Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Jornal ISSN 2656-274X METODE PENDIDIKAN AGAMA PADA ANAK BALITA SUATU PENDEKATAN PSIKOLOGIS Siti Aminah . mibogor66@gmail. Yanti Hasbian Setiawati . antihasbiansetiawati@laaroiba. Program Studi Pendidikan Agama Islam IAIN Laa Roiba Bogor ABSTRACT The purpose of this study is to find out effective and efficient methods of religious education in educating children under five using a psychological approach. This research uses descriptive analytic method through literature study. Data collection techniques use a variety of literature related to the discussion, as well as the Koran and hadith. Data analysis is content analysis trying to give a significant meaning to the analysis, explaining the description patterns, and looking for relationships between the dimensions of the description. The results showed that: . Method is one of the educational components used in fostering and educating children. Educators need to choose the method of education in accordance with the level of development of religious life comprehension in children, . The development of children is the development of the functions of the soul integrally, related to one another. Each level of development requires guidance and appropriate leadership according to their needs for life preparation in the future, . Toddler age is a sensitive period in physical and spiritual growth and development. Therefore it is necessary to prepare a religious environment so that the soul of religion is embedded in him that can be used as a basic capital of faith in his adult life, . The effectiveness of a method is very dependent on the personal educator and the level of development and needs of children. Keywords: Educational Methods. Toddler. Psychological AEIEAA A OIA. AE II NN E NO EA C AE OAE EEO EOIO AO EOI EAE OI I EI I IN IAOA A I CIO I EOI IIO IIO II EO EIEC EIICA. AN E EIIN EOAAO EEOEO II EE EA A OE IAU A O II EOaU A EOE EOI NO EOE EIOO EO OOE u IIO INI eOEA. A Oe ECI OEOAU A OA. A) EOC NO EIEOI EEOIO EII AO O EAE OEOINIA1( :A N EI IA. AEEC OI EOa A) uI O EAE NO OO OAA2( U aOO EOO uEO O OC EEOI OACU EIOO O ANI EO EOIO EO EAEA A EE IOO II EO OE EOON OECO EII OAC EONI uE EO AOA. A O NI AU AEO EE IEIEA A e II EOO NO O OIO O EOI O EOIA. A) I EAE NO A AO EIIO EIO OEOO OEIIOA3( U AEICEA AEO EO EIOA A) OI AEO EOC IUA4( U Ai AON OEO OIEI IN EAI O EuEOII AO ON EEA AEAO OIOO IIO EAE OONIA. A EIAOAU A EAEAU A EC EOOA:AeI EIAOA ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui metode pendidikan agama yang efektif dan efisien dalam mendidik anak balita menggunakan pendekatan psikologis. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik melalui studi kepustakaan. Teknik pengumpulan data menggunakan berbagai literature yang berkaitan dengan pembahasan, serta Al Quran dan hadits. Analisis data merupakan analisis isi berusaha memberikan arti yang signifikan terhadap analisis, menjelaskan pola uraian, dan mencari hubungan di antara dimensi-dimensi uraian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: . Metode merupakan salah satu komponen pendidikan yang digunakan dalam membina dan mendidik anak. Pendidik perlu memilih metode pendidikan yang sesuai dengan tingkat perkembangan penghayatan hidup beragama pada anak, . Perkembangan anak merupakan perkembangan fungsi-fungsi jiwanya Vol I No 1. Agustus 2019 52 | 102 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Jornal secara integral, yang berhubungan satu sama lain. Masing-masing tingkat perkembangan tersebut memerlukan bimbingan dan pimpinan yang tepat sesuai kebutuhannya untuk persiapan hidup di masa yang akan datang, . Usia balita merupakan masa peka dalam pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohaninya. Oleh karena itu perlu dipersiapkan lingkungan yang agamis agar tertanam jiwa agama dalam dirinya yang dapat digunakan sebagai modal dasar keimanan di masa dewasanya, . Efektifitas suatu metode sangat bergantung pada pribadi pendidik dan tingkat perkembangan serta kebutuhan anak. Kata Kunci: Metode