Moch. Misbahul Anwar. Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Guru. | i Volume 1. Nomer 1. Juni 2015 Penanggung Jawab Ketua Redaksi Sekretaris Redaksi Redaktur Ahli Redaktur Pelaksana Tata Usaha ISSN: 2460-5360 Moh. Misbahul Ibnul Arobi Ahmad Fauzi Muhammad Ilyas Musthofa Ismatul Izzah Muhammad Sugianto Rifka Diana Susilowati Totok Hariyanto At-TaAolim merupakan jurnal pendidikan milik Fakultas Tarbiyah Institut Ilmu Keislaman Zainul Hasan Genggong Kraksaan Probolinggo. At-TaAolim merupakan jurnal yang memuat karya-karya ilmiah yang terkait dengan pemikiran-pemikiran atau penelitianpenelitian di bidang pendidikan. Keberadaan jurnal At-TaAolim ini tentu sangat penting dalam menelaAoah, memperkaya, dan mengembangkan berbagai pemikiran dan teori-teori serta penelitian terkait dengan dunia pendidikan. Dengan demikian, jurnal At-TaAolim ini akan memberikan kontribusi yang positif dalam memperkaya khazanah pemikiran di bidang pendidikan Alamat Redaksi: Fakultas Tarbiyah. Institut Ilmu Keislaman Zainul Hasan Genggong Jl. PB. Sudirman No. 360 Kraksaan. Probolinggo Jatim 67282 Telp/Fax : . 842 178 ii | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 Moch. Misbahul Anwar. Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Guru. | 1 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KINERJA GURU MI KECAMATAN PAITON KABUPATEN PROBOLINGGO JAWA TIMUR Volume 1. Nomer 1. Juni 2015 Moch. Misbahul Anwar* DAFTAR ISI Abstrak: 1 - 17 Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Guru MI Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo Jawa Timur Moch. Misbahul Anwar 19 - 36 37 - 47 Thorndike Theory and ItAos Application in Learning Muhammad Hifdil Islam 49 - 69 Upaya Guru PAI dalam Mewujudkan Visi dan Misi MA. Manbaul Hikam Tegalmojo Muhammad Ilyas 71 - 94 Pelaksanaan Program Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Educatio. dalam Upaya Meningkatkan Kesuksesan Siswa di MA al-Badri Gumuksari Kalisat Jember Musthofa 95 - 109 This research has an objective to know: . the performance of Madrasah Ibtidaiyah teacher in sub district Paiton . the influence of teaching skill perception about work environment, and work motivation to performance of MI Insan Terpadu Paiton. Next, this research uses after the fact research that uses proportional random sampling from population which is collected from 99 teachers of Madrasah Ibtidaiyah and it is acquired 55 teachers sample. Data collection technique to know teacher performance and their skill is collected from the observation. Then, the perception of work environment and work motivation is taken from questionnaire scale Likert with 4 scale modification. The. Data analysis technique which is used is descriptive, partial correlation and double regression to degree 5% significant. The result of descriptive analysis shows that the level of teacher performance is in good category . verage = 100,93 from minimum score . The result of partial correlation shows that there is significant influence from variables of teaching skill, perception of work environment and work motivation to teacher performance in a row. about 0,647. about 0,367. about 0,271. The result of double regression show correlation coefficient R about 0,774. The significant influence of Ry . ,2,. can be seen in from the significant of determination of coefficient (R. about 59,29%. The significant of effective contribution is acquired from the teaching skill perception of work environment about 4,8%. working motivation 3,2%. Keywords: Kinerja. Guru MI. Paiton. Probolinggo Pengembangan Paket Pembelajaran Bahasa Arab dengan Model Dick Carey and Carey Nur Khotimah Dosen Institut Ilmu Keislaman Zainul Hasan Genggong Kraksaan Probolinggo 2 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 PENDAHULUAN Pendidikan pada hakikatnya merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia guna mencapai tingkat kehidupan bangsa yang semakin maju dan sejahtera. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 7 menjelaskan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Kaitan dengan peningkatkan mutu pendidikan, guru sebagai ujung tombak pendidikan memegang peranan penting dan menentukan dalam usaha pencapaian tujuan pendidikan nasional. Pentingnya peranan guru berkaitan erat dengan kualitas sumber daya manusia guru itu sendiri sebagai output institusi penghasil guru. Sebagaimana dikemukakan oleh Isjoni . , bahwa kinerja guru juga sangat ditentukan oleh output atau keluaran dari Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK). 1 Sebagai institusi penghasil tenaga guru. LPTK bertanggungjawab dalam menciptakan guru Oleh sebab itu LPTK juga memiliki andil besar di dalam mempersiapkan guru yang berkualitas, berwawasan serta mandiri, cerdas, bertanggungjawab dan berkepribadian. Guru yang melaksanakan tugas khususnya di daerah dataran tinggi seringkali dihadapkan pada berbagai macam kendala yang dapat menghambat aktifitas kesehariannya. Di antara kendala paling mendasar seringkali dialami oleh guru, baik secara internal maupun eksternal adalah: . kondisi internal, upaya pemenuhan kebutuhan hidup, kesempatan untuk pengembangan karir, dan peningkatan kesejahteraan guru di daerah Paiton Kabupaten Probolinggo menjadi suatu hal yang menyulitkan. kondisi eksternal, bagi guru yang berdomisili atau bertugas di daerah dataran tinggi atau daerahdaerah terpencil, maka kebutuhan akan akses berupa informasi, komunikasi, transportasi, dan jalan bisa menjadi kendala atau masalah yang berarti. Dengan demikian dapat diasumsikan bahwa kondisi internal dan eksternal tersebut di atas berpengaruh terhadap Isjoni, 2004. Kinerja Guru. (Diakses dari http://researchengines. com/artikel. html tanggal 21 Agustus 2. Moch. Misbahul Anwar. Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Guru. | 3 kinerja guru dalam pelaksanaan tugas kesehariannya. Segala rupa ketertinggalan itulah yang diwariskan kepada murid-murid di Hasil survei awal yang dilaksanakan peneliti pada beberapa madrasah ibtidaiyah di desa Paiton yang terletak di Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo Propinsi Jawa Timur, menunjukkan bahwa terdapat madrasah ibtidaiyah yang hanya memiliki empat orang guru sementara jumlah muridnya delapan puluh orang. Temuan lain adalah terdapat MI dimana guru yang melaksanakan proses pembelajaran merupakan tenaga sukarela dan honor daerah hanya kepala sekolah saja yang pegawai negeri sipil. Kecamatan Paiton terletak A 40 km tepatnya berada disebelah timur dari kota Probolinggo dan A 130 km dari pusat kota Surabaya Provinsi Jawa Timur. dengan batas daerah sebagai berikut: di sebelah barat berbatasan dengan desa Sukodadi Paiton, di sebelah timur berbatasan dengan desa Binor, di sebelah utara berbatasan dengan Lapangan tembak, dan di sebelah selatan sambirampak. Jumlah populasi penduduk di Kecamatan Paiton berdasarkan data yang diperoleh dari Unit Pelaksana Teknis Daerah Kecamatan adalah sebanyak A 20. 521 jiwa dari total jumlah penduduk kabupaten probolinggo sebanyak 946,234 jiwa. Kondisi masyarakat yang agraris dengan tingkat pendidikan rata-rata rendah (Madrasah Ibtidaiya. , mata pencaharian mayoritas penduduk berprofesi sebagai petani 70%, pedagang 10%, pegawai 10%, dan buruh 10%. Berdasarkan kondisi geografis dan keadaan penduduk . sebagaimana di sebutkan di atas, dapat di simpulkan bahwa kondisi tersebut memberikan gambaran tentang keadaan sekolah dan pendidikan secara umum di daerah Paiton Kabupaten Probolinggo. Hasil pengamatan dan wawancara lisan yang dilakukan oleh peneliti terhadap beberapa orang guru yang bertugas di daerah dataran tinggi tersebut, diperoleh informasi dan gambaran tentang kinerja guru yang cenderung rendah. Berdasar informasi tersebut selanjutnya teridentifikasi beberapa faktor yang diduga kuat mempengaruhi kinerja guru di daerah tersebut. Beberapa diantaranya adalah kemampuan mengajar, lingkungan kerja yang kurang mendukung, motivasi guru, tingkat kedisiplinan dalam melaksanakan tugas, dan terbatasnya tenaga guru. Temuan lain kaitan dengan pembelajaran di daerah tersebut adalah terdapat banyak guru yang tidak membuat 4 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 rencana pembelajaran, kurangnya kepedulian dalam menganalisis hasil evaluasi, dan terbatasnya informasi yang diperoleh kaitan dengan pengayaan ilmu yang mereka miliki, kurangnya perhatian serta pengawasan dari Pemda dalam hal ini Diknas Kabupaten ke sekolah-sekolah di daerah paiton, sarana dan prasarana pendukung dalam melaksanakan pembelajaran tidak memadai, termasuk kondisi bangunan sekolah dan pemerintah hanya fokus kepada instansi atau sekolah Negeri saja. Berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, maka dipandang untuk melakukan penelitian menyangkut kinerja guru yang melaksanakan tugas di kecamatan paiton dan faktor yang diduga berpengaruh, yakni kemampuan mengajar guru, persepsi tentang lingkungan kerja, dan motivasi kerja. Sehingga nantinya dapat digunakan sebagai bahan evaluasi dan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan yang berkaitan dengan peningkatan kinerja guru dan kualitas pembelajaran di daerah tersebut. Permasalahan yang dihadapi adalah: . seberapa baik kinerja guru MI Paiton Kabupaten Probolinggo? . apakah terdapat pengaruh kemampuan mengajar guru terhadap kinerja guru MI Paiton Kabupaten Probolinggo? . apakah terdapat pengaruh persepsi tentang lingkunga kerja terhadap kinerja guru MI Paiton Kabupaten Probolinggo? . apakah terdapat pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja guru MI Kabupaten Probolinggo? . apakah terdapat pengaruh kemampuan mengajar, persepsi tentang lingkungan kerja, dan motivasi kerja secara bersama-sama terhadap kinerja guru MI Paiton Kabupaten Probolinggo? Undang-Undang Nomor: 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen pada Bab1 pasal 1 disebutkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Istilah guru umumnya merujuk pada pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Menurut Nana Syaodih, guru adalah suatu profesi. Sebelum ia bekerja sebagai guru, terlebih dahulu dididik dalam suatu lembaga pendidikan keguruan. Dalam lembaga pendidikan tersebut, ia bukan hanya belajar ilmu pengetahuan, ilmu, atau Moch. Misbahul Anwar. Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Guru. | 5 metode mengajar tetapi juga dibina agar memiliki kepribadian sebagai guru. Prinsip yang melandasi guru dalam melaksanakan tugas disebutkan pada Pasal 7 ayat . dalam undang-undang yang sama, yakni: . memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme. memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia. memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang . memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas. memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas . memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja. memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat. memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru. Tugas dan peranan guru dalam proses pembelajaran diarahkan untuk membentuk kemampuan siswa di dalam mengembangkan perolehan belajarnya baik pada aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan maupun pada aspek nilai. Sebagai seorang pendidik, maka keberadaan guru tak hanya berkewajiban menyampaikan materi pelajaran . ransfer of knowledg. kepada siswa tetapi juga berkewajiban menyampaikan skill dan nilai . ransfer of skill and transfer of valu. Ini berarti bahwa tugas guru tidak selesai pada aspek pengetahuan . saja, pandai ilmu pengetahuan dan dapat menyampaikan kepada siswa namun juga harus dapat menjadi teladan bagi siswanya. Hal ini sejalan dengan Nana Syaodih yang menyatakan bahwa guru sebagai pendidik terutama berperan dalam menanamkan nilai-nilai, nilai-nilai yang merupakan ideal dan standar dalam masyarakat. Sebagai pengajar, guru diharapkan mampu mendorong siswa senantiasa belajar dalam berbagai kesempatan melalui berbagai sumber dan media. 4 Sebagai pendidik, guru bertugas untuk Nana Syaodih, 2007. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Ibid hal, 253 Slameto, 2003. Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya. PT. Rineka Cipta Jakarta 6 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 mendewasakan anak, baik secara psikologis, sosial, maupun moral. Namun posisi strategis guru untuk meningkatkan mutu pendidikan sangat dipengaruhi pula oleh faktor kemampuan profesional guru itu sendiri termasuk dalam hal ini tingkat kesejahteraannya. Kinerja pada setiap individu berbeda dengan individu lainnya. Perbedaan ini terjadi disebabkan adanya perbedaan karakteristik pada masingmasing individu itu sendiri. Seseorang yang memiliki keinginan untuk berprestasi akan menghasilkan kinerja yang optimal. Sebaliknya orang yang tidak memiliki keinginan untuk berprestasi, cenderung menghasilkan kinerja yang rendah pula. Situasi dan kondisi kerja yang dialami oleh setiap individu ikut andil memberikan pengaruh terhadap pencapaian kinerja ini. Pernyataan tersebut sejalan dengan Husaini Usman yang menyatakan bahwa kinerja adalah hasil interaksi antara motivasi dan kemampuan yang dikenal dengan teori harapan . xpectancy theor. 5 Untuk menghasilkan kinerja yang tinggi seseorang tentu harus mempunyai motivasi dan kemampuan yang tinggi, sebaliknya apabila seseorang mempunyai kemampuan dan motivasi yang rendah maka kinerja yang dihasilkan rendah pula. Sedangkan menurut pandangan Byars & Rue. AuRefers to degree of accomplishment of the tasks that make up an individualAos It reflects how well an individual is fulfilling the requirements of a jobAy. 6 Kinerja atau AuperformanceAy mengacu pada derajat tingkat penyelesaian tugas yang melengkapi pekerjaan seserorang. Hal ini mencerminkan seberapa baik seseorang dalam melaksanakan tuntutan suatu pekerjaan. Ditambahkan oleh Berk7. Auperformance on a job function is the record of outcomes achieved in carrying out the job function during a specified periodAy. Artinya, kinerja adalah catatan dari hasil yang dicapai dalam menyelesaikan pekerjaan selama periode tertentu. Pengertian tentang kinerja juga dikemukakan oleh Hasibuan . ttp://id. org/wiki/Kinerj. bahwa kinerja sebagai hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya Husaini Usman, 2006. Manajemen, teori, praktek, dan riset pendidikan. Jakarta: PT. Bumi Aksara Byars. Lloyd L. & Rue. Leslie W. Human Resource Management. Third Edition. Boston: Irwin Inc Berk. Performance Assessment. London: The Johns Hopkins Press Ltd. Moch. Misbahul Anwar. Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Guru. | 7 yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta waktu. Pengertian lain tentang kinerja dikemukakan oleh Mitchall (Hamzah, 2001:. , bahwa kinerja atau performance merupakan hasil interaksi atau berfungsinya unsur-unsur motivasi . , kemampuan . , dan persepsi . pada diri seseorang. Dengan demikian kinerja merupakan penjumlahan antara kemampuan dan motivasi kerja yang dimiliki seseorang. Berarti bahwa seseorang dengan kemampuan dan motivasi tinggi cenderung menghasilkan kinerja tinggi. Sebaliknya seseorang yang mempunyai kemampuan rendah dan motivasi rendah cenderung menghasilkan kinerja yang Apa yang sudah dituangkan atau telah dibahasa tentang pengertian kinerja di atas, jelas bahwa yang dimaksud dengan kinerja adalah keberhasilan seseorang dalam melaksanakan pekerjaannya menurut ukuran yang berlaku untuk pekerjaan yang Kaitan dengan pengertian kinerja tersebut, dalam proses pembelajaran di kelas, kinerja guru dapat terlihat pada kegiatannya dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi suatu proses pembelajaran yang intensitasnya dilandasi oleh sikap moral dan profesional seorang guru menurut kompensinya masingmasing. Dengan demikian kita dapat menyimpulkan bahwa kinerja seorang guru adalah kualitas pekerjaan, kuantitas pekerjaan, kreativitas, tanggung jawab, kerjasama, dan disiplin kerja/loyalitas yang tinggi harus dimiliki oleh guru dalam melaksanakan tanggungjawabnya yang diberikan kepadanya, sesuai dengan tugas pokok dan Mengajar merupakan suatu proses yang kompleks, tidak hanya sekedar menyampaikan informasi dari guru kepada siswa, banyak kegiatan maupun tindakan yang harus dilakukan terutama bila menginginkan hasil belajar lebih baik bagi seluruh siswa. Oleh karena itu rumusan pengertian mengajar tidaklah sederhana dalam arti membutuhkan rumusan yang dapat meliputi seluruh kegiatan dan tindakan dalam perbuatan mengajar itu sendiri. Hakekat mengajar adalah hakekat belajar yang membantu siswa memperoleh informasi, ide, pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai, cara berpikir, sarana untuk mengekspresikan diri, dan juga cara-cara belajar bagaimana seharusnya belajar. Mengajar secara implisit bermakna sebagai upaya mengorganisasikan dan mengatur lingkungan belajar untuk mendorong, menumbuhkan, dan membantu siswa melakukan 8 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 kegiatan belajar dalam mengembangkan dirinya secara optimal. Konsep mengajar ini merupakan indikator bahwa pembelajarannya lebih bersifat learner-centered, dalam hal ini guru selalu memotivasi siswa untuk belajar dengan menyediakan kondisi belajar yang Mengajar merupakan suatu perbuatan yang memerlukan tanggung jawab moril yang cukup berat. Berhasilnya pendidikan pada peserta didik sangat bergantung pada pertanggungjawaban guru dalam melaksanakan tugasnya. Mengajar merupakan suatu perbuatan atau pekerjaan yang bersifat unik, tetapi sederhana, dikatakan unik karena hal itu berkenan dengan manusia yang belajar, yakni siswa dan yang mengajar yakni guru dan berkaitan erat dengan manusia di dalam masyarakat yang semuanya menunjukkan keunikan. Dikatakan sederhana karena mengajar dilaksanakan dalam keadaan praktis dalam kehidupan sehari-hari, mudah dihayati oleh siapa saja. Menurut Uzer Usman8, mengajar pada prinsipnya membimbing siswa dalam kegiatan belajar mengajar atau mengandung pengertian bahwa mengajar merupakan suatu usaha mengorganisasi lingkungan dalam hubungan dengan anak didik dan bahan pengajaran yang menimbulkan proses belajar. Secara deskriptif mengajar diartikan sebagai proses penyampaian informasi atau pengetahuan dari guru kepada siswa, atau proses mentransfer ilmu sejalan dengan pernyataan Smith,9 Auteaching is imparting knowledge or skillAy, mengajar adalah menanamkan pengetahuan atau keterampilan. Pada dasarnya seorang guru harus mempunyai dua kemampuan sekaligus, yaitu menguasai materi yang akan diajarkan . hat to teac. dan menguasai metode dan teknik mengajarkan . ow to teac. kepada siswa. Seorang guru memiliki kemampuan mengajar yang berbeda satu sama lain di sekolah. Kemampuan mengajar terkait dengan kemampuan membuat perencanaan pembelajaran termasuk dalam hal ini keterampilan dalam pengelolaan proses belajar mengajar agar dapat diperoleh hasil yang lebih baik untuk mencapai tujuan pembelajaran secara optimal. Untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut, interaksi antar komponen atau unsur yang terdapat pada proses belajar mengajar yang meliputi tujuan pembelajaran, bahan pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran, dan evaluasi. Uzer Usman, 2007. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja RosdaKarya Wina Sanjaya, 2005. Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Moch. Misbahul Anwar. Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Guru. | 9 Orlich et al . , menyatakan. AuPlanning_deciding what and how you want your students to learnAy, artinya, perencanaan merupakan keputusan yang anda ambil tentang bagaimana dan apa yang akan dipelajari oleh peserta didik anda. Lebih lanjut ditambahkannya . AuInstructional planning requires a careful consideration of student needs, content goals, and instructional techniquesAy. Perencanaan pembelajaran memerlukan pertimbangan yang seksama menyangkut kebutuhan peserta didik, mengandung tujuan, dan teknik-teknik Berdasarkan beberapa pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kemampuan adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dimiliki oleh guru dalam melaksanakan tugas sesuai dengan tugas pokok dan fungsi guru, meliputi: perencanaan, persiapan pelaksanaan, pelaksanaan pembelajaran, penilaian, dan Persepsi merupakan suatu proses yang dialami oleh seseorang dalam mengorganisir dan menginterpretasikan kesan yang dimiliki untuk memaknai lingkungan. Pernyataan ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Gibson et al. AuOrganizing the information from the environment so that it makes sense is called perceptionAy. Artinya, yang disebut sebagai persepsi adalah pengelolaan informasi yang diperoleh dari lingkungan sekitar sehingga dapat dipahami. Persepsi sebagai suatu proses memahami dan menginterprestasikan informasi dimulai dengan mencatat hal-hal yang pokok yang berada dilingkungan, kemudian dianalisis untuk diberi arti. Dapat dikatakan bahwa persepsi merupakan penafsiran makna terhadap informasi atau stimulus yang diinterprestasikan melalui indera. Jalaluddin mengemukakan bahwa persepsi adalah pengalaman tentang obyek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. 10 Dengan kata lain persepsi ialah memberikan makna pada stimuli inderawi . ensory stimul. Obyek yang dimaksud disini adalah segenap aspek yang melingkupi suatu tempat kerja guru untuk menyelenggarakan kegiatan belajar dan mengajar, baik berupa lingkungan fisik maupun non fisik kaitan dengan hubungan antar sesama guru, hubungan antara atasan dan bawahan maupun pelayanan sosial terhadap komponen sekolah. Dari beberapa pendapat tersebut di Jalaluddin R. , 2007. Remaja Rosdakarya. Psikologi Komunikasi. Edisi revisi. Bandung: PT. 10 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 atas, dapat disimpulkan bahwa persepsi adalah proses memahami, menafsirkan, menilai dan dirasakan oleh seseorang. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi, yakni faktor internal berupa perhatian, nilai, kebutuhan individu, dan pengalaman terdahulu yang berhubungan dengan suatu obyek. Sedangkan faktor eksternal berupa stimulus atau rangsangan dari luar. Kaitan dengan lingkungan kerja, dikemukakan oleh Byars & Rue,11 AuThe physical environment, which includes factors such as temperature, humidity, ventilation, noise, light, and color, can have an impact on the design of jobsAy. Lingkungan fisik berupa faktor-faktor seperti temperatur, kelembaban, ventilasi, suara gaduh, cahaya, dan warna, dapat berdampak terhadap perencanaan suatu pekerjaanAy. Lingkungan kerja secara langsung maupun tidak langsung akan menentukan tingkat kenyamanan dalam bekerja. Anoraga . 2: . menyatakan bahwa lingkungan kerja yang baik akan berpengaruh baik pula pada semua pihak, dalam hal ini adalah pekerja, pimpinan, atau pada hasil pekerjaannya. Faktor yang sangat penting dalam meningkatkan kinerja seorang guru adalah faktor lingkungan yang kondusi, terutama suasana maupun sarana dan prasarana akan menjadikan guru lebih giat untuk bekerja. Seorang guru yang merasa senang dengan lingkungan kerja mereka, maka perhatian, imajinasi, dan keterampilan dalam melaksanakan pekerjaannya akan meningkat pula. Sebaliknya, jika mereka merasa tidak senang, maka tidak mustahil kinerja mereka akan menurun pula. Meski demikian, guru juga harus aktif mengusahakan suasana belajar mengajar yang baik sebagaimana dinyatakan dalam butir keempat Kode Etik Guru Indonesia (Soetjipto & Kosas. AuGuru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang berhasilnya proses belajar mengajarAy. Maka dari itu diharapkan agar seorang guru harus tegas terutama disiplin, tidaklah bagus jika dalam proses belajar mengajar seorang guru datang terlambat, ini akan menimbulkan ketidakpercayaan murid kepada guru. Berdasarkan uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan persepsi tentang lingkungan kerja adalah proses memahami, menafsirkan. Menilai dan menginterprestasikan Byars. Lloyd L. & Rue. Leslie W. Human Resource Management. Third Edition. Boston: Irwin Inc Soetjipto & Kosasi. Profesi Keguruan. Jakarta: Rineka Cipta Moch. Misbahul Anwar. Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Guru. | 11 suatu obyek atau kejadian yang dilihat, didengar, dan dirasakan oleh seseorang dalam melaksanakan aktivitas kerjanya. Pengertian motivasi menurut Siagian . , adalah daya pendorong yang mengakibatkan seseorang anggota organisasi mau dan rela untuk mengerahkan kemampuan dalam bentuk keahlian atau keterampilan tenaga dan waktunya untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya dan menunaikan kewajibannya, dalam rangka pencapaian tujuan dari berbagai sasaran organisasi yang telah ditentukan sebelumnya. Sejalan dengan Donald13 . yang menyatakan. Aumotivaton is the combination of a personAos desire and energy directed at achieving a goal. Motivasi merupakan kombinasi dari tenaga dan keinginan yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan untuk mencapai suatu tujuan. Robbins menyatakan. AuweAoll define motivation as the willingness to exert high levels of effect toward organizational goals, conditional by effortAos ability to satisfy some individual needAy. 14 Artinya, motivasi diartikan sebagai suatu kerelaan untuk berusaha seoptimal mungkin dalam pencapaian tujuan organisasi yang dipengaruhi oleh kemampuan usaha untuk memuaskan kebutuhan beberapa individu. Pendapat lain tentang motivasi dikemukakan oleh Gibson et al. 6: . AuMotivation is a concept we use when we describe the forces acting on or within an individual to initiate and direct behaviorAy. Motivasi adalah suatu konsep yang kita gunakan ketika menggerakkan kekuatan untuk memulai tindakan dan mengarahkan perilaku pada diri seseorang melakukan suatu tujuan. Pernyataan tersebut sejalan dengan Kartini Kartono . , menyatakan bahwa motivasi adalah dorongan terhadap seseorang agar mau melakukan Pinder menyatakan. Auwork motivation is a set of energetic forces that originate both within as well as beyond an individualAos being, to initiate work related behavior, and to determine its form, direction, intensity, and durationAy. Motivasi kerja adalah sesuatu yang mendorong seseorang untuk berperilaku terkait dengan penentuan arah, intensitas dan jangka waktu kerja. Motivasi dalam diri akan menyebabkan seseorang berbuat atau melakukan sesuatu untuk Donald R. , 1997. Glossary of Leadership Definition. (Diakses 3 September Robbins. , 1996. Perilaku Organisasi: Konsep. Kontroversi. Aplikasi. (Terjemahan Hadyana Pujaatmaka & Triyana Iskandarsya. New Jersey: Prentice Hall. Inc. 12 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 mencapai tujuan. Dengan demikian, motivasi dapat dianggap sebagai tenaga pendorong . riving forc. dalam diri seseorang. Lebih lanjut. Newstrom & Davis . menyebutkan tentang empat pola motivasi dengan asumsi bahwa manusia cenderung mengembangkan pola motivasi tertentu sebagai hasil dari lingkungan budaya tempat manusia hidup. Pola ini sebagai sikap yang mempengaruhi cara orang memandang pekerjaan dan menjalani kehidupan mereka. Keempat pola motivasi tersebut, yakni prestasi, afiliasi, kompetensi, dan penghargaan atau harga diri selanjutnya menjadi indikator motivasi kerja dalam penelitian ini. Berdasarkan berbagai pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa motivasi kerja adalah dorongan terhadap seseorang yang dipengaruhi oleh motif, harapan, dan insentif untuk melakukan suatu pekerjaan dalam rangka pencapaian tujuan. METODE Penelitian ini termasuk penelitian penelitian after the fact yang bersifat korelasional dimana variabel-variabel bebas telah terjadi ketika peneliti mulai mengamati variabel terikat dan peneliti ingin melacak kembali apa yang menjadi faktor penyebabnya. 15 Penelitian dilaksanakan di Yayasan Islamiyah SyafiAoiyah Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo dan dilakukan sejak bulan Agustus-Nopember Populasi terdiri atas seluruh tenaga pendidik/guru MI yang berstatus pegawai negeri sipil (PNS) dan tenaga honorer daerah sejumlah 99 orang yang tersebar, di lima belas Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Kecamatan Paiton. Teknik Sampling yang digunakan adalah teknik Probability Sampling (Proportionate Random Samplin. Penentuan jumlah sampel penelitian didasarkan pada tabel Isaac dan Michael. 16 Data dikumpulkan dengan menggunakan angket dan lembar observasi skala penilaian. 17 Analisis deskriptif digunakan untuk memberikan gambaran bagaimana kinerja guru MI di kecamatan paiton dengan menghitung rerata (M). Standar Deviasi (SD). Median Sukardi, 2003. Metodologi Penelitian Pendidikan: Kompetensi dan Praktiknya. Jakarta: PT. Bumi Aksara Sugiyono, 2007. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Kualitatif, dan R & D. Bandung: Alfabeta Wina Sanjaya, 2005. Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group Moch. Misbahul Anwar. Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Guru. | 13 (M. , kategori tingkat kecenderungan dari harga rerata ideal (M. dan skor simpangan baku ideal (SB. Analisis korelasi parsial dan analisis regresi ganda dilakukan untuk menguji hipotesis penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Dari beberapa hasil uji normalitas data variabel penelitian memiliki nilai Sig. >0,05 dengan demikian data berdistribusi normal. Uji linieritas hubungan menunjukkan ketiga variabel bebas dan variabel terikat memiliki hubungan yang linier dengan nilai signifikasi pada lajur F deviation from linearity >0,05. Selanjutnya dilakukan uji multikolinieritas dengan berpedoman pada ketentuan VIF<10 dan disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinieritas antara ketiga variabel bebas kemampuan mengajar guru, persepsi tentang lingkungan kerja, dan motivasi kerja. Pengujian hipotesis pertama, diperoleh koefisien korelasi parsial variabel X1 . 1y-2,. sebesar 0,647. t sebesar 6,05. sebesar 0,00 . <0,. dan sumbangan efektif 52 % terhadap variabel terikat kinerja guru. Dengan demikian dapat diambil keputusan bahwa hipotesis nihil (H. ditolak dan hipotesis yang menyatakan terdapat pengaruh yang signifikan kemampuan mengajar guru terhadap kinerja guru madrasah ibtidaiyah di Kecamatan Paiton Probolinggo. Pengujian hipotesis kedua, diperoleh koefisien korelasi parsial variabel X2 . 2y-1,. sebesar 0,36. t sebesar 2,81. p sebesar 0,00 . <0,. dan sumbangan efektif 4,8% terhadap variabel terikat kinerja Dengan demikian dapat diambil keputusan bahwa hipotesis nihil (H. ditolak dan hipotesis yang menyatakan terdapat pengaruh yang signifikan persepsi tentang lingkungan kerja terhadap kinerja guru sekolah dasar di Madrasah Ibtidaiyah di Kecamatan Paiton Probolinggo diterima. Pengujian hipotesis ketiga, diperoleh koefisien korelasi parsial variabel X3 . 3y-1,. sebesar 0,27. t sebesar 2,01. p sebesar 0,04 . <0,. dan sumbangan efektif 3,2 % terhadap variabel terikat kinerja guru. Dengan demikian dapat diambil keputusan bahwa hipotesis nihil (H. ditolak dan hipotesis yang menyatakan terdapat pengaruh yang signifikan motivasi kerja terhadap kinerja guru sekolah dasar di Madrasah Ibtidaiyah di Kecamatan Paiton Probolinggo diterima. Pengujian hipotesis keempat, diperoleh R sebesar 0,77. F sebesar 36,44. p sebesar 0,00 . <0,. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat 14 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 diambil keputusan bahwa hipotesis nihil ditolak dan hipotesis yang menyatakan ada pengaruh yang signifikan kemampuan mengajar guru, persepsi tentang lingkungan kerja, dan motivasi kerja secara bersama-sama terhadap kinerja guru sekolah dasar di Paiton Kabupaten Probolinggo diterima. Kuatnya pengaruh X1. X2, dan X3 terhadap Y teramati dari besarnya koefisien determinasi (R) 2 sebesar 0,60 dengan p<0,01. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa kinerja guru di kategorikan baik terlihat dari data yang diperoleh, yakni 55% . guru memiliki kinerja dalam kategori baik, dan 45% . dalam kategori sangat baik dan tidak ada yang termasuk dalam kategori kurang baik dan tidak baik. Hasil di atas dapat diartikan bahwa sebagian besar guru madrasah ibtidaiyah di Paiton Kabupaten Probolinggo telah melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik. Kinerja guru tersebut antara lain disebabkan oleh faktor kualitas pekerjaan, kuantitas pekerjaan, kreativitas, tanggung jawab, kerjasama, disiplin kerja, dan loyalitas guru. Dari beberapa temuan, maka dapat dirumuskan suatu hasil analisis korelasi parsial menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang signifikan kemampuan mengajar guru, persepsi tentang lingkungan kerja, dan motivasi kerja terhadap variabel terikat kinerja guru secara sendiri-sendiri dengan mengontrol variabel bebas lainnya. Ketiga variabel bebas tersebut memiliki koefisien korelasi parsial berturutturut sebesar 0,647. 0,367. dan 0,271. Sehingga dapat disimpulkan bahwa: . kemampuan mengajar guru MI di Paiton Kabupaten Probolinggo perlu ditingkatkan dalam rangka peningkatan kualitas hasil pembelajaran dan kinerja guru di daerah tersebut. persepsi tentang lingkungan kerja guru MI di dataran Paiton Kabupaten Probolinggo sangat diperlukan dalam rangka peningkatan kinerja guru MI di daerah tersebut. motivasi kerja guru MI di Paiton Kabupaten Probolinggo sangat perlu ditingkatkan kaitannya dengan prestasi kerja terutama dalam rangka peningkatan kinerja guru di daerah tersebut. Hasil analisis regresi ganda diperoleh persamaan garis regresi = 64,848 0,474X1 0,259X2 0,297X3. Kesimpulan yang dapat diambil dari persamaan tersebut adalah koefisien regresi yang positif berarti setiap penambahan nilai variabel independen (X1. X2, dan X. akan diikuti oleh kenaikan variabel dependen dan memberi dampak pada peningkatan variabel dependen (Y). Moch. Misbahul Anwar. Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Guru. | 15 Koefisien regresi ganda (R) dari variabel bebas kemampuan mengajar guru, persepsi tentang lingkungan kerja, dan motivasi kerja adalah sebesar 0,77 dan koefisien determinasi (R) 2 = 0,60. Hal ini berarti bahwa ketiga variabel bebas tersebut dapat memberikan pengaruh sebesar 60% atau dapat menjelaskan variansi kinerja guru sebesar 60% sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini. Besarnya pengaruh tersebut adalah kemampuan mengajar guru sebesar 52%, persepsi tentang lingkungan kerja sebesar 4,8%, dan motivasi kerja sebesar 3,2%. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan: Kinerja guru MI di Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo termasuk dalam kategori baik . erata = 100,93 dari skor maksimum Kemampuan mengajar guru dalam kategori kurang . erata =86,11 dari skor maksimum . persepsi tentang lingkungan kerja dalam kategori baik . erata = 71,18 dari skor maksimum . motivasi kerja dalam kategori sangat baik . erata = 78,05 dari skor maksimum . Terdapat pengaruh yang signifikan kemampuan mengajar terhadap kinerja guru MI di Paiton Probolinggo. Terdapat pengaruh yang signifinkan persepsi tentang lingkungan kerja terhadap kinerja guru MI di Paiton Kabupaten Probolinggo. Terdapat pengaruh yang signifikan motivasi kerja terhadap kinerja guru MI di Kecamatan Paiton Probolinggo . Terdapat pengaruh yang signifikan kemampuan mengajar guru, persepsi tentang lingkungan kerja, dan motivasi kerja secara bersama-sama terhadap kinerja guru MI di Paiton Kabupaten Probolinggo. 16 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 DAFTAR PUSTAKA Berk. Performance Assessment. London: The Johns Hopkins Press Ltd. Byars. Lloyd L. & Rue. Leslie W. Human Resource Management. Third Edition. Boston: Irwin Inc. Donald R. , 1997. Glossary of Leadership Definition. (Diakses 3 September 2007 dari: http://w. com/donclark/leader/ Gibson. Ivancevich. Donnelly. Jr. , & Konopaske, , 2006 Organizations: Behavior,Structure. Process. Twelfth Edition. New York: McGraw-Hill Education Husaini Usman, 2006. Manajemen, teori, praktek, dan riset pendidikan. Jakarta: PT. Bumi Aksara. Isjoni, 2004. Kinerja Guru. (Diakses dari http://researchengines. html tanggal 21 Agustus 2. Jalaluddin R. , 2007. Psikologi Komunikasi. Edisi revisi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Nana Syaodih, 2007. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Orlich. Harder. Callahan. Trevisan. Michael S. , & Brown. Teaching Strategies: a guide to effective New York: Houghton Mifflin Company. Pinder. , 1998. Work Motivation in Organizational Behavior. New Jersey: Prentice Hall Inc. Robbins. , 1996. Perilaku Organisasi: Konsep. Kontroversi. Aplikasi. (Terjemahan Hadyana Pujaatmaka & Triyana Iskandarsya. New Jersey: Prentice Hall. Inc. Slameto, 2003. Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya. PT. Rineka Cipta Jakarta Singgih Santoso, 2001. SPSS Versi 10: Mengolah Data Statistik Secara Profesional. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo. Soetjipto & Kosasi. Profesi Keguruan. Jakarta: Rineka Cipta Sugiyono, 2007. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Kualitatif, dan R & D. Bandung: Alfabeta. Moch. Misbahul Anwar. Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Guru. | 17 Sugiyono, 2008. Statistika untuk penelitian. Bandung: Alfabeta. Sukardi, 2003. Metodologi Penelitian Pendidikan: Kompetensi dan Praktiknya. Jakarta: PT. Bumi Aksara Undang-undang, 2003. Undang-Undang. Nomor 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional. Mendiknas RI. Jakarta Undang-Undang. Nomor 14 Tahun 2005, tentang Guru dan Dosen. Mendiknas RI. Jakarta Uzer Usman, 2007. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja RosdaKarya Wina Sanjaya, 2005. Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 18 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 | 19 20 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 | 21 22 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 | 23 24 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 | 25 26 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 | 27 28 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 | 29 30 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 | 31 32 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 | 33 34 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 | 35 36 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 Muhammad Hifdil Islam. Thorndike Theory and. | 37 THORNDIKE THEORY AND ITAoS APPLICATION IN LEARNING Muhammad Hifdil Islam* Abstract: This article will explain one of theories in learning. that is theory of Thorndike. This theory is developed by education psychology experts from America whose name Edward Lee Thorndike, (Next will be mentioned as Thorndik. Thorndike was born in Wiliamsburg on 31 August 1874 and died in Montrose. New York, on 10 August 1949. He is prominent figure from Fungsionalism ideology of Columbia. After finished his study in Harvard University, he works in TeacherAos College of Columbia under lead of James Mckeen Cattell. Here, his passion to learning process, education and intelligences. On 1898, in his 24 ages. Thorndike publisehed his own books entitled Animal Intelligence. An Experimental Study of Association Process in Animal. Thorndike has profession as an educator and Psychologist. Graduated from his first strata form Wesleyen University in Conecticut on 1895, second strata from Harvard on 1896 and seize his doctor degree in Colombia on 1898. He published some books such as: Educational Psychology . Mental and social Measurements . Animal Intelligence . A teacherAos Word Book . ,Your City . , dan Human Nature and The Social Order . And it will explain such as: Explaining law of learning based on Thorndike, explaining how learning principle of Thorndike in learning process, explaining application of Thorndike theory in learning, and giving an analysis to Thorndike theory Keywords: Application. Theory. Thorndike Dosen Institut Ilmu Keislaman Zainul Hasan Genggong Kraksaan Probolinggo Sarlito Wirawan. Berkenalan dengan Aliran-Aliran dan Tokoh-Tokoh Psikologi. Jakarta: Bulan Bintang,1978. Hal 113 38 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 BACKGROUND OF STUDY Profession needs a basic of theoretical framework in supporting a practice. Education profession that has learning process contains a theoretical framework that is relied on a result of empirical process. The relation between theory and practice is so close that can generate scientific study especially in education area. Theory is composed from construction process, principle and proportion that empower science treasure, while, practice is an application in solving real problem in activity of profession. Practice also gives a contribution to theoretical framework through the information that is acquired in empirical process. Realization of learning process is to relate theory and its implication through practice concretely. Theory is an abstract concept from the result of empirical process which will be generalized. Theory is included in resume of statement that describes and arranges an empirical observation. Then, this formulation is used as a basic to develop a science, meanwhile learning contains a concept that is a change is relative permanent or potential behavior as a result of experience. Thorndike Theory One of the phenomenal work is his book under title AuAnimal intelligence. An experimental study of association process in AnimalAy. This book is based on his research to behavior of animals like cats, dogs, and bird. According to him, the behavior of those animal is giving a description of learning process. that is basic of learning is association, a stimulus will result generate a certain respond. Thorndike theory explains learning is change of behavior that can be observed, measured, and assessed concretely. The change of stimulus will generate respond based on mechanistic law. Based on Thorndike, learning is phenomenon that grows associations between one events to another events which is called as stimulus (S) with respond (R). Stimulus is a changing of external environment that become sign to activate organism to react and act. And, respond is behavior that is raised by stimulus. From experiment of hunger cat which is putted in cage is known Hergenhanh. & H Olson Matthew. An Introduction to Theories of Learning. Fifth Edition. New York: Prentice Hall. Inc. Pg. Muhammad Hifdil Islam. Thorndike Theory and. | 39 that in order to reach relation between stimulus and respond need an ability to choose precious respond through trials and errors. Here, some experts call Thorndike as Instrumental Conditioning. And the basic of learning is Autrial and error learning or selecting and connecting learningAy. Therefore, learning theory which is said by Thorndike is often called as connectionism or association theory. Because of this contribution. Thorndike is known as pioneer in education One of the famous of Thorndike experiments is hunger cats is putted in the cage which have automatic door, it can be open and close if button which is located under cage is touched. In stage of trials, cat tends to leave a unresolved behavior. Every respond makes a new stimulus, then this new stimulus will make another respond, and it will happen repeatedly. It can be described as this scheme: In this experiment, if out of cage is putted a food, then cat will try to reach it. Suddenly, the cat touch the button of the cage, then the door will be open, and cat will run out and eat the food. This experiment will be repeatedly did until ten till twelve times, then the cat will touch the button deliberately if there is food outside of cage. Thorndike uses this experiment repeatedly to same cat and same Firstly cat only go around a cage and try to escape from the A trial of escaping from the cat is a respond from the stimulus. that is food. Finally, the cat will find a match respond . with the stimulus . etting the food out side the cag. Thorndike said his theory in learning that every creature in his behavior there is a correlation between stimulus and respond. In this theory also said that person who master relations between stimulus and respond is person who is succeed in his learning. And the way to build a relation between stimuli and respond is done frequently. In the theory of trial and error, is occurred to all organism and if this organism is faced to new condition and situation, so this will be automatically give new respond . , because basicly in every stimulus will be found a respond. If those action need to produce Tohirin. Psikologi Pembelajaran PAI. Jakarta. Rajagrafindo, 2005. Pg. Sarlito Wirawan. Ibid. Pg. 40 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 a behavior or suitable action, then this action will be saved in other mind of another organism. Therefore, the theory of trial and errors will generate other respond to other stimulus and it will occur repeatedly. Law of Learning in Thorndike Theory In discussing law of learning of Thorndike, there are three mains those are Law of Readines. Law of Exercise and Law of Effect. Firstly is law of readiness, in this law learner must be ready and in good condition in order to be success in his learning. Readiness here must be in psychology and physically. Ready in physic means learner is not in sick condition, and ready in psychology means learner do not have mental sickness and other. Beside, learner must be readiness in mastering a science and its basic competence. Based on Thorndike, there are some conditions that appear in this law such as: first, if there is a preference to act and people want to do it, they will be satisfied. In consequence, they will do not act other behavior, and it will result unsatisfied. Second, if there is inclination to act, but people do want to do that, they will replace with other action to lack of their unsatisfied. And, third if there is no tendency to act, but people are forced to do that, it will result unsatisfied. Law of readiness has an implication that every organism acquires changing of behavior, and in its implication of this behavior result a satisfaction, then the association will be strengthen. This connectionism theory7 state that learning is an activity that form association or connection between an impression of five sense and tends to act. , for example person who likes to cook, then he or she will do that thing, and if he or she does that, he or she will feel satisfied and happy8. Second is law of exercise. To result suitable and satisfied to respond stimulus, so person should trials and practice frequently. And suitable and satisfied action can be acquired in learning. And the trials behavior is an existence of improvement behavior to make the behavior stronger. And to make them remembered by long term memory of person, he or George Boeree. Sejarah Psikologi dari Masa Kelahiran Sampai Masa Modern. Yogyakarta. Prisma Sophie, 2005 Pg. 389 - 391 Hergenhanh. & H Olson Matthew. An Introduction to Theories of Learning. Fifth Edition. New York: Prentice Hall,Inc. Pg. Sumadi Suryabrata. Psikologi Pendidikan. Rajawali Pers. Jakarta, 1987. Pg. Umar Tirtaraharja & S. La Sulo. Pengantar Pendidikan. Jakarta :Rineka CIpta, 1995. Pg195 Muhammad Hifdil Islam. Thorndike Theory and. | 41 she should repeatedly do an action to record the behavior to short term memory and it will be continued to long term memory. According to Thorndike the main principle of learning is repetition, because of that teacher who gives a question (Stimulu. the students will answer it (Respon. , and make the prestige of student increase. Thorndike states that repetition without reward is not effective, because association of stimulus and respond can be strengthen through reward. 9 So, in this law exercise of behavior will direct to amount of repetition which is known as drill. Principle of law of exercise is connection between condition and action which can be strong by doing exercises, but it will be weak if the connection between both of them is stopped. In this case, exercises contain two things. First is The Law of Use. that is connections between condition and action can be strong if there is an exercise. Second is The Law of Disue. that is connections between condition and action can be weak if the exercise is stopped10. The third law is law of effect. Every organism, has own respond in facing a new stimulus and new situation. If organism determines a respond or action that possesses a satisfaction to that organism in facing the new situation and condition, they will do the same action if later they face same situation and condition. Meanwhile, behavior which do not possesses satisfaction in facing the new situation, this action will be abandoned forever by the organism. This thing will be occurred to all organisms automatically. Thorndike states that organism as a mechanist that will react if there is a stimulus dan situation which affect them. In education area, law of effect is happened to someones who gives punishment or reward11. However, in education the thing that can give the reward will be more effective than a punishment. Thorndike theory actually is state as connectionism theory because in learning, this theory more emphasize to AuLaw of EffectAy which state that connection between stimulus and respond can product an effect. Thorndike believes that the process of animalAos learning is same with the humanAos learning, although the relation between situation and action . of animal is without Oemar Hamalik. Psikologi Belajar dan Mengajar. Sinar Baru Algensindo. Jakarta. Pg. Sarlito Wirawawan. Ibid. Pg. Sumadi Suryabrata. Op Cit. Pg. 42 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 an understanding. Animal do the respond directly from what they observed mechanically. This law shows that if the connection or relation can be modified like relation between stimulus and respond and that relation can be followed by the expected event in order to make the relation much In contrast, if the unexpected event happen, it will the relation can be weak. Connection between five sense and tendency to act is based on the result. For example, the teacher who motivate and give reward to students who do a homework, that students will happily do the homework, but, if the teacher always give a punishment to student, probability students will be lazy to do the homework. Next. Thorndike adds some additional laws such as:12 Law of multiple responses. This law state that every individual is begun by trial and error process that show kinds of response before the individual finds right response to overcome the problem. Attitude law. This law explains that learning behavior of persons is not only decided by the relation of stimulus and response, but also decided by their condition either their cognitive, emotion, social or psychomotor. Prepotency of element law. This law states that persons who are in learning process give a respond to the current stimulus that suits with their perception to whole situation and it is called by selective Respond by Analogy law. This law asserts that persons are able to do a respond to the situation that is never happened before because the persons can connect that situation to old situation, until there is a element transfer from old situation to new situation. Associative Shifting law. This law clarifies that process of shifting from known situation to unknown situation can done gradually by adding the advantage element and delete the non advantage element. Then, there is a revision in learning which is explained by Thorndike such as: The law of practice is abandoned because it is found that repetition is not adequate to strengthen the relation between stimuli and George Boeree, ibid. Hergenhan & Mathew Olson. Ibid. Hal 62 - 69 Muhammad Hifdil Islam. Thorndike Theory and. | 43 Meanwhile, without repetition, the connection between stimulus and respond can not be weak. The law of effect is revised. As said by Thorndike that something positive that can affect behavior is reward, not a punishment. The main requirement to make stimulus and respond is not nearness, but appropriateness between stimulus and respond. The effect of action can infect to other area or individual14. Here also said that connectionism theory also shows that concept of transfer of training that is skill which is acquired from learning can be used to overcome the other problem. This theory is developed based on the experiment to the cat with its box problem. Application of Thorndike theory to students learning The things that must be considered in implicating Thorndike theory is the strong character serve as a basis. those are:15 advance of environmentAos effect, emphasize detail parts, emphasize role of reaction. , consider important mechanism how stimulus and respond build a learning result, emphasize to role of previous ability acquirement, advance build a habitual through training . , repetition and expected learning result. In Thorndike theory learning is oriented to result that can measured and observed, an error must be fixed immediately, and repetition and exercise is used to make the behavior become a habit. Result in application of behaviorist theory is forming an expected behavior which the expected behavior can be strengthened positively. And unexpected behavior can be deleted. In this case, evaluation and assessment are based in the appearing behavior. The application of Thorndike behaviorist theory that is wrong in learning situation can cause uncomforted learning to student like teacher as central, authoritative, communicate in one way, and teacher determine what students should learns. In this situation, students are passive, need a motivation from the outside and much affected by the Students should listen carefully the explanation of the teacher Ibid Simandjuntak dan IL. Pasaribu. Psikologi Perkembangan. Tarsito. Bandung. Pg. Dimyati & Mujiono. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta. Rineka Cipta, 1994. Pg. 44 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 and memorize what they learn, and this learning is seen as effective ways in teaching learning process. The used of punishment which is evaded in learning, behaviorist expert precisely use it as most effective ways to discipline the students. Application of Thorndike theory in learning consists of a practice value in learning procedure like: first, before teacher starts to teach in class, students should be prepared in mental firstly. Second, teachers do a regular test or exercise or drilling system. And third, teachers give supervising, reward and praise to grow strategic effect for students17. As a consequence for this theory, teacher should has behaviorism paradigm to arrange a lesson material in order the purpose of learning can be mastered by students. Teacher should not give a lecturing, but short and clear instruction which is followed by good example. The lesson material is arranged hierarchically from simple one to the complex one. The purpose of learning is divided into small parts which are signed by accomplishment of specific skill. This Thorndike method is suitable with the acquirement that needs practice and habitation contain element like: acceleration, spontaneity, reflex, endurance and other. For example the conversation of foreign language, typing, dancing, computing, swimming, sport and etc. This theory is suitable for children which need dominances from the adultAos role like imitating, habituating, and direct reward. Critical Analysis to Thorndike Theory Every theory and method in scientific study has an excessive and That thing also happens to theory of Thorndike. Some of lack in this theory can be shown like: Firstly, in this theory Thorndike use animal as experiment . at, dog, and et. in educational study this thing is considered as controversial thing by education expert, because the learning of animal skill is The skill which is acquired by the animal is called by dressur. Principally, animals do not have education concept and learning because animals only use its instinct. So that, there are many experts reject Thorndike theory because compared the learning with animal18. Ngalim Purwanto. Ilmu Pendidikan. Teoritis dan Praktis. Jakarta:Rajawali Grafindi, 1995 Pg. Muhammad Hifdil Islam. Thorndike Theory and. | 45 Secondly. Thorndike theory see human as mechanism that have similarities with animanl. Although, some of mechanism of human is automatic like animal, but it is not always affecterd by trials and error Trial and error can not effect to human absolutely. Third, this theory sees learning as association between stimulus and respond. Till, the most emphasize thing in learning based on this theory is strengthen the association by exercise repeatedly. This case does not give a chance to raise a logical reasoning which can dig more meaning outside the associate thing. Fourth, because learning is seen as mechanistic system, the definition is not considered as important thing in learning. This theory ignores the definition as a main element in leraning. Fifth, implication of this theory in learning process is seen not giving to learner to create, experiment, and develop their own ability, because this learning system has character automatic-mechanic in combining stimulus and respond like machine or robot. In a result, learner is lack to develop their potency. Sixth, this theory believes that learner as passive