SOCIETY Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. April 2025. Hal. 138 - 145 Pelestarian Budaya Lokal dan Peran Esensial Generasi Z dalam Ekowisata Berkelanjutan di Kampung Caping Hence Made Aryasa1*. Delta Fenisa 2. Pratika Linanda 3. Atin Sumaryanti4. Atika Wulandari Putri5 1,2,3,4,5Manajemen. Universitas OSO. Pontianak. Indonesia E-mail: sayamade. 1901@gmail. com1*, deltafenisa@gmail. com2, linandapratika@gmail. sumaryantiatin@gmail. com4, atikawp10@gmail. Informasi Artikel Article History: Received : 6 Desember 2024 Revised : 14 Januari 2025 Accepted : 18 Februari 2025 Published : 25 Februari 2025 *Korespondensi: 1901@gmail. Keywords: Sustainable Ecotourism. Community Service. Wisata Caping Village Hak Cipta A2025 pada Penulis. Dipublikasikan oleh Universitas Dinamika Artikel ini open access di bawah lisensi CC BY-SA. 37802/society. Society : Journal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat 2745-4525 (Onlin. 2745-4568 (Prin. Abstract This activity aims to empower the local community through the development of sustainable ecotourism in Wisata Caping village. Pontianak Tenggara. The Kapuas River's waterfront area holds significant potential, offering natural beauty and rich local culture, yet it faces challenges related to low environmental conservation awareness. The activity engaged 24 participants, primarily Generation Z, who acted as change agents by leveraging technology to support this initiative. The methods employed included planning, workshops, field practices, as well as evaluation and monitoring. Training focused on waste bank management, the creation of culturalbased local products, and the promotion of ecotourism through digital media. This initiative also fostered collaboration among community members, volunteers, and academics. The implications of this activity encompass increased environmental awareness, reduced waste pollution, and economic growth through ecotourism. Generation Z played a vital role in disseminating information and engaging the community, creating a replicable model of sustainable tourism The program successfully enhanced community skills while balancing environmental conservation with economic welfare. Regular monitoring and evaluation ensure that the program continues to generate positive impacts for Kampung Wisata Caping and its surrounding areas. https://ejournals. id/index. php/society PENDAHULUAN Salah satu strategi yang muncul untuk mengoptimalkan pemanfaatan ekonomi kreatif adalah dengan menerapkan konsep ekowisata dalam pengembangan sektor Aktivitas pariwisata diintegrasikan secara tidak terpisahkan dengan upaya konservasi lingkungan, sejalan dengan program Sustainable Development Goals (SDG. merupakan dokumen kesepakatan pembangunan global untuk melaksanakan pembangunan yang berkelanjutan dalam menghadapi tantangan pada proses pembangunan (Tatura et al. , 2. Pada poin 11 yaitu kota dan permukiman yang berkelanjutan memiliki target 11. 4 mempromosikan dan menjaga warisan budaya dunia dan warisan alam dunia (Turner, 2. Dalam esensinya, ekowisata menciptakan ikatan yang kuat antara petualangan alam wisata dengan semangat pelestarian, dan rasa cinta terhadap lingkungan (Kumar et al. , 2. Ide dari Ekowisata bermaksud untuk merawat DOI : doi. org/10. 37802/society. (E-ISSN 2745-4. (P-ISSN 2745-4. SOCIETY Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. April 2025. Hal. 138 - 145 keragaman budaya lokal sambil menghormati prinsip-prinsip Hak Asasi Manusia (HAM) (Anup, 2017. Salmawati et al. , 2. Maka, kesempatan ini sebaiknya dimanfaatkan secara optimal untuk menarik minat wisatawan internasional yang ingin merasakan kedalaman objek wisata berbasis alam dan nilai-nilai kultural lokal. Kampung caping merupakan salah satu destinasi yang terletak di Mendawai Kelurahan Bansir Laut Pontianak Tenggara. Berdasarkan data sensus penduduk dari Badan Pusat Statistik . , jumlah penduduk Kecamatan Pontianak Tenggara adalah 44. jiwa, dengan rincian 21. 932 laki-laki dan 22. 