Pendidikan. Balita. Psikologis PENDAHULUAN Pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukkan pribadi manusia. Pendidikan sangat berperan dalam membentuk baik atau buruknya pribadi manusia. Disisi lain proses perkembangan dan pendidikan manusia tidak hanya terjadi dan dipengaruhi oleh proses pendidikan yang ada dalam sistem pendidikan formal . Manusia selama hidupnya akan selalu mendapat pengaruh dari keluarga, sekolah, dan masyarakat luas. Proses perkembangan pendidikan manusia untuk mencapai hasil yang maksimal tidak hanya tergantung tentang bagaimana sistem pendidikan formal dijalankan. Namun juga tergantung pada lingkungan pendidikan yang berada di luar lingkungan formal. Dalam perspektif pendidikan Islam, lingkungan dapat memberi pengaruh yang positif atau negatif terhadap pertumbuhan jiwa dan kepribadian anak. Pengaruh lingkungan yang dapat terjadi pada anak diantaranya adalah akhlak dan sikap keberagamaannya. Mengingat besarnya pengaruh lingkungan terhadap kepribadian dan watak anak, maka dalam perspektif pendidikan Islam lingkungan dapat mempengaruhi perkembangan fisiologis, psikologis dan sosio-kultural. Menurut Langgulung. , pendidikan dapat ditinjau dari dua segi, yaitu pertama, pendidikan dari sudut pandangan masyarakat, dimana pendidikan berarti pewarisan kebudayaan dari generasi tua kepada generasi muda yang bertujuan agar hidup masyarakat tetap berlanjut, atau dengan kata lain agar suatu masyarakat mempunyai nilainilai budaya yang senantiasa tersalurkan dari generasi ke generasi dan senantiasa terpelihara dan tetap eksis dari zaman ke zaman. Kedua, pendidikan dari sudut pandang individu dimana pendidikan berarti pengembangan potensi-potensi yang terpendam dan tersembunyi dalam diri setiap individu sebab individu bagaikan lautan yang penuh dengan keindahan yang tidak tampak, itu dikarenakan terpendam di dasar laut yang paling dalam. Dalam diri setiap manusia memiliki pelbagai bakat dan kemampuan yang apabila dapat dipergunakan dengan baik, maka akan berubah menjadi intan dan permata yang keindahannya dapat dinikmati oleh banyak orang dengan kata lain bahwa setiap individu yang terdidik akan bermanfaat bagi manusia lainnya. Istilah pendidikan berasal dari bahasa Yunani, yaitu paedagogie, yang berarti bimbingan yang diberikan kepada anak. Istilah ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris AueducationAy yang berarti pengembangan atau bimbingan. Dalam bahasa Arab istilah ini sering diterjemahkan dengan AutarbiyahAy yang berarti pendidikan. (Ramayulis, 2008:. Pendidikan Agama adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian, dan keterampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaran agamanya, yang dilaksanakan sekurang-kurangnya melalui mata pelajaran atau kuliah pada semua jalur. Vol I No 1. Agustus 2019 53 | 102 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Jornal jenjang, dan jenis pendidikan. (PP No 55/2. Pendidikan agama di selenggarakan oleh pemerintah dan/atau kelompok masyarakat dari pemeluk agama, sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pendidikan keagamaan berfungsi mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya. Pendidikan keagamaan dapat diselenggarakan pada jalur pendidikan formal, nonformal, dan (UU No. 20/2003 tentang Sisdikna. Berdasarkan Kurikulum 2004 pengertian Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati hingga mengimani, bertaqwa, dan berakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya kitab suci Al Quran dan Hadits, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, serta penggunaan pengalaman. Kemampuan-kemampuan yang tercantum dalam komponen Kemampuan Dasar ini merupakan penjabaran dari kemampuan dasar umum yang harus dicapai, yaitu: Beriman kepada Allah SWT dan lima rukun iman yang lain denganmengetahui fungsi dan hikmahnya serta terefleksi dalam sikap, perilaku, dan akhlak peserta didik dalam dimensi vertikal maupun horizontal. Dapat membaca, menulis, dan memahami ayat-ayat Al QurAoan serta mengetahui hukum bacaannya dan mampu mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Mampu beribadah dengan baik sesuai dengan tuntunan syariAoat Islam baik ibadah wajib maupun ibadah sunnah. Dapat meneladani sifat, sikap, dan kepribadian Rasulullah, sahabat, dan tabiAoin serta mampu mengambil hikmah dari sejarah perkembangan Islam untuk kepentingan hidup sehari-hari masa kini dan masa depan. Mampu mengamalkan sistem muAoamalat Islam dalam tata kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Pendidikan agama berfungsi membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia dan mampu menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan inter dan antarumat beragama. (PP No. 55/2. Pendidikan agama bertujuan untuk berkembangnya kemampuan peserta didik dalam memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai agama yang menyerasikan penguasaannya dalam ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. (PP No. 55/2. Berdasarkan peraturan perundangan di atas, maka pendidikan agama dilaksanakan dalam tiga lingkungan pendidikan yang disebut dengan tri pusat pendidikan yaitu di limgkungan keluarga sejak anak lahir hingga dewasa, dan di lingkungan sekolah sejak pendidikan pra sekolah hingga perguruan tinggi serta di lingkungan masyarakat berupa Majlis TaAolim. Madrasah Diniyah dan Taman Pendidikan al Quran, dan sejenisnya. Metode pendidikan merupakan salah satu sarana yang amat penting dalam mencapai tujuan pendidikan. Mulyasa . berpendapat bahwa dalam proses interaksi edukasi seorang pendidik atau guru harus mampu memberikan pengalaman yang bervariasi, serta memperhatikan minat dan kemampuan anak. Sudjana. menyatakan bahwa proses interaksi edukasi akan berjalan baik jika siswa banyak aktif dibanding dengan guru. Oleh karena itu metode belajar yang baik adalah yang dapat menumbuh kembangkan kegiatan belajar siswa. Al-Syaibany . mengemukakan bahwa metodologi pendidikan pembelajaran Islam adalah segala segi kegiatan terarah yang dikerjakan oleh guru dalam rangka memahami mata pelajaran agama seperti akidah, akhlak, tauhid, fiqih dan sebagainya. Sedangkan Al Vol I No 1. Agustus 2019 54 | 102 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Jornal Abrasy . mengemukakan bahwa metode adalah jalan yang kita ikuti untuk memberi paham kepada murid-murid dalam segala macam pelajaran. Dalam kehidupan beragama, pendekatan psikologis mutlak diperlukan dalam melaksanakan bimbingan terhadap anak, sebagai upaya mengembangkan jiwa beragama dalam setiap pribadi maupun kelompok sosial. Oleh sebab itu seorang pembimbing harus memiliki pengetahuan teoritis dan praktis dalam bidang psikologi dan pendidikan. Al Quran mengemukakan unsur-unsur kejiwaan. yang berkaitan dengan perkembangan dan pengembangan hidup manusia sebagai berikut: AuDemi jiwa serta penyempurnaan . nya, maka diilhamkan kepadanya . kejahatan dan ketakwaan. Sungguh beruntung orang yang menyucikan . dan sungguh rugi orang yang (Q. As Syams . : 7-. Ay Berdasarkan ayat di atas, maka setiap pembimbing perlu menemukan metode yang tepat agar bimbingan terhadap anak dapat efektif mengembangkan benih-benih atau potensi kejiwaan ke arah yang baik dan benar. Menurut Arifin . , manusia dikatakan sebagai makhluk Aupsycho-physics neutralAy yaitu makhluk yang memiliki kemandirian . elf enstee. jasmaniah dan rohaniah. Di dalam kemandirannya itu manusia mempunyai potensi. Potensi ini menurut Tafsir. dikatakan juga sebagai kemampuan atau pembawaan. Potensi itu akan tumbuh berkembang dipengaruhi oleh lingkungan yang mendidiknya. Oleh karena itu, orang tua hendaknya lebih cerdas dalam hal mengasuh anak-anaknya mengingat secara psikologi, masa kanak-kanak adalah masa-masa yang potensial dalam perkembangannya. Darajat . mengemukakan bahwa masa perkembangan jiwa agama pada anak balita sebagai berikut: Usia 0 hingga 18 Bulan. Tahun pertama kehidupan anak menjadi penting dalam membangun karakter. Caranya dengan membangun kualitas hubungan antara ibu-ayah dan anak. Kepekaan ibu-ayah terhadap kebutuhan anak menjadi akar dari pembentukkan karakter anak. Jika ibu-ayah peka atau