Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 1 Juni 2025 Hal 1 - 8 JURNAL PSIKOHUMANIKA http://ejurnal. id/ojs/index. php/psikohumanika PERBEDAAN KEPUASAN PERNIKAHAN PADA PASANGAN BEDA AGAMA DAN SEAGAMA Clara Vania Prahastuti1*. Ratna Endang Y. Kusumiati2 1,2, Fakultas Psikologi. Universitas Satya Wacana Salatiga ARTICLE INFO Article History Be accepted: Nov 2024 Approved: April 2025 Published: June 2025 Keywords: different religions. marriage satisfaction. ABSTRACT Marital satisfaction in Indonesia is closely related to religiosity and religious An individual's level of religiosity can influence satisfaction in their This research aims to see differences in marital satisfaction between couples of different religions and those of the same religion. This research used a quantitative approach with research participants of 40 wives in interfaith marriages and 40 wives in same religion marriages taken by non-probability sampling with a purposive sampling method. Measurement uses the ENRICH Marital Satisfaction scale ( = 0. The analysis used in this research is Mann Whitney. The research results are based on the results of the Mann Whitney test analysis using SPSS 26 with a probability value of . 567 > 0. 05, indicating that the proposed hypothesis is rejected. The conclusion of the research is that there is no significant difference in the marital satisfaction of interfaith couples and the marital satisfaction of same religious couples. The categorization of marital satisfaction between interfaith and same religious couples has the same category, namely in the high category. Alamat Korespondensi: Jl. Diponegoro No. Indonesia 50711 E-mail: claravania@gmail. Clara Vania Prahastuti1*. Ratna Endang Y. Kusumiati2 p-ISSN: 1979-0341 e-ISSN : 2302-0660 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 1 Juni 2025 INFO ARTIKEL Sejarah Artikel Diterima: November 2024 Disetujui: April 2025 Dipublikasikan: Juni 2025 Kata Kunci: beda agama. Hal 1 - 8 ABSTRAK Kepuasan pernikahan di Indonesia erat kaitannya dengan religiusitas dan nilai-nilai religiusitas. Tingkatan religiusitas individu dapat memberi pengaruh pada kepuasan dalam pernikahannya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan kepuasan pernikahan pada pasangan beda agama dan Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan partisipan penelitian 40 istri pada pernikahan beda agama dan 40 istri pada pernikahan seagama yang diambil secara non- probability sampling dengan metode purposive sampling. Pengukuran menggunakan skala ENRICH Marital Satisfaction ( = 0,. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Mann Whitney. Hasil penelitian berdasar hasil analisis uji Mann Whitney menggunakan bantuan SPSS 26 dengan nilai probabilitas adalah . 0,567 > 0,05 menunjukkan, bahwa hipotesis yang diajukan ditolak. Kesimpulan penelitian yaitu tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada kepuasan pernikahan pasangan beda agama dengan kepuasan pernikahan pasangan seagama. Kategorisasi kepuasan pernikahan pasangan beda agama dan seagama memiliki kategori yang sama, yaitu masuk dalam kategori PENDAHULUAN Keluarga merupakan unit sosial paling kecil dalam sebuah masyarakat. Brodey seperti yang dikutip dalam Anderson & Carter . , menyebutkan bahwa keluarga memilikiperan krusial dalam menentukan pola perilaku anak. Menurut Kamus Psychology APA . , psikologi keluarga adalah cabang ilmu psikologi yang mempelajari interaksi antara keluarga serta konteks yang mempengaruhi keluarga termasuk lingkungan sekitar mereka. Duvall dan Logan . menunjukkan dalam Setyowati dan Murwani . , keluarga terdiri dari sekelompok individu yang terhubung melalui perkawinan, kelahiran, atau adopsi, dengan tujuan menciptakan dan menjaga budaya serta mendukung perkembangan fisik, psikologis, emosional, dan sosial setiap anggotanya. Keluarga juga memiliki tujuan yang mencakup berbagai aspek dan kebutuhan manusia. Salah satu aspeknya adalah kebutuhan dalam bentuk emosional yang diperoleh dari pernikahan. Pernikahan merupakan sebuah ikatan batin dan resmi yang diakui oleh hukum atau normanorma sosial dalam masyarakat. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974. Pasal 1 mengenai Perkawinan, menuliskan bahwa Auperkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga . umah tangg. yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Selain itu pernikahan bertujuan untuk membentuk cita-cita keluarga dalam berbagai aspek. Salah satu contoh dalam aspek keharmonisan dalam hubungan, dalam usaha mencapai cita-cita tersebut maka perlu nya komitmen dalam keluarga. Alam perspektif psikologi, perkawinan merujuk pada hubungan yang erat dan legal antara dua individu yang biasanya melibatkan aspek-aspek emosional, sosial, dan ekonomi. Psikologi perkawinan memeriksa dinamika hubungan, interaksi pasangan, dan faktor-faktor psikologis yang memengaruhi keberlanjutan serta kualitas pernikahan. Studi ini mencakup aspek-aspek seperti komunikasi, kepuasan pernikahan, penyesuaian, dan resolusi konflik dalam konteks hubungan suami-istri. Dalam penelitian tersebut juga disebutkan menurut Gymnastiar . bahwa agama merupakan salah satu dasar utama dalam membangun rumah tangga yang bahagia, tenteram, dan sejahtera. Kepuasan pernikahan menjadi indikator vital dalam mengevaluasi kualitas hubungan suami-istri. Menurut Fincham dan Beach . kepuasan pernikahan sering kali diartikan sebagai sikap yang dimiliki seseorang terhadap dirinya di hubungan perkawinan. Kumar dan Clara Vania Prahastuti1*. Ratna Endang Y. Kusumiati2 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 1 Juni 2025 Hal 1 - 8 Haris . menyatakan bahwa kepuasan pernikahan adalah penilaian subjektif seseorang terhadap pengalaman yang mereka alami dalam pernikahan. Ungkapan tersebut memiliki arti kepuasan pernikahan hanya bisa dinilai oleh setiap individu, dan setiap penilaian invidu selalu Menurut Hurlock . bahwa pada umumnya tingkat kepuasan perkawinan cenderung lebih tinggi di kalangan orang-orang religius dibandingkan dengan mereka yang kurang religius. Menurut penelitian Rinto Wahyu . bahwa kepuasan pernikahan di Indonesia terkait dengan religiusitas dan nilai-nilai religius. Penelitian Dowlatabadi. Saadat & Jahangiri . menyebutkan tingkatan religiusitas individu dapat memberi pengaruh pada kepuasan dalam pernikahannya. Berdasarkan penelitian deskriptif Septy Srisusanti dan Anita Zulkaida . menyebutkan bahwa tiga faktor utama yang berpengaruh terhadap kepuasan perkawinan pada istri adalah hubungan interpersonal terhadap pasangan, keterlibatan dalam aktivitas keagamaan, serta kehidupan seksual. Pertanyaan tentang sejauh mana perbedaan agama mempengaruhi kepuasan pernikahan menjadi relevan dalam menjawab tantangan keberagaman ini. Di Indonesia, sebuah negara yang kaya akan keragaman agama dan budaya, fenomena pernikahan antar individu yang memiliki latar belakang agama yang berbeda semakin Perkawinan memiliki peranan penting pada pembentukan struktur masyarakat. Manusia memiliki keberagaman salah satunya adalah keberagaman agama. Pernikahan antara individu dengan latar belakang agama yang berbeda merupakan salah satu aspek menarik untuk Perbedaan agama dalam perkawinan dapat mempengaruhi dinamika hubungan suamiistri, dan dampaknya terhadap kepuasan pernikahan menjadi suatu hal yang menarik untuk Berdasar kompleksitas permasalahan tersebut, maka tujuan penelitian ini untuk melihat perbedaan kepuasan antara pernikahan dengan pasangan yang berbeda agama dan seagama. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan dalam memperdalam pemahaman tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan pernikahan di tengah keberagaman agama. Penelitian ini tidak hanya akan memberikan wawasan akademis, tetapi juga dapat memberikan sumbangan penting untuk pengembangan kebijakan dan intervensi sosial yang bertujuan untuk mendukung kelangsungan perkawinan, terutama di tengah masyarakat yang multikultural dan Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan kepuasan pernikahan antara istri pada pasangan beda agama dan seagama. METODE Data pada penelitian ini diperoleh menggunakan pendekatan kuantitaif menggunakan metode deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah 40 istri pada pernikahan beda agama dan 40 istri pada pernikahan seagama. Penelitian ini menggunakan alat ukur yaitu ENRICH Marital Satisfaction yang dimiliki oleh Olson dan Fowers . Pada alat ukur tersebut terdapat 10 aspek dalam kepuasan pernikahan, terdiri dari 15 aitem dan bergerak mulai dari 0,520 sampai 0,820 dengan koefisien Alpha CronbachAos sebesar () 0,860. Penelitian ini menggunakan uji asumsi yaitu uji normalitass dan uji homogenitas dengan IBM SPSS Statistic 25. Metode analisis yang digunakan adalah uji Man-Whitney untuk melihat perbedaan rata-rata dari kedua kelompok yang berbeda. Clara Vania Prahastuti1*. Ratna Endang Y. Kusumiati2 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 1 Juni 2025 Hal 1 - 8 HASIL DAN PEMBAHASAN Partisipan dalam penelitian ini adalah wanita berlatar belakang sudah menikah dengan usia pernikahan lebih dari 5 tahun. Partisipan dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu kelompok wanita pada pernikahan beda agama dan yang kedua wanita pada pernikahan Dari total jumlah 80 partisipan yang didapatkan dalam penelitian ini diperoleh persebaran demografis dari usia partisipan sebagai berikut: Interval Usia 25-34 tahun 35-44 tahun 45-54 tahun 55-64 tahun 65-74 tahun Tabel 1. Usia Partisipan Total Presentase Berdasarkan dari tabel di atas, pada kategorisasi usia menunjukkan bahwa partisipan wanita yang sudah menikah dan berumur 35-44 tahun menjadi partisipan terbanyak. Pada penelitian ini menghasilkan beberapa hasil. Pertama hasil uji normalitas Beda Agama Seagama Tabel 2. Hasil Uji Normalitas Statistic 0,910 0,961 Sig. 0,004 0,180 Berdasarkan hasil uji normalitas pada Tabel 2, menunjukkan bahwa nilai signifikansi pada uji normalitas Shapiro Wilk adalah 0,004 > 0,05 pada partisipan beda agama. Sedangkan signifikansi menunjukkan angka 0,180 > 0,05 pada partisipan seagama. Data pada sampel beda agama tidak terdistribusi normal sedangkan pada sampel seagama terdistribusi normal. Selanjutnya penelitian ini dilakukan uji homogenitas untuk mengevaluasi varians antar grup yang dianalisis. Hasil Between Groups Within Groups Total Tabel 3. Hasil Uji Homogenitas Sum of Squares Meaan Square 19,013 19,013 2799,875 35,896 2818,888 0,530 Sig 0,469 Berdasarkan hasil uji homogenitas pada Tabel 3, diperoleh nilai sig. 0,469 > 0,05 yang menunjukkan bahwa hasil yang diberikan homogen. Pada hasil tersebut maka tidak adanya perbedaan yang signifikan antara varians grup. Clara Vania Prahastuti1*. Ratna Endang Y. Kusumiati2 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 1 Juni 2025 Hal 1 - 8 Penelitian ini menggunakan analisis deksriptif untuk memberikan gambaran mengenai data yang dikumpulkan. Berdasarkan data yang dikumpulkan dapat digunakan untuk menentukan tinggi rendahnya variabel yang diteliti yaitu variabel kepuasan pernikahan pada wanita pada pernikahan seagama dan beda agama. Beda Agama Tabel 4. Kategorisasi Skala Kepuasan Pernikahan Beda Agama Kategori Interval Frekuensi Presentase Sangat 15 Ou x O 27 Rendah Rendah 28 Ou x O 39 Sedang 40 Ou x O 51 47,5% Tinggi 52 Ou x O 63 42,5% Sangat 64 Ou x O 75 Tinggi Total Mean 53,45 Dari hasil kategorisasi pada Tabel 4, skor rata-rata kepuasan pernikahan pada pasangan beda agama yang diperoleh adalah 53,45. Maka dari itu rata-rata skor yang diperoleh dari partisipan menunjukkan bahwa kepuasan pernikahan yang dimiliki oleh pasangan beda agama termasuk dalam kategori tinggi. Tabel 5. Kategorisasi Skala Kepuasan Pernikahan Pada Pasangan Seagama Kategori Interval Frekuensi Presentase Mean Beda Sangat Rendah 15 Ou x O 27 Agama Rendah 28 Ou x O 39 Sedang 40 Ou x O 51 47,5% Tinggi 52 Ou x O 63 52,47 Sangat Tinggi 64 Ou x O 75 2,5% Total Berdasarkan dari hasil kategorisasi pada Tabel 5, skor rata-rata kepuasan pernikahan pada pasangan seagama yang diperoleh adalah 52,47. Rata-rata