Azura. eScience Humanity Journal 4 . May 2024 ANALISIS SEMIOTIKA PADA FILM SERIES GADIS KRETEK TERHADAP REPRESENTASI GENDER Sylvia Azura1*. Laila Rohani2 Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Medan. Indonesia sylvia@uinsu. *) corresponding author Keywords Abstract Gadis Kretek. Patriarchy. Gender. Women. Currently, there are still many Indonesian people who apply patriarchal culture, so this can be used as the main topic for making literary works such as The researcher decided to make the Film Series "Gadis Kretek" as a medium to convey gender representation. The purpose of this research is to find out how this film can be a mirror on culture and history to influence gender representation in a certain context and how patriarchal values or gender equality are reflected in the narrative and visuals of this film. The research method used in this research is descriptive qualitative. This research uses Hongwei Bao's Queer Theory based on a semiotic approach. Queer theory seeks to reveal that gender and sexuality are not only determined by biology, but also by social and cultural constructions. Based on this research, it can be concluded that women are considered unfit to have greater goals or interests and women are also considered as weak objects. PENDAHULUAN Semua orang, baik pria maupun wanita, berhak untuk mengekspresikan diri mereka tanpa batas. Setiap orang, baik pria maupun wanita, berhak atas kebebasan yang sama. Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan bahwa "Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya," yang dijelaskan dalam Pasal 27 ayat 1Ay. Berdasarkan UUD tersebut dapat diartikan bahwa Indonesia menjamin kesetaraan pada semua warganya tanpa memandang gender. Dalam konteks pembuatan kebijakan. Kementerian Keuangan Indonesia sudah menunjukkan keseriusan terhadap kesetaraan gender, yang dijelaskan dalam Inpres No. 9 Tahun 2000. Hal ini menunjukkan bahwa kesetaraan gender bukan berarti mendorng agar perempuan berada di atas laki-laki, tetapi memp osisikan perempuan setara dengan laki-laki (Kementrian Keuangan Republik Indonesia. Selain itu, hukum di Indonesia didirikan atas dasar pencapaian kesetaraan dan keadilan bagi perempuan dalam berbangsa dan bernegara. Namun, hal ini tidak membebaskan Indonesia dari masalah-masalah yang berkaitan dengan gender. Sebagai sebuah fenomena sosial, gender mengacu pada perbedaan jenis kelamin yang sering digunakan oleh masyarakat untuk menciptakan peran . bagi 21 | P a g e Azura. eScience Humanity Journal 4 . May 2024 laki-laki dan perempuan berdasarkan perbedaan tersebut. (Matara. Kusmawaty. Harun Daluku, 2. Kurangnya representasi perempuan di ranah publik menurut budaya Indonesia dalam bidang politik antara lain disebabkan oleh kondisi budaya patriaki yang tidak diimbangi kemudahan akses dalam bantuk tindakan afirmatif bagi perempuan (Putri, n. Persepsi yang masih ada di nalar masyarakat adalah bahwa dunia politik adalah untuk laki-laki, dan tidaklah pantas bagi perempuan untuk terlibat menjadi anggota parlemen. Menurut Elaine Showalter mengenai gender, yaitu dari konstruksi sosial budaya dapat melihat pembedaan antara laki-laki dan perempuan (Showalter, 1. Kesetaraan gender masih menjadi topik yang diperdebatkan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kesetaraan dan keadilan dalam hal distribusi hasil pembangunan antara laki-laki dan perempuan belum terwujud dalam masyarakat Indonesia. Hal ini disebutkan dalam studi yang dilakukan (Nurhakim et al. , 2. yang menyebutkan bahwa di Indonesia diskriminasi gender terjadi pada bidang pekerjaan. Hal tersebut dijelaskan dalam hasil