tanggap terhadap kebutuhan anak, maka anak akan merasa nyaman dan tumbuh rasa percaya di dalam dirinya. Contoh, ketika anak menangis, ibu/ayah segera datang dan menenangkannya. lapar, ibu segera menyusuinya. Dari sini anak belajar, peka/tanggap terhadap kebutuhan orang lain adalah hal yang baik untuk dilakukan karena menimbulkan rasa nyaman dan Sebaliknya, jika ibu-ayah tidak peka/tanggap terhadap kebutuhan anaknya di tahun pertama kehidupan, anak akan merasa tidak nyaman, sehingga tidak tumbuh rasa peka dan percaya terhadap orang lain di dalam dirinya. Usia 18 Bulan hingga 3 Tahun. Anak belum dapat memahami apa yang benar dan salah. Anak belum memahami jika memukul orang lain itu salah, misalnya. Anak mengetahui perbuatan apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan karena ibu-ayah memberitahukannya atau karena ibu-ayah memberinya konsekuensi. Pada tahap ini anak belajar, mematuhi ibu-ayah adalah suatu norma. Usia 3 hingga 6 Tahun. Anak mulai menjiwai nilai-nilai yang diterapkan oleh ibu-ayah di dalam keluarga. Anak juga mulai memahami, setiap perbuatannya dapat memiliki akibat tertentu sesuai dengan yang diajarkan oleh ibu-ayah. Misalnya, jika memukul adik, maka adik akan menangis. Vol I No 1. Agustus 2019 55 | 102 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Jornal tangan itu digunakan bukan untuk memukul tetapi untuk melakukan hal yang baik seperti membelai, mengusap, dan mendekap. Dalam pertumbuhan dan perkembangan menuju dewasa, anak mempunyai kebutuhan dasar yang harus dipenuhi, yaitu kebutuhan rohani dan jasmani. Untuk terpenuhinya kedua kebutuhan tersebut sangat diperlukan pembinaan, bimbingan, dan perhatian. Meskipun setiap anak yang baru lahir telah membawa kapasitas dan potensi untuk dikembangkan, akan tetapi perkembangan itu tidak akan berjalan dengan sendirinya tanpa bantuan orang dewasa yaitu orang tuanya. Menurut Abraham Maslow (Purwanto,1988:. , kebutuhan pokok manusia terdiri dari 5 tingkatan sebagai berikut: kebutuhan fisiologis. kebutuhan rasa aman dan perlindungan. kebutuhan sosial. kebutuhan akan penghargaan. kebutuhan akan aktualisasi diri. Rousseau(Purwanto,1988:. sebagai salah seorang pelopor ilmu jiwa anak, menganjurkan agar pendidikan anak-anak disesuaikan dengan tiap-tiap masa perkembangannya sejak kecil. Masa usia balita adalah masa keemasan. Pertumbuhan dan perkembangan anak pada masa ini berlangsung sangat cepat dan akan menjadi penentu bagi sifat-sifat atau karakter anak di masa dewasa. Peran ibu-ayah sebagai pendidik pertama dan utama sangat penting untuk memaksimalkan dan memanfaatkan masa ini, tidak dapat digantikan oleh siapapun. Kesuksesan ibu-ayah membimbing anaknya di usia balita sangat menentukan kesuksesan anak dalam kehidupan sosial di masa dewasanya kelak. Daradjat . mengemukakan beberapa karakteristik umum yang dimiliki oleh anak balita sebagai berikut: Unik Setiap anak yang terlahir sudah memiliki keunikan tersendiri. Hal inilah yang menjadikan manusia memiliki perbedaan antara satu dengan lainnya. Karakter ini meliputi sifat bawaan, kapabilitas, minat, dan latar belakang. Egosentris Sifat ini sudah pasti dimiliki oleh setiap anak. Hal ini dapat dibuktikan dengan sikap anak yang cenderung memahami dan memperhatikan suatu hal hanya dari sudut pandang kepentingan sendiri saja. Aktif dan Energik Saat anak sudah mulai berkembang, biasanya mereka senang sekali melakukan berbagai Mereka seolah-olah tidak pernah lelah, tidak pernah merasa bosan, dan tidak pernah mau berhenti beraktifitas kecuali ketika mereka tidur. Rasa ingin tahu yang kuat Umumnya setiap anak memiliki rasa penasaran dan ingin mengetahui ini dan itu. Setiap saat mereka ingin mengetahui hal-hal baru yang mereka belum ketahui. Eksploratif dan berjiwa petualang Rasa ingin tahu yang kuat biasanya diiringi dengan menjelajahi sesuatu dan berjiwa Misalnya anak senang berjalan kesana kemari, mencorat-coret dinding, senang membongkar mainan yang baru dibelinya, dan sebagainya. Spontan Vol I No 1. Agustus 2019 56 | 102 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Jornal