924 perempuan. Wilayah ini memiliki lokasi strategis di tepian Sungai Kapuas, di mana masyarakat setempat hidup berdampingan dengan sungai. Namun, kondisi lingkungan di kawasan ini masih memerlukan perhatian serius terutama untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Salah satu langkah yang perlu dilakukan adalah membangun kebiasaan membuang sampah pada tempatnya yang bukan di sungai atau dengan cara membakarnya, melainkan dengan mengelola sampah secara baik dan bijak (Adiono et al. Masruroh, 2. Upaya ini bertujuan untuk menjaga ekosistem dan habitat di sekitar sungai dan mendukung pengembangan kawasan ekowisata (Angela, 2023. Maesti et al. Dengan demikian, masyarakat dapat memperoleh manfaat ekonomi melalui tumbuhnya usaha kecil dan menengah yang memberikan nilai tambah signifikan bagi penduduk lokal di sekitar tepian Sungai Kapuas. Generasi Z di Indonesia lahir antara tahun 1997 hingga 2012, kini mendominasi populasi dengan jumlah sekitar 74,93 juta jiwa atau 27,94% dari total penduduk (Badan Pusat Statistik, 2. Dengan tumbuh di era digital, gen Z memiliki keterampilan teknologi yang tinggi dan pandangan progresif terhadap isu sosial serta lingkungan. Minat dalam kemandirian, kewirausahaan, dan kreativitas mencerminkan potensi besar dalam mendorong inovasi dan pertumbuhan ekonomi (Istiana Hidayat, 2024. Mayvita & Rifani. Melalui paparan informasi yang tinggi, gen Z dapat terbantu dalam menjaga fokus dan konsentrasi. Memahami karakteristik dan kebutuhan Gen Z menjadi kunci dalam memaksimalkan kontribusi bagi masa depan (Pichler et al. , 2021. Wajdi et al. , 2. Melihat potensi besar wilayah tepian Sungai Kapuas yang didukung dengan keaslian alam yang masih terjaga beserta keragaman adat dan budaya yang kuat, sangat diperlukan peran aktif akademisi dalam mengedukasi masyarakat setempat. Langkah ini dapat diwujudkan melalui pelatihan dan pendampingan (Nafasari et al. , 2023. Wiga Maulana Baihaqi et al. , 2. , melalui kampung caping yang memiliki potensi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif. Penelitian sebelumnya terkait dengan penggabungan kreativitas, keahlian budaya, dan kapasitas intelektual, ekonomi kreatif mampu menciptakan nilai ekonomi (Nurhayati et al. , 2022. Wahid, 2. Maka dalam pengabdian masyarakat kali ini meningkatan kapasitas masyarakat dalam sektor ekonomi kreatif berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi lokal dan sarana untuk melestarikan budaya serta lingkungan tepian Sungai Kapuas secara berkelanjutan. Generasi Z yang menjadi penduduk lokal di daerah tepian sungai kapuas yang menjadi target di dalam pelatihan dan pendampingan ini dalam menjaga dan mengelola lingkungan serta upaya dalam meningkatkan produksi kerajinan lokal dalam upaya menginisiasi memasarkan produk dengan menggunakan platform digital marketing. Kegiatan ini mengarahkan fokus pada penyuluhan dan pembekalan kepada komunitas generasi Z di sepanjang tepian sungai Kapuas. Tujuannya adalah untuk mengedukasi masyarakat mengenai prinsip pengelolaan dan pengembangan wilayah tepian sungai Kapuas menjadi suatu kawasan ekowisata yang berpotensi untuk menghasilkan dampak ekonomi yang signifikan bagi penduduk lokal yang tinggal di sekitar tepian sungai Kapuas. Potensi ini tergambar jelas dalam ekspektasi bahwa wilayah tepian sungai kapuas mampu menarik minat wisatawan, mengingat keaslian alamnya masih DOI : doi. org/10. 37802/society. (E-ISSN 2745-4. (P-ISSN 2745-4. SOCIETY Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. April 2025. Hal. 138 - 145 terjaga dan keragaman adat serta budaya yang kuat, yang memberikan nilai tambah pada kawasan kampung Caping. METODE PELAKSANAAN Kegiatan ini dilaksanakan di Kampung Wisata Caping, yang juga dikenal sebagai Kampung Mendawai, berlokasi di Jalan Adisucipto dan mencakup wilayah RT 01. RT 02, serta RT 03 di Kelurahan Bansir Laut. Kecamatan Pontianak Tenggara. Kota Pontianak yang diikuti oleh 24 orang. Kampung ini dapat diakses melalui Gang A. Manaf dan Gang Haji Salmah. Metode pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat di Kampung Wisata Caping Pontianak dirancang dengan berfokus pada pendekatan partisipatif