Journal of S. Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Training E-ISSN 2620-7699 | P-ISSN 2541-7126 https://doi. org/10. 37058/sport ANALISIS IMPLEMENTASI PROGRAM PKG PJOK TERHADAP KUALITAS PEMBELAJARAN PJOK DI SEKOLAH Robby Dzulfaqor Noor 1. Dinar Dinangsit 2. Aam Ali Rahman3. Pascasarjana Pendidikan Jasmani. Universitas Pendidikan Indonesia Abstrak Penelitian ini menganalisis implementasi Program Pengembangan Kompetensi Guru (PKG) Pendidikan Jasmani. Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) serta dampaknya terhadap peningkatan kompetensi guru dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis, penelitian ini melibatkan 22 guru PJOK dari Kabupaten Sumedang yang mengikuti program PKG PJOK. Data dikumpulkan melalui observasi langsung dan melalui Focus Group Discussion (FGD). Analisis data observasi menggunakan penilaian skor, sedangkan data FGD dianalisis secara tematik menggunakan perangkat lunak NVivo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Program PKG PJOK berdampak positif pada peningkatan profesionalisme guru PJOK, dengan sebagian besar peserta menunjukkan performa sangat baik dalam aspek pengajaran, penyusunan bahan ajar, pengembangan media pembelajaran, dan penilaian hasil belajar. Analisis FGD mengidentifikasi "pembelajaran," "anak," "sekolah," "penilaian," "PJOK," dan "materi" sebagai kata dominan, serta "Penyesuaian Materi" dan "Penampilan Mengajar" sebagai tema utama diskusi. Penelitian ini merekomendasikan penguatan pelatihan evaluasi, peningkatan literasi digital, dan penyeimbangan beban administratif untuk mengoptimalkan Kata Kunci: Kompetensi guru. PKG PJOK, pembelajaran PJOK, pendidikan jasmani, program pengembangan guru. Abstract This study analyzes the implementation of the Physical Education. Sports, and Health (PJOK) Teacher Competency Development Program (PKG) and its impact on improving teacher competency in learning activities at school. The study employed a qualitative method with a phenomenological approach. The study involved 22 PJOK teachers from Sumedang Regency who participated in the PKG PJOK program. Data were collected through direct observation and Focus Group Discussions (FGD. Observational data were analyzed using score assessment, while FGD data were analyzed thematically using NVivo software. The results indicate that the PKG PJOK Program has had a positive impact on improving the professionalism of PJOK teachers, with most participants demonstrating excellent performance in teaching, developing teaching materials, developing learning Correspondence author: Robby Dzulfaqor Noor. Universitas Pendidikan Indonesia. Indonesia. Email: robbydzulfaqor6@gmail. Journal of SPORT (Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Trainin. is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Journal of SPORT (Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Trainin. Vol. 2025 | 553-570 ISSN : 2620-7699 (Onlin. ISSN : 2541-7126 (Prin. media, and assessing learning outcomes. The FGD analysis identified "learning," "children," "school," "assessment," "PJOK," and "material" as dominant terms, with "Material Adaptation" and "Teaching Performance" as key discussion themes. This study recommends strengthening evaluation training, improving digital literacy, and balancing the administrative burden to optimize the program. Keywords: Teacher competency. PKG PJOK. PJOK learning, physical education, teacher development program. PENDAHULUAN Pendidikan sebagai Proses Pengembangan Potensi Holistik dan Pewarisan Budaya. Pendidikan diartikan sebagai suatu proses sadar dan sistematis yang berorientasi pada penciptaan lingkungan belajar yang kondusif, bertujuan untuk memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik secara holistik. Lengkana dan Sofa . menegaskan bahwa salah satu fungsi esensial pendidikan adalah membentuk kepribadian individu yang berakhlak mulia, bertanggung jawab, dan menjunjung tinggi kejujuran. Sejalan dengan pandangan tersebut. Rahman et al. mengemukakan bahwa pendidikan merupakan upaya sistematis dalam pewarisan budaya melalui lingkungan belajar yang mendorong pengembangan spiritual, intelektual, dan karakter peserta didik secara seimbang dan terintegrasi. Dalam konteks pengembangan individu yang komprehensif. Pendidikan Jasmani. Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) memainkan peran fundamental dalam pembentukan aspek fisik, mental, emosional, dan sosial Oberteuffer . mendefinisikan pendidikan jasmani sebagai akumulasi pengalaman individu yang diperoleh melalui aktivitas gerak. Bucher . lebih lanjut menyatakan bahwa PJOK merupakan bagian integral dari sistem pendidikan yang berupaya mengembangkan individu secara menyeluruh. Konsisten dengan pandangan tersebut. Williams . menekankan bahwa pendidikan jasmani adalah pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik dengan tujuan akhir membentuk kepribadian anak secara utuh. Selain itu menurut Rukmana dan Dinangsit . bahwa Pendidikan Jasmani tidak hanya belajar untuk bergerak dan begerak untuk belajar, melainkan dapat meningkatkan dan membentuk kematangan sosial, meningkatkan prestasi dan mengoptimalkan pertumbuhan jasmani. Robby Dzulfaqor Noor. Dinar Dinangsit. Aam Ali Rahman Analisis Implementasi Program PKG PJOK Terhadap Kualitas Pembelajaran PJOK Di Sekolah Implementasi Kurikulum Merdeka menuntut pergeseran paradigma menuju pendekatan pembelajaran yang lebih mendalam dan reflektif. Rahman et al. mengidentifikasi konsep deep learning sebagai suatu restrukturisasi fundamental sistem pendidikan nasional yang diperlukan untuk menghadapi kompleksitas tantangan zaman. Badan Standar Nasional Pendidikan . lebih lanjut menekankan bahwa pendekatan ini krusial dalam menstimulasi kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kapasitas pemecahan masalah secara kontekstual pada peserta didik. Sejalan dengan yang disampaikan A. Rahman . bahwa guru sebagai tombak dari pelaksanaan kurikulum yang harus siap melaksanakan perubahan yang mana setiap guru memiliki paradigmanya masing-masing terhadap kurikulum yang berlaku sebelumnya, dalam hal itu masalah yang mengimplementasikan kurikulum, termasuk kesiapan aspek pendukungnya seperti buku pegangan guru, buku pegangan siswa, peralatan dan media pembelajaran yang terkait, serta infrastruktur lainnya yang ada di sekolah. Meskipun demikian, tantangan signifikan masih dihadapi dalam pelaksanaan pembelajaran PJOK, khususnya terkait dengan inovasi pedagogik guru yang belum optimal serta tingkat partisipasi siswa yang rendah pada materi-materi yang dianggap kompleks. Untuk mengatasi permasalahan ini. Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi (Kemendikbudriste. Program Pengembangan Kompetensi Guru PJOK (PKG PJOK). Program ini pendekatan inkuiri, serta dilaksanakan melalui metode blended learning selama tiga bulan. PKG PJOK bertujuan membekali guru dengan kompetensi pedagogik dan profesional yang memadai agar mampu menyelenggarakan pembelajaran yang bermakna, reflektif, dan berpusat pada peserta didik. Namun, efektivitas implementasi program ini di tingkat sekolah memerlukan kajian dan evaluasi lebih lanjut. Journal of SPORT (Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Trainin. Vol. 2025 | 553-570 ISSN : 2620-7699 (Onlin. ISSN : 2541-7126 (Prin. METODE Penelitian ini mengadopsi pendekatan kualitatif dengan desain Pemilihan pendekatan ini didasarkan pada tujuan untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai pengalaman dan perspektif Program Pengembangan Kompetensi Guru Pendidikan Jasmani. Olahraga, dan Kesehatan (PKG PJOK). Desain fenomenologi secara spesifik bertujuan untuk menggali makna yang mendasari perilaku, persepsi, motivasi, dan tindakan para guru yang berpartisipasi dalam penelitian. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 22 guru PJOK yang berasal dari berbagai kecamatan di Kabupaten Sumedang, dan kesemuanya telah menyelesaikan program PKG PJOK. Teknik pengumpulan data primer dilakukan melalui observasi kelas dan Focus Group Discussion (FGD). Observasi kelas difokuskan untuk mengamati praktik pembelajaran di lapangan, sedangkan FGD dirancang untuk menggali pandangan dan pengalaman kolektif partisipan secara lebih mendalam. Analisis data dilakukan menggunakan teknik tematik. Pendekatan ini memungkinkan identifikasi pola-pola makna, tema-tema kunci, dan esensi pengalaman guru selama partisipasi dan implementasi hasil PKG PJOK. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Sumedang, dengan fokus utama pada guru PJOK yang merupakan alumni program PKG PJOK. Tujuan inti penelitian adalah untuk mengkaji hubungan antara implementasi program pembelajaran di tingkat sekolah dasar. Proses pengumpulan data oleh peneliti dilakukan melalui observasi langsung di lapangan serta diskusi tatap maya menggunakan platform Zoom Meeting. Pilihan terhadap metode kombinasi ini didasarkan pada asumsi bahwa ia akan memungkinkan peneliti untuk menggambarkan fenomena secara komprehensif, kontekstual, dan selaras dengan realitas yang dialami oleh para guru. Dengan demikian, pendekatan kualitatif fenomenologi dianggap paling relevan dan efektif untuk menjawab tujuan dan permasalahan penelitian ini. Robby Dzulfaqor Noor. Dinar Dinangsit. Aam Ali Rahman Analisis Implementasi Program PKG PJOK Terhadap Kualitas Pembelajaran PJOK Di Sekolah HASIL Berdasarkan data empiris dari instrumen observasi, kualitas pelaksanaan pembelajaran guru Pendidikan Jasmani. Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) telah terukur. Data ini mencerminkan kompetensi pedagogik dan profesional yang diamati selama proses pembelajaran PJOK, meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan secara menyeluruh. Detail data tersebut adalah sebagai berikut: Gambar 1. Distribusi Nilai Penampilan Mengajar Berdasarkan rekapitulasi hasil instrumen penampilan mengajar, mayoritas dari 22 partisipan menunjukkan kemampuan sangat baik . dalam membuka pelajaran . , penguasaan materi . , dan mengakhiri pelajaran . Hanya 2 partisipan yang berada pada skala baik . untuk ketiga indikator tersebut. Untuk indikator penerapan strategi pembelajaran serta pemanfaatan sumber belajar dan media, 19 dari 22 partisipan mencapai skala 4, sementara 3 partisipan pada skala 3. Tidak ada partisipan yang mendapatkan nilai skala 1 atau 2 pada semua indikator ini. Secara rata-rata, 20 partisipan memperoleh skala nilai 4 dan 2 partisipan memperoleh skala nilai 3 untuk setiap indikator. Selanjutnya, hasil observasi menggunakan instrumen penilaian pengembangan bahan ajar memberikan data empiris tentang kemampuan Journal of SPORT (Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Trainin. Vol. 2025 | 553-570 ISSN : 2620-7699 (Onlin. ISSN : 2541-7126 (Prin. pendidik dalam merancang, menyusun, dan mengimplementasikan bahan ajar secara sistematis dan relevan. Instrumen ini mengevaluasi kesesuaian dengan kurikulum, kejelasan tujuan, ketepatan materi, keterpaduan dengan karakteristik siswa, serta penggunaan media dan sumber belajar yang Temuan ini menjadi dasar penilaian kualitas dan kesiapan guru dalam menyediakan bahan ajar yang mendukung tujuan pembelajaran. Data yang diperoleh adalah sebagai berikut: Gambar 2. Distribusi nilai pengembangan bahan ajar Dari rekapitulasi instrumen Penilaian