Buletin Ilmiah IMPAS Volume 25 No. 3 Edisi November 2024 p-ISSN: 0853-7771 e-ISSN: 2714-8459 KONTRIBUSI PENDAPATAN USAHATANI KOPI TERHADAP PENDAPATAN RUMAH TANGGA PETANI DI DESA DETUSOKO BARAT KABUPATEN ENDE (The Contribution of Coffee FarmAos Income towards Farmer HouseholdAos Income at Desa Detusoko Barat. Kabupaten End. Oleh: Onesimus Tricahyo Agramedha Jeharu. Charles Kapioru: Maria Fransiska Darlen. Damianus Adar Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian,Universitas Nusa Cendana Alamat Email Korespondensi: topanjeharu@gmail. Diterima: 04 Juli 2024 Disetujui: 15 Juli 2024 ABSTRACT This research aims to determine the amount of coffee farming income and the magnitude of the contribution of coffee farming to farmer household income. Data collection was carried out in West Detusoko Village. Detusoko District. Ende Regency, because it is one of the coffee producing areas. The population in this study was taken based on the number of family heads in West Detusoko Village, namely 219 people. The sample was determined using a simple random sampling method and calculated using the Slovin formula with a sample size of 69 respondents. The analytical method used in this research is a qualitative-quantitative descriptive method, income analysis and contribution analysis. The research results showed that the amount of income obtained by 69 respondents from coffee farming was IDR. 862/year/farmer. Income from rice farming is Rp. 2,135,848/planting season/farmer, so that in 1 year the farmer's income is Rp. 4,271,696/year/farmer, because they carry out two planting seasons in 1 year. Meanwhile, income outside the agricultural sector of 33 respondents who have businesses outside the agricultural sector was IDR. 061/year/farmer. So, the total income of farmer households is Rp. 619/year/farmer. Coffee farming contributes 48. 47% to the household income of farmers. This shows that coffee farming does not contribute significantly to farmer household income. Keywords : household income, contribution, coffee farmAo income ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah pendapatan usahatani kopi dan besarnya kontribusi usahatani kopi terhadap pendapatan rumah tangga petani. Pengumpulan data dilakukan di Desa Detusoko Barat Kecamatan Detusoko Kabupaten Ende, karena merupakan salah satu daerah penghasil kopi. Populasi dalam penelitian ini diambil berdasarkan jumlah kepala keluarga yang ada di Desa Detusoko Barat, yakni 219 orang. Penentuan sampel menggunakan metode simple random sampling dan dihitung menggunakan rumus slovin dengan jumlah sampel 69 responden. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif-kuantitatif, analisis pendapatan dan analisis kontribusi. Hasil penelitian menunjukan bahwa besarnya pendapatan yang diperoleh 69 responden dari usahatani kopi yaitu sebesar Rp. 862/tahun/petani. Pendapatan dari usahatani padi sawah sebesar Rp. 848/musim tanam/petani, sehingga dalam satu tahun rata-rata pendapatan petani dari usahatani padi sawah sebesar Rp. 696/tahun/petani, karena petani melakukan dua kali penanaman dalam 1 tahun. Sedangkan, pendapatan di luar sektor pertanian sebesar Rp. 061/tahun/petani. Jadi, total pendapatan rumah tangga petani yaitu Rp. 619/tahun/petani. Usahatani kopi menyumbang 48,47% terhadap pendapatan rumah tangga petani. Hal ini menunjukan bahwa usahatani kopi kurang berkontribusi secara terhadap pendapatan rumah tangga petani. Kata Kunci : pendapatan