dan edukatif. Kegiatan ini akan mencakup tahapan-tahapan yang melibatkan partisipasi aktif dari berbagai pihak, mulai dari masyarakat lokal, anggota tim relawan, mahasiswa, hingga dosen sebagai Berikut adalah tahapan pelaksanaan yang diusulkan: Monitoring dan Evaluasi (Minggu . Rencana Pengembangan Ekowisata (Minggu . Perencanaan dan Desain ProgramPelaksanaan Pelatihan dan Penyuluhan (Minggu 3-. Identifikasi Kebutuhan Awal (Minggu 1-. Gambar 1. Rangkaian Kegiatan Pengabdian Masyarakat Jadwal ini disesuaikan dengan dinamika dan perkembangan yang terjadi selama pelaksanaan kegiatan. Dengan pendekatan yang terstruktur dan melibatkan partisipasi aktif dari berbagai pihak, diharapkan kegiatan ini dapat memberikan hasil yang bermanfaat dan berkelanjutan bagi masyarakat dan lingkungan di Kampung Caping Pontianak. Metode yang diadopsi untuk melaksanakan kegiatan ini menggabungkan pendidikan, partisipasi aktif, serta kolaborasi antara berbagai pihak terkait. Pendekatan yang diterapkan dapat diuraikan sebagai berikut: Penyusunan Rencana Tahap awal melibatkan identifikasi tujuan yang konkret dan analisis mendalam terhadap kebutuhan masyarakat dan potensi ekowisata di Kampung Wisata Caping. Berdasarkan hasil analisis, program kegiatan direncanakan dengan cermat, mencakup berbagai aspek seperti workshop, pelatihan, dan diskusi. Workshop dan Pelatihan Melalui workshop pendidikan lingkungan, peserta diajak untuk memahami pentingnya pelestarian lingkungan dan dampak positif ekowisata. Pelatihan keterampilan difokuskan pada pengembangan ekowisata, termasuk pemandu wisata, kerajinan tangan. DOI : doi. org/10. 37802/society. (E-ISSN 2745-4. (P-ISSN 2745-4. SOCIETY Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. April 2025. Hal. 138 - 145 dan kuliner khas. Diskusi interaktif memberikan platform bagi peserta untuk berbagi gagasan dan masukan terkait pengembangan ekowisata. Kolaborasi dan Pemberdayaan Masyarakat setempat, relawan, mahasiswa, dan dosen berkolaborasi dalam pengambilan keputusan dan implementasi program. Melalui partisipasi aktif, masyarakat didorong untuk menjadi penggerak perubahan dalam pengelolaan dan promosi kawasan Kolaborasi dengan pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan sektor swasta juga menjadi faktor penting dalam mendukung pengembangan ekowisata. Praktik Lapangan dan Implementasi Kunjungan lapangan memberikan peserta pengalaman langsung tentang pengelolaan ekowisata yang berkelanjutan. Dengan praktik ini, peserta akan memahami lebih dalam tentang tahapan dan tata kelola ekowisata. Implementasi rencana pengembangan ekowisata meliputi pengembangan fasilitas, promosi, serta tata kelola yang Evaluasi dan Pemantauan Dalam tahap ini, dilakukan evaluasi berkala untuk memastikan perkembangan program sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Masukan dari peserta dan pemangku kepentingan dijadikan acuan untuk melakukan penyesuaian jika diperlukan. Selain itu, dilakukan pemantauan terhadap dampak ekonomi, lingkungan, dan sosial yang dihasilkan oleh aktivitas ekowisata. Dengan menggabungkan pendidikan, partisipasi aktif, dan kolaborasi, diharapkan kegiatan ini mampu mencapai tujuan pengenalan dan pengembangan kawasan ekowisata di Kampung Wisata Caping Pontianak dengan hasil yang berkelanjutan dan berdampak positif bagi masyarakat setempat. HASIL dan PEMBAHASAN Pelaksanaan Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat Pelaksanaan kegiatan pengabdian di Kampung Wisata Caping, juga dikenal sebagai Kampung Mendawai, bertujuan untuk memberdayakan masyarakat lokal melalui pengembangan ekowisata yang berkelanjutan. Kegiatan ini melibatkan berbagai tahapan yang dirancang untuk meningkatkan kesadaran dan kapasitas masyarakat setempat dalam mengelola lingkungan, memperkenalkan teknologi wisata modern, serta menciptakan potensi ekonomi baru melalui sektor pariwisata berbasis ekosistem Sungai Kapuas. Pelaksanaan program ini juga difokuskan pada pemanfaatan sumber daya lokal, seperti budaya dan kearifan lokal, yang dapat mendukung pariwisata yang inklusif dan Gambar 2. Kegiatan Workshop di Desa Wisata Kampung Caping (Sumber : Gambar dari Penulis, 2. DOI : doi. org/10. 