Ganesha Civic Education Journal Volume 7. Number 1. April 2025, pp. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 DOI: https://doi. org/10. 23887/gancej. Open Access: https://ejournal2. id/index. php/GANCEJ/index TEORI PEMBELAJARAN YANG RELEVAN DENGAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN MADRASAH IBTIDAIYAH Aulia Kaffah Firdausi 1 * . Weni Marina 2. Arif Mansyuri3 1,2,3 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Indonesia ARTICLE INFO ABSTRAK Article history: Received 27 Desember 2024 Accepted 3 Februari 2025 Available online 18 April 2025 PKn merupakan pendidikan yang memberikan pengajaran yang berfokus pada pembentukan karakter peserta didik sehingga mampu berperan dan memiliki rasa tanggung jawab sebagai warga negara sesuai dengan ketentuan Pancasila dan UUD 1945. Namun, selama ini pelajaran PKn cenderung kurang mendapatkan perhatian baik dari guru maupun peserta Bahkan pelajaran PKn dianggap sebagai pelajaran yang Apabila hal ini terus dibiarkan maka peran fungsional dari PKn dalam menanamkan nilai, moral, norma dan membentuk jati diri serta perilaku peserta didik tidak akan bisa terwujud sebagaimana mestinya. Sehingga menjadi penting bagi seorang guru untuk memiliki pengetahuan mengenai teori-teori belajar apa saja yang relevan dan dapat diterapkan dalam pembelajaran PKn guna mencapai tujuan pembelajaran yang Teori belajar yang relevan diterapkan dalam pembelajaran PKn MI, yaitu: teori belajar behaviorisme, konstruktivisme, kognitivisme dan humanisme. Kata Kunci: Teori Pembelajaran. Pendidikan Kewarganegaraan. Madrasah Ibtidaiyah Keywords: Learning Theory. Civic Education. Madrasah Ibtidaiyah ABSTRACT PKn is an education that provides teaching that focuses on forming the character of learners so that they are able to play a role and have a sense of responsibility as citizens in accordance with the provisions of Pancasila and the 1945 Constitution. However, during this time PKn lessons tend to get less attention from both teachers and learners. Even PKn lessons are considered boring lessons. If this continues to be allowed, the functional role of PKn in instilling values, morals, norms and shaping the identity and behavior of learners will not be able to be realized as it should be. So it becomes important for a teacher to have knowledge about what learning theories are relevant and can be applied in first aid learning to achieve the expected learning goals. Relevant learning theories are applied in PKN MI learning, namely: theory of learning behaviorism, constructivism, cognitivism and humanism. This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright A 2025 by Author. Published by Universitas Pendidikan Ganesha. * Corresponding author. E-mail addresses: auliakaffah1@gmail. Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2025, pp. Pendahuluan Pendidikan Kewarganegaran secara terminologis diartikan sebagai pendidikan yang memberikan pengajaran yang berfokus pada pembentukan karakter siswa sehingga mampu berperan dan memiliki rasa tanggung jawab sebagai warga negara sesuai dengan ketentuan Pancasila dan UUD 1945. Sehingga dapat dipahami bahwa Pendidikan Kewarganegaraan pada hakikatnya secara luas dikonsepkan sebagai proses membentuk siswa agar mampu mengambil peran dan tanggung jawabnya sebagai warga negara, dan secara khusus Pendidikan Kewarganegaraan memiliki andil dalam proses penyiapan warga negara tersebut. Berdasarkan pengertian tersebut, maka pada dasarnya tujuan dari Pendidikan Kewarganegaraan adalah membentuk warga negara yang baik, yaitu warga negara yang memiliki akhlak dan akidah yang baik, memiliki jiwa yang merdeka, memahami dan menjalankan hak dan kewajiban dengan baik, memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air, memiliki kepekaan dan tanggung jawab sosial, berjiwa demokratis, mampu menghargai perbedaan budaya, etnis dan agama, mampu berpikir kritis, sistematis, kreatif dan inovatif. Esensi dari pembelajaran PKn di sekolah dasar adalah bahwa secara kodrati maupun sosiokultural dan yuridis