rumah tangga, kontribusi, pendapatan usahatani kopi PENDAHULUAN Kopi merupakan salah satu komoditi andalan dalam sektor perkebunan Indonesia. Kopi cukup berperan penting bagi kemajuan di Indonesia, yakni sebagai sumber penerimaan negara, sumber devisa negara, penghasil bahan baku industri, dan penyedia lapangan kerja pada industri pengolahan, pemasaran. Jeharu, et all. Kontribusi Pendapatan Usahatani Kopia. Page 80 ekspor, dan impor (Chandra, 2. Hal ini memberikan peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan pangsa pasar ekspor kopi, baik jenis barang kopi spesialti maupun olahan, berdasarkan prospek pasar yang cenderung meningkat. Indonesia adalah pengekspor kopi terbesar ketiga di dunia, menurut statistik dari International Coffee Organization (ICO) tahun 2015 dalam Tania dkk . Kuantitas . ekspor dan nilai ekspor kopi memberikan bukti kontribusi nilai komoditas tersebut terhadap perekonomian Indonesia. Kopi Detusoko di Kabupaten Ende merupakan brand kopi yang mulai berkembang dari segi manajemen dan penjualan. Jenis kopi yang ditanam di Desa Detusoko Barat, yaitu Kopi Robusta dan Kopi Arabika. Kopi Detusoko sangat unik karena hadir dalam berbagai bentuk dan dijadikan sebagai ajang atraksi wisata kopi bagi para wisatawan, seperti biji kopi yang dibuat menjadi gelang kopi dan juga dibuat sebagai pengharum ruangan. Namun, dalam mengembangkan usahatani kopi, petani belum dapat meraih keuntungan optimal karena keterbatasan pengetahuan mereka mengenai faktor-faktor yang mendukung produksi tanaman kopi. Kondisi ini mempengaruhi kesuksesan panen dan jumlah kopi yang dihasilkan, yang pada akhirnya berdampak pada besarnya kontribusi pendapatan dari usahatani kopi. Komponen produksi lahan mempunyai arti penting dalam pertanian. Hal ini ditunjukkan dengan besarnya ganti rugi yang diperoleh tanah tersebut dibandingkan dengan komponen lainnya. Besarnya lahan yang ditanam akan menentukan banyaknya tanaman yang ditanam. Hal ini selanjutnya akan menentukan berapa banyak kopi yang dihasilkan. Peluang perekonomian untuk meningkatkan output dan pendapatan akan semakin besar jika luas lahan petani cukup luas (Soekartawi, 2. Selain luas lahan. Soekartawi . mengemukakan bahwa modal kerja adalah sejumlah uang yang selalu tersedia untuk mendukung suatu usaha yang menghubungkan kesenjangan antara biaya pembelian barang atau jasa dengan waktu yang diperlukan untuk memperoleh pendapatan. Tanpa adanya modal, suatu usaha tidak dapat berjalan. Terlepas dari terpenuhinya berbagai prasyarat untuk memulai suatu usaha. Modal merupakan unsur yang menentukan seberapa besar produksi dan biayanya. Keterbatasan modal dalam usahatani akan membuat sarana produksi menjadi sangat terbatas, sehingga akan mempengaruhi produksi dan pendapatan. Selain luas lahan dan modal, terdapat jumlah Soekartawi . mengemukakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah produksi dibagi menjadi dua kelompok, . unsur hayati, seperti tanah yang dipupuk dengan tingkat kesuburan yang berbeda-beda, pupuk, benih, dan lain . elemen sosial ekonomi, antara lain biaya tenaga kerja, pengeluaran bisnis, pendapatan, dan pendidikan. Suratiyah . menegaskan bahwa tingkat minat yang tinggi terhadap inovasi juga akan menyebabkan tingginya biaya yang harus dikeluarkan petani, sehingga menghasilkan gaji yang lebih besar bagi mereka dengan biaya yang sama. Selain itu, dengan asumsi bahwa petani berhasil dalam hal memperluas produksi, akan