Abdi Wisata. Volume 1. Nomor 1. Halaman 40-48. Tahun 2024 e-ISSN x-x | p-ISSN x-x Peningkatan Kualitas Tata Kelola Desa Wisata Melalui Jejaring dan Kemitraan di Kabupaten Sukabumi Eko Susanto1*. Sri Utari Widyastuti2. Mega Fitriani Adiwarna Prawira3 Program Studi Destinasi Pariwisata. Politeknik Negeri Bandung Direktorat Pengembangan Destinasi 1. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Program Studi Pengelolaan Usaha Rekreasi. Politeknik Pariwisata NHI Bandung *Email korespondensi: eko. susanto@polban. Abstrak Pengembangan desa wisata menjadi strategi utama dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan di Indonesia. Pengabdian kepada masyarakat ini mengevaluasi implementasi pelatihan dan diseminasi konsep pengembangan desa wisata berbasis masyarakat di Kabupaten Sukabumi. Jawa Barat. Melalui pendekatan pentahelix, kegiatan ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, masyarakat lokal, sektor bisnis, akademisi, dan media. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman tentang tata kelola desa wisata, peningkatan produk, kelembagaan, dan pemasaran. Dengan pendekatan interaktif, peserta diberikan kesempatan untuk mendiskusikan masalah terkait dan berbagi pengalaman. Hasilnya menunjukkan respons positif dari peserta, yang merasa lebih siap untuk berkontribusi dalam pembangunan destinasi pariwisata yang berkelanjutan. Dengan upaya kolaboratif dan penekanan pada prinsip-prinsip pariwisata hijau dan tata kelola yang baik, pengembangan desa wisata diharapkan dapat menjadi motor pertumbuhan pariwisata yang sehat dan berkelanjutan di masa depan. Kata kunci: Desa Wisata. Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan. Pelatihan dan Diseminasi. Tata Kelola Desa Wisata Riwayat artikel Diajukan Diterima Dipublikasikan : 23 Maret 2024 : 31 Mei 2024 : 31 Mei 2024 Abstract Village tourism development has emerged as a primary strategy for sustainable tourism development in Indonesia. This study evaluates the implementation of training and dissemination initiatives focused on community-based village tourism development concepts in Kabupaten Sukabumi. West Java. Using a Penta helix approach, the endeavor engages various stakeholders, including government bodies, local communities, businesses, academia, and media. The training aims to enhance understanding of village tourism governance, product enhancement, institutional capacity building, and marketing strategies. Participants are encouraged to discuss relevant issues and share experiences through interactive sessions. Results indicate a positive response from participants, who feel better equipped to contribute to developing sustainable tourism destinations. Through collaborative efforts and emphasis on green tourism principles and good governance, village tourism development is envisioned to catalyze healthy and sustainable tourism growth in the future. Keywords: Village Tourism Development. Sustainable Tourism Development. Training and Dissemination. Village Tourism Governance. https://ejournal. id/index. php/abdiwisata Abdi Wisata. Volume 1. Nomor 1. Halaman 40-48. Tahun 2024 e-ISSN x-x | p-ISSN x-x Pendahuluan Akselerasi pertumbuhan desa wisata telah menjadi bagian dari strategi utama pengembangan destinasi pariwisata berbasis masyarakat di Indonesia. Hal ini sejalan dengan prinsip pengembangan kepariwisataan Indonesia (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan, 2. yang bertumpu pada sumberdaya alam, budaya dan masyarakat serta sesuai dengan norma kehidupan bernegara. Desa wisata telah menjadi perhatian utama Pemerintah, terbukti sejak 5 tahun terakhir, upaya masif telah dilaksanakan untuk pengembangan desa wisata yang