formal, keberadaan dan kehidupan manusia selalu membutuhkan nilai, moral, dan norma. Karena dengan nilai, moral, dan norma ini yang akan menuntun seseorang ke arah pengenalan jati diri manusia maupun kehidupannya. Terdapat tiga alasan mendasar mengapa Pendidikan Kewarganegaraan (PK. penting untuk diajarkan kepada anak, antara lain: Bahwa sebagai makhluk hidup, manusia bersifat multikodrati dan multiperan . Manusia memiliki kodrat ilahi, sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Bahwa setiap manusia memiliki sense of. , atau value of. , dan conscience of. , yang menunjukkan integritas atau kepedulian manusia akan sesuatu, baik sesuatu yang bersifat material maupun immaterial. Bahwa manusia adalah unik. Hal ini dikarenakan manusia memiliki berbagai potensinya masingmasing. Pendidikan Kewarganegaraan sendiri juga harus dibangun melalui tiga paradigma, ketiga paradigma itu adalah: . PKn secara kurikuler dirancang sebagai subjek pembelajaran yang bertujuan untuk mengembangkan potensi individu agar menjadi warga cerdas partisipatif dan bertanggung jawab. PKn secara teoritis dirancang sebagai subjek pembelajaran yang memuat dimensi-dimensi kognitif, afektif, dan psikomotorik yang terintegrasi dalam konteks substansi ide, nilai, konsep, dan moral Pancasila kewarganegaraan yang demokratis dan bela negara. PKn secara pragmatik dirancang sebagai subjek pembelajaran yang menekankan pada isi yang mengusung nilai-nilai dan pengalaman belajar, dalam bentuk berbagai perilaku yang perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai penjabaran lebih lanjut dari ide, nilai, konsep, moral Pancasila. Kewarganegaraan yang demokratis dan bela negara. Namun, selama ini pelajaran PKn cenderung kurang mendapatkan perhatian baik dari guru maupun peserta didiknya. Bahkan pelajaran PKn dianggap sebagai pelajaran yang membosankan (Lusevia, 2. Selain itu, seringkali dijumpai pada sekolah-sekolah yang menyajikan pembelajaran PKn dengan hanya menitikberatkan pada ranah kognitif atau psikomotorik saja, sehingga kurang menyentuh pada aspek afektifnya. Apabila hal ini terus dibiarkan maka peran fungsional dari Pendidikan Kewarganegaraan dalam menanamkan nilai, moral, norma dan membentuk jati diri serta perilaku peserta didik tidak akan bisa terwujud sebagaimana mestinya. Oleh karena itu, seorang pendidik harus mampu mengoptimalkan proses pembelajaran PKn sehingga ajaran moral dan pengamalan nilai-nilai Pancasila dapat tertanam dalam diri peserta didik untuk kemudian diimplementasikan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dalam hal ini guru harus mampu memberikan contoh, memberikan pengaruh, dan juga mengendalikan peserta didik. Mengendalikan disini bukan berarti mendikte peserta didik atau bahkan memaksa peserta didik agar mau menuruti kehendak sang pendidik, tetapi lebih kepada membimbing dan mengarahkan sikap peserta didik agar sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Keberhasilan peserta didik dalam mencapai tujuan pendidikan . alam hal ini adalah Pendidikan Kewarganegaraa. ditandai dengan keberhasilan peserta didik dalam kegiatan belajar dan pembelajaran. Dengan demikian seorang pendidik harus menaruh perhatian Aulia Kaffah Firdausi. Weni Marina. Arif Mansyuri / Teori Pembelajaran yang Relevan dengan Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Madrasah Ibtidaiyah Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2025, pp. terhadap setiap proses dan kegiatan belajar peserta didik di kelas. Sehingga menjadi penting bagi seorang guru untuk memiliki pengetahuan mengenai teori-teori belajar apa saja yang relevan dan dapat diterapkan dalam pembelajaran PKn dengan harapan guru mampu menyajikan kegiatan pembelajaran yang bisa memberikan pengalaman belajar lebih, utamanya pada penanaman nilai, moral, dan norma yang menjadi esensi dari pelajaran PKn itu sendiri. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah terkait teori belajar apa yang relevan untuk diterapkan pada pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di Madrasah Ibtidaiyah. Metode Metode penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian kepustakaan atau library Studi kepustakaan menurut Sugiyono, merupakan kajian teoritis, referensi serta literatur ilmiah yang memiliki kaitan dengan nilai, norma, dan budaya yang berkembang pada situas sosial yang sedang diteliti. Atau dengan kata lain penelitian kepustakaan merupakan penelitian yang dilakukan dengan mengumpulkan, menghimpun, serta menelaah informasi dan sumber-sumber data yang didapatkan melalui buku, literatur, artikel, jurnal, catatan, arsip, serta penelitian-penelitian terdahulu yang relevan dengan permasalahan yang akan diteliti. Hasil kajian teoritis dari sumber-sumber tersebut kemudian akan dipergunakan untuk menjawab permasalahan penelitian yang sedang diteliti. Menurut Mirshad . , setidaknya terdapat empat kegiatan yang dilakukan dalam penelitian kepustakaan, antara lain: . Mencatat seluruh data temuan yang relevan dengan Aumasalah penelitianAy dan termasuk di dalamnya penemuan terbaru terkait masalah penelitian. Mengintegrasikan seluruh temuan, baik teori maupun temuan baru. Menganalisis seluruh temuan dari berbagai sumber, analisis yang dilakukan terkait kekurangan dan kelebihan dari kedalaman pembahasan masing-masing sumber. Mengkritisi serta mengkolaborasikan teori dan temuan baru dengan masalah penelitian. Hasil dan Pembahasan Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Mata pelajaran pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPK. berisikan materi dan pengalaman belajar yang diorganisasikan secara spiral/akumulatif atas dasar butir-butir nilai yang secara konseptual terkandung dalam Pancasila. Sesuai dengan UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 37 ayat 1, pembelajaran PKn merupakan pembelajaran yang wajib diajarkan di sekolah dasar. PKn mempunyai misi khusus yaitu untuk menanamkan komitmen yang kuat dan konsisten terhadap prinsip dan semangat kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 kepada peserta didik. Tujuan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di sekolah dasar adalah untuk membentuk watak atau karakter warga negara yang baik. Menurut Mulyasa, yang dikutip oleh Ahmad Susanto dalam bukunya, terdapat beberapa tujuan diajarkannya mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan kepada peserta didik, antara lain: . Membentuk karakter peserta didik yang mampu berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi persoalan hidup maupun isu kewarganegaraan yang ada di negaranya. Membentuk pribadi peserta didik yang mampu berpartisipasi dalam segala bidang kegiatan, secara aktif dan bertanggung jawab, sehingga bisa bertindak secara cerdas dalam menyikapi segala hal. Membantu peserta didik sehingga bisa berkembang secara positif dan demokratis, untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lainnya melalui pendidikan nilai dan norma yang ditanamkan sejak dini. Dari tujuan pembelajaran PKn di atas, maka dapat dipahami bahwa karakteristik dari pembelajaran PKn terletak pada muatan konsep, nilai, norma, dan moral yang terkandung di dalam materi pembelajarannya. Konsep, nilai, norma, dan moral ini yang akan dikembangkan baik secara kualitas maupun kuantitasnya untuk membentuk pola pikir, pola sikap, dan pola tindak peserta didik. GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2025, pp. Teori-Teori Pembelajaran yang Relevan dengan Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di Madrasah Ibtidaiyah Teori belajar merupakan prinsip yang saling berhubungan yang berisi penjelasan atas sejumlah fakta atau penemuan tertentu yang memiliki kaitan dengan peristiwa belajar. Teori belajar pada dasarnya menjelaskan mengenai bagaimana proses belajar teradi pada seseorang. Dengan demikian, teori belajar akan membantu seorang guru dalam menyajikan pembelajaran yang efektif bagi peserta didiknya. Beberapa teori belajar yang relevan untuk diterapkan dalam pembelajaran PKn adalah sebagai berikut: Teori Belajar Behaviorisme (Edward Lee Throndik. Menurut Throndike, belajar merupakan proses interaksi antara Stimulus (S) dan Respon (R). Stimulus merupakan sesuatu yang merangsang terjadinya kegiatan belajar baik berupa pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang ditangkap melalui alat indra. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan oleh individu ketika belajar, respon ini dapat berupa pikiran, perasaan, dan juga perilaku atau tindakan. Throndike menyatakan bahwa perilaku belajar seseorang ditentukan oleh stimulus yang ada di lingkungannya sehingga menimbulkan respons secara refleks. Stimulus yang terjadi setelah sebuat perilaku terjadi akan memengaruhi perilaku Cara belajar yang khas ditunjukkan dengan Autrial and errorAy mencoba dan mengurangi kesalahan. Selain itu, dalam teori behaviorisme biasanya menggunakan reinforcement . /satisfiyer . embawa kepuasa. Dari sini, kemudian Throndike mengembangkan beberapa hukum belajar, antara lain: Pertama. Hukum Kesiapan (Law of Readines. Hukum ini menyatakan bahwa seseorang harus belajar dalam keadaan siap, baik siap secara fisik maupun siap secara mental untuk menerima atau mempelajari pengetahuan baru. Kesiapan untuk belajar atau merespons stimulus dapat menimbulkan kecenderungan untuk bertindak, apabila kecenderungan bertindak ini timbul karena penyesuaian diri atau hubungan dengan sekitar, karena sikap dan sebagainya, maka memenuhi kecenderungan untuk bertindak akan memberikan kepuasan dan apabila tidak memenuhi kecenderungan tersebut akan menimbulkan ketidakpuasan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa readiness itu adalah persiapan untuk bertindak . eady to ac. Kedua. Hukum Latihan (Law of Exercis. Throndike menyatakan bahwa untuk menghasilkan tindakan yang sesuai dan memuaskan untuk merespons suatu stimulus, maka seseorang perlu melakukan latihan secara berulang-ulang. Penerapan hukum ini dalam pembelajaran adalah perlunya memilih teknik yang sesuai agar seseorang dapat mentransfer pesan yang didapatnya dari sort time memory ke long time memory ini dibutuhkan pengulangan sebanyak-banyaknya dengan harapan pesan yang telah didapat tidak musah hilang dari benaknya. Ketiga. Hukum Akibat (Law of Effec. Hukum ini menyatakan bahwa setiap individu memiliki respons sendiri-sendiri dalam menghadapi stimulus dan situasi yang baru. Jika sebuah tindakan diikuti oleh perubahan yang memuaskan dalam lingkungan, kemungkinan tindakan itu akan diulang kembali akan semakin meningkat. Atau dalam kalimat lain dapat diartikan bahwa individu akan belajar apabila ia melakukan perbuatan yang mendatangkan reinforcement . , jika yang dilakukan tidak mendatangkan reinforcement, maka perbuatan tersebut tidak akan dilakukan bahkan dihilangkannya. Contoh penerapan Law of Effect dalam pembelajaran adalah pemberian punishment atau reward, akan tetapi menurut Throndike yang lebih dianjurkan adalah pemberian reward. Teori Belajar Kognitivisme (Teori pembelajaran bermakna menurut Ausube. Menurut Ausubel, manusia menerima pengetahuan melalui penerimaan bukan Seseorang menerima konsep, prinsip dan ide untuk diaplikasikan bukan Salah satu penerapan model pembelajaran bermakna menurut Ausubel adalah pengajaran ekspositori . xpository teachin. bukan melalui belajar cepat. Ekspositori berasal dari kata eksposisi yaitu menjelaskan, menyajikan ide dan menyajikan fakta. Pembelajaran bermakna dapat terjadi apabila siswa dapat menghubungkan kejadian baru Aulia Kaffah Firdausi. Weni Marina. Arif Mansyuri / Teori Pembelajaran yang Relevan dengan Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Madrasah Ibtidaiyah Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2025, pp. ke dalam pemgetahuan yang diterima. Ausubel berpendapat bahwa belajar terbagi menjadi dua jenis yaitu belajar bermakna . eaningfull learnin. dan belajar menghafal . ote learnin. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar bermakna adalah kognitif, stabilitas, serta kesesuaian mata pelajaran dan waktu tertentu dengan tepat. Teori belajar bermakna Ausubel mendekati dengan Kontruktivisme, karena menekankan pentingnya siswa mengasosiasikan peristiwa, pengalaman dan fakta ke dalam pengetahuan yang diterima. Selain itu, guru harus mengembangkan potensi kognitif siswa melalui belajar bermakna. Menurut David Ausubel pembelajaran bermakna dapat terlaksana dengan memenuhi prinsip-prinsip yaitu: . Advance Organizer adalah pengaturan awal atau materi-materi yang dijadikan sebagai sebagai bahan untuk mengaitkan antar materi lama dengan materi baru yang memiliki makna lebih tinggi dari materi sebelumnya. Defrensiasi Progresif, dalam belajar bermakna perlu adanya pengembangan materimateri, dimana materi yang umum di sampaikan kepada siswa terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi-materi yang sifatnya khusus. Belajar Subordinat, materi yang akan dipelajari dikaitkan dengan materi yang telah dipelajari sehingga siswa telah memiliki pengetahuan dari pelajaran sebelumnya. Penyesuaian Integratif, dalam hal ini konsep pembelajaran disusun sehingga akan tercipta susunan pengetahuan secara bertingkat. Teori pembelajaran bermakna memiliki kelebihan, yaitu: . Informasi yang dipelajari siwa secara bermakna akan lebih lama diingat. Informasi yang tersampaikan akan mempengaruhi peningkatan potensi kognitif dari materi umum menuju khusus, sehingga akan memudahkan proses belajar pada materi selanjutnya yang memiliki . Informasi-informasi yang telah dipelajari kemudian dilupakan, kemudian bertemu dengan materi berikutnya akan mempermudah belajar hal-hal yang mirip meskipun telah lupa. Teori Belajar Konstruktivisme Berbeda dengan aliran behavioristik yang memahami hakikat belajar sebagai kegiatan yang bersifat mekanistik antara stimulus dan respons. Konstruktivisme memahami hakikat belajar sebagai kegiatan manusia membangun atau menciptakan pengetahuan dengan cara memberi makna pada pengetahuan sesuai pengalamannya. Shymansky mengatakan konstuktivisme adalah aktivitas yang aktif, di mana peserta didik membina sendiri pengetahuannya, mencari arti dari apa yang mereka pelajari, dan merupakan proses menyelesaikan konsep dan ide-ide baru dengan kerangka berfikir yang telah ada dimilikinya. Berdasarkan pendapatnya di atas, maka dapat di pahami bahwa konsturktivisme merupakan bagaimana mengaktifkan siswa dengan cara memberikan ruang yang seluas-luasnya untuk memahami apa yang telah mereka pelajari dengan cara menerapkan konsep-konsep yang di ketahuinya kemudian mempaktikkannya ke dalam kehidupan sehari-hari. Dalam proses belajar di kelas, peserta didik perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan juga berusaha untuk menemukan ide-ide. Guru tidak akan mampu memberikan semua pengetahuan kepada Karena siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Esensi dari teori konstruktivisme ini adalah ide. Siswa harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke dalam situasi lain. Dengan dasar itu, maka belajar dan pembelajaran harus dikemas menjadi proses AumengonstruksiAy bukan AumenerimaAy pengetahuan. Teori Belajar Humanisme Teori belajar yang menekankan peranan lingkungan dan faktor kognitif dalam proses belajar mengajar. teori humanisme mempengaruhi siswa untuk belajar dan Berikut ini adalah tujuan teori humanisme. Menerima kebutuhan dan tujuan siswa serta menciptakan pengalaman dan program untuk potensi siswa. GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2025, pp. Memperkuat perolehan keterampilan dasar . kademik, pribadi, antarpribadi, komunikasi dan ekonom. Mengembangkan suasana belajar yang menantang dan bisa dimengerti. Keunggulan teori humanisme. Lebih cocok diterapkan untuk materi pembelajaran yang bersifat membentuk Karena teori humanisme mengembangkan diri aspek emosional, sosial, mental dan keterampilan. Implementasi teori humanisme lebih memprioritaskan proses daripada hasil. Oleh sebab itu, implementasi teori humanisme dikatakan berhasil jika siswa semangat dalam mengikuti pembelajaran. Teori humanisme mensupport pendidik untuk mengenali potensi peserta didiknya. Teori humanisme mengedepankan aspek kemanusiaan dan pembentukan karakter. Implementasi Teori Pembelajaran Pada Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di