Vol 8. No 1. September 2025. org/10. 38189/jtbh. ISSN 2654-5691 . 2656-4904 . Available at: e-journal. id/index. php/jbh Transformasi Ilahi di Tengah Dekadensi Moral: Tafsir Pentakostal atas 1 Korintus 6:11 Vernineto Sitanggang1 sitanggang74@gmail. Abstract This article presents an in-depth analysis of 1 Corinthians 6:11, departing from the historical context of the first century Corinthians who experienced moral decadence in line with the reality in today's Indonesia where Christians fail to show behavior that has undergone divine This verse serves as a rhetorical and theological climax in Paul's argument against sinful practices in the church. Through a theological analysis from the Pentecostal perspective of three key terms: washed, sanctified, and justified by God's central role, it is shown that the verse is not merely a warning, but rather a proclamation of a fundamental new identity for believers as a divine transformation in the midst of moral decadence. It is concluded that 1 Corinthians 6:11 is a transformative divine declaration, transforming the identity of sinners into heirs of God's Kingdom that has been washed, sanctified, and In the Pentecostal perspective, the work of the Holy Spirit is the foundation for divine transformation. Keywords: 1 Corinthians. divine transformation. Holy Spirit. moral decadence. Pentecostal Abstrak Artikel ini menyajikan analisis mendalam atas 1 Korintus 6:11, berangkat dari konteks historis jemaat Korintus abad pertama yang mengalami dekadensi moral sejalan dengan realitas di Indonesia masa kini di mana orang Kristen gagal menunjukkan perilaku yang sudah mengalami transformasi ilahi. Ayat ini berfungsi sebagai klimaks retoris dan teologis dalam argumen Paulus melawan praktik-praktik dosa di dalam jemaat. Melalui analisis teologis dari perspektif Pentakostal terhadap tiga istilah kunci: disucikan, dikuduskan, dan dibenarkan oleh peran sentral Allah, ditunjukkan bahwa ayat tersebut bukan sekadar peringatan, melainkan proklamasi identitas baru yang mendasar bagi orang percaya sebagai transformasi ilahi di tengah dekadensi moral. Disimpulkan bahwa 1 Korintus 6:11 adalah deklarasi ilahi yang transformatif, mengubah identitas orang-orang berdosa menjadi ahli waris Kerajaan Allah yang telah disucikan, dikuduskan, dan dibenarkan. Dalam perspektif Pentakostal, karya Roh Kudus menjadi fondasi bagi transformasi ilahi. Kata-kata kunci: 1 Korintus. transformasi ilahi. Roh Kudus. dekadensi moral. Pentakostal Sekolah Tinggi Teologi Tiberias Jakarta CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Vernineto Sitanggang: Transformasi Ilahi di Tengah Dekadensi Moral: Tafsir Pentakostal atas 1 Korintus 6:11 PENDAHULUAN Dekadensi moral di Indonesia semakin nyata terlihat dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Fenomena seperti maraknya korupsi, rendahnya kejujuran, meningkatnya kekerasan, dan lunturnya rasa saling menghargai menjadi indikator serius dari melemahnya nilai moral. Arifianto mengatakan, dalam perkembangannya bangsa Indonesia menghadapi kemunduran dalam menjalankan peran sebagai warga negara yang baik. Hal tersebut dipicu oleh semakin tajamnya kemerosotan moral yang melanda masyarakat akhirakhir ini, sehingga menimbulkan krisis moral yang serius. 2 Kondisi ini bukan hanya mengancam keharmonisan sosial, tetapi juga merusak fondasi bangsa yang seharusnya dibangun atas dasar integritas, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama. Seorang Kristen seharusnya menampilkan kehidupan yang mencerminkan teladan Yesus Kristus. Namun, tantangan masa kini menunjukkan bahwa banyak perilaku orang Kristen tidak sejalan dengan kebenaran firman Tuhan, sementara berbagai bentuk kejahatan kian marak seiring perkembangan zaman. 3 Seorang Kristen dipanggil untuk mengalami transformasi hidup, sebab identitas kekristenan tidak hanya ditunjukkan melalui pengakuan iman, tetapi juga melalui perubahan perilaku sehari-hari. Ketika kehidupan orang percaya tidak sejalan dengan firman Tuhan, maka kesaksian iman menjadi lemah dan sulit berdampak bagi dunia. Di tengah maraknya kejahatan dan kemerosotan moral zaman ini, justru semakin dibutuhkan sikap hidup yang konsisten dengan ajaran Kristus agar orang Kristen dapat menjadi terang dan garam bagi masyarakat, sekaligus menghadirkan alternatif kehidupan yang berlandaskan kasih, kebenaran, dan kekudusan. Kehidupan kudus adalah bagian transformasi hidup yang dituntut Allah bagi mereka yang berada dalam kasih dan anugerah-Nya, namun pada kenyataannya, tidak sedikit orang yang mengaku hidup dalam Kristus gagal memelihara dan menghidupi kekudusan. Kekudusan merupakan tuntutan Allah bagi setiap orang percaya, sebab kasih dan anugerahNya tidak hanya menyelamatkan, tetapi juga menuntun kepada hidup yang berkenan kepadaNya. Namun kegagalan banyak orang Kristen dalam memelihara kekudusan menunjukkan perlunya kesadaran rohani yang lebih mendalam serta ketergantungan penuh pada karya Roh 2 Yonatan Alex Arifianto. AuPeran Guru Pendidikan Agama Kristen Dalam Pendidikan Etis-Teologis Mengatasi Dekadensi Moral Di Tengah Era Disrupsi,Ay Regula Fidei: Jurnal Pendidikan Agama Kristen 6, 1 . : 45Ae59. 3 Daniel Martin Tamera and Chalma Jenny Hubherta Kotta. AuMenelusuri Buah-Buah Roh: AuGalatia 5:22-23 Dan Transformasi Diri Bagi Generasi Muda Kristen",Ay Conscientia: Jurnal Teologi Kristen 2, no. : 54Ae70. 4 Indra Richard Sigarlaki. AuTransformasi Hidup Dalam Kekudusan: Upaya Peningkatan Moralitas Kepemimpinan Gereja,Ay Manna Raflesia 10, no. : 326Ae45. CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 1. September 2025 Kudus agar iman tidak hanya sebatas pengakuan, melainkan nyata dalam perilaku seharihari. Gereja senantiasa mengajak dan melayani transformasi hidup bagi semua orang agar mereka menerima keselamatan kekal. Namun, kelemahan manusia sering menjadi penyebab jatuh ke dalam dosa, menjauh dari Allah, dan hidup dalam ketidakkudusan. 5 Meskipun gereja terus mengupayakan pelayanan pertobatan demi keselamatan kekal, kelemahan manusia menunjukkan bahwa tanpa pertolongan Allah, manusia mudah jatuh ke dalam dosa. Karena itu, dibutuhkan ketekunan rohani dan ketergantungan pada kuasa Roh Kudus agar umat mengalami transformasi hidup dan tetap dekat dengan Allah. Penelitian terkait transformasi hidup bukanlah sama sekali baru. Penelitian tahun 2023 yang dilakukan oleh Hia. Hondo, dan Siregar bertujuan menguraikan perubahan hidup yang dialami orang Kristen sebagai dampak dari peristiwa kebangkitan Kristus. Transformasi hidup orang Kristen telah menjadi fokus kajian teologis, sebab kebangkitan Kristus merupakan dasar yang mengubah identitas dan cara hidup orang percaya. Sementara artikel oleh Feoh. Adang, dan Lawalata tahun 2024 menyebutkan bahwa Alkitab menegaskan pentingnya pertobatan, pembaruan pola pikir, hidup dipimpin oleh Roh, serta proses pengudusan sebagai dasar untuk meraih perubahan hidup yang sejati. 