At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Interpretation Vol. No. : 1-20 Available online at https://jurnal. id/index. php/tafasir Formulasi Etika Sosial Terhadap Sesama Manusia Dalam Surah AlujurAt: Pendekatan Tafsir Tematik Hayyin Mazaya NisaAo1, 1 Universitas Islam Negeri Kyai Ageng Muhammad Besari hayyinmazaya@gmail. Moh Alwy Amru Ghozali2 2 Universitas Islam Negeri Kyai Ageng Muhammad Besari amru@gmail. ARTICLE INFO Keywords: Formulation. Social Ethics. Tafsir. Surah al-ujurAt ABSTRACT Using Nurcholish MadjidAos functional-sociological approach, this study aims to explore and formulate the values of social ethics contained in Surah al-ujurAt through a thematic exegesis framework . afsr maw. This surah encompasses fundamental teachings on community ethics, such as respect toward authority, the principle of caution in receiving information . , the obligation to reconcile conflicts . , and prohibitions against mockery, prejudice, and backbiting. Employing a qualitative method with a library research approach, the study analyzes classical and contemporary tafsr sources using descriptive-analytical The findings reveal that the social values in Surah alujurAt are universal, contextual, and applicable. The verses construct a comprehensive system of Islamic social ethics, ranging from epistemic foundations . erses 1Ae. , digital information ethics . , conflict management . erses 9Ae. , interpersonal communication ethics . erses 11Ae. , to principles of inclusivity and equality . This surah serves as both a normative and practical reference for character development and the cultivation of a dignified, ethical, and harmonious society How to Cite: Hayyin Mazaya Nisa. Moh. Alwy Amru Ghozali. AuFormulasi Etika Sosial Terhadap Sesama Manusia Dalam Surah Al- ujurAt: Pendekatan TematikAy. Cendekia: Jurnal Kependidikan dan Kemasyarakatan. Vol. No. 1, . : 1-20. A 2022. The author. At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Interpretation is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Interpretation. Volume 2. Number 1. June 2025 PENDAHLUAN Degradasi moral di tengah kompleksitas kehidupan sosial masyarakat abad modern, dewasa ini kian mengemuka. 1 Hal tersebut disebabkan oleh ketidakseimbangan antara kemajuan peradaban, dengan ketahanan moral, bersamaan dengan pengabaian terhadap konsepsi etika yang tertuang dalam dalam al-QurAoan. Al-QurAoan mengatur sedekmian rupa pondasi dari etika yang harus dijalankan oleh umat manusia. Seperti surah al-HujurAt, yang merupakan salah satu surah dengan muatan tata laku sosial secara 2 Sebagai upaya untuk menghidari krisis etika yang terus meluas diperlukan membaca kembali al-HujurAt guna membangun kehidupan masyarkat harmonis sekaligus menjadikanya kerangka normatif panduan hidup berosial. Mengkaji ulang dengan upaya untuk memformulasikan etika terhadap sesama manusia dalam surah al-HujurAt melalui pendekatan sosiologis fungsional Nurcholis Madjid banyak ditinggalkan peneliti. Sejauh ini, kajian tersebut hanya berkutat pada empat kecenderungan. Kecenderungan pertama mengkaji makna ayat secara tekstual dan normatif seperti yang dilakukan oleh Farhan Ahmad Anshari . , 3 Isna Fitri Chhoirun Nisa dkk. , 4 dan penelitian Lukman Nur Hakim dan Iffatul Bayyinah . 5 Kecenderungan kedua, kecenderungan terhadap penelusuran nilai moral secara aplikatif dalam dunia pendidikan, seperti yang dilakukan oleh Syamila . ,6 Siti Aisah dan Mawi Khusni Albar . ,7 dan penelitian Deri Firmansyah dan Asep Suryana . 8 Kecenderungan ketiga merupakan kecenderungan sosial praktis-interpersoal, seperti yang penelitian Mawarni dkk. , 9 dan kecenderungan keempat dengan kecenderungan yang mengkaji paradigma akhlak, seperti penelitian Umar Faruq Tohir 1 Komaruddin Hidayat. Psikologi Kematian (Jakarta: Gramedia, 2. , 2 M. Quraish Shihab. Tafsir al-Misbah, vol. 12 (Jakarta: Lentera Hati, 2. , 256. 3 Farhan Ahsan Anshari. AuEtika Sosial Kemasyarakatan dalam QS. al-HujurAt dalam Tafsir al-Azhar,Ay Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir, vol. 13, no. 2, 2022. DOI: 10. 29313/hikmah. 4 Isna Fitri Choirun NisaAo dkk. AuEtika Sosial QS. al-HujurAt Perspektif Tafsir Al-Mubarok,Ay Jurnal Studi Al-QurAoan, vol. 4, no. 1, 2022. DOI: https://doi. org/10. 15575/jra. 5 Lukman Nul Hakim dan Iffatul Bayyinah. AuEtika Sosial Perspektif Mufassir Nusantara dalam Tafsir Al-Ibriz,Ay Tafsir Nusantara, vol. 5, no. 1, 2021. DOI: https://doi. org/10. 61994/alshamela. 6 Naila Syamila. AuPendidikan Akhlak Sosial dalam QS. al-HujurAt: 9Ae13,Ay Jurnal Pendidikan Islam, vol. 2, 2021. 7 Siti Aisah dan Mawi Khusni Albar. AuTelaah Nilai-Nilai Pendidikan Sosial QS. al-ujurAt 11Ae13,Ay Jurnal Pendidikan Agama Islam, vol. 7, no. 1, 2022. DOI: https://doi. org/10. 