Madrasah Ibtidaiyah Pada Kurikulum 2013 Teori Belajar Konstruktivisme Jika dilihat dari paparan sebelumnya, pendekatan saintifik yang digunakan dalam kurikulum 2013 merupakan model pembelajaran konstruktivisme. Seperti yang telah diketahui sebelumnya bahwa pendekatan saintifik mengasumsikan suatu konstruksi pengetahuan baru bagi siswa melalui proses mengamati, menanya, menalar dan mencoba. Pertama, mengamati. Pengamatan yang dilakukan oleh siswa melalui pendekatan saintifik kurikulum 2013 ini secara konstruktif memungkinkan siswa untuk mengadakan pengubahan gagasan atau ide sebelumnya yang telah dimiliki. Siswa mengamati gambar, video, peristiwa tentang suatu hal yang sebelumnya belum pernah diketahui atau sudah Jika sudah diketahui oleh siswa, maka siswa memperkuat ingatan Jika sudah diketahui tetapi berbeda dari pengetahuan sebelumnya, maka siswa akan mengkonstruksi pengetahuan baru yang menurutnya sesuai. Jika belum diketahui siswa, maka siswa akan membentuk pengetahuan barunya sebelum diganti pengetahuan yang lebih baru. Proses pengamatan oleh siswa ini sangat dekat dengan ciriciri pembelajaran konstruktivisme yaitu mengajar bukan berarti meneruskan gagasan/ide guru kepada siswa, melainkan merupakan suatu proses untuk mengubah gagasan/ide siswa yang sudah dimilikinya. Kedua, menanya. Pendekatan saintifik kurikulum 2013 mengupayakan siswa agar aktif secara kognitif dengan pertanyaan-pertanyaan yang dimunculkan siswa setelah proses mengamati sesuatu. Proses menanya ini timbul jika proses mengamati pada awal pembelajaran dilakukan dengan baik. Karena pengamatan menarik siswa untuk mengetahui banyak hal. Dalam proses ini, siswa masih secara aktif mengonstruksi pengetahuannya sendiri. Kemandirian dalam konstuksi pengetahuan juga merupakan salah satu asumsi-asumsi dalam teori pembelajaran konstruktivis. Ketiga, menalar. Proses menalar dalam pendekatan saintifik kurikulum 2013 merupakan proses di mana siswa mulai memproses pembentukan makna dalam struktur kognitifnya tentang pengetahuan yang telah dipelajarinya setelah melalui proses mengamati dan menanya. Proses menalar ini juga menjadi salah satu asumsi yang dibangun dalam pembelajaran konstruktivisme yaitu bahwa belajar merupakan pembentukan makna . dengan cara membangun atau mengkonstruksi hubungan antara pengetahuan yang telah dimiliki oleh pembelajar dan pengetahuan yang sedang Keempat, mencoba. Proses mencoba ini dalam Bahasa ilmiah disebut Setelah siswa membentuk pengetahuannya secara mapan maka secara otomatis siswa akan mencoba pengetahuan barunya secara empiris. Ini menjadi konsekuensi model pembelajaran konstruktivisme yang mengaktifkan pengetahuan siswa berlangsung secara terus menerus. Proses mencoba ini menampilkan dua asumsi dari pembelajaran konstruktivisme sekaligus yaitu proses pembelajaran yang berlangsung Aulia Kaffah Firdausi. Weni Marina. Arif Mansyuri / Teori Pembelajaran yang Relevan dengan Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Madrasah Ibtidaiyah Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2025, pp. secara terus-menerus dan aktif dan belajar juga menyangkut kesedian pembelajar untuk menerima pengetahuan yang sedang dipelajari, sehingga pembelajar bertanggung jawab tentang belajarnya. Ini sekaligus menjadi kelemahan dari pembelajaran konstruktivisme bahwa motivasi belajar siswa menjadi elemen penting dalam keberhasilan model pembelajaran konstruktivisme. Teori Belajar Humanisme Implementasi teori belajar humanisme dalam pembelajaran PKn adalah pendidik harus mampu memperlakukan peserta didik sebagai individu yang memiliki hak dan kewajiban yang harus terpenuhi, dengan kata lain mampu memanusiakan manusia. pendidik harus membantu menggali potensi-potensi yang harus dikembangkan oleh peserta didik dengan maksimal. Selanjutnya pendidik juga harus menerima dan memberikan penghargaan terhadap pencapaian peserta didik dalam proses belajar sekecil apapun pencapaiannya, karena hal ini akan membantu memotivasi siswa dalam melakukan kegiatan belajar. Penghargaan yang