MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 5. Nomor 2. Desember 2024 DOI: 10. 21154/maalim. Membangun Hubungan Positif Antara Guru dan Siswa dalam Meningkatkan Lingkungan Belajar yang Kondusif Perspektif Al-Nawawi Ad-Dimasyqi Bustanul Yuliani Institut Agama Islam Negeri Ponorogo bustanulyuliani@iainponorogo. AoIzziy Nailata NiAoamillah Institut Agama Islam Negeri Ponorogo izzinailata@gmail. Alfi Nur Faaizah Institut Agama Islam Negeri Ponorogo alfinurfa@gmail. Alif Yusril Maulidah Institut Agama Islam Negeri Ponorogo alifyusr@gmail. Abstract: In the learning and teaching process, most student learning outcomes are determined by the role of the teacher. It could also be said that an absolute requirement for quality education is the existence of teachers/educators. Competent teachers will be better able to create a positive learning environment and will be better able to manage the learning and teaching process so that student learning outcomes are at an optimal level. Apart from a comfortable environment, a good relationship between teachers and students is also very The relationship between the two is not like the relationship between a superior and a subordinate but rather a psychological concept of kinship so that every activity that occurs between them focuses on developing potential and character building. This shows that making ethical students starts with the teacher's ethics towards his students, as taught by Imam Nawawi. In Imam Nawawi's perspective, teachers prioritize caution towards their students, because what the teacher does will become a guideline for behavior for their Apart from that, teachers should also educate and guide students selflessly and indiscriminately, this suggests that teachers care about their students physically and This research uses a library research type to examine more deeply the relationship between teachers and students through teacher ethics, conducive learning, and the relationship between teachers and students in Imam Nawawi's perspective in efforts to improve conducive learning. This research can be useful for all teachers in improving the quality of education. Keywords: Teacher and Student Relationship. Conducive Learning. Al-Nawawi Ad-Dimasyqi Perspective. Abstrak: Dalam proses belajar dan mengajar, sebagian besar hasil belajar siswa ditentukan oleh peran guru. Bisa juga dikatakan bahwa syarat mutlak untuk pendidikan yang berkualitas adalah keberadaan guru/pendidik. Guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang positif dan akan lebih mampu mengelola proses belajar dan mengajar sehingga hasil belajar siswa berada pada tingkat yang optimal. Selain lingkungan yang nyaman, hubungan yang baik antara guru dan siswa juga sangat penting. Hubungan keduanya tidak seperti hubungan antara atasan dan bawahan, melainkan konsep psikologis kekerabatan sehingga setiap aktivitas yang terjadi di antara mereka berfokus pada MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 5. Nomor 2. Desember 2024 DOI: 10. 21154/maalim. pengembangan potensi dan pembentukan karakter. Hal ini menunjukkan bahwa menjadikan siswa yang beretika dimulai dari etika guru terhadap muridnya, seperti yang diajarkan oleh Imam Nawawi. Dalam perspektif Imam Nawawi, guru mengutamakan kehati-hatian terhadap siswanya, karena apa yang dilakukan guru akan menjadi pedoman perilaku bagi siswanya. Selain itu, guru juga harus mendidik dan membimbing siswa tanpa pamrih dan tanpa pandang bulu, hal ini menunjukkan bahwa guru peduli terhadap siswanya secara fisik dan spiritual. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian perpustakaan untuk mengkaji lebih dalam hubungan antara guru dan siswa melalui etika guru, pembelajaran yang kondusif, dan hubungan antara guru dan siswa dalam perspektif Imam Nawawi dalam upaya meningkatkan pembelajaran yang kondusif. Penelitian ini dapat bermanfaat bagi seluruh guru dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Kata kunci: Hubungan Guru dan Siswa. Pembelajaran Kondusif. Perspektif Al-Nawawi AdDimasyqi. PENDAHULUAN Dalam pendidikan setiap peserta didik berhak mendapat kepedulian di setiap tahap pendewasaannya, melalui berbagai upaya untuk membentuk insan yang berpengetahuan luas, berpikir kritis serta berakhlak mulia. Sesuai dengan makna pendidikan secara harfiah yaitu proses mendidik yang dilakukan oleh seorang pendidik kepada peserta didik. 1 Maka dalam hal ini guru diharapkan mampu memberikan pembelajaran, tauladan, pengarahan, peningkatan akhlak-etika serta mengembangkan pengetahuan setiap peserta didik. Guru sebagai profesi dalam bidang pendidikan memiliki kode etik yang dijadikan landasan atau pedoman dalam melaksanakan tugasnya. Berdasarkan Undang-Undang No. Tahun 2005, secara tegas menyatakan bahwa guru adalah tenaga profesional yang berkewajiban untuk senantiasa menjunjung tinggi kode etik guru, agar kehormatan dan martabat guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalannya dapat terpelihara. Kode etik guru berisi seperangkat prinsip dan norma moral yang melandasi pelaksanaan tugas dan layanan profesional guru, sesuai dengan nilai-nilai agama, pendidikan, sosial, etika, dan kemanusiaan. Guru memiliki tugas membangun lingkungan yang positif dengan memberikan fasilitas yang baik, ketentraman lingkungan dan suasana pembelajaran yang menyenangkan agar perhatian peserta didik terpusat pada pelajaran. Hal ini dikarenakan lingkungan belajar dapat mempengaruhi keberhasilan dari suatu proses pembelajaran. Lingkungan yang kurang Desi Pristiwanti et al. AoPengertian PendidikanAo. Jurnal Pendidikan Dan Konseling (JPDK) 4, no. December 2. : 7911Ae15, https://doi. org/10. 31004/jpdk. Wilibertus Wuju and Muhammad Tommy Fimi Putra. AoHubungan Antara Guru dan Siswa Dalam Meningkatkan Proses Belajar Mengajar Siswa Kelas XII-IPS i SMA Negeri 9 Samarinda Tahun Pelajaran 2018/2019Ao. CENDIKIA 4, no. : 11Ae22. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 5. Nomor 2. Desember 2024 DOI: 10. 21154/maalim. mendukung pelaksanaan pembelajaran Seperti kondisi sekolah atau kelas yang kurang memadai dan interaksi antar personal di lingkungan sekolah yang kurang baik akan menyebabkan kinerja yang buruk serta peserta didik akan bersikap acuh pada tugas-tugas 3 Maka diperlukan suasana yang baik dan menyenangkan agar membuat peserta didik merasa nyaman sehingga menciptakan pembelajaran yang efektif dan efisien. Dalam proses belajar dan mengajar sebagian besar hasil belajar siswa ditentukan oleh peranan guru. Atau dapat dikatakan syarat mutlak pendidikan yang berkualitas adalah dengan adanya eksistensi guru/pendidik. Guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang positif dan akan lebih mampu dalam mengelola proses belajar dan mengajar, sehingga hasil belajar siswa berada pada tingkat optimal. Oleh karena itu pendidik atau guru yang berkualitas atau profesional adalah guru yang memiliki kemampuan dalam proses pembelajaran, merencanakan dan melaksanakan serta dapat mengevaluasi