Jurnal Kesehatan Husada Gemilang ISSN 2615-3068. Vol : 9. No 1. Februari 2026 HUBUNGAN STATUS GIZI DAN POLA MAKAN DENGAN STATUS GIZI SISWI DI SMAN 1 SEMPARUK TAHUN 2024 Umi Fania Julianti1 1Akademi Kebidanan Singkawang faniaumi4@gmail. ABSTRAK Anemia adalah penyakit kekurangan kadar hemoglobin di dalam darah dan banyak terjadi pada Kasus anemia di Indonesia tahun 2023 yang terjadi pada remaja perempuan sebesar 7 %. Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya anemia pada remaja perempuan yaitu status gizi dan pola makan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status gizi dengan kejadian anemia, hubungan pola makan dengan kejadian anemia, pengaruh status gizi dan pola terhadap kejadian anemia secara simultan dan parsial, dan sumbangan status gizi dan pola makan terhadap kejadian anemia. Desain penelitian secara deskriptif korelasi dengan pendekatan cross Penelitian dilakukan di SMA Negeri 1 Semparuk dengan responden 156 siswi. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah stratified random sampling. Data status gizi diperoleh dari pengukuran IMT dan hemoglobin darah, sedangkan data pola makan diperoleh dari kuesioner. Instrumen penelitian memiliki nilai corrected item total correlation > 0,361 dan CronbachAos Alpha sebesar 0. Teknik analisis data yang digunakan adalah chisquare dan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan status gizi dengan kejadian anemia, ada hubungan pola makan dengan kejadian anemia, ada pengaruh signifikan status gizi dan pola terhadap kejadian anemia secara simultan dan parsial, dan sumbangan status gizi dan pola makan terhadap kejadian anemia sebesar 78,2%. Kata kunci : Status gizi. Pola makan. Anemia ABSTRACT Anemia is a disease caused a deficiency of hemoglobin in the blood and is common among women. In Indonesia, the prevalence of anemia among teenage girls in 2023 was 22. Several factors that influence occurrence of anemia in teenage girls include nutritional status and dietary This study aims to determine relationship between nutritional status and the incidence of anemia, relationship between dietary patterns and incidence of anemia, effect of nutritional status and dietary patterns on incidence of anemia both simultaneously and partially, contribution of nutritional status and dietary patterns to incidence of anemia. The research design is a descriptive correlation study using a cross-sectional approach. The study was conducted at SMA Negeri 1 Semparuk with 156 female respondents. The sampling technique used in this study was stratified random sampling. Nutritional status data was obtained from BMI and blood hemoglobin measurements, while dietary pattern data was obtained from a questionnaire. The research instrument has a corrected value Item-total correlation > 0. 361 and CronbachAos Alpha of 0. The data analysis techniques used chi-square and logistic regression. The results of the study showed that there is a relationship between nutritional status and the occurrence of anemia, there is a relationship between dietary patterns and the occurrence of anemia, there is a significant influence of nutritional status and dietary patterns on the occurrence of anemia both simultaneously and partially, the contribution of nutritional status and dietary patterns to occurrence of anemia is 78. Keywords Nutritional status. Dietary patterns. Anemia LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Husada Gemilang Jurnal Kesehatan Husada Gemilang ISSN 2615-3068. Vol : 9. No 1. Februari 2026 PENDAHULUAN dan frekuensi makan. Pola makan yang tidak sesuai dapat mengakibatkan asupan gizi . akronutrien dan mikronutrie. yang Pola makan juga berkaitan dengan kondisi status gizi. Status gizi salah satunya dapat diketahui dari Indeks Massa Tubuh (IMT) apabila IMT kurang dari 18,5 memiliki risiko 1,4 kali menderita anemia (Imelda et al. , 2. Penyebab terjadinya anemia pada remaja dikarenakan pola makan yang tidak teratur, tidak suka mengonsumsi fast food dan junk food serta pantangan makan makanan berprotein (Oktaviana et al. , 2. Anemia adalah penyakit kekurangan kadar hemoglobin di dalam darah atau kekurangan butir darah merah. Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan yang dapat terjadi pada semua kelompok umur mulai dari balita sampai usia Siklus menstruasi setiap bulan menyebabkan remaja putri rentan menderita banyak ditemukan pada remaja perempuan sebesar 22. 7 %. Anemia dapat menyebabkan penurunan daya tahan tubuh dan produktivitas (Kementrian Kesehatan, 2. Salah Pemerintah menanggulangi kasus anemia yang terjadi pada usia remaja dengan pemberian tablet tambah Cakupan pemberian tablet tambah darah pada remaja putri di Indonesia pada tahun 2023 adalah 78,9%. Cakupan pemberian tablet tambah darah pada remaja putri tertinggi dicapai oleh Provinsi Bali . ,5%), sedangkan persentase terendah oleh Provinsi Papua Pegunungan . ,5%) sedangkan provinsi Kalimantan Barat berada pada urutan 12 cakupan tertinggi . ,2%) (Kemenkes RI. Data menunjukkan perlunya upaya-upaya yang harus dilakukan oleh semua lintas sektoral untuk meningkatkan lagi pemberian tablet tambah darah pada remaja agar dapat mencegah terjadinya anemia yang dapat mengancam kesehatan dan produktivitas remaja pada masa Remaja dengan sejumlah perubahan biologis, kognitif, dan emosional. Oleh karena itu. Masa remaja adalah masa yang lebih banyak membutuhkan energi dan membutuhkan nutrisi dua kali lipat pada masa pertumbuhan. Remaja putri lebih beresiko menderita anemia daripada remaja putra setiap bulannya mengalami menstruasi, sering kali menjaga penampilan, ingin mendapatkan tubuh ideal sehingga berdiet dan mengurangi makan. Pola menstruasi yang tidak normal dapat menyebabkan anemia karena terjadi pengeluaran darah yang berlebih (Muhayati & Ratnawati, 2. Anemia sering terjadi pada remaja yang dapat dipengaruhi oleh pola makan. Pola makan merupakan suatu rutinitas yang dilakukan dalam sehari-hari berkaitan makanan yang dikonsumsi seperti berapa kali dalam satu hari, jenis makanan LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Husada Gemilang Pola makan merupakan kebiasaan yang sering dilakukan oleh kebanyakan remaja baik remaja putra maupun remaja putri mengkonsumsi makanan yang kurang bergizi misalnya seperti es, coklat, gorengan, permen dan makan tidak teratur karena melakukan aktivitas belajar yang padat sering menyebabkan terjadi gangguan penyerapan zat besi dalam tubuh terganggu sehingga dapat menyebabkan kadar hemoglobin rendah di dalam tubuh (Nirbita & Widyaningrum, 2. Berdasarkan hasil studi pendahuluan jumlah siswi SMAN 1 Semparuk berjumlah 255 oarng dan dilakukan wawancara terhadap 10 orang siswi tentang kebiasaan makan dalam sehari-hari. Dari 10 orang didapatkan 7 orang mengatakan lebih sering jajan di sekolah atau di luar seperti cemilan. Selain itu siswi belum melakukan pemeriksaan darah pada semester ini. Berdasarkan latar belakang di atas sehingga penulis tertarik untuk melakukan penelitian AoHubungan Status Gizi dan Pola Makan Dengan Kejadian Anemia Pada Remaja Putri di SMAN 1 Semparuk Tahun 2024Ay. METODE PENELITIAN Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif korelasi sedangkan rancangan yang digunakan secara survey dengan pengumpulan data dari responden sedangkan pendekatan waktu yang digunakan secara cross sectional, yaitu Jurnal Kesehatan Husada Gemilang dengan melihat hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat, yakni variabel bebas (Status gizi dan Pola Maka. dengan variabel terikat (Kejadian Anemi. dalam satu waktu. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan status gizi dan pola makan dengan kejadian anemia pada siswi di SMAN 1 Semparuk. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 9 Agustus 2024 dan dilaksanakan di SMAN 1 Semparuk di Jalan H. Tauran Majid Semparuk. Kec. Semparuk Kab Sambas. Provinsi Kalimantan Barat. Populasi dalam penelitian ini adalah semua remaja putri yang berjumlah 255 Sampel yang digunakan dapat mewakili populasi yang diamati. Cara menghitung jumlah sampel menggunakan rumus Slovin berjumlah 156 orang. Teknik pengambilan sampel untuk kasus menggunakan stratified random sampling adalah sistem pengambilan sampel setelah populasi di bagi menjadi beberapa strata dan diacak pada setiap strata. Variabel dalam penelitian dapat dibedakan menjadi variabel bebas yaitu status gizi dan pola makan sedangkan variabel terikat yaitu kejadian Metode pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini yaitu menggunakan data primer yang diperoleh dari pengisian kuesioner dan pengukuran tinggi badan dan berat badan untuk mengetahui status gizi dari Indeks Massa Tubuh (IMT) serta pengukuran hemoglobin responden. Instrumen penelitian dalam penelitian ini adalah menggunakan alat bantu berupa lembar kuesioner dan lembar observasi yang memuat data pengukuran TB. BB serta pemeriksaan Analisis validitas instrumen dilakukan dengan menggunakan program SPSS didasarkan pada koefesien korelasi antara skor butir dengan skor total setiap item instrumen, dapat dilihat pada output Item Total Statistics kolom Corrected Item Total Correlation. Suatu butir instrumen dapat dikatakan valid dalam alat ukur jika memiliki koefesien korelasi Ou r tabel . , sedangkan instrument yang dikatakan reliabel apabila jika alpha >0,6 sedangkan uji reliabilitas dengan Cronbach Alpha pada kuesioner pola makan adalah 0,789. ISSN 2615-3068. Vol : 9. No 1. Februari 2026 HASIL DAN PEMBAHASAN Status Gizi Status gizi merupakan suatu keadaan kondisi keseimbangan antara asuhan zat gizi dengan kebutuhan yang diperlukan oleh Tabel 1. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Status Gizi Pada Siswi di SMAN 1 Semparuk Tahun 2024 Kategori IMT Kurus Normal Gemuk Obesitas Total (Sumber: Data Primer, 2. Tabel diatas menunjukkan bahwa distribusi frekuensi sebagian responden pada status gizi siswi penilaian IMT dengan kategori normal sebanyak 76 responden . ,8%). Pola makan Pola makan merupakan upaya pengaturan jumlah dan jenis makanan sebagai asupan dalam kebiasaan sehari-hari. Tabel 2. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pola Makan Pada Siswi di SMAN 1 Semparuk Tahun 2024 Kategori Pola Makan Kurang baik Baik Total (Sumber: Data Primer, 2. Tabel di atas menunjukkan bahwa responden pada pola makan siswi dengan kategori baik sebanyak 76 responden . ,8%). Anemia Anemia pada remaja merupakan kadar hemoglobin yang diidentifikasi pada remaja apabila < 12 gr/dl. Tabel 3. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Kejadian Anemia Pada Siswi di SMAN 1 Semparuk Tahun 2024 Kategori Kejadian Anemia Tidak anemia Anemia Total (Sumber: Data Primer, 2. LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Husada Gemilang Jurnal Kesehatan Husada Gemilang ISSN 2615-3068. Vol : 9. No 1. Februari 2026 Tabel diatas menunjukkan bahwa distribusi frekuensi sebagian besar responden pada kejadian anemia pada siswi sebanyak 103 responden . %). Hubungan Status Gizi Dengan Kejadian Anemia Tabel 4. Hubungan Status Gizi Dengan Kejadian Anemia pada Siswi di SMAN 1 Semparuk Tahun 2024 Status Gizi Kejadian Anemia Anemia Tidak anemia Kurus Normal Gemuk Obesitas Total (Sumber: Data Primer, 2. 0,000 Tabel diatas menunjukkan bahwa siswi dengan status gizi (IMT) kategori kurus mengalami anemia sebanyak 31 orang . ,9%) sedangkan yang tidak mengalami anemia sebanyak 13 orang . ,3%). Selain itu, status gizi (IMT) kategori normal tidak ada satipun yang mengalami anemia. Berdasarkan hasil uji statistic pada koefesien Pearson Chi-Squre dengan nilai signifikasi 0,000 . value < 0,. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan status gizi dengan kejadian anemia pada siswi di SMAN 1 Semparuk yang artinya Ha diterima dan Ho ditolak. Hubungan Pola Makan Dengan Kejadian Anemia Tabel 5. Hubungan Status Gizi Dengan Kejadian Anemia pada Siswi di SMAN 1 Semparuk Tahun 2024 Pola Kejadian Anemia Anemia Tidak anemia Kurang Baik Total (Sumber: Data Primer, 2. 0,000 Analisis Multivariat Analisis multivariate untuk melihat pengaruh variabel independent (Status gizi berdasarkan IMT dan Pola Maka. terhadap variabel dependent . ejadian anemi. dengan regresi logistik. Untuk melakukan uji regresi logistic perlu dilakukan uji kesesuaian model. LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Husada Gemilang Ada pun hasil uji kesesuai model dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 6. Uji Kesesuaian Model Hosmer and Lemeshow Step Hosmer and Lemeshow Test Chi-square Sig. Hosmer and Lemeshow Test adalah uji Goodness of Fit test (GoF), untuk nenentukan apakah model yang dibentuk sudah tepat atau tidak. Berdasarkan Tabel Hosmer and Lemeshow Test, nilai Sig. 000 (<0. 05%) yang menunjukkan bahwa model regresi logistik yang digunakan sesuai. Kemudian dilakukan Iteration History Block 1 atau saat variabel independent dimasukkan dalam model. N = Degree of Freedom (DF) = N Ae jumlah variabel independen Ae 1 = 156 Ae 2 Ae 1 = 153. Chi square Tabel pada DF 153 dan Prob 0,05 = 182. Nilai -2 Log likelihood < Chi Square Tabel . 061<182. berkesimpulan bahwa model setelah dimasukkan variabel independen adalah fit dengan data. Selanjutnya dilakukan pengujian secara simultan untuk mengetahui pengaruh semua variabel independen dalam penelitian terhadap variabel dependen secara Berikut hasil uji Omnibus of Model Coefficients: Tabel 7. Uji Omnibus of ModeL Coefficients Omnibus Tests of Model Coefficients Chi-square Step 1 Step Block Model Sig. Berdasarkan tabel Omnibus Test of Model Coefficients, dengan derajat bebas =2 diperoleh nilai sig. ilai sig. < 0,. sehingga jawaban terhadap hipotesis pengaruh simultan variabel independen terhadap variabel adalah menerima Ha dan menolak H0, yang berarti ada pengaruh signifikan secara simultan status gizi (IMT) dan pola makan terhadap anemia. Untuk Jurnal Kesehatan Husada Gemilang ISSN 2615-3068. Vol : 9. No 1. Februari 2026 menilai berapa besar pengaruh variabel independent terhadap variabel dependent maka dilakukan Model Summary (Pseudo R Squar. Tabel 8 Model Summary Model Summary Step -2 Log Cox & Snell R Square Nagelkerke Square Estimation terminated at iteration number 20 because maximum iterations has been reached. Final solution cannot be found. Nilai Cox & Snell R Square dan nilai Negelkerke R Square digunakan untuk menunjukkan variabilitas variabel dependen dapat dijelaskan oleh variabilitas variabel Berdasarkan Nilai Nagelkerke R Square sebesar 0. 782 maka dapat disimpulkan sumbangan pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen secara bersama-sama sebesar 78,2% dan terdapat 21,8% faktor lain diluar variabel yang diteliti. Variabel independent yang berpengaruh signifikan terhadap anemia adalah variabel independent yang mempunyai nilai signifikani uji Wald <0,05. Berdasarkan tabel di atas, variabel Status gizi memiliki nilai sig. 0,000 (<0,. , sehingga dapat disimpulkan bahwa varibel status gizi signifikan berpengaruh secara signifikan terhadap kejadian anemia pada Diketahui nilai koefesien regresi variabel status gizi sebesar 2,765 dan bertanda positif, nilai OR (Odd Rati. sebesar 15,857 menunjukkan pengaruh yang positif berarti bahwa responden dengan status gizi kategori kurus memiliki kemungkinan untuk mengalami anemia 15,857 kali lebih besar daripada responden dengan status gizi kategori normal dengan tidak mengalami anemia . Hubungan tersebut secara statistik signifikan (OR= 15,857. CI 95% 4,599 hingga 54,669 . p = 0,. Variabel pola makan memiliki nilai sig. sebesar 0,996 (>0,. , sehingga dapat disimpulkan bahwa varibel pola makan tidak signifikan berpengaruh secara parsial terhadap kejadian anemia. LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Husada Gemilang Status gizi merupakan keadaan kesehatan tubuh seseorang atau sekelompok orang penyerapan . , dan penggunaan zat gizi makanan didalam tubuh. Status gizi merupakan faktor penting untuk menilai seseorang dalam keadaan sehat atau tidak menderita penyakit akibat gangguan gizi baik secara mental maupun fisik. Ketidakseimbangan dalam penyediaan pangan menyebabkan masalah dalam pemenuhan gizi, yakni masalah gizi kurang dan masalah gizi lebih. Pada hasil penelitian didapatkan lebih dari setengah responden mengalami anemia. Hal ini disebabkan oleh masalah asupan nutrisi. Remaja putri masih banyak yang mengabaikan nutrisi seimbang sehingga dapat mengakibatkan terjadinya Jumlah zat gizi seimbang didalam tubuh tidak mencukupi karena jumlah lemak yang berlebih. Terjadi metabolisme zat gizi didalam tubuh yang tidak seimbang, keadaan ini dapat menyebabkan terjadinya anemia (Manila & Amir, 2. Hasil penelitian ini didukung dengan penelitian Manila & Amir yang menyatakan ada hubungan antara status gizi dengan kejadian anemia ini dilakukan dengan menggunakan rumus Chi square, didapatkan p-value sebesar 0,001 pada tarif signifikan 0,05. Karena p-value < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima, sehingga ada hubungan antara status gizi dengan kejadian anemia pada remaja putri di Kota Samarinda (Manila & Amir, 2. Berdasarkan hasil analisis diperoleh pula nilai PR 2,24 dengan IK 1,41 Ae 3,55 pada kategori status gizi kurus, yang artinya remaja putri yang memiliki status gizi kurus mempunyai risiko 2,24 kali secara signifikan untuk terkena anemia dibandingkan dengan remaja putri yang memiliki status gizi normal (Nurazizah YI. Nugroho A, 2. Hal ini juga didukung oleh hasil penelitian dengan uji Fisher yang dilakukan Jurnal Kesehatan Husada Gemilang menghasilkan p-value sebesar 0,042 O 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan masalah anemia gizi pada remaja (Zulfa. Status gizi remaja berhubungan dengan berbagai faktor diantaranya yaitu secara langsung berupa asupan makan serta penyakit dan secara tidak langsung berupa aktivitas fisik, faktor individu . mur, jenis kelamin, pengetahuan remaj. , faktor dari keluarga . endidikan dan pendapatan orang tu. , dan lingkungan sekolah dan teman sebaya, serta media massa. Banyak faktor yang menjadi penyebab terjadinya anemia pada seseorang, akibat faktor gizi . efisiensi protein, vitamin, dan minera. dan non gizi . enyakit infeks. (Oktaviana et al. , 2022. Paramastri et al. , 2. Selain itu, anemia dapat disebabkan karena menstruasi, faktor genetik, aktivitas fisik yang rendah, tingkat pendidikan, ekonomi, serta sosial Penyebab terbesar terjadinya anemia gizi adalah berkurangnya masukan zat gizi yang berhubungan dengan pola makan yang tidak baik akibat ketidaktahuan ataupun ketidakmampuan (Yulaeka, 2. Penyebab lain terjadinya anemia adalah kekurangan asam folat, perdarahan hebat, leukimia, kecacingan, kekurangan zat besi, vitamin B12 dan lain sebagainya (Clara et al. , 2. Berikut merupakan faktor-faktor yang mendorong terjadinya anemia gizi pada remaja yaitu penyakit infeksi yang kronis, menstruasi yang berlebihan pada remaja putri, perdarahan yang mendadak misalnya kecelakaan, dan jumlah makanan atau penyerapan diet yang buruk dari zat besi, vitamin B12, vitamin B16, vitamin C, dan tembaga (Clara et al. , 2. Hal tersebut terjadi dikarenakan mayoritas dari responden tersebut kurangnya keberagaman makanan, kurangnya mengonsumsi makanan hewani, dan kebiasaan melakukan diet yang tidak Responden yang memiliki pola makan