Atmosfer: Jurnal Pendidikan. Bahasa. Sastra. Seni. Budaya, dan Sosial Humaniora Volume 3. Nomor 3. Agustus 2025 e-ISSN: 2964-982X . p-ISSN: 2962-1232. Hal. DOI: https://doi. org/10. 59024/atmosfer. Tersedia : https://pbsi-upr. id/index. php/atmosfer Penguatan Edukasi Bahasa Indonesia sebagai Strategi Pencegahan Bullying dalam Mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGS) di SDN 02 Simalanggang Indra Yeni 1*. Latifah Qorimahtul Fajri 2. Annisa Nur Fahada 2. Gusridur Yanti 3. Idris Albasyitu 3. Dini Aminarti 3 PGPAUD. Universitas Negeri Padang l. Prof. Dr. Hamka. Air Tawar Bar. Kec. Padang Utara. Kota Padang. Sumatera Barat Indonesia 25171 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Universitas Negeri Padang l. Prof. Dr. Hamka. Air Tawar Bar. Kec. Padang Utara. Kota Padang. Sumatera Barat Indonesia 25171 Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik. Universitas Negeri Padang l. Prof. Dr. Hamka. Air Tawar Bar. Kec. Padang Utara. Kota Padang. Sumatera Barat Indonesia 25171 *Penulis Korespondensi: indrayeni. 30031971@gmail. Abstract. The activity of strengthening Indonesian language education as a bullying prevention strategy at SDN 02 Simalanggang aims to raise students' awareness of the negative impacts of bullying and the importance of good communication in creating positive relationships, in line with the Sustainable Development Goals (SDG. , particularly SDG 4, which focuses on quality education. This program was carried out on June 20, 2025, involving 200 students and 15 teachers. The methods used include observation, socialization, effective communication training, and counseling for students involved in bullying cases. The results of the activity show a significant increase in students' understanding of bullying and the importance of speaking properly, as well as a 30% reduction in bullying incidents at school. Evaluation was carried out through direct observation, which showed positive changes in students' behavior, both as perpetrators and victims of bullying. This program also reinforces the concepts of effective communication and character education, which have proven to reduce bullying and create a safer and more inclusive learning environment. Based on these results, the activity provides great benefits for students' character development and creates a more supportive school atmosphere, contributing to the achievement of SDGs in quality education. The program involved a series of activities, such as observation to identify bullying incidents, socialization sessions to inform students about bullying and its consequences, and communication training to improve students' skills in handling conflicts constructively. Counseling was also provided to students who were either perpetrators or victims of bullying, helping them to understand the impact of their actions and how to manage emotions and behavior in a more positive manner. After the program, a noticeable shift in behavior was observed, particularly in the way students interacted with one another. significant reduction in bullying incidents by 30% demonstrates the effectiveness of communication-based Keywords: Bullying Prevention. Character Education. Effective Communication. Indonesian Language Education. SDGs Quality Education Abstrak. Kegiatan penguatan pendidikan bahasa Indonesia sebagai strategi pencegahan perundungan di SDN 02 Simalanggang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran siswa terhadap dampak negatif perundungan dan pentingnya komunikasi yang baik dalam menciptakan hubungan yang positif, sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB), khususnya TPB 4 yang berfokus pada pendidikan bermutu. Program ini dilaksanakan pada tanggal 20 Juni 2025 dengan melibatkan 200 siswa dan 15 guru. Metode yang digunakan meliputi observasi, sosialisasi, pelatihan komunikasi efektif, dan konseling bagi siswa yang terlibat kasus Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa secara signifikan terhadap perundungan dan pentingnya berbicara yang baik dan benar, serta penurunan kejadian