Pengembangan Bahan Ajar, ditemukan bahwa dari 22 partisipan, rata-rata 19 orang . %) mencapai skala nilai 4 . angat bai. , 2 orang . %) pada skala nilai 3 . , dan 1 orang . %) pada skala nilai 2 . Tidak ada partisipan yang mendapat skala nilai 1. Selanjutnya, hasil observasi menggunakan instrumen penilaian pengembangan media pembelajaran menghasilkan data empiris yang mencerminkan kualitas perencanaan, desain, dan implementasi media yang digunakan dalam proses belajar mengajar. Instrumen ini dirancang untuk mengevaluasi kesesuaian media dengan kriteria pedagogis, teknologis, dan estetis, termasuk kejelasan pesan, kesesuaian dengan karakteristik peserta didik, kemudahan penggunaan, efektivitas dalam mendukung tujuan pembelajaran, serta daya tarik visual dan interaktivitas. Temuan ini memberikan gambaran menyeluruh tentang kapasitas guru dalam mengintegrasikan media pembelajaran secara optimal. Data yang diperoleh adalah sebagai berikut: Robby Dzulfaqor Noor. Dinar Dinangsit. Aam Ali Rahman Analisis Implementasi Program PKG PJOK Terhadap Kualitas Pembelajaran PJOK Di Sekolah Gambar 3. Distribusi nilai pengembangan media pembelajaran Dari rekapitulasi instrumen Penilaian Pengembangan Media Pembelajaran, 81,8% dari 22 partisipan rata-rata mendapatkan skala nilai 4 . angat bai. Sebanyak 9,1% mendapatkan skala nilai 3 . , dan 9,1% mendapatkan skala nilai 2 . Tidak ada partisipan yang mendapatkan skala nilai 1. Selanjutnya, observasi menggunakan instrumen penilaian hasil belajar menghasilkan data empiris mengenai kemampuan pendidik dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi asesmen capaian pembelajaran peserta didik. Instrumen ini menilai kualitas penerapan keterpaduan antara tujuan pembelajaran, indikator, dan teknik evaluasi. Data yang diperoleh menggambarkan kemampuan guru dalam mengukur hasil belajar secara komprehensif . ognitif, afektif, psikomoto. serta memanfaatkan penilaian untuk perbaikan pembelajaran berkelanjutan. Adapun data yang diperoleh adalah sebagai berikut: BANYAK PARTISPAN ANALISIS INSTRUMEN TES INSTRUMEN RATA RATA KEBUTUHAN NON-TES KESELURUAN PENILAIAN skala 4 INDIKATOR Gambar 4. Distribusi nilai Penilaian Hasil Belajar Dari hasil rekapitulasi instrumen praktik penilaian hasil belajar, didapatkan data sebagai berikut: Journal of SPORT (Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Trainin. Vol. 2025 | 553-570 ISSN : 2620-7699 (Onlin. ISSN : 2541-7126 (Prin. A Analisis Kebutuhan Penilaian: 13 partisipan . mendapatkan skala nilai 4 . angat bai. , 7 partisipan skala 3 . , dan 2 partisipan skala 2 . Tidak ada yang mendapat skala 1. A Instrumen Tes: 16 partisipan mencapai skala 4, 4 partisipan skala 3, 1 partisipan skala 2, dan 1 partisipan skala 1. A Instrumen Non-Tes: 14 partisipan meraih skala 4, 6 partisipan skala 3, 2 partisipan skala 2, dan 1 partisipan skala 1. Rata-rata mendapatkan skala nilai 4, 5 partisipan skala 3, dan masing-masing 2 partisipan pada skala 2 dan 1. Hasil Focus Group Discussion (FGD) menggunakan pendekatan tematik untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengeksplorasi pola-pola makna . yang muncul dari diskusi kelompok secara mendalam. Pendekatan ini memungkinkan pemahaman sistematis dan kontekstual terhadap pengalaman, pandangan, dan persepsi partisipan. FGD juga dianalisis menggunakan aplikasi NVivo, dengan fitur word cloud untuk memvisualisasikan kata-kata yang sering muncul dalam teks, di mana ukuran font menunjukkan frekuensi kemunculan kata tersebut. Fitur ini membantu peneliti mengidentifikasi tema atau frasa berulang dan frekuensinya secara visual. Adapun hasil analisis datanya adalah sebagai Robby Dzulfaqor Noor. Dinar Dinangsit. Aam Ali Rahman Analisis Implementasi Program PKG PJOK Terhadap Kualitas Pembelajaran