object that always need motivation and reinforcement from educator. By that, educator develop structured curriculum by used certain standard in learning process which must be reached by learner. And, also in evaluation, learner is measured from appearing thing, while the abstract one is not considered in evaluation. Seventh, learning is most related to discipline. Failure or disability in acquiring science is categorized as a mistake or error that must be punished and the successful of learning is categorized as good behavior and appropriate to get a reward. And also students who obey the rule will be considered as a successful of learning, and so in contrast, until the control of learning must be stacked on system outside of learner. Eighth, the delivery of lesson material emphasizes to isolated skill and fact accumulation which is followed the hierarchy in whole. Learning follows the arrangement of curriculum tightly, till the activity of learning is based on the text books. Then, the students should be able to express the containing of textbook back. Learning and evaluation advance to the result of learning, not a process. Abu Ahmadi & Nur Uhbiyati. Ilmu Pendidikan. Jakarta. Rineka Ciota, 2001 Pg. Simandjuntak dan IL. Pasaribu, op. Pg. 46 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 Ninth, evaluation stress to passive response, and usually use a written test. In this evaluation, learner is demanded to answer correctly based on the expectation. If learner can reach the expectation, learner will be considered as successful learner. And in this evaluation learner is seen as separated part from learning activity because this theory stress on evaluation to learner ability individually. Conclusion The main principle of Thorndike theory is learning is exercise repeatedly, because of that learning must be oriented to give exercise as stimulus, so that learner can give a respond for that stimulus. And hopefully, by doing those thing, the prestige and ability of student can be increased. Thorndike states that in learning is process between stimulus and respond. This theory have three main concept those are Law of Readiness Law of Exercis. and Law of Effect. In journey of his thought about this theory. Thorndike adds some law in his theory and modifies some of element in it. Beside, in implementing his theory, some of teacher should consider something such as, how the law work in learning process and how to apply it Finally, although the theory of Thorndike is great and can give contribution in learning process, but there is also some critic to its theory such as this theory believes that learner as passive object that always need motivation and reinforcement from educator. By that, educator develop structured curriculum by used certain standard in learning process which must be reached by learner. And, also in evaluation, learner is measured from appearing thing, while the abstract one is not considered in evaluation, and etc. Muhammad Hifdil Islam. Thorndike Theory and. | 47 REFERENCES Abu Ahmadi & Nur Uhbiyati. Ilmu Pendidikan. Jakarta. Rineka Ciota. Simandjuntak dan IL. Pasaribu. Psikologi Perkembangan. Tarsito. Bandung. George Boeree. Sejarah Psikologi dari Masa Kelahiran Sampai Masa Modern. Yogyakarta. Prisma Sophie. Dimyati & Mujiono. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta. Rineka Cipta. Hergenhanh. & H Olson Matthew. An Introduction to Theories of Learning. Fifth Edition. New York: Prentice Hall,Inc. Ngalim Purwanto. Ilmu Jakarta:Rajawali Grafindi. Pendidikan. Teoritis Praktis. Oemar Hamalik. Psikologi Belajar dan Mengajar. Sinar Baru Algensindo. Jakarta. Sarlito Wirawan. Berkenalan dengan Aliran Ae Aliran dan TokohTokoh Psikologi. Jakarta: Bulan Bintang. Sumadi Suryabrata. Psikologi Pendidikan. Rajawali Pers: Jakarta. Tohirin. Psikologi Pembelajaran PAI. Jakarta: Rajagrafindo. Umar Tirtaraharja & S. La Sulo. Pengantar Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta. 48 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 Muhammad Ilyas. Upaya Guru PAI dalam Mewujudkan Visi. | 49 UPAYA GURU PAI DALAM MEWUJUDKAN VISI DAN MISI MA. MANBAUL HIKAM TEGALMOJO Muhammad Ilyas* Abstrak This research has an objective to know . implementation of perspective and mission of effort of PAI (Pendidikan Agama Isla. teacher in creating perspective and mission of MA Manbaul Hikam Tegalmojo in teaching learning process (Kegiatan Belajar Mengaja. 20 the effort of PAI teacher in creating perspective and mission of PAI teacher in creating perspective and mission of MA Manbaul Hikam Tegalmojo. The research method which is used in this research is qualitative descriptive. The data which have been collected is analyzed use deductive approach. The result of this research shows that the process if teaching learning process in efforts of PAI teacher in creating the perspective of mission of MA. Manbaul Hikam Tegalmojo have used KTSP curriculum. Then, the implementation of efforts of PAI teacher in creating the perspective of mission of MA Manbaul Hikam Tegalmojo is through muatan local, extracurricular and students coaching skill. Then, the program intra curricular is done through the organization of teaching learning process that consist of the mastering of material, mastering of lesson, knowing the personality of students and teaching learning process and giving assessment and evaluating. In teaching learning process, there is a teacher who still cannot understand the perspective and mission of Madrasah, cannot use the method and media that is appropriate with given material. The efforts of PAI teacher in creating the perspective of mission of MA Manbaul Hikam Tegalmojo has role to arrange the perspective and mission of Madrasah, identify the need of Pendidikan agama islam, arrange the lesson plan, and do the comparison with more progressive school, make the religiosities extracurricular to improve the quality of science and worship. Teacher of PAI also evaluate about the achievement of student in material of PAI and also teacher of PAI evaluate the barrier in learning and try to solve it. The barrier that is found by teacher is cannot understand comprehensively the curriculum KTSP, also from the financial which cannot support the qualified teaching learning. Keywords: efforts, perspective, mission Dosen Institut Ilmu Keislaman Zainul Hasan Genggong Kraksaan Probolinggo 50 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 Muhammad Ilyas. Upaya Guru PAI dalam Mewujudkan Visi. | 51 serta melakukan penelitian dan pengabdian pada ma syarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. PENDAHULUAN Otonomi daerah dan desentralisasi pendidikan membawa perubahan dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk pendidikan. Persoalan peningkatan mutu pendidikan dan Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan topik yang menarik dan aktual, karena terus berkembang sesuai dengan tuntutan zaman. Proses pengembangan SDM sendiri dilakukan melalui proses pendidikan. Pengembangan SDM ini tidak sekedar meningkatkan kemampuan, tetapi juga dalam memanfaatkan kemampuan tersebut. Karena kemampuan suatu negara tidak lagi ditentukan oleh Sumber Daya Alam (SDA), melainkan oleh kualitas sumber daya manusia itu sendiri. Peningkatan SDM harus tercermin dalam pribadi para pemimpin, seperti guru yang menjadi pemimpin dan tauladan bagi siswanya. Sehingga guru sebagai pelaksana pendidikan di sekolah mampu mampu meningkatkan kualitas pendidikan dalam kontek ot onomi daerah dan desentralisasi pendidikan. Dewasa ini lembaga pendidikan atau sekolah pada semua jenjang, jalur dan jenisnya dihadapkan pada persaingan mutu yang ketat dan manajemen yang kompleks. Oleh karena itu guru dituntut untuk memahami kurikulum yang diajarkan, visi, misi dan tujuan sekolah, serta kebutuhan peserta didik. Dengan demikian arah pendidikan yang telah dicanangkan akan berjalan sesuai harapan. Peran, tugas dan kewajiban guru sekarang ini telah berkembang dan semakin berat. Guru tidak hanya datang, masuk kelas, mengajar dengan menyampaikan materi pelajaran dan selesai. Tanpa mengetahui kebutuhan dan kemampuan peserta didik dengan baik, tidak paham akan kurikulum yang diajarkan, tujuan dari pembelajaran yang Menyadari hal tersebut, setiap guru dihadapkan pada tantan gan untuk kreatif dalam mengajar,melakukan pengembangan pendidikan secara terarah sesuai dengan visi dan misi sekolah. Karena visi dan misi sekolah merupakan kunci atribut sekolah yang menjadi pedoman atau penuntun arah gerak yang harus dicapai. Istilah profesional memiliki pengert ian yang bertolak belakang dengan istilah amatir. Professional pada um umnya seorang mendapat upah atau gaji dari apa yang dikerjakannya, baik pekerjaan yang dilakukan secara sempurna atau tidak. 2 Pekerjaan yang profesional membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan bi dangnya. Seorang guru yang profesional harus mempunyai pengetahuan secara teor itis terhadap materi pelajaran dan keterampilan dalam menyampai kan pelajaran pada siswa. Materi atau isi pelajaran merupakan bagian dari kurikulum yang diajarkan di sekolah. Kurikulum yang digunakan sekarang yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). KTSP sendiri memuat lima kelompok mata pelajaran, diantaranya kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia. Maksud dari kelompok mata pelajaran ini untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Pendidikan Agama Islam baik di sekolah umum atau di madrasah mempunyai eksistensi yang sama kuat, karena telah diatur dalam Undang-Undang Sisdiknas. Hanya saja kelompok mata pelajaran yang ada di madrasah telah dipisahkan menjadi mata pelajaran sendirisendiri, yaitu fikih, aqidah akhlah. SKI, al-QurAoan Ha dits. Bahasa Arab. Sedang Pendidikan Agama Islam di sekolah umum memuat tujuh unsur pokok yaitu . keimanan, ibadah, al-QurAoan, akhlak, syariah, muAoamalah dan tarikh. Secara kualitatif prestasi akademik bidang keagamaan, madrasah jauh lebih unggul dibandingkan dengan sekolah umum, namun secara prestasi akademik bidang mata pelajaran umum, madrasah masih kalah dengan sekolah umum. Jadi ini merupakan tant angan umat Islam pada umumnya, dan guru Pendidikan Agama Islam khususnya. Guru sebagai pendidik adalah tenaga profesional sebagaimana dalam Undang-Undang Sisdiknas nomor 20 tahun 2003 yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembalajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan penelitian dan pelatihan. Depdiknas. Undang-undang Sisdiknas, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2. hlm Martinis Yamin. Profesionalisasi Guru dan Implementasi KTSP , (Jakarta: Gaung Persada, 2. , hlm. Mulyasa. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2. , hlm. Hadirja Paraba. Wawasan Tenaga Guru Dan Pembina Pendidikan Agama Islam , (Jakarta: Friska Agung Insani, 2. , hlm. 52 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 yang menjadi benteng dan mesin pencetak generasi muda muslim agar dapat meningkatkan prestasi akademik. Gambaran tentang kondisi riil madrasah saat ini dapat juga dilihat dari aspek isi, lingkup materi, dan tingkat kompetensi yang belum dapat memenuhi standar kompetensi secara menyeluruh, pendidik dan tenaga kependidikan banyak yang belum sesuai dengan kualifi kasi baik dari jenjang pendidikan minimal maupun kesesuaian bidang dengan latar belakang pendidikannya dan pengelolaan madrasah yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan kegiatan yang kurang efisien dan Madrasah masih mempunyai beberapa kelemahan yang perlu mendapat perhatian dan pembenahan secara serius. Diantara kelemahan tersebut yaitu: Ketidakjelasan struktur dan tata kerja Ketidakjelasan visi, misi dan tujuan Lemahnya manajemen dan jaringan yang ada Kurang melibatkan masyarakat. Dengan melihat beberapa kelemahan diatas ketidak jelasan visi, misi, dan tujuan madrasah menjadi hal yang sangat berpengaruh dalam mengembangkan madrasah. Arah dan tujuan madrasah tidak bergantung pada kebijakan kepala sekolah tetapi mengacu pada visi, misi dan tujuan yang sudah dicanangkan. Oleh karena itu ke matangan dalam merumuskan suatu visi dan misi perlu mempertimbangkan dua hal sejalan dengan kebutuhan dan harapan masyarakat, mampu mengakomodir perubahan dan perkembangan yang terjadi Sehingga visi dan misi tersebut bisa dipahami, diyakini, dan dilaksanakan oleh semua komponen madrasah. MA. Manbaul Hikam Tegalmojo sebagai salah satu lembaga pendidikan keagamaan bercita-cita ingin mewujudkan madrasah yang bernuansa Islami. Pendidikan yang menyeimbangkan antara pengetahuan agama, pengetahuan umum dan teknologi. Oleh karena itu MA. Manbaul Hikam Tegalmojo menetapkan visi dan misi yang membawa arah kegiatan belajar mengajar untuk mencetak peserta didik yang berkualitas. Upaya tersebut membutuhkan kerjasama dari semua komponen pendidikan yang ada dalam mewujudkan cita-cita madrasah. Depag RI. Op. Cit, hlm. Ismail SM. Op. Cit, hlm. 268 Ae 269 Muhammad Ilyas. Upaya Guru PAI dalam Mewujudkan Visi. | 53 METODE PENELITIAN Pendekatan Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif lapangan yang bersifat deskriptif. Data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar dan bukan angka-angka. Hal tersebut melihat keberadaan data yang diteliti sudah tersedia atau baru akan ditimbulkan. 7 Oleh karena itu peneliti harus mampu berinteraksi dengan manusia dan lingkungan. Pelaksanaan penelitian ini memang terjadi secara alamiah . , apa adanya, yang tidak dimanipulasi dengan keadaan subyek. Jadi peneliti dituntut keterlibatannya secara langsung, tujuannya untuk memahami suatu fenomena dalam konteks khusus. Dengan demikian, laporan penelitian akan berisi kutipan-kutipan data untuk memberi gambaran penyajian laporan. Dalam hal ini peneliti berusaha memahami penerapan visi dan misi dalam pelaksanaan proses belajar mangajar di MA. Mambaul Hikam Tegalmojo dan upaya yang dilakukan guru PAI dalam mewujudkan visi dan misi MA. Mambaul Hikam Tegalmojo. Metode Pengumpulan Data Sumber data utama dalam penelitian Kualitatif ialah kata-kata dan tindakan. Selebihnya adalah data tambahan seperti menelaah Untuk lebih jelasnya penulis akan memaparkan beberapa metode yang digunakan dalam mencari data Empiris yang dibutuhkan. Metode Pengamatan (Observas. Mengamati adalah menatap kejadian, gerak atau proses dari 8 Pengamatan dalam penelitian hanya melakukan pengamatan . idak berperan sert. Artinya peneliti tidak menjadi anggota resmi dari kelompok yang diamati, secara terbuka yang diketahui oleh subyek secara umum. Oleh karena itu skala informasi termasuk yang rahasia bisa diperoleh. Peneliti juga bisa bertindak aktif dengan berbicara dan membahas terkait dengan permasalahan yang diteliti. Hal tersebut dilakukan agar peneliti bisa mendapatkan informasi yang lebih luas dan akurat Suharsimi Arikunto. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik , (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2. Cet. Xi, hlm. Suharsimi. Op. Cit, hlm 230 54 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 serta mengetahui keadaan subyek yang sebenarnya. Penggunaan metode observasi cara yang paling efektif adalah melengkapi dengan format atau blangko pengamatan sebagai instrumen. Dalam mengobservasi atau mengamati kelas peneliti menentukan keriteria secara cermat dengan ukuran baik, sedang, lemah, efisien atau tidak efisien. Hal ini akan menghindarkan kesalah pahaman antara peneliti dengan mitra peneliti. Peneliti juga memperhatikan fokus penelitian yaitu guru dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Dalam penelitian ini, peneliti sebagai peranan pengamat terbuka diketahui oleh umum. Peneliti dapat dengan bebas mengamati secara jelas kegiatan yang ada di MA. Mambaul Hikam Tegalmojo, subjek memberikan datadata yang dibutuhkan oleh peneliti. Obsevasi kelas yang peneliti lakukan adalah pengumpulan data objektif guru PAI dalam mengajar di kelas. Metode Wawancara (Intervie. Interview atau wawancara adalah bentuk komunikasi antara dua orang yang ingin memperoleh informasi dari orang lainnya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan, berdasarkan tujuan tertentu. Teknik ini dapat dikelompokkan menjadi 2 tipe yaitu terstruktur, bentuk wawancara yang alternatif jawabannya sudah disiapkan dan tipe tidak terstruktur, merupakan bentuk wawancara yang jawabannya diserahkan sepenuhnya pada interview, sehingga kreativitas pewawancara sangat diperlukan untuk menggali data yang akurat. Dalam wawancara ini peneliti menggunakan pedoman wawancara tidak terstruktur, karena dalam penelitian ini memerlukan argumentasi dari subyek. Informasi atau data yang didapatkan dari pendekatan ini diantaranya tentang faktor-faktor yang mempengaruhi dalam mewujudkan visi dan misi sekolah. Wawancara ini dilakukan dengan kepala sekolah, dan dewan guru. Dokumentasi Dokumentasi adalah salah satu metode yang digunakan untuk mencari data-data autentik yang bersifat dokumenter, baik data itu berupa catatan harian, transkip, agenda, program kerja, arsip. Rochiati Wiraatmadja. Metode Penelitian Tindakan Kelas , (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2. , hlm. Ibid. Hlmn 106 Dedy Mulyana. Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2. , hlm. Muhammad Ilyas. Upaya Guru PAI dalam Mewujudkan Visi. | 55 memori dan agenda. 