perundungan di sekolah sebesar 30%. Evaluasi dilakukan melalui observasi langsung yang menunjukkan adanya perubahan positif pada perilaku siswa, baik sebagai pelaku maupun korban perundungan. Program ini juga memperkuat konsep komunikasi efektif dan pendidikan karakter yang terbukti mampu mengurangi perundungan dan menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman dan inklusif. Berdasarkan hasil ini, kegiatan tersebut memberikan manfaat besar bagi pengembangan karakter siswa dan menciptakan suasana sekolah yang lebih mendukung, berkontribusi pada pencapaian SDGs dalam pendidikan berkualitas. Program ini melibatkan serangkaian kegiatan, seperti observasi untuk mengidentifikasi insiden perundungan, sesi sosialisasi untuk memberi tahu siswa tentang perundungan dan konsekuensinya, dan pelatihan komunikasi untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam menangani konflik secara konstruktif. Konseling juga diberikan kepada siswa yang menjadi pelaku atau korban Naskah Masuk: 12 Juli 2025. Revisi: 26 Juli 2025. Diterima: 23 Agustus 2025. Tersedia: 28 Agustus 2025. Terbit: 28 Agustus 2025. Penguatan Edukasi Bahasa Indonesia sebagai Strategi Pencegahan Bullying dalam Mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGS) di SDN 02 Simalanggang perundungan, membantu mereka memahami dampak tindakan mereka dan cara mengelola emosi dan perilaku dengan cara yang lebih positif. Setelah program, perubahan perilaku yang nyata diamati, terutama dalam cara siswa berinteraksi satu sama lain. Penurunan signifikan dalam insiden perundungan sebesar 30% menunjukkan efektivitas intervensi berbasis komunikasi. Kata kunci: Edukasi Bahasa Indonesia. Pencegahan Bullying. Komunikasi Efektif. Pendidikan Karakter. SDGs Pendidikan Berkualitas. PENDAHULUAN SDN 02 Simanggang, yang terletak di Kecamatan Payakumbuh. Kabupaten Lima Puluh Kota. Provinsi Sumatera Barat, saat ini tengah menghadapi tantangan signifikan terkait penanganan kasus perundungan . di lingkungan sekolah. Fenomena bullying pada jenjang dasar sekolah merupakan permasalahan serius yang tidak hanya berdampak pada proses pembelajaran, tetapi juga dapat mengganggu perkembangan fisik, mental, dan emosional peserta didik. Berdasarkan data kuantitatif yang dihimpun, diperkirakan sekitar 15% dari total jumlah siswa di SDN 02 Simanggang pernah mengalami tindakan perundungan, baik dalam bentuk kekerasan verbal, fisik, maupun pengucilan sosial. Angka ini menunjukkan bahwa bullying merupakan permasalahan nyata yang memerlukan perhatian khusus karena dapat menghambat kemajuan akademik siswa sekaligus mengganggu kualitas interaksi sosial mereka (Nizmi et al. , 2. Sebagai salah satu bentuk kekerasan yang cukup sering muncul di lingkungan pendidikan, bullying membawa dampak negatif yang luas bagi korban. Tidak hanya memperburuk penurunan prestasi akademik, tindakan perundungan juga dapat menimbulkan berbagai gangguan psikologis seperti stres, kecemasan berlebih, depresi, hingga rasa tidak percaya diri (Prasojo & Hasanah, 2. Kondisi tersebut, apabila tidak segera ditangani, berpotensi membahayakan kesehatan mental dan kesejahteraan emosional siswa, yang pada akhirnya akan mempengaruhi kualitas serta efektivitas proses belajar-mengajar di sekolah. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah preventif dan intervensi yang terencana untuk menekan, bahkan menghapus, kasus-kasus bullying di tingkat sekolah dasar, khususnya di SDN 02 Simalanggang. Upaya pencegahan bullying di sekolah dasar memerlukan strategi yang bersifat menyeluruh atau holistik, yang tidak hanya fokus pada penindakan, tetapi juga pada pembentukan kesadaran serta peningkatan keterampilan komunikasi para siswa. Salah satu strategi yang dapat dikembangkan adalah melalui penguatan pembelajaran bahasa Indonesia sebagai sarana membangun interaksi yang positif, saling menghargai, dan mengakui keberagaman di antara peserta didik. Dengan pemahaman yang baik mengenai penggunaan ATMOSFER - VOLUME 3. NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 2964-982X . p-ISSN: 2962-1232. Hal. bahasa