Journal for Quality in Women's Health Vol. 3 No. 2 September 2020 | pp. p-ISSN: 2615-6660 | e-ISSN: 2615-6644 DOI: 10. 30994/jqwh. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Inovasi Enterpreneur Dalam Pelayanan Praktik Mandiri Bidan Di Kota Bengkulu Tria Nopi Herdiani*. Waytherlis Apriani STIKES Tri Mandiri Sakti Bengkulu. Indonesia Corresponding author: Tria Nopi Herdiani . mandira1415@gmail. Received: August, 10 2020. Accepted: August, 29 2020. Published: September, 1 2020 ABSTRAK Kemajuan teknologi menyebabkan perubahan di semua sektor termasuk dalam pelayanan Bidan sebagai ujung tombak dalam pemberian pelayanan pada perempuan, bayi, balita dan orang tua serta perannya dalam pemberdayaan masyarakat harus memiliki inovasi layanan baru pada praktik mandiri yang diselenggarakannya untuk meningkatkan kualitas pelayanan prima, sehingga perlu meningkatkan kemampuan berwirausaha atau enterpreneur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri bidan dan mengetahui faktor dominan. Metode yang digunakan adalah survei analitik dengan desain cross sectional. Data dianalisis secara analisis univariat, bivariat, dan multivariat. Uji statistik yang digunakan adalah uji Chi-Square N2 dan analisis regresi logistik ganda. Untuk mengetahui keeratan hubungan digunakan Contingency Coefficient (C). Populasi penelitian ini adalah seluruh bidan yang menyelenggarakan praktik mandiri bidan di Kota Bengkulu. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling sebanyak 152 Praktik Mandiri Bidan. Hasil penelitian didapatkan uji Pearson Chi-Square diperoleh nilai N2 = 12. 382 dengan A value = 0,002 < . pada variabel pengetahuan, uji Pearson Chi-Square diperoleh nilai N2 = 9. 220 dengan A value = 0,002 < . pada variabel sikap, uji Pearson Chi-Square diperoleh nilai N2 = 4. 493 dengan A value = 0,034 < . pada variabel motivasi, uji Pearson Chi-Square diperoleh nilai N2 = 558 dengan A value = 0,001 < . pada variabel pelatihan, uji Pearson Chi-Square diperoleh nilai N2 = 34. 138 dengan A value = 0,000 < . pada variabel passion, uji Pearson Chi-Square diperoleh nilai N2 = 4. 413 dengan A value = 0,036 < . pada variabel masa kerja, uji Pearson Chi-Square diperoleh nilai N2 = 1. 195 dengan A value = 0,754 > . pada variabel kebijakan umur, uji Pearson Chi-Square diperoleh nilai N2 = 4. 050 dengan A value = 0,132 > . pada variabel pendidikan. Ada hubungan yang sigtifikan antara pengetahuan, sikap, motivasi, passion, masa kerja, pelatihan, dengan inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri bidan. Tidak ada hubungan antara umur dan pendidikan dengan inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri bidan. Variabel yang paling dominan adalah passion, karena memiliki nilai koefisien regresi () yang paling besar yaitu 26. 156 dan nilai Sig 0,000. Kata Kunci: Pengetahuan. Sikap. Motivasi. Pelatihan. Passion. Masa Kerja. Umur. Pendidikan. Inovasi Enterpreneur Praktik Mandiri Bidan This is an open-acces article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. International License. Website: http://jqwh. org | Email: publikasistrada@gmail. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan InovasiA. PENDAHULUAN Dunia sedang memasuki era revolusi industri 4. 0, yaitu era yang ditandai dengan meluasnya jaringan siber yang secara fisik didukung oleh beragam kemajuan teknologi digital untuk inovasi layanan baru yang mendisrupsi cara bisnis lama. Teknologi terus berkembang, bahkan semakin maju dengan tingkat kecepatan tinggi (Fuad, 2. Adanya kemajuan teknologi dibidang kesehatan tenaga kesehatan khususnya bidan dihadapkan pada tantangan besar dan masalah kesehatan yang dihadapi semakin kompleks, maka semakin banyak pula cakupan pelayanan yang dapat dilakukan bidan dalam peranannya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Bidan sebagai ujung tombak dalam pemberian pelayanan pada perempuan, bayi, balita dan orang tua serta perannya dalam pemberdayaan masyarakat diharapkan dapat menjadi agent of change dari perubahan perilaku masyarakat menuju masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat (Wirapraja, 2. Pelayanan kesehatan harus berupaya untuk melakukan inovasi dalam peningkatan kualitas pelayanan (Anggraeny, 2. Profesi bidan dituntut untuk selalu berinovasi dan peka dengan perkembangan zaman, tidak hanya menyangkut mengenai pemberian asuhan kebidanan saja yang memang