tetapi harganya turun, pendapatan petani juga akan turun. Pada kenyataannya, ada beberapa tantangan dalam menanam kopi yang dapat mengurangi Tantangan-tantangan ini mencakup fakta bahwa petani menggunakan lahan untuk tanaman lain selain kopi, harga kopi yang tidak menentu dan fakta bahwa rata-rata harga input pertanian naik lebih cepat dibandingkan harga Petani terpaksa meningkatkan biaya produksi atau justru mengurangi jumlah input yang digunakan sebagai akibat dari keputusan pemerintah untuk menghilangkan subsidi input pertanian. Volume produksi dan pendapatan pertanian akan terkena Sulitnya menjalankan usaha perkebunan kopi melatarbelakangi para petani yang mencari alternatif penghasilan dari pekerjaan sebagai kuli, supir, pedagang, buruh pabrik, pekerja kantoran. Aparatur Sipil Negara (ASN), serta tetap menjalankan usaha pertanian lainnya, yaitu padi. Untuk menentukan seberapa besar kontribusi pendapatan dari penanaman kopi terhadap keluarga petani, diperlukan suatu analisis karena usaha-usaha tersebut yang mendukung pendapatan rumah tangga petani. Pendapatan rumah tangga mempunyai tiga sumber pendapatan, yaitu usahatani kopi, usahatani lainnya . adi sawah, holtikultura, dan terna. yang hanya berfokus pada usahatani padi sawah karena padi sawah merupakan usahatani yang utama di Desa Detusoko Barat, dan non usahatani. METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Desa Detusoko Barat. Kecamatan Detusoko. Kabupaten Ende. Lokasi penelitian ini ditentukan secara sengaja . dengan pertimbangan bahwa di Desa Detusoko Barat merupakan desa yang sebagian besar penduduknya melakukan usahatani kopi. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Oktober sampai dengan November 2023. Jeharu, et all. Kontribusi Pendapatan Usahatani Kopia. Page 81 Buletin Ilmiah IMPAS Volume 25 No. 3 Edisi November 2024 Sumber Data Dalam penelitian ini terdapat 2 sumber data yang digunakan, yaitu . Data primer,yakni data pengamatan langsung yang dilakukan peneliti di lokasi penelitian maupun hasil wawancara yang dilakukan terhadap responden, dalam hal ini petani pemilik lahan kopi dengan menggunakan kuesioner sebagai pedomannya. , . data sekunder, yakni data yang didapat melalui kelompok atau dinas, seperti data dari BPS (Badan Pusat Statusti. Indonesia dan Provinsi NTT, jurnal, artikel serta sumber data Metode Penentuan Sampel Pada penelitian ini metode yang digunakan untuk menentukan sampel yakni metode simple random Penentuan jumlah sampel menggunakan rumus Slovin guna menghitung jumlah minimal sampai yang dapat mewakili suatu populasi. Jumlah rumah tangga petani yang ada di Detusoko Barat yakni 219 orang, maka sampel yang didapat yakni sebagai berikut: ycA n = 1 ycA. 2 1 219 . 2 = 68,65 = 69 orang . Jadi, 69 responden rumah tangga petani . epala keluarg. merupakan sampel yang digunakan dalam penelitian ini. Dimana : = jumlah sampel/jumlah responden. = Ukuran populasi. = 0,1 . %), dimana itu berarti keakuratan kesalahan pengambilan sampel yang mungkin masih dapat diterima. Metode Analisis Data Untuk mencapai tujuan pertama, yaitu mengetahui jumlah pendapatan dari usahatani kopi, dilakukan analisis pendapatan. Menurut Soekartawi . , rumus analisis pendapatan usahatani, yaitu : I = TR Ae TC Dimana : = Income (Pendapata. TR = Total Revenue (Penerimaa. TC = Total Cost (Biay. Untuk menghitung penerimaan usahatani menurut Soekartawi . , digunakan rumus : TR = P x Q Dimana : TR = Total Revenue . = Price . p-ISSN: 0853-7771 e-ISSN: 2714-8459 = Quantity (Jumlah Produks. Untuk mengitung biaya produksi usahatani kopi menurut Soekartawi . , digunakan rumus: TC = TVC TFC Dimana : = Total Cost . otal biay. TVC = Total Variabel Cost . otal biaya TFC = Total Fixed Cost . otal biaya teta. Untuk menjawab tujuan kedua, yaitu besarnya kontribusi usahatani kopi terhadap pendapatan rumah tangga petani (%), maka dilakukan analisis kontribusi atau dukungan yang dapat diberikan oleh satu objek ke objek lainnya. Data dievaluasi dengan mengalikan total pendapatan rumah tangga petani dengan 100% dan memperkirakan jumlah uang yang diperoleh dari budidaya kopi (Suratiyah, 2. Untuk menentukan kontribusi usahatani kopi terhadap pendapatan rumah tangga petani, pendapatan rumah tangga harus diketahui terlebih dahulu. Pendapatan rumah tangga adalah jumlah keseluruhan dari semua sumber pemasukan, termasuk usahatani kopi, usahatani padi sawah, serta sumber-sumber lainnya. Setelah diketahui pendapatan rumah tangga petani kopi, maka untuk menjawab tujuan yang kedua digunakan rumus Suratiyah . ycyeU ycyc = y yayaya% ycyeeyei Keterangan: KK = Kontribusi usahatani kopi (%) ycEyco = Pendapatan usaha tani kopi (R. ycEycyc = Total pendapatan rumah tangga petani HASIL DAN PEMBAHASAN Penerimaan Penerimaan merujuk pada jumlah keseluruhan pendapatan yang diterima oleh produsen atau petani dari hasil kegiatan produksi, sebelum dikurangi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan selama proses Menurut Soekartawi . , penerimaan dapat dihitung sebagai selisih antara total penerimaan dan biaya-biaya yang dikeluarkan. Berdasarkan pada hasil penelitian, terdapat 2 jenis kopi yang ada di di Desa Detusoko Barat, yakni Kopi Robusta dan Kopi Arabika. Harga jual kopi Robusta di Desa Detusoko Barat adalah 35. 000/kg, sedangkan harga jual Kopi Arabika adalah 000/kg. Total produksi Kopi Arabika adalah 36 kg/tahun/petani, sedangkan total produksi Kopi Robusta adalah 113 kg/tahun/petani. Jadi, total produksi kopinya yakni 149 kg/tahun/petani. Jeharu, et all. Kontribusi Pendapatan Usahatani Kopia. Page 82 yang dicapai. Biaya tenaga kerja dan penggilingan adalah dua contoh biaya variabel yang terkait dengan penanaman kopi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 3 di bawah ini. Tabel 1. Penerimaan Kopi Arabika dan Kopi Robusta N Jenis Kopi Arabika Robusta Total Harga Produksi . g/petan. Penerimaan (Rp/petan. Tabel 3. Biaya Variabel Usahatani Kopi Biaya Variabel Jumlah Tenaga Kerja Penggilingan Jumlah (Rp/petan. Sumber : Hasil Olahan Data Primer, 2023 Sumber : Hasil Olahan Data Primer, 2023 Berdasarkan tabel 1, dapat diketahui bahwa Kopi Arabika Rp. 000/tahun/petani dan penerimaan Kopi Robusta yaitu Rp. 000/tahun/petani. Mengacu pada pernyataan Soekartawi . , dimana penerimaan merupakan selisih antara penerimaan total dan biayabiaya, maka penerimaan dari usahatani kopi di Desa Detusoko Barat yaitu Rp. 000 tahun/petani dimana rata-rata luas lahan petani 0,05 Ha . Dari tabel 3 di atas, dapat diketahui bahwa biaya variabel yang dikeluarkan oleh petani yaitu biaya tenaga kerja dengan Rp. 500/petani dan biaya 000/petani. Jadi, total biaya variabel yang dikeluarkan oleh petani kopi di Desa Detusoko Barat yaitu Rp. 500/petani. Biaya Suratiyah . menjelaskan bahwa biaya merupakan nilai korbanan yang dikeluarkan untuk memperoleh hasil. Petani kopi menanggung dua jenis biaya: biaya tetap dan biaya variabel. Biaya Tetap Tabel 