7 Mereka membahas bagaimana nilai-nilai spiritual dan ajaran Alkitab dapat menjadi pedoman serta sumber makna dalam proses menjalani perubahan hidup yang lebih positif dan penuh arti. Penelitian oleh Sulviani dan kawan-kawan di tahun 2024 dimaksudkan untuk menelaah lebih dalam peranan Roh Kudus dalam proses transformasi hidup orang percaya, dengan perhatian khusus pada perspektif teologi Karismatik, berlandaskan pada Roma 8:9. Melalui perspektif teologi Karismatik yang berlandaskan Roma 8:9, terlihat bahwa Roh Kudus bukan hanya penuntun rohani, tetapi juga kuasa yang memampukan orang percaya untuk meninggalkan hidup lama dan bertumbuh dalam keserupaan dengan Kristus. Kesenjangan yang hendak saya bahas adalah transformasi hidup yang dikerjakan Allah di 5 Yohanes Anjar Donobakti and Stanislaus Kotska B. Atmaja. AuPertobatan Sebagai Sarana Menjadi Manusia Baru: Suatu Uraian Spiritualitas Belajar Dari Pengalaman Hidup Paulus,Ay Jurnal Publikasi LOGOS 15, no. : 95Ae116. 6 Septinus Hia. Niscaya Wati Hondo, and Oren Siregar. AuTransformasi Hidup: Signifikansi Kebangkitan Kristus Bagi Orang Kristen,Ay Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristen 2, no. : 120Ae24. 7 Jefri Feoh. Reni Marlince Adang, and Mozes Lawalata. AuFilsafat Spiritualitas: Memahami Perubahan Hidup Dalam Konteks Alkitab,Ay Jurnal Teologi Injili Dan Pendidikan Agama 2, no. 159Ae72. 8 Sulviani et al. AuTEOLOGI KARISMATIK: Peran Roh Kudus Dalam Transformasi Hidup Kristen Menurut Roma 8:9,Ay HUMANITIS: Jurnal Humaniora. Sosial Dan Bisnis 2, no. : 1402Ae13. CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Vernineto Sitanggang: Transformasi Ilahi di Tengah Dekadensi Moral: Tafsir Pentakostal atas 1 Korintus 6:11 tengah dekadensi moral dari perspektif Pentakostal berbasis eksegesis atas 1 Korintus 6:11. Riset ini menawarkan kontribusi orisinal karena belum banyak studi yang mengkaji 1 Kor 6:11 secara eksplisit dalam bingkai Pentakostal. Surat Paulus kepada jemaat di Korintus adalah sebuah dokumen pastoral yang komprehensif, ditujukan untuk mengatasi berbagai permasalahan serius yang mengancam integritas dan kesaksian gereja. Dari perselisihan internal hingga imoralitas yang merajalela, jemaat di Korintus menunjukkan gejala-gejala kuat dari kegagalan untuk memisahkan diri dari nilai-nilai budaya pagan di sekitar mereka. 9 Pasal 6, khususnya, memulai dengan teguran tajam terhadap praktik anggota jemaat yang membawa perselisihan hukum mereka ke pengadilan sipil yang dipimpin oleh "orang-orang yang tidak benar," alih-alih menyelesaikannya secara internal. Argumen Paulus berlanjut dengan peringatan keras bahwa mereka yang terus-menerus mempraktikkan dosa-dosa tertentu tidak akan mewarisi Kerajaan Allah. Konteks historis jemaat Korintus abad pertama yang mengalami dekadensi moral, sejalan dengan realitas di Indonesia masa kini di mana orang Kristen gagal menunjukkan perilaku yang sudah mengalami transformasi ilahi. Jadi tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis secara mendalam teks 1 Korintus 6:11 tentang transformasi yang dikerjakan Allah atas orang percaya dari perspektif Pentakostal. METODE PENELITIAN Untuk mencapai pemahaman yang mendalam atas nas 1 Korintus 6:11, saya akan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan eksegesis10 atas Alkitab sebagai sumber primer, menganalisis teks dalam konteks aslinya untuk menelusuri makna kata-kata kunci. Sumber pendukung untuk literatur review11 diperoleh dari literatur teologi, jurnal akademik, dan hasil penelitian yang berkaitan dengan transformasi ilahi dalam perspektif Pentakostal, untuk mengeksplorasi implikasi teologisnya. 9 Donald C. Stamps. Alkitab Penuntun: Hidup Berkelimpahan, ed. Donald C. Stamps. Bahasa Ind (Malang: Gandum Mas, 2. , 1877. 10 Grant R. Osborne. Spiral Hermeneutika: Pengantar Komprehensif Bagi Penafsiran Alkitab (Surabaya: Momentum, 2. , 255. 11 Umrati and Hengki Wijaya. Analisis Data Kualitatif: Teori Konsep Dalam Penelitian Pendidikan (Jakarta: Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2. , 12. CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 1. September 2025 PEMBAHASAN Gereja memang haruslah menerima kehadiran orang-orang berdosa dalam kumpulan persekutuan mereka, karena gereja awalnya adalah kumpulan orang-orang berdosa yang dipanggil keluar dari dosa tersebut. Itulah sebabnya di antara jemaat adalah wajar pernah berbuat dosa seperti berzinah, berbohong, menipu dan tidak hormat pada orang lain. Tuhan pun mengizinkan mereka masuk dalam gereja, tetapi Tuhan menuntut adanya perubahan dalam hidup dan kebiasaan itu. 12 Bagi Paulus, dosa jemaat Korintus sangat berat karena orang-orang kafir pun tidak melakukannya. Sekalipun demikian, jemaat Korintus masih bersikap sombong . Kor. 4:18. 5:1-. walaupun mereka sudah gagal. Seringkali kesombongan yang mereka tunjukkan adalah untuk menutupi kelemahan-kelemahan Jemaat Korintus menyombongkan pengetahuan, kebudayaan, pendidikan padahal mereka memiliki kebusukan yang serius. Konteks 1 Korintus 6:1-11 adalah menegur dua persoalan utama: pertama, sikap saling menggugat di pengadilan kafir . 1Ae. kedua, gaya hidup tidak kudus . 9Ae. Di tengah peringatan yang tajam ini, 1 Korintus 6:11 muncul sebagai pernyataan teologis yang mengagumkan. Ayat ini secara tiba-tiba mengubah nada dari teguran menjadi proklamasi anugerah yang transformatif. Ayat ini tidak dapat dipahami secara terisolasi, melainkan sebagai klimaks yang memberikan solusi teologis dan fondasi bagi perubahan perilaku yang diminta oleh Paulus. Mereka yang dahulu hidup sebagai orang berdosa dan tidak mengenal Allah, kini telah memperoleh identitas baru setelah mengalami penyucian, pengudusan, dan pembenaran. 13 Dengan kondisi demikian, ayat 11 bertindak sebagai klimaks janji perubahan identitas: Paulus menegaskan bahwa semua anggota jemaat, meski pernah hidup berdosa, kini telah Audisucikan A dikuduskan A dibenarkanAy dalam Tuhan Yesus. Keberdosaan Manusia dan Anugerah Allah Sebelum sampai pada pernyataan anugerah di ayat 11. Paulus membangun argumen yang kuat dan menantang di ayat-ayat sebelumnya. Ia memulai dengan teguran terhadap praktik jemaat yang membawa perselisihan antara saudara seiman ke pengadilan "orangorang yang tidak benar" atau orang-orang kafir. Paulus menganggap tindakan ini sebagai Charles F Pfeiffer and Everett F Harrison. The Wycliffe Bible Commentary Tafsiran Alkitab Wycliffe Volume 3 Perjanjian Baru (Malang: Gandum Mas, 2. , 614. 13 Dianne Bergant and Robert J. Karris. Tafsir Alkitab Perjanjian Baru (Surabaya: Kanisius, 2. CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Vernineto Sitanggang: Transformasi Ilahi di Tengah Dekadensi Moral: Tafsir Pentakostal atas 1 Korintus 6:11 kekalahan yang memalukan bagi gereja, merusak kesaksian mereka di mata dunia. 