yang santun, bijaksana, dan berempati, siswa dapat belajar untuk saling menghormati, menghindari kata-kata yang menyakitkan, serta menahan diri dari perilaku yang dapat merugikan teman sekelas mereka (BANGSA, 2. Oleh karena itu, inisiatif untuk memperkuat pendidikan bahasa Indonesia dengan fokus pada pencegahan perundungan di SDN 02 Simanggang menjadi sangat relevan dan mendesak untuk dilaksanakan. Program yang dirancang dalam konteks ini tidak hanya mengajarkan aspek kebahasaan secara teknis, tetapi juga membekali siswa dengan kemampuan memilih kata, menyusun kalimat, dan menyampaikan pesan dengan cara yang membangun suasana harmonis di sekolah. Kegiatan yang dapat dilakukan meliputi penyuluhan, pelatihan berbasis simulasi interaksi, serta pendampingan berkelanjutan yang menekankan pentingnya etika berbahasa. Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan siswa dapat memahami dampak negatif perundungan, baik bagi korban maupun pelaku, sehingga mampu menciptakan pola interaksi yang sehat, suportif, dan produktif. Pendekatan edukasi berbasis bahasa ini sekaligus selaras dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDG. , khususnya target pada SDG 4 tentang pendidikan berkualitas. Jika dilaksanakan secara konsisten, penguatan keterampilan komunikasi antar siswa akan membantu membentuk lingkungan sekolah yang lebih inklusif, ramah anak, dan mendukung perkembangan akademik maupun sosial-emosional mereka. Keandalan teknologi pendukung serta kebijakan yang diterapkan dalam program ini dapat diperkuat melalui bukti empiris dari penelitian-penelitian terdahulu yang mengkaji hubungan antara pembelajaran bahasa dan pencegahan perilaku perundungan di sekolah dasar. Sejumlah penelitian sebelumnya membuktikan bahwa inisiatif pendidikan yang memadukan pengajaran bahasa dengan pelatihan karakter terbukti mampu menekan angka kejadian bullying secara signifikan (Nizmi et al. , 2. Temuan ini menjadi dasar yang kuat bagi penerapan pendekatan serupa di SDN 02 Simanggang, dalam mana penggunaan pembelajaran bahasa Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga sebagai instrumen pembentuk sikap dan perilaku positif di kalangan siswa. Oleh karena itu, program ini memiliki potensi besar untuk memberikan dampak positif yang bersifat jangka panjang dan berkelanjutan bagi lingkungan sekolah. Fokus utama kegiatan ini adalah meningkatkan pemahaman siswa mengenai bahaya bullying sekaligus membekali mereka dengan keterampilan komunikasi yang efektif dalam menghadapi dinamika sosial di sekolah. Melalui penerapan pembelajaran bahasa Indonesia yang lebih mendalam dan interaktif, siswa diharapkan mampu mengelola emosi, menghindari pertikaian yang merugikan, serta membangun hubungan yang sehat dan saling menghargai Penguatan Edukasi Bahasa Indonesia sebagai Strategi Pencegahan Bullying dalam Mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGS) di SDN 02 Simalanggang dengan teman sebaya. Pendekatan ini juga sepenuhnya sejalan dengan upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDG. , khususnya pada SDG 4 yang menekankan pentingnya pendidikan yang inklusif, setara, dan berkualitas. Harapan yang ingin dicapai adalah terciptanya perubahan nyata dalam pola interaksi siswa, di mana perilaku saling menghormati dan mendukung menjadi budaya yang melekat di Perubahan ini diharapkan dapat mengurangi frekuensi kejadian perundungan, menciptakan rasa aman bagi seluruh warga sekolah, serta membangun ekosistem pendidikan yang mendukung perkembangan akademik, sosial, dan emosional peserta didik. METODE PENELITIAN Kegiatan ini dilaksanakan di SDN 02 Simanggang, yang terletak di Kecamatan Payakumbuh. Kabupaten Lima Puluh Kota. Provinsi Sumatera Barat, pada tanggal 20 Juni Pemilihan lokasi tidak dilakukan secara kebetulan, melainkan didasarkan pada temuan bahwa sekolah ini mengalami peningkatan jumlah kasus perundungan dalam beberapa waktu Fenomena tersebut berdampak langsung terhadap kondisi psikologis maupun prestasi akademik siswa, sehingga diperlukan upaya intervensi yang terencana. Fokus utama dari kegiatan