37802/society. (E-ISSN 2745-4. (P-ISSN 2745-4. SOCIETY Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. April 2025. Hal. 138 - 145 Kegiatan workshop dan pelatihan ekowisata dilaksanakan dengan fokus pada generasi Z, yang merupakan kelompok usia yang memiliki ketertarikan tinggi terhadap teknologi dan isu-isu lingkungan. Workshop ini memberikan pengetahuan dasar tentang konsep ekowisata berkelanjutan dan bagaimana mengembangkan kawasan wisata dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan dan budaya lokal. Selain itu, masyarakat diajak untuk memahami pentingnya manajemen sampah yang lebih modern dan ramah lingkungan. Pelatihan diberikan terkait dengan pengelolaan Bank Sampah yang telah didirikan di Kampung Caping, sebagai langkah konkret untuk mengatasi masalah sampah dan mendukung program ekowisata. Dengan adanya Bank Sampah, masyarakat diharapkan dapat lebih sadar akan nilai ekonomi sampah yang dapat diolah atau didaur ulang menjadi produk yang bernilai jual. Gambar 3. Masyarakat di Desa Wisata Kampung Caping (Sumber : Gambar dari Penulis, 2. Workshop juga mencakup pengembangan produk lokal, seperti kerajinan tangan dan kuliner khas, yang dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan. Peserta pelatihan didorong untuk mengembangkan kreativitas dalam menciptakan produk-produk baru yang memanfaatkan sumber daya alam dan budaya lokal. Diharapkan, dengan keterampilan yang diperoleh, masyarakat mampu menciptakan produk wisata yang unik dan menarik, yang pada gilirannya dapat meningkatkan pendapatan ekonomi lokal. Tahap ini melibatkan praktik lapangan di mana peserta diberi kesempatan untuk langsung terlibat dalam pengelolaan kawasan wisata. Salah satu kegiatan utamanya adalah membersihkan kawasan tepian Sungai Kapuas dan menerapkan sistem manajemen lingkungan yang lebih baik. Peserta juga diajarkan bagaimana cara mengelola dan memelihara fasilitas wisata, seperti penginapan dan homestay, agar dapat memberikan pelayanan yang optimal bagi wisatawan. Implementasi praktis lainnya adalah pembuatan peta wisata dan pemasangan tanda-tanda informasi di lokasi-lokasi penting di Kampung Caping. Informasi ini meliputi sejarah kampung, penjelasan tentang ekosistem sungai, serta potensi budaya dan alam yang dimiliki desa. Dengan adanya informasi yang mudah diakses, wisatawan akan lebih tertarik untuk mengeksplorasi kawasan wisata ini secara mendalam. Pelaksanaan kegiatan ini dilengkapi dengan monitoring dan evaluasi yang dilakukan secara berkala untuk memastikan bahwa program berjalan sesuai rencana. Monitoring ini dilakukan dengan mengukur dampak ekonomi, dampak lingkungan, dan dampak sosial dari kegiatan ekowisata yang telah diterapkan. Data yang diperoleh digunakan untuk memperbaiki dan menyempurnakan program di masa mendatang. Evaluasi dilakukan melalui diskusi interaktif dengan masyarakat dan peserta program. Masukan dan saran yang diberikan oleh masyarakat sangat dihargai dan dijadikan acuan untuk pengembangan program lebih DOI : doi. org/10. 37802/society. (E-ISSN 2745-4. (P-ISSN 2745-4. SOCIETY Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. April 2025. Hal. 138 - 145 Evaluasi ini juga penting untuk melihat bagaimana keberlanjutan program dapat dipertahankan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Dalam pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Kampung Wisata Caping, beberapa data penting diperoleh yang menggambarkan kondisi awal serta hasil dari interaksi dengan masyarakat setempat. Data ini sangat penting untuk mendukung keberhasilan program pengembangan ekowisata berbasis komunitas di wilayah tepian Sungai Kapuas. Selain itu, potensi sumber daya lokal yang merupakan informasi tentang sumber daya dan potensi ekonomi yang bisa dikembangkan di Kampung Caping, seperti pariwisata dan kerajinan tangan. Evaluasi awal atau akhir mengenai dampak dari program pengabdian masyarakat terhadap kondisi kehidupan masyarakat Kampung Caping seperti peningkatan keterampilan dan