14 Ia menggunakan pertanyaan-pertanyaan retoris untuk mengejek perilaku mereka, menanyakan mengapa tidak ada seorang pun yang "berhikmat" untuk menyelesaikan masalah-masalah sepele seperti itu di dalam jemaat, padahal mereka akan menghakimi dunia dan bahkan malaikat-malaikat di akhir zaman. Argumen Paulus memuncak dengan sebuah peringatan keras. Ia tiba-tiba beralih dari permasalahan hukum ke daftar dosa-dosa moral yang lebih luas. Daftar tersebut mencakup: orang cabul, penyembah berhala, pezinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah, dan penipu. Ia menyatakan dengan tegas bahwa "orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah". Daftar dosa yang disajikan oleh Paulus ini bukanlah pemilihan acak, melainkan cerminan langsung dari praktik-praktik yang merajalela dalam budaya Korintus. 15 Paulus secara spesifik menantang pola hidup yang telah mengakar dalam masyarakat dan jemaat itu sendiri, yang menganggap perilaku tersebut sebagai hal yang biasa dan bahkan dapat diterima. Tampenawas tahun 2020 mengkaji persoalan moralitas seksual pada era postmodern dengan meninjau perspektif 1 Korintus 6:12-20, menyoroti sejauh mana moralitas dijadikan standar atau nilai dalam kehidupan masyarakat pada era postmodern. 16 Saat ini, gereja terlihat bersikap permisif dan cenderung membiarkan adanya perilaku bejat di tengah jemaatnya, termasuk perzinaan maupun berbagai bentuk kejahatan lainnya. Maka kajian ini relevan untuk menyoroti degradasi moral di era postmodern, di mana standar kebenaran menjadi relatif dan nilai-nilai etis kerap diabaikan. Hal ini tercermin dalam sikap sebagian gereja yang tampak permisif terhadap perilaku menyimpang di tengah jemaat, seperti perzinaan dan bentuk kejahatan lainnya. Karena itu, surat Paulus kepada jemaat Korintus menegaskan kembali pentingnya menjadikan moralitas sebagai tolok ukur hidup orang percaya, bukan mengikuti arus budaya yang mengabaikan kekudusan. Dalam perspektif Pentakostal, seluruh ciptaan terlibat dalam kejatuhan Adam, dan manusia membutuhkan pembebasan dari perbudakan dosa. 17 Dosa bukan hanya masalah individual, melainkan persoalan universal yang memengaruhi seluruh ciptaan akibat kejatuhan Adam. Hal ini menegaskan bahwa manusia tidak mampu melepaskan diri dari Bergant and Karris, 286. Stamps. Alkitab Penuntun: Hidup Berkelimpahan, 1887. 16 Alfons Tampenawas. AuProblematika Moralitas Seksual Postmodern Menurut Perspektif 1 Korintus 6:12-20,Ay PASCA: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen 16, no. : 103Ae20. 17 French L. Arrington. Doktrin Kristen: Perspektif Pentakosta (Yogyakarta: Andi, 2. , 272. CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 1. September 2025 kuasa dosa dengan kekuatannya sendiri, melainkan membutuhkan karya pembebasan yang datang dari Allah melalui Kristus. Dengan demikian, kebutuhan akan penebusan bersifat mutlak, karena hanya pembebasan ilahi yang dapat memulihkan manusia dari perbudakan dosa dan memulihkan ciptaan sesuai dengan kehendak Allah. Fungsi utama dari daftar dosa yang disebutkan Paulus adalah untuk menyoroti keseriusan dosa-dosa tersebut dan konsekuensinya bagi mereka yang terus-menerus Ini adalah landasan dari kontras yang akan ia buat di ayat 11. Peringatan ini menegaskan bahwa tidak ada ruang untuk kompromi moral dalam Kerajaan Allah. Namun, ia tidak berhenti pada kecaman. ia menggunakan fondasi yang berat ini untuk menyoroti betapa kuatnya anugerah Allah yang telah mengubah mereka. Anugerah, sebagai wujud kasih karunia Tuhan, menjadi dasar yang menolong seseorang menghadapi berbagai tantangan dan pergumulan dalam perjalanan imannya. Dalam rancangan Allah yang penuh hikmat, anugerah itu berfungsi sebagai kekuatan yang menuntun setiap pengalaman hidup, baik yang membawa sukacita maupun kesulitan, ke arah pemurnian dan kedewasaan rohani. 18 Anugerah Allah nyata dalam karya keselamatan yang membebaskan manusia dari dosa, sebagaimana ditegaskan dalam 1 Korintus 6:11 bahwa orang percaya telah dibasuh, dikuduskan, dan dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus serta oleh Roh Allah. Ayat ini menunjukkan bahwa hanya melalui anugerah Allah, manusia yang dahulu hidup dalam dosa memperoleh identitas baru sebagai umat yang ditebus dan dipanggil untuk hidup dalam kekudusan. Pengakuan Masa Lalu: Kamu Demikianlah Dahulu Ayat 1 Korintus 6:11 berfungsi sebagai antitesis yang kuat terhadap daftar dosa di ayat 9-10. Paulus menggunakan konjungsi Yunani A . iterjemahkan "tetapi") yang merupakan kata kontras terkuat19, menandakan pergeseran mendasar dari realitas masa lalu yang penuh dosa ke realitas baru yang dianugerahkan oleh Allah. Frasa Audan beberapa orang di antara kamu demikianlah dahuluAy merupakan terjemahan dari teks Yunani EE EAC EA . ai tauta tines ete: and such were some of yo. Ini menunjukkan dalamnya kehancuran jemaat Korintus sebelumnya, tetapi sekarang mereka adalah orang-orang yang diselamatkan. Marde Christian Stenly Mawikere and Sudiria Hura. AuAnugerah Sebagai Landasan Utama Dalam Teologi Formasi Spiritualitas Kristen Di Era Tantangan Kontemporer,Ay DAAT: Jurnal Teologi Kristen 5, no. : 1Ae25. 19 Hasan Sutanto. Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia Dan Konkordansi Perjanjian Baru Jilid 2 (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2. , 46. CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Vernineto Sitanggang: Transformasi Ilahi di Tengah Dekadensi Moral: Tafsir Pentakostal atas 1 Korintus 6:11 Paulus menyatakan bahwa dosa di jemaat Korintus sangat parah yaitu ada orang yang tidur dengan istri ayahnya sendiri . Kor. Secara hakikat, porneia merujuk pada hubungan seksual yang dilarang. Di jemaat Korintus terdapat orang yang hidup dalam perbuatan cabul yang bahkan tidak ditemukan di antara bangsa-bangsa lain, yaitu hubungan inses antara seorang pria dengan istri ayahnya. 20 Ini adalah kekejian yang luar biasa bahkan tidak terdapat di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Hal inilah yang menjadi dukacita mendalam di hati Paulus. Orang-orang non-Kristen justru sering kali mempunyai hidup lebih baik daripada Kristen, lebih hormat kepada orang tua, lebih adil, lebih suka Orang-orang Kristen yang sudah berada dalam kasih karunia Tuhan malah sering menyalah-gunakan kebebasan itu dengan sembarangan. Masa lalu jemaat Korintus disebutkan dalam daftar dosa ayat 9-10. Dosa mengandung arti sebagai kehilangan arah atau jalan. 