yang baik dan cukup dilihat dari kuesioner yang digunakan bahwa makanan yang dikonsumsi LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Husada Gemilang ISSN 2615-3068. Vol : 9. No 1. Februari 2026 Sedangkan, anemia pada penelitian ini dapat disebabkan oleh kebiasaan makan yang tidak sehat dan tidak baik memengaruhi terjadinya anemia, salah satunya kebiasaan tidak sarapan dan sering mengonsumsi minuman penghambat absorpsi zat besi seperti teh, kopi. pola makan dengan anemia mengonsumsi berbagai sumber makanan yang seimbang perharinya dan responden yang mengalami anemia dikarenakan konsumsi makanan yang tidak sehat dan mengonsumsi makanan junk. Melewatkan sarapan pagi berkontribusi sebanyak 30% kebutuhan asupan makronutrien dan Kebiasaan sarapan berisiko 2 kali lipat terkena anemia dibandingkan tidak melewatkan sarapan food . epat saj. Hal ini juga didukung hasil penelitian dengan melakukan uji Chi Square pada pola makan dan kejadian anemia didapatkan nilai P-value sebesar 0. 001, hal ini menunjukan ada hubungan antara pola makan dengan kejadian anemia (Harahap & Damayanty. Remaja putri sebagian besar sering tidak sarapan pagi dirumah dan suka mengganti makan pagi menjadi makan siang karena terburu-buru berangkat sekolah dan merasa malas makan pagi. Timbulnya anemia dapat disebabkan oleh asupan pola makan yang salah, tidak teratur dan tidak seimbang dengan kecukupan sumber gizi yang dibutuhkan tubuh diantaranya adalah asupan energi, asupan protein, asupan karbohidrat, asupan lemak, vitamin C dan yang terutama kurangnya sumber makanan yang mengandung zat besi, dan asamf olat. Upaya penanggulangan masalah anemia pada remaja berkaitan dengan asupan makanan yang mengandung zat besi. Hal ini didukung dengan penelitian untuk menguji hubungan pola makan Jurnal Kesehatan Husada Gemilang dengan anemia, yang mana pola makan diet meningatkan resiko anemia hingga 87% (OR=1,87, 95% CI 1,78-1,95, p = 0,. Pada variabel BMI < 18 kg/m2 yaitu pada kategori berat badan kurang meningkatkan resiko anemia hingga 7,07 kali lipat di bandingkan responden yang memiliki BMI dengan kategori normal (OR=7,07, 95% CI 1,34-37,26, p = 0,. Selain itu dari hasil penelitian menunjukkan berat badan abnormal berkorelasi dengan peningkatan Hubungan badan/obesitas dengan anemia berkaitan dengan penghambatan transportasi zat besi dan penurunan zat besi dalam sirkulasi darah karena terensi zat besi yang makrofag. Oleh karena itu apabila asupan zat besi cukup, seseorang yang kelebihan badan/obesitas dengan lemak tubuh berlebih tampaknya memiliki resiko lebih tinggi anemia defisiensi zat besi (Paramastri et al. KESIMPULAN Ada hubungan status gizi dengan kejadian anemia pada siswi di SMAN 1 Semparuk dengan hasil uji Chi-Square 0,000 . value < 0,. Ada hubungan pola makan dengan kejadian anemia pada siswi di SMAN 1 Semparuk dengan hasil uji Chi-Square 0,000 . value < 0,. Ada pengaruh simultan variabel independen terhadap variabel dependent sehingga Ha dan menolak H0, yang berarti ada pengaruh signifikan secara simultan status gizi dan pola makan terhadap kejadian anemia diperoleh nilai Sig. ilai Sig. < 0,. Terdapat pengaruh signifikan secara parsial pada status gizi terhadap kejadian anemia (OR= 15,857. CI 95% 4,599 hingga 54,669 . p = 0,. , sedangkan tidak terdapat pengaruh signifikan secara parsial pada pola makan terhadap kejadian anemia pada siswi Ada independent terhadap variabel dependen secara bersama-sama sebesar 78,2% dan terdapat 21,8% faktor lain diluar model yang mempengaruhi variabel dependent. LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Husada Gemilang ISSN 2615-3068. Vol : 9. No 1. Februari 2026 UCAPAN TERIMAKASIH Terima kasih penulis ucapkan kepada responden penelitian & Kepala Sekolah SMAN 1 Tekarang yang membantu dan mendukung penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA