicrobial ampicillin yang sudah mencakup Management patogen utama yaitu Streptococcus Program (CHAMP, Haemophilus amoksisislin per oral sebagai terapi influenzae dengan biaya yang lebih awal, sedangkan Permenkes No. terjangkau dan spektrum lebih sempit PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 sehingga lebih rasional dalam upaya menekankan resistensi antimikroba. antibiotik spektrum luas yang masih Oleh tinggi di fasilitas rawat inap, suatu pola yang berpotensi mempercepat laju resistensi antimikroba jika tidak penelitian ini menunjukkan adanya berlebihan, yang juga dilaporkan Analisa Kualitatif Metode Gyssens terjadi di berbagai rumah saki di Indonesia. Penilaian terapi antibiotik pada subjek anak Antibiotik dengan diagnosa ISPA dalam studi ini berpedoman pada kriteria Gyssens. sebanyak 44 penggunaan . %). Melalui . %), memenuhi kaidah rasionalitas apabila . %), masuk dalam klasifikasi kategori 0, gentamicin 13 penggunaan . %), dan sedangkan temuan yang termasuk azithromycin per oral sebanyak 1 dalam kategori I-VI diidentifikasi . urang sebagai bentuk pengobatan yang tidak Dominasi 1%). generasi ketiga secara keseluruhan Tabel 4. Penilaian Antibiotik Menggunakan Metode Gyssens. Kategori IVA IIA Penilaian Gyssens Tidak ada indikasi Ada alternatif lebih efektif Durasi terlalu singkat Dosis tidak tepat Rasional Total Jumlah Presentase Hasil Gyssens yang rendah, dengan hanya 19 dari 101 . %) penggunaan antibiotik PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 yang tergolong rasional . Kategori V . idak ada indikas. Ketidakrasionalan didominasi oleh ditemukan pada 35 kasus . %). kategori IVA . %) dan kategori V Antibiotik diberikan kepada pasien . %). Kategori IVA . da alternatif dengan diagnosis yang secara klinis disebabkan oleh virus, seperti ISPA . %). menggambarkan bahwa antibiotik yang diberikan memang memiliki Berdasarkan AAP . , bronkiolitis indikasi, namun tersedia pilihan lain hampir seluruhnya disebabkan RSV Kondisi Tingginya penggunaan cefotaxime NICE Guideline dan ceftriaxone sebagai terapi empiris . secara eksplisit menyatakan lini awal yang seharusnya ditangani antibiotik tidak boleh diberikan rutin dengan ampicillin atau amoksisilin pada bronkiolitis. Untuk bronkitis menjadi penyebab utama temuan ini. Berdasarkan . , menyimpulkan hanya terdapat bukti Permenkes No. 28 Tahun 2021, serta terbatas manfaat klinis antibiotik. WHO guidelines . , terapi lini Tingginya mengindikasikan perlunya edukasi anak rawat inap adalah amoksisilin klinis lebih intensif kepada tenaga per oral atau ampicillin intravena, kesehatan mengenai etiologi viral karena mencakup patogen utama ISPA (Mambo et al. , 2. CHAMP Streptococcus Haemophilus Smith Kategori iB . urasi terlalu singka. ditemukan pada 3 kasus biaya terjangkau, spektrum lebih . %), dan kategori IIA . osis tidak sempit, dan profil keamanan yang baik (Harris et al. , 2. Temuan ini Ketidaktepatan dosis pada pasien sejalan dengan penelitian Yanti et al. pada pasien pneumonia anak perhitungan harus disesuaikan dengan di RSUD Pontianak dan Effendy et al. pada pasien tonsilitis. %). g/kgBB) PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 toksisitas (Permenkes No. 28 Tahun pada psien dewasa, dengan merujuk Penggunaan Meskipun subjek penelitian adalah Antibiotik Berdasarkan Metode pasien anak, metode d tetap ATC/d digunakan sebagai standar dalam Analisis Kuantitas Penilaian (Pani dengan mengacu pada nilai d Perhitungan d per 100 patient- yang direkomendasikan oleh WHO. days memerlukan data total lama Analisis ini mencakup 101 data rekam rawat inap atau Length of Stay (LOS), medis pasien anak usia 0 hingga yaitu jumlah hari perawatan pasien kurang dari 18 tahun yang dirawat di sejak tanggal masuk hingga keluar