12 Sumber dokumentasi pada dasarnya ialah sumber informasi yang berhubungan dengan doku men resmi, pribadi dan tidak resmi. Dengan melihat dokumen-dokumen yang ada di MA. Mambaul Hikam Tegalmojo peneliti memperoleh informasi tentang jumlah siswa, guru, peran dan tugas guru, sarana-prasarana sekolah, tata tertib, visi dan misi sekolah serta catatan-catatan penting lainnya. Metode Analisis Data Analisis data merupakan upaya me ncari dan menata data secara Menurut Paton . ang dikutip Lex. analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisa sikannya kedalam ke suatu pola dan satuan uraian dasar. Dalam hal ini pola fikir yang digunakan peneliti adalah deduktif yaitu berangkat dari fakta-fakta atau peristiwa yang bersifat empiris kemudian mempelajari temuan yang ada dan menganalisa sehingga bisa dideskripsikan dan dibuat Penarikan kesimpulan pada penelitian ini berdasakan data yang tidak diolah dengan non stat istik, tetapi dengan suatu standar atau keriteria yang telah dibuat peneliti. Jadi peneliti memulai dari data tentang visi dan misi madrasah, keadaan guru PAI, kemudian mempelajari upaya yang dilakukan guru dalam mewujudkan visi dan misi madrasah melalui pelaksanaan program kerja, kegiatan belajar mengajar dan kegiatan ekstra kurikuler keagamaan. Sehingga peneliti dapat mendeskripsikan temuan-temuan yang ada di lapangan untuk dibuat kesimpulan. ANALISIS TENTANG VISI DAN MISI MA. MAMBAUL HIKAM TEGALMOJO Tinjauan Konsep Visi dan Misi MA. Mambaul Hikam Tegalmojo Perumusan visi dan misi lazimnya merupakan tugas manajemen tingkat atas, seperti kepala sekolah, komite sekolah, pengurus yayasan, wakil kepala sekolah. Namun di MA. Mambaul Hikam Tegalmojo, visi dan misi dirapatkan bersama kepala sekolah, wakil Suharsimi. Op. Cit, hlm. 56 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 kepala sekolah, dewan guru, komite madrasah dan pengurus yayasan Mambaul Hikam. Visi dan misi MA. Mambaul Hikam Tegalmojo sudah sesuai dengan harapan masyarakat . yang pada dasarnya berkeinginan agar siswa yang sekolah MA. Mambaul Hikam Tegalmojo dapat belajar agama dengan baik dan mengamalkannya di masyarakat serta mempunyai keahlian khusus. Dalam menentukan visi dan misi, madrasah harus memperhatikan kekuatan dan kelemahan kompetensi internal madrasah. Adapun kekuatan yang ada didalam MA. Mambaul Hikam Tegalmojo yaitu: Mempunyai tanah dan gedung sendiri untuk proses belajar mengajar yang didukung sarana dan prasaran yang memadai seperti, ruang belajar, komputer, fasilitas olah raga, perlengkapan manasik haji dan lain-lain. Proses KBM berada dilingkungan yang kondusif sehingga dapat dijadikan sentral pe ndidikan kegamaan. Kompetensi kelulusan sesuai dengan harapan masyarakat sekolah mempunyai nilai jual yang tinggi sehingga dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas siswanya. Mempunyai tenaga pendidik yang ahli dibidang agama baik dalam kegiatan pembelajaran maupun kegiatan eksternal. Adapun kelemahan yang ada di MA. Mambaul Hikam Tegalmojo Kebijakan sekolah disesuaikan dengan kebijakan yayasan, sehingga campur tangan yayasan yang terlalu mendalam dikhawatirkan menimbulkan permasalahan atau pemanfaatan kepentingan kelompok tertentu. Pembiayaan operasional di MA. Mambaul Hikam Tegalmojo terkadang mengalami hambatan. Keadaan ini tidak lepas dari kondisi sosial siswa yang mayoritas berasal dari keluarga kalangan menengah ke bawah. Kelemahan yang ada di MA. Mambaul Hikam Tegalmojo adalah mencapai kondisi guru 100 % . minimal S1 yang sesuai antara latar belakang pendidikan dengan bidang atau tugas yang Selain memperhatikan kekuatan dan kelemahan, perumusan visi juga memperhatikan peluang dan tantangan yang berada di luar Muhammad Ilyas. Upaya Guru PAI dalam Mewujudkan Visi. | 57 Dengan mempertimbangkan keadaan di atas visi dan misi MA. Mambaul Hikam Tegalmojo berpeluang dalam beberapa hal yaitu: Mendapatkan input yang banyak dan memiliki nilai jual yang lebih dibanding sekolah umum. Masyarakat akan tertarik menyekolahkan anakya di MA. Mambaul Hikam Tegalmojo, karena selain pengetahuan umum juga banyak pengetahuan agama yang didapat. Keahlian yang diajarkan sebagai bekal hidup di masyarakat dapat menjadi bekal hidup siswa. suatu contoh siswa yang belajar komputer dapat memperaktekanya atau mengamalkan ilmunya dengan membuat usaha sendiri. Mampu bekerjasama dengan tokoh-tokoh agama di lingkungan pedesaan, karena mempunyai visi dan misi yang sama yaitu mengajarkan agama Islam. Menyalurkan siswa yang telah lulus . ke sekolah yang lebih tinggi. MA. Mambaul Hikam Tegalmojo membuat jaringan atau kerjasama dengan lembaga Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) agar siswanya bisa meneruskan di sekolah tersebut. Meminimalisir khawatiran orang tua akan pola prilaku anaknya. Pergaulan bebas, aksi kejahatan yang mulai masuk di pedesaan diharapkan dapat dihindari anak-anaknya yang sekolah di MA. Mambaul Hikam Tegalmojo. Adapaun tantangan berat yang dihadapi MA. Kalijaga Siwuluh Brebes adalah mendapatkan input yang berkualitas baik. Karena pada umunya siswa SD/MI yang berprestasi baik akan memilih meneruskan di sekolah negeri. Pandangan masyarakat menganggap sekolah negeri lebih murah, lebih favorit dan lebih bermutu. Maraknya sekolah atau madrasah yang bermunculan di sekitar lingkungan MA. Mambaul Hikam Tegalmojo membuat sedikit penurunan jumlah siswa yang masuk. Kompetensi kelulusan juga menjadi tugas berat sekolah karena jika banyak siswa yang tidak lulus maka masyarakat akan menganggap mutu pendidikan disekolah tersebut kurang baik, tetapi sebaliknya jika 100 % Siswanya lulus maka dianggap baik. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, maka dapat diidentifikasi kelemahan dan tantangan yang dihadapi oleh MA. Mambaul Hikam Tegalmojo. Untuk mengatasi kelemahan dan tantangan tersebut di harapkan Madrasah mencari langkah-langkah alternatif untuk memecahkan masalah sebagai berikut: 58 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 Adanya pembagian tugas dan wewenang yang jelas antara sekolah dan yayasan. Dengan memperjelas struktur, tata kerja dan manajemen diharapkan sekolah dan yayasan saling memahami dan menjalankan hak dan kewajibanya masing-masing. Memperbanyak jaringan yang ada di masyarakat, instansi pemerintah dan perusahaan. Untuk mengatasi masalah finansial sekolah dapat mencari donatur cepat yang tidak mengikat demi meningkatkan mutu pendidikan yang ada. Mengadakan kerja sama dengan MI atau SD secara berkesinambungan agar dapat merekrut siswa-siswi yang beprestasi baik. Sehingga nantinya dalam PBM di MA. Mambaul Hikam Tegalmojo agar memudahkan pihak guru. Selain itu MA. Mambaul Hikam Tegalmojo juga mengadakan kerjasama yang dengan lembaga pendidikan dan sekolah lanjutan yang favorit agar siswa alumni MA. Mambaul Hikam Tegalmojo dapat meneruskan jenjang pendidikan dengan mudah. Mengintensifkan PBM di MA. Mambaul Hikam Tegalmojo dengan mengadakan les, privat, dan tambah an jam pelajaran khususnya pada kelas IX karena akan menghadapi ujian akhir nasional. Dimana UAN masih menjadi tolak ukur mutu pendidikan sekolah dimata masyarakat. Pengiriman guru untuk mengikuti pelatihan. Hal ini dilakukan untuk memberikan tambahan pengetahuan dan keterampilan Baik dalam bidang keahlian, metode mengajar maupun berbagai pola evaluasi. Selain itu untuk mengatasi kelemahan tersebut madrasah melalui MGMP dapat mengundang ahli dari luar atau lembaga yang potensial untuk membantu guru dalam memahami materi, memilih metode pelajaran yang sesuai dengan meteri pelajaran tertentu. Relevansi Visi dan Misi MA. Mambaul Hikam Tegalmojo Dengan Visi dan Misi Pendidikan Nasional. Visi MA. Mambaul Hikam Tegalmojo Mewujudkan madrasah sebaga i wadah sentral aktivitas yang konduktif dan produktif dalam upaya peningkatan kwalitas ilmiyah dan ubudiyah di bawah naungan nuansa Islami serta menumbuhkan rasa solidaritas yang tinggi terhadap sesama dan lingkungan. Visi dan misi MA. Mambaul Hikam Muhammad Ilyas. Upaya Guru PAI dalam Mewujudkan Visi. | 59 Tegalmojo yang mengacu pada visi dan misi pendidikan Nasional mempunyai relevansi dalam beberapa hal, diantaranya relevansi pada visi sebagai berikut: Madrasah merupakan wujud sentral dalam sistem pendidikan. Menciptakan pranata sosial yang kuat dan berwibawa dengan mengadakan aktivitas pendidikan yang konduktif dan produktif. Mewujudkan individu yang berkualitas dalam ilmiah dan ubudiah sehingga proaktif dam mampu menjawab tantangan zaman. Menumbuhkan solidaritas yang tinggi dengan memiliki sikap demokrasi, toleransi terhadap sesama dan lingkungan. Relevansi misi madrasah dengan misi pendidikan Nasional: Berperan aktif memberikan pendidikan sebagai usaha dalam membantu pemerintah dalam mengupayaka n perluasan dan pemerataan memperoleh pendidikan. Meningkatkan manusia yang berilmu dan bertakwa untuk mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral. Membantu dan menfasilitasi pengembangan potensi anak dengan harapan melahirkan generasi yang mandiri. Memberdayakan peran serta masyarakat dengan bekerjasama dengan wali murid dan stakeholder Proses pendidikan dilaksanakan dengan menanamkan keteladanan, komitmen dan disiplin yang tinggi pada pendidik dan peserta didik. Pada dasarnya visi dan misi MA. Manbaul Hikam Tegalmojo sudah mengacu pada visi dan misi pendidikan nasional. Hal tersebut dapat dilihat dari Standar Nasional Pendidikan (SNP) baik dalam kurikulum yang diajarkan, proses pembelajaran yang dilakukan, kompetensi kelulusan yang ditetapkan, sarana dan prasarana yang tersedia. Namun dalam beberapa aspek belum sesuai dengan standar nasional dikarenakan keadaan internal sekolah. Misalnya pada pendidik dan tenaga pendidik ada yang tidak atau belum memiliki ijazah sarjana, tetapi pendidik tersebut professional dengan bidangnya. Pengelolaan dan pembiayaan di MA. Manbaul Hikam Tegalmojo bersifat swadaya sesuai dengan kebijakan dari yayasan. Meskipun demikian. MA. Manbaul Hikam Tegalmojo mampu bersaing dengan sekolah-sekolah yang ada di sekitarnya dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas peserta didik. 60 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 Madrasah berusaha mengembangkan dua bidang ilmu yaitu: ilmu pengetahuan yang meliputi teknologi, ilmu eksak, ilmu sosial dan seni. Ilmu agama yang diajarkan adalah Al-QurAoan Hadits. Fiqih. Aqidah Akhlak. SKI dan Bahasa Arab serta muatan lokal yang diisi dengan mata pelajaran praktek ibadah. Qowaid, dan ke NU-an. Dalam kurikulum yang ada mengikuti kurikulum nasional dengan menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), baik pada pelajaran agama maupun umum. Proses pembelajaran juga sesuai dengan alokasi waktu materi pelajaran, kompetensi kelulusan, penilaian pendidikan sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan (SNP). IMPLEMENTASI VISI DAN MISI MTS MAMBAUL HIKAM TEGALMOJO DALAM PROSES PEMBELAJARAN. Penerapan Visi dan Misi MA. Manbaul Hikam Tegalmojo dalam KBM dilakukan sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Kurikulum ini mengedepankan standar isi dan standar kompetensi yang dirancang sesuai dengan pendidikan nasional, yaitu kriteria minimal yang harus diikuti oleh warga negara In donesia atas tanggung-jawab pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Visi dan misi pada satuan pendidikan dapat dikembangkan dan dilaksanakan oleh lembaga masing-masing dengan memperhatikan kelemahan, kekuatan dan tantangan serta peluang yang ada disekolah. MA. Manbaul Hikam Tegalmojo sebagai pelaksana kurikulum dari pusat yang disusun oleh para pakar pendidikan. Pusat Kurikulum (Pusku. dan BSNP. Namun ada kurikulum yang dia nggap kurang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Oleh karena itu sekolah mengambil kebijakan tetap mengajarkan mata pelajaran tersebut, tetapi mengurangi jam pelajaran diganti dengan muatan lokal yang lebih dibutuhkan siswa seperti praktek ibadah. Kondisi ini sangat bermanfaat bagi siswa karena tanpa mengurangi pengetahuan pada mata pelajaran tersebut siswa dapat menambah wawasan pengetahuan agama. Usaha yang dilakukan sekolah agar terus mampu menyelesaikan dan melebihi standar nasional yang telah ditentukan adalah meningkatkan isi kurikulum dan silabusnya sesuai dengan perkembang an dan tuntutan serta kebutuhan masyarakat dan dunia Muhammad Ilyas. Upaya Guru PAI dalam Mewujudkan Visi. | 61 Materi muatan lokal dalam kegiatan pengembangan diri termasuk ke dalam isi kurikulum. Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah. Pembuatan dan kerajinan tangan yang dilakukan oleh MA. Manbaul Hikam Tegalmojo sangat membantu siswa untuk kreatif dan mandiri. Namun karena terbentur biaya, keinginan siswa untuk membuat atau memperindah karyanya jadi Oleh karena itu perlu adanya dana atau dukungan dari pihak sekolah untuk membantu siswanya dalam merealisasikan ideide cemerlangnya. Dalam pengembangan KTSP juga dipelukan faktor pendorong yang dapat menciptakan suasana belajar yang kondusif, sumber belajar yang memadai dan guru yang professional. Dalam penggunaan sumber belajar, disamping guru mampu membuat sendiri alat pembelajaran dan alat peraga, guru juga harus brinisiatif mendayagunakan lingkungan sekolah. MA. Manbaul Hikam Tegalmojo memang belum mempunyai sumber belajar yang lengkap atau kelas yang didesain untuk rumpun mata pelajaran tertentu yang dilengkapi dengan media pembelajaran walau terbatas. Namun kreatifitas guru dalan memanfaatkan fasilitas sudah dilakukan seperti latihan manasik haji yang menggunakan kAoabah buatan. Sehingga siswa merasa benar-benar praktik langsung dengan posisi yang Pemenuhan fasilitas sangat erat kaitannya dengan pembiayaan, oleh karena itu MA. Manbaul Hikam Tegalmojo memenuhinya secara bertahap sesuai dengan kebutuhan. Penggunaan metode dan pemanfaatan media relajar dalam KBM akan Sangat membantu siswa dalam memahami materi pelajaran. Namun tidak semua guru mau dan mampu menggunakan metode dan memanfaatkan media yang ada di MA. Manbaul Hikam Tegalmojo. Metode ceramah masih mendominasi KBM yang ada di MA. Manbaul Hikam Tegalmojo. Oleh karena itu perlu pembudayaan dalam menggunakan metode yang bervariasi dalam mengajar sesuai dengan materi pelajaran yang Jira ini dilakukan tentunya peserta dididk akan merasakan situasi yang menyenangkan dan dapat berpikir luas, aktif dan komunikatif. 62 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 ANALISIS TENTANG KEGIATAN GURU PAI DALAM MEWUJUDKAN VISI DAN MISI MA. MANBAUL HIKAM TEGALMOJO Visi adalah suatu inovasi dalam proses merealisasikan gambaran masa depan yang harus dikreasikan oleh stakeholder. Visi bukan hanya sebatas keinginan, tetapi merujuk pada nuansa-nuansa yang akan mewarnai gaya kepemimpinan dan manajemen sebuah organisasi, term asuk organisasi pendidikan. Jadi visi dapat menumbuhkan kebersamaan dan pencarian kolektif bagi kepala sekolah, dewan guru, komite sekolah, pengelola pendidikan dan pengguna pendidikan untuk tumbuh profesional. Semua komponen yang memegang jabatan harus benar-benar dapat melaksanakan tugas pokok dan fungsinya dengan mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien. Upaya yang dilakukan guru PAI dalam mewujudkan visi dan misi tidak semudah teori yang dirumuskan. Langkah pertama guru PAI yaitu berpartisipasi dalam menciptakan kembali visi yang baru memang perlu dilakukan, agar madrasah terus berk embang sesuai kebutuhan Tetapi hal ini membutuhkan keseriusan dengan memperhatikan beberapa hal, diantaranya mulai dari penyerapan aspirasi masyarakat, kebijakan pemerintah, keadaan sekolah. Setelah visi dirumuskan dan ditetapkan perlu mengkomunikasikan visi kepada seluruh warga Sosialisasi visi untuk lingkungan dalam sekolah dilakukan oleh kepala sekolah kepada seluruh dewan guru, staf karyawan dan diumumkan pada siswa. Sedangkan untuk lingkungan luar . rang tua siswa dan masyaraka. dilakukan oleh komite sekolah dan pengurus yayasan serta dibantu semua dewan guru. Bentuk kegiatan sosialisasi dapat dilakukan pada acara rapat bersama atau pengajian umum PHBI yang dilakukan oleh sekolah dan penyebaran pamflet atau brosur Pelaksanaan program kerja merupakan usaha rutin yang menjadi agenda misi jangka pendek. Program kerja diaplikasikan melalui kegiatan-kegiatan ekstra dan intra kurikuler. Program kegiatan guru PAI yang ada di MA. Manbaul Hikam Tegalmojo mencakup kegiatan yang mempunyai nilai kultur agama seperti seni rebana, latihan qiro, membaca asmaul khusna, istighotsah, salat berjamaah, salat jenazah, dan pesantren Ramadhon. Diharapkan siswa akan terlatih melaksanakan kegiatan tersebut dan mempraktikannya di masyarakat. Tetapi dengan adanya program ini otomatis akan Muhammad Ilyas. Upaya Guru PAI dalam Mewujudkan Visi. | 63 mengurangi jam pelajaran dan membutuhkan pengawasan yang ketat dari guru pembina agar kegiatan tersebut dapat dilaksanakan dengan benar Guru PAI perlu melakukan identifikasi terhadap kebutuhan belajar siswa, prestasi belajar dan kurikulu m yang digunakan, perlu dilakukan oleh kepala sekolah, dan dewan guru dengan me lihat proses dan hasil. Proses KBM di MA. Manbaul Hikam Tegalmojo sudah be rjalan dengan baik, tetapi keadaan kelas yang dihuni lebih dari 40 siswa terkadang menjadi kurang kondusif. Usaha yang dilakukan pihak pengelola dengan membangun ruang kelas baru untuk mengurangi jumlah siswa pada setiap kelas. Prestasi belajar siswa MA. Manbaul Hikam Tegalmojo sudah sangat baik, karena pada tahun ajaran 2012/2013 angka kelulusan sempurna . %). Untuk menjaga kondisi ini, stakeholder bekerjasama dengan Primagama dalam melatih siswa, mengadakan les, privat dan try out serta meminta dukungan orang tua untuk mengawasi dan membimbing anaknya belajar di rumah. Peningkatan mutu pendidikan agama yang dilakukan oleh guru PAI MA. Manbaul Hikam Tegalmojo menempuh beberapa cara, diantaranya dengan mengadakan studi banding dengan lembaga pendidikan atau sekolah yang lebih maju, seperti pondok pesantren moderen Gontor di Ponorogo. Pondok Peantren idogiri. Pondok Peantren Zainul Hasan Genggong. Manfaat yang diperoleh guru PAI MA. Manbaul Hikam Tegalmojo dapat mengetahui wacana baru untuk membuat program yang sesuai dengan keadaan madrasah. Sedangkan upaya untuk meningkatkan kinerja guru PAI baik dari segi kualifikasi, kompetensi dan kualitas. MA. Manbaul Hikam Tegalmojo mengirim beberapa guru PAI untuk mengikuti pelati han, mengikuti kegiatan musyawarah guru mata Pelajaran Agama Islam, memberi kesempatan pada guru untuk melakukan studi lanjutan agar memenuhi standar nasional, membuat tata tertib bagi guru dan menerapkan kebijakan setiap guru yang mengajar di MA. Manbaul Hikam Tegalmojo tidak boleh mengajar di sekolah lain. Usaha-usaha tersebut dirasa efektif, karena dalam jangka menengah dan panjang MA. Manbaul Hikam Tegalmojo akan mempunyai tenaga pendidik, khususnya guru PAI yang komitmen dan berkualitas, memenuhi standar nasional. Namun kegiatan studi banding yang dilakukan membutuhkan biaya yang besar, dan peningkatan mutu pendidik memerlukan waktu yang lama. Pada tahap ketiga guru PAI mela kukan peninjauan kembali program-program kegiatan dan RPP yang telah disusun. Hal ini untuk 64 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 mengetahui sejauhmana keberhasilan pendidikan agama di MA. Manbaul Hikam Tegalmojo, serta memetakan antara program pendidi kan yang terlaksana dengan baik dan program yang tidak atau belum Selanjutnya guru PAI mencarikan solusi dengan mengganti dengan program kerja atau RPP baru yang lebih cocok. Peninjauan ini dilakukan guru PAI setiap minggu, setiap bulan, tengah semester, semester dan tahun ajaran melalui evaluasi hasil belajar. Namur pada kenyataannya masih banyak guru PAI yang belum paham betul tentang penyusunan program kerja dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, metode yang sesuai, media yang digunakan serta evaluasi yang dilakukan. Sehingga arah dan tujuan pembelajaran kurang tepat dengan visi dan misi MA. Manbaul Hikam Tegalmojo. Berdasarkan usaha-usaha di atas dapat dilihat kendala yang dihadapi lebih pada aspek finansial. MA. Manbaul Hikam Tegalmojo merupakan sekolah swasta yang dikelola secara swadaya oleh Perlu disadari bahwa oprasional pendidikan di sekolah belum didukung oleh pendanaan yang memadai baik dari pemerintah maupun masyarakat. Untuk mengatasi masalah tersebut stakeholder perlu memperluas jaringan dengan komunitas atau organisasi luar. Dengan demikian diharapkan MA. Manbaul Hikam Tegalmojo mendapat bantuan subsidi dan memiliki donatur tetap untuk membiayai oprasional pendidikan. Sehingga pelaksanaan program kerja dapat berjalan dengan maksimal, bahkan dapat menambah program-program baru yang mempunyai daya tarik tersendiri seperti internet dan pengajaran dengan berbasis teknologi atau pemanfaatan alam sekitar. PENUTUP Setelah penulis mengkaji dan mengadakan analisis tentang upaya stakeholder dalam mewujudkan visi dan misi MA. Manbaul Hikam Tegalmojo dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Implementasi Visi dan misi MA. Manbaul Hikam Tegalmojo dalam kegiatan belajar mengajar sudah menggunakan kur ikulum KTSP. Dalam melaksanakan. PBM dalam KTSP memposisikan peran guru lebih dominan dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), menjabarkan Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) penyusunan RPP harus mengacu pada Muhammad Ilyas. Upaya Guru PAI dalam Mewujudkan Visi. | 65 karakteristik madrasah sesuai dengan visi dan misi yang telah Implementasi visi dan misi MA. Manbaul Hikam Tegalmojo juga melalui kurikulum muatan lokal, ekstra kurikuler, dan pelatihan skill siswa. Pelaksanaan KBM sudah berjalan sesu ai dengan kurikulum yang berlaku, tetapi pemahaman guru tentang arti kurikulum secara mendalam belum merata. Oleh karena itu masih ada guru yang kesulitan dalam menyusun RPP agar sesuai dengan karakteristik madrasah yang tercantum dalm visi dan misi. Penggunaan metode yang bervariatif dan pemanfaatan media belajar juga masih jarang dilakukan. Untuk mewujudkan kondisi belajar yang nyaman dan menyenangkan, madrasah perlu menambah fasilitas dan sumber belajar yang menunjang PBM. Pembangunan fasilaitas yang sudah dilakukan MA. Manbaul Hikam Tegalmojo seperti mushola, laboratorium komputer, perpustakaan, pemenuhan buku panduan belajar dan fasilitas olah raga. Kegiatan yang dilakukan guru PAI dalam mewujudkan visi dan misi MA. Manbaul Hikam Tegalmojo melalui program ekstra kurikuler keagamaan seperti seni rebana, latihan qiro, membaca asmaul khusna, istighotsah, salat berjamaah, salat jenazah, dan pesantren Ramadhon. Langkah-langkah penting yang dilakukan guru PAI dalam upaya mewujudkan visi dan misi yaitu: berpartisipasi dalam menelaah dan menyempurnakan kembali visi dan misi, tujuan, sasaran dan arah pengembangan pembelajaran agama di madrasah. Guru PAI juga mengadakan analisis terfokus pada keunggulan siswa di bidang ilmiyah dan ubudiyah. MA. Manbaul Hikam Tegalmojo telah membekali siswa dengan materi pelajaran agama yang luas dan kegiatan eksternal yang menunjang serta pengembangan diri siswa. Dengan mengidentifikasi kebutuhan belajar siswa, perbaikan iklim belajar dan kedisiplinan siswa dan guru serta melibatkan masyarakat dan orang tua, maka dapat dilaksanakan strategi yang tepat untuk mengefektifkan kagiatan belajar di sekolah. Guru PAI juga mengadakan analisis data untuk mengetahui sejauh mana pencapaian kegiatan yang ada dengan rumusan visi dan misi madrasah. Hal tersebut mengacu pada program kerja dan melihat indikator-indikator yang ada dalam visi dan misi madrasah. 