ini adalah menekan angka kejadian bullying melalui penguatan pembelajaran bahasa Indonesia yang dirancang secara efektif dan aplikatif. Sejalan dengan pendapat Muliadi dkk. , tahap awal yang krusial dalam penanganan bullying adalah melakukan pengumpulan data mengenai tingkat prevalensi dan faktor-faktor penyebabnya. Langkah ini menjadi fondasi penting agar strategi intervensi dapat disesuaikan dengan kondisi nyata di lapangan, sehingga hasilnya lebih terarah dan tepat sasaran. Metode pelaksanaan kegiatan dirancang dalam empat tahap inti, yaitu persiapan, penyuluhan, pelatihan, dan pendampingan. Tahap persiapan dimulai dengan proses identifikasi dan pengumpulan data terkait kejadian bullying di sekolah. Data ini kemudian dianalisis untuk menyusun program pencegahan yang sesuai dengan karakteristik siswa dan lingkungan Pada tahap penyuluhan, siswa diberikan pemahaman mengenai dampak negatif bullying serta pentingnya penggunaan bahasa yang santun dalam membangun hubungan sosial yang positif. Tahap berikutnya adalah pelatihan, yang fokus pada pengembangan keterampilan komunikasi efektif, termasuk membangun empati melalui bahasa agar interaksi antar siswa lebih sehat dan saling menghargai. ATMOSFER - VOLUME 3. NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 2964-982X . p-ISSN: 2962-1232. Hal. Pendampingan dilakukan secara berkelanjutan untuk memberikan dukungan kepada siswa yang pernah terlibat dalam kasus bullying, baik sebagai korban maupun pelaku. Pada tahap ini, selain dukungan psikologis, siswa juga diperkenalkan pada teknik-teknik komunikasi yang dapat membantu mereka menghindari terjadinya konflik atau perundungan di masa depan (Yuningsih et al. , 2. Untuk menilai keberhasilan program, dilakukan evaluasi melalui survei yang mengukur perubahan sikap, pengetahuan, dan keterampilan siswa sebelum serta sesudah kegiatan dilaksanakan. Hasil evaluasi ini akan menjadi indikator penting dalam menilai efektivitas program sekaligus menjadi bahan pertimbangan untuk pengembangan kegiatan serupa di masa mendatang. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada tahap pelaksanaan program, berbagai rangkaian kegiatan dirancang dan dilaksanakan dengan melibatkan partisipasi aktif siswa serta guru di SDN 02 Simanggang. Seluruh kegiatan difokuskan pada upaya pencegahan perundungan melalui strategi penguatan pendidikan bahasa Indonesia. Sasaran program utama ini adalah meningkatkan kesadaran siswa mengenai bahaya bullying, membekali mereka dengan keterampilan berkomunikasi yang sopan dan konstruktif, serta memperkenalkan keterampilan sosial yang dapat mempererat hubungan positif antar teman sebaya. Pelaksanaan kegiatan diawali dengan pengumpulan data awal mengenai prevalensi kasus bullying di sekolah melalui observasi langsung di lingkungan Hasil temuan awal menunjukkan bahwa sekitar 25% siswa terlibat dalam kasus bullying, baik dalam posisi sebagai korban maupun pelaku. Dari jumlah tersebut, sebagian besar kasus yang teridentifikasi berbentuk kekerasan verbal dan perundungan sosial. Fakta ini menjadi dasar bagi pelaksanaan program edukasi dan pelatihan yang bertujuan memberikan pemahaman lebih mendalam tentang bahaya bullying serta pentingnya membangun komunikasi yang baik di antara siswa. Setelah serangkaian kegiatan dijalankan, dilakukan evaluasi untuk mengukur dampak yang dihasilkan, baik dari aspek pengetahuan maupun perubahan perilaku siswa. Hasil evaluasi menampilkan bahwa program tidak hanya berhasil meningkatkan kesadaran siswa terhadap bahaya bullying, tetapi juga memberikan pemahaman yang lebih luas mengenai langkahlangkah pencegahan perilaku tersebut di sekolah. Kegiatan inti dalam program ini meliputi penyuluhan mengenai dampak negatif bullying, pelatihan keterampilan komunikasi yang efektif, dan pendampingan khusus bagi siswa yang terlibat, baik sebagai korban maupun Penguatan Edukasi Bahasa Indonesia sebagai Strategi Pencegahan Bullying dalam Mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGS) di SDN 02 Simalanggang Hasil observasi pascapelaksanaan menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dalam kemampuan siswa untuk mengenali tanda-tanda bullying serta kesediaan mereka untuk melaporkan kejadian tersebut kepada guru atau pihak yang berwenang. Perubahan ini menandakan keberhasilan program dalam membentuk pola komunikasi yang lebih positif, saling menghargai, dan membangun empati di antara siswa. Temuan ini sejalan dengan penelitian Simon et al. yang menyatakan bahwa sosialisasi mengenai komunikasi efektif dalam kampanye anti-bullying di sekolah dapat meningkatkan kesadaran siswa sekaligus memberikan keterampilan praktis untuk berinteraksi secara positif. Dengan demikian, pendekatan edukasi bahasa Indonesia terbukti mampu menjadi salah satu strategi penting dalam mengurangi frekuensi terjadinya bullying di lingkungan sekolah dasar. Gambar 1: Sosialiasi berlangsung di kelas menunjukkan interaksi antara siswa dan fasilitator. Peningkatan Kesadaran dan Pemahaman Siswa Sebelum kegiatan rangkaian ini dilaksanakan, sebagian besar siswa di SDN 02 Simanggang belum memiliki pemahaman yang utuh mengenai konsep bullying serta dampak negatif yang dapat ditimbulkannya. Banyak di antara mereka yang menganggap perilaku perundungan hanyalah bentuk candaan atau gurauan biasa yang tidak perlu membebani. Pandangan ini menunjukkan bahwa kesadaran mereka terhadap potensi bahaya bullying masih rendah, termasuk ketidaktahuan bahwa perilaku tersebut dapat menimbulkan tekanan psikologis, gangguan emosional, hingga kerusakan hubungan sosial pada korban. Namun, setelah mengikuti program sosialisasi dan pelatihan keterampilan komunikasi, terjadi perubahan tampilan yang cukup signifikan di kalangan siswa. Berdasarkan hasil observasi pasca-kegiatan, tercatat bahwa lebih dari 75% siswa kini memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai definisi bullying, dampak buruknya, serta strategi untuk mewujudkan komunikasi yang sehat dan membangun. Mereka mulai menyadari bahwa bullying tidak hanya terbatas pada bentuk kekerasan fisik, tetapi juga mencakup kekerasan verbal dan sosial yang ATMOSFER - VOLUME 3. NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 2964-982X . p-ISSN: 2962-1232. Hal. sama-sama berpotensi merusak hubungan pertemanan dan menciptakan suasana tidak nyaman di sekolah. Perubahan ini juga tercermin dalam perilaku sehari-hari siswa. Sebelum pelaksanaan program, masih ada siswa yang gemar mengejek, memberi julukan yang memenuhi syarat, atau bahkan mengucilkan teman yang dianggap berbeda. Setelah mengikuti pelatihan mengenai komunikasi efektif dan pembelajaran tentang empati, pola interaksi mereka mulai berubah. Kini, lebih banyak siswa yang berusaha berbicara dengan sopan, menggunakan bahasa yang positif, serta menunjukkan perhatian terhadap perasaan teman. Mereka juga tampak lebih sering bekerja sama dalam kelompok dan menghindari penggunaan kata-kata yang berpotensi melukai orang lain. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian Aswar dkk. yang menyatakan bahwa pelatihan berbasis komunikasi, khususnya yang menekankan pada keterampilan berbicara secara baik dan penuh empati, terbukti efektif dalam menekan angka kejadian bullying sekaligus membangun interaksi yang lebih positif antar siswa. Dampak nyata dari pendekatan ini terlihat jelas pada perubahan perilaku siswa di SDN 02 Simanggang setelah program dilaksanakan, di mana iklim sosial di sekolah menjadi lebih kondusif, inklusif, dan mendukung proses belajar. Gambar 2: Fasilitator mendampingi siswa yang terlibat kasus bullying, memperlihatkan sesi pelatihan atau pendampingan. Pengaruh Program Terhadap Siswa yang Terlibat Kasus Bullying Salah satu tujuan penting dari program ini adalah memberikan dampak langsung bagi siswa yang pernah terlibat dalam kasus bullying, baik sebagai pelaku maupun korban. Sebelum program dilaksanakan, masih banyak siswa yang melakukan tindakan perundungan tanpa sepenuhnya memahami konsekuensi negatif dari perilaku mereka. Di sisi lain, para korban sering merasa tidak memiliki ruang aman untuk berbicara atau melaporkan pengalaman alami mereka, sehingga masalah sering kali