Instalasi Rawat Inap RSUD dari rumah sakit. Total LOS pasien Karawang selama periode JanuariAe ISPA Maret 2026. Secara definisi Defined dihitung dengan mengelompokkan Daily Dose . didefinisikan data berdasarkan bulan, sebagaimana ditampilkan pada Tabel 5. pemakaian dosis harian rata-rata obat Tabel 5. Jumlah Hari Rawat Inap Pasien ISPA. Bulan Januari Februari Maret Total Jumlah Pasien LOS . Berdasarkan Tabel 5, diperoleh perhitungan penggunaan antibiotik total lama hari rawat inap pasien dengan metode ATC/d. Adapun (ISPA) selama periode Janurai-Maret perhitungan d/100 patient-days 2026 adalah sebesar 370 hari. Nilai adalah sebagai berikut: total LOS ini digunakan sebagai dasar PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 Tahap 1 : ycNycuycycayco yciycycayco = sediaan . x jumlah Total obat . d WHO . Tahap 2 : d = Tahap 3 : d/100 hari rawat inap = Pada rumus tersebut digunakan Total d ycu 100 d LOS Penggunaan ISPA penggunaan antibiotik dalam suatu kuantitatif menggunakan indikator d per 100 patient-days. Hasil tertentu secara terstandarisasi. Evaluasi Kuantitas Metode pada Tabel 6. ATC/d Tabel 6. Perhitungan d Penggunaan Antibiotik. Total d penggunaan WHO . Kode ATC Jenis antibiotik Ampicillin i. Ampicillinsulbactam i. Azitromisin p. Cefixime p. Cefotaxime i. Ceftriaxone i. Gentamicin i. J01CA01 Total d d/100 Patient Days 0,59 0,27 J01CR01 J01FA10 J01DD08 J01DD01 J01DD04 J01GB03 1,04 0,24 38,25 40,75 4,33 0,54 10,34 10,01 5,94 1,17 Total 29,86 Keterangan: iv = intravena. po = per-oral. d = Defined Daily Dose. WHO = word health organization Berdasarkan hasil perhitungan ATC/d . , mencerminkan konsumsi antibiotik sebesar 29,86 intensitas konsumsi yang tinggi pada d/100 patient-days dalam periode kedua antibiotik tersebut. Cefotaxime penelitian (LOS total 370 hari, 101 banyak digunakan sebagai terapi Antibiotik empiris bronkopneumonia, sementara cefixime umumnya diberikan sebagai d/100 patient-days PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 terapi oral lanjutan. Nilai ini lebih rasionalitas masih rendah . % kategori rendah dibandingkan penelitian Lilik . , dengan ketidakrasionalan didominasi et al. yang melaporkan 65,92 kategori IVA . %) dan V . %). d/100 patient-days di RSUD Dr. Analisis ATC/d menunjukkan total Bandar konsumsi 29,86 d/100 patient-days Lampung, perbedaan yang dapat dengan intensitas tertinggi pada cefixime dipengaruhi oleh karakteristik pasien, . dan cefotaxime . ,01 d/100 patient-day. Dadi Tjokrodipo masing rumah sakit. Kelebihan penelitian ini adalah penggunaan kombinasi dua metode Tingginya nilai d pada evaluasi (Gyssens dan ATC/. yang golongan sefalosporin generasi ketiga memberikan gambaran menyeluruh dari . efotaxime 37% dan cefixime 35% aspek kualitatif maupun kuantitatif. Keterbatasan . %) desain retrospektif yang bergantung pada bahwa penggunaan antibiotik belum sepenuhnya berpedoman pada prinsip pengamatan yang relatif singkat . de-eskalasi terapi. Temuan ini sejalan bula. , serta belum tersedianya data dengan penelitian Ginting et al. kultur bakteri yang dapat mendukung . dan Suri et al. yang penilaian ketepatan pemilihan antibiotik secara lebih akurat. Untuk penelitian sefalosporin generasi ketiga dalam selanjutnya, disarankan menggunakan penggunaan antibiotik pada pasien ISPA. memperpanjang periode pengamatan, mengintegrasikan data pola resistensi KESIMPULAN bakteri lokal, serta mengembangkan pasien ISPA anak rawat inap di RSUD sistem monitoring penggunaan antibiotik Karawang periode JanuariAeMaret 2026 berbasis elektronik sebagai bagian dari program antimicrobial stewardship yang Penggunaan generasi ketiga, dengan cefotaxime Berdasarkan evaluasi Gyssens, tingkat PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 DAFTAR PUSTAKA