proses pembelajaran dengan baik. Selain lingkungan yang nyaman hubungan yang baik antara guru dan peserta didik juga sangat penting. Konsep hubungan keduanya tidak seperti hubungan atasan dengan bawahan melainkan konsep psikologis kekeluargaan sehingga setiap kegiatan yang terjadi di antara keduanya fokus pada pengembangan potensi dan juga pembentukan karakter. Jika keduanya menyadari kedudukan dan perannya masing-masing, maka akan tercipta sebuah interaksi yang harmonis, baik saat dalam proses belajar mengajar maupun diluar proses belajar mengajar. Namun, dalam beberapa hal terdapat beberapa faktor pendukung serta penghambat yang mana dapat mempengaruhi kualitas atau profesionalisme guru. Hal ini menunjukkan bahwa menjadikan siswa beretika dimulai dari etika guru terhadap siswanya, seperti yang diajarkan oleh Imam Nawawi. Dalam pandangan Imam Nawawi, guru mengutamakan kehati-hatian terhadap siswanya, karena apa yang dilakukan guru akan menjadi pedoman berperilaku bagi siswanya. Selain itu hendaknya guru juga mendidik dan membimbing siswanya tanpa pamrih dan tanpa pandang bulu, hal ini menunjukkan bahwa guru peduli terhadap siswanya secara lahir dan batin. Ahmad Zain Sarnoto and Samsu Romli. AoPengaruh Kecerdasan Emosional (EQ) dan Lingkungan Belajar Terhadap Motivasi Belajar Siswa SMA Negeri 3 Tangerang SelatanAo. Andragogi: Jurnal Pendidikan Islam Manajemen Pendidikan Islam October 55Ae75, https://doi. org/10. 36671/andragogi. Muhamad Suyudi and Nasrul Wathon. AoPeran Guru Akidah Akhlak Dalam Menanamkan Karakter SiswaAo. QALAMUNA: Jurnal Pendidikan. Sosial. Dan Agama 12, no. December 2. : 195Ae205, https://doi. org/10. 37680/qalamuna. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 5. Nomor 2. Desember 2024 DOI: 10. 21154/maalim. METODE Penulis menggunakan metode penelitian perpustakaan. Penelitian Perpustakaan adalah kegiatan penelitian yang dilakukan dengan mengumpulkan informasi dan data dengan bantuan berbagai bahan yang ada di perpustakaan seperti buku referensi, hasil penelitian serupa sebelumnya, artikel, catatan, dan berbagai jurnal yang berkaitan dengan masalah yang akan dipecahkan. Kegiatan dilakukan secara sistematis untuk mengumpulkan, mengolah, dan menyimpulkan data dengan menggunakan metode/teknik tertentu untuk menemukan jawaban atas permasalahan yang dihadapi. Penulis ingin mengkaji pembelajaran yang kondusif, hubungan antara guru dan siswa lebih dalam melalui etika guru, dan hubungan antara guru dan siswa dari perspektif Imam Nawawi untuk meningkatkan pembelajaran yang kondusif. HASIL DAN PEMBAHASAN Pembelajaran Kondusif Menurut Baharuddin bahwa setiap lingkungan belajar merupakan faktor eksternal yang dapat mempengaruhi perkembangan dan memberikan pengaruh terhadap setiap siswa dalam proses belajarnya. 6 Lingkungan belajar terfokus pada suatu fasilitas yang baik, kenyamanan dan ketentraman lingkungannya agar perhatiannya dapat terpusat pada Lingkungan belajar dapat mempengaruhi keberhasilan dari suatu proses Menurut Saroni, pengertian Aulingkungan belajarAy merupakan segala sesuatu yang berhubungan dengan tempat proses pembelajaran dilaksanakanAy. Lingkungan belajar menurutnya mencakup dua hal utama yaitu, lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Lingkungan fisik adalah lingkungan yang ada di sekitar siswa, berupa sarana fisik, baik yang ada di dalam sekolah maupun di sekitar sekolah, termasuk masyarakat. Dalam hal ini lebih ditekankan pada lingkungan fisik dalam kelas, seperti alat atau