berkualitas dan mandiri. Berdasarkan data jaringan desa wisata Kemenparekraf RI (Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, 2. pada tahun 2024 diketahui terdapat 5022 desa wisata yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Berdasarkan data tersebut. Sulawesi Selatan menjadi Provinsi terbanyak dengan jumlah 503 desa wisata, disusul Jawa Timur . desa wisat. dan Sumatera Barat . desa wisat. Dari sumber yang sama, klaster desa rintisan masih mendominasi dengan jumlah 3775 desa wisata, sedangkan klaster berkembang 925, maju 300 dan mandiri sejumlah 23 desa. Mempertimbangkan senjang klaster yang demikian luas, serta mengingat besarnya potensi desa wisata yang telah ditetapkan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah, diperlukan adanya upaya peningkatan kualitas desa wisata melalui pengembangan jejaring desa wisata di Indonesia. Upaya pengembangan jejaring desa wisata memiliki keunggulan dalam menciptakan keterkaitan ekonomi antar destinasi (Jeyacheya & Hampton, 2. , memperkuat resiliensi saat krisis (Dahles & Susilowati, 2. serta akselerasi difusi teknologi di destinasi pariwisata (Susanto et al. , 2. Peningkatan jejaring desa wisata menjadi salah satu upaya tata kelola strategis dalam rangka mencapai pertumbuhan pariwisata yang sehat dan berkelanjutan. Kabupaten Sukabumi. Jawa Barat sebagai salah satu wilayah pengembangan destinasi telah memiliki 31 desa wisata yang tersebar pada geografis yang variatif. Pada wilayah ini, pengembangan desa wisata memanfaatkan kekayaan sumberdaya alam dan budaya sebagaimana tagline pariwisatanya yaitu Gurilaps (Gunung. Rimba. Laut. Pantai. Sunga. serta seni budaya. Pengelolaan desa wisata di wilayah pada aspek kelembagaan memiliki variasi berupa Kompepar/Pokdarwis. BUMBES, lembaga pedesaan serta komunitas informal sesuai dengan status perkembangan masing-masing desa. Dari 31 desa wisata yang telah didaftarkan pada sistem Jadesta Kemenparekraf belum seluruhnya menunjukkan perkembangan pasar yang optimal. Hal ini berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Sukabumi disebabkan oleh permasalahan pengembangan produk, kelembagaan, dan pemasaran. Dampak dari kurang optimalnya tata kelola ini mengakibatkan terjadinya stagnansi produk-pasar dan kualitas tata kelola desa wisata di wilayah ini. Pengembangan desa pariwisata merupakan proses yang kompleks yang memerlukan pendekatan komprehensif dan inklusif melibatkan berbagai pemangku kepentingan, praktik yang berkelanjutan, dan pemberdayaan masyarakat lokal. Konsep pengembangan desa pariwisata berpusat pada pemberdayaan masyarakat lokal, pelestarian sumber daya alam, dan promosi budaya lokal. Studi menekankan pentingnya keterlibatan dan kontrol masyarakat dalam pengembangan pariwisata untuk memastikan keberlanjutan dan meningkatkan kesejahteraan penduduk lokal (Kurniawan & Kurniati. Putra, 2019. Yunika Puspasari, 2. Model Penta Helix, yang melibatkan pemerintah, masyarakat, sektor bisnis, akademisi, dan media, telah diidentifikasi sebagai strategi yang berhasil untuk pengembangan desa pariwisata (Pradhipta et al. , 2021. Ratna Susanti et al. , 2. Pendekatan kolaboratif ini memastikan hasil positif dalam pengembangan desa pariwisata (Sari et al. , 2. Selain itu. Konsep Triple Bottom Line, yang berfokus pada keuntungan, orang, dan planet, telah diterapkan pada proyek pengembangan desa pariwisata, mencerminkan pendekatan holistik yang mempertimbangkan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan (Sandy et al. , 2. Selain itu, integrasi prinsip pariwisata hijau ke dalam model manajemen desa pariwisata berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan baik masyarakat maupun lingkungan (Meirejeki et