menjadi kompetensi dasar profesi bidan namun lebih dari itu, bidan harus memaksimalkan peranannya sebagai enterpreneur. Bidan sebagai enterpreneur bukan berarti harus stagnan dengan ilmuilmu lama yang jauh dari inovasi dan pengetahuan baru, bidan menjadi garda depan menghadapi pasien sehingga knowledge, skills dan attitudes harus terus berkesinambungan dan Peran bidan sebagai agen promotif, preventif akan kesehatan dituntut tanggap dan inovatif, salah satu upaya peningkatan mutu layanan inovatif yang diterapkan di Praktek Mandiri Bidan yaitu layanan baby spa berupa pijat bayi, swimming baby, senam bayi, layanan kelas ibu hamil, ibu balita, pra wedding, parenting, waterbirth, hipnobirthing, post natal treatment dan selain jasa pelayanan kebidanan bidan juga dapat mengembangkan enterpreneur seperti usaha chatering, bakery, butik, dan sebagainya yang dapat dikemas secara kekinian dan banyak di gemari semua kalangan (Istiqomah, 2. Berdasarkan data Pengurus Daerah IBI Provinsi Bengkulu pada tahun 2017 di Provinsi Bengkulu terdapat 3. 493 bidan dan 653 diantaranya membuka praktik mandiri dengan jumlah tertinggi di Kota Bengkulu yaitu 152 Praktik Mandiri Bidan (PD IBI Provinsi Bengkulu, 2. Masalah saat ini dalam penelitian Herdiani . bidan di Kota Bengkulu hanya menjalankan praktik mandiri belum menjadi anggota bidan delima yang merupakan bentuk dari inovasi pelayanan kebidanan berkualitas karena beberapa alasan pendidikan rendah, pengetahuan kurang baik, sikap, bidan belum siap dan yakin karena terlalu banyak persyaratan, belum mampu karena masih baru melakukan praktik mandiri, masih mendapatkan kendala biaya, sarana dan prasarana belum memadai. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang menentukan Inovasi Enterpreneur dalam pelayanan Praktek Mandiri Bidan di Kota Bengkulu. Urgensinya dilakukan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kualitas pelayanan jasa kebidanan supaya tidak hanya fokus pada pelayanan dasar saja dan bidan di Kota Bengkulu memahami faktor-faktor inovasi entrepreneur dalam menjalankan praktiknya berdasarkan evidence based research. Berdasarkan latar belakang penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang faktor-faktor yang menentukan Inovasi Enterpreneur dalam pelayanan Praktek Mandiri Bidan di Kota Bengkulu. METODE Penelitian ini menggunakan rancangan survei analitik dengan desain cross sectional. Tempat penelitian di Kota Bengkulu karena jumlah Praktik Mandiri Bidan terbanyak di Kota Bengkulu. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh bidan yang menyelenggarakan Praktik Mandiri berjumlah 152 bidan. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling yaitu jumlah sampel sebanyak 152 bidan. Variabel dependen yang diteliti adalah inovasi Journal for Quality in Women's Health Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan InovasiA. enterpreneur bidan dalam pelayanan praktik mandiri, sedangkan variabel independen yaitu pengetahuan, sikap, motivasi, passion, masa kerja, pelatihan, umur dan pendidikan. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui kuesioner yang disebarkan kepada responden. Data dianalisis secara analisis univariat, bivariat, dan multivariat. Uji statistik yang digunakan adalah uji Chi-Square . dan analisis regresi logistik ganda. Untuk mengetahui keeratan hubungan digunakan Contingency Coefficient (C). HASIL Analisis univariat digunakan untuk melihat gambaran distribusi frekuensi variabel independen yaitu pengetahuan, sikap, motivasi, pelatihan, passion, masa kerja, umur, pendidikan dan variabel dependen yaitu inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri bidan (Tabel Tabel 1 Distribusi frequensi inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri bidan pengetahuan, sikap, motivasi, pelatihan, passion, masa kerja, umur dan pendidikan . Variabel Frequensi Persentase (%) Inovasi enterpreneur dalam pelayanan Praktik Mandiri Bidan Tidak Inovatif Inovatif Pengetahuan Kurang Cukup Baik Sikap Negatif Positif Motivasi Kurang Tinggi Pelatihan Tidak Pernah Mengikuti Pernah Mengikuti Passion Tidak ada Passion Ada Passion Masa Kerja < 1 Tahun > 1 Tahun Pendidikan D i Kebidanan D IV /S1 Kebidanan S2 Kebidanan/Kesehatan Umur >50 Journal for Quality in Women's Health Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan InovasiA. Tabel 1 menunjukkan terdapat 70 orang bidan . ,1%) melakukan Inovasi