diberikan tidak selalu berupa hadiah atau materi tetapi dapat berupa pujian, nilai, atau predikat tertentu kepada siswa. Selain itu, dalam teori ini peserta didik merupakan pemeran utama dalam proses pembelajaran, peserta didik diberi kesempatan untuk membengembangkan potensi yang ada dalam dirinya secara positif serta mengurangi potensi yang bersifat negatif dengan mengacu pada nilai-nilai, norma, dan moral yang terkandung dalam pelajaran PKn. Dalam hal ini pendidik juga harus mampu menciptakan suasana kelas yang kondusif, tenang dan nyaman dalam proses pembelajaran PKn. Teori Belajar Behaviorisme Implementasi teori belajar behaviorisme dalam pembelajaran PKn dapat dilakukan dengan cara mengaplikasikan ketiga hukum yang telah dijelaskan di atas, yakni Hukum Kesiapan (Law of Readines. Hukum Latihan (Law of Exercis. Hukum Akibat (Law of Effec. yang diterapkan sebagai berikut: Hukum kesiapan. Sebelum pembelajaran dimulai guru hendaknya memastikan terlebih dahulu kesiapan peserta didik baik secara fisik maupun mental, apakah peserta didik telah siap menerima pembelajaran atau tidak. Guru bisa melakukannya dengan cara menanyakan kepada peserta didik Auapakah semua sudah sarapan dari rumahAy. Auadakah yang merasa tidak enak badanAy. Ausudahkah belajar di rumahAy. Auapakah semua membawa buku pelajaran yang akan kita pelajari hari iniAy. Auapakah sudah siap belajar hari iniAy, dan Guru juga bisa memberikan kalimat-kalimat afirmasi positif kepada siswa untuk memotivasi siswa agar semangat belajar, selain itu guru juga bisa memberikan tepuk atau permainan konsentrasi. Hukum latihan. Seperti yang sudah kita ketahui bahwa karakteristik dari mata pelajaran PKn adalah adanya muatan konsep, nilai, moral dan norma yang mengarahkan peserta didik agar nantinya bisa memiliki sikap dan perilaku sebagai warga negara yang Penanaman konsep, nilai, moral, dan norma ini tidak bisa masuk ke dalam long time memory apabila tidak ditanamkan melalui pembiasaan yang dilakukan secara berulangulang. Misalkan, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila akan bisa tertanam dalam diri siswa apabila guru membiasakannya setiap hari, seperti sikap menjaga kerukunan di kelas, kerjasama/gotong royong, menghormati pendapat orang lain, dan lain sebagainya. Hukum akibat. Guru bisa menerapkan sistem reward dan punishment secara bijak saat proses pembelajaran PKn berlangsung. Hal ini bertujuan untuk memberikan stimulus positif kepada peserta didik dengan harapan peserta didik juga mampu memberikan respon yang positif juga. Pemberian reward dapat berupa pujian, predikat, point, ataupun Begitu juga dengan punishment, apabila dirasa perlu menggunakan punishment, maka guru hendaknya memberikan punishment yang mendidik, bukan punishment yang bersifat fisik atau bahkan verbal yang dapat berdampak buruk bagi fisik dan mental peserta didik. Teori Belajar Kognitivisme Pelaksanaan pembelajaran teori Ausubel bedasarkan prinsip pembelajaran Prinsip pertama, pengaturan awal mengarahkan siswa pada materi yang akan GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2025, pp. dipelajari, memberi apersepsi dan mengingatkan siswa pada materi yang telah di pelajari Prinsip kedua, defrensiasi progresif yaitu pelaksanaan guru menyusun dan merencanakan pembelajaran dari yang umum ke khusus agar dapat dengan mudah dipelajari dan dipahami siswa. Dalam Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) guru menyusun materi Pendidikan Kewarganegaraan dimulai dari konsep yang umum kemudian ke konsep yang khusus. Prinsip yang ketiga, belajar subordinat pengimplementasiannya mengkaitkan materi yang akan dipelajari dengan materi yang pernah dialami oleh siswa. Prinsip terakhir, integratif bahwa konsep belajar yang telah disusun guru sesuai tahap dan kompleks materi yang akan dipelajari siswa. Simpulan dan Saran Pendidikan Kewarganegaraan mempunyai misi khusus yaitu untuk menanamkan komitmen yang kuat dan konsisten terhadap prinsip dan semangat kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat dan berlandaskan pancasila. Pada