al. , 2022. Sarja et , 2. Pengembangan desa pariwisata juga dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti nilai-nilai wisatawan, yang memainkan peran penting dalam membentuk pembangunan berkelanjutan desa-desa tradisional (Wei et al. , 2. Selain itu, pemanfaatan konsep pariwisata pintar dan teknologi informasi dalam pengembangan desa pariwisata dapat meningkatkan kompetensi masyarakat dan berkontribusi pada kesuksesan proyek secara keseluruhan (Helmita et al. , 2021. Sarja et al. , 2. https://ejournal. id/index. php/abdiwisata Abdi Wisata. Volume 1. Nomor 1. Halaman 40-48. Tahun 2024 e-ISSN x-x | p-ISSN x-x Konsep manajemen destinasi pariwisata (Page, 2. memberikan pemahaman bahwa suatu upaya peningkatan tata kelola dapat dilakukan dengan membangun destinasi yang saling terhubung. Demikian halnya, diperlukan adanya kesiapan yang baik dari host community terhadap visi pengembangan agar destinasi tetap mendapat dukungan sosial secara optimal (Rosadi et al. , 2. Keterhubungan desa wisata dapat memanfaatkan kesatuan platform pemasaran, integrasi pengembangan produk yang holistik dalam sebuah branding Kabupaten Sukabumi serta pemanfaatan infrastruktur akses destinasi yang terintegrasi. Memperhatikan adanya peluang peningkatan kualitas tata kelola melalui jejaring desa wisata di Kabupaten Sukabumi, dilaksanakan sebuah aktivitas pengabdian kepada masyarakat berupa pelatihan dan diseminasi konsep pengembangan desa wisata berbasis masyarakat. Metode Untuk mencapai tujuannya, aktivitas pengabdian kepada masyarakat dilakukan melalui aktivitas pelatihan dan diseminasi konsep tata kelola peningkatan produk-pasar-kelembagaan sebagai aspek dari tata kelola desa wisata. Metode ini dianggap sesuai sebagai langkah teknis peningkatan pengetahuan host-community dan telah dibuktikan dampaknya sebagaimana pada aktivitas pengabdian kepada masyarakat sektor pariwisata di Pantai Sawarna (Afgani et al. , 2021. Darmansyah et al. , 2. Pantai Plentong (Prawira et al. , 2. dan industri MICE (Noor et al. , 2. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 12 Maret 2024, diinisiasi oleh Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf/Baparekraf serta Komisi X DPR-RI di Kabupaten Sukabumi. Melalui pendekatan pentahelix, kegiatan dihadiri oleh peserta masyarakat pariwisata dan pengelola desa wisata di Kabupaten Sukabumi, dan secara kolaboratif melibatkan pihak Pemerintah Pusat (Kemenpar/Baparekra. DPR RI. Pemerintah Daerah (Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabum. , asosiasi pariwisata dan Politeknik Negeri Bandung. Hasil dan Pembahasan 1 Materi Pelatihan Pada tahap perencanaan pelatihan pariwisata, berbagai faktor dipertimbangkan untuk memastikan efektivitas dan keberlanjutan program. Keterlibatan masyarakat lokal dalam pelatihan, pemberdayaan, dan keterlibatan komunitas dinilai sangat penting untuk kesuksesan inisiatif pariwisata Program pendidikan dan pelatihan perlu diperkenalkan sejak awal dalam pembangunan kapasitas masyarakat untuk menciptakan pengetahuan dan kesadaran pariwisata. Pemahaman atas profil wisatawan dan proses bisnis pariwisata menjadi hal mendasar dalam pemberdayaan masyarakat di desa wisata untuk dapat membuat keputusan berdasarkan informasi tentang karakteristik pengembangan pariwisata. Strategi manajemen pariwisata berbasis masyarakat dipertimbangkan seperti mengidentifikasi kelompok masyarakat untuk mengatur dan mengarahkan partisipasi melalui program pelatihan dan pemberdayaan. Selanjutnya, dengan mengintegrasikan elemen-elemen inovatif dalam pengembangan program pelatihan untuk pariwisata dan mempertimbangkan dinamika industri pariwisata, dibentuk desain program pelatihan yang berfokus