Perilaku dan sikap yang dilakukan pada anak umumnya adalah sikap asli mereka dan tanpa ada sikap rekayasa. Hal ini dapat anda jumpai ketika anak sering berbicara ceplasceplos dan merefleksikan apapun yang ada dalam hati dan pikiran mereka. Senang dan kaya dengan fantasi Anak biasanya suka terhadap hal-hal yang imajinatif. Misalnya cerita dongeng. Mereka tidak hanya senang mendengarkan orang lain bercerita, tetapi mereka juga senang bercerita kepada orang lain. Mudah frustasi Rasa ingin tahu yang berlebih dan tidak segera dituruti akan menjadikan anak mudah Sikap yang sering mereka lakukan ketika merasa frustasi biasanya mereka ungkapkan dengan marah, menangis, dan sebagainya. Kurang Pertimbangan Anak biasanya kurang mempertimbangkan hal-hal yang mereka akan lakukan. Apakan yang dilakukan itu berbahaya bagi dirinya ataukah tidak. Misalnya ketika mereka bermain dengan benda-benda tajam, mereka lebih cenderung memainkannya daripada mendengarkan perkataan orang tuanya. Daya perhatian yang pendek Pada umumnya memiliki daya perhatian yang pendek. Misalnya ketika mereka memperhatikan sesuatu apalagi yang bersifat membosankan, mereka akan secepatnya menolak/ menghindar dan segera memperhatikan hal-hal yang menarik dan menyenangkan bagi dirinya. Semangat belajar yang tinggi Ketika anak mempunyai keinginan yang menyenangkan dan menarik perhatiannya, biasanya mereka akan terus mencari cara untuk memahami apa yang mereka inginkan Misalnya mereka tertarik untuk mewarnai, maka mereka akan melakukan kegiatan mewarnai berulang-ulang sehingga mereka merasa bisa. Semakin menunjukkan minat terhadap teman Seiring pertumbuhan anak, mereka akan menunjukkan minat dan bersosialisasi dengan Misalnya mereka melakukan kerja sama atau berhubungan dengan temannya dengan cara meminjamkan mainannya atau membagikan makanan yang mereka punya. TINJAUAN PUSTAKA DAN STUDI TERDAHULU Pengertian Bahasa, dilihat dari segi Bahasa, kata AuPendidikanAy berasal dari kata Bahasa arab adalah AutarbiyahAy, dengan kata kerjanya AorabbaAodan kata AupengajranAodalam Bahasa arabnya adalah AotaAolimAodengan kata kerja AoaAolamaAo. Pendidikan dan pengajaran artinyaAotarbiyah wataAolimAy sedangkan Pendidikan islam artinya Autarbiyah islamiahAy Pengertian dan perkembangan anak balita Balita adalah anak dibawah usia lima tahun, ada yang menyebutkan periode 1-5 tahun ini sebagai Autahun kwartalAy pertama penuh kebodohan. Sesuai dengan kenyataan bahwa anak dilakhirkan dalam kondisi serba kurang lengkap sebab, semua naluri, fingsi jasmaninya ataupun rokhaniah belum berkembang dengan sempurna. Dengan memperhatikan pendapat diatas, maka penuis beranggapan ada kesamaan, bahwa pada masa bayi berlangsung proses pertumbuhan yang sangat cepat. Oleh karena itu sangat memerlukan perhatian yang penuh dari orang dewasa. Vol I No 1. Agustus 2019 57 | 102 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Jornal Au masa bayi merupakan masa dimana kebutuhan-kebutuhan fisik harus dipenuhi, kebutuhan untuk menghisap harus dipuaskan dan saat anak untuk digendong dalam dekapan srta dibelai, juga masa bayi adalah masa ketergantungan, masa ketidak berdayaan dan membutuhkan pertolongan orang lain suatu masa yang menuntut kesabaran orang lainAo METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik melalui studi kepustakaan. Dalam analisis data, berusaha memberikan arti yang signifikan terhadap analisis, menjelaskan pola uraian, dan mencari hubungan di antara dimensi-dimensi uraian. Analisis Isi (Content Analysi. berguna dalam menarik kesimpulan melalui usaha menemukan karakteristik pesan. Metode ini menampilkan tiga syarat, yaitu obyektivitas, pendekatan sistematis dan pendekatan generalisasi. Sedangkan menurut Weber(Moleon. bahwa kajian isi adalah metodologi penelitian yang memanfaatkan seperangkat prosedur untuk menarik kesimpulan yang sahih dari sebuah buku atau dokumen. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Dalam pandangan Islam anak adalah amanat Allah. Anak-anak sejak masa bayi hingga usia prasekolah memiliki lingkungan tunggal, yaitu keluarga. Kebiasaan yang dimiliki anakanak sebagian besar terbentuk oleh pendidikan dalam keluarga, sejak dari bangun tidur hingga saat tidur kembali, anak-anak menerima pengaruh dan pendidikan dari lingkungan terutama Orangtua. Oleh karena itu Orang tua wajib memperkenalkan dan membimbing pendidikan agama pada anak sejak usia balita. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Tahrim ayat 6 yang berbunyi : ae AacEE aI ea a aI aNaIA a A acacE OaA A a A aE O aN aIEa a aEU aEA a a AA a caA aEI aOa NEaO aEI I a aOCaOaNa EIA a aAOaeaaOac aN EacaOIa a aIIaOe Ca eaOe aIAA a A aO Ea aA a ca aOIA aOOa AaEaOIa aI O a aI aOIA Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. Ayat ini merupakan perintah untuk mempersiapkan anak dam keturunan menjadi generasi penerus yang mampu bertanggungjawab dalam mengemban tugas-tugas dan kewajiban untuk menghadapi tantangan zaman. Keluarga sebagai unit sosial terkecil dalam masyarakat mempunyai peranan yang sangat besar dalam mempengaruhi kehidupan dan perilaku anak. Kedudukan dan fungsi keluarga dalam kehidupan manusia bersifat fundamental karena pada hakekatnya keluarga merupakan wadah pembentukan watak dan akhlak. Lingkungan yang berpengaruh terhadap perkembangan Jasmani. Rohani dan akal anak sejak dilahirkan sampai dewasa adalah keluarga, oleh karena itu perlu ditanamkan nilai-nilai akhlak karimah sejak dini. Peran dan tanggungjawab orang tua mendidik anak dalam keluarga sangat dominan, sebab ditangan orang tualah baik dan buruknya akhlak seorang anak dibentuk. Pendidikan dan pembinaan akhlak merupakan hal paling penting dan sangat mendesak untuk dilakukan dalam rangka menjaga stabilitas hidup. Vol I No 1. Agustus 2019 58 | 102 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Jornal Konsep pendidikan ideal dalam keluarga semestinya mulai terbangun saat individu yang diikat dalam pernikahan mampu menjalin suatu komitmen yang baik. Seorang wanita dengan perannya yang baru sebagai istri dan laki-laki sebagai suami mulai membangun komitmen dalam menentukan arah keluarga yang akan dibentuknya. Hadirnya seorang anak akan melengkapi konsep pendidikan yang mesti dibangun mereka sebagai orangtua. Idealnya baik orangtua maupun anak kelak dapat membangun interaksi dan komunikasi yang baik dalam keluarga tersebut. Membangun karakter keluarga yang ideal tentu akan menjadi cita-cita semua orang. Hanya bagaimana cita-cita itu terwujud akan kembali kepada peran orangtua itu sendiri. Karakter ideal dalam suatu keluarga bukanlah hanya sebatas memiliki aturan-aturan atau pembiasaan yang telah dibentuk dan disepakati. Tetapi lebih dari itu bagaimana keluarga itu mampu menjankannya dengan lebih intensif, tanpa keterpaksaan dan dengan penuh kesadaran bahwa hal itu adalah suatu nilai yang dibutuhkan. Jika semua bisa merasakan bahwa apa yang dilakukan itu memiliki nilai dan dibutuhkan, maka tidak akan ada beban dalam menjalankannya. Karakter pada orangtua yang bisa dimunculkan antara lain adalah bijaksana dan Bijaksana dalam arti orangtua mampu menyikapi tiap permasalahan dengan tidak memunculkan emosi atau pemikiran negatif sebelum mengetahui lebih jauh apa sebenarnya akar permasalahan yang menyebabkannya. Bijakasana untuk tidak langsung menyalahkan siapapun hingga akhirnya dapat memastikan bahwa masalah yang terjadi dapat ditemukan jalan keluarnya. Tentu inipun harus didukung dengan sikap yang komunikatif agar dapat dipahami dengan baik. Komunikatif akan menjadikan suasana lebih hangat terbangun dan dirasakan terutama oleh anak. Anak adalah cerminan keluarga, anak tumbuh dan berkembang dalam keluarga. Segala sesuatu yang dilihat dan didengar dan dialaminya akan mempengaruhi kepribadian dan tertanam dalam jiwanya. Usaha orangtua menjadi sangat penting dalam mendidiknya dengan menanamkan keagamaan pada jiwa anak dengan cara pembiasaan sedini mungkin. Sebagaimana dikemukakan Daradjat . bahwa pembinaan moral agama harus dilakukan sejak kecil sesuai dengan umurnya karena setiap anak dilahirkan belum mengerti mana yang