penelitian (Sarina & Ahmad, 2. bahwa diskriminasi yang terjadi pada perempuan karena masih adanya anggapan bahwa perempuan itu lemah dan tidak mampu menduduki posisi kepemimpinan di tempat kerja, serta masih adanya larangan bagi perempuan yang sudah menikah untuk bekerja dengan anak-anak. Seperti dalam studi terdahulu (Adzkiya, 2. yang menyatakan bahwa masih banyak profesi yang mengalami stereotype gender, contohnya pada profesi pemadam kebakaran yang cenderung lebih cocok dikerjakan oleh laki-laki karena merupakan tugas yang berat dan berbahaya. Adapun contoh lain yang mengalami stereotype gender yaitu pada profesi perawat, karena tugas yang bersifat feminim sehingga pekerjaan tersebut dikhususkan untuk para perempuan. Bahkan, isu ini turut terjadi di negara lain, dalam penelitian (Elass, 2. yang menunjukkan bahwa dalam pekerjaan pengambilan keputusan masih didominasi oleh partisipasi laki-laki. Penelitiannya juga menjelaskan mengapa hal ini terjadi: sikap, pola perilaku, dan pengambilan keputusan, termasuk perumusan kebijakan publik, masih sangat dipengaruhi oleh budaya patriarki dan cara pandang maskulin. Berdasarkan penelitian (Agustiana. Annisaa. Komariah. Bilkis Siti. Fitriadi. Zaki Ahmad. Destia, 2. , di rumah-rumah di Indonesia, kebiasaan patriarki masih lazim dalam banyak Hal ini juga didukung oleh penelitian (Octaviani et al. , 2. yang mengemukakan bahwa, menurut akun @lawanpatriarki, pelecehan seksual dan diskriminasi gender merupakan aspek yang paling banyak terjadi dalam budaya patriarki di Indonesia. Begitu pula dalam sisi pendidikan, ketidaksetaraan gender masih sering terjadi. Seperti yang dikemukakan dalam penelitian (Acheampong et al. , 2. bahwa akses terhadap energi dapat menjadi pilihan kebijakan yang penting untuk mengatasi ketidaksetaraan gender dalam pendidikan, yang masih menjadi tantangan di negara-negara berkembang. Saat ini masih banyak masyarakat Indonesia yang menerapkan budaya patriarki, sehingga hal ini bisa dijadikan topik utama untuk membuat karya sastra seperti film. Film memberikan arti yang berbeda bagi setiap penikmatnya. Dalam Ilmu Komunikasi, menurut (Effendy, 1. , komunikasi massa adalah komunikasi melalui media massa modern yang meliputi surat kabar, radio, dan segala sesuatu yang ditunjukkan di dalam televsi. Film merupakan media komunikasi massa sebagai alat pembantu untuk memberikan penjelasan. Hal ini didukung pula oleh teori yang dikemukakan oleh (Bittner, 1. yang menyebutkan komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang. Menurut UU No. 33 Tahun 2009 tentang perfilman, yaitu film adalah karya seni budaya yang merupakan pranata sosial dan media koumikasi massa yang dibuat berdasarkan kaidah sinematografi. Film dievaluasi berdasarkan kelebihan dan kekurangannya, daripada "menyelami" ke dalam detail pesan film. (Ikhsano, 2. Setelah menonton film, penonton 22 | P a g e Azura. eScience Humanity Journal 4 . May 2024 menginterpretasikan banyak pesan yang dikandungnya. Sebagian orang menganggap film sebagai upaya artistik dan rekreasi, atau sebagai platform untuk berbicara tanpa batas selama proses pembelajaran, sebagian lagi cenderung melihatnya sebagai penggambaran faktual nilai-nilai sosial di dunia nyata. Pada kenyataannya, kapasitas film untuk berbicara kepada berbagai kelompok sosial memberikan kesempatan kepada pembuat film untuk membentuk atau mempengaruhi persepsi penonton melalui konten yang mereka sajikan. Hal ini didasarkan pada gagasan bahwa film menggambarkan realitas sosial. Adakalanya film juga mengangkat ide cerita yang didasarkan pada kejadian atau peristiwa yang sering terjadi dalam kehidupan masyarakat (Jaya, 2. Film secara konsisten menangkap realitas yang berkembang dan berubah di dalam masyarakat sebelum memproyeksikannya ke layar. Berdasarkan paparan diatas, peneliti memutuskan untuk menjadikan Film Series AuGadis KretekAy sebagai media penyampaian representasi gender. Peneliti akan menganalisis bagaimana series ini dapat merepresentasikan gender dalam penyampaiannya. Peneliti akan berfokus pada tokoh utama "Gadis Kretek" Yang dianggap sebagai objek penyampaian makna gender pada konteks industri kretek di Indonesia era 1960-an. Selanjutnya, peneliti akan menganalisis berdasarkan teori yang telah ditentukan apakah dalam series ini perempuan dijadikan sebagai objek romansa semata atau dijadikan representasi dengan peran yang kuat dan berpengaruh. Lebih jauh, peneliti ingin mengetahui bagaimana film ini dapat menjadi cermin pada budaya dan sejarah untuk memengaruhi representasi gender dalam konteks Bagaimana nilai-nilai patriarki atau kesetaraan gender tercermin dalam narasi dan visual film ini. Selanjutnya, penelitian akan menganalisis pesan moral yang terkandung dalam film "Gadis Kretek" terkait dengan peran gender. Bagaimana penggunaan simbol dan kode semiotik dalam film series "Gadis Kretek" yang menggambarkan gender dan berapa banyak serta bagaimana representasi gender yang ditunjukkan dalam film series "Gadis Kretek". TINJAUAN PUSTAKA Patriarki Berdasarkan penelitian dari (Arwan, 2. mengatakan bahwa dalam Bahasa perempuan, patriarki dapat disebabkan oleh pemahaman perempuan tentang lingkungan sosial tempat laki-laki dan perempuan tinggal dan faktor pengaruh pendidikan perempuan yang masih dikatakan rendah. Adapun faktor-faktor perempuan dalam melawan budaya patriarki dan eksistensi perempuan sebagai cara yang bisa dilakukan untuk mencapai tujuan yang lebih besar dan menegaskan perjuangan para perempuan untuk melawan budaya patriarki(Bere, 2. Feminisme Pada dasarnya, selama gerakan feminisme tidak bertentangan dengan ayat suci AlQurAoan dan sabda Nabi serta tidak menimbulkan madharat dan mafsadat maka kembali pada hokum dasarnya yaitu al-Ibahah (Hidayah, 2. Berdasarkan penelitian (Kasimbara, 2. menyimpulkan 3 fakta sebagai representasi perempuan dari perjuangan untuk bertahan hidup dengan memerdekakan diri sendiri dalam kampanye hak perempuan untuk mendapatkan hak memilih, kekuatan membuat keputusan menunjukkan pentingnya suara perempuan dalam memperjuangkan kelangsungan hidup, serta di luar dari jenis kelamin, semua manusia harus diperlakukan sama. 23 | P a g e Azura. eScience Humanity Journal 4 . May 2024 METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Analisis deskriptif kualitatif adalah interpretasi akurat dan metodis terhadap ekspresi bahasa atau wacana . papun it. untuk memberikan gambaran kualitatif mengenai fakta, data, atau hal-hal yang bersifat material yang tidak hanya berupa deretan angka-angka. Pendekatan deskriptif kualitatif ditandai dengan ditinggalkannya grand theory, verifikasi, empiri, dan kuantifikasi, serta digantikannya "rumusan masalah" dengan asumsi atau (Wibowo, 2. Dalam penelitian representasi gender pada film series AuGadis KretekAy, analisis semiotika dapat digunakan untuk mengidentifikasi tanda dan simbol yang merujuk pada gender dalam film tersebut. Analisis semiotika dapat meneliti makna dari sebuah film. Dengan menggunakan pendekatan semiotika, analisis terhadap sesuatu objek kajian dapat dilakukan dengan menguraikan kode-kode yang terdapat pada objek kajian tersebut (Putra, 2. Penelitian ini menggunakan Queer Theory dari Hongwei Bao berdasarkan pendekatan semiotika. Menurut Hongwei Bao. AoqueerAo adalah istilah yang