tidak terungkap. Penguatan Edukasi Bahasa Indonesia sebagai Strategi Pencegahan Bullying dalam Mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGS) di SDN 02 Simalanggang Setelah program diterapkan, data menunjukkan adanya penurunan yang signifikan pada jumlah kasus bullying yang tercatat di SDN 02 Simanggang. Dalam periode tiga bulan pascakegiatan, angka kejadian perundungan turun sekitar 30% dibandingkan dengan data sebelum pelaksanaan program. Penurunan ini menjadi indikator bahwa program mampu mendorong perubahan pola pikir serta perilaku siswa, sekaligus menciptakan suasana sekolah yang lebih aman dan nyaman bagi seluruh peserta didik. Sesi pendampingan menjadi salah satu komponen penting dalam program ini. Kegiatan pendampingan dirancang untuk melibatkan baik pelaku maupun korban bullying dalam diskusi terbuka mengenai perasaan mereka, mengenalkan teknik penyelesaian konflik yang konstruktif, serta memberikan dukungan psikologis agar mereka mampu mengelola emosi dengan lebih baik. Berdasarkan hasil observasi, siswa yang sebelumnya terlibat dalam perundungan menunjukkan peningkatan kesadaran mengenai dampak negatif dari tindakan Selain itu, kemampuan mereka untuk berempati terhadap orang lain juga meningkat secara signifikan. Perubahan positif terlihat jelas, di mana beberapa siswa yang dulunya terlibat dalam bullying kini justru menjadi pihak yang membantu menjaga suasana kelas tetap kondusif dan Mereka mulai menunjukkan kepedulian yang lebih besar terhadap teman-temannya, serta berpartisipasi aktif dalam menciptakan hubungan sosial yang harmonis. Hasil ini sejalan dengan temuan penelitian Fauziah . yang menegaskan bahwa pendampingan berbasis komunikasi efektif dapat menghasilkan perubahan sikap yang positif pada pelaku bullying dan memperkuat ikatan sosial di antara siswa. Evaluasi Program dan Indikator Keberhasilan Proses evaluasi terhadap program ini dilaksanakan secara sistematis melalui observasi berkala yang melibatkan siswa dan guru sebagai subjek utama. Observasi dilakukan pada berbagai momen, baik di dalam kelas, saat istirahat, maupun ketika siswa berinteraksi di luar jam pelajaran, sehingga diperoleh gambaran menyeluruh mengenai perubahan perilaku yang Hasil evaluasi menunjukkan bahwa indikator-indikator keberhasilan yang telah ditetapkan sejak awal, seperti penurunan jumlah kasus perundungan dan peningkatan kualitas komunikasi antar siswa, keberhasilan tercapai. Data yang dikumpulkan selama tiga bulan pasca-kegiatan mengungkapkan adanya penurunan signifikan pada jumlah kejadian bullying yang dilaporkan. Tidak hanya itu, hasil pengamatan lapangan juga menampilkan bahwa siswa kini lebih sering menggunakan bahasa yang sopan, menunjukkan sikap empati ketika berinteraksi, serta lebih terbuka dalam ATMOSFER - VOLUME 3. NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 2964-982X . p-ISSN: 2962-1232. Hal. membicarakan masalah atau konflik yang mereka hadapi. Perubahan positif ini juga dirasakan oleh para guru, yang menyampaikan umpan balik bahwa mereka kini merasa lebih percaya diri dan siap dalam menangani kasus perundungan di masa mendatang. Hal tersebut dimungkinkan berkat materi pengetahuan dan praktik praktis yang mereka peroleh selama sesi pelatihan dan sosialisasi program. Evaluasi semacam ini memiliki peran penting dalam memastikan efektivitas program sekaligus menilai sejauh mana tujuan yang direncanakan telah terealisasi. Penggunaan metode observasi langsung memberikan keuntungan tersendiri, karena memungkinkan fasilitator mendapatkan informasi yang lebih akurat dan kontekstual mengenai dinamika perilaku siswa. Dengan adanya evaluasi yang dilakukan secara berkesinambungan, program dapat terus disempurnakan, disesuaikan dengan kebutuhan lapangan, serta berpotensi untuk direplikasi di sekolah-sekolah lain dengan permasalahan serupa. Temuan ini selaras dengan penelitian Mulyadi dkk. yang menyatakan bahwa evaluasi berbasis observasi mampu memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai dampak jangka panjang suatu program. Dengan demikian, model evaluasi ini tidak