21 Penyebutan masa lalu jemaat Korintus dalam daftar dosa pada 1 Korintus 6:9-10 menegaskan realitas manusia yang tersesat dan kehilangan arah hidup karena dosa. Dosa bukan hanya pelanggaran moral, tetapi juga keterasingan dari tujuan Allah yang sejati. Oleh sebab itu, pengingat akan masa lalu ini berfungsi untuk menekankan pentingnya anugerah Allah yang memulihkan arah hidup manusia, sehingga jemaat dipanggil untuk tidak kembali pada kehidupan lama, melainkan berjalan dalam kekudusan dan ketaatan kepada kehendak Tuhan Pernyataan ini adalah pengakuan yang blak-blakan tentang masa lalu jemaat Korintus. Paulus tidak menghakimi mereka karena masa lalu, tetapi mengingatkan mereka akan transformasi yang telah terjadi. Ini memberikan harapan bahwa tidak peduli seberapa buruk masa lalu seseorang. Kristus dapat menebusnya. Keselamatan manusia tidak diperoleh melalui perbuatan, melainkan merupakan pemberian anugerah Allah. 22 Dengan mengakui masa lalu mereka. Paulus secara implisit meruntuhkan klaim "supremasi spiritual" atau kesombongan yang mungkin ada di jemaat, mengingatkan mereka bahwa semua orang berawal dari titik yang sama, status orang berdosa yang membutuhkan anugerah. Ini adalah strategi Paulus untuk meruntuhkan perpecahan yang berbasis pada kebanggaan dan status, dengan menunjukkan bahwa hanya anugerah Kristus yang menyelamatkan mereka. 20 Andre Malau. AuKonsep Menyerahkan Orang Kepada Iblis Dalam 1 Korintus 5:1-13 Dan Implementasinya Dalam Kehidupan Orang Percaya,Ay JIREH: Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity 4, 2 . : 218Ae38. 21 VineAos Complete Expository of Old and New Testament Word (New York: Thomas Nelson Publisher Camden, 1. , 232. 22 Dian Purmawati Waruwu and Yaudi Santos Santoso. AuKonsep Anugerah Allah Terhadap Manusia Berdosa,Ay GENEVA: Jurnal Teologi Dan Misi 6, no. : 94Ae109. CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 1. September 2025 Dalam pandangan Pentakostal. Roh Kudus berperan menyingkapkan kondisi rohani orang berdosa, menumbuhkan kesadaran akan keberdosaannya, serta menunjukkan kebutuhan mereka akan Kristus sebagai Juruselamat. 23 Keselamatan dalam perspektif Pentakostal bukanlah hasil dari usaha manusia, melainkan karya Roh Kudus yang menyadarkan manusia akan keberdosaannya. Tanpa campur tangan Roh Kudus, manusia cenderung menutup mata terhadap kondisi rohaninya. Oleh karena itu, peran Roh Kudus sangat penting, sebab hanya melalui penyataan-Nya seseorang dapat memahami kebutuhan mendasar akan Kristus sebagai satu-satunya Juruselamat. Tindakan Transformasi Ilahi Tindakan transformasi ilahi dalam 1 Korintus 6:11 dalam teks bahasa Yunani adalah: asEEA . EEA . , dan aaEA . Paulus menggunakan tiga kata kunci pasif aorist yang diterjemahkan disucikan, dikuduskan, dibenarkan masing-masing menyiratkan tindakan ilahi yang sudah selesai di masa lalu dengan hasil yang berkelanjutan. Seluruh kata kerja tersebut menunjuk pada hal yang sama dengan penekanan yang berbeda: yang pertama menyoroti proses penyucian orang percaya, yang kedua menekankan panggilan hidup yang baru, dan yang terakhir menegaskan status baru yang dimiliki orang percaya. 24 Ini adalah karya Allah, bukan hasil dari usaha manusia. Pertama, disucikan . sEEA: apelousasth. Kata ini berasal dari AAsO: apolouo yang berarti membasuh, mencuci habis, membersihkan total, mencuci sampai 25 Bentuk pasif asEEA di ayat ini mengacu pada tindakan baptisan: menggambarkan dosa sepenuhnya seperti dicuci keluar sebagaimana disebut dalam Kisah Para Rasul 22:16. Penggunaan kata apolouo dalam Kisah Para Rasul 22:16 yang dikaitkan dengan baptisan menunjukkan makna penyucian dari dosa. 26 Artinya. Allah telah AumencuciAy semua kekotoran dosa pada orang percaya. Dengan kata lain, pembasuhan ini menandakan penghapusan dosa melalui darah Kristus . ejalan dengan Tit. Ini merujuk pada pembersihan dari dosa-dosa yang disebutkan sebelumnya. Hal ini menegaskan bahwa baptisan bukan sekadar simbol lahiriah, melainkan sebuah tanda rohani tentang pembersihan total yang Allah kerjakan dalam hidup orang percaya. Dengan demikian, baptisan dipahami Arrington. Doktrin Kristen: Perspektif Pentakosta, 311. Pfeiffer and Harrison. The Wycliffe Bible Commentary Tafsiran Alkitab Wycliffe Volume 3 Perjanjian Baru, 618. 25 Sutanto. Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia Dan Konkordansi Perjanjian Baru Jilid 2, 26 Arrington. Doktrin Kristen: Perspektif Pentakosta, 525. CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Vernineto Sitanggang: Transformasi Ilahi di Tengah Dekadensi Moral: Tafsir Pentakostal atas 1 Korintus 6:11 sebagai momen penting di mana penyucian dosa dinyatakan secara nyata melalui iman, meneguhkan bahwa hanya melalui karya Kristus seseorang dapat dibersihkan dan dipulihkan dalam relasi dengan Allah. Hia. Hondo, dan Siregar mengatakan, perubahan hidup orang Kristen melalui kebangkitan Kristus merupakan transformasi yang mendasar, yang terjadi saat seseorang mengalami perjumpaan pribadi dengan Yesus Kristus dan mengakui-Nya sebagai Juru Selamat sekaligus Tuhan dalam kehidupannya. 27 Kebangkitan Kristus yang tidak dapat dipisahkan dari kematian-Nya, menjadi dasar utama perubahan hidup orang percaya, sebab melalui perjumpaan pribadi dengan Kristus yang bangkit, seseorang mengalami transformasi rohani yang mendasar. Pengakuan akan Yesus sebagai Juru Selamat dan Tuhan tidak hanya mengubah status manusia dari berdosa menjadi dibenarkan, tetapi juga melahirkan hidup baru yang berorientasi pada kehendak Allah. Mereka yang percaya kepada Kristus, mengalami penyucian dosa melalui baptisan. Dengan demikian, perubahan hidup Kristen bukan sekadar perbaikan moral, melainkan sebuah pembaruan total yang berakar pada kuasa kematian dan kebangkitan Kristus. Mereka dicuci bersih dengan darah Kristus. Melalui penyucian dosa. Hoekeme mengatakan, kita ditempatkan di dalam status sebagai anak-anak Allah, dan dengan demikian berhak atas segala sesuatu yang berkaitan dengan status itu. 28 Status orang berdosa yang kotor, sekarang telah berubah menjadi status sebagai anak Allah yang suci bersih, bukan hanya sebuah gelar rohani, tetapi sebuah identitas baru yang membawa hak dan tanggung jawab tertentu dalam hidup iman. Dengan demikian, baik dari perspektif teologis maupun liturgis, status sebagai anak Allah merupakan realitas mendasar yang meneguhkan relasi baru manusia dengan Allah serta menjadi dasar bagi hidup yang kudus dan penuh syukur. Kedua, dikuduskan (EEA: hegiasthet. Dari kata AO . yang berarti menguduskan, memurnikan, memisahkan. 29 Kata hagiazo di 1 Korintus 6:11 memiliki arti pelepasan dari dosa, yakni memurnikan secara khusus melalui penebusan sehingga terbebas dari dosa. Dengan demikian, dikuduskan menunjukkan umat percaya kini sudah dipisahkan dari dunianya dan dikhususkan untuk Tuhan, mereka mendapatkan status suci di hadapan Allah. Makna teologis dari kata ini adalah dipisahkan atau ditetapkan untuk Hia. Hondo, and Siregar. AuTransformasi Hidup: Signifikansi Kebangkitan Kristus Bagi Orang Kristen. Ay Anthony A. Hoekeme. Diselamatkan Oleh Anugrah (Surabaya: Momentum, 2. , 256. Sutanto. Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia Dan Konkordansi Perjanjian Baru Jilid 2. CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 1. September 2025 tujuan kudus, pengalaman yang terjadi seketika. 30 Allah menguduskan umat-Nya dan mereka dikehendaki agar juga menguduskan dirinya, dipisahkan dari dunia menjadi umat Allah. Hia. Hondo dan Siregar mengatakan, transformasi batin mengacu pada perubahan dalam aspek rohani dan kedalaman hidup orang percaya sebagai buah dari iman serta relasi dengan Kristus yang telah bangkit. Proses ini mencakup pembaruan cara berpikir, sikap hati, dan jiwa sesuai dengan kehendak Allah. 31 Transformasi batin orang percaya merupakan bukti nyata dari karya keselamatan yang Allah kerjakan melalui Kristus, sebagaimana ditegaskan dalam 1 Korintus 6:11 bahwa jemaat telah Audibasuh, dikuduskan, dan dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan oleh Roh Allah. Ay Hal ini menunjukkan bahwa perubahan rohani bukan hasil usaha manusia semata, melainkan buah dari iman dan hubungan dengan Kristus yang bangkit, yang memperbarui pikiran, hati, dan jiwa agar selaras dengan kehendak Allah. Identitas baru sebagai umat yang ditebus diwujudkan dalam hidup yang kudus dan bertransformasi. Pengalaman akan kehadiran dan kuasa Roh Kudus mengarah pada perubahan signifikan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam aspek moral, sosial, dan spiritual. pengalaman akan kehadiran dan kuasa Roh Kudus tidak hanya bersifat pribadi atau emosional, tetapi membawa dampak nyata dalam kehidupan sehari-hari. Roh Kudus bekerja memperbarui hati dan pikiran sehingga menghasilkan perubahan moral melalui hidup yang lebih kudus, perubahan sosial melalui relasi yang dipenuhi kasih dan keadilan, serta perubahan spiritual melalui kedewasaan iman dan kesetiaan kepada Allah. Dengan demikian, kehadiran Roh Kudus menjadi motor transformasi menyeluruh yang membedakan kehidupan orang percaya dari pola dunia. Dalam status sebagai orang yang dikuduskan. Allah menginginkan agar setiap sikap dan perbuatan dosa disingkirkan dari kehidupan orang percaya, sehingga natur dan karakternya diperbarui sesuai dengan gambar dan rupa Allah di dalam Kristus. Dengan demikian, ketaatannya semakin bertumbuh, dan seluruh hidupnya berkenan di hadapan Allah. 33 Inilah maksud Paulus, mengingatkan jemaat akan posisi definitif mereka di dalam Kristus, yang harus menjadi dasar bagi perilaku moral mereka. Stephen Lang, 1001 Hal Yang Ingin Anda Ketahui Tentang Roh Kudus (Jakarta: YPI Immanuel, 2. , 76. Hia. Hondo, and Siregar. AuTransformasi Hidup: Signifikansi Kebangkitan Kristus Bagi Orang Kristen. Ay Sulviani et al. AuTEOLOGI KARISMATIK: Peran Roh Kudus Dalam Transformasi Hidup Kristen Menurut Roma 8:9. Ay 33 Derek Prince. Tanya Jawab Tentang Iman Kristen (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 2. , 138. CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Vernineto Sitanggang: Transformasi Ilahi di Tengah Dekadensi Moral: Tafsir Pentakostal atas 1 Korintus 6:11 Ketiga, dibenarkan . aEA: edikaiothet. Dari kata UO: dikaioo artinya menyatakan benar, membela atau membebaskan dari tuduhan, mengobati. 34 Arti harfiahnya adalah menganggap seseorang adil atau bersih, dan dalam teologi Paulus berarti Allah mengangkat orang berdosa menjadi benar di hadapan-Nya. Istilah Ibrani sadaq maupun Yunani dikaioo sama-sama mengandung arti menetapkan atau menyatakan seseorang sebagai benar melalui suatu putusan. 35 Melalui iman kepada Kristus, orang percaya Audinyatakan benarAy oleh Tuhan. Dengan demikian, dibenarkan melukiskan keputusan hukum Allah yang menghapus hukuman dosa atas pengakuan dan iman kita. Ayat ini bahkan menyebutkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan oleh Roh Allah, menandakan bahwa pembasuhan, pengudusan, dan pembenaran itu terjadi oleh inisiatif aktif dari Kristus dan Roh Kudus. Kata dikaios adalah istilah forensik atau hukum yang berarti "dinyatakan benar" atau "dianggap benar" di hadapan Allah. Pembenaran ini tidak didasarkan pada perbuatan manusia, melainkan pada karya salib Kristus yang menanggung hukuman dosa. Menurut Berkhof, istilah dibenarkan berarti tindakan yuridis Allah, di mana berdasarkan karya dan kebenaran Yesus Kristus. Allah menyatakan bahwa seluruh tuntutan hukum telah terpenuhi bagi orang berdosa. 36 Pembenaran bukan hasil usaha manusia, melainkan tindakan hukum Allah yang mendeklarasikan orang berdosa benar karena karya dan kebenaran Kristus yang telah memenuhi seluruh tuntutan hukum. Menurut Ladd, kerajaan Allah mencakup tiga aspek penting: anugerah keselamatan yang menuntun kepada kehidupan kekal (Mrk. 10:17-. anugerah pengampunan dosa yang membuka jalan menuju persekutuan yang abadi dengan Allah (Mat. 18:25-. pembenaran yang memampukan manusia untuk hidup sesuai dengan kehendak dan berkenan di hadapan Allah (Mat. 5:21-. 37 Kerajaan Allah tidak hanya berbicara tentang pemerintahan ilahi, tetapi juga menyentuh inti kehidupan manusia melalui anugerah keselamatan, pengampunan, dan pembenaran. Ini menegaskan bahwa hanya dalam Kristus manusia dapat menikmati kehidupan kekal, dipulihkan dalam persekutuan dengan Allah, dan dimampukan untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Melalui pembenaran, orang berdosa yang percaya diberikan status yang benar di hadapan Allah. Sutanto. Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia Dan Konkordansi Perjanjian Baru Jilid 2. Charles C. Ryrie. Teologi Dasar 2 (Yogyakarta: Penerbit ANDI, 2. , 45. Louis Berkhof. Teologi Sistematika 4: Doktrin Keselamatan (Jakarta: Lembaga Reformed Injili Indonesia, 2. , 224. 37 Eldon Ladd. Teologi Perjanjian Baru (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2. , 73. CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 1. September 2025 Ketiga tindakan transformasi ilahi dilakukan "dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita". Secara keseluruhan, tiga kata Yunani apelousasthe, hegiasthete, dan edikaiothete dalam konteks 1 Korintus 6:11 menunjukkan sebuah tindakan penyelesaian: Allah sudah menyucikan dan memulihkan orang-orang percaya dari status berdosa ke status kudus di dalam Kristus. Ini adalah manifestasi praktis dari teologi proper dalam soteriologi. Tuhan Yesus Kristus adalah dasar hukum dan otoritas pembenaran, sementara Roh Kudus adalah agen yang menerapkan dan mengaktifkan transformasi ini dalam kehidupan orang Ini menunjukkan bahwa keselamatan adalah karya yang sepenuhnya ilahi dari awal hingga akhir, bukan kolaborasi antara manusia dan Allah. Perspektif Pentakostal: Karya Roh Kudus dalam Transformasi Hidup Menurut pandangan Pentakostal. Roh Kudus menjadi alat ilahi yang memanggil manusia kepada keselamatan, yang diawali dengan kesadaran akan dosa hingga pada penerimaan pewartaan kebenaran Injil. 