media pembelajaran. Lingkungan fisik merupakan sumber kepuasan, keluhan, dan simbol atau perwujudan dari Lingkungan yang kurang mendukung pelaksanaan pembelajaran seperti kurangnya alat-alat laboratorium, ruangan yang pengap, ventilasi yang kurang, rusaknya peralatan, hubungan yang kurang serasi antar siswa, penerangan yang kurang, prosedur dan tata kerja yang tidak jelas, ikut menyebabkan kinerja yang buruk. Kondisi sekolah atau kelas yang Milya Sari and Asmendri Asmendri. AoPenelitian Kepustakaan (Library Researc. dalam Penelitian Pendidikan IPAAo. Natural Science 6, no. June 2. : 41Ae53, https://doi. org/10. 15548/nsc. Abd Aziz Hsb. AoKontribusi Lingkungan Belajar Dan Proses Pembelajaran Terhadap Prestasi Belajar Siswa Di SekolahAo. JURNAL TARBIYAH 25, no. December 2. , https://doi. org/10. 30829/tar. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 5. Nomor 2. Desember 2024 DOI: 10. 21154/maalim. kurang memadai menyebabkan siswa akan bersikap acuh pada tugas-tugas belajarnya. Sementara lingkungan sosial berhubungan dengan pola interaksi antar personal yang ada di lingkungan sekolah secara umum. Kondisi pembelajaran yang kondusif hanya dapat dicapai jika interaksi sosial ini berlangsung dengan baik. Suasana yang baik atau menyenangkan pastinya akan membuat peserta didik merasa Suasana pembelajaran yang menyenangkan akan menciptakan pembelajaran yang efektif dan efisien. Pembelajaran yang efektif dan efisien akan menguntungkan guru dan peserta didik. Lingkungan belajar dapat mempengaruhi keberhasilan dari suatu proses Lingkungan belajar bukan hanya benda mati yang ada disekitar tempat belajar, tetapi orang-orang yang ada di tempat tersebut juga terlibat langsung termasuk lingkungan Rusydi dalam Hanifah menyampaikan kondusif tidaknya suatu kelas sangat dipengaruhi oleh dua faktor utama, faktor internal dan faktor eksternal siswa. Faktor internal siswa biasanya berhubungan erat dengan masalah-masalah emosi, pikiran, dan perilaku Sementara faktor eksternal siswa biasanya sangat erat dengan masalah lingkungan dimana mereka belajar, penempatan siswa, pengelompokan, jumlah, dan bahkan lingkungan Dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif di kelas hendaknya guru dapat melakukan hal: . Merencakan kegiatan pengajaran dengan baik. Menata suasana fisik kelas diantaranya pengaturan ruang kelas dan penyusunan formasi duduk siswa, sehingga dapat memberikan kebebasan bergerak dan kenyamanan untuk belajar. Menata Menciptakan iklim sosio-emosional di dalam kelas. Hubungan Antara Guru dan Peserta Didik dalam Etika Guru Di setiap proses pembelajaran, guru selalu berusaha untuk memvariasi strategi pembelajaran yang akan digunakan sehingga siswa tetap antusias saat proses pembelajaran Peran guru bukan hanya merancang pembelajaran saja tetapi juga harus membentuk hubungan yang baik dengan seluruh anggota pelajar. Kedekatan dengan peserta didik adalah kunci penting bagi seorang guru bila ingin sukses dalam menjalankan tugas dan Sarnoto and Romli. AoPengaruh Kecerdasan Emosional (EQ) dan Lingkungan Belajar Terhadap Motivasi Belajar Siswa SMA Negeri 3 Tangerang SelatanAo. Aulia Dini Hanipah. Titan Nurul Amalia, and Dede Indra Setiabudi. AoUrgensi Lingkungan Belajar Yang Kondusif Dalam Mendorong Siswa Belajar AktifAo. Education : Jurnal Sosial Humaniora Dan Pendidikan 2, no. July 2. : 41Ae51, https://doi. org/10. 51903/education. Jumrawarsi Jumrawarsi and Neviyarni Suhaili. AoPeran Seorang Guru dalam Menciptakan Lingkungan Belajar KondusifAo. Ensiklopedia Education Review . 