enterpreneur dalam pelayanan Praktik Mandiri Bidan dan 82 orang bidan . ,9%) tidak melakukan Inovasi enterpreneur dalam pelayanan Praktik Mandiri Bidan. Terdapat 1 orang bidan . ,7%) dengan pengetahuan kurang, 51 orang bidan . ,5%) dengan pengetahuan cukup dan 100 orang bidan . ,8%) dengan pengetahuan baik. Terdapat 26 orang bidan . ,1%) dengan sikap negatif dan 126 orang bidan . ,9%) dengan sikap positif. Terdapat 30 orang bidan . ,7%) dengan motivasi kurang dan 122 orang bidan . ,3%) dengan motivasi tinggi. Terdapat 110 orang bidan . ,4%) tidak pernah mengikuti pelatihan entrepreneurship dan 42 . ,6%) orang bidan pernah mengikuti pelatihan entrepreneurship. Terdapat 33 orang bidan . tidak mempunyai passion entrepreneur dan 119 orang bidan . ,3%) mempunyai passion entrepreneur. Terdapat 5 orang bidan . ,3%) dengan masa kerja kurang dari 1 tahun dan 147 orang bidan . ,7%) dengan masa kerja lebih dari 1 tahun. Terdapat 80 orang . ,6%) dengan pendidikan D i Kebidanan, 69 orang bidan . ,4%) dengan pendidikan D IV/S1 Kebidanan dan 3 orang . ,0%) dengan pendidikan S2 Kebidanan/Kesehatan. Terdapat 2 orang bidan . ,3%) dengan umur 2029 tahun, 81 orang bidan . ,3%) dengan umur 30-39, 57 orang . ,5%) dengan umur 40-49, dan 12 orang bidan . ,9%) dengan umur >50 tahun. Tabel 2. Hubungan pengetahuan dengan inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri bidan . Inovasi Enterpreneur Dalam Pelayanan Praktik Mandiri N2 A- value Pengetahuan Total Bidan Tidak Inovatif Inovatif Kurang Cukup 0,002 0,274 Baik Total Tabel 2 menunjukkan hasil uji Pearson Chi-Square diperoleh nilai N2= 12. 382 dengan A value = 0,002 < . , secara statistik berarti signifikan sehingga H0 ditolak dan Ha diterima, artinya ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri bidan. Sedangkan hasil uji Contingency Coefficient didapat nilai C= 0,274 dengan approx. sig (A)=0,002<0,05 berarti signifikan, nilai C tersebut dibandingkan ycoOe1 dengan nilai Cmax=Oo yco dimana m adalah nilai terkecil dari baris atau kolom. Dalam hal ini ycoOe1 2Oe1 nilai m=2 maka nilai Cmax= Oo yco =Oo 2 =0,707 Jadi nilai ya ya ycoycaycu 0,274 = 0,707 0,39, karena nilai ini terletak dalam interval 0,20-0,40 maka kategori hubungan lemah. Journal for Quality in Women's Health Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan InovasiA. Tabel 3. Hubungan sikap dengan inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri bidan . Inovasi Enterpreneur Dalam Pelayanan N2 A- value Praktik Mandiri Bidan Sikap Total Tidak Inovatif Inovatif Negatif Positif 0,002 0,239 Total Tabel 3 menunjukkan hasil uji Pearson Chi-Square diperoleh nilai N2= 9. 220 dengan A value = 0,002 < . , secara statistik berarti signifikan sehingga H0 ditolak dan Ha diterima, artinya ada hubungan yang signifikan antara sikap dengan inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri bidan. Sedangkan hasil uji Contingency Coefficient didapat nilai C= 0,239 dengan approx. sig (A)=0,002<0,05 berarti signifikan, nilai C tersebut dibandingkan ycoOe1 dengan nilai Cmax=Oo yco dimana m adalah nilai terkecil dari baris atau kolom. Dalam hal ini ycoOe1 2Oe1 nilai m=2 maka nilai Cmax= Oo yco =Oo 2 =0,707 Jadi nilai ya ya ycoycaycu 0,239 = 0,707 0,34, karena nilai ini terletak dalam interval 0,20-0,40 maka kategori hubungan lemah. Tabel 4. Hubungan pelatihan dengan inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri bidan . Inovasi Enterpreneur Dalam Pelayanan N2 A- value Pelatihan Praktik Mandiri Bidan Total Tidak Inovatif Inovatif Tidak Pernah 0,001 0,266 Pernah Total Tabel 4 menunjukkan hasil uji Pearson Chi-Square diperoleh nilai N2= 11. 558 dengan A value = 0,001 < . , secara statistik berarti signifikan sehingga H0 ditolak dan Ha diterima, artinya ada hubungan yang signifikan antara pelatihan dengan inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri bidan. Sedangkan hasil uji Contingency Coefficient didapat nilai C= 0,266 dengan approx. sig (A)=0,001<0,05 berarti signifikan, nilai C tersebut dibandingkan ycoOe1 dengan nilai Cmax=Oo yco dimana m adalah nilai terkecil dari baris atau kolom. Dalam hal ini ycoOe1 2Oe1 nilai m=2 maka nilai Cmax= Oo yco =Oo 2 =0,707 Jadi nilai ya ya ycoycaycu 0,266 = 0,707 0,38, karena nilai ini terletak dalam interval 0,20-0,40 maka kategori hubungan lemah. Journal for Quality in Women's Health Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan InovasiA. Tabel 5. Hubungan motivasi dengan inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri bidan . Inovasi Enterpreneur Dalam Pelayanan N2 A- value Praktik Mandiri Bidan Motivasi Total Tidak Inovatif Inovatif Kurang Tinggi 0,034 0,169 Total Tabel 5 menunjukkan hasil uji Pearson Chi-Square diperoleh nilai N2= 4. 