benar dan mana yang salah juga belum mengetahui batas-batas ketentuan moral yang berlaku dalam lingkungan. Beberapa hal yang harus dilakukan orangtua dalam mendidik anak balita diantaranya membimbing anak mengenal Tuhan, berlaku jujur, berbuat baik, berakhlak baik, suka menolong dan melaksanakan perintah agama seperti shalat, puasa, sedekah dan lain Hal ini perlu dicontohkan oleh orangtua sebagai teladan bagi anak-anaknya. Setiap orangtua atau pendidik perlu memahami ilmu jiwa anak dan perkembangannya agar mudah memahami Ulwan . berpendapat bahwa jika anak diperlakukan dengan kejam oleh kedua orang tuanya, dididik dengan pukulan yang keras dan cemoohan pedas dan selalu mendapatkan penghinaan dan ejekan, maka akan menimbulkan reaksi balik yang akan tampak pada perilaku dan akhlaknya, dan gejala rasa takut serta cemas akan tampak pada tindakan-tindakan anak. Bahkan akan mengakibatkan anak terkadang berani menyakiti orang tua bahkan secara lebih tragis berani membunuhnya atau meninggalkan rumahnya demi menyelamatkan diri dari kekejaman, kezhaliman, dan perlakuan yang menyakitkan. Karakter anak yang diharapkan oleh orangtua antara lain memiliki anak yang taat, sholeh, sehat dan cerdas. Mengarah pada sifat yang taat akan mudah jika diawali dengan bagaimana orangtua memberikan contoh yang baik dan konsisten menjalankannya. Dengan Vol I No 1. Agustus 2019 59 | 102 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Jornal sendirinya anak akan menirukan apa yang dilakukan oleh orantua. Sementara karakter sholeh akan terbentuk melalui peran orangtua dalam menanamkan pondasi agama dan mengamalkannya di dalam keluarga tersebut. Peran pendidikan agama di sekolah juga akan membantu melengkapi kekuatan seorang anak memiliki nilai kesholehan. Pola pembiasaan saat ini akan berpengaruh terhadap kesehatan anak. Dari pola makan, bermain, hingga kondisi cuaca memiliki pengaruh yang kuat terhadap kesehatan. Membiasakan pola hidup yang sehat sedini mungkin akan menjadikan seorang anak memiliki karakter sehat. Sehat dalam dalam pengertian secara fisik mampu menjaga tubuhnya dari pengaruh-pengaruh negatif melalui pola hidup dan kebiasaan positip yang sudah tertanam dengan baik. Fisik yang sehat juga akan membantu atau mendukung karakter cerdas. Dengan nutrisi yang baik dan konsisten menjaga pola hidup dan kebiasaan positif maka aktivitas belajar anak bisa turut mendukung aspek kecerdasan. Karakter cerdas akan lebih mengarahkan pada bagaimana seorang anak mampu menghadapi masalah dengan tidak mudah putus asa dan selalu berusaha menyelesaikan sesuatu dengan tenang dan berpikiran Penerapan disiplin bagi anak yang konsisten akan mendatangkan manfaat bagi orang tua karena dengan displin anak dapat mengontrol segala tingkah laku dan perbuatannya. Melalui pendisiplinan tanpa paksaan atau dengan kesadaran akan kegunaan dan manfaat disiplin untuk hidup yang lebih baik. Penanaman disiplin yang telah dilakukan sejak dini akan lebih memudahkan orang tua ketika anak-anak melakukan penyimpangan kelak dikemudian Apabila sejak masa kanak-kanak kedisiplinan sudah menjadi kebutuhan, maka dapat diramalkan pada masa dewasa mereka akan selalu berdisiplin. Kebiasaan berdisiplin akan membuat anak merasa mudah diterima dimasyarakat yang akan membuat mereka bahagia. Metode pendidikan agama pada anak balita menggunakan pendekatan psikologis sebagaimana dikemukakan Ulwan . sebagai berikut: Pendekatan dengan keteladan Mendidik dengan keteladanan adalah diantara faktor yang paling efektif dalam membentuk anak. Pendidik yang menjadi teladan dimata anak, dan dengan secara spontan anak tersebut akan menjadikannya sebagai contoh, dan idola, baik disadari atau tidak disadari. menjadi sangat penting dalam mendidik, karena meskipun seorang anak pada fithrahnya suci, sehat, bersih, tetapi ia membutuhkan seorang teladan yang menuntunnya untuk berbuat baik dan menerima akhlak yang terpuji, sebaliknya jika seorang pendidik tidak tercermin pada dirinya sifat-sifat yang terpuji dan tidak menampakkan diri sebagai seorang pendidik, maka