pada keterampilan kepariwisataan bagi masyarakat sasaran dalam rangka peningkatan kualitas layanan. Selain itu, dengan mengutilisasi metode pengajaran andragogik berupa metode pengajaran interaktif dan kontekstual dilakukan sebagai bagian dari desain kurikulum teknis pelatihan. Lebih lanjut, dilakukan Training Need Analysis untuk mengkoordinasikan rangkaian kegiatan pelatihan dengan desain aktivitas keseluruhan. https://ejournal. id/index. php/abdiwisata Abdi Wisata. Volume 1. Nomor 1. Halaman 40-48. Tahun 2024 e-ISSN x-x | p-ISSN x-x Berdasarkan aktivitas ini, dibentuk rangkaian materi pelatihan yang tersusun berupa materi: . isu strategis pariwisata Kabupaten Sukabumi. Modalitas desa wisata. Prinsip tata kelola. Upaya teknis dan . Diskusi, sebagaimana disajikan pada Gambar 1. Gambar 1. Rancangan Materi Pelatihan sumber: olahan penulis, 2024 Materi isu strategis pariwisata mengulas perkembangan kunjungan dan pergerakan wisatawan ke Kabupaten Sukabumi yang dengan sumber opendatajabar. id (Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Dari data tersebut, diulas bahwa Kabupaten Sukabumi memiliki pangsa pasar 9% dari total wisatawan Jawa Barat Tahun 2022 dengan jumlah kunjungan 6,63 juta. Diulas juga mengenai isu overtourism pada beberapa wilayah Jawa Barat, khususnya kawasan Puncak Bogor yang dapat digunakan sebagai peluang pasar desa wisata di Kabupaten Sukabumi dengan pertimbangan kesamaan karakter alam dan potensi pasar Jabodetabek serta isu perkembangan infrastruktur toll yang menghubungkan Jaboadetabek-Kabupaten Sukabumi. Gambar 2. Materi Profil Pasar Pariwisata Jawa Barat sumber: olahan penulis, 2024 Pada bagian berikutnya, sebagaimana disajikan pada Gambar 2, materi didesain untuk menyampaikan update profil pasar wisatawan di Jawa Barat. Pada bagian ini, disampaikan bahwa Jawa Barat memiliki pangsa pasar Adventourist. Comfortourist dan Vibrantourist. Ketiga kelompok pasar wisatawan ini diperoleh dari data Pemerintah Provinsi Jawa Barat, ditujukan untuk memberikan pemahaman perubahan perilaku wisatawan yang saat ini cenderung diwarnai oleh segmen demografi usia produktif. Segmen ini membutuhkan adanya proses bisnis dan transaksi keuangan yang berada pada ekosistem digital. Pada desain materi berikutnya disajikan tentang modalitas desa wisata yang terdiri atas prakondisi desa wisata . , kepemilikan atas sumberdaya atraksi alam, budaya dan buatan, adanya dukungan masyarakat secara normatif dan partisipatif serta adanya penggerak pariwisata . ocal champion. Materi ini diberikan untuk memberikan kesadaran kepada peserta mengenai kondisi dan karakteristik sumberdaya desa wisata yang dimiliki di wilayah masing-masing. Materi didesain secara sederhana untuk memudahkan pemahaman peserta secara visual dan verbal. https://ejournal. id/index. php/abdiwisata Abdi Wisata. Volume 1. Nomor 1. Halaman 40-48. Tahun 2024 e-ISSN x-x | p-ISSN x-x Gambar 3. Materi Pendekatan Pengembangan Desa Wisata sumber: olahan penulis, 2024 Materi berikutnya, sebagaimana disajikan pada Gambar 3, diberikan pemahaman jenis pendekatan pengembangan desa wisata secara top-down dan bottom-up. Pendekatan top-down berupa intervensi pengembangan desa wisata yang bertumpu pada inisiatif pemerintah, sedangkan bottom-up dilakukan atas inisiatif penuh masyarakat yang didasari oleh kesadaran atas adanya potensi dan kebutuhan pengembangan desa wisata. Dalam desain pelatihan, materi tidak dibuat untuk membuat segregasi antara kedua pendekatan, melainkan ditujukan untuk memotivasi pemahaman bahwa kedua pendekatan ini dapat digunakan sesuai kepentingan dan karakteristik masyarakat lokal. Untuk memberikan pemahaman mengenai prinsip tata kelola, diberikan materi yang