493 dengan A value = 0,034 < . , secara statistik berarti signifikan sehingga H0 ditolak dan Ha diterima, artinya ada hubungan yang signifikan antara motivasi dengan inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri bidan. Sedangkan hasil uji Contingency Coefficient didapat nilai C= 0,169 dengan approx. sig (A)=0,034<0,05 berarti signifikan, nilai C tersebut dibandingkan ycoOe1 dengan nilai Cmax=Oo yco dimana m adalah nilai terkecil dari baris atau kolom. Dalam hal ini ycoOe1 2Oe1 nilai m=2 maka nilai Cmax= Oo yco =Oo 2 =0,707 Jadi nilai ya ya ycoycaycu 0,169 = 0,707 0,24, karena nilai ini terletak dalam interval 0,20-0,40 maka kategori hubungan lemah. Tabel 6. Hubungan passion dengan inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri bidan . Passion Tidak Ada Passion Ada Passion Total Inovasi Enterpreneur Dalam Pelayanan Praktik Mandiri Bidan Tidak Inovatif Inovatif A- value 0,000 0,428 Total Tabel 6 menunjukkan hasil uji Pearson Chi-Square diperoleh nilai N2= 34. 138 dengan A value = 0,000 < . , secara statistik berarti signifikan sehingga H0 ditolak dan Ha diterima, artinya ada hubungan yang signifikan antara passion dengan inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri bidan. Sedangkan hasil uji Contingency Coefficient didapat nilai C= 0,428 dengan approx. sig (A)=0,000<0,05 berarti signifikan, nilai C tersebut dibandingkan ycoOe1 dengan nilai Cmax=Oo yco dimana m adalah nilai terkecil dari baris atau kolom. Dalam hal ini ycoOe1 2Oe1 nilai m=2 maka nilai Cmax= Oo yco =Oo 2 =0,707 Jadi nilai ya ya ycoycaycu 0,428 = 0,707 0,60, karena nilai ini terletak dalam interval 0,60-0,80 maka kategori hubungan erat. Journal for Quality in Women's Health Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan InovasiA. Tabel 7. Hubungan masa kerja dengan inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri bidan . Inovasi Enterpreneur Dalam Pelayanan N2 A- value Praktik Mandiri Bidan Total Masa Kerja Tidak Inovatif Inovatif < 1 Tahun > 1 Tahun 0,036 0,168 Total Tabel 7 menunjukkan hasil uji Pearson Chi-Square diperoleh nilai N2= 4. 413dengan A value = 0,036 < . , secara statistik berarti signifikan sehingga H0 ditolak dan Ha diterima, artinya ada hubungan yang signifikan antara masa kerja dengan inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri bidan. Sedangkan hasil uji Contingency Coefficient didapat nilai C= 0,168 dengan approx. sig (A)=0,036<0,05 berarti signifikan, nilai C tersebut dibandingkan ycoOe1 dengan nilai Cmax=Oo yco dimana m adalah nilai terkecil dari baris atau kolom. Dalam hal ini ycoOe1 2Oe1 nilai m=2 maka nilai Cmax= Oo yco =Oo 2 =0,707 Jadi nilai ya ya ycoycaycu 0,168 = 0,707 0,23, karena nilai ini terletak dalam interval 0,20-0,40 maka kategori hubungan lemah. Tabel 8. Hubungan pendidikan dengan inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri bidan . Inovasi Enterpreneur Dalam Pelayanan APraktik Mandiri N2 Pendidikan Total Bidan Tidak Inovatif Inovatif D i Kebidanan D IV/S1 Kebidanan 0,132 0,161 Kebidanan/Kesehatan Total Tabel 8 menunjukkan hasil uji Pearson Chi-Square diperoleh nilai N2= 4. 050 dengan A value = 0,123 > . , secara statistik berarti tidak signifikan sehingga H0 diterima, artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri bidan. Journal for Quality in Women's Health Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan InovasiA. Tabel 9. Hubungan umur dengan inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri bidan . Inovasi Enterpreneur Dalam Pelayanan APraktik Mandiri N2 Umur Total Bidan Tidak Inovatif Inovatif 20-29 Tahun 30-39 Tahun 40-49 Tahun 0,754 0,088 >50 Tahun Total Tabel 9 menunjukkan hasil uji Pearson Chi-Square diperoleh nilai N2= 1. 