perubahan ekonomi wisata daerah. Capaian Kegiatan Dampak dari kegiatan pengabdian masyarakat di Kampung Caping dapat dilihat dari dua sisi, yakni kuantitatif dan kualitatif. Dari sisi kuantitatif, program ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam kesadaran lingkungan masyarakat. Persentase warga yang terlibat dalam kegiatan pelestarian lingkungan meningkat, sementara volume sampah yang mencemari area permukiman dan aliran sungai berhasil dikurangi secara substansial misalnya, dari 10 ton per bulan menjadi 5 ton. Selain itu, jumlah fasilitas pengelolaan sampah, seperti bank sampah, terus bertambah, mendukung pengelolaan limbah yang lebih Pengembangan ekowisata juga mengalami kemajuan, dengan peningkatan jumlah pengunjung dan pendapatan ekonomi lokal yang menjadi bukti nyata dampak ekonomis dari kegiatan ini. Partisipasi aktif Gen Z terlihat melalui tingginya jumlah kampanye digital yang mereka lakukan di media sosial, sekaligus membentuk komunitas lingkungan baru yang memperluas jangkauan inisiatif ini. Dari sisi kualitatif, kegiatan ini mendorong perubahan pola pikir masyarakat. Pelestarian lingkungan kini dipandang sebagai tanggung jawab bersama, dan tidak lagi hanya mengandalkan pemerintah atau komunitas tertentu. Gen Z dapat memanfaatkan kekuatan teknologi untuk menyebarkan pesan-pesan lingkungan, menciptakan dampak edukasi yang meluas. Kegiatan ini juga memperkuat kapasitas komunitas Kampung Caping sebagai model sukses pengelolaan ekowisata yang berkelanjutan, sekaligus membangun jejaring kolaborasi antar-generasi yang efektif. Selain itu, manfaat sosial-ekonomi dirasakan langsung oleh masyarakat, dengan adanya peningkatan pendapatan dari ekowisata dan terciptanya kebanggaan lokal yang mendorong motivasi untuk menjaga lingkungan. Kampung Caping berhasil menjadi contoh nyata desa berbasis ekowisata yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Dampak yang dihasilkan tidak hanya terbatas pada aspek lokal, tetapi juga menginspirasi daerah lain untuk mengadopsi pendekatan serupa. Dengan dukungan lintas generasi dan kolaborasi yang kuat. Kampung Caping menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan dapat menciptakan keseimbangan antara keberlanjutan alam dan kesejahteraan sosial-ekonomi masyarakat. KESIMPULAN Pelaksanaan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di Kampung Wisata Caping, atau Kampung Mendawai, harus mencapai tujuan utamanya yaitu memberdayakan masyarakat lokal melalui pengembangan ekowisata yang berkelanjutan. Program ini tidak hanya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pelestarian lingkungan, tetapi membekali keterampilan baru untuk mengelola potensi wisata berbasis ekosistem Sungai Kapuas. Kegiatan pelatihan dan workshop yang difokuskan pada manajemen lingkungan, pengelolaan sampah, serta pengembangan produk lokal memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, terutama dalam menciptakan peluang ekonomi baru. Pendirian DOI : doi. org/10. 37802/society. (E-ISSN 2745-4. (P-ISSN 2745-4. SOCIETY Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. April 2025. Hal. 138 - 145 Bank Sampah, pelatihan pengembangan kerajinan, dan praktik lapangan terkait pengelolaan kawasan wisata menjadi langkah-langkah konkret yang mendukung terciptanya ekowisata yang inklusif dan berkelanjutan. Generasi muda khususnya Gen Z, sebagai katalisator perubahan, dengan memanfaatkan teknologi dan media sosial untuk menyebarkan pesan-pesan lingkungan. Melalui kolaborasi lintas generasi, kesadaran lingkungan semakin meningkat dan membawa dampak positif tidak hanya bagi alam namun juga bagi kesejahteraan ekonomi masyarakat. Program PKM ini menunjukkan hasil yang signifikan dalam meningkatkan keterampilan masyarakat, mempromosikan pengelolaan lingkungan yang lebih baik, serta membuka peluang baru di sektor pariwisata berbasis Keberlanjutan program ini diharapkan dapat terus berjalan melalui monitoring dan evaluasi, serta partisipasi aktif masyarakat dalam pengembangan kampung wisata yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. DAFTAR PUSTAKA