2. Penyusutan Alat Usahatani Kopi No. Jenis Alat Karung Terpal Keranjang Total Biaya Penyusutan (Rp/Tahun/Petan. Sumber : Hasil Olahan Data Primer,2023 Berdasarkan tabel 2 di atas dapat disimpulkan bahwa biaya penyusutan alat usahatani kopi yang Rp. 239/tahun/petani. Kemudian, penyusutan keranjang Rp. 520/tahun/petani. Sedangkan biaya penyusutan alat yang paling kecil adalah karung yaitu Rp. 129/tahun/petani. Jadi, total keseluruhan biaya penyusutan alat yaitu Rp. 888/tahun/petani. Biaya Variabel Biaya variabel merupakan pengeluaran yang besarnya tergantung pada tingkat produksi Pendapatan Usahatani Kopi Seluruh pendapatan bersih dari seluruh usahatani, atau selisih antara total pendapatan dengan total pengeluaran yang dikeluarkan, inilah yang didefinisikan oleh Hadisapoetra . sebagai pendapatan usahatani. Pendapatan usahatani kopi dapat dilihat pada tabel 4. Berikut. Tabel 4. Pendapatan Usahatani Kopi Uraian Nilai Biaya Produksi Biaya Variabel Biaya Tenaga Kerja (Rp/Tahun/Petan. Biaya penggilingan (Rp/tahun/petan. Total Biaya Variabel (Rp/Tahun/Petan. Biaya Tetap Pajak (Rp/Tahu. Penyusutan Peralatan (Rp/Petan. Total Biaya Tetap(Rp/Petan. Total Biaya Produksi (Rp/Petan. Penerimaan Penerimaan Kopi Robusta Produksi Kopi Robusta (Kg/tahun/petan. Harga Kopi Robusta (Rp/k. Penerimaan Kopi Robusta (Rp/Tahun/Petan. Penerimaan Kopi Arabika Produksi Kopi Arabika (Kg/Tahun/Petan. 36 Harga Kopi Arabika (Rp/k. Penerimaan Kopi Arabika (Rp/Tahun/Petan. Total Penerimaan (Rp/tahun/petan. Jeharu, et all. Kontribusi Pendapatan Usahatani Kopia. Page 83 Buletin Ilmiah IMPAS Volume 25 No. 3 Edisi November 2024 Total Pendapatan (Rp/tahun/petan. Sumber : Hasil Olahan Data Primer, 2023 Berdasarkan hasil wawancara dengan petani responden, alasan utama produksi Kopi Robusta di Desa Detusoko Barat jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Kopi Arabika yaitu, perawatan Kopi Robusta lebih mudah karena Robusta lebih tahan terhadap serangan hama penyakit karena kandungan kafein dan asam klorogeniknya sangat tinggi yang berfungsi sebagai pestisida alami. Hal ini juga yang menjadi alasan utama mengapa harga Kopi Robusta jauh lebih murah dibandingkan Kopi Arabika. Merujuk pada teori yang dikemukakan oleh Hadisapoetro . , dimana pendapatan merupakan selisih antara total penerimaan dan biaya, maka pendapatan yang diperoleh petani responden di Desa Detusoko Barat adalah Rp. 862/tahun/petani. Penelitian ini berbanding terbalik dengan penelitian Ngocing . terkait kontribusi pendapatan usahatani kopi terhadap pendapatan bruto petani kopi di Desa Colol Kecamatan Poco Ranaka Timur Kabupaten Manggarai timur. Hasil penelitian menunjukan bahwa total pendapatan petani Rp. 000/tahun/Ha rata-rata 000/tahun/petani. Penelitian ini sejalan dengan studi yang dilakukan oleh Latifah . mengenai pengaruh penanaman kopi Robusta terhadap pendapatan rumah tangga Desa Dadakitang. Kecamatan Baolan,Kabupaten Tolotoli . tudi kasus: Kelompok Tani Sipajujung. Berdasarkan temuan penelitian, seorang petani yang menanam kopi Robusta menghasilkan Rp 5. 