195 dengan A value = 0,754 > . , secara statistik berarti tidak signifikan sehingga H0 diterima, artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara umur dengan inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri bidan. Tabel 10. Analisis variabel dominan faktor-faktor yang berhubungan dengan inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri bidan . Variabel Pengetahuan Sikap Motivasi Pelatihan Passion Masa Kerja Constant Exp. B (Koef. Regresi Logistic Wald Sig 0,541 0,688 Tabel 10 menunjukkan ada enam variabel independen yang layak masuk kedalam model multivariat diantaranya adalah variabel pengetahuan, sikap, motivasi, pelatihan, passion, dan masa kerja. Dari keenam variabel tersebut hanya ada satu variabel yang memiliki hubungan paling besar dengan inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri bidan yaitu passion, karena memiliki nilai koefisien regresi () yang paling besar yaitu 26. 156 dengan nilai Sig PEMBAHASAN Hubungan pengetahuan dengan inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri Tabel 2 menunjukkan hasil uji Pearson Chi-Square diperoleh nilai N2= 12. 382 dengan A value = 0,002 < . , secara statistik berarti signifikan sehingga H0 ditolak dan Ha diterima, artinya ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri bidan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat dijelaskan bahwa bidan dengan pengetahuan baik memiliki inovasi dalam pengembangan Praktik Mandiri Bidan yang dijalankannya. Meningkatnya pengetahuan mengenai pengembangan praktik yang tidak hanya sekedar menyangkut pemberian asuhan kebidanan saja sangat penting dimiliki oleh Journal for Quality in Women's Health Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan InovasiA. bidan, sehingga dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan yang baik dan bervariasi dalam pelayanan kepada pasien sehingga akan meningkatkan kepuasan pelayanan, dengan demikian pasien akan kembali melakukan kunjungan. Pengetahuan merupakan faktor yang sangat penting bagi terbentuknya suatu tindakan terhadap perilaku yang baik yang menguntungkan bagi suatu kegiatan (Notoatmodjo, 2. Hal ini sejalan dengan penelitian (Widyawati, 2. tentang kinerja bidan dalam memberikan pelayanan antenatal care dan faktor yang mempengaruhi diperoleh nilai p= 0,023 disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan kinerja pelayanan antenatal care. Secara spesifik belum ada atau belum ditemukan penelitian sejenis tentang hubungan pengetahuan inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri bidan namun penelitian tersebut mempunyai tujuan yang sama yaitu untuk mengetahui hubungan pengetahuan bidan dengan kinerja bidan/inovasi bidan dalam pengembangan Praktik Mandiri Bidan. Hubungan sikap dengan inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri bidan Tabel 3 menunjukkan hasil uji Pearson Chi-Square diperoleh nilai N2= 9. 220 dengan A value = 0,002 < . , secara statistik berarti signifikan sehingga H0 ditolak dan Ha diterima, artinya ada hubungan yang signifikan antara sikap dengan inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri bidan. Berdasarkan hasil penelitian bahwa sikap yang positif mengenai pengembangan layanan praktik mandiri bidan akan menjadikan bidan inovatif dalam asuhan kebidanan yang diberikan kepada pasien mulai dari masa konsepsi sampai lansia. Dimana pelayanannya meliputi inovasi komplementer yang menambah nilai dari asuhan kebidanan yang diberikan. Sikap positif juga ditampakkan sebagian besar bidan dalam menjawab kuesioner yaitu apabila melakukan inovasi dalam pelayanan kebidanan, jumlah kunjungan pasien akan meningkat karena akan merasa puas dengan pelayanan prima dengan berbagai jenis layanan tambahan. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh (Azwar, 2. dimana sikap sudah lama menjadi salah satu konsep yang dianggap paling penting dalam interaksi sosial. Perubahan sikap sangat dibutuhkan dalam pelayanan kesehatan karena sebagai manusia kadang-kadang kita berperan sebagai agen perubahan dan kadang-kadang sebagai subjek perubahan. Hal ini sejalan dengan penelitian (Maria, 2. dengan hasil Uji statistik korelasi Rank Spearman didapat-kan hasil p Value 0,000, berarti p < . , maka Ho ditolak artinya ada hubungan yang signifikan antara sikap bidan dengan tingkat kepuasan ibu hamil saat pelaksanaan peyananan ANC. Penelitian tersebut mempunyai makna bahwa sikap bidan erat hubungannya dengan inovasi pelayanan kebidanan dalam praktik mandiri kebidanan. Hubungan pelatihan dengan inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri Tabel 4 menunjukkan hasil uji Pearson Chi-Square diperoleh nilai N2= 11. 