skor yang diperoleh dari partisipan menunjukkan bahwa kepuasan pernikahan yang dimiliki oleh pasangan seagama termasuk dalam kategori tinggi. Peneliti melakukan uji hipotesis menggunakan uji Man-Whitney, karena melalui uji normalitas pada sampel pasangan beda agama tidak terdistribusi normal. Tabel 6. Hasil Uji Man-Whitney Mann-Whitney U Wilcoxon W Asymp. Sig. -taile. Clara Vania Prahastuti1*. Ratna Endang Y. Kusumiati2 Hasil 742,000 1562,000 -0,560 0,576 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 1 Juni 2025 Hal 1 - 8 Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan menunjukkan bahwa hipotesis yang diajukan peneliti ini ditolak, dimana tidak adanya perbedaan signifikan yang dimiliki oleh kedua sampel yaitu pasangan beda agama dan seagama. Hal tersebut didukung dengan adanya hasil analisis uji Mann Whitney yang menunjukkan nilai probabilitas . > 0,05 . ,576 > 0,. sehingga dapat dikatakan bahwa tidak ada cukup bukti untuk mendukung hipotesa. Pernikahan beda agama dan seagama tidak secara siginifikan terdapat perbedaan dalam kepuasan pernikahan. Pada kategorisasi variabel kepuasan pernikahan pasangan beda agama dan pasangan seagama memiliki kategori yang sama. Keduanya memiliki kategori kepuasan pernikahan yang tinggi. Hal tersebut dikarenakan walaupun kemungkinan pasangan beda agama menghadapi lebih banyak tantangan terkait dengan keyakinan mereka, namun mereka mungkin juga mengembangkan ketrampilan dalam komunikasi dan juga adaptasi dalam hubungan mereka. Hasil yang menunjukkan tidak ada perbedaan nyata pada penerimaan kepribadian menunjukkan bahwa pasangan dalam pernikahan beda agama mampu mengelola perbedaan ini dengan cara yang tidak biasa. Pasangan dalam pernikahan beda agama kemungkinan besar mampu mengelola perbedaan ini dengan cara yang tidak memengaruhi penerimaan terhadap kepribadian pasangan secara keseluruhan penerimaan terhadap kepribadian pasangan secara Berdasar penelitian Almubarrok Problem yang dihadapi pasangan beda agama cenderung berbeda dengan problem yang dihadapi oleh pasangan yang seiman seagama pada umumnya. Mereka merupakan orang yang terbuka cara berpikirnya. Meskipun mereka memiliki perbedaan agama, banyak faktor interpersonal seperti komunikasi, pengembangan peran dan juga kemapuan memecahkan masalah serta pengelolaan yang lain yang dapat membantu menghadapi perbedaan tersebut. Selain itu konsep pernikahan mereka ditumbuhkan oleh perasaan pasangan sehingga terciptanya kebahagian dan kenyamanan yang pada akhirnya dapat memenuhi kebutuhan dalam hubungan tersebut (Oktafiani Palufi, 2. Penerimaan kepribadian masing-masing individu memainkan peran penting dalam menjaga keharmonisan Penerimaan terhadap kepribadian pasangan dapat menciptakan lingkungan yang lebih nyaman, memperkuat ikatan emosional, serta meningkatkan toleransi dan pengertian dalam menghadapi perbedaan. Pada penelitian Irman Putri dkk . juga menyebutkan bahwa pernikahan lintas agama harus lebih meninggikan sikap toleransi dan adanya saling menghargai antar pasangan. Pada pasangan dengan latar belakang agama yang sama, penerimaan kepribadian terbukti meningkatkan kepuasan, meskipun dipengaruhi oleh tingkat pemahaman dan dukungan emosional yang sering kali lebih mudah tercipta pada pasangan dengan kesamaan nilai. Kemampuan menerima kepribadian pasangan dapat menumbuhkan rasa saling menghargai dan mengurangi potensi konflik yang muncul dari perbedaan nilai dan pandangan hidup pernikahan, terutama pada pasangan dengan perbedaan agama,. Penerimaan kepribadian merupakan faktor universal yang melampaui perbedaan latar belakang agama dan dapat mengarah pada tingkat kepuasan yang serupa pada kedua kelompok pasangan. Penerimaan kepribadian individu tidak dipengaruhi secara signifikan oleh kesamaan atau perbedaan agama, melainkan oleh komitmen masing-masing pasangan untuk saling mendukung dan memahami satu sama lain. Penerimaan terhadap kepribadian pasangan menjadi penentu utama dalam menciptakan hubungan yang harmonis dan mengurangi konflik. Menurut Fowers dan Olson . , pasangan yang saling menerima karakter dan perbedaan kepribadian memiliki tingkat kepuasan pernikahan yang lebih tinggi, karena mereka lebih mampu mengatasi perbedaan tanpa merasakan tekanan untuk mengubah sifat atau kepribadian pasangan Kualitas penerimaan dan dukungan dalam pasangan dapat membantu individu untuk merasa lebih nyaman dengan dirinya sendiri dalam konteks Clara Vania Prahastuti1*. Ratna Endang Y. Kusumiati2 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 1 Juni 2025 Hal 1 - 8 pernikahan, yang pada gilirannya meningkatkan kepuasan pernikahan (Sullivan et al. , 2. Hal ini konsisten dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa penerimaan kepribadian sebagai aspek penting tidak tergantung pada latar belakang agama. Temuan ini juga menunjukkan bahwa penerimaan kepribadian adalah aspek fundamental dalam menjaga kepuasan pernikahan, terlepas dari perbedaan agama. Penerimaan kepribadian sebagai faktor utama kepuasan pernikahan (Lambert & Dollahite, 2. Adanya perbedaan yang tidak signifikan pada dimensi ini mencerminkan bahwa kedua jenis pasangan memiliki sikap keterbukaan dan penerimaan yang baik satu dengan yang Mengenai pembagian peran dalam keluarga mungkin kedua jenis pasangan sudah memiliki kesepakatan dan dikelola dengan baik. Sedangkan untuk komunikasi dan pemecahan masalah dapat menjadi satu kesatuan dalam membentuk suatu kepuasan pernikahan. Komunikasi yang efektif cenderung memiliki kepuasan yang lebih tinggi sehingga dapat menetralkan potensi konflik. Menurut Umi Fauziah . komunikasi interpersonal yang terjadi pasa pasangan beda agama dapat berjalan dengan harmonis dan efektif dengan sikap yang terbuka. Dalam dkedua kelompok , tidak ditemukan perbedaan signifikan yang mungkin menunjukkan bahwa kemampuan untuk memecahkan masalah tidak tergantung pada agama. Umi Fauziah . menyebutkan bahawa kemampuan untuk saling mengingatkan dan berdiskusi mencari solusi bersama, dapat menjadi ketrampilan yang terus dipelajari dan di perbaiki untuk menjaga hubungan yang tetap harmonis. Pernyataan serupa dengan pernyataan Yuli Budi Saputri . yang menyatakan bahwa komunikasi interpersonal yang efektif di dalam sebuah keluarga dapat menciptakan suatu keharmonisan dan mampu membangun hubungan interpersonal yangbaik antar anggota keluarga khususnya suami isteri. Tanggung jawab sebagai orang tua dalam mendisiplinkan anak juga tidak memiliki beda Hal ini menunjukkan bahwa mungkin terdapat perbedaan dalam pemberian nilai nilai agama pada pasangan beda agama dan segama, namun kedua kelompok dapat bertanggungjawab dalam pengasuhan. Penelitian yang dilakukan oleh Sholihul Huda . menyebutkan bahwa perbedaan agama tidak pernah di permasalahkan dalam pola pengasuhan Tetapi menekankan bahwa anak harus menjalani kewajibannya dalam beribadah sesuai dengan agama yang dianut dan tidak menekan harus mengikuti agama yang di ikuti karena prinsipnya semua agama tetap mempunyai sifat kebaikan. Radhiah Amna dan Wasino . menyebutkan bahwa pola asuh pada anak pasangan beda agama cenderung bervariasi dan dipengaruhi oleh kehidupan perkawinan orang tua. SIMPULAN Penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya perbedaan kepuasan pernikahan antara pasangan beda agama dan seagama. Berdasarkan hasil penelitian yang diteliti maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada kepuasan pernikahan pasangan beda agama dengan kepuasan pernikahan pasangan seagama. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya hasil analisis uji Mann Whitney menggunakan bantuan SPSS 26. Melalui hasil yang di dapat menunjukkan nilai probabilitas adalah . 0,567 > 0,05, yang berarti tidak adanya perbedaan signifikansi yang terjadi antara keduanya. Pada kategorisasi kepuasan pernikahan pasangan beda agama dan seagama memiliki kategori yang sama, yaitu masuk dalam kategori tinggi. Clara Vania Prahastuti1*. Ratna Endang Y. Kusumiati2 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 1 Juni 2025 Hal 1 - 8 DAFTAR PUSTAKA