38 Keselamatan bukanlah hasil usaha manusia, melainkan karya Roh Kudus yang menuntun seseorang untuk menyadari dosanya dan membuka hati menerima kebenaran Injil sebagai jalan keselamatan. Tiga istilah yang digunakan Paulus yaitu: disucikan, dikuduskan, dan dibenarkan, meskipun secara teologis dapat dibedakan, tidak dapat dipisahkan dalam realitas pengalaman orang percaya. Mereka adalah tiga aspek dari satu karya keselamatan yang komprehensif, dengan pembenaran sebagai landasan yuridis, penyucian sebagai pembersihan dari dosa, dan pengudusan sebagai pemisahan untuk tujuan ilahi. Bagi mereka yang tidak percaya, persekutuan dengan Allah adalah hal yang mustahil, sebab manusia yang hidup menurut daging tidak mampu menerima hal-hal yang berasal dari Allah . Kor. 39 Tetapi bagi orang beriman, pembenaran dipandang sebagai tindakan legal yang definitif, di mana kebenaran Kristus "diimputasikan" kepada orang berdosa melalui iman. Dasar pembenaran yang paling utama terletak pada kehendak dan belas kasihan Allah. 40 Pembenaran tidak bersumber dari usaha atau kebaikan manusia, melainkan sepenuhnya merupakan inisiatif Allah yang berlandaskan pada kehendak dan belas kasihanNya. Hal ini menegaskan bahwa keselamatan adalah anugerah, sehingga tidak ada ruang bagi manusia untuk bermegah atas perbuatannya sendiri. Arrington. Doktrin Kristen: Perspektif Pentakosta, 311. Donald Guthrie. Teologi Perjanjian Baru (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 170. 40 Arrington. Doktrin Kristen: Perspektif Pentakosta, 322. CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Vernineto Sitanggang: Transformasi Ilahi di Tengah Dekadensi Moral: Tafsir Pentakostal atas 1 Korintus 6:11 Penyucian adalah pembasuhan dari dosa. Dalam teologi Kristen, penyucian dipahami sebagai kesediaan Kristus menyerahkan diri-Nya di salib untuk menanggung akibat dosa Melalui kematian-Nya. Ia mengambil alih hukuman yang seharusnya ditimpakan kepada manusia karena dosa-dosa mereka. 41 Penebusan menegaskan kasih dan keadilan Allah, di mana Kristus menjadi pengganti manusia dalam menanggung hukuman dosa, sehingga manusia memperoleh kesempatan untuk dipulihkan dan hidup dalam keselamatan. Pengudusan adalah proses moral yang berlanjut seumur hidup, di mana orang percaya bertumbuh menjadi serupa dengan Kristus. Keduanya tidak dapat dipisahkan tetapi secara logis berbeda. perilaku saleh adalah bukti dari keselamatan yang sudah diterima, bukan syarat untuknya. Oleh Roh Kudus. Allah membarui kita secara spiritual dan menghadiahi kita status baru sebagai anak-anak-Nya, dan kehidupan kudus dimungkinkan oleh Roh Kudus yang tinggal dalam setiap orang percaya. 42 Kehidupan kudus tidak dapat dicapai dengan kekuatan manusia semata, melainkan karena karya Roh Kudus yang memperbarui batiniah dan meneguhkan identitas orang percaya sebagai anak-anak Allah, sehingga mereka mampu hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Kalimat AuDemikianlah sebagian dari kamu dahulu. tetapi kamu telah disucikan, dikuduskan, dibenarkanAAy menegaskan bahwa jemaat Korintus telah mengalami transformasi fundamental. Teolog secara umum menekankan bahwa 1 Korintus 6:11 menggambarkan proses pertobatan dan penyelamatan: pada awalnya mereka hidup dalam dosa . Kor. 6:9-. , tetapi kini identitas mereka telah berubah total dalam Kristus. Dengan kata lain, dosa-dosa masa lalu tidak lagi AumendefinisikanAy siapa mereka. Paulus dengan tegas mengatakan: AuKamu dahulu adalah begitu, tetapi sekarang tidak lagi demikianAy. Pembersihan . merujuk pada penghapusan dosa. menunjukkan bahwa orang percaya sudah dipisahkan untuk pelayanan kepada Allah. berarti Allah secara hukum menyatakan mereka benar karena Kristus. Ayat ini juga menekankan aspek Trinitarian karya keselamatan: perubahan terjadi Audalam nama Tuhan YesusAy dan Auoleh Roh Allah kitaAy . Hal ini menunjukkan bahwa Kristus telah menyelesaikan penebusan . elalui darah-Ny. dan Roh Kudus menganugerahkan kehidupan baru serta pengudusan bagi umat-Nya. Pembaharuan pola Desi Sriyanti Tonis. Desti Meliana Mangngi Kale, and Malik Bambangan. AuPengorbanan Yesus Kristus Di Kayu Salib Sebagai Bukti Penebusan Dosa Manusia Dan Relevansinya Bagi Orang Percaya Masa Kini,Ay Tri Tunggal: Jurnal Pendidikan Kristen Dan Katolik 3, no. : 213Ae24. 42 Arrington. Doktrin Kristen: Perspektif Pentakosta, 336. CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 1. September 2025 pikir sangat dibutuhkan dalam kehidupan jemaat, dan Roh Kudus berperan aktif dalam proses pembaharuan tersebut. 43 Karenanya, identitas baru orang Kristen adalah sebagai milik Allah: mereka adalah anak-anak Allah yang suci dan benar. Mereka tidak lagi terikat pada status Auorang berdosaAy seperti semula, melainkan telah menerima status rohani yang sama dengan Kristus sendiri (Rm. 6:22. 2Kor. Hal utama dalam kedatangan Kerajaan Allah adalah pengampunan dosa dan keselamatan . idup keka. 44 Seluruh proses keselamatan ini dilakukan "dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita," menyoroti peran sentral dan harmonis dari Tritunggal dalam menyelamatkan orang berdosa. Konteks teologis ini mengandung pesan peringatan dan panggilan hidup kudus. Ayat ini merupakan peringatan bagi orang-orang kudus . agar jangan kembali ke hidup berdosa karena jika demikian Aumereka sama dalam bahaya tidak mewarisi Kerajaan Allah. Artinya, perubahan identitas ini bukan hanya status pasif semata, tetapi harus tercermin dalam perilaku. Setelah menerima pengudusan dari Kristus, kita dituntut untuk menguduskan Dia di dalam hati kita. Setiap waktu kita dipanggil untuk hidup kudus sebagaimana Kristus kudus, sebab segala sesuatu tanpa terkecuali akan kita pertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Sesudah itu. Kristus sendiri akan terus menyucikan kita melalui karya Roh Kudus-Nya. 45 1 Korintus 6:11 mendorong umat percaya untuk mewujudkan apa yang sebenarnya telah terjadi bagi mereka di dalam Kristus. Mereka dipanggil untuk hidup sesuai dengan identitas baru, meninggalkan perbuatan lama sebagai bukti nyata rahmat Allah yang menyelamatkan. Dari perspektif Pentakostal, budaya etis modern yang bersifat relatif tidak mampu menyelesaikan persoalan moral manusia, sehingga tidak dapat menandingi otoritas Roh Kudus dalam mengatasi dosa. Roh Kudus menjadi pusat dan satu-satunya jalan bagi orang Kristen untuk mengalami pertobatan sejati. 46 Relativisme etis dalam budaya modern gagal memberikan solusi hakiki atas persoalan moral manusia, sebab ia tidak memiliki dasar kebenaran yang absolut. Perspektif Pentakostal menegaskan bahwa hanya Roh Kudus yang memiliki kuasa mengatasi dosa dan memperbarui hidup manusia. Oleh karena itu, pertobatan sejati tidak mungkin dicapai melalui standar moral buatan manusia, melainkan hanya Daniel Pesah Purwonugroho. AuTransformasi Akal Budi Dalam Roma 12:2 Dan Dampaknya Terhadap Pertobatan Jemaat Kristen: Sebuah Studi Eksegesis,Ay AP-Kain Jurnal Mahasiswa 2, no. 53Ae63. 44 Guthrie. Teologi Perjanjian Baru, 250. 45 Harold Victor. Betapa Dahsyatnya Darah Yesus Volume 2 (Malang: Gandum Mas, 2. , 218. 46 Romelus Blegur et al. AuPeran Sentral Roh Kudus Bagi Pertobatan Orang Kristen Di Tengah Relativisme Budaya Etis,Ay YADA: Jurnal Teologi Biblika Dan Reformasi 3, no. : 1Ae12. CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Vernineto Sitanggang: Transformasi Ilahi di Tengah Dekadensi Moral: Tafsir Pentakostal atas 1 Korintus 6:11 melalui karya Roh Kudus yang menuntun orang percaya pada kehidupan yang kudus dan berkenan kepada Allah. Transformasi hidup adalah hal yang esensial bagi setiap orang percaya dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Hanya melalui hidup yang berlandaskan pertobatan seseorang dapat merasakan serta menerima kasih dan anugerah Allah. Namun, hal ini tidak mungkin tercapai tanpa karya Roh Kudus, sebab manusia tidak akan mencari Allah dengan kekuatan pikirannya sendiri jika tidak digerakkan oleh Roh Kudus. 47 Transformasi hidup merupakan fondasi utama kehidupan orang percaya karena menjadi pintu masuk untuk mengalami kasih dan anugerah Allah. Namun, manusia yang terbatas dan cenderung berdosa tidak mampu mencapainya dengan kekuatan sendiri. Di sinilah peran Roh Kudus menjadi mutlak, karena hanya Roh Kudus yang mampu menginsyafkan manusia akan dosa, menggerakkan hati untuk mencari Allah, serta menuntun pada pertobatan sejati. Dengan demikian, transformasi hidup yang berlandaskan pertobatan bukanlah hasil usaha manusia, melainkan buah karya Roh Kudus dalam diri orang percaya. Saat seseorang menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat, ia juga menerima Roh Kudus yang menjadikannya beralih dari keadaan terpisah dari Allah menjadi anak-Nya. Hal ini sejalan dengan ajaran Roma 8:16. 48 Penerimaan Yesus Kristus sebagai Juruselamat tidak hanya membawa pengampunan dosa, tetapi juga menghadirkan Roh Kudus yang memeteraikan status baru orang percaya sebagai anak Allah. Roma 8:16 menegaskan bahwa Roh Kudus sendiri memberi kesaksian bersama roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dengan demikian, peralihan dari keterpisahan dengan Allah menuju relasi sebagai anak merupakan karya Roh Kudus yang meneguhkan identitas baru orang percaya dalam keluarga Allah. Transformasi hidup tidak dapat dipisahkan dari karya Roh Kudus. Alkitab menegaskan bahwa hanya melalui karya Roh Kudus seseorang dapat datang kepada Tuhan Yesus. Peran Roh Kudus bukan hanya menuntun seseorang untuk bertobat dan menyadari dosanya, tetapi juga terus bekerja dalam kehidupannya setelah pertobatan hingga akhir perjalanan imannya sebagai pengikut Kristus. Roh Kudus mengubahkan manusia menjadi ciptaan baru, memberi kekuatan untuk tetap hidup dalam pertobatan dan menjaga kekudusan, serta mendorongnya untuk memberitakan Injil Kristus. Oleh karena itu, peran Blegur et al. Sulviani et al. AuTEOLOGI KARISMATIK: Peran Roh Kudus Dalam Transformasi Hidup Kristen Menurut Roma 8:9. Ay CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 1. September 2025 Roh Kudus sangatlah penting bagi orang percaya di era modern ini. 49 Peran Roh Kudus bersifat mutlak dalam kehidupan orang percaya karena Ia bukan hanya memperbarui manusia menjadi ciptaan baru, tetapi juga memampukan untuk hidup konsisten dalam pertobatan dan menjaga kekudusan. Lebih dari itu. Roh Kudus menyalakan kerinduan dan keberanian untuk memberitakan Injil Kristus di tengah dunia modern yang penuh tantangan moral dan spiritual. Dengan demikian, tanpa bimbingan dan kuasa Roh Kudus, orang percaya tidak akan sanggup mempertahankan identitasnya maupun melaksanakan panggilannya sebagai saksi Kristus. Melalui transformasi hidup dan penerimaan baptisan Roh Kudus, seseorang dapat mengalami pembaruan cara pandang terhadap dirinya sendiri serta perubahan perspektif terhadap dunia atau lingkungannya. 50 Transformasi hidup dan baptisan Roh Kudus membawa dampak transformatif yang nyata dalam hidup seseorang. Keduanya bukan hanya menandai perubahan status rohani, tetapi juga memperbarui identitas diri sehingga orang percaya melihat dirinya sebagai ciptaan baru di dalam Kristus. Lebih dari itu. Roh Kudus mengubah cara pandang terhadap dunia, sehingga lingkungan dan realitas hidup tidak lagi dipahami menurut pola lama, melainkan menurut perspektif Allah. Dengan demikian, dalam perspektif Pentakostal, karya Roh Kudus menjadi fondasi bagi transformasi ilahi, lahirnya paradigma hidup yang kudus dan berorientasi pada kehendak Tuhan. Implikasi Praktis Bagi kehidupan orang percaya di masa kini, ayat ini menawarkan beberapa implikasi Pertama, fondasi identitas yang baru. Ayat ini menjadi dasar bagi identitas orang percaya yang tidak lagi ditentukan oleh masa lalu mereka yang penuh dosa. Tidak peduli seberapa buruk kesalahan masa lalu, anugerah Kristus mampu membersihkan, menguduskan, dan membenarkan sepenuhnya. 1 Korintus 6:11 adalah sebuah deklarasi transformatif yang berfungsi sebagai antitesis fundamental terhadap dosa-dosa yang merajalela di Korintus. Ayat ini relevan bagi kehidupan iman masa kini karena menegaskan prinsip identitas dalam Kristus. Bagi orang Kristen masa kini, ayat ini menjadi pengingat bahwa walau kita masih dapat jatuh dalam dosa, dosa-dosa tersebut tidak lagi menjadi identitas kita. Sebagaimana dikatakan, dosa masa lalu tidak lagi AumenentukanAy status kita karena kita telah dibersihkan, dinyatakan benar, dan dipisahkan sebagai umat Allah. Pesan Christopher Sigar Estefanus and Kosma Manurung. AuTransformasi Kehidupan Paulus Oleh Roh Kudus: Studi Hermeneutika Kisah Para Rasul 9:17,Ay ELEOS: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen 4, no. : 34Ae43. 50 Estefanus and Manurung. CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Vernineto Sitanggang: Transformasi Ilahi di Tengah Dekadensi Moral: Tafsir Pentakostal atas 1 Korintus 6:11 ini memberikan harapan dan motivasi: bahkan orang yang dulunya tenggelam dalam dosa berat pun dapat diubah oleh kuasa Allah. Perubahan ini meliputi seluruh kehidupan kita, dari mati rohani menjadi hidup baru. Kedua, perjuangan melawan dosa. Meskipun telah dibenarkan secara posisional, orang percaya masih harus menjalani proses pengudusan progresif. Ayat ini menegaskan bahwa perjuangan melawan dosa adalah bagian dari kehidupan Kristen, tetapi kemenangan sudah dijamin oleh karya Kristus. Praktisnya, ayat ini mendorong orang percaya untuk menjalani hidup sesuai identitas barunya. Purwonugroho menyebut bahwa Alkitab menekankan pembaruan akal budi yang menghasilkan pertobatan, sehingga hidup orang percaya dibentuk selaras dengan kebenaran firman Tuhan serta membawa pengaruh rohani bagi kehidupan mereka. 51 Kebebasan dari dosa harus diwujudkan dalam perilaku baru. Kristen sejati tidak didefinisikan oleh dosa-dosa masa lalu, melainkan bertekun menolak dosa dan mempraktikkan kekudusan. Dengan kata lain, gereja dan individu saat ini diajak menghidupi apa yang sebenarnya telah diberikan oleh Tuhan. Konteks pastoralnya luas: ayat ini digunakan untuk meneguhkan orang yang bertobat . ahwa mereka sungguh-sungguh dibebaska. , menguatkan pencari harapan bahwa tidak ada dosa yang terlalu besar bagi rahmat Allah, dan memperingatkan jemaat untuk tidak menganggap enteng panggilan suci mereka. Kisah hidup Paulus menjadi teladan bagi siapa saja yang ingin bertobat. Dari seorang yang awalnya memusuhi Kristus, ia berbalik arah dan menjadi manusia baru. Dalam kehidupan barunya bersama Kristus. Paulus semakin penuh sukacita dan bersemangat dalam melaksanakan panggilannya. 52 Dengan demikian, 1 Korintus 6:11 secara kontemporer menyatukan doktrin keselamatan . nugerah ilah. dengan panggilan hidup kudus, menegaskan bahwa identitas orang Kristen sesungguhnya telah diubah secara ajaib oleh Kristus. Ketiga, panggilan untuk hidup kudus. Ayat ini adalah dorongan untuk tidak kembali ke pola hidup lama yang telah ditinggalkan. Realitas spiritual dari penyucian, pengudusan, dan pembenaran harus menggerakkan orang percaya untuk menjalani kehidupan yang mencerminkan status baru mereka di dalam Kristus. Pesan Paulus di 1 Korintus 6:11 adalah solusi teologis untuk masalah-masalah praktis yang dihadapinya di jemaat Korintus. Permasalahan gugatan di pengadilan kafir dan imoralitas adalah gejala dari kegagalan jemaat Purwonugroho. AuTransformasi Akal Budi Dalam Roma 12:2 Dan Dampaknya Terhadap Pertobatan Jemaat Kristen: Sebuah Studi Eksegesis. Ay 52 Donobakti and Atmaja. AuPertobatan Sebagai Sarana Menjadi Manusia Baru: Suatu Uraian Spiritualitas Belajar Dari Pengalaman Hidup Paulus. Ay CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 1. September 2025 untuk memahami identitas baru mereka di dalam Kristus. Untuk mencapai transformasi hidup yang lebih baik, seseorang perlu melalui proses seperti refleksi diri, penentuan sasaran, penyusunan strategi tindakan, pengendalian diri, serta dukungan dari persekutuan iman. Transformasi hidup tidak terjadi secara instan, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif sesama manusia dalam prosesnya. Refleksi diri menolong seseorang menyadari kelemahan dan potensi, penentuan sasaran memberi arah yang jelas, penyusunan strategi tindakan menyediakan langkah konkret, dan pengendalian diri memastikan konsistensi. Namun, semua itu akan semakin efektif bila ditopang oleh dukungan dari persekutuan iman yang berfungsi sebagai penguat, pengingat, dan pendorong dalam perjalanan perubahan hidup. Demikian pula, jika mereka menyadari bahwa mereka telah dicuci bersih dari dosadosa masa lalu, maka kembali ke gaya hidup yang tidak bermoral adalah sebuah kontradiksi total terhadap identitas baru yang telah diberikan kepada mereka. Tamera dan Kotta menghubungkan pemahaman akan buah-buah Roh di Galatia 5:22-23 dengan proses transformasi diri. Orang-orang Kristen diharapkan mengalami pembaruan karakter dan perilaku yang lebih baik melalui bimbingan Roh Kudus. 54 Pemahaman ini menegaskan bahwa transformasi diri orang percaya bukan sekadar usaha moral, melainkan hasil karya Roh Kudus. Kehadiran Roh Kudus membimbing orang Kristen untuk mengalami pembaruan karakter yang nyata, seperti hidup dalam kasih, sukacita, damai sejahtera, dan penguasaan Dengan demikian, perubahan perilaku yang lebih baik menjadi bukti konkret dari pertumbuhan rohani, serta menegaskan bahwa kehidupan Kristen yang sejati ditandai oleh manifestasi buah Roh dalam diri setiap orang percaya. Perubahan hidup yang berakar pada pertobatan sejati serta pembaruan spiritualitas Kristen menjadi dasar yang teguh dan kuat bagi pertumbuhan moralitas serta penghayatan nilai-nilai kekristenan. 55 Pertobatan sejati dan pembaruan spiritualitas Kristen merupakan fondasi esensial bagi pembentukan moralitas yang kokoh. Tanpa perubahan batin yang bersumber dari pertobatan, nilai-nilai kekristenan hanya akan dipahami sebatas ajaran moral tanpa kekuatan transformasi. Namun, ketika hidup diperbarui oleh karya Kristus dan Roh Kudus, maka pertumbuhan moralitas tidak hanya bersifat eksternal, melainkan lahir dari hati yang diubahkan. Dengan demikian, penghayatan nilai-nilai kekristenan menjadi autentik. Feoh. Adang, and Lawalata. AuFilsafat Spiritualitas: Memahami Perubahan Hidup Dalam Konteks Alkitab. Ay Tamera and Kotta. AuMenelusuri Buah-Buah Roh: AuGalatia 5:22-23 Dan Transformasi Diri Bagi Generasi Muda Kristen". Ay 55 Sigarlaki. AuTransformasi Hidup Dalam Kekudusan: Upaya Peningkatan Moralitas Kepemimpinan Gereja. Ay CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Vernineto Sitanggang: Transformasi Ilahi di Tengah Dekadensi Moral: Tafsir Pentakostal atas 1 Korintus 6:11 konsisten, dan mampu bertahan menghadapi tantangan zaman. Ayat 1 Korintus 6:11 bukan hanya pernyataan doktrinal, tetapi juga panggilan untuk hidup yang mencerminkan realitas spiritual yang telah diberikan kepada orang percaya. KESIMPULAN Analisis eksegesis terhadap 1 Korintus 6:11 menunjukkan bahwa dengan menggunakan tiga kata kerja pasif aorist "disucikan, dikuduskan, dibenarkan" Paulus menegaskan identitas baru jemaat tidak didasarkan pada prestasi moral mereka, melainkan pada karya definitif Allah. Dengan demikian disimpulkan bahwa 1 Korintus 6:11 adalah deklarasi yang transformatif, mengubah identitas orang-orang berdosa dari "demikianlah dahulu" menjadi ahli waris Kerajaan Allah yang telah disucikan, dikuduskan, dan Dalam perspektif Pentakostal, karya Roh Kudus menjadi fondasi bagi transformasi ilahi di tengah dekadensi moral. Bagi kehidupan orang percaya di masa kini, ayat ini menawarkan implikasi penting sebagai fondasi identitas yang baru, perjuangan melawan dosa, dan panggilan untuk hidup kudus. Berangkat dari hasil penelitian, gereja dan pendidikan Kristen di Indonesia direkomendasikan untuk meneguhkan identitas baru orang percaya sebagai karya Allah melalui pengajaran yang jelas mengenai status Audisucikan, dikuduskan, dan dibenarkan. Ay Pendidikan karakter Kristiani hendaknya menekankan transformasi oleh Roh Kudus, bukan sekadar disiplin moral. Gereja juga perlu menyediakan pelayanan pemulihan yang menolong jemaat melepaskan identitas lama dan hidup dalam kebaruan Kristus. Selain itu, umat Kristen dipanggil untuk menjadi teladan hidup kudus dan berintegritas di tengah masyarakat plural yang menghadapi dekadensi moral. Akhirnya, ibadah dan liturgi harus terus menekankan dimensi transformatif Injil agar jemaat senantiasa dikuatkan dalam identitas barunya di dalam Kristus. REFERENSI