50Ae54, https://doi. org/10. 33559/eer. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 5. Nomor 2. Desember 2024 DOI: 10. 21154/maalim. tanggung jawabnya. Tanpa kedekatan, tanggung jawab itu akan sulit terlaksana dengan baik. Hal tersebut dikarenakan murid bukanlah sebuah robot yang dapat menerima program apapun dari orang lain. Membangun kedekatan dengan peserta didik adalah keharusan bagi seorang guru. Kedekatan ini akan membuat jalinan guru dan siswa menjadi sangat dekat dan penuh cinta serta saling memberikan pemahaman. Kedekatan akan memberikan kemudahan pada guru untuk menggali akar masalah yang sedang dialami siswa saat proses belajar. Ketika kedekatan terjalin dengan baik, maka semangat belajar akan tumbuh dengan pesat seiring dengan ketertarikan dalam belajar. Kondisi seperti ini dapat membuat proses pembelajaran menjadi menyenangkan. Kedekatan dengan peserta didik dapat dibangun baik secara lahir maupun secara Secara lahir, berkembangnya kedekatan yang baik antara guru dan peserta didik bertumpu di atas tiga berikut: Guru memperlihatkan perhatian yang tulus kepada kemajuan peserta didik: Perhatian kepada kemajuan murid terlihat dalam beberapa cara. Pertama, dalam bentuk pemilihan pengalaman belajar seakurat mungkin untuk memenuhi kebutuhan dan level pemahaman Kedua, dengan memantau secara teliti pemahaman dan kemajuan murid, mengidentifikasi kesukaran, dan menawarkan bantuan tambahan baik per individu maupun seisi kelas. Ketiga, melalui kepedulian dan perhatian yang diberikan dalam mempersiapkan pelajaran dan menilai pekerjaan. Keempat, dengan menangani kurangnya kemajuan murid melalui sikap peduli, menekankan keyakinan akan pentingnya hasil kerja yang lebih baik, dan keyakinan bahwa murid mampu bekerja lebih baik. Kelima, dengan memberikan pujian dan penghargaan atas hasil kerja dan prestasi yang bagus. Guru menunjukkan rasa hormat kepada murid sebagai pelajar: Rasa hormat kepada murid sebagai pelajar menuntut pembentukan pengalaman belajar dimana pandangan dan opini murid didengarkan. Dimana murid mendapatkan kontrol yang memadai untuk membentuk dan menjalankan aktivitas belajar. Guru menunjukkan rasa hormat kepada murid sebagai individu: Rasa hormat kepada murid sebagai individu dianggap sebagai penyumbang terpenting dalam membangun kedekatan yang baik. Sebuah studi dari Pye membuktikan bahwa kebanyakan murid Yazidul Busthomi. AoSepuluh Faktor Agar Menjadi Guru Yang Dicintai Oleh SiswanyaAo. Dirasah : Jurnal Studi Ilmu Dan Manajemen Pendidikan Islam 3, no. March 2. : 35Ae54, https://doi. org/10. 29062/dirasah. Sri Haryanti, 27 Prinsip dan Gagasan Menjadi Guru Menyenangkan (CV Jejak (Jejak Publishe. , 2. , 38. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 5. Nomor 2. Desember 2024 DOI: 10. 21154/maalim. menghargai guru yang memperlakukan mereka sebagai individu selama pelajaran. Hal ini dikarenakan hampir semua murid di kelas merasa bahwa individualitas mereka diterima dan bahwa guru mengakui masing-masing dari mereka. Disini guru tidak dianggap memiliki anak emas yang diperlakukan istimewa. Sebagaimana membangun kedekatan secara lahir, juga tidak kalah pentingnya untuk membangun kedekatan secara batin. Kedekatan ini dapat dilakukan dengan mendoakan secara khusus kepada peserta didiknya agar diberi kemudahan dalam belajar dan mencapai Mendoakan ini tidak hanya cukup dilakukan sekali saja, tetapi harus istiqomah seperti dilakukan sebelum memulai pelajaran, setelah sholat lima waktu, atau di tengah malam setelah melakukan sholat tahajud. Kedekatan atau hubungan yang baik antara pendidik dan peserta didik dapat tumbuh melalui penerapan kode etik dengan optimalisasi kompetensi guru. Pada kompetensi kepribadian, dalam berinteraksi kepada peserta didik, seorang guru harus bersikap penuh kasih sayang untuk mengarahkan niat, membimbing, memberikan petunjuk dan memotivasi peserta didik agar tetap belajar. Adapun pada kompetensi sosial, seorang guru harus bersikap baik dan adil dalam memberikan perlakuan terhadap peserta didik, tidak memberikan diskriminasi sosial atau mengistimewakan peserta didik tertentu. Pada kompetensi pedagogik, guru harus bijak dalam menyampaikan dan memilih materi yang tepat, begitu pula dalam menjawab pertanyaan dari peserta didik. Hal ini juga dilakukan bersamaan dengan pemberian motivasi agar peserta didik selalu bersungguh-sungguh dalam mempelajari ilmu. Sedangkan pada kompetensi profesional, guru mampu memudahkan peserta didiknya untuk belajar, termasuk dalam penyampaian materi sehingga tidak mempersulit pemahaman peserta didik. Ketika kedekatan antara guru dan peserta didik sudah terjalin, maka akan berpotensi pada terciptanya lingkungan belajar yang positif. Baik guru ataupun peserta didik yang mempunyai kedekatan atau hubungan yang baik dapat diindikasikan oleh adanya kenyamanan dalam proses pembelajaran. Dengan begitu akan tampak lingkungan yang Proses pembelajaran akan berjalan dengan lancar dan efisien serta mampu mencapai tujuan pembelajaran yang telah direncanakan atau ditetapkan sebelumnya. Busthomi. AoSepuluh Faktor Agar Menjadi Guru Yang Dicintai Oleh SiswanyaAo. Yazidul Busthomi. AoSebelas Modal Agar Menjadi Guru Yang Dicintai Oleh Peserta DidiknyaAo. Murybby: Jurnal Ilmu Pendidikan September 181Ae200, https://doi. org/10. 52431/murobbi. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 5. Nomor 2. Desember 2024 DOI: 10. 21154/maalim. Hubungan Guru dan Siswa dari Perspektif Imam Nawawi untuk Meningkatkan Pembelajaran yang Kondusif Iman Nawawi dalam Dimyati menyebutkan tugas-tugas kewajiban sebelum belajar seperti niat dan tujuan, besungguh-sungguh dan belajar melalui wadah apa saja. Tugas tersebut berkaitan dengan tugas peserta didik terhadap pendidik seperti meminta izin ketika akan belajar, izin tidak masuk sekolah dan tidak berbicara ketika pendidik sedang berbicara. Peserta didik dapat mengetahui dan mempraktekan dalam menuntut ilmu. Konsep pemikiran imam Al-Nawawi yang dikaji oleh Nurudin mengenai etika pendidik dalam kitab At-Tibyan Fii Adabi Hamalatil Al-QurAoan, pendidik seharusnya sebagai berikut: Ikhlas . engharap ridho Alla. Tidak Menjadikan Ilmu Sebagai Perantara Untuk Mencari Kesenangan Duniawi. Menghindari Sifat Sombong Karena Banyaknya Murid yang Belajar Kepadanya. Menghiasi Diri Dengan Akhlak Terpuji. Mendidik Murid Dengan Lemah Lembut. Selalu Memberikan Nasehat. Bersikap TawadhuAo (Rendah Hat. Kepada Peserta Didik. Mendidik Peserta Didik Secara Bertahap (Berangsur-Angsu. Hukum Kewajiban Pendidik Dalam Mengajar. Bersemangat Dalam Mengajar. Urut dan Tertib Dalam Mengajar. Meluruskan Niat Peserta Didik Dalam Belajar. Menjaga Diri Dari Perbuatan Yang Sia-Sia Selama Mengajar. menjaga ilmu dari kehinaan. Menjadikan Tempat Belajar Yang Luas Dan Nyaman. Imam Nawawi menjelaskan dalam karyanya mengenai etika guru baik di saat pembelajaran maupun di luar pembelajaran, beberapa etika guru terhadap murid yang harus diperhatikan oleh pengajar