635 per hektar setiap tahunnya, yang berarti usahatani kopi robusta tidak berkontribusi besar terhadap pendapatan rumah tangga Berdasarkan temuan wawancara petani, penyebab utama adalah produksi Kopi Robusta di Desa Detusoko Barat jauh lebih besar dibandingkan Kopi Arabika yaitu, perawatan Kopi Robusta lebih mudah karena Robusta lebih tahan terhadap serangan hama penyakit karena kandungan kafein dan asam klorogeniknya sangat tinggi yang berfungsi sebagai pestisida alami. Hal ini juga yang menjadi alasan utama mengapa harga Kopi Robusta jauh lebih murah dibandingkan Kopi Arabika. Di Desa Detusoko Barat rata-rata produksi kopi sebesar 149 kg/tahun dengan rata-rata luas lahan petani 0,05 Ha . Apabila luas lahan petani dikonversikan ke 1 Ha maka rata-rata produktivitas kopi di Desa Detusoko Barat sebesar 0,298 kg/Ha. Nilai tersebut berada di bawah rata-rata, jika p-ISSN: 0853-7771 e-ISSN: 2714-8459 dibandingkan produktivitas nasional yakni 707 kg/Ha (Nasution, 2. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa pendapatan dari usahatani kopi belum cukup untuk untuk memenuhi kebutuhan keluarga karena sempitnya lahan yang digunakan untuk usahatani kopi. Pendapatan Usahatani Padi Sawah Pendapatan rumah tangga petani di Desa Detusoko Barat selain bersumber dari usahatani kopi juga bersumber dari usahatani lainnya, seperti usahatani padi sawah. Usahatani padi sawah merupakan kegiatan bercocok tanam dengan komoditi tanaman pangan yang biasanya identik dengan pertanian rakyat. Usahatani padi sawah di Desa Detusoko Barat dilakukan dilakukan 2 kali musim tanam dalam 1 tahun dan dipanen pada Bulan Juli dan Desember. Berikut tabel pendapatan usahatani padi sawah di Desa Detusoko Barat. Tabel 5. Pendapatan Usahatani Padi Sawah Uraian No. Total Biaya (TC) Total Penerimaan (TR) Pendapatan (TRTC) Jumlah Jumlah (Rupiah (Rupiah /musim /tahun/petan. tanam/petan. Sumber : Hasil Olahan Data Primer, 2023 Berdasarkan tabel 5 diatas dapat diketahui bahwa pendapatan dalam 1 musim tanam diperoleh dari selisih antara total penerimaan dan dan total biaya, yakni Rp. 848/musim tanam /petani. Sehingga pendapatan usahatani padi sawah dalam 1 tahun . kali musim tana. adalah Rp. 694/tahun/petani. Pendapatan Non Usahatani Pendapatan non usahatani adalah penghasilan yang diperoleh dari kegiatan di luar sektor pertanian. Di Desa Detusoko Barat, masyarakat bukan hanya bekerja di bidang pertanian saja, tetapi juga ada yang bekerja di luar sektor pertanian, contohnya pedagang, supir. PNS, aparat desa, dan lain sebagainya. Pendapatan non Usahatani di Desa Detusoko Barat dapat dilihat pada tabel 6 di bawah ini. Tabel 6. Pendapatan Non Usahatani Jeharu, et all. Kontribusi Pendapatan Usahatani Kopia. Page 84 No. Jenis Pekerjaan Non Usahatani (Rp/Bula. Tanpa Pekerjaan Sampingan Pedagang Sopir Ojek Tukang Aparat Desa Lainnya Sumber : Hasil Olahan Data Primer, 2023 Jumlah Orang Pendapatan (Rp/Bula. Pendapatan (Rp/Tahu. -pendapatan suatu rumah tangga dikatakan tinggi jika kontribusi terhadap pendapatan usahatani dianggap 261rendah jika kurang dari 50%. Menurut Salbiah dalam Aminah . , 435usahatani kopi memberikan kontribusi yang cukup 043besar terhadap pendapatan rumah tangga petani, karena 000hanya mencapai 48,47%. Tetapi apabila merujuk pada 181tabel di atas, maka kontribusi usahatani kopi tergolong kontribusi usahatani lebih dari 50%. Sebaliknya Jumlah (R. Rata-rata (Rp/Oran. besar jika dibandingkan dengan usahatani padi sawah 061dan non usahatani. Ini menunjukkan usahatani kopi Sumber : Hasil Olahan Data Primer, 2023 Berdasarkan tabel 6, dapat disimpulkan bahwa total pendapatan keseluruhan petani dari sektor nonpertanian adalah Rp. 181 per tahun, dengan ratarata Rp. 061 per tahun per orang. Dengan adanya pekerjaan di luar sektor pertanian ini petani memperoleh pendapatan untuk memenuhi kebutuhan Kontribusi Usahatani