memberikan penekanan kepada peserta pentingnya penerapan prinsip community-based tourism berupa partisipasi masyarakat, pemberdayaan, kepemilikan lokal, keberlanjutan. Selanjutkan prinsip tata kelola desa wisata berupa keadilan dan inklusivitas, pendekatan holistik dan kemitraan kolaboratif. Desain materi ini disajikan sebagaimana Gambar 4. Gambar 4. Materi Prinsip Tata Kelola Desa Wisata Berbasis Masyarakat sumber: olahan penulis, 2024 Desain materi pelatihan dipungkasi dengan materi upaya perbaikan tata kelola pada aspek produk, kelembagaan, pemasaran. Perbaikan aspek produk diberikan penekanan pada upaya pengembangan produk desa wisata yang memiliki diferensiasi dengan mengandalkan keunikan sumberdaya setiap desa wisata. Pada aspek pemasaran, diberikan pemahaman mengenai urgensi komunikasi pemasaran digital yang sederhana, dengan memberikan pesan bahwa seluruh warga desa dapat menjadi duta pemasaran desa wisata. Sedangkan pada aspek kelembagaan diberikan penekanan pada materi pentingnya pembentukan lembaga pengelolaan desa wisata secara formal untuk dapat mengikat kerjasama bersama para pihak serta upaya perlindungan hukum atas resiko bisnis yang melekat pada aktivitas desa wisata. https://ejournal. id/index. php/abdiwisata Abdi Wisata. Volume 1. Nomor 1. Halaman 40-48. Tahun 2024 e-ISSN x-x | p-ISSN x-x 2 Pelaksanaan Diseminasi dan Pelatihan Kegiatan diseminasi pengetahuan dan pelatihan tata kelola dan peningkatan jejaring wisata dilaksanakan selama 1 hari dengan peserta pengelola dan masyarakat desa wisata. Kegiatan diawali dengan sambutan para pihak yang hadir selanjutnya diisi dengan penyampaian materi. Untuk memberikan kesamaan pemahaman, diberikan sesi ice breaking berupa permainanan salam-tolongterima kasih-maaf secara interaktif diantara peserta. Gambar 5. Pelaksanaan Pelatihan Tata Kelola Desa Wisata Berbasis Masyarakat sumber: dokumentasi kegiatan, 2024 Penyampaian materi dilakukan secara interaktif dengan banyak memberikan kesempatan peserta untuk mendeskripsikan desa masing-masing dan dielaborasi satu sama lain sebagai upaya penyampaian materi yang kontekstual. Pada sesi ini diketahui bahwa peserta memiliki perbedaan yang signifikan, terdapat peserta yang telah secara aktif berpartisipasi dalam pengembangan desa, banyak juga diantaranya yang baru memiliki ide pengembangan desa. Para narasumber diberikan kesempatan untuk menyampaikan perspektif masing-masing, dimana pada prinsipnya seluruh pihak mendukung terbentuknya jejaring desa wisata yang efektif di Kabupaten Sukabumi. Seluruh desa wisata perlu membangun komunikasi yang lebih erat dengan tujuan terlaksananya upaya pengembangan produk-pasar-kelembagaan desa wisata yang integral di Kabupaten Sukabumi. Para narasumber memberikan pemahaman kepada peserta tentang pentingnya memasarkan destinasi sebagai suatu kesatuan wilayah, berupaya membangun desa wisata di atas keunikan sumberdaya serta mengesampingkan dampak negatif yang dapat memberikan hambatan pengembangan desa wisata. Aktivitas ini juga memberikan pandangan bahwa desa wisata perlu memberikan pengalaman kunjungan yang holistik sehingga wisatawan memiliki siklus to do - to see - to buy and to Say See Buy Gambar 6. Ide Siklus Pengalaman Di Desa Wisata https://ejournal. id/index. php/abdiwisata Abdi Wisata. Volume 1. Nomor 1. Halaman 40-48. Tahun 2024 e-ISSN x-x | p-ISSN x-x Pada akhirnya, melalui pelatihan dan pemberdayaan komunitas lokal, tercipta kesadaran yang lebih baik tentang pentingnya menerapkan prinsip-prinsip berbasis masyarakat dalam pengembangan Peserta pelatihan memberikan tanggapan bahwa mereka telah mendapatkan tambahan pengetahuan yang diperlukan untuk berkontribusi secara positif dalam