Hubungan Akses Sanitasi Dasar dengan Kejadian Stunting di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Syekh Ahmad Pue Lasadindi Toaya Kecamatan Sindue Kabupaten Donggala Kiki Sanjaya*1. Wahyu Wijaya1. Pitriani1. Nur Hikmah Buchaer2. Sendhy Krisnasari3. Firmansyah3. Riri Suwahyuni Wahid1 1Departemen Kesehatan Lingkungan. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Tadulako 2Departemen Epidemiologi. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Tadulako 3Departemen Promosi Kesehatan dan Perilaku. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Tadulako Author's Email Correspondence (*): kksanjaya92@gmail. ABSTRAK WHO menyatakan bahwa besar stunting menjadi masalah kesehatan masyarakat sebelum usia lima tahun jika prevalensinya 20% atau lebih. Peningkatan yang lebih awal disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain kebersihan atau kesehatan lingkungan. Menurut laporan Riskesdas Sulawesi Tengah tahun 2018, terjadi peningkatan gizi buruk pada balita sebesar 13,8%. Tingkat tertinggi ditemukan di distrik Dongal sebesar 23,5%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara UPTD Puskesmas Syekh Ahmad Pue Lasadindi Toaya dengan munculnya perkembangan penyakit. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif cross-sectional. Pengumpulan sampel menggunakan cluster sample. Populasi penelitian ini terdiri dari 432 anak penderita stunting. Jumlah sampel terdiri dari 100 responden. Data yang diperoleh dievaluasi secara statistik dengan menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada peningkatan faktor dan terjadi ketidakhubungan dimana hasil yang ditemukan responden memiliki air bersih . = 0,. , menggunakan jamban . = 1. , memiliki tempat tidur . = 0,. , dan SPAL . = 0,. Saran dari UPTD Puskesmas Syekh Ahmad Pue Lasadindi Toaya penyedia layanan kesehatan didorong untuk terus memantau pertumbuhan anak secara teratur dan mendidik keluarga tentang pentingnya kebersihan. Kata Kunci: Balita. Stunting. Sanitasi Lingkungan. Published by: Article history : Tadulako University Received : 04 03 2024 Address: Received in revised form : 20 03 2024 Jl. Soekarno Hatta KM 9. Kota Palu. Sulawesi Tengah. Accepted : 01 04 2024 Indonesia. Available online : 30 04 2024 Phone: 6282290859075 licensed by Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Email: preventifjournal. fkm@gmail. PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 1 ABSTRACT WHO states that stunting is a major public health problem before the age of five if the prevalence is 20% or more. The earlier increase was due to several factors, including cleanliness or environmental According to the 2018 Central Sulawesi Riskesdas report, there was an increase in malnutrition in toddlers by 13. The highest rate was found in Donggala district at 23. This study aims to determine the relationship between UPTD Puskesmas Syekh Ahmad Pue Lasadindi Toaya with the emergence of disease development. This type of research is cross sectional quantitative Pengumpulan sampel menggunakan cluster sample. The population of this study consisted of 432 children with stunting. The number of samples consisted of 100 respondents. The data obtained was evaluated statistically using the chi-square test. The results showed that there was an increase in factors and there was no relationship where the results found that respondents had clean water . = . , used a latrine . = 1,. , had a bed . = 0. , and SPAL . = 0. Suggestions from UPTD Puskesmas Syekh Ahmad Pue Lasadindi Toaya health service providers are encouraged to continue to monitor children's growth regularly and educate families about the importance of cleanliness. Keywords : Toddlers. Stunting. Environmental Sanitation. PENDAHULUAN Stunting terjadi ketika seorang anak tidak mendapatkan nutrisi yang cukup untuk mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan otak yang optimal. Malnutrisi dan malnutrisi jangka panjang, terutama kekurangan protein, energi, zat besi, vitamin dan mineral, dapat menyebabkan stunting. Stunting dikenal dengan istilah yang digunakan dalam konteks kesehatan dan gizi untuk menggambarkan kondisi gagal pertumbuhan tubuh anak-anak akibat kekurangan gizi. Meninjau data World Health Organization (WHO), prevalensi stunting pada anak usia dini menjadi masalah kesehatan masyarakat ketika mencapai 20% atau lebih. Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh WHO pada tahun 2020, ditemukan sekitar 22,0% atau sekitar 149,2 juta anak balita di seluruh dunia mengalami stunting. Selain itu, lebih dari separuh anak stunting dunia di bawah usia lima tahun berasal dari Asia, sekitar 53%. Sekitar 41% anak stunting saat ini berasal dari benua Afrika. Pada kategori kawasan Asia. Asia Selatan PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 1 memiliki prevalensi stunting tertinggi sebesar 14,1% dan terendah di kawasan Asia Tengah dengan hanya 0,2% (UNICEF. WHO. World Bank, 2. Data tersebut menunjukkan peningkatan prevalensi stunting dibandingkan tahun 2019, dimana angka stunting mencapai 21,3% atau sekitar 144 juta anak di bawah usia lima tahun. (UNICEF. WHO. The World Bank, 2. Hasil Survei Gizi Indonesia 2021 oleh Kementerian Kesehatan (SSGI) menunjukkan prevalensi stunting di Indonesia tahun ini mencapai 24,4%. Angka tersebut merupakan penurunan prevalensi stunting pada tahun 2018 sebesar 6,4% dari sebelumnya 30,8% (Depkes RI, 2. Selain itu, data prevalensi stunting di Provinsi Sulawesi Tengah tersedia berdasarkan Survei Gizi Anak Usia Dini Indonesia (SSGBI) Kementerian Kesehatan RI Tahun 2021 oleh Balitbangkes. Pada tahun 2019 prevalensi stunting di provinsi ini sebesar 30,09%, namun turun menjadi 29,7% pada tahun 2021. Provinsi Sulawesi Tengah menempati urutan kedelapan dalam daftar provinsi Indonesia dalam hal persentase peningkatan prevalensi stunting (Kemenkes RI. , 2. Menurut data Riskesdas pada 2018, prevalensi status gizi balita stunting dengan cakupan 13,8%. Kasus terbanyak berasal dari Kabupaten Donggala sebesar 23,5% dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya (Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah. Kecamatan Sindue adalah salah satu kecamatan yang menjadi prioritas penanganan stunting di Kabupaten Donggala. Berdasarkan data kasus kejadian stunting yang diperoleh dari kasus kejadian stunting di Kecamatan Sindue, pada tahun 2021 ada 223 kasus yang tercatat di UPTD Puskesmas Syekh Ahmad Pue Lasadindi Toaya, kemudian pada bulan Februari tahun 2022 kejadian stunting mengalami kenaikan menjadi 432 kasus atau ada kenaikan 209 kasus (UPTD Puskesmas Syekh Ahmad Pue Lasadindi Toaya, 2. Berdasarkan fenomena yang telah diuraikan, maka penulis tertarik untuk meneliti AuHubungan Akses Sanitasi Dasar dengan Kejadian Stunting di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Syekh Ahmad Pue Lasadindi Toaya Kecamatan Sindue Kabupaten DonggalaAy. PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 1 METODE Metode yang dilakukan pada penelitian ini berupa survei analitik dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja UPTD Puskesmas Syekh Ahmad Pue Lasadindi Toaya pada 23 Februari hingga 24 Maret 2023. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik Proportional Stratified Sampling, dimana memastikan bahwa proporsi dari karakteristik tertentu dalam populasi diwakili secara proporsional dalam sampel yang diambil. Dalam teknik ini, populasi dibagi menjadi beberapa kelompok yang disebut strata berdasarkan karakteristik yang relevan, seperti usia, jenis kelamin, pendapatan, atau wilayah geografis. HASIL Berdasarkan hasil uji statistik yang diperoleh melalui proses distribusi frekuensi pada responden dan variabel yang telah dianalisis sebagai berikut: Tabel 1. Analisis Univariat Distribusi Karakteristik Responden Karakteristik Responden Laki-laki Perempuan Tidak Sekolah SMP SMA Diploma Sarjana Jenis Kelamin Pendidikan Terakhir Pekerjaan PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 1 Tidak Bekerja Petani Wiraswasta PNS Lainnya < Rp. > Rp. Tidak Memenuhi Syarat Memenuhi Syarat Tidak Memenuhi Syarat Memenuhi Syarat Tidak Memenuhi Syarat Memenuhi Syarat Tidak Memenuhi Syarat Memenuhi Syarat Stunting Tidak Stunting Pendapatan /Bulan Air Bersih Kepemilikan Jamban Ketersediaan Sampah SPAL Kejadian Stunting Sumber : Data Primer, 2023 Berdasarkan tabel 1 dapat dianalisis bahwa jenis kelamin responden di wilayah kerja UPTD Puskesmas Syekh Ahmad Pue Lasadindi Toaya yang tertinggi adalah jenis kelamin perempuan sebesar 51 orang . %). Distribusi responden berdasarkan pendidikan terakhir SD/Sederajat memiliki jumlah terbesar yaitu 40 orang . %). Distribusi responden berdasarkan pekerjaan PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 1 petani/nelayan/buruh memiliki jumlah terbesar yaitu 32 orang . %). Distribusi responden berdasarkan pendapatan per bulan