PJOK Di Sekolah Gambar 5. Kata paling banyak muncul dari data Berdasarkan hasil analisis word cloud, kata "pembelajaran" adalah yang paling dominan dalam percakapan partisipan, diikuti oleh "anak", "sekolah", "penilaian", "PJOK", dan "materi". Selanjutnya. Hierarchy Chart (Bagan Hirark. digunakan sebagai alat visualisasi untuk menunjukkan hubungan hierarkis antar kode, kasus, atau sumber data. Bagan ini membantu peneliti mengidentifikasi pola pengkodean, struktur data, dan hubungan antar elemen dalam proyek penelitian, sehingga memungkinkan peneliti melihat pola dan tren dalam data mereka melalui cara kode diterapkan pada berbagai bagian data. Adapun hasil analisis datanya adalah sebagai berikut: Gambar 6. Hierarchy Chart (Bagan Hirark. Berdasarkan analisis Hierarchy Chart, implementasi Program Pengembangan Kompetensi Guru (PKG) PJOK terbagi menjadi lima tema "Penyesuaian Materi" menjadi tema yang paling banyak dibahas, meliputi strategi pembelajaran, media, dan implementasi kurikulum. Berikutnya adalah "Penampilan Mengajar" yang berfokus pada penilaian, refleksi, dan motivasi siswa. Tema "Implementasi PKG" mencerminkan pemahaman guru terhadap paradigma baru dan gaya mengajar. Sementara itu, "Tantangan" yang teridentifikasi mencakup objektivitas penilaian, keterbatasan sarana, dan beban administrasi. Bagan ini Journal of SPORT (Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Trainin. Vol. 2025 | 553-570 ISSN : 2620-7699 (Onlin. ISSN : 2541-7126 (Prin. pembelajaran dan peningkatan kualitas pengajaran, meskipun masih menghadapi berbagai kendala dalam pelaksanaannya. Analisis menggunakan fitur chart di aplikasi NVivo memanfaatkan visualisasi data seperti diagram, grafik, dan matriks untuk membantu peneliti mengorganisir, menganalisis, dan menginterpretasi data kualitatif yang kompleks. Fitur ini memungkinkan peneliti mengidentifikasi pola, hubungan, dan tren data secara visual, sehingga hasil penelitian dapat disajikan dengan lebih menarik dan mudah dipahami, baik dalam laporan maupun presentasi. Adapun hasil analisis datanya adalah sebagai berikut: Gambar 7. Chart Coding Berdasarkan analisis pengkodean data, topik paling dominan yang dibahas adalah Strategi Pembelajaran . ,17%) dan Penilaian . ,15%), menunjukkan prioritas guru pada efektivitas pengajaran dan evaluasi siswa. Topik penting lainnya mencakup Media Pembelajaran . ,01%). Paradigma Baru . ,74%), dan Motivasi Siswa . ,28%), yang mencerminkan adaptasi guru terhadap pendekatan dan teknologi baru. Refleksi . ,88%) dan Gaya Mengajar . ,33%) juga menunjukkan kesadaran guru akan peningkatan kualitas praktik mengajar. Sementara itu, aspek teknis dan struktural seperti Objektivitas Penilai . ,26%). Penerapan Kurikulum . ,22%), dan Beban Administratif . ,17%) dibahas dalam porsi Robby Dzulfaqor Noor. Dinar Dinangsit. Aam Ali Rahman Analisis Implementasi Program PKG PJOK Terhadap Kualitas Pembelajaran PJOK Di Sekolah lebih kecil. Keterbatasan Sarana . ,80%) menjadi tema yang paling sedikit Secara keseluruhan, temuan ini mengindikasikan bahwa fokus utama guru terletak pada praktik pembelajaran langsung di kelas dan upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas proses tersebut. PEMBAHASAN Program Penilaian Kinerja Guru (PKG) untuk Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (PJOK) telah menunjukkan dampak positif yang signifikan terhadap kompetensi profesional guru. Observasi dan Focus Group Discussion (FGD) secara konsisten mengindikasikan bahwa PKG PJOK berfungsi sebagai katalisator dalam meningkatkan kinerja pengajaran guru, terutama pada empat area utama: presentasi di kelas, pengembangan materi dan media pengajaran, serta penilaian hasil belajar. Sebanyak 91% partisipan menunjukkan performa sangat baik dalam