produktif untuk memikirkan gender, seksualitas, dan identitas, dan itulah sebabnya ia memilih untuk menggunakan istilah tersebut dalam bukunya yang berjudul AuQueer Media in ChinaAy (Bao. Hongwei Bao memahami 'queer' sebagai istilah umum untuk menggambarkan gender dan seksualitas nonheteronormatif, termasuk kelompok LGBTQ. Bao juga menggunakan istilah ini untuk mencakup berbagai jenis gender yang terpinggirkan dan subjektivitas seksual yang terkadang bersifat pribumi. Teori ini berupaya untuk mengungkap bahwa tidak ada definisi gender dan seksualitas yang tetap, melainkan konstruksi sosial yang berubah-ubah dan dapat dipertanyakan. Queer theory juga berupaya untuk mengungkap bahwa gender dan seksualitas tidak hanya ditentukan oleh biologi, tetapi juga oleh konstruksi sosial dan budaya. Peneliti menggunakan pendekatan semiotika disebabkan oleh kerelatifan hasil pembahasan yang cenderung dibahas hanya oleh satu sudut pandang dan mempersempit relativitas seseorang diluar penelitian. Dalam penelitian ini, penulis mengangkat series berjudul AuGadis KretekAy dengan cara menggambarkan gender dan seksualitas menggunakan queer theory pada scane film. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan identifikasi menggunakan queer throry dari Bongwei Bao, ada 3 upaya untuk mengungkap bahwa tidak ada definisi gender yang tetap, melainkan konstruksi sosial yang berubah-ubah dan dapat dipertanyakan, yaitu melalui analisis gender, sexuality, dan identity dalam film series AuGadis KretekAy. 24 | P a g e Simanjuntak. eScience Humanity Journal 4 . May 2024 Table 1. 1 Analisis Gender. Sexuality, dan Identity pada Film Series Gadis Kretek QUEER THEORY Gender SCENE Sumber: Bstation Gambar 1. 1 Scene Pada Film Durasi: Episode 1, 36. 32-36-35 Sumber: Bstation Gambar 1. 2 Scene Pada Film Durasi: Episode 2, 35. KETERANGAN/ PENJELASAN Pada scene ini. Dasiyah mengecek tembakau yang dijual oleh Pak Budi. Setelah Dasiyah mencium bau tembakau tersebut dan dia mengatakan kualitas tembakaunya berbeda dari biasanya. Sementara itu Pak Budi tidak terima, lalu berkata AuItu bukan urusanmu, urusanmu cuma bersih-bersih rumah sama cari Mudeng ora?Ay. Kalimat tersebut memiliki makna yang tgerkait dengan tema gender dan diskriminasi. Pak Budi, seorang pria, perkataannya menunjukkan perempuan sebagai objek yang hanya berfungsi sebagai penjaga rumah dan tidak memiliki tujuan atau kepentingan yang lebih besar. Padahal seperti dalam film. Jeng Yah yang ingin membuktikan bahwa sebagai perempuan juga bisa melakukan hal hal yang dominan laki-laki membuktikan bahwa perempuan bisa menjadi seorang pemimpin. Artinya. Jeng Yah juga berusaha memperjuangkan kesetaraan gender. Seperti yang kita ketahui saat ini banyak perempuan yang sudah membuktikan bahwa mereka bisa menjadi seorang pemimpin yang layak. Dalam riset terdahulu oleh (Ineke Fadhillah et al. , 2. menyatakan bahwa kepemimpinan wanita di Indonesia sudah menggapai keberhasilan menjadi seorang Pada scene ini. Pak Dibyo mengatakan AuTidak bisa perempuan ada di ruang saus! Ora elok. Kalau sesudah ini kretek Merdeka ini rasanya asam, jangan salahkan saya, yaAy. Kalimat tersebut menunjukkan bahwa pada masa itu budaya patriarki yang sangat kental perempuan untuk berpartisipasi dalam pekerjaan yang dianggap sebagai domain laki-laki. Kalimat menunjuukan bagaimana Pak Dibyo memperlakukan perempuan sebagai berpartisipasi dalam pekerjaan yang dianggap sebagai domain lakilaki. Hal 25 | P a g e Simanjuntak. eScience Humanity Journal 4 . May 2024 Sumber: Bstation Gambar 1. 