558 dengan A value = 0,001 < . , secara statistik berarti signifikan sehingga H0 ditolak dan Ha diterima, artinya ada hubungan yang signifikan antara pelatihan dengan inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri bidan. Keikutsertaan dalam seminar/pelatihan dapat melatarbelakangi tingkat pengetahuan seseorang. Dengan mengikuti seminar/pelatihan, bidan mendapatkan informasi dan pengalaman baru. Informasi mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan. Pengalaman sebagai sumber pengetahuan merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara mengulang kembali pengetahuan yang diperoleh dalam memecahkan masalah yang dihadapi pada masa lalu. Pengalaman belajar dan informasi baru dalam bekerja yang dikembangkan akan memberikan pengetahuan dan keterampilan profesional, serta dapat mengembangkan kemampuan mengambil keputusan yang merupakan manifestasi dari keterpaduan menalar secara ilmiah dan Journal for Quality in Women's Health Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan InovasiA. etik yang bertolak dari masalah nyata dalam bidang kerjanya (Budiman, 2. Hal ini sejalan dengan penelitian (Kostania, 2. tentang pelaksanaan pelayanan kebidanan komplementer pada Bidan Praktik Mandiri di Kabupaten Klaten dimana berdasarkan hasil temuan dalam penelitiannya bahwa penyebab masih rendahnya penggunaan terapi komplementer . alah satu inovasi pelayanan kebidana. oleh bidan praktek mandiri adalah kurangnya akses bidan untuk menjangkau kegiatan seminar/pelatihan. Hubungan motivasi dengan inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri Tabel 5 menunjukkan hasil uji Pearson Chi-Square diperoleh nilai N2= 4. 493 dengan A value 0,034 < . , secara statistik berarti signifikan sehingga H0 ditolak dan Ha diterima, artinya ada hubungan yang signifikan antara motivasi dengan inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri bidan. Berdasarkan hasil penelitian bahwa motivasi bidan dalam berwirausaha dapat meningkatkan inovasi terhadap layanan asuhan kebidanan seperti yang dijawab pada kuesioner yaitu pelayanan baby spa, hypnobirthing, pijat/massase. Post Natal Treatment, dan inovasi lainnya. Menurut (Notoatmodjo S. , 2. Motivasi mempunyai arti mendasar sebagai inisiatif penggerak perilaku seseorang secara optimal, hal ini disebabkan karena motivasi merupakan kondisi internal, kejiwaan dan mental manusia seperti aneka keinginan, harapan, kebutuhan, dorongan dan kesukaan yang mendorong individu untuk berperilaku kerja untuk mencapai tujuan yang dikehendakinya atau mendapatkan kepuasan atas Hal ini sejalan dengan penelitian (Larasati. Bachtiar, & Muhammad, 2. Hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi dengan keikutsertaan bidan praktek dengan BPJS dengan nilaip =0,077. Selain itu penelitian (Laminia & Muniroh, 2. Hasil dari uji chi square tersebut diketahui bahwa nilai signifikansi < nilai yaitu 0,000 hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara motivasi kerja dengan produktivitas kerja pada pekerja bagian produksi di Home Industry X Surabaya. Walaupun penelitian tersebut secara eksplisit tidak dinyatakan hubungan motivasi dengan inovasi entrepreneur bidan, namun variabel tersebut adalah sub-bagian dari dari salah satu inovasi pelayanan dalam praktik mandiri bidan. Hubungan passion dengan inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri bidan Tabel 6 menunjukkan hasil uji Pearson Chi-Square diperoleh nilai N2= 34. 138 dengan A value = 0,000 < . , secara statistik berarti signifikan sehingga H0 ditolak dan Ha diterima, artinya ada hubungan yang signifikan antara passion dengan inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri bidan. Passion secara umum merupakan gairah/semangat dalam menjalankan suatu aktifitas yang senada dengan keinginan dan harapan, dalam hal penelitian ini passion artinya adalah bidan dalam menjalankan entrepreneur sebagai bidan yang membuka praktik mandiri bidan sesuai dengan keinginan, gairah, semangat, dan cita-cita yang Berdasarkan hasil penelitian bahwa sebagian besar responden menyatakan bahwa menjadi entrepreneur dengan membuka praktik mandiri bidan adalah passion sehingga hasilnya rata-rata mampu dan melaksanakan inovasi pelayanan kebidanan. Tasnim. Yahya & Zainuddin, 2014 dalam (Marieski & Meiyanto, 2. mengemukakan Passion membentuk keinginan untuk bertindak dan berperilaku secara kewirausahaan, dan mengikat pengusaha untuk mencapai tujuan kewirausahaan. Hubungan masa kerja dengan inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri Tabel 7 menunjukkan hasil uji Pearson Chi-Square diperoleh nilai N2= 4. 