JRIP: Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran ISSN 2776-8872 Penerapan Model CTL untuk Meningkatkan Hasil Belajar Materi Makna NKRI Pada Siswa SD Arfad Ficky Mahardhika1*. Wendri Wiratsiwi2 1*,2 PGSD. FKIP. Universitas PGRI Ronggolawe. Tuban. Indonesia Article Info Article history: Received Jun 28, 2025 Accepted Jul 26, 2025 Published Online Aug 09, 2025 Keywords: Contextual Teaching Learning Hasil Belajar PTK ABSTRACT Hasil belajar siswa sekolah dasar pada materi Makna Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sering kali rendah karena pembelajaran cenderung bersifat pasif, didominasi metode ceramah, dan minim media kontekstual, sehingga siswa kesulitan mengaitkan materi dengan kehidupan nyata mereka. Kondisi ini juga terjadi di kelas IV SDN Sumurgung 1 Tuban, di mana pra-siklus menunjukkan ketuntasan klasikal hanya 35,7% dengan nilai rata-rata 60,71. Penelitian ini bertujuan meningkatkan hasil belajar Pendidikan Pancasila materi Makna NKRI melalui penerapan model Contextual Teaching and Learning (CTL) yang mengaitkan materi pelajaran dengan pengalaman sehari-hari siswa. Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas model Kemmis dan Taggart dalam dua siklus, melibatkan 14 siswa sebagai subjek. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan tes hasil belajar. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan: siklus I mencapai ketuntasan klasikal 57,14% dengan rata-rata nilai 73,57, sedangkan siklus II meningkat menjadi 85,71% dengan rata-rata nilai 83,5. Peningkatan ini dipengaruhi oleh penggunaan media PowerPoint berbasis Canva, pembagian siswa ke dalam kelompok diskusi, lembar kerja peserta didik (LKPD), dan penerapan ice breaking yang meningkatkan motivasi dan partisipasi. Keterbatasan penelitian ini adalah jumlah subjek yang kecil dan fokus pada satu materi di satu sekolah, sehingga hasilnya belum dapat Secara praktis, penerapan CTL mendorong keterlibatan aktif siswa, memperkuat pemahaman konsep, dan meningkatkan hasil Nilai kebaruan penelitian ini terletak pada penggunaan media digital berbasis Canva dalam kerangka CTL untuk memperkuat pembelajaran Pendidikan Pancasila materi Makna NKRI di sekolah This is an open access under the CC-BY-SA licence Corresponding Author: Arfad Ficky Mahardhika. Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas PGRI Ronggolawe. Tuban. Indonesia. Jl. Manunggal No. Wire. Gedongombo. Kec. Semanding. Kabupaten Tuban. Jawa Timur 62391 Email: arfad. ficky@gmail. How to Cite: Mahardhika. , & Wiratsiwi. Penerapan Model CTL untuk Meningkatkan Hasil Belajar Materi Makna NKRI Pada Siswa SD. Jurnal Riset Dan Inovasi Pembelajaran, 5. , 599Ae611. https://doi. org/10. 51574/jrip. Vol. 5 No 2. Tahun 2025, hal. 601 Ae 613 JRIP: Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran ISSN 2776-8872 Penerapan Model CTL untuk Meningkatkan Hasil Belajar Materi Makna NKRI Pada Siswa SD Pendahuluan Pendidikan adalah suatu upaya dalam menumbuhkan keterampilan, watak dan kemampuan dalam menghadapi suatu permasalahan yang ada di lingkup masyarakat (Ahmadi et al. , 2. Pendidikan berperan penting untuk menghidupkan bangsa dan negara, sehingga bagi setiap individu yang terlibat dalam pendidikan harus mendukung terhadap peningkatan kualitas pendidikan (Diah Pebriyanti & Irwan Badilla, 2. Pendidikan adalah suatu upaya yang sadar dan direncanakan dalam menghasilkan atmosfer belajar dan tahap pembelajaran bagi peserta didik serta peran untuk pengembangan kompetensi dirinya supaya memiliki kekuatan jiwa dalam beragama, mengendalikan diri, berkepribadian, kepintaran, keterampilan, serta akhlak yang diharuskan untuk bermasyarakat (I. Lestari et al. , 2. Penjabaran dari pendapat beberapa pandangan di atas sehingga dapat disimpulkan bahwasannya dalam setiap individu perlu mengembangkan potensi dirinya melalui pendidikan dalam bermasyarakat pandangan yang ungkapkan