Kopi Terhadap Pendapatan Rumah Tangga Petani Kontribusi usahatani mengacu pada sejauh mana sektor usahatani menyumbang terhadap pendapatan atau perekonomian masyarakat secara keseluruhan. Untuk mengukur kontribusi pendapatan usahatani kopi terhadap pendapatan rumah tangga, digunakan rumus kontribusi yang dikemukakan oleh Suratiyah . yc ycyc = yc yeU y yayaya% yeeyei = 48,47% Pendapatan rumah tangga petani merupakan gabungan dari pendapatan usahatani kopi, pendapatan dari usahatani lainnya, serta pendapatan dari sektor non-pertanian. Pendapatan rumah tangga petani dapat dilihat pada tabel 7 berikut. Tabel 7. Pendapatan Rumah Tangga Petani No. Sumber Pendapatan Usahatani Kopi Usahatani Padi Sawah Pendapatan (Rp/Tahun/Petan. Persentase (%) 48,47 41,96 Non Usahatani 9,55 Yrt = (A1 A. (B) Menurut Salbiah dalam Aminah . , total yang diusahakan petani di Desa Detusoko Barat. Kecamatan Detusoko. Kabupaten Ende, memiliki pengaruh yang kurang signifikan terhadap pendapatan rumah tangga mereka. Hasil penelitian ini sebanding dengan penelitian yang dilakukan Nurul Latifah . dimana dalam hasil penelitiannya menunjukan besarnya pendapatan dari usahatani Kopi Robusta yaitu Rp. 635/ha/tahun. Selain itu, kontribusinya 17,23% yang berarti usahatani Kopi Robusta tidak berkontribusi besar terhadap pendapatan rumah tangga PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan, maka kesimpulan yang dapat diambil, yakni : Besarnya pendapatan yang diperoleh 69 responden dari usahatani kopi yaitu sebesar Rp. 862/tahun/petani. Pendapatan dari usahatani padi sawah sebesar Rp. 848/musim tanam/petani, sehingga dalam 1 tahun pendapatan petani sebesar Rp. 696/tahun/petani, melakukan dua kali musim tanam dalam 1 Sedangkan, pendapatan di luar sektor pertanian dari 33 petani yang mempunyai Rp. 061/tahun/petani. Jadi, total pendapatan Rp. 619/tahun/petani. Pertanian kopi berkontribusi 48,47 % terhadap pendapatan rumah tangga petani. Hal tersebut menunjukkan usahatani kopi berkontribusi terhadap pendapatan rumah tangga petani. Saran Jeharu, et all. Kontribusi Pendapatan Usahatani Kopia. Page 85 Buletin Ilmiah IMPAS Volume 25 No. 3 Edisi November 2024 Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka penulis menyampaikan beberapa saran dalam usahatani kopi di lokasi penelitian sebagai Bagi pemerintah diharapkan agar dapat melakukan penyuluhan pertanian terutama menginformasikan kepada petani supaya tidak langsung menjual kopi biji, tetapi menjual kopi dengan menyalurkannya ke BUMDes agar nantinya dapat diolah dalam bentuk Hal ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan petani tentang cara meningkatkan pendapatan petani meskipun dengan lahan yang sempit, sehingga pendapatan kopi memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pendapatan rumah tangga Petani diharapkan dapat mengoptimalkan penggunaan lahan untuk usahatani kopi agar hasil produksinya bisa lebih maksimal. Selain itu, petani juga dianjurkan untuk mengolah biji kopi menjadi kopi kemasan, baik secara individu maupun berkelompok, sehingga nilai jual kopi meningkat dan berdampak positif pada pendapatan petani. p-ISSN: 0853-7771 e-ISSN: 2714-8459 Soekartawi. Analisis Usahatani. Jakarta: UI Press. Tania. Widjaya. , dan Suryani. Pendapatan dan Kesejahteraan Petani Kopi di Lampung Barat. Jurnal Ilmu-Ilmu Agribisnis, 7. , 149-156. Nasution. Specialty Kopi Indonesia. Kementrian Perdagangan Republik Indonesia : Warta Ekspor. DAFTAR PUSTAKA