413 dengan A value = 0,036 < . , secara statistik berarti signifikan sehingga H0 ditolak dan Ha diterima. Journal for Quality in Women's Health Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan InovasiA. artinya ada hubungan yang signifikan antara masa kerja dengan inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri bidan. Maksud dari masa kerja yaitu lamanya seorang bekerja dalam ruang lingkup pekerjaan yang dapat dihitung dengan satuan bulan atau tahun. Semakin lama masa kerja maka diharapkan dapat menghasilkan produktivitas yang baik dengan cara menguasai dan berkembangnya suatu pemikiran dalam melakukan pekerjaan (Fitriantoro. Berdasarkan hasil penelitian bahwa bidan dengan masa kerja lebih dari satu tahun mempunyai inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri bidan. Hal ini sejalan dengan penelitian (Yuwansyah, 2. tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja bidan dalam pelayanan pemeriksaan ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Banjaran Kabupaten Majalengka dengan hasil penelitian adanya hubungan yang bermakna antara masa kerja dengan kinerja bidan dalam kunjungan pemeriksaan kehamilan (K. Hasil uji chi value= 0,049 < 0,05 artinya ada hubungan antara masa kerja dengan kinerja bidan dalam kunjungan pemeriksaan kehamilan (K. di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Banjaran. Penelitian lain yaitu (Fitriani. Zuhana, & Prafitri, 2. terdapat hubungan masa kerja bidan dengan kelengkapan pendokumentasian kartu ibu . =0. Dengan pengalaman masa kerja yang lebih lama akan membuat bidan desa lebih mahir dan terampil dalam memberikan asuhan kebidanan. Hasil penelitian (Dharmawan. Wigati, & Dwijayanti, 2. menyatakan bahwa data dengan kualitas kurang baik lebih banyak berasal dari bidan desa dengan masa kerja baru . %) sedangkan data yang kualitasnya lebih baik berasal dari kelompok bidan desa yang masa kerja lebih lama. Kesimpulannya adalah bidan dengan masa kerja yang lebih lama maka lebih banyak pengalaman, ilmu, keterampilan, kualitas,kinerja dan ide sehingga kemampuan untuk melakukan inovasi entrepreneurnya meningkat dalam pelayanan asuhan kebidanan di tempat praktik bidannya. Hubungan pendidikan dengan inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri Tabel 8 menunjukkan hasil uji Pearson Chi-Square diperoleh nilai N2= 4. 050 dengan A value 0,123 > . , secara statistik berarti tidak signifikan sehingga H0 diterima, artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri bidan. Berdasarkan hasil penelitian bahwa sebagian besar bidan yang membuka praktik mandiri bidan di Kota Bengkulu adalah dengan tingkat pendidikan D i dan D IV/S1 Kebidanan apabila ditotalkan yaitu 98%. Idealnya tingkat pendidikan akan menjadikan tingkat pengetahuan, sikap, keinginan berinovasi lebih baik. Namun dengan kondisi tersebut bahwa tingkat pendidikan tidak menjamin seorang bidan mampu melakukan karya inovasi pelayanan kebidanan di tempat praktiknya karena masih banyak faktor lain yang mendukung misalnya dukungan keluarga, sumber daya yang dimiliki, akses lokasi, informasi yang didapatkan dan faktor lainnya. Hal ini sejalan dengan penelitian Lukman . dalam (Sari, 2. terdapat banyak faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan diantaranya pekerjaan dan media informasi bukan hanya tingkat pendidikan saja. Seseorang yang bekerja dengan profesi tertentu akan tinggi tingkat pengetahuannya tentang segala hal yang berkaitan dengan profesinya, dan tidak menjamin seseorang tersebut akan mengetahui banyak hal di luar Kesimpulannya bahwa tingkat pendidikan tidak menjamin bidan mampu melakukan inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri bidan. Hubungan umur dengan inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri bidan Tabel 9 menunjukkan hasil uji Pearson Chi-Square diperoleh nilai N2= 1. 