sangat sulit baginya untuk menerapkan nilai-nilai pendidikan pada diri seorang anak. Pendekatan dengan Pembiasaan. Pembiasaan merupakan upaya praktis dalam pembentukan/pembinaan serta persiapan Seorang pendidik dituntut untuk menerapkan pembiasaan, penanaman nilai-nilai tauhid, akhlak yang mulia dalam pertumbuhan anak. Dengan melatih secara rutin melakukan shalat, puasa dan lainnya, maka anak akan terbiasa dan tidak merasa berat ketika melakukannya. Pendekatan dengan Kisah Cerita mempunyai daya tarik yang kuat dapat menyentuh perasaan. Dalam pendidikan Islam, cerita merupakan metode tersendiri yang ikut memberikan andil besar dalam pembiasaan manusia. Di dalam Al Quran banyak dikemukakan cerita-cerita tentang orang-orang terdahulu yang dapat dijadikan pelajaran atau hikmah dari setiap perostiwa. Vol I No 1. Agustus 2019 60 | 102 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Jornal Metode cerita ini mempunyai pengaruh bagi jiwa dan akal dengan mengemukakan argumentasi yang logis. Allah berfirman dalam Al Quran surat Hud. ayat 120 AuDan semua kisah-kisah Rasul kami ceritakan kepadamu, agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu, dan di dalamnya telah diberikan kepadamu segala kebenaran, nasihat, dan peringatan bagi orang yang beriman. Ay Pendekatan dengan Nasehat. Al QurAoan banyak menggunakan metode ini dalam berdialog dengan jiwa manusia dengan berbagai macam karakteristiknya. Seorang pendidik, jika menghendaki kebaikan, kematangan etika, keseimbangan akal dan kesempurnaan pada anak, harus memahami metode ini dan mengikuti Al QurAoan dalam memberi nasehat, petunjuk untuk perubahan kepribadian anak dan masyarakat. Karena metode ini memberi pengaruh yang besar terhadap jiwa dan perasaan anak. Allah berifirman dalam Al Quran Surat Luqman. ayat 13: a acEEa uaIac E aEa EA a AaOua Ca aE Ea C aI aI aE a aINa aON aaO Oa aA AOIA aA E UI aA an ca aAO aacE a a E A ca aANau OaaIA AuDan . ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Alla. adalah benar-benar kezaliman yang besar. Ay Pendekatan dengan perhatian. Maksud dari metode ini adalah memperhatikan, mengawasi dan menyertai anak dalam pembentukan aqidah, akhlak, jiwa dan pertumbuhan jasman dan perkembangan Hal ini akan berpengaruh dalam membimbing anak untuk menjaga keseimbangan hidup dan memikul tanggung jawab, melaksanakan tugas di masa pertumbuhannya hingga dewasa dan mandiri yang memiliki fondasi dalam pembentukan aqidah yang kokoh KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Metode merupakan salah satu komponen pendidikan yang digunakan dalam membina dan mendidik anak. Pendidik perlu memilih metode pendidikan yang sesuai dengan tingkat perkembangan penghayatan hidup beragama pada anak. Perkembangan anak merupakan perkembangan fungsi-fungsi jiwanya secara integral, yang berhubungan satu sama lain. Masing-masing tingkat perkembangan tersebut memerlukan bimbingan dan pimpinan yang tepat sesuai kebutuhannya untuk persiapan hidup di masa yang akan datang. Usia balita merupakan masa peka dalam pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohaninya. Oleh karena itu perlu dipersiapkan lingkungan yang agamis agar tertanam jiwa agama dalam dirinya yang dapat digunakan sebagai modal dasar keimanan di masa dewasanya. Efektifitas suatu metode sangat bergantung pada pribadi pendidik dan tingkat perkembangan serta kebutuhan anak. Saran-saran Hendaknya setiap orangtua mempunyai kesadaran dan tanggungjawab terhadap amanah untuk menjaga kelangsungan hidu anak. Hendaknya orangtua berupaya memberikan pembinaan dan pemdidikan agama terhadap anak dengan sebaik-baiknya untuk bekal anak di masa depannya. Vol I No 1. Agustus 2019 61 | 102 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Jornal Hendaknya orangtua memilih metode yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan anak. Sekiranya orangtua kurang memadai dalam mendidik dan membimbing pendidikan agama pada anak, orangtua dapat meminta bantuan guru atau memasukkan anak ke taman kanak-kanak atau pendidikan anak usia dini. DAFTAR PUSTAKA