pembangunan destinasi pariwisata yang berkelanjutan. Dengan demikian, program pelatihan ini diharapkan dapat menjadi landasan untuk mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan di masa depan. Simpulan Akselerasi pertumbuhan desa wisata telah menjadi bagian integral dari strategi pengembangan destinasi pariwisata berbasis masyarakat di Indonesia, yang sejalan dengan prinsip-prinsip kepariwisataan Indonesia. Desa wisata telah mendapatkan perhatian serius dari Pemerintah, dan upayaupaya signifikan telah dilakukan dalam lima tahun terakhir untuk mengembangkan desa wisata yang berkualitas dan mandiri di seluruh Indonesia. Namun, data menunjukkan bahwa masih ada tantangan yang harus diatasi, terutama terkait dengan pengembangan produk, kelembagaan, dan pemasaran desa Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan upaya peningkatan kualitas desa wisata melalui pengembangan jejaring desa wisata di Indonesia. Pengembangan jejaring desa wisata memiliki potensi untuk meningkatkan keterkaitan ekonomi antar destinasi, memperkuat resiliensi dalam menghadapi krisis, dan mempercepat difusi teknologi di sektor pariwisata. Oleh karena itu, peningkatan jejaring desa wisata menjadi kunci dalam mencapai pertumbuhan pariwisata yang sehat dan berkelanjutan. Pengabdian kepada masyarakat ini menunjukkan bahwa Kabupaten Sukabumi. Jawa Barat, memiliki potensi besar sebagai salah satu wilayah pengembangan destinasi pariwisata. Namun, masih ada ruang untuk meningkatkan tata kelola desa wisata, terutama terkait dengan pengembangan produk, kelembagaan, dan pemasaran. Dengan demikian, aktivitas pelatihan dan diseminasi konsep pengembangan desa wisata berbasis masyarakat menjadi sangat relevan. Pelatihan telah dilaksanakan dengan baik, melibatkan berbagai pemangku kepentingan dan masyarakat lokal. Peserta pelatihan memberikan tanggapan positif dan menyatakan bahwa mereka merasa lebih siap untuk berkontribusi dalam pembangunan destinasi pariwisata yang berkelanjutan. Oleh karena itu, program pelatihan ini diharapkan dapat menjadi landasan yang kuat untuk mewujudkan visi pariwisata yang berkelanjutan di masa depan. Dengan kerjasama yang kuat antara pemerintah, masyarakat, sektor bisnis, akademisi, dan media, serta penerapan konsep-konsep manajemen destinasi pariwisata yang inovatif. Indonesia dapat terus maju sebagai salah satu destinasi pariwisata terkemuka di dunia. Referensi Afgani. Nainggolan. Rahadi. Darmansyah. Pringgabayu. Santoso. Silmi. Susanto. Novianti. Septyandi. , & Prawira. Pelatihan Pengemasan Paket Wisata dan Media Promosi Digital Bagi Pelaku Pariwisata Di Kawasan Wisata Sawarna Kabupaten Lebak Provinsi Banten. JATI EMAS (Jurnal Aplikasi Teknik Dan Pengabdian Masyaraka. , 5. , 53. https://doi. org/10. 36339/je. Dahles. , & Susilowati. Business resilience in times of growth and crisis. Annals of Tourism Research, 51, 34Ae50. https://doi. org/10. 1016/j. Darmansyah. Sutardi. Afgani. Susanto. Syaputri. , & Khaerani. Strategi Peningkatan Kinerja UMKM Wisata Pantai Berbasis Digital (Kasus Wisata Pantai Desa Sawarna. Kec. Bayah. Lebak. Bante. Prosiding Seminar Nasional Abdimas Ma Chung, 40Ae54. Helmita. Sari. Julianti. , & Dwinata. Pengembangan Desa Wisata Berkonsep Smart Tourism Melalui Pemberdayaan Kompetensi Masyarakat Desa Pujorahayu. GEMA : Jurnal Gentiaras Manajemen Dan Akuntansi, 13. , 37Ae49. https://doi. org/10. 47768/gema. Jeyacheya. , & Hampton. Wishful thinking or wise policy? Theorising tourism-led inclusive growth: Supply chains and host communities. World Development, 131, 104960. https://ejournal. id/index. php/abdiwisata Abdi Wisata. Volume 1. Nomor 1. Halaman 40-48. Tahun 2024 e-ISSN x-x | p-ISSN x-x https://doi. org/10. 