yakni: . Seorang pengajar sebaiknya tidak boleh enggan mengajari seseorang hanya karena niatnya tidak lurus. Sebab masih ada harapan dia berniat Kadangkala kebanyakan penuntut ilmu yang baru belajar sulit meluruskan niat lantaran kelemahan jiwa dan kurangnya keakraban mereka dengan hal-hal yang dapat mengantarkan mereka meluruskan niat. Kesenggangan dalam mengajari mereka justru berakibat hilangnya banyak ilmu, padahal dengan keberkahan ilmu diharapkan niat mereka bisa menjadi lurus jika mereka setelah akrab dengan ilmu. Mengajari penuntut ilmu secara bertahap dengan adab yang luhur dan sifat yang terpuji, melatih jiwa dengan tata krama dan budi pekerti yang halus, serta membiasakannya menjaga diri dari seluruh keadaan dhahir dan batin. Merangsang penuntut ilmu agar menyukai ilmu. Bersikap empati dan memperhatikan Dimyati. AoAdab Murid Menurut ImAm Al - Nawaw Al-Dimasyqi . H-676 H) Dalam Kitab AlTibyAn F AdAbi Hamalah Al-QurAn Dan Al-MajmuAo Syarah Al-MuhadzdzabAo (Thesis. Lampung. UIN Raden Intan Lampung, 2. , http://repository. id/12069/. Muhammad Nurudin. AoImam Al-NawawiAos Thoughts on Educator Ethics in the Book of At-Tibyan Fii Adabi Hamalatil Al-QurAoanAo. ISEDU : Islamic Education Journal 2, no. June 2. : 48Ae62, https://doi. org/10. 59966/isedu. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 5. Nomor 2. Desember 2024 DOI: 10. 21154/maalim. kepentingan kepentingan penuntut ilmu, sama seperti memperhatikan kepentingankepentingan dirinya sendiri dan anak-anaknya. Dia sepatutnya memperlakukan penuntut ilmu seperti anaknya sendiri dalam hal bersikap lemah lembut terhadapnya, memperhatikan kemaslahatannya, sabar terhadap sikap kasar dan perilaku buruknya, serta memaafkan sikap buruk dan kasar yang kadangkala timbul dari penuntut ilmu. Sebab manusia merupakan objek . Menyukai kebaikan untuknya sebagaimana halnya dia menyukai kebaikan untuk dirinya nya jangan membenci apa yang dia benci bagi dirinya dari keburukan. Bersikap lapang dada dalam menyampaikan ilmu yang didapatinya dengan mudah kepada penuntut ilmu, juga pelan pelan dalam memberi penjelasan, bersikap lemah lembut, penuh nasehat dan bimbingan kepada hal-hal yang penting, mendorong mereka menghafal catatan penting yang dijabarkannya dan tidak menyembunyikan ilmu yang mereka butuhkan jika memang dipandang mampu dikuasai. Tidak menyampaikan kepada penuntut ilmu sesuatu yang tidak sesuai baginya, supaya menjaga keadaannya. Dia juga hendaknya menjelaskan bahwa dia tidak melarangnya dari hal tersebut karena pelit, melainkan karena kasih saying. Tidak membesarkan diri di hadapan penuntut ilmu, melainkan bersikap lemah lembut dan rendah hati terhadap mereka. Mengajari, menaruh perhatian, dan lebih mementingkan penuntut ilmu daripada kebutuhan dan dan kepentingan pribadinya selama tidak darurat, seperti menyambut Kedatangan para penuntut ilmu memperlihatkan kegembiraan dan wajah yang berseri-seri, berbuat baik kepada mereka dengan ilmu, harta dan kedudukannya sesuai dengan kemudahan yang dimiliki. Mengecek dan bertanya tentang siapa yang tidak hadir. Berusaha semampunya untuk memberikan pemahaman dan mendekatkan materi pelajaran ke pikiran mereka. Dalam memberikan pemahaman perlu memperhatikan daya tangkap dan kekuatan ingatan setiap penuntut ilmu. Memotivasi para penuntut ilmu untuk belajar setiap waktu dan meminta mereka mengulangi pelajaran di beberapa waktu serta menanyai mereka tentang pelajaran-pelajaan penting yang sudah disampaikan. Seorang pengajar selayaknya melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang bermanfaat menuntutnya kepada anakanak didiknya dan menguji pemahaman mereka dengan pertanyaan pertanyaan tersebut. konsep kepribadian pendidik dari pemikiran Imam Nawawi dalam Toro, yaitu: . Pendidik seharusnya melaksanakan tanggung jawabnya secara tulus dengan niat semata -mata mengharapkan keridhaan Allah SWT. Pendidik tidak berniat untuk memperoleh kesenangan duniawi. Pendidik harus selalu berhati-hati dan teliti. Pendidik hendaknya Aidul Hijriyah. Qurrata Ayun, and Novizal Wendry. AoEtika Muhaddits Perspektif Imam An-NawawiAo. El-Sunnah: Jurnal Kajian Hadis Dan Integrasi Ilmu 3, no. June 2. : 66Ae78, https://doi. org/10. 19109/elsunnah. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 5. Nomor 2. Desember 2024 DOI: 10. 21154/maalim. menghiasi diri dengan sifat terpuji dan akhlak yang baik. Siswa harus diperlakukan dengan baik oleh pendidik. Pendidik hendaknya menasihati muridnya. Pendidik harus lembut dan rendah hati, bersikaplah lemah lembut dan tawaduAo. Siswa harus diajarkan untuk berperilaku dengan cara yang diridhai oleh Allah SWT oleh guru mereka dari waktu ke . Jika muridnya banyak, hendaknya guru mendahulukan giliran murid yang perama kali datang dan seterusnya. Hendaknya guru mengajar hanya berniat karena Allah semata agar tidak sia-sia saat mengajar. Guru tidak boleh mengajar dengan cara datang ke tempat siswa. Konsep-konsep kepribadian pendidik pendapat Imam An-Nawawi dalam kitab attibyan fi adabi hamalah alQurAoan. Kitab at-tibyan fi adabi hamalah al-QurAoan dengan Standar Pendidikan Nasional dalam Toro yaitu Guru harus memiliki karakter sebagai berikut. Mantab, stabil dan dewasa. Arif dan berwibawa. Menjadi teladan. Berakhlak Dari penjelasan Al-Nawawi terkait etika guru terhadap murid dapat diambil kesimpulan bahwa Imam Nawawi mengutamakan kehati-hatian guru terhadap muridnya, sebab apa yang dilakukan guru akan menjadi pedoman perilaku bagi murid-muridnya. Selain itu guru juga seyogyanya mendidik dan membimbing murid dengan pamrih dan tak pandang bulu, hal demikian mengisyaratkan bahwa guru sangat peduli terhadap muridnya secara dhohir maupun bathin. KESIMPULAN Etika guru memegang peran penting dalam menjalin hubungan yang baik dengan peserta didik, yang pada gilirannya membangun lingkungan belajar yang positif. Adapun hubungan yang baik akan tumbuh melalui penerapan kode etik guru terhadap peserta didik dari sudut pandang kompetensi guru. Hubungan guru dengan peserta didik untuk meningkatkan pembelajaran kondusif, dalam pandangan Imam Nawawi dimulai dengan rasa Ikhlas menharap Ridho Allah dibarengi dengan menjalankan tanggung jawab, tidak sombong dan mengharapkan imbalan dari peserta didiknya. Hal tersebut dibarengi dengan seorang guru memiliki karkater mantab, stabil dan dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan serta berakhlak mulia. Toro Yudistiro and Nur Hadi. AoImam NawawiAos Thought On Teacher Personality Competencies And Their Relevance To National Education StandardsAo. AL-WIJDyEN Journal of Islamic Education Studies 8, no. April 2. : 280Ae93, https://doi. org/10. 58788/alwijdn. Toro Yudistiro and Siti Rohimah. AoImam NawawiAos Thoughts About Teacher Personality Competence And Its Relevance To National Educational StandardsAo. Proceeding of International Conference of Islamic Education 1 . August 2. : 10Ae19. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 5. Nomor 2. Desember 2024 DOI: 10. 21154/maalim. DAFTAR PUSTAKA