66 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 Selanjutnya guru PAI memberikan solusi dengan memperbaharui aspek-aspek yang belum atau tidak terlaksana dengan maksimal. Pihak sekolah melakukan upaya untuk terus meningkatkan mutu pendidikan dimulai dari mencari input yang berkualitas, mengadakan PBM yang sesuai standar sampai memberikan akses pada outputnya dengan bekerjasama dengan lembaga atau sekolah Sekolah juga melibatkan orang tua masyarakat dan instansi pemerintah agar turut serta mendidik, membina dan mengawasi siswa di luar sekolah. Muhammad Ilyas. Upaya Guru PAI dalam Mewujudkan Visi. | 67 At-Tirmidzi. Abi Isa Muhammad Bin Isa. Sunan Tirmidzi. Semarang: Toha Putra, tth, juz. Az-Zarnuji. TAoalimul MutaAoallim. Semarang: Pustaka Alawiyah. Tth Young. Earl V. Pullias and James A Teacher is Many Things. Green Wich conn: Faweet Publications. Inc. , t. Danim. Sudarwam. Menjadi Komunitas Pembelajar. Kepemimpinan Tranformasional Dalam Komunitas Organisasi Pembelajaran. Jakarta: PT Bumi Aksara, 2003 _______. Visi Baru Manajemen Sekolah. Jakarta: PT Bumi Aksara, 2006 Departeman Agama RI. Kendali Mutu Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Direktorat Jendral Pembinaan Pendidikan Agama Islam. DAFTAR PUSTAKA Abdul Majid. Sholeh Abdul Aziz Dan Abdul Aziz. Al Tarbiyah Wa Thuruqu Al Tadrisi . Juz 1. Mesir: Darul MaAoarif, 1997 Achmadi. Ideologi Pendidikan Islam. Yogyakarta . Pustaka Pelajar. Ainur Rofiq dan Ahmad TaAoarifin. Manajemen Madrasah Berbasis Pesantren. Sapen: Lista Fariska Putra, 2005 Al-Bukhori. Abdullah Muhammad Bin Ismail. Shokhih Bukhori , juz 1 Bairut. Libanon: Dar Al-Fikr. Tth Al-Ghulayini. Muthafa. AoIdhotun Nasyiin . Bairut: Alkitabah AlAoAsyriyah, 1953. Cet. Ke 9 An Nahlawi Abdurrahman. Prinsip-Prinsip Dan Metode Pendidikan Islam,Terj. Hery Noor Ali. Bandung: CV. Diponegoro, 1992 Arcara. Jerome. Pendidikan Berbasis Mutu. Pendidikan PrinsipPrinsip. Perumusan Dan Tata Langkah Penerapan, terj. Yasal Iriantara, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006 Arif. Armai. Pengantar Ilmu Dan Metodologi Pendidikan Islam. Jakarta: Cipta Perss, 2002 __________. Pedoman Pendidikan Agama Islam Untuk Sekolah Umum . Jakarta: Direktur Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 2004 __________. Al-QurAoan Dan Terjemahnya . Semarang: Kumudasmoro, __________. Profil Madrasah Masa Depan. Jakarta:Bina Mitra Pemberdayaan Madrasah, 2005. Cet. Depdiknas. Undang-undang Sisdiknas. Yogyakarta: Pustaka Relajar, _________. Undang-Undang Tentang Guru Dan Dosen. Jakarta: Gaung Persada, 2007 Djamarah. Syaful Bahri. Guru Dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: PT Rineka Cipta, 2005 Mulyasa. Kurikulum Berbasis Kompetensi . Bandung: Rosda Karya, _________. Menjadi Kpala Sekolah Profesional. Dalam Konteks Menyukseskan MBS dan KBK , . Bandung: Rosda Karya, 2005 Arikunto. Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2006. Cet. Xi,. _________. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006 Asmara. Toto. Membudayakan Etos Kerja Islam. Jakarta: Gema Insani Press, 2002 Ismail SM (Ed. Paradigma Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001 68 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 Muhammad Ilyas. Upaya Guru PAI dalam Mewujudkan Visi. | 69 _____________. Dinamika Pesantren Dan Madrasah . Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002 Tafsir. Ahmad. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam . Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004 Moleong. Lexy. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2004 . Cet XX Tim penyusun . Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Khoiruddin. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) . Konsep Dan Implementasinya Di Madrasah. Yogyakarta . Pilar Media. Usman. Moh. Uzer. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2000. Cet. Langgulung. Hasan. Asas-Asas Pendidikan Islam. Jakarta: Pustaka AlHusna, 2003. Latief. Abdul. Perencanaan Sistem: Pengajaran Pendidikan Agama Islam. Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2006. Cet. Arifin. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 1996 Mulyana. Dedy. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2003 MuntholiAoah. Konsep Diri Positif Penunjang Pretasi PAI. Semarang: Gunungjati, 2002 Muslim. Abu Husain bin Hijjaj. Qusyairi. Shokhih Muslim. Juz II. Semarang: Toha Putra, tth. Nata. Abuddin. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997. Cet. Nawawi. Hadari. Administrasi Pendidikan. Jakarta: PT. Gunung Agung, 1996 Supriyadi. Fasli Jalal dan Dedi. Reformasi Pendidikan Dalam Konteksotonomi Daerah . Yogyakarta: Adicita Karya Nusa, 2001 Paraba. Hadirja. Wawasan Tenaga Guru Dan Pembina Pendidikan Agama Islam . Jakarta: Friska Agung Insani, 2000 Purwanto. Ngalim. Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1995. Cet. Sholeh. Munawar. Politik Dan Pendidikan . Jakarta: Grafindo Khazanah Ilmu, 2005 Supeno. Hadi. Potret Guru . Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1995 Supriyadi. Fasli Jalal dan Dedi. Reformasi Pendidikan Dalam Konteks Otonomi Daerah. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa, 2001 Morgan. Clifford . Introduction of Psychology. New York: Mc. Grow Hill Book Company, 1997 Wiraatmadja. Rochiati. Metode Penelitian Tindakan Kelas . Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005 Yamin. Martines. Profesionalisasi Guru Dan Implementasi KTSP. Jakarta: Gaung Persada, 2007 70 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 Musthofa. Pelaksanaan Program Pendidikan Kecakapan Hidup. | 71 PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN KECAKAPAN HIDUP (LIFE SKILL EDUCATION) DALAM UPAYA MENINGKATKAN KESUKSESAN SISWA DI MA AL-BADRI GUMUKSARI KALISAT JEMBER Musthofa* Abstract High school graduates are expected to continue to the college. However, if they do not take the further education, so they will be expected to work. The expectations of schools and parents on the fresh graduates are that they can continue to university or be an independent after graduation. Based on the observation in this study, it is showed that 60% of the high school graduates can not proceed to university. Therefore, for those who are not able to proceed to the universities, it is hoped that they can support themselves by getting the Here is the importance of giving them the life skills education program . ife skills educatio. and entrepreneurial subjects. To illustrate the problem, this study attempts to explore the data with a qualitative approach. In line with this approach, this kind of research is classified as a case study in the term of life skills education and entrepreneurial subjects. The purpose of this study was to describe: . the program planning of life skills education in MA-Albadri Gumuksari Kalisat Jember, . the educational program skills in MA-Albadri Gumuksari Kalisat Jember, . the discussion of subjects of entrepreneurship programs, . the description of studentsAo career success after completing a program of life skills education and acquire entrepreneurial subjects in the MA-Albadri Gumuksari Kalisat Jember. Moreover, based on the results, it is showed that: . the education planning programs of local advantages . ife skills educatio. in MA-Albadri Gumuksari Kalisat Jember Foundation described the establishment of coordination within the parents, communities, committee, employers, and related agencies in the Jember regency. the local advantages of education programs . ife skills educatio. in MA - Albadri Gumuksari Kalisat Jember is realized by the establishment of the Institute. Furthermore, the quality and skills development (LPMK) are conducted outside the school hours . s an extracurricular activitie. 4 hours each day and it is divided into 2 turns. The program is done creatively, which is carried out with equipment based on the predefined modules. the application of entrepreneurial subjects in the MA-Albadri Gumuksari Kalisat Jember integrated into the curriculum of local excellence. MA is one of the applying school subjects of entrepreneurship, and the entrepreneurial learning process are held for 2 hours of lessons in each week. the description of students career success after completing life skills education program (Life Dosen Institut Ilmu Keislaman Zainul Hasan Genggong Kraksaan Probolinggo 72 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 Skills Educatio. and acquire entrepreneurial subjects in MA-Albadri Gumuksari Kalisat Jember are indicated by the number of graduates who are able to run their own business, or work at another personAos place of business. The percentage of those who open a business or work is higher than those who go on to college . %). Keywords: Program Pendidikan. Kecakapan Hidup. Mata Pelajaran Kewirausahaan, dan Kesuksesan siswa. Pendahuluan Dalam rangka mengantisipasi proses globalisasi ini, berbagai upaya telah dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional yang salah satunya adalah diberlakukannya kurikulum 2004 untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), yang menerapkan pembelajaran kontekstual berdasarkan KBK. Paradigma baru pada kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), adalah adanya pergeseran pandangan dan perilaku yang dapat dirangkum menjadi tiga hal, yaitu: . dari suply driven ke demand driven, . dari academic oriented ke occupational oriented, dan . dari school based program ke dual based program. Selain itu, dalam menerapkan pendidikan berbasis kompetensi pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), juga diharapkan dapat menciptakan lulusan yang kompeten pada Madrasah Aliyah (MA). Kompeten disini maksudnya adalah memiliki kemampuan intelektual, emosional, spiritual dan sosial yang bermutu tinggi. Dalam mewujudkan kedua hal tersebut maka pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menerapkan sistem pembelajaran yang didasarkan empat pilar pendidikan yang dapat meningkatkan kualitas pendidikan kejuruan. Empat pilar tersebut adalah: Pembelajaran berbasis kompetensi sudah pasti harus diterapkan pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), sebab output dari SMK. Sama halnya di MA Albadri Gumuksari Kalisat Jember yang juga menerapkan pembelajaran berbasis kompetensi pembelajaran berbasis kompetensi untuk menyiapkan lulusan tenaga ahli yang berkompeten ataupun menjadi entrepreneur yang profesional. Pembelajaran berbasis kompetensi adalah suatu proses Musthofa. Pelaksanaan Program Pendidikan Kecakapan Hidup. | 73 pembelajaran yang perencanaan, pelaksanaan dan penilaiannya mengacu pada penguasaan kompetensi. Hal ini bertujuan agar segala upaya yang dilakukan dalam proses pembelajaran benarbenar mengacu dan mengarahkan siswa untuk mencapai penguasaan kompetensi yang telah diprogramkan dan direncanakan oleh MA Albadri Gumuksari Kalisat Jember. Salah satu mata pelajaran yang dibahas dalam penelitian ini adalah mata pelajaran kewirausahaan merupakan salah satu muatan yang dibelajarkan dalam kurikulum 2004 pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) pada umumnya. Tetapi di MA Albadri Gumuksari Kalisat Jember salah satu madrasah yang telah menerapkan mata pelajaran kewirausahaan. Tujuan dari mata pelajaran tersebut ialah penguasaan pengetahuan faktual tentang pemahamannya terhadap konsepkonsep kewirausahaan. Mata pelajaran adalah alat, sedangkan yang ingin dicapai adalah pembentukan kecakapan hidup, sebab kecakapan hidup itulah yang diperlukan pada saat seseorang memasuki kehidupan sebagai individu yang mandiri dalam anggota masyarakat dan warga negara. Oleh karena itu, yang dibutuhkan siswa ialah berupa rangsangan, dorongan yang dapat menimbulkan suatu minat untuk mewujudkan karya kewirausahaan yang bisa melebihi orang Ilmu kewirausahaan adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang nilai, kemampuan . dan perilaku seseorang dalam menghadapi tantangan hidup untuk memperoleh peluang dengan berbagai resiko yang mungkin dihadapinya. Kewirausahaan bukan hanya bakat sejak lahir maupun pengalaman lapangan melainkan suatu ilmu yang dapat dipelajari dan diajarkan. Adapun mereka yang menjadi wirausahawan . adalah orang-orang yang mengenal potensi dan belajar mengembangkan potensi untuk menangkap peluang serta mengorganisir usaha dalam mewujudkan cita-citanya. Oleh karena itu untuk menjadi seorang wirausaha sukses, memiliki bakat saja tidak cukup, tetapi juga harus memiliki pengetahuan mengenai segala aspek yang ditekuninya. Pentingnya diberikan program pendidikan kecakapan hidup . ife skill educatio. kepada siswa-siswa lulusan SMA/MA, karena mereka tidak semuanya dapat melanjutkan ke perguruan tinggi. Oleh karena itu, penguatan mata pelajaran kewirausahaan yang dipadukan dengan program pendidikan kecakapan hidup . ife skill educatio. , dapat 74 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 membantu menyiapkan masa depan mereka setelah lulus sekolah. Isu kritis dalam bidang pendidikan dewasa ini adalah kenyataan bahwa sekolah kurang mampu memberikan bekal kecakapan hidup yang bermakna bagi para peserta didiknya. Lulusan SMA/MA banyak yang menganggur, sebagai indikasi kuat dari gagalnya sistem pendidikan kita dalam membangun sikap mandiri dan etos kerja, tetapi malah menguatkan sikap-sikap yang memandang dirinya tidak pantas bekerja kasar, sekaligus diartikan pula sebagai enggan bekerja keras. Data statistik persekolahan dari tahun ke tahun menunjukkan, bahwa angka melanjutkan siswa yang dapat sampai ke jenjang Perguruan Tinggi hanya sekitar 11,6%. Ini berarti, bahwa sebagian besar siswa . ,4%) tidak melanjutkan pendidikannya karena berbagai Oleh karena itu perlu adanya kebijakan pendidikan yang berbasis masyarakat luas . road based educatio. yang berorientasi pada kecakapan untuk hidup . ife skill. Pendidikan yang berorientasi pada kecakapan untuk hidup tidak mengubah sistem pendidikan yang ada dan juga tidak untuk mereduksi pendidikan hanya sebagai latihan Pendidikan yang berorientasi pada kecakapan untuk hidup justru memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk memperoleh bekal keterampilan atau keahlian yang dapat dijadikan sebagai sumber Pendidikan yang berorientasi pada kecakapan untuk hidup juga tidak untuk mendikte. Lembaga Pendidikan dan Pemerintah Daerah, tetapi hanya menawarkan berbagai kemungkinan atau menu yang dapat dipilih sesuai dengan kondisi riil sekolah, baik ditinjau dari keberadaan siswa-siswanya maupun kehidupan masyarakat di sekitarnya. Pendidikan yang berbasis masyarakat luas (Broad Based Educatio. merupakan kebijakan penyelenggaraan pendidikan yang sepenuhnya diperuntukkan bagi lapisan masyarakat terbesar di negara kita. Dasar pemikiran penyelenggaraan pendidikan yang berbasis masyarakat luas adalah kebutuhan riil dari lapisan masyarakat terbesar, yaitu bahwa pendidikan harus menitikberatkan pada penguasaan kecakapan untuk hidup. Secara teknis filosofis orientasi pendidikan yang berbasis masyarakat luas adalah kecakapan untuk hidup . ife skill. atau untuk bekerja, bukan semata-mata berorientasi kepada jalur akademik. Untuk itu sekolah dituntut agar mampu mewujudkan pertautan yang jelas dengan dunia kerja. Paradigma bersekolah untuk bekerja . chool to wor. harus mendasari semua kegiatan pendidikan. Musthofa. Pelaksanaan Program Pendidikan Kecakapan Hidup. | 75 Dengan titik berat pendidikan pada kecakapan untuk hidup . ife skill. diharapkan pendidikan benar-benar dapat meningkatkan taraf hidup dan martabat masyarakat. Pilar terpenting pembangunan sumber daya manusia (SDM) adalah pendidikan. Semakin terdidik suatu masyarakat semakin tinggi potensi untuk memiliki SDM yang Selanjutnya, semakin tinggi kualitas SDM, semakin besar kesempatan untuk memperoleh kesejahteraan. Kuatnya kaitan antara pendidikan dengan SDM dalam mengukur keberhasilan pembangunan SDM suatu negara diperlihatkan oleh United Nation Development Program (UNDP). Badan dunia ini telah menetapkan pendidikan masyarakat di suatu negara sebagai salah satu indikator penting untuk menentukan peringkat SDM suatu negara di antara negara-negara di dunia. Seperti ayat dalam Al QurAoan berbunyi: Artinya: . Alif laam miin, . Kitab (Al Qura. Ini tidak ada keraguan petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, . mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qura. yang Telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang Telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya . akhirat, . Mereka Itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orangorang yang beruntung. (Al-Baqarah ayat 1-. 1 Sebagai wujud nyata partisipasi dan kepedulian Yayasan Albadri Gumuksari Kalisat jember terhadap pengembangan SDM, maka sejaktahun 1989 mendirikan Madrasah Aliyah Albadri Gumuksari Kalisat. Tujuan diterapkannya program pendidikan kecakapan hidup . ife skill educatio. untuk mempersiapkan siswa MA Albadri agar Al-QurAoan dan Terjemah. Bandung: CVPenerbit. Hlm. 76 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 bisa mandiri pasca lulus dari sekolah karena tidak semua yang lulus melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Pelaksanaan program tersebut dilakukan secara ekstra kurikuler bekerjasama dengan SMAN I Kalisat. Pada permulaannya program pendidikan ditempatkan di SMAN I Kalisat, karena ketersediaan peralatan dan instruktur di SMKN I Purwosari yang memadai. Hasil evaluasi pelaksanaan program pendidikan kecakapan hidup MA Albadri menunjukkan bahwa jarak antara MA Albadri dan SMAN I Kalisat merupakan kendala utama, mengingat kegiatan siswa yang begitu padat khususnya siswa MA Albadri yang merupakan santri Pondok Pesantren Ngalah. Oleh karena itu secara bertahap MA Albadri berupaya mengembangkan sarana dan prasarana yang dimiliki agar program pendidikan kecakapan hidup dapat dilaksanakan di lingkungan MA Albadri. Musthofa. Pelaksanaan Program Pendidikan Kecakapan Hidup. | 77 tentang teori tersebut diterima, mendukung dan memperkuat, merugukan dan mengeritik, dan merevisi bahkan membantah dan . Menerima teori artinya bahwa hasil-hasil penelitian ternyata mendukung teori tersebut sehingga hasil penelitian memperkuat teori yang ada, dengan demikian teori semakin kokoh untuk dibantahkan. Meragukan dimaksud adalah bahwa teori dalam posisi dapat dikritik karena telah mengalami perubahanperubahan disebabkan karena waktu yang berbeda, tempat yang berbeda, atau fenomena yang telah berubah, untuk itu perlu dikeritik atau dirivisi teori tersebut. Sedangkan membantah teori dimaksud bahwa berdasarkan hasil penelitian, maka semua aspek teori tidak dapat dipertahankan karena waktu yang berbeda, lingkungan yang berbeda, dan fenomena yang jauh beda, dengan demikian teori tidak dapat dipertahankan atau dirivisi lagi, karena itu teori harus ditolak kebenarannya dengan membangun teori baru. Pendekatan dan Jenis Penelitian Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan teorisasi deduktif, model ini tidak asing lagi dalam penelitian sosial, dimana teorisasi dilakukan secara deduktif. Model umum teorisasi deduktif seperti yang umumnya dilakukan diberbagai penelitian kualitatif dan masih mempengaruhi format kualitatif diskriptif merupakan teorisasi yang paling sering digunakan karena format kualitatif diskriptif paling banyak dilakukan dalam penelitian Arahan-arahan teori atau substansi dan model teori menuntun peneliti menjawab penelitian yang akan dilakukan dengan melahirkan Didalam format penelitian kualitatif, hipotisis tidak pernah diuji dengan tehnik analisis data manapun, namun hipotisis dapat digunakan saat pengumpulan data dilapangan. Karena itu, hipotisis yang dimaksud berguna untuk menuntun peneliti saat pengumpulan Dengan demikian, maka peneliti juga dituntun oleh teori yang digunakan itu. Dengan demikian, teori deduktif peneliti didomiasi oleh teori-teori yang telah dipilihnya pada awal melakukan penelitian, dan dengan bigitu pula ia dipengaruhi oleh teori itu ketika melakukan uji dan pembahasan terhadap teorinya itu. Teori deduktif umumnya diakhiri dengan bahasan-bahasan Moleong. Lexy,J. Metode Penelitian kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya. Hlm. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian ini adalah Madrasah MA Al-Badri yang terletak di Desa Gumuksari Kec Kalisat Kab Jember. Peneliti memilih lembaga ini karena berada di lingkungan Pondok Pesantren dan mempunyai prestasi yang cukup segnifikan. Lulusan atau output dari lembaga MA-Al-Badri dapat diterima di PTN di wilayah Jawa Timur dan sekitarnya seperti UGM. ITS, dan Universitas Negeri Jember. Kehadiran Peneliti Kehadiran peneliti untuk memperoleh data yang dibutuhkan di MA Al-Badri terbagi menjadi beberapa tahapan. Pertama, peneliti melakan pendekatan kepada Kepala Sekolah selaku pimpinan. Waka kurikulum, bina program, ketua jurusan, dan guru-guru serta tenaga administrasi. Kedua, peneliti melakukan observasi, wawancara, mencari dokomen-dokomen yang dibutuhkan dan sebagainya. Dalam hal ini peneliti bertinadak sebagai perencana, pelaksana, pengumpul data, penganalisis, penapsir data dan sebagai pelapor hasil penelitian. Dalam pengumpulan data dilokasi penelitian, peneliti membagi menjadi beberapa pertemuan, yaitu: Moleong. Lexy,J. Hlm. 78 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 Pertemuan I Pertmuan II Pertemuan i Pertemuan IV Pertemuan V : Kepala Sekolah : Waka Kurikulum. Bina Program dan Guru : Ketua Program dan Guru : Guru dan Tata Usaha dilanjutkan dengan pencarian data data sekolah. : penelitian untuk melengkapi data Data Dan Sumber Data Musthofa. Pelaksanaan Program Pendidikan Kecakapan Hidup. | 79 Ketua Program Keahlian, yaitu untuk mendapat kan data-data yang berupa dokumen, wawancara, tentang menejemen kepala sekolah terhadap pembinaan guru yang memiliki profisionalisme Guru, utuk mendapatkan data-data berupa informasi, dokomen, sertifikat, mengenai menejemen yang dilakukan kepala sekolah dalam rangka meningkatkan kompetensi guru-guru di sekolah. Staf Tata Usaha, yaitu untuk mendapatkan data berupa keterangan dokomen dan arsip-arsip tentang kegiatan yang dilakuakan sekolah dalam rangka ingin mengetahui sejauh mana peran kurikulum keunggulan lokal dalam upaya meningkatkan pretasi siswa di MA Al-Badri. Sumber data bukan manusia dalam penelitian ini: Foto-foto kegiatan Sarana dan prasarana Dokomen Ae dokomen kegiatan Data adalah keterangan atau bahan nyata yang dapat dijadikan dasar kajian . nalisis atau kesimpula. Dalam penelitian ini, peneliti mengumpulkan berbagai macam data yang berupa data primir dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung oleh sumbernya, sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh dari informasi yang telah diolah oleh pihak lain. Data yang dikumpulkan dalam pelnelitian ini adalah data yang sesuai dengan fokus penelitian, yaitu tentang kurikulum lokal dapat meningkatkan pretasi siswa di MA Al-Badri. Data tersebut bersifat diskriptif dalam bentuk kata-kata atau gambar maupun dokomen Sumber data adalah subyek dari mana data dapat diperoleh. Sumber data dari penelitian ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu manusia/orang dan bukan manusia. Sumber data manusia dapat berfungsi subyek atau informasi kunci . ey informan. Sedangkan data bukan manusia berupa dokumen yang dapat mendukung penelitian yang relevan dengan fokos penelitian, seperti. gambar,foto,atau tulisan-tuisan yang berkaitan dengan fokos penelitian. Adapun yang menjadi subyek atau sumber data manusia dalam penelitian ini adalah: Kepala Sekolah, yaitu untuk memperoleh data tentang perannya serta upaya-upaya yang dilakukannya selaku kepala sekolah peran kurikulum keunggulan lokal dalam upaya meningkatkan prestasi siswa di MA Al-Badri Waka Kurikulum, yaitu untuk mendapatkan data-data yang berupa, dokumen, informasi, wawancara mengenai kebijakan kepala sekolah dalam rangka kurikulum keunggulan lokal dalam upaya meningkatkan pretasi siswa guru di sekolah. Pada tahap ini peneliti dapat memperoleh dan mengumpulkan data melalui informasi yang lebih mendetail dan mendalam berdasarkan fokus penelitian. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan beberapa tehnik, yakni:5 Observasi partisipasif Peneliti melakukan pengamatan langsung terhadap situasi dan kondisi MA Al Badri untuk memperoleh fakta dan data tentang sekolah yang sedang diteliti terkait dengan fokos penelitian yang telah ditetapkan. Adapun sasaran dari kegiatan ini adalah: Kondisi MA Al-Badri Keadaan sarana dan prasarana sekolah Bentuk-bentuk kegiatan yang dilakukan sekolah dalam rangka peranan eksistensi kurikulum keunggulan lokal dalam upaya meningkatkan prestasi siswa Wawancara Untuk mendapatkan informasi yang lebih mendetail, peneliti melakukan wawancara dengan sejumlah orang yang lebih Penelitian ini menggunakan tehnik wawancara Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif Dan Kualitatif Dan RdanD. Bandung: Alfabeta. Hlm. Margono. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta. Hlm. Teknik Pengumpulan Data 80 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 tak terstruktur. Alasannya peneliti lebih luwes dan leluasa dalam memperoreh data melalui wawancara dan pertanyaan tetang apa saja program-program sekolah untuk meningkatkan prestasi siswa di MA AL-Badri. Dalam kegiatan wawancara mendalam ini, peneliti melakukan wawancara dengan Kepala Sekolah, para Wakil Kepala Sekolah, guru-guru serta tenaga administrasi. Subyek diberi kebebasan menguraikan jawabannya serta mengungkapkan pandangannya sendiri tanpa harus dipaksakan dan tidak ada tekanan. Dokumentasi Metode dokumenter adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, poto, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, leger, agenda dan laian Peneliti mendapatkan catatan tentang profil, visi-misi sekolah, programprogram sekolah, agenda-agenda,dan lain-lain yang berhubungan peran kurikulum keunggulan lokal dapat meningkatkan prestasi siswa di MA Al-Badri. Analisis Data Analisis data mencakup banyak kegiatan, mengkatagorikan, mengatur, memanipulasi dan menjumlahkan data yang diarahkan untuk memperoleh jawaban dari penelitian. Peneliti melakukan analisis data dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi di MA Al-Badri yang berkaitan dengan peran kurikulum keunggulan lokal dapat meningkatkan pretasi siswa Proses analisis data disini peneliti membagi tiga komponen, antara lain sebagai berikut: Reduksi Data Reduksi data adalah suatu bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan mengorganisasikan data sedemikian rupa sehingga diperoleh kesimpulan akhir dan diverifikasi. Laporan-laporan direduksi, dirangkum, dipilih hal-hal pokok, difokuskan mana yang penting, dicari tema atau polanya, dan disusun lebih sestimatis. Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif Dan Kualitatif Dan RdanD. Bandung: Alfabeta. Hlm. Musthofa. Pelaksanaan Program Pendidikan Kecakapan Hidup. | 81 Reduksi data berlangsung terus menerus selama penelitian Peneliti mengumpulkan semua hasil penelitian yang berupa wawancara, foto-foto, dokomen-dokomen sekolah serta catatan penting lainnya yang berkaitan dengan peran kurikilum keunggulan lokal dapat meningkatkan prestasi siswa yang dilakukan oleh kepala sekolah. Selanjutnya, peneliti memilah data-data pokok yang berkaitan dengan penelitian, kemudian memilih data-data penting dan menyusun secara sestimatis dan diserdehanakan. Penyajian Data Penyajian data yang dimaksudkan untuk menemukan polapola yang bermakna serta memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian data dalam penelitian ini dimaksudkan untuk menemukan suatu makna dari data-data yang sudah diperoleh, kemudian disusun secara sestimatis dari bentuk informasi yang kompleks menjadi sederhana tetapi selektif. Penariakan Kesimpulan Penariakan kesimpulan dilakukan terhadap temuan penelitian. Kesimpulan atau verifikasi dilakukan secara terusmenerus sepanjang proses penelitian berlangsung yaitu padaawal peneliti mengadakan penelitian di MA Al-Badri selama proses penelitian Informan dalam penelitian kualitatif merupakan hal yang sangat penting, sebab informanlah yang dapat memberikan informasi primer yang dibutuhkan oleh peneliti. Perbedaan paradigma dan karakteristik penelitian kuantitatif dan kualitatif tidak hanya ditandai oleh perbedaan latar belakang dan tujuan penelitian, melainkan juga memberikan implikasi perbedaan metodologi, termasuk di dalamnya masalah sampling maupun pengukuran tingkat validitas dan reabilitas penelitian. Tujuan dan prosedur sampling dalam penelitian kualitatif dianggap tidak relevan jika digunakan dalam penelitian kualitatif, sebab penelitian kualitatif tidak bermaksud menggambarkan karakteristik populasi, namun lebih fokus kepada representasi terhadap fenomena Burhan. Bungin. Metodologi Penelitian Sosial: forma-format kuantitatif dan Surabaya: Airlangga University Press. Hlm. 82 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 Adapun yang ditetapkan sebagai informan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Kepala Sekolah/ Madrasah Waka Kurikulum Waka Kesiswaan Guru Pendidikan Agama Islam Kepala Tata Usaha Siswa Pengecekan Keabsahan Data Data yang diperoleh dari MA Al-Badri selanjutnya diperiksa Dalam penelitian kualitatif, standar tersebut dinamakan keabsahan data. Untuk menetapkan keabsahan data dalam penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa tehnik pemeriksaan. Dalam penelitian ini tehnik yang digunakan dalam pengecekan atau pemeriksaan keabsahan data antara lain sebagai berikut: Perpanjangan keikutsertaan peneliti Keikutsertaan peneliti sangat menentukan dalam pengumulan Keikutsertaan tersebut tidak hanya dilakukan dalam waktu singka, tetapi memerlukan perpanjangan keikutsertaan peneliti dalam proses penelitian untuk meningkatkan derajat kepercayaan data yang dikumpulkan. Penggunaan Tehnik Triangulasi Tehnik triangulasi digunakan untuk memeriksa keabsahan data dengan cara membandingkan data yang diperoleh dengan sesuatu yang berada diluar data tersebut. Artinya, untuk membandingkan dan mengecek balik derajad kepercayaan dan keabsahan data di MA Al-Badri, peneliti akan membandingkan dengan data hasil wawancara dan dokomentasi yang diperoleh dalam penelitian. Ketekunan Pengamatan Hal ini bertujuan untuk menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu yang sedang dicari dan kemudian mendiskripsikannya secara rinci. Peneliti mengadakan pengamatan dengan teliti, tekun dan tepat agar mampu menguraikan peran dan pelaksanaan kurikulum keunggulan lokal menuju terciptanya pretasi siswa di MA AlBadri secara detail. Moleong. Lexy,J. Hlm. Musthofa. Pelaksanaan Program Pendidikan Kecakapan Hidup. | 83 HASIL DAN PEMBAHASAN Bagian ini adalah membahas hasil temuan penelitian berdasarkan fokus utama penelitian ini yaitu kurikulum berbasis keunggulan lokal dalam upaya meningkatan keterampilan (Studi kasus di MAAlbadri Gumuksari Kalisat Jembe. dan sub fokus penelitian serta tujuan penelitian yang sudah ditetapkan dalam bab sebelumnya yaitu: Pertama, pengorganisasian kurikulum berbasis keunggulan lokal . ife skill educatio. di lembaga MA Al-Badri. Kedua, peneliti berupaya mendiskripsikan pelaksanaan kurikulum keunggulan lokal . ife skill educatio. di lembaga MA Al-Badri. Ketiga, peneliti berupaya mendiskripsikan mengevaluasi hasil belajar kurikulum berbasis keunggulan lokal . ife skill educatio. dalam rangka mengetahui peningkatan keterampilan. Pendidikan kecakapan hidup bukan sekedar keterampilan untuk bekerja . , akan tetapi memiliki makna yang lebih luas. Kecakapan hidup merupakan pengembangan diri untuk bertahan hidup, tumbuh, dan berkembang, memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dan berhubungan, baik secara individu, kelompok maupun melalui sistem dalam menghadapi situasi tertentu. Life skills ini memiliki cakupan yang luas, berinteraksi antara pengetahuan yang diyakini sebagai unsur penting untuk hidup lebih Pentingnya diberikan program pendidikan kecakapan hidup . ife skill educatio. kepada siswa-siswa lulusan SMA/MA, karena mereka tidak semuanya dapat melanjutkan ke perguruan tinggi. Oleh karena itu, penguatan mata pelajaran kewirausahaan yang dipadukan dengan program pendidikan kecakapan hidup . ife skill educatio. , dapat membantu menyiapkan masa depan mereka setelah lulus Oleh karena itu, pada pembahasan kali ini, peneliti menjelaskan dan memaparkan antara teori yang ada apakah sudah sesuai dengan kenyataan yang ada di lapangan atau malah bertentangan. Berikut pembahasan hasil peneliti tentang pendidikan kecakapan hidup di MA-Albadri Gumuksari Kalisat Jember. Berdasarkan data yang diperoleh peneliti melalui observasi, wawancara dan dokumentasi, maka peneliti melanjutkan dengan menganalisa temuan yang ada dan mendiskusikan dengan teori Mohammad. Efendi. Kurikulum dan Pembelajaran: Pengantar Ke Arah Pemahaman KBK. KTSP dan SBI. Malang: FIP Universitas Negeri Malang. Hlm. 84 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 yang ada. Kemudian menjelaskan tentang implikasi-implikasi dari Pelaksanaan Program Pendidikan Kecakapan Hidup (Life skill educatio. Pada pembahasan bab ini akan diuraikan tentang hasil observasi, dokumentasi, wawancara di MA Al-Badri mengenai penerapan program keunggulan lokal . ife skill educatio. sebagai berikut: Konsep program pendidikan keunggulan lokal . ife skill educatio. yang dikembangkan di MA-Albadri mengacu kepada Visi & Misi MAAlbadri. selain itu, tujuan diterapkannya program keunggulan lokal . ife skill educatio. diantaranya untuk memepersiapkan siswa MA AlBadri agar bisa mandiri pasca lulus dari sekolah karena tidak semua yang lulus melanjutkan ke perguruan tinggi. Adapun model penerapan program pendidikan kecakapan hidup . ife skill educatio. di MA Al-Badri ini diwujudkan dengan didirikannya Lembaga Pengembangan Mutu dan Keterampilan (LPMK) yang dilaksanakan diluar jam sekolah . egiatan ekstrakurikule. 4 jam setiap hari dengan dibagi 2 gelombang. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Anwar dalam bukunya yang menyatakan bahwasanya Program pendidikan life skill dimaksudkan sebagai pendidikan yang dapat memberikan bekal keterampilan yang praktis, terpakai, terkait dengan kebutuhan pasar kerja, peluang usaha dan potensi ekonomi atau industri yang ada di masyarakat. Pada intinya pendidikan kecakapan hidup dilaksanakan dalam rangka membantu peserta didik dalam mengembangkan kemampuan belajar, menyadari dan mensyukuri potensi diri untuk dikembangkan dan diamalkan, berani menghadapi problema kehidupan, serta memecahkannya secara kreatif. Berdasarkan pada prinsip-prinsip pelaksanaannya, pendidikan kecakapan hidup bukanlah mata pelajaran, sehingga dalam pelaksanaannya tidak perlu merubah kurikulum dan tidak menciptakan mata pelajaran baru. Kegiatan keterampilan yang dimiliki MA Al-Badri sangat sistematis dan terarah untuk menyiapkan peserta didiknya. Keterampilan tersebut dikonsentrasikan pada peningkatan penguasaan spesifikasi program Anwar. Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Educatio. Bandung: CV. Alfabeta. Hlm. Musthofa. Pelaksanaan Program Pendidikan Kecakapan Hidup. | 85 jurusan secara aplikatif dan pemberdayaan program keterampilan kerja nyata. Program ini akan diproyeksikan untuk membangun Madrasah Aliyah berbasiskecakapan hidup . ife Skil. Adapun jenis keterampilannya yaitu: Komputer. Internet. Servis Sepeda Motor. Tata Boga. Desain Foto. Bahasa Arab danBahasa Inggris, budi daya jamur serta tembakau kasturi. Dalam peningkatan mutu program pendidikan keunggulan lokal . ife skill educatio. juga disertai oleh dukungan masyarakat yaitu berdasarkan rekomendasi dari wali murid. Mereka menginginkan anaknya bersekolah di MA Al-Badri agar tidak hanya menerima ilmu agama dan ilmu umum, juga agar mempunyai keterampilan dan dapat langsung bekerja. Pendidikan keunggulan lokal . ife skill educatio. adalah kecakapan yang secara praktis dapat membekali peserta didik dalam mengatasi berbagai macam persoalan hidup dan kehidupan. Kecakapan itu menyangkut aspek pengetahuan, sikap yang didalamnya termasuk fisik dan mental, serta kecakapan kejuruan yang berkaitan dengan akhlak peserta didik sehingga mampu menghadapi tuntutan dan tantangan hidup dalam kehidupan. Pelaksanaan pendidikan kecakapan hidup disesuaikan dengan kondisi peserta didik, lingkungan sekitar dan kapasitas kemampuan sekolah menyangkut kemampuan guru, sarana dan prasarana serta kondisi finansial. Pendidikan kecakapan hidup dapat dilakukan melalui kegiatan intra dan ekstrakurikuler untuk mengembangkan potensi peserta didik sesuai dengan karakteristik, emosional, dan spiritual dalam prospek pengembangan diri, yang materinya menyatu pada sejumlah mata pelajaran yang ada. Pelaksanaan Mata Pelajaran Kewirausahaan Penerapan mata pelajaran kewirausahaan di MA Al-Badri di integrasikan ke dalam kurikulum keunggulan lokal. MA AlBadri ini termasuk salah satu sekolah yang menerapkan mata pelajaran kewirausahaan, proses pembelajaran kewirausahaan ini diselenggarakan selama 2 jam pelajaran dalam setiap minggunya. Semua kelas X. XI. XII jurusan seperti IPA. BAHASA, juga menerima pelajaran ini. Dengan rincian, kelas X mempelajari tentang karakter kewirausahaan, kelas XI mempelajari tentang proposal usaha kecil. Departemen Pendidikan Nasional. Konsep Pengembangan Model Integrasi. Kurikulum Pendidikan Kecakapan Hidup. Jakarta: Depdiknas. Hlm. 86 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 kelas XII mempelajari bagaimana mendirikan usaha kecil. Proses kegiatan belajar mengajar kewirausahaan disini dilaksanakan didalam kelas tetapi jika siswa-siswi merasa jenuh, kami ajak belajar dilur kelas. Agar mereka bisa merasakan suasana yang berbeda ketika didalam kelas. Selain menggunakan metode tanya jawab, terkadang juga beliau mengajarkan metode presentasi kepada siswa-siswi ketika kegiatan belajar mengajar didalam kelas dengan cara membagi kelompok terlebih dahulu, kemudian memberikan tugas kepada masing-masing kelompok. Lalu, setiap kelompok maju ke muka kelas untuk mempresentasikan tugasnya kepada temanteman yang beda kelompok. Di MA Al-Badri ini dalam pengalokasian waktu pembelajaran mata pelajaran kewirausahaan mulai kelas X sampai dengan XII ditetapkan hanya 2 Jam Pelajaran (JP). Hal ini diperkuat oleh pernyataan Tim Penulis Naskah Kewirausahaan dalam bukunya yang menyatakan bahwasanya salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah melalui pendidikan karakter terpadu, yaitu memadukan dan mengoptimalkan kegiatan pendidikan informal lingkungan keluarga dengan pendidikan formal di sekolah. Dalam hal ini, waktu belajar peserta didik di sekolah perlu dioptimalkan agar peningkatan mutu hasil belajar, terutama pembentukan karakter termasuk karakter wirausaha peserta didik sesuai tujuan pendidikan dapat dicapai. Kegiatan ekstra kurikuler yang selama ini diselenggarakan sekolah merupakan salah satu media yang potensial untuk pembinaan karakter termasuk karakter wirausaha dan peningkatan mutu akademik peserta didik. Kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di Kegiatan ekstrakurikuler diharapkan dapat mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial, serta potensi dan prestasi peserta didik. Pendidikan kewirausahaan dapat juga diintegrasikan dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu dikembangkan, dan dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari12 Kasmir. Ciri-ciri Wirausaha. Kewirausahaan. Jakarta: Alfabeta. Hlm. Musthofa. Pelaksanaan Program Pendidikan Kecakapan Hidup. | 87 Dengan demikian, pembelajaran yang berwawasan pendidikan kewirausahaan tidak hanya pada tataran kognitif, tetapi menyentuh pada internalisasi, dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat. Pelaksanaan pembelajaran life skill yang ada di MA AlBadri, implementasi kurikulumnya menggunakan model diskrit, artinya implementasi pendidikan kecakapan hidup dipisahkan dan dilepaskan dari program-program kurikuler, kurikulum reguler, dan atau mata pelajaran . embelajaran kurikule. Pelaksanaan pembelajarannya dikemas dan disajikan secara khusus kepada peserta Penyajiannya berbentuk program ekstrakurikuler, sehingga waktu penyelenggaraannya tidak terbentur dengan penyelenggaraan kegiatan pendidikan lain. Dengan demikian santri yang mengikuti program pendidikan lain tidak terhambat. Sementara untuk kegiatan kulikulernya hanya mengajarkan kitabkitab yang sudah dijadwalkan sebelumnya. Pelaksanaan pembelajaran life skill dilaksanakan pada hari libur pondok, yakni hari jumAoat dan pada jam-jam kosong. Pembelajaran life skill tidak terjadwal karena pelaksanaannya Dokumen pondok pesantren AL-Badri melihat jamjam yang kosong, kecuali pada hari jumAoat sudah terjadwal dengan Kondisi ini dipengaruhi oleh padatnya kegiatan pondok, kegiatan pengajian pondok dimulai dari pagi sampai malam hari yakni baAoda sholat subuh sampai baAoda sholat Isyak kira-kira sampai jam 10 malam. Sebagaimana hasil wawancara penulis dengan Gus Thoriq selaku ketua yayasan yakni: AyUntuk pendidikan life skill ini kami memasukan pada ekstra kulikuler yang mana pelaksanaannya kami lakukan pada hari libur Kalau disini hari libunya jumAoat ya sudah tradisi pondok. Kadang kami masukan pada jam-jam kosong karena kegiatan pondok sangat padat sekaliAy Tidak semua jenis program pendidikan life skill diselenggrakan oleh pondok pesantren AL-Badri. Penyelenggaraan unit-unit pendidikan life skill disesuaikan dengan keadaan lingkungan Pembelajaran ini diwajibkan pada semua santri, namun santri tidak mengikuti setiap jenis life skill yang diselenggarakan di pondok pesantren. Tetapi didasarkan atas kemauan, minat, bakat serta fasilitas yang tersedia di pondok. Pemilihan di tiap-tiap bidang pendididkan disesuaikan dengan 88 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 minat dan bakat santri, sehingga respon santri terhadap materi pelajaran yang disampaikan sangat antusias. Sedangkan dalam pembelajaran life skill ada yang langsung praktek ada juga yang menggunakan teori dulu baru praktek. Sebagaimana hasil wawancara penulis dengan Kholik Hasyim AsAoari, yakni AyDalam pembelajaran ketrampilan atau life skill itu tadi kita tidak punya panduan, berapa persen teori dan berapa Hasil wawancara dengan ketua yayasan (Gus Thori. pada tanggal 5 Mei 2012 persen praktek. kita hanya melihat apakah ketrampilan ini perlu diberi teori dulu atau bisa langsung praktek melihat kondisi. Ay (Kholik Hasyim AsAoari. Wawancara, 29 Mei Pembelajaran yang menggunakan teori dan praktek antara lain: Komputer. Jurnalistik, menjahit, tataboga. Untuk pembelajaran yang langsung praktek tanpa teori antara lain: Kesenian musik, pertukangan perikanan, pertanian, perternakan, perdagangan. Pada pembelajaran komputer mereka lebih fokus pada program disain grafis, pada prakteknya mereka mendisain tulisan dan gambargambar pada majalah pondok pesantren dan hasilnya sekarang mereka telah menerbitkan majalah pondok dengan nama SEMERU (Semangat Menuju Pembaharua. Majalah semeru ini adalah hasil dari dua bidang ketrampilan yakni jurnalistik dan komputer. Sebagaimana hasil wawancara penulis dengan Kholik Hasyim AsAoari yakni: AyIni salah satu contoh hasil dari jurnalistik, dan komputer, semua itu didisain sendiri oleh santri-santri, harap maklum. Dan tulisan semerunya itu sebetulnya merah tidak seperti foto kopian seperti itu, maklum masih belajar. Ay (Kholik Hasyim AsAoari. Wawancara, 29 Mei Pembelajaran kesenian musik dilakukan pada hari jumAoat karena pada hari jumat kegiatan pondok libur. Khusus kesenian musik pembelajarannya hanya hari jumAoat dan langsung praktek. Kesenian musik ini tidak bisa dimasukan pada jam-jam kosong karena butuh waktu yang lama untuk praktek. hasil dari pembelajaran kesenian musik sampai sekarang telah membentuk jamAoiyah sholawat As Syauqiyah dan telah meluncurkan VCD sholawat voleme 1 dan 2. JamAoiyah holawat ini juga pernah menyabet juara pada perlombaan sholawat tingkat kabupaten, dan berhasil menjadi delegasi Kabupaten pada lomba sholawat tingkat propinsi. Pembelajaran pertukangan dilakukan dengan cara langsung Musthofa. Pelaksanaan Program Pendidikan Kecakapan Hidup. | 89 praktek, jadi pertama-tama santri langsung praktek semisal kuli Setelah santri mahir, santri diajari bagaimana pengukuran bangunan dan tata cara memasang batu bata. Selain pada bidang pembangunan santri juga diajari pertukangan pada bidang kayu/ Hasil dari pertukangan ini santri telah membuat gedung kantor untuk sekolahan dan gedung-gedung lain yang ada di sekitar pondok pesantren. Sedang untuk pertukangan kayu hasilnya adalah berbagai macam mebeler seperti, meja kuri, almari, rak dan lain-lain. Hasil mebeler dijual untuk memenuhi kebutuhan pondok pesantren sehari-hari. Sebagaimana hasil wawancara penulis dengan Kholik Hasyim AsAoari yakni: AyPembelajaran life skill ini kami wajibkan pada seluruh santri mulai dari yang MI sampai yang sudah lulus MA atau SMK, tentang pembelajarannya ada yang pakai teori dulu baru praktek ada juga yang langsung praktek semisal pertukangan itu langsung praktek dan sudah ada hasilnya gedung kantor di sebelah selatan itu dan bangunan kecil-kecil yang ada di pondok, selain itu hasilnya seperti almari, meja-kursi. Ya! mebeler dan itu bisa langsung kita jualAy. (Kholik Hasyim AsAoari. Wawancara, 29 Mei 2. Pembelajaran pertanian santri langsung praktek di kebun yang dimiliki oleh pondok pesantren. Untuk pertanian ini santri belajar menanam tebu. Karena di wilayah pondok pesantren sangat potensi untuk tanaman tebu dan juga dekat dengan pabrik tebu sehingga hasilnya langsung di jual di pabrik tebu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di pondok pesantren. Sementra untuk perternakan, santri langsung praktek budidaya perternakan ayam potong. Untuk peternakan ayam santri diajarkan bagaimana merawat ayam seperti cara memberikan makanan, membersihkan tempat dan juga pemberian faksin pada ayam agar tetap sehat. Pada pembelajaran perikanan juga sama santri langsung praktek budidaya ikan lele. Pembelajarannya hampir sama seperti peternakan yakni belajar perawatan semisal pemisahan antara ikan-ikan dari induknya. Pembelajaran yang menggunakan teori antara lain: menjahit, jurnalistik, komputer, dan tata boga. Keempat ketrampilan ini harus menggunakan teori dulu. Ketrampilan menjahit ini hanya diberikan pada santri putri saja sedangkan mesin jahitnya adalah sumbangan dari pemerintah Kabupaten Jember. Ketrampilan jurnalistik diberikan teori dulu yang mana teori itu diperoleh dari hasil pelatihan-pelatihan. Untuk komputer sebagai penunjangnya yayasan mendirikan SMK 90 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 dengan jurusan teknik informatiak. SMK pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah berupa 40 unit komputer, fasilitas ini dimanfaatkan untuk pembelajaran bagi siswa-siswi pada pagi hari sementara untuk siang hari pada jam-jam kosong atau pada hari jumat di pakai oleh para santri. Metode Pembelajaran yang digunakan oleh pondok pesantren ini termasuk pada Metode pembelajaran kontekstual. Karena pembelajarannya disesuaikan dengan karakteristik peserta didik. Salah satu model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa dan kondisi lingkungan adalah pembelajaran kontekstual . ontextual teaching and learnin. Sedangkan strategi yang digunakan dalam pembelajaran ini termasuk pada strategi Pembelajaran berbasis kerja yaitu pendekatan pembelajaran yang menggunakan konteks tempat kerja, dan membahas penerapan konsep mata pelajaran di lapangan. Prinsip kegiatan pembelajaran ini pada dasarnya adalah penekanan pada konsep mata pelajaran di lapangan dengan menggunakan masalahmasalah lapangan untuk dibahas dikelas. Kesuksesan siswa setelah peserta didik menyelesaikan program pendidikan kecakapan hidup . ife skill educatio. dan memperoleh mata pelajaran kewirausahaan Kesuksesan karier lulusan yang telah menyelesaikan program pendidikan kecakapan hidup . ife skill educatio. , membuat mereka lebih percaya diri, lebih semangat, karena mendapatkan keterampilan. Seperti: komputer, dll. Gambaran kesuksesan karier lulusan setelah peserta didik menyelesaikan program pendidikan kecakapan hidup . ife skill educatio. dan memperoleh mata pelajaran kewirausahaan di MA-Albadri, ditunjukkan dengan sejumlah lulusan yang mampu membuka usaha sendiri, atau sudah bekerja ditempat usaha milik orang lain. Persentase mereka yang membuka usaha atau bekerja lebih besar daripada mereka yang melanjutkan ke perguruan tinggi . %). Hal ini diperkuat oleh pernyataan Dudung Hamdun dalam bukunya yang mendefinisikan bahwa sukses yang paling sederhana adalah: bermaksud melakukan sesuatu dan sukses saat melakukannya. Tidak peduli apa pun bentuk kesuksesan itu, atau betapa sederhananya cara meraih kesuksesan tersebut. Hamdun. Dudung. The 7 Personalities of Success. Jogjakarta: Garailmu. Hlm. Musthofa. Pelaksanaan Program Pendidikan Kecakapan Hidup. | 91 Kesuksesan adalah hal yang pribadi. Dengan kata lain, orang sukses itu sebenarnya pandai dalam memanfaatkan momentum sehingga mereka selalu bergerak inovatif dan kreatif untuk memacu diri mereka dalam mencapai kesuksesan demi kesuksesan. Intinya, orang sukses adalah orang yang selalu menjadi lebih baik dari hari ke Sehubungan dengan data lulusan siswa-siswi MA-Albadri yang telah dijabarkan ke dalam bentuk prosentase mulai tahun 2010-2012, jumlah siswa-siswi yang melanjutkan ke perguruan tinggi sekitar 40%, sisanya lebih memilih membuka usaha sendiri atau bekerja kepada orang lain. Dengan modal telah memperoleh materi tentang program pendidikan kecakapan hidup ketika masih berada di sekolah. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Jimmy Wales dalam bukunya yang menyatakan bahwasanya karier merupakan istilah yang didefinisikan oleh kamus besar bahasa Indonesia sebagai perkembangan dan kemajuan baik pada kehidupan, pekerjaan atau jabatan seseorang. Biasanya pekerjaan yang dimaksud adalah pekerjaan yang mendapatkan imbalan berupa gaji maupun uang. Dapat dirumuskan, bahwa ukuran kesuksesan dalam meniti karier Setelah lulus dari sekolah dapat menciptakan lapangan pekerjaan . Setelah lulus dapat bekerja di tempat usaha milik orang lain. Setelah lulus mampu bekerja lebih baik dari pada orang lain. Setelah lulus dapat berusaha keras dengan tanggung jawab penuh. Mampu mengelola pekerjaan berdasar tujuan. Artinya, mampu memahami situasi rumit yang mungkin mencakup perencanaan, dan pengambilan keputusan strategis. Ada kecenderungan lulusan suatu jenis/jenjang pendidikan tidak memiliki keterampilan dasar sesuai dengan keterampilan yang seharusnya menjadi kewajiban jenis/jenjang pendidikan untuk Berdasarkan pengalaman tersebut, maka muncul kebijakan penerapan konsep Life Skill di semua satuan, jenis, dan jenjang pendidikan dengan harapan para tamatan pendidikan tersebut dapat menguasai keterampilan dasar minimal sesuai standar Kusniati. Tuti. Pengintergrasian Life Skill dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Makalah. Universitas Muhammadiyah Malang. Hlm. 92 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 Seperti halnya orang yang bekerja, mereka juga menghadapi berbagai masalah yang harus dipecahkan. Orang yang sedang menempuh pendidikan pun memerlukan kecakapan hidup, karena mereka tentu juga memiliki permasalahannya sendiri. Serta dengan dibekali mempelajari kewirausahaan, peserta didik dapat membentuk karakter dan perilakunya yang selalu kreatif berdaya, bercipta, berkarya dan bersahaja dan berusaha dalam rangka meningkatkan pendapatan dalam kegiatan usahanya. Adapun kesuksesan juga tidak mengenal ruang, waktu, ataupun Ia dapat dicapai oleh pelajar, guru, pengusaha, petani, artis, ataupun penyanyi. Bahkan, seorang delegasi suci yang menyandang predikat Rasul pun tidak luput dari objek kesuksesan. Baik itu kesuksesan yang bersifat temporal . elama hidup diduni. , ataupun kesuksesan yang bersifat permanen . iakhirat kela. Seorang pelajar tentu mendambakan kesuksesan dari hasil ujian akhir. atau seorang guru yang dengan setia mendampingi siswanya yang sulit memahami mata pelajaran, agar ia sukses menyampaikan tugas kepahlawanan tanpa tanda jasanya seperti misalnya, kisah-kisah pengusaha muslim yang meraih kesuksesan dalam mengelola perusahaannya berawal dari mentalitas. KESIMPULAN DAN SARAN Musthofa. Pelaksanaan Program Pendidikan Kecakapan Hidup. | 93 Saran-Saran Kesimpulan Berdasarkan pembahasan hasil-hasil penelitian, dapat disimpulkan sebagai berikut: Pelaksanaan program pendidikan kecakapan hidup . ife skill educatio. di MA-Albadri Gumuksari Kalisat Jember diwujudkan dengan didirikannya Lembaga Pengembangan Mutu dan Keterampilan (LPMK) yang dilaksanakan diluar jam sekolah . egiatan ekstrakurikule. 4 jam setiap hari dengan dibagi 2 gelombang. Program ini dilakukan secara kreatif, yaitu dilaksanakan dengan tetap berdasarkan pada modul yang telah Penerapan mata pelajaran kewirausahaan di MA-Albadri Sengonagung Purwosari Pasuruan diintegrasikan ke dalam kurikulum keunggulan lokal. MA ini termasuk salah satu sekolah yang menerapkan mata pelajaran kewirausahaan, proses pembelajaran kewirausahaan ini diselenggarakan selama 2 jam pelajaran dalam setiap minggunya. Gambaran kesuksesan siswa setelah peserta didik menyelesaikan program pendidikan kecakapan hidup . ife skill educatio. dan memperoleh mata pelajaran kewirausahaan di MA-Albadri Gumuksari Kalisat Jember, ditunjukkan dengan sejumlah lulusan yang mampu membuka usaha sendiri, atau sudah bekerja ditempat usaha milik orang lain. Persentase mereka yang membuka usaha atau bekerja lebih besar daripada mereka yang melanjutkan ke perguruan tinggi . %). Pelaksanaan program pendidikan kecakapan hidup . ife skill educatio. perlu dikembangkan bukan hanya sebagai sub sistem pendidikan/ ekstrakurikuler melainkan sebagai suatu pola pembelajaran. Dan hendaknya guru dapat menerapkan beberapa metode pembelajaran yang relevan sehingga mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah secara kreatif, mengelola konflik dan dapat mengembangkan diri dan potensi yang dimilikinya. Dalam menerapkan mata pelajaran kewirausahaan, hendaknya ditingkatkan lagi minat berwiraswasta dengan cara: mengadakan kegiatan akademis yang dapat menimbulkan minat berwiraswasta, peningkatan pembelajaran yang berpusat pada siswa, berorientasi pada praktek, studi kasus, studi banding dan mendatangkan nara sumber serta optimalisasi pembelajaran dengan pendekatan learning by doing . Dalam meniti kesuksesan siswa setelah menyelesaikan program pendidikan kecakapan hidup . ife skill educatio. dan memperoleh mata pelajaran kewirausahaan, hendaknya dibina dan dikembangkan karakter pemenang. Lebih meningkatkan wawasan, kemampuan, dan keterampilan atau keahlian khusus secara berkelanjutan sehingga melebihi tuntutan pekerjaan. 94 | At-TaAolim Volume 1, nomor 1. Juni 2015 DAFTAR PUSTAKA