1016/j. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. Peta Sebaran Desa Wisata. Jaringan Desa Wisata. https://jadesta. id/sebaran Kurniawan. , & Kurniati. Assessment of the Achievement Level Kandri Tourism Village. Gunungpati District. Semarang City. TATALOKA, 24Ae39. https://doi. org/10. 14710/tataloka. Meirejeki. Suarta. Putra. Swabawa. , & Salain. Management model of tourism village based green tourism through a holistic approach in Blimbingsari Tourism Village. Melaya District Jembrana Regency. Journal of Applied Sciences in Travel and Hospitality, 5. , 65Ae75. https://doi. org/10. 31940/jasth. Noor. Sanjaya. Erwin. Hastuti. Trihartanti. , & Susanto. Perancangan Indikator Sustainable MICE Sebagai Bentuk Kolaborasi Perguruan Tinggi dan Dunia Industri. JATI EMAS (Jurnal Aplikasi Teknik Dan Pengabdian Masyaraka. , 4. , 67. https://doi. org/10. 36339/je. Page. Tourism Management . th ed. Routledge. Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Dataset Pariwisata & Budaya Jawa Barat. Open Data Jabar. https://opendata. id/id/hasil-pencarian?topic=13 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan, . Pradhipta. Pusparani, & Nofiyanti. Penta Helix Strategy in Rural Tourism (Case Study of Tugu Utara Bogo. E3S Web of Conferences, 232, 04010. https://doi. org/10. 1051/e3sconf/202123204010 Prawira. Johari. Prawira. , & Susanto. Sumber Daya Alam dan Kearifan Lokal sebagai Rasional dalam Workshop Visual branding Kawasan Wisata Pantai Plentong Kabupaten Indramayu Jawa Barat. JATI EMAS (Jurnal Aplikasi Teknik Dan Pengabdian Masyaraka. , 4. , 49. https://doi. org/10. 36339/je. Putra. A Review on Penta Helix Actors in Village Tourism Development and Management. Journal of Business on Hospitality and Tourism, 5. , 63. https://doi. org/10. 22334/jbhost. Ratna Susanti. Suci Purwandari, & Basnendar Herry Prilosadoso. Penta Helix as Strategy of Tourism Village Development in Karangasem Village. Bulu District. Sukoharjo Regency. International Journal of Social Science, 2. , 1979Ae1984. https://doi. org/10. 53625/ijss. Rosadi. Susanto. Fitriani. Dewi. Cantika. , & Puluhulawa. Host-Community Readiness Towards Tourism Reactivity: Young PeopleAos Perspectives in Greater Bandung. Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran Dan Dakwah Pembangunan, 6. , 25Ae46. https://doi. org/10. 14421/jpm. Sandy. Murtafia. , & Lucita. Management of Tourism Villages Using the Triple Bottom Line Concept. Jurnal AdAoministrare, 9. , 679. https://doi. org/10. 26858/ja. Sari. Handayani. Marta. Desiana. , & Wiranata. Penta Helix Collaboration on Village Tourism Development Program in Indonesia Post Covid-19 Pandemic. https://doi. org/10. 2991/assehr. Sarja. Widana. Suprapto. , & Pamularsih. Developing Green Tourism-Based Model of Information Technology Utilization in Tourism Villages. International Journal of Applied Sciences in Tourism and Events, 5. , 153Ae165. https://doi. org/10. 31940/ijaste. https://ejournal. id/index. php/abdiwisata Abdi Wisata. Volume 1. Nomor 1. Halaman 40-48. Tahun 2024 e-ISSN x-x | p-ISSN x-x Susanto. Hendrayati. Rahtomo. , & Prawira. Adoption of Digital Payments for Travelers at Tourism Destinations. African Journal of Hospitality. Tourism and Leisure, 11. , 741Ae753. Wei. Mimi. Honggen. , & Jinhe. Study on the Influence of TouristsAo Value on Sustainable Development of Huizhou Traditional Villages-- A Case of Hongcun and Xidi. E3S Web of Conferences, 236, 03007. https://doi. org/10. 1051/e3sconf/202123603007 Yunika Puspasari. Existence Pilgrim KawiAos: Sustainable Rural Tourism Approach for Sumbertempur. E3S Web Conferences, https://doi. org/10. 1051/e3sconf/202236103023 Ucapan Terima Kasih