195 dengan A value = 0,754 > . , secara statistik berarti tidak signifikan sehingga H0 diterima, artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara umur dengan inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri bidan. Berdasarkan hasil penelitian bahwa sebagian besar bidan yang Journal for Quality in Women's Health Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan InovasiA. membuka praktik mandiri bidan di Kota Bengkulu adalah dengan umur 30-39 tahun . ,3%) dan umur 40-49 tahun . ,5%). Usia mencerminkan kematangan dalam berfikir, pengalaman yang menjadi dasar dalam bekerja serta menggambarkan kompetensi atau kemampuan Umur dari seorang individu sangat menentukan kemampuan dalam bekerja atau Umur juga berhubungan dengan pengetahuannya dalam merespon atau melaksanakan suatu kegiatan dalam meningkatkan kinerjanya. (Septiani & Lestari, 2. Namun hasil analisis menunjukan tidak ada hubungan antara umur dengan inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri bidan dan ini bertolak belakang dengan penelitian Gita . bahwa pelaksanaan pelayanan kebidanan komplementer pada BPM (Bidan Praktik Mandir. di Kabupaten Klaten terbanyak adalah usia produktif yaitu 36-45 tahun. Kategori umur O 40 merupakan kelompok bidan terbanyak di wilayah kerja Kota Metro, dan merupakan pemberi pelayanan kebidanan di Kota Metro. Kesimpulan dari penelitian ini adalah umur tidak menjamin seorang bidan bisa melaksanakan inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri bidan karena faktor lain yang mempengaruhinya seperti kebijakan pemerintah, sumber daya yang dimiliki, akses lokasi, passion dan lain-lain. Analisis variabel dominan faktor-faktor yang berhubungan dengan inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri bidan Tabel 10 menunjukkan ada enam variabel independen yang layak masuk kedalam model multivariat diantaranya adalah variabel pengetahuan, sikap, motivasi, pelatihan, passion, dan masa kerja. Dari keenam variabel tersebut hanya ada satu variabel yang memiliki hubungan paling besar dengan inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri bidan yaitu passion, karena memiliki nilai koefisien regresi () yang paling besar yaitu 26. 156 dengan nilai Sig Walaupun seorang bidan mempunyai pengetahuan yang baik, sikap yang positif, pernah mengikuti pelatihan namun ketika tidak mempunyai passion atau keinginan kuat melaksanakan inovasi dalam pelayanan kebidanan di praktik mandiri bidan maka bidan tersebut hanya akan melaksanakan rutinitas pokok pelayanan asuhan kebidanan tanpa menambah value yang diberikan kepada pengunjung dalam hal ini pasien. Profesi bidan dituntut untuk selalu berinovasi dan peka dengan perkembangan zaman, tidak hanya menyangkut mengenai pemberian asuhan kebidanan saja yang memang menjadi kompetensi dasar profesi bidan namun lebih dari itu, bidan harus memaksimalkan peranannya sebagai enterpreneur, meningkatkan layanan komplementer berkualitas untuk meningkatkan kepuasan pasien. Menurut (Cardon. Wincent. Singh, & Drnovsek, 2. dalam (Santosa, 2. mendefinisikan entrepreneurial passion sebagai kesadaran yang dapat diakses, perasaan positif yang kuat yang dialami pada keterlibatan dalam aktivitas kewirausahaan terkait dengan peran yang berarti dan penting untuk identitas diri dari wirausahawan. Konseptualisasi ini mencakup dua elemen penting untuk dirunut lebih lanjut: . Entrepreneurial passion melibatkan perasaan yang kuat positif dan . itu hasil dari keterlibatan dalam kegiatan terkait dengan identitas peran KESIMPULAN DAN SARAN Ada hubungan antara pengetahuan, sikap, pelatihan, dan motivasi dengan inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri bidan dimana nilai A value < nilai yaitu 0,05 . Tidak ada hubungan antara pendidikan dan umur dengan inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri bidan dimana nilai A value > nilai yaitu 0,05. variabel yang memiliki hubungan paling besar dengan inovasi enterpreneur dalam pelayanan praktik mandiri bidan yaitu passion, karena memiliki nilai koefisien regresi () yang paling besar yaitu 26. Diharapkan bagi tenaga kesehatan bidan yang membuka praktik mandiri agar melakukan inovasi dalam Journal for Quality in Women's Health Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan InovasiA. pelayanan kebidanan dalam rangka meningkatkan kualitas jasa pelayanan dan kepuasan pasien sehingga dapat meningkatkan jumlah kunjungan. UCAPAN TERIMAKASIH Terimakasih kepada Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat. Deputi Bidang Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset dan Teknologi/ Badan Riset dan Inovasi Nasional yang telah memberikan dana hibah Penelitian Dosen Pemula Tahun Anggaran 2020 dengan kontrak penelitian Nomor: 819/SP2H/LT/MONO/LL2/2020 tanggal 24 Juni 2020 DAFTAR PUSTAKA