24260/arfannur. 8 Deri Firmansyah dan Asep Suryana. AuKonsep Pendidikan Akhlak: Kajian QS. al-HujurAt 11Ae13,Ay AlTarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam, vol. 6, no. 2, 2021. DOI: 10. 46781/al-mutharahah. 9 Agus Mawarni dkk. AuEtika Pergaulan QS. al-HujurAt 10Ae13Ay. Jurnal Studi Islam dan Masyarakat, 8, no 1, 2022. Formulasi Etika Sosial Terhadap Sesama Manusia Dalam Surah Al- ujurAt (Hayyin M. N, et al. 10 Sehingga posisi untuk memformulasikan etika terhadap sesama manusia dalam surah al-HujurAt melalui pendekatan sosiologis fungsional mengalami kekosongan. Tulisan ini bertujuan untuk melengkapi kekurangan literatur di atas. Yakni bahwa, pembacaan terhadap surah al-HujurAt dengan tujuan untuk memformulasikan etika sosial terhadap sesama manusia menjadi hal penting untuk dikaji. Sehubungan dengan itu terdapat dua pertanyaan . Bagaimana formulasi etika sosial yang terkandung dalam surah al-HujurAt? . Bagaimana relevansi nilai-nilai akhlak sosial dalam surah al- HujurAt berdasarkan pendekatan tafsir tematik?. Kedua pertanyaan tersebut akan menjadi titik tolak penting dalam seluruh pembahasan pada artikel ini. Penelitian ini disandarkan pada argumentasi pentingnya revitalisasi atau menghidupkan kembali nilai-nilai akhlak QurAoani sebagai respons terhadap krisis moral yang nyata dalam masyarakat saat ini. Melalui pembacaan terhadap surah surah al- HujurAt dengan pendekatan sosiologis fungsional kita akan melihat keberperanan agama menjadi institusi sosial yang memiliki peran vital dalam menjaga keteraturan masyarakat, nilai-nilai dalam agama yang tertera dalam al-QurAoan tidak hanya bersifat spiritual, tapi juga rasional dan fungsional dalam kehidupan sosial, setiap ajaran agama mesti dipahami dalam konteks kehidupan masyarakat, dengan melihat fungsi sosial dan kemanusiaannya, dan tujuan utama agama adalah memperkuat kohesi sosial, kesetaraan, dan 11 Menggunakan pendekatan sosiologis fungsioanal, kita akan berusaha membuktikan bahwa al-QurAoan yang berposisi sebagai paduan agama tidak hanya bersifat tekstual, melainkan bersifat sosial-humanistik, bukan sekadar normatif-legalistik. Penelitian ini menempatkan surah al-HujurAt ayat 1, 2, 6, 9, 11, 12, dan 13 sebagai objek material kajian. Muatan surah al-HujurAt sangat relevan untuk dijadikan landasan untuk memperbaiki relasi sosial di tengah masyarakat yang rentan terpolarisasi oleh prasangka dan ego sektarian. Nilai-nilai di dalamnya bukan sekadar dogma, melainkan solusi praktis yang dapat diinternalisasi oleh setiap individu dalam kehidupan sehari-hari. Ketika masyarakat diwarnai dengan saling menghargai, tidak mudah mencela, dan bersikap terbuka terhadap perbedaan, maka stabilitas sosial akan lebih mudah tercapai. 12 Dengan menjadikan surah al-HujurAt sebagai objek kajian, diharapkan bisa menjadi pedoman aplikatif dalam menciptakan masyarakat yang tidak hanya religius 10 Umar Faruq Tohir. AuEtika Sufistik Imam al-GhazAl,Ay Jurnal Studi Tasawuf, vol. 4, no. 2, 2020. DOI: https://doi. org/10. 20414/ujis. 11 Nurcholish Madjid. Islam. Kemodernan, dan Keindonesiaan (Bandung: Mizan, 1. , 297Ae303. 12 Al-Qurtub. Al-JAmi li AhkAm al-QurAn, vol. 16 (Kairo: DAr al-Kutub al-Miriyyah, 1. , 332Ae334 At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Interpretation. Volume 2. Number 1. June 2025 secara ritual, tetapi juga bermoral dalam interaksi sosial nyata. Penelitian ini menggunakan metode library research dengan rumusan formulasi melalui pendekatan sosiologis-fungsional sebagaimana dikembangkan oleh Nurcholish Madjid. Surah al-HujurAt dibaca secara menyeluruh dengan meninjau teks, konteks, dan rasionalitas pesan-pesan sosial yang terkandung di dalamnya. Tujuan dari pembacaan ini adalah untuk memformulasikan konsep etika sosial antar manusia secara utuh, dengan merangkai ide-ide yang tersebar dalam surah al-HujurAt menjadi satu kesatuan konseptual yang koheren. HASIL DAN PEMBAHASAN Sosilogis Fungsional Hingga Formulasi Akhlak, dan Akhlak Sosial Pengaplikasian terminologi formulasi dalam berbagai pemahaman dan disiplin ilmu marak digunakan, menunjukan bahawa formulasi merupakan suatu istilah yang cukup penting dalam menjadi tolak ukur keakuratan dan pengembangan terhadap suatu konsep yang telah dirumuskan. Rencana yang terstruktur secara sistematis dalam merumuskan suatu gagasan yang hendak dikembangkan, setelah melalui tahapan perumusan merupakan kinerja definisi formulasi secara umum. 14 Akar kata dari formulasi ialah formula yang diadopsi dari bahasa latin, menunjukan makna sebuah aturan atau pola yang dibakukan. Dalam konteks keilmuan, penggunaan istilah formulasi dirