ANALISIS KADAR RETIKULOSIT BERDASARKAN KATEGORI KADAR TIMBAL DARAH PADA PEROKOK AKTIF Laurentia Filda Safira*1 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nasional Surakarta Email : laurentiafilda27@gmail. Wimpy2 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nasional Surakarta Email: wimpy@stikesnas. orresponding autho. *Corresponding author ABSTRAK Pendahuluan Kandungan timbal (P. dalam asap rokok merupakan salah satu faktor yang berpotensi mengganggu keseimbangan mikronutrien tubuh, termasuk zat besi. Timbal yang terhirup melalui paruparu dapat masuk ke dalam sistem sirkulasi darah, berikatan dengan eritrosit, dan menghambat proses pembentukan sel darah . Akumulasi timbal dalam tubuh perokok aktif diduga dapat memengaruhi produksi retikulosit, yang merupakan indikator regenerasi eritrosit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan kadar retikulosit pada perokok aktif berdasarkan status kadar timbal darah. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan potong lintang dan melibatkan 20 responden perokok aktif yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Metode Kadar timbal darah diukur menggunakan metode Inductively Coupled Plasma-Optical Emission Spectroscopy, sedangkan pemeriksaan retikulosit dilakukan secara manual di laboratorium. Hasil menunjukkan bahwa 5 dari 20 responden . %) memiliki kadar timbal darah melebihi ambang batas Ou5 AAg/dL sesuai kriteria National Institute for Occupational Safety and Health, dan 3 responden . %) menunjukkan kadar retikulosit yang meningkat. Karena data tidak berdistribusi normal, uji MannWhitney U digunakan, menghasilkan nilai signifikansi p = 0,826. Hasil Temuan ini mengindikasikan tidak terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik pada kadar retikulosit antara kelompok dengan kadar timbal darah normal dan tinggi. Kesimpulan Dengan demikian, kadar timbal yang meningkat belum terbukti secara signifikan berpengaruh terhadap kadar retikulosit pada populasi penelitian ini. Kata Kunci: asap rokok, perokok aktif, retikulosit, timbal darah. ABSTRACT Introduction Lead (P. content in cigarette smoke is a potential factor that may disrupt the balance of micronutrients in the body, including iron. Inhaled lead enters the circulatory system through the lungs, binds to red blood cells, and interferes with hematopoiesis. The accumulation of lead in active smokers is suspected to influence reticulocyte production, which serves as a marker of erythrocyte This study aimed to assess differences in reticulocyte levels among active smokers based on their blood lead status. An analytical observational study with a cross-sectional design was conducted, involving 20 active smokers selected through purposive sampling. Method Blood lead levels were measured using Inductively Coupled Plasma-Optical Emission Spectroscopy (ICP-OES), and reticulocyte counts were performed manually in the laboratory. Results showed that 5 out of 20 respondents . %) had blood lead levels exceeding the threshold of Ou 5 AAg/dL, as defined by the National Institute for Occupational Safety and Health and 3 respondents . %) exhibited elevated reticulocyte levels. Due to non-normal data distribution, the Mann-Whitney U test was used, yielding a significance value of p = 0,826. Result These findings indicate no statistically significant difference in reticulocyte levels between subjects with normal and elevated blood lead levels. Conclusion Therefore, high blood lead levels have not been proven to significantly affect reticulocyte counts in this study Keywords: active smokers, blood lead, cigarette smoke, reticulocyte PENDAHULUAN Paparan logam berat timbal (P. dari asap rokok menjadi salah satu permasalahan ISSN : 2502-1524 penting dalam ranah kesehatan lingkungan, khususnya terkait disfungsi metabolik dan sistem hematologi. Rokok mengandung ribuan senyawa kimia berbahaya, termasuk Page | 108 Journal of Nursing and Health (JNH) Volume 10 Nomor 1 Maret Tahun 2025 Halaman :108-115 logam beracun seperti timbal, kadmium, dan arsenik (Sari & Wimpy, 2. Timbal memiliki tingkat toksisitas yang tinggi dan dapat masuk ke dalam tubuh melalui proses inhalasi, kemudian membentuk ikatan kuat dengan eritrosit dalam aliran darah. Diperkirakan lebih dari 90 % timbal dalam darah menempel pada sel darah merah hematopoiesis, termasuk produksi retikulosit sebagai penanda regenerasi eritrosit (Wimpy. Retikulosit merupakan eritrosit muda yang dilepaskan oleh sumsum tulang sebagai respons terhadap kebutuhan tubuh akan sel darah merah baru. Jumlah retikulosit di dalam sirkulasi darah mencerminkan aktivitas pembentukan eritrosit, sehingga perubahan jumlah baik penurunan maupun peningkatan kadarnya dapat menandakan gangguan hematopoietik akibat paparan racun atau kondisi patologis. (Carter, 2. Kelompok perokok aktif memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap gangguan ini karena terpapar secara terus-menerus oleh zat-zat toksik dari asap rokok. Salah satu mekanisme yang dapat timbul adalah gangguan pematangan eritrosit dan stres oksidatif akibat akumulasi timbal di dalam tubuh (Ray, 2. Berdasarkan rekomendasi dari National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH), kadar timbal dalam darah sebesar Ou 5 AAg/dL telah ditetapkan sebagai ambang batas yang memerlukan intervensi medis (National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH), 2. Sementara itu. World Health Organization menegaskan bahwa tidak ada kadar paparan timbal yang dapat dianggap sepenuhnya aman, karena paparan kronis, meski dalam konsentrasi rendah, mampu menimbulkan perubahan fisiologis yang bersifat subklinis pada sistem saraf, ginjal, maupun darah. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa timbal dapat memengaruhi kadar hemoglobin, ferritin, serta parameter darah lainnya seperti retikulosit merupakan indikator aktivitas sumsum tulang dalam produksi eritrosit (World Health Organization, 2. Perokok aktif cenderung memiliki risiko paparan timbal yang lebih tinggi non-perokok, kandungan logam berat dalam asap rokok yang dapat terhirup secara berulang dan ISSN : 2502-1524 terakumulasi dalam jaringan tubuh (Nakhaee et al. , 2. Paparan jangka panjang ini diduga turut memengaruhi fungsi sistem hematopoietik dan dapat menyebabkan perubahan komponen darah. (Zhang et al. Meskipun hubungan antara timbal dan penurunan hemoglobin telah banyak dikaji, penelitian yang secara spesifik mengevaluasi hubungan antara kadar timbal dalam darah dengan kadar retikulosit pada perokok aktif di Indonesia masih jarang dilakukan. Dengan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi apakah terdapat perbedaan kadar retikulosit pada perokok aktif berdasarkan status kadar timbal dalam darah. Studi ini memfokuskan pada dua variabel utama, yakni kadar timbal darah sebagai variabel independen, dan kadar retikulosit sebagai indikator hematopoiesis. Temuan ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman mengenai potensi gangguan hematologis khususnya retikulosit yang disebabkan oleh paparan logam berat, terutama pada kelompok yang berisiko tinggi seperti perokok aktif. Tujuan utama dari studi ini adalah untuk mengevaluasi perbedaan kadar retikulosit antara kelompok perokok aktif dengan kadar timbal darah normal dan yang telah melampaui ambang batas intervensi. TEKNIK PENELITIAN Penelitian ini menerapkan pendekatan analitik observasional dengan rancangan studi potong lintang . ross-sectiona. Pendekatan ini digunakan dengan alasan pengumpulan data variabel bebas dan terikat secara simultan pada satu waktu Subjek penelitian terdiri dari 20 individu perokok aktif yang dipilih melalui teknik purposive sampling, yaitu metode seleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditentukan Sampel kelompok yang memenuhi syarat sebagai kesediaannya untuk menjalani seluruh prosedur pemeriksaan laboratorium. Kriteria inklusi dalam penelitian ini mencakup pria yang merupakan perokok aktif dengan usia di atas 18 tahun, serta memiliki kebiasaan merokok yang berlangsung secara terus-menerus selama sepuluh tahun. Jumlah konsumsi rokok Page | 109 Laurentia dkk: Analisis Kadar Retikulosit Berdasarkan Kategori Kadar Timbal Darah Pada Perokok Aktif bervariasi, namun minimal lima batang per hari dalam enam bulan terakhir. Selain itu, partisipan yang dilibatkan bersedia menandatangani informed consent dan mengikuti seluruh rangkaian pemeriksaan laboratorium, termasuk pengukuran kadar timbal dalam darah dan pemeriksaan Kriteria eksklusi meliputi individu yang sedang atau pernah mengonsumsi obatobatan, suplemen vitamin, maupun mineral tertentu yang dapat memengaruhi Peserta dengan riwayat penyakit kronis, seperti gangguan ginjal, penyakit hati, atau keganasan, juga dikeluarkan dari penelitian karena kondisi interpretasi hasil retikulosit. Selain itu, individu yang menunjukkan tanda-tanda klinis anemia berdasarkan hasil anamnesis maupun pemeriksaan awal juga tidak dimasukkan dalam penelitian ini. Pengujian kadar timbal dalam darah dilaksanakan di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesd. DKI Jakarta menggunakan metode Inductively Coupled Plasma-Optical Emission Spectroscopy (ICP-OES). Teknik ini dikenal memiliki tingkat akurasi tinggi dalam mendeteksi keberadaan logam berat dalam sampel Tahapan Prosedur: Preparasi sampel : Partisipan yang bersedia mengikuti penelitian diminta untuk mengisi informed consent. Tabung sampel diberi label yang mencantumkan identitas peserta secara jelas. Proses pengambilan darah vena dilakukan dengan mengikuti standar operasional dan protokol biosafety yang ketat. Prosedur pengambilan darah vena : Pengambilan sampel darah dimulai dengan pemastian penggunaan alat pelindung diri (APD) secara lengkap oleh petugas. Seluruh alat dan bahan yang diperlukan dipersiapkan terlebih dahulu sebelum tindakan dilakukan. Lokasi pengambilan darah ditentukan, umumnya di vena area fossa cubiti . ipatan Area ISSN : 2502-1524 dibersihkan menggunakan antiseptik Selanjutnya, torniquet dipasang sekitar tiga jari di atas lokasi Setelah teridentifikasi dengan jelas, jarum steril digunakan untuk melakukan penusukan. Darah sebanyak 3 mL ke dalam tabung EDTA dan 2 mL ke dalam tabung SST (Serum Separator Tub. Pemeriksaan kadar timbal darah : Penyusunan Larutan standar timbal disiapkan dalam berbagai konsentrasi, yaitu 0,01 ppm, 0,02 ppm, 0,05 ppm, 0,08 ppm, 0,10 ppm, dan 0,120 ppm. Masing-masing larutan kemudian menggunakan instrumen ICP-OES pada panjang gelombang 283,3 nm instrumen terhadap kadar logam. Pembuatan Kurva kalibrasi dibentuk dari hasil Data tersebut kemudian dianalisis dan digambarkan dalam bentuk grafik yang menunjukkan hubungan antara konsentrasi logam timbal dengan nilai absorbansi. Hasil grafik ini digunakan untuk memperoleh persamaan regresi linear dalam bentuk y = bx a, yang selanjutnya dijadikan dasar dalam perhitungan kadar timbal Pembacaan Kadar Timbal dalam sampel darah Analisis dimulai dengan mengambil menggunakan pipet ukur, lalu dimasukkan ke dalam gelas beaker. Ke dalam sampel ditambahkan 2Ae3 mL asam nitrat (HNO. pekat untuk membantu proses pelarutan logam. Campuran ini kemudian dipanaskan menggunakan hotplate pada suhu antara 80 hingga 100AC sampai larutan berubah menjadi jernih, yang menandakan bahwa logam telah terlarut sempurna. Setelah proses pelarutan selesai, sampel Page | 110 Journal of Nursing and Health (JNH) Volume 10 Nomor 1 Maret Tahun 2025 Halaman :108-115 dimasukkan ke dalam nebulizer dari alat ICP-OES untuk dianalisis. Kadar berdasarkan intensitas sinyal emisi yang terdeteksi pada panjang konsentrasi timbal dalam darah secara kuantitatif. National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH), menetapkan nilai ambang batas timbal darah sebesar 5 AAg/dL sebagai batas yang perlu mendapat intervensi secara medis, di mana kadar timbal di atas angka ini dapat meningkatkan risiko efek kesehatan. Pemeriksaan jumlah retikulosit Pemeriksaan dilakukan melalui metode pewarnaan supravital menggunakan Brilliant Cresyl Blue, yang memungkinkan visualisasi retikulosit berdasarkan presipitasi substansi retikuler (RNA) di dalam sitoplasma. Langkah-langkah Sebanyak tiga tetes larutan Brilliant Cresyl Blue diteteskan ke dalam tabung reaksi bersih. Tambahkan tiga tetes darah segar EDTA (Ethylenediaminetetraacetic aci. ke dalam larutan pewarna, pencampuran sempurna. Campuran tersebut diinkubasi pada suhu kamar selama 15 menit untuk memberikan waktu yang cukup bagi proses pewarnaan supravital. Setelah inkubasi, ambil satu tetes campuran dan letakkan pada bilik . ounting kemudian tutup dengan kaca penutup . over glas. Pemeriksaan menggunakan mikroskop cahaya dengan perbesaran lensa objektif 1000 kali, menggunakan oil immersion untuk meningkatkan Retikulosit dikenali berdasarkan adanya jaringan filamentosa atau ISSN : 2502-1524 granularitas biru gelap dalam Presentase retikulosit dihitung dengan jumlah retikulosit (%) Ea Ea Ea Ea Perhitungan ini dilakukan menghitung jumlah retikulosit dari total eritrosit yang diamati dalam sepuluh lapang pandang, lalu dirata-ratakan untuk mendapatkan nilai representatif. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), nilai normal retikulosit dalam darah pada individu dewasa adalah sekitar 0,5% hingga 1,5% dari total sel darah merah (World Health Organization, 2. Sumber data dalam penelitian ini merupakan data primer, yang diperoleh langsung melalui hasil pemeriksaan darah yang dilakukan pada para responden. Setelah data terkumpul, langkah awal yang dilakukan adalah uji normalitas untuk dilakukan dengan menggunakan ShapiroWilk Test, mengingat jumlah sampel yang digunakan kurang dari 50. Berdasarkan hasil uji normalitas, jika data tidak terdistribusi normal, maka analisis dilanjutkan dengan uji non-parametrik menggunakan Mann-Whitney U Test untuk menguji perbedaan distribusi antara kelompok yang memiliki kadar timbal darah normal dan kelompok dengan kadar timbal darah yang tidak normal. Proses menggunakan perangkat lunak SPSS versi HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini telah melewati proses persetujuan dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan Universitas Muhammadiyah Purwokerto dengan nomor registrasi KEPK/UMP/252/II/2025. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, data-data yang diperoleh dapat dilihat pada tabel 1 Table 1 Distribusi Data Primer Hasil Penelitian Page | 111 Laurentia dkk: Analisis Kadar Retikulosit Berdasarkan Kategori Kadar Timbal Darah Pada Perokok Aktif Kode Sam Kadar Retikolosit Kada Keteran (%) Normal SP2 Kadar Timbal Darah Kadar Keteran (AAg/dL 6,726 Melebih <0,228 Normal SP3 5,654 SP4 SP5 SP6 <0,228 4,654 5,6. SP7 SP8 <0,228 <0,228 Melebih Normal Normal Lebih Normal Normal SP9 SP10 SP11 SP12 <0,228 4,776 <0,228 <0,228 Normal Normal Normal Normal SP13 SP14 SP15 SP16 SP17 SP18 <0,228 <0,228 <0,228 <0,228 <0,228 6,468 SP19 5,426 SP20 <0,228 Normal Normal Normal Normal Normal Melebih Melebih Normal SP1 Mening Mening Normal Normal Normal Normal Mening Normal Normal Normal Menuru Normal Normal Normal Normal Normal Menuru Normal Normal Dari Tabel 1, dapat dilihat bahwa 5 dari 20 responden . %) memiliki kadar timbal darah yang melebihi ambang batas yang ditetapkan oleh National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH), yaitu Ou 5 AAg/dL. Sebagian besar kadar retikulosit berada dalam rentang normal, meskipun terdapat 3 responden . %) yang mengalami peningkatan kadar ISSN : 2502-1524 retikulosit, dan 2 responden . %) menunjukkan kadar retikulosit yang lebih rendah dari nilai normal menurut World Health Organization. Hasil uji normalitas yang dilakukan Shapiro-Wilk . arena jumlah sampel <. Hasil menunjukkan kelompok dengan kadar timbal darah normal memiliki nilai signifikansi sebesar 0,011 (<0,. , sehingga disimpulkan bahwa data tidak berdistribusi normal. Kelompok dengan kadar timbal melebihi signifikansi 0,496 (>0,. , artinya data terdistribusi normal. Tabel 2. Hasil Uji Normalitas (Shapiro-Wil. Timbal Statistik df Sig. Darah Retikulosit Normal 0,837 15 0,011 Melebihi 0,915 5 0,496 Karena hanya salah satu kelompok yang memenuhi asumsi distribusi normal, maka analisis perbedaan rerata kadar retikulosit antar kelompok dilakukan menggunakan uji non-parametrik Mann-Whitney U Test, yang sesuai digunakan ketika asumsi Tabel 2. Hasil Uji Mann-Whitney U Ranks Sum Mean of Timbal_Darah N Rank Ranks Retikulosit Normal 15 10,33155,00 Melebihi 5 11,00 55,00 Ambang Batas Total Test Statisticsa Retikulosit Mann-Whitney U 35,000 Wilcoxon W 155,000 -,219 Asymp. Sig. -taile. ,826 Exact Sig. -tailed ,866b Sig. Grouping Variable: Timbal_Darah Page | 112 Journal of Nursing and Health (JNH) Volume 10 Nomor 1 Maret Tahun 2025 Halaman :108-115 Not corrected for ties. Berdasarkan hasil analisis, nilai Asymp. Sig. -taile. sebesar 0,826 menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik pada kadar retikulosit antara kelompok dengan kadar timbal darah normal dan kelompok dengan kadar timbal melebihi ambang batas . >0,. Hal ini mengindikasikan bahwa kadar timbal darah pada responden dalam penelitian ini belum memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas eritropoietik Retikulosit merupakan bentuk maturasi terakhir dari eritrosit muda yang masih mengandung sisa RNA ribosomal, dan digunakan sebagai indikator aktivitas sumsum tulang dalam proses eritropoiesis (Ovchynnikova et al. , 2. Pemeriksaan kadar retikulosit memiliki nilai diagnostik penting dalam mengevaluasi respon tubuh terhadap anemia, perdarahan, atau gangguan hematopoiesis yang mungkin disebabkan oleh paparan toksikologis, termasuk logam berat seperti timbal (P. (Rawat et al. , 2. Dalam penelitian ini, dilakukan uji MannWhitney U untuk mengetahui perbedaan kadar retikulosit antara dua kelompok, yakni kelompok dengan kadar timbal darah normal dan kelompok dengan kadar timbal darah yang melebihi ambang batas yang ditetapkan oleh National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) (Ou 5 AAg/dL). (National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH). Hasil uji Mann-Whitney U menunjukkan nilai Asymp. Sig. -taile. sebesar 0,826, yang berada jauh di atas ambang batas signifikansi = 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik antara kadar retikulosit pada kelompok dengan kadar timbal darah normal dan kelompok yang melebihi ambang batas. Secara median, kelompok dengan kadar timbal darah di atas ambang batas memiliki rerata kadar retikulosit 1,2 %, selisih 0,16 % . ebih tingg. dibandingkan kelompok kadar timbal darah normal yaitu 1,04 %, namun perbedaan tersebut tidak cukup kuat untuk ISSN : 2502-1524 dianggap bermakna secara statistik. Beberapa studi menunjukkan bahwa paparan timbal dalam kadar tinggi dapat mengganggu proses hematopoiesis melalui aminolevulinic acid dehydratase (ALAD), penghambatan proliferasi sel progenitor eritroid (Woods, 2. Namun, pada kondisi paparan timbal yang ringan hingga sedang, seperti yang ditemukan dalam penelitian ini, tubuh masih mampu mengompensasi efek toksik timbal melalui berbagai mekanisme adaptif, sehingga tidak terjadi perubahan signifikan pada kadar retikulosit. Salah satu mekanisme kompensasi tersebut adalah peningkatan efisiensi proses eritropoiesis, yang memungkinkan produksi sel darah merah tetap terjaga tanpa memicu lonjakan jumlah retikulosit. Proses ini melibatkan regulasi hormon eritropoietin serta respons adaptif dari sumsum tulang, yang tetap meskipun terjadi gangguan pada jalur sintesis heme akibat penghambatan enzim aminolevulinic acid dehydratase (ALAD) oleh timbal. Dengan