membuka/menutup pelajaran, penguasaan materi, penerapan strategi, serta pemanfaatan sumber daya dan media. Hanya sebagian kecil guru yang berada di kategori baik . , tanpa ada yang berkinerja rendah. Temuan ini menegaskan bahwa penilaian kinerja terstruktur memotivasi guru untuk menyajikan pembelajaran yang efektif, menarik, dan sistematis, menunjukkan penguasaan materi dan prinsip pedagogis. Hal ini konsisten dengan penelitian Baumgartner dkk . dan Guskey . yang menyoroti dampak positif evaluasi kinerja dan umpan balik terhadap praktik mengajar. Kompetensi guru dalam mengembangkan bahan ajar juga sangat memuaskan, dengan 78% partisipan mencapai skala 4, menunjukkan kemampuan tinggi dalam menyiapkan materi yang relevan dengan kebutuhan siswa PJOK. Kemampuan ini vital mengingat PJOK memerlukan adaptasi materi sesuai lapangan, fasilitas, dan karakteristik siswa. Keberhasilan PKG PJOK dalam mendorong guru menjadi desainer pembelajaran kreatif selaras dengan pandangan Baumgartner dkk . Journal of SPORT (Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Trainin. Vol. 2025 | 553-570 ISSN : 2620-7699 (Onlin. ISSN : 2541-7126 (Prin. dan Slameto . mengenai pentingnya guru aktif menciptakan dan mengadaptasi materi. Dalam 81,8% mencapai skala 4, menunjukkan kualitas pemilihan dan pembuatan media peraga yang baik. Penggunaan optimal media visual, audio, dan kinestetik esensial dalam PJOK untuk menggambarkan gerakan atau konsep Fakta bahwa guru mampu mengembangkan sumber daya ini menunjukkan motivasi mereka untuk meningkatkan interaktivitas dan Temuan ini didukung oleh Smaldino. Lowther dan Russell . serta Baumgartner dkk . yang menyatakan bahwa integrasi media yang tepat meningkatkan motivasi dan pemahaman siswa, khususnya dalam penguasaan keterampilan motorik. Sebagian besar guru juga menunjukkan kompetensi yang baik hingga teladan dalam menerapkan penilaian hasil belajar. Dalam analisis kebutuhan penilaian, 13 peserta pada skala 4 dan 7 peserta pada skala 3. Untuk instrumen tes, 16 peserta mencapai skala 4, dan untuk instrumen non-tes, 14 peserta meraih skala 4. Kompetensi ini sangat penting mengingat PJOK menilai aspek kognitif, psikomotor, dan afektif yang Pemahaman guru dalam merancang berbagai metode penilaian mencerminkan profesionalisme dalam menyusun penilaian holistik, sejalan dengan tuntutan kerangka pendidikan baru yang memerlukan penilaian komprehensif, autentik, dan berbasis kriteria (Gronlund, 2003. Kowalski & Milligan, 2. Secara PKG PJOK meningkatkan penguasaan kompetensi pedagogis dan profesional guru secara signifikan. Hasil FGD menunjukkan guru berdiskusi tentang "pembelajaran," "anak," "penilaian," "strategi pembelajaran," dan "media pembelajaran," menandakan fokus pada perubahan untuk peningkatan kompetensi dasar. Guru aktif memberikan umpan balik, memodifikasi pengajaran sesuai kebutuhan siswa, dan menghubungkan berbagai aspek PKG PJOK efektif sebagai alat pengembangan profesional formatif yang menunjang refleksi diri, peningkatan kapasitas, dan Robby Dzulfaqor Noor. Dinar Dinangsit. Aam Ali Rahman Analisis Implementasi Program PKG PJOK Terhadap Kualitas Pembelajaran PJOK Di Sekolah perkembangan profesional berkelanjutan, sejalan dengan pandangan Hattie . dan Supriadi . tentang pentingnya umpan balik dan profesionalisme guru bagi peningkatan mutu pendidikan. Meskipun PKG PJOK berdampak positif, penelitian ini menyoroti beberapa kendala sistemik dan struktural yang memerlukan perhatian yaitu: Keterbatasan Sarana dan Prasarana, muncul sebagai tema yang konsisten dirasakan guru, meskipun pengkodeannya hanya 0,80%. Ini meliputi fasilitas PJOK yang tidak memadai . apangan, peralata. , yang secara fundamental menghambat praktik dan variasi kegiatan optimal. Guru terpaksa mencari alternatif yang mungkin tidak sesuai atau aman. Hal ini diperkuat oleh penelitian Widiastuti . dan Purwanti . yang mengidentifikasi ketersediaan sarana sebagai penentu keberhasilan pembelajaran dan korelasinya dengan motivasi siswa serta kualitas penguasaan keterampilan motorik. Kemudina beban administratif yang berlebihan, dengan pengkodean 2,17%, beban administratif mengurangi waktu dan energi guru untuk persiapan pengajaran dan interaksi siswa, bahkan dapat menyebabkan burnout. Masalah ini seringkali menjadi penghambat guru untuk fokus pada tugas pedagogis dan pengembangan profesional, seperti disoroti oleh Baumgartner dkk . dan Fauzi . Selanjutnya objektivitas penilai, kekhawatiran terkait objektivitas penilai . ,26%) muncul, terutama dalam menilai keterampilan praktis PJOK. Mengukur aspek psikomotorik dan afektif lebih menantang dibandingkan kognitif, sehingga memerlukan instrumen yang jelas, rubrik rinci, dan pelatihan berkelanjutan untuk menghindari subjektivitas atau bias. Tantangan objektivitas dalam penilaian kinerja praktik PJOK juga ditekankan oleh Jackson dkk . dan Kirk . yang menyoroti kesulitan standarisasi dan potensi bias tanpa panduan kuat. Dan adaptasi kurikulum. Meskipun guru menunjukkan komitmen untuk beradaptasi dengan paradigma baru . ,74%) dan penerapan kurikulum . ,22%), proses adaptasi ini bisa menjadi penghambat awal. Guru memerlukan waktu dan dukungan untuk memahami filosofi baru, merancang ulang pembelajaran, dan mengubah gaya mengajar. Tanpa Journal of SPORT (Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Trainin. Vol. 2025 | 553-570 ISSN : 2620-7699 (Onlin. ISSN : 2541-7126 (Prin. pendampingan intensif, proses ini terasa memberatkan. Transformasi kurikulum adalah proses kompleks yang memerlukan perubahan mentalitas dan kapasitas guru (Hargreaves, 2003. Setiadi, 2. Secara kumulatif, faktor-faktor penghambat ini baik fisik, manajerial, maupun pedagogis, berpotensi memengaruhi efektivitas implementasi PKG PJOK. Meskipun guru berdedikasi tinggi, hambatan ini dapat menghambat potensi penuh program. Pemerintah dan institusi pendidikan perlu proaktif birokrasi dan pelatihan terfokus agar guru dapat mengajar secara optimal. Pandangan ini sejalan dengan kerangka kerja perubahan pendidikan oleh Baumgartner dkk . yang menekankan pentingnya keselarasan antara kebijakan, kapasitas sekolah dan dukungan sumber daya. KESIMPULAN Robby Dzulfaqor Noor. Dinar Dinangsit. Aam Ali Rahman Analisis Implementasi Program PKG PJOK Terhadap Kualitas Pembelajaran PJOK Di Sekolah Berdasarkan observasi, analisis dokumen, dan Focus Group Discussion (FGD), dapat disimpulkan bahwa implementasi Program Pengembangan Kompetensi Guru (PKG) PJOK berkontribusi positif pada peningkatan kompetensi profesional guru, terutama dalam penampilan pembelajaran, dan penilaian hasil belajar. Mayoritas membuka/menutup pembelajaran, penguasaan materi, strategi, dan pemanfaatan media. Dalam pengembangan bahan ajar dan media, sebagian besar guru mampu menyesuaikan dengan kebutuhan siswa dan konteks, meskipun ada sebagian kecil yang memerlukan penguatan teknis dan inovasi media. Hasil FGD dan analisis pengkodean menunjukkan fokus utama diskusi pada strategi pembelajaran, penilaian, penggunaan media, dan motivasi siswa, mencerminkan orientasi guru pada praktik langsung dan adaptasi terhadap paradigma serta kurikulum baru. Meskipun demikian, tantangan seperti objektivitas penilaian, keterbatasan sarana, dan beban administratif tetap menjadi perhatian, meski kurang dominan dalam diskusi. Oleh karena itu. Program PKG PJOK terbukti efektif dalam membangun kesadaran reflektif, kolaboratif, dan inovatif di kalangan guru untuk mengembangkan kualitas pembelajaran PJOK yang lebih kontekstual dan berpusat pada siswa. REFERENSI