di atas maka dapat menyimpulkan bahwasanya pendidikan adalah salah satu dasar utama dalam setiap individu untuk mengembangkan potensi yang diperlukan dalam bermasyarakat. Pendidikan memiliki fungsi penting dalam pengembangan kompetensi, kepribadian, serta mewujudkan peradaban yang bermartabat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa (Dewi et al. , 2. Seiring dengan itu, dalam mewujudkan kepribadian moral dan nilai, maka Pendidikan Pancasila menjadi pondasi yang harus dibangun dalam setiap penerus generasi Pembelajaran Pancasila bukan sekedar mempelajari teori saja, akan tetapi sebagai pemahaman kandungan nilai Pancasila yang berdampak bagi kehidupan (W. adinda wardani Lestari & Dahnial, 2. Peran Pendidikan Pancasila adalah menjadikan peserta didik untuk memperkuat karakter yang sesuai dengan nilai luhur (Ninawati et al. , 2. Peserta didik dapat memiliki karakter dan kepribadian sebagai warga negara yang baik karena penumbuhan ideologi Pancasila dari pengajaran materi Pendidikan Pancasila (S. Lestari & Kurnia, 2. Berbagai pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwasanya Pendidikan Pancasila adalah tonggak utama dalam membangun moral, etika dan karakter anak dari pendidikan yang Pendidikan juga harus didapatkan semua individu, seseorang memliki keharusan untuk mengikuti mekanisme pembelajaran dengan baik seperti belajar mengajar yang memiliki tahapan yang dilakukan oleh guru, peserta didik dan sumber ajar (Erita, 2. Pembelajaran dapat diartikan sebagai sebuah langkah yang berdampak pada emosi, kecerdasan, dan kejiwaan Vol. 5 No 2. Tahun 2025, hal. 601 Ae 613 JRIP: Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran ISSN 2776-8872 seseorang untuk menghendaki belajar atas dirinya (Rahayu et al. , 2. Maka dari itu, terciptanya suasana yang menyenangkan dalam belajar, merupakan harapan yang dapat dicapai dengan upaya dalam proses pembelajaran. Kegiatan mengajar dalam pembelajaran yang telah diterapkan sejauh ini, guru hanya menjelaskan materi, sedangkan siswa hanya mendengarkan secara pasif (Suhartoyo et al. , 2. Proses pembelajaran seharusnya dapat di optimalakan untuk meningkatkan kepemahaman siswa dalam mencapai hasil belajar yang di capai, akan tetapi berdasarkan hasil nilai ulangan pada kelas IV pada materi Makna NKRI mata pelajaran Pendidikan Pancasila pada saat masa Asistensi Mengajar pada SDN Sumurgung 1 Tuban pada tanggal 13 Januari di kelas IV terdapat adanya suatu permasalahan, yaitu dari minimnya hasil belajar dari nilai yang didapat siswa kelas 4 pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila materi Makna NKRI, dari 14 siswa hanya 5 anak atau 35,7% yang mampu memperoleh hasil dengan nilai di atas Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) 70 dengan rata-rata nilai kelas 60,71. Hal ini dikarenakan siswa kurang memahami, kurang semangat dan tidak fokus dengan apa yang di sampaikan guru dan tidak mendengarkan penjelasan guru, penyebabnya adalah guru menggunakan model pembelajaran kooperatif yang kurang sesuai dengan materi yang Materi makna NKRI yang seharusnya perlu di korelasikan dengan kehidupan siswa serta di implementasikan lewat perilaku siswa. Begitu juga metode yang digunakan hanya ceramah serta membaca buku, hal inilah penyebab siswa masih kurang berminat saat proses pembelajaran serta kekurangpahaman materi yang disampaikan dan di ajarkan begitu juga penguasaan guru dalam kelas yang berakibat pada hasil nilai ulangan kelas IV SDN 1 Sumurgung 1 Tuban. Pemilihan model pembelajaran dengan kesesuaian materi pembelajaran sangat berpengaruh pada implikasi kepemahaman untuk mencapai nilai hasil belajar siswa yang di harapkan. Pemilihan model merupakan hal penting dalam pembelajaran. Hal ini karena model adalah rangka dasar yang di pakai oleh guru sebagai panduan dalam proses mengajar untuk mencapai target (Reksiana, 2. Salah satu alternatif yang dapat