3 Scene Pada Film Durasi: Episode 2, 48. Sexuality demikian juga sama seperti dalam penelitian (Temizkan & Uslu, 2. yang gender juga terjadi disektor jasa, dimana perempuan menghadapi diskriminasi dan hambatan karir dalam pekerjaan maupun Kemudian penelitian (Bach et al. , 2. budaya Vietnam, memprioritaskan laki-laki dibandingkan perempuan, menurutnya UMKM yang menghadapi lebih banyak kesulitan dalam menjalankan bisnis. Pada scene ini, yang merupakan pertemuan antara Dasiyah dan ayah kandungnya yaitu Pak Idris bersama calon suami Dasiyah dan juga ayahnya. Dalam pertemuan tersebut. Pak Idris mengatakan AuYah, seharusnya sih, selayaknya. Dasiyah ini melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan perempuanAy. Kalimat yang diutarakan Pak Idris seharusnya perempuan hanya boleh melakukan pekerjaan domestic, seperti memasak, membersihkan rumah, dan merawat anak-anak. Perempuan hanya dianggap sebagai pekerja rumah tangga yang harus melayani suami dan menjaga anak, sedangkan laki-laki ditempatkan sebagai pemegang kekuasaan yang harus Patriarki memperlakukan perempuan sebagai objek yang harus melakukan pekerjaan rumah seperti bekerja di sektor formal. Padahal di dalam Al-QurAoan pun dijelaskan bahwa kedudukan pria dan wanita tidak ada pemisahan di antara Menurut (Resky et al. , 2. telah mengindikasikan bahwa pria dan wanita memiliki keserasian dihadapan Allah serta tidak adanya dikotomi antara pria dan wanita dalam menjalankan fungsi dan peran dibumi. Pada scene ini. Dasiyah dan Raia melakukan hubungan seksual layaknya hubungan suami istri. Sebagai bagian dari identitas gender, seksualitas merupakan kelembutan dan kesuburan, serta bagian dari cara laki-laki menunjukkan kekuatan dan kemampuan. Faktor peran seks menurut hasil penelitian (Ineke Fadhillah et al. , 2. terdapat peran seks androgini yang dimiliki individu yang 26 | P a g e Simanjuntak. eScience Humanity Journal 4 . May 2024 Sumber: Bstation Gambar 1. 4 Scene Pada Film merupakan pembauran seimbang antara sifat maskulin dan sifat feminin atau sensitif juga lemah lembut. Durasi: Episode 3, 00. Identity Sumber: Okezone. Gambar 1. 5 Dasiyah (Jeng Ya. Dasiyah atau yang biasa dipanggil Jeng Yah adalah seorang perempuan yang memiliki identitas yang kompleks dan Ia adalah seorang perempuan yang memiliki bakat sebagai peracik saus, tetapi juga memiliki keinginan untuk berjuang melawan tradisi masyarakat yang mengahalangi dia untuk mencapai tujuan menjadi peracik saus kretek Jeng Yah juga memiliki identitas yang terkait dengan budaya Jawa, seperti penggunaan pakaian tradisional Jawa. Dalam film ini. Jeng Yah menunjukkan menghadapi tantangan dan diskriminasi gender yang diterimanya, ia juga berjuang melawan diskriminasi gender dan tradisi masyarakat yang menghalangi dia untuk mencapai tujuan. Seperti dalam studi terdahulu (Peng et al. , 2. yang laki-laki perempuan harus menikmati hak yang sama dan memikul kewajiban yang sama dalam aspek politik, ekonomi, budaya, sosial, dan keluarga. Sumber data: Hasil riset KESIMPULAN Kesimpulan yang bisa ditarik dari penelitian yang berjudul AuAnalisis Semiotika Pada Film Series Gadis Kretek Terhadap Representasi GenderAy ini dengan menggunakan queer theory menunjukkan bahwa film ini menampilkan beberapa stereotip gender yang terkait dengan perempuan, seperti perempuan yang hanya berfungsi sebagai objek yang harus melayani suami dan menjaga anak, serta perempuan yang tidak dianggap layak untuk memiliki tujuan atau kepentingan yang lebih besar. Oleh karena itu, film ini menampilkan beberapa diskriminasi gender yang menghambat perempuan untuk mengembangkan aspirasi mereka karena perempuan dianggap sebagai objek yang lemah tidak seperti lakilaki yang dianggap lebih kuat. REFERENSI