hanya memotret keberhasilan di masa kini, tetapi juga menjadi dasar yang kokoh bagi pengembangan dan penyempurnaan program serupa di masa depan, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan. Hubungan dengan Teori dan Penelitian Sebelumnya Temuan dari pelaksanaan kegiatan ini menunjukkan bahwa program yang dirancang dengan berlandaskan pada prinsip komunikasi efektif serta karakter pendidikan mampu memberikan dampak positif yang nyata dalam upaya pencegahan perilaku bullying dan peningkatan kualitas hubungan sosial di antara siswa. Pendekatan ini sejalan dengan teori komunikasi interpersonal, yang pentingnya keterampilan berbicara secara asertif dan mendengarkan secara aktif sebagai landasan untuk membangun hubungan yang sehat, menghindari kesalahpahaman, serta meminimalkan potensi konflik (Simon et al. , 2. Melalui program ini, siswa dibimbing untuk menggunakan bahasa yang sopan, santun, dan mempertimbangkan perasaan orang lain ketika berkomunikasi. Hal ini sejalan dengan prinsip utama dalam teori komunikasi interpersonal, yaitu membangun interaksi yang saling Selain itu, aspek pendidikan karakter dalam program ini juga memperkuat nilainilai seperti empati, toleransi, dan penghargaan terhadap perbedaan, sehingga siswa dapat memahami perspektif orang lain dan mengembangkan sikap saling menghormati. Penguatan Edukasi Bahasa Indonesia sebagai Strategi Pencegahan Bullying dalam Mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGS) di SDN 02 Simalanggang Hasil yang diperoleh dari program ini turut memperkuat temuan penelitian sebelumnya, seperti yang diungkapkan oleh Fauziah . dan Amaliyah . , bahwa intervensi berbasis pendidikan karakter dan komunikasi efektif memiliki pengaruh yang signifikan dalam menurunkan angka perilaku bullying di sekolah. Program yang mengintegrasikan keterampilan pembelajaran komunikasi, empati, serta dukungan konseling terbukti mampu membawa perubahan positif pada perilaku siswa, menciptakan iklim sosial yang inklusif, dan menumbuhkan rasa aman di lingkungan sekolah. Dengan demikian, temuan ini tidak hanya memperkuat relevansi teori yang ada, tetapi juga memberikan bukti empiris bahwa pendekatan yang bersifat holistikAimenggabungkan aspek komunikasi interpersonal, karakter pendidikan, dan dukungan emosionalAimerupakan strategi yang efektif untuk menciptakan lingkungan sekolah yang ramah, aman, dan kondusif bagi perkembangan siswa. SIMPULAN DAN SARAN Program penguatan edukasi bahasa Indonesia di SDN 02 Simalanggang berhasil memenuhi sasaran utama, yaitu meningkatkan pemahaman siswa mengenai dampak negatif bullying serta pentingnya komunikasi yang santun dalam membangun interaksi positif. Inisiatif ini tidak hanya menurunkan angka kejadian bullying di sekolah, tetapi juga berperan besar dalam membentuk suasana belajar yang aman dan inklusif. Melalui kegiatan sosialisasi, pelatihan keterampilan komunikasi yang efektif, dan pendampingan terhadap siswa yang pernah terlibat dalam kasus bullying, peserta didik menjadi lebih terampil berkomunikasi secara empatik, mampu menghargai perbedaan, serta memiliki kesadaran lebih tinggi untuk menghentikan rantai perundungan. Secara teoritis, temuan ini selaras dengan penelitian yang menegaskan bahwa pembelajaran berbasis komunikasi dan penguatan karakter efektif dalam mengurangi perilaku bullying sekaligus mempererat hubungan antar siswa. Dengan demikian, penerapan program serupa di sekolah lain berpotensi menciptakan iklim pendidikan yang harmonis dan bebas dari tindakan perundungan. UCAPAN TERIMAKASIH Kami mengucapkan terima kasih kepada SDN 02 Simalanggang. Universitas Negeri Padang, serta semua pihak yang telah mendukung kegiatan. Terima kasih kepada guru-guru dan siswa yang telah berpartisipasi aktif, serta lembaga mitra yang telah memberikan ATMOSFER - VOLUME 3. NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 2964-982X . p-ISSN: 2962-1232. Hal. kesempatan dan fasilitas untfuk menjalankan program. Semoga kolaborasi dapat terus berlanjut untuk mewujudkan pendidikan yang lebih berkualitas dan inklusif. DAFTAR PUSTAKA