digunakan adalah pemanfaatan model Pembelajaran Kontekstual atau Contekstual Teaching and Learning (CTL) karena guru dapat memberikan keterkaitan pemaparan materi untuk siswa yang di peroleh di sekolahan dengan keterkaitan dengan kehidupan serta kondisi nyata yang siswa temui, sehingga pembelajaran akan lebih berarti dan lebih mudah untuk di terima. Model pembelajaran CTL ialah sebuah rancangan dalam belajar yang mempermudah kinerja guru untuk mengkorelasikan antara materi yang diterima dengan keadaan dan kondisi dunia sebenarnya yang menstimulasi siswa dalam menyusun suatu hubungan antara pengetahuan yang mereka punya dan bagaimana Vol. 5 No 2. Tahun 2025, hal. 601 Ae 613 JRIP: Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran ISSN 2776-8872 cara menerapkannya di kehidupan (Usmaedi & Pamungkas Alamsyah, 2. Pembelajaran membuat terasa lebih bernilai karena mengaitkan suatu informasi baru dengan pemahaman yang telah didapat peserta didik ketika berasa di lingkungan kehidupan nyata serta dapat menjadi salah satu bekal di waktu yang akan datang dalam menemukan solusi dari sebuah permasalahan (Khairunnisa. Asmayani Salimi, 2. Implementasi siswa sebagai bagian dari individu dan masyarakat akan lebih terstimulus dari pengalaman belajar dengan mengaitkan materi dengan kondisi sekitar melalui pembelajaran kontekstual (Yasin et al. Model kontekstual menghubungkan kenyataan hidup dengan pelajaran yang diperoleh anak, sehingga siswa akan sadar betapa penting sekali untuk belajar (Amir & Rahmah, 2. Menurut Sulfemi . , terdapat beberapa kelebihan yang ada serta juga kekurangan pada model pembelajaran kontekstual. Kelebihan yang terdapat pada model pembelajaran kontekstual adalah menggunakan pengalaman aktual, berpikir kritis, berfokus pada siswa yang meciptakan sebuah perubahan perilaku pada diri siswa. Siswa diharapkan menjadi aktif berpartisipasi, kritis dalam berpikir dan memiliki ide kreatif, pembelajaran lebih bermakna, memecahkan masalah. Sedangkan kelemahan pada model pembelajaran kontekstual adalah Guru harus memiliki kompetensi dalam memahami pembelajaran kontekstual. Perbedaan kemampuan siswa di kelas. Perlunya sarana dan prasarana seperti media dan alat bantu yang sesuai untuk menunjang interaksi siswa dalam pembelajaran di kelas untuk menghendaki suatu harapan dan tujuan yang ingin di capai. Serta terdapat 7 sintaks dalam model pembelajaran kontekstual, yaitu kontruktivisme, bertanya, menemukan, masyarakat atau komunitas belajar, pemodelan, refleksi penilaian autentik (Fitriyanto et al. , 2. Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan di waktu yang terdahulu dan selaras dengan penelitian yang dilaksanakan Legi . dengan judul AuPenerapan Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran PKn Kelas IV Sekolah DasarAy bahwasanya peningkatan hasil belajar PKN kelas IV SD GMIM Karowa didapat dari pengimplementasian model Contextual Teaching And Learning (CTL) memperoleh persentase nilai hasil belajar sebesar 67,18% pada siklus pertama dan persentase nilai hasil belajar sebesar 86,25% pada siklus kedua. Begitu juga penelitian yang dilakukan Kamarudin et al. dengan judul AuMeningkatkan Hasil Belajar PKn Menggunakan Model Contextual Teaching and Learning di Kelas IV Sekolah DasarAy menyimpulkan bahwasanya pemanfaatan Model Contextual Teaching and Learning (CTL) efektif dalam mendukung suatu peningkatan nilai dari hasil belajar siswa. Pada siklus I tingkat ketuntasan belajar adalah 59,1%, sedangkan pada siklus II persentase siswa tuntas belajar sebesar 81,8%. Kedua penelitian tersebut telah menunjukkan bukti adanya sebuah Vol. 5 No 2. Tahun 2025, hal. 601 Ae 613 JRIP: Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran ISSN 2776-8872 peningkatan dari nilai hasil belajar pada pembelajaran Pendidikan Pancasila. Berdasarkan penjabaran yang telah disampaikan, mulai dari permasalahan rendahnya hasil