pembelajaran PKn memiliki dasaran beberapa teori seperti teori behaviorisme, kognitivisme, konstruktivisme, dan Teori yang dipaparkan di atas, bentuk pengaplikasian atau penerapan terhadap pembelajaran PKn bahwa konstruktivisme bertujuan mengaktifkan siswa dengan cara memberikan ruang bebas untuk memahami apa yang telah mereka pelajari dengan cara menerapkan konsep-konsep yang di ketahuinya. Teori humanisme bahwa peserta didik diberi kesempatan untuk mengembangkan potensi mengacu pada nilai-nilai, norma, dan moral yang terkandung dalam pelajaran PKn. Pendidik juga memberlakukan peserta didik seperti mampu memanusiakan manusia. Implementasi teori belajar behaviorisme dilakukan dengan cara mengaplikasikan ketiga hukum, yakni Hukum Kesiapan (Law of Readines. Hukum Latihan (Law of Exercis. Hukum Akibat (Law of Effec. Sedangkan teori kognitivisme menurut ausubel bahwa penerapan teori berdasarkan 4 prinsip: prinsip pengaturan awal, prinsip defrensiasi progresif, prinsip belajar subordinat dan prinsip integratif. Jadi, beberapa teori belajar yang telah dipaparkan tadi dapat menjadi alternatif atau pertimbangan dalam menyampaikan pembelajaran PKn yang sesuai dengan tujuan dan karakteristik materi pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Daftar Rujukan Ambarningsih. Peningkatan Hasil Belajar Menulis Puisi Bebas Melalui Metode Suggestopedia. Journal of Elementary Education, 3. , 14Ae20. Baharuddin. Teori Belajar & Pembelajaran. Ar-Ruzz Media. Daemadi. Apa Mengapa Bagaimana Pembelajaran pendidikan Moral Pancasila dan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPK. Konsep Dasar Strategi Memahami ideology Pancasila dan Karakter Bangsa. Animage. Efendi. Konsep Pemikiran Edward L. Thorndike Behavioristik & Imam Al-Ghazali Akhlak. Guepedia. Hapudin. Teori Belajar dan Pembelajaran Menciptakan Pembelajaran Yang Kreatif dan Efektif. Kencana. Harefa. Penerapan Teori Pembelajaran Ausebel . 48Ae. Hendrizal. Permasalahan Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SD dan Solusinya. Jurnal PPKn & Hukum, 14. , 54Ae62. Hermansyah. Analisis Teori Behavioristik (Edward Thordink. dan implementasinya dalam pembelajaran SD/MI. Jurnal Program Studi PGMI, 7. , 15Ae25. Lusevia. Yudana. , & Landrawan. Penanaman Nilai-Nilai Karakter Melalui Mata Pelajaran PPKn dalam Membentuk Sikap Disiplin Siswa di SMP 2 Sawan. Ganesha Civic Education Journal, 6. , 59-68 Luthfiyah. Metodologi Penelitian. CV Jejak. Aulia Kaffah Firdausi. Weni Marina. Arif Mansyuri / Teori Pembelajaran yang Relevan dengan Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Madrasah Ibtidaiyah Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2025, pp. Moto. Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran dalam Dunia Pendidikan. Indonesian Journal Primary Education, 3. , https://doi. org/10. 17509/ijpe. Muamanah. , & Suyadi. Implemntasi Teori Faktor Pendorong Muhammadiyah. Jurnal Pendidikan Islam, 5. , 161Ae180. https://doi. org/10. 29240/belajea. Mulyoto. Konsep Dasar dan Pengembangan Pembelajaran Pendidikan Pancasila Kewarganegaraan Untuk MI/SD. Publica Institute. Sari. Milya. Penelitian Kepustakaan (Library Researc. dalam Penelitian Pendidikan IPA. Jurnal Penelitian Bidang IPA dan Pendidikan IPA, 6. Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan Kombinasi (Mixed Method. Bandung: Alfabeta. Sulianto. Teori Belajar Kognitif David AusubelAyBelajar BermaknaAy. Zoltan P Dienes AyBelajar PermainanAy. Van HeilleAyPengajaran GeometriAy. Suparlan. Teori Konstruktivisme dalam Pembelajaran. Islamika, 1. , 79Ae88. https://doi. org/10. 36088/islamika. Susanto. Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Kencana. Syaroh. , dan Mizani,Z. Membentuk Karakter Religius dengan Pembiasaan Perilaku Religi di Sekolah: Studi di SMA Negeri 3 Ponorogo. Indonesian Journal of Islamic Education Studies. Vol. No. 1, hlm. Waseso. Kurikulum 2013 dalam Perspektif Teori Pembelajaran Konstruktivis. TAAoLIM: Jurnal Studi Pendidikan Islam. Vol. 1 No. 1, 59Ae72. GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304