demikian, meskipun timbal diketahui memiliki efek toksik terhadap hematopoiesis, tubuh masih dapat menyesuaikan diri, terutama jika paparan berlangsung dalam kadar rendah dan tidak disertai dengan kekurangan nutrisi penting seperti zat besi. Temuan ini sejalan dengan(Flora et al. , 2. , yang menyatakan bahwa paparan timbal dalam kadar subklinis tidak selalu menimbulkan perubahan hematologis yang nyata karena adanya kemampuan kompensasi dari sistem biologis tubuh. Selain itu, paparan timbal juga dapat meningkatkan stres oksidatif dengan menghasilkan radikal bebas yang merusak sel dan jaringan tubuh. Dalam konteks ini, peran antioksidan menjadi penting, karena dapat membantu menetralkan radikal bebas yang terbentuk akibat paparan timbal dan merokok. (Wimpy et al. , 2. Merokok, yang juga meningkatkan stres oksidatif, dapat memperburuk dampak paparan timbal pada tubuh, terutama dalam mengatur kadar besi dalam serum. Faktor-faktor seperti durasi paparan timbal, status nutrisi besi, serta adanya penyakit penyerta, perlu Page | 113 Laurentia dkk: Analisis Kadar Retikulosit Berdasarkan Kategori Kadar Timbal Darah Pada Perokok Aktif diteliti lebih lanjut karena dapat memperkuat atau mengaburkan dampak timbal terhadap eritropoiesis. (Wacka et al. Selain itu, lingkungan tempat tinggal dan tempat kerja juga berperan dalam paparan timbal. Risiko terpapar lebih tinggi ditemukan pada individu yang hidup di area dengan polusi udara signifikan, seperti daerah industri dan wilayah padat lalu lintas atau yang menggunakan sumber air dari pipa tua (Wimpy, 2. Di samping itu, status gizi turut berperan seperti defisiensi zat besi, kalsium, dan seng dapat meningkatkan penyerapan timbal di saluran cerna. Asupan makanan yang tidak seimbang serta konsumsi bahan pangan yang memperbesar akumulasi logam berat dalam tubuh (Samsulaga & Wimpy, 2. Lebih lanjut, produk rumah tangga dan kosmetik yang tidak melalui proses pengawasan kualitas dengan ketat berpotensi menjadi sumber tambahan paparan logam berat. SIMPULAN Berdasarkan hasil analisis uji MannWhitney U, tidak ditemukan perbedaan bermakna secara statistik pada kadar retikulosit antara responden dengan kadar timbal darah normal dan responden dengan kadar timbal melebihi ambang batas . = 0,. Temuan ini mengindikasikan bahwa pada populasi dengan paparan timbal ringan hingga sedang, belum terjadi gangguan signifikan terhadap aktivitas sumsum tulang dalam ditunjukkan melalui kadar retikulosit. SARAN Dari hasil penelitian ini tidak menutup kemungkinan adanya pengaruh jangka panjang atau efek subklinis dari paparan timbal yang mungkin tidak tercermin langsung dalam kadar retikulosit. Oleh karena itu, diperlukan studi lanjutan dengan kontrol variabel yang lebih ketat serta melibatkan parameter hematologi lainnya seperti kadar hemoglobin. ALAD (Aminolevulinic Acid Dehydratas. untuk memperoleh gambaran yang lebih ISSN : 2502-1524 komprehensif mengenai dampak timbal terhadap sistem hematopoietik UCAPAN TERIMA KASIH Peneliti hendak mengucapkan terima kasih kepada : Laboratorium Rumah Sakit TK II Dr. Hardjanto Balikpapan. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nasional Laboratorium Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesd. DKI Jakarta. Para responden yang bersedia terlibat di dalam penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA Carter. Alterations in blood Comprehensive Toxicology, 249. Flora. Gupta. , & Tiwari. Toxicity of lead: A review with recent Interdisciplinary Toxicology, 5. , 47. Nakhaee. Amirabadizadeh. Ataei. Ataei. Zardast. Shariatmadari. Mousavi-Mirzaei, , & Mehrpour. Comparison of serum concentrations of essential and toxic elements between cigarette smokers and non-smokers. Environmental Science and Pollution Research, 28, 37672Ae37678. National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH). Adult Blood Lead Epidemiology Surveillance (ABLES): Recommendations