belajar pada nilai siswa yang terdapat di kelas IV SDN Sumurgung 1 Tuban pada materi makna NKRI karena siswa kurang fokus, kurang semangat kurang memahami dan tidak mendengarkan penjelasan guru ,dimana proses pembelajaran yang harusnya optimal untuk mendapatkaan hasil belajar siswa sesuai target. Kesesuaian dalam penggunaan model pembelajaran dengan materi yang dia ajarkan untuk menciptakan keantusiasan, semangat dan kefokusan siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran memiliki suatu pengaruh bagi hasil belajar siswa. Hal di perlukan adanya suatu solusi dari permasalahan tersebut untuk ,diharapkan dengan diimplementasikannya model CTL dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Sumurgung 1 Tuban maka demikian ini penulis melaksanakan penelitian tindakan kelas yang mengusung persoalan tersebut dengan judul AuMeningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Pancasila Materi Makna NKRI Siswa Kelas 4 Menggunakan Model CTLAy. Hal ini disebabkan pada pembelajaran Pendidikan Pancasila lebih menekankan kepada kebiasaan siswa atau peserta didik yang cocok dengan model pembelajaran Contekstual Teaching and Learning ( CTL). Pendidikan Pancasila memiliki fungsi dalam menyertakan perbuatan serta tindakan sehari-hari sesuai dengan Pancasila (Insani et al. , 2. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Alasan memilih PTK karena untuk membenahi dan memaksimalkan kualitas pembelajaran di lingkup kelas. Tujuan dari penelitian ini adalah meningkatkan serta memperbaiki kemampuan guru dalam kegiatan mengajar dan nilai hasil belajar pada siswa (Utomo et al. , 2. Model PTK yang di implementasikan adalah dari Kemmis dan Taggart yang terdapat dalam empat tahapan. Empat tahap dalam melaksanakan PTK yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi (Taurina & Wasitohadi, 2. Penjelasan 4 tahapan dalam PTK juga di jelaskan oleh Dwi Susilowati . yaitu: . Perencanaan . , yaitu Mengidentifikasi, merumuskan, menganalisis dari suatu penyebab terjadinya suatu masalah dan pengembangan dalam tindakan atau sebuah solusi. Pelaksanan . Pada tahap pelaksanan . ini, guru harus mengambil peran dalam memberdayakan siswa sehingga siswa memiliki suatu upaya pada perubahan pada diri di kelas. Pengamatan . Observating adalah sebuah tahap kegiatan pengamatan dalam . engambilan dat. untuk mengamati bagaimana akibat dari suatu tindakan penelitian dalam mencapai harapan yang diinginkan. Refleksi . Reflection adalah sebuah aktivitas Vol. 5 No 2. Tahun 2025, hal. 601 Ae 613 JRIP: Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran ISSN 2776-8872 menelaah secara mendalam tentang perubahan yang telah terjadi pada diri siswa kemudian suasana belajar di kelas dan aktivitas guru. Keempat tahapan tersebut menjadi unsur dalam prosedur membentuk sebuah siklus, yang berarti dari satu siklus yang terdiri dari 4 tahapan berurut akan berulang ke tahap awal Gambar 1. Siklus PTK Subjek pada penelitian ini yaitu siswa kelas IV SDN Sumurgung 1 Tuban yang terdiri dari 14 siswa dengan bagian 6 siswi perempuan serta 8 siswa laki-laki. Objek penelitian ini adalah hasil belajar kelas IV SDN Sumurgung 1 Tuban pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila materi Makna Negara Kesatuan Indonesia (NKRI) pada kelas IV dengan penerapan menggunakan model pembelajaran CTL. Waktu pelaksanaan penelitian ini berlangsung pada tanggal 13-18 Januari 2025 pada semester 2 tahun ajaran 2024/2025,waktu dimana peneliti melaksanakan adanya kegiatan Asistensi Mengajar di SDN Sumurgung 1 Tuban pada kelas IV. Teknik pengumpulan data yang di pakai pada penelitian ini adalah observasi sebagai pengamatan terkait perilaku dari guru dan siswa dalam pembelajaran, wawancara kepada guru dan siswa untuk melihat umpan balik atas suatu tindakan yang diberikan dan tes untuk mengukur perubahan dari hasil belajar siswa. Instrumen pengumpulan datanya adalah menggunakan lembar pengamatan atau observasi, lembar wawancara, dan lembar soal tes sebagai pengukuran kemampuan siswa dengan banyak 20 soal pilihan ganda. Teknik analisis data di kelompokan menjadi dua jenis yaitu data kualitatif serta data kuantitatif. Data yang di dapatkan dari pengamatan begitu juga dari wawancara sebelum dan setelah dilakukan tindakan dan berupa kalimat deskriptif adalah data kualitatif, sedangkan data kuantitatif di dapatkan dari nilai hasil tes dengan menggunakan persentase dari ketuntasan nilai belajar klasikal dan nilai rata-rata kelas sebagai hasil tindakan yang sudah dilakukan. Vol. 5 No 2. Tahun 2025, hal. 601 Ae 613 JRIP: Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran ISSN 2776-8872 Hasil dan Pembahasan Berdasarkan data dari pra siklus sebelum di implementasikannya model pembelajaran CTL sebagai opsi untuk peningkatan dari nilai hasil belajar kognitif, peneliti mendapatkan data asesmen sumatif pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila dengan materi makna negara NKRI di kelas IV SDN Sumurgung 1 Tuban sangat minim. Hal tersebut diakibatkan dari pemilihan model pembelajaran yang kurang tepat dan cocok dengan materi yang di ajarkan, sehingga pemahaman siswa mengenai materi makna NKRI sangat kurang. Keseluruhan peserta didik kelas IV dengan banyak 14 siswa, hanya terdapat 5 anak atau 35,7% yang mampu mendapatkan sebuah hasil dengan nilai di atas 70 atau Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) dengan rata-rata nilai di kelas 60,71. Hasil belajar peserta didik kelas IV SDN Sumurgung 1 Tuban dan yang mendapatkan sebuah hasil nilai di bawah (KKTP) yaitu 9 peserta didik atau 71,43 %. Demikian ini perlu dilakukannya tindakan siklus I. Pada Tahap siklus I peneliti membuka pembelajaran di kelas serta menyampaikan tujuan pembelajaran dan materi yang akan di ajarkan. Peneliti mengajarkan materi Makna NKRI menggunakan model CTL dan didukung oleh media powerpoint berbasis Canva untuk menampilkan tokoh beserta kisah inspiratifnya sebagai penunjang pembelajaran. Kemudian siswa di bagi menjadi 4 kelompok untuk diberikan LKPD dan di sajikan di depan kelas, setelah itu peneliti memberikan masing-masing siswa soal evaluasi untuk mengukur pemahaman siswa dan setalah itu peneliti menyimpulkan dan menutup pelajaran. Berdasarkan analisis hasil pembahasan yang terdapat pada Siklus I, terdapat 6 siswa dengan nilai yang masih minim atau kurang dari 70 atau (KKTP) dari banyaknya 14 anak dan siswa atau peserta didik yang berhasil melampaui nilai lebih dari 70 adalah 8 siswa. Nilai rata-rata kelas adalah 73,57 dengan persentase ketuntasan dari nilai klasikal yang di dapat 57,14%. Menurut (Trianto, 2. dalam (Firmansyah et al. , 2. suatu kelas dapat dikatakan tuntas belajarnya jika di kelas tersebut mendapatkan persentase ketuntasan klasikal lebih besar dari 85%. Adapun kendala-kendala pada siklus I adalah dari peserta didik sendiri masih belum fokus dalam mengikuti pelajaran dan pendidik penguasaan kelas yang belum cukup baik. Maka dengan itu, pendidik memberikan suatu stimulus dan ice breaking yang lebih menarik untuk meningkatkan perhatian peserta didik dan persiapan yang baik bagi pendidik dalam penguasaan untuk menarik perhatian di kelas. Berdasarkan perolehan nilai dari hasil pembelajaran pada Siklus I dari nilai rata-rata begitu juga persentase ketuntasan nilai klasikal di dalam kelas maka dengan ini Siklus perlu dilakukan pengulangan kembali agar hasil dari nilai belajar peserta didik atau siswa di kelas IV SDN Sumurgung 1 Tuban pada materi Makna NKRI meningkat dan ketuntasan belajar peserta didik dapat dicapai. Vol. 5 No 2. Tahun 2025, hal. 601 Ae 613 ISSN 2776-8872 JRIP: Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran Pada Tahap siklus II peneliti membuka pembelajaran di kelas serta memberikan motivasi, stimulus serta apersepsi kepada siswa, peneliti kemudian menginformasikan tujuan pembelajaran beserta materi yang akan di sampaikan. Peneliti mengajarkan materi Makna NKRI menggunakan model CTL dan didukung oleh media powerpoint berbasis Canva untuk menampilkan tokoh beserta kisah inspiratifnya sebagai penunjang pembelajaran serta ice breaking berupa menyanyi bersama dan permainan. Kemudian siswa di bagi menjadi 4 kelompok untuk diberikan LKPD dan di sajikan di depan kelas, setelah itu peneliti memberikan masing-masing siswa soal evaluasi untuk mengukur pemahaman siswa dan setalah itu peneliti menyimpulkan dan menutup pelajaran. Analisis hasil pembahasan siklus II, terdapat 2 siswa dari 14 siswa di kelas yang mendapatkan nilai hasil kurang dari 70 dan siswa yang mendapat nilai hasil lebih dari 70 adalah 10 peserta didik. Nilai rata-rata dikelas adalah 83,5 dengan persentase nilai hasil ketuntasan klasikal 85,71%, pada fase ini pendidik sudah mampu bagaimana cara penguasaan kelas serta kefokusan peserta didik yang mulai terlihat dalam menerima pembelajaran. Nilai hasil belajar dari pra siklus hingga ke siklus 2 serta peningkatan dari nilai rata-rata dan ketuntasan klasikal dapat diperhatikan dari gambar dan tabel dibawah ini. Data Nilai Siswa kelas IV Pra Tindakan Siklus 1 Siklus 2 Gambar 2. Data Nilai Siswa Kelas IV Vol. 5 No 2. Tahun 2025, hal. 601 Ae 613 ISSN 2776-8872 JRIP: Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran Tabel 1. Rata-Rata dan Ketuntasan Klasikal Kegiatan Rata-Rata Kelas Pra Siklus 60,71 Persentase Ketuntasan Klasikal 35,7% Siklus I 73,57 57,14% Siklus II 85,71% Minimnya nilai hasil belajar siswa dapat diamati dari nilai ketuntasan klasikal pada dan rata-rata siswa pada materi Makna Negara Kesatuan Republik Indonesia mata pelajaran Pendidikan Pancasila kelas IV SDN Sumurgung 1 Tuban pada pra siklus. Permasalahan yang ditemukan saat wawancara dan observasi saat Asistensi mengajar di kelas IV SDN Sumurgung 1 Tuban adalah mengenai dari minimnya nilai hasil belajar ulangan siswa. Siswa kurang fokus, kurang semangat dan masih kesulitan dalam menyerap materi yang diutarakan oleh guru saat pembelajaran dikelas. Hal seperti ini disebabkan oleh penggunaan atau penerapan model serta metode oleh guru kurang sesuai pada materi yang di ajarkan sehingga berakibat dalam nilai siswa, bahan bacaan dan media pendukung dalam pembelajaran serta penguasaan kelas oleh guru untuk membuat siswa antusias dan memperhatikan dalam pembelajaran. Ketuntasan nilai dari hasil belajar siswa yang terdapat pada kelas IV SDN Sumurgung 1 Tuban yang terdiri dari banyaknya 14 siswa hanya 5 yang nilainya di atas KKTP. Mengenai permasalahan tersebut, dibutuhkan sekali adanya pembenahan pada model pembelajaran untuk peningkatan hasil belajar di kelas IV SDN Sumurgung 1 Tuban yang lebih cocok untuk materi Makna Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pemanfaatan dari model CTL sangat sahih untuk diimplementasikan karena konteks materi yang diajarkan berhubungan langsung dengan kepribadian siswa di kehidupan yang konkret serta di dukung dengan media powerpoint berbasis Canva untuk menampilkan materi serta gambar tokoh dan kisah inspiratifnya untuk menjadi sebuah motivasi belajar dan menerapkan nilai yang terkandung dalam sikap kesehariannya. Hasil penelitian dari siklus I hingga ke hasil penelitian siklus II pembelajaran dengan model CTL terdapat peningkatan dalam nilai hasil belajar siswa. Hal demikian dapat di tinjau dari nilai rata-rata dan ketuntasan Penerapan model CTL juga membuat siswa semakin antusias serta kepemahaman materi meningkat dan tidak mudah lupa mengenai materi yang di ajarkan. Hal ini karena materi yang di pelajari di kaitkan terhadap keseharian mereka. Kegiatan dalam penelitian ini mengkonfirmasi bahwasannya dengan digunakannya model pembelajaran CTL berhasil meningkatkan hasil dari nilai belajar yang dikerjakan siswa Vol. 5 No 2. Tahun 2025, hal. 601 Ae 613 JRIP: Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran ISSN 2776-8872 kelas IV SDN Sumurgung 1 Tuban. Siklus I persentase ketuntasan klasikal serta rata-rata dari nilai hasil belajar peserta didik sampai dengan siklus II melalui implementasi model Contekstual Teaching and Learning telah mengalami sebuah peningkatan serta kesesuaian dengan yang harus di capai target. Adanya peningkatan ini dapat amati secara jeli dari hasil nilai tes pengerjaan siswa atau peserta didik dari saat pra siklus sampai ke siklus II. Berdasarkan paparan dari Siklus I sampai Siklus II pada penjabaran di atas dapat dikonfirmasi bahwasannya dengan di implementasikannya sebuah model Contekstual Teaching and Learning di kelas IV dapat membuat peningkatkan hasil dari nilai belajar siswa atau peserta didik pada materi makna Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini selaras dengan pendapat dari penelitian sebelumnya yaitu. Hasil belajar dapat di peroleh lebih baik dengan pembelajaran CTL dari pada pembelajaran biasa (Usmaedi & Pamungkas Alamsyah, 2. Pelajaran Pendidikan Pancasila yang di sampaikan dengan melalui model pembelajaran CTL memperoleh peningkatan dari hasil belajar siswa (Anggun Binahari et al. , 2. Hal demikian ini juga sudah tepat dan selaras dengan penelitian terdahulu yang relevan yang di lakukan oleh Legi . dengan judul AuPenerapan Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran PKn Kelas IV Sekolah DasarAy bahwa di dapat hasil penelitian dan pembahasan dalam pembelajaran yang mengimplementasikan model pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) dapat menjadikan peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKN. Begitu juga peneltian yang di lakukan oleh Kamarudin et al. dengan judul AuMeningkatkan Hasil Belajar PKn Menggunakan Model Contextual Teaching and Learning di Kelas IV Sekolah DasarAy di dapat dari hasil penelitian bahwa implementasi model CTL memberikan peningkatan dalam hasil belajar PKn. Kesimpulan dan Saran Berdasarkan dari paparan yang telah dijabarkan tersebut, bahwasanya penggunaan model Contekstual Teaching and Learning pada materi makna NKRI pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila di kelas IV dapat Meningkatkan Hasil Belajar. Model pembelajaran Contekstual Teaching and Learning lebih mendorong pada kondisi yang nyata, sesuai dengan materi Makna NKRI mata pelajaran Pendidikan Pancasila yang penerapannya aplikasikan pada kehidupan rutinitas keseharian dari pribadi siswa, maka materi yang sampaikan menjadi paham dan lebih berarti. Hal demikian ini dapat di lihat dari persentase ketuntasan klasikal dari pra siklus yang hanya 35,7% dengan rata-rata kelas 60,71 dan meningkat setelah dilaksanakannya suatu tindakan menggunakan model CTL dalam pembelajaran dengan dua siklus, yaitu pada Vol. 5 No 2. Tahun 2025, hal. 601 Ae 613 JRIP: Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran ISSN 2776-8872 siklus I menperoleh data dari persentase ketuntasan nilai klasikal 57,14% seta nilai rata-rata 73,57 dan siklus II mendapatkan data persentase ketuntasan nilai klasikal 85,71% serta nilai rata-rata dikelas sebesar 83,5. Maka dengan demikian kesimpulannya adalah adanya peningkatan hasil belajar siswa pada materi Makna NKRI Pendidikan Pancasila kelas IV SDN Sumurgung 1 Tuban menggunakan model pembelajaran Contekstual Teaching and Learning. Diharapkan guru dapat memggunakan model yang tepat dalam pembelajaran, seperti penerapan model CTL pada materi makna NKRI untuk mengaitkan kontesk materi pada lingkup keseharian siswa, penerapan model CTL juga dapat disandingkan dengan pemilihan media yang inovatif sebagai penujang dalam menyampaikan materi serta kemampuan guru dalam memahami model CTL sebelum di terapkan kepada siswa untuk mencapai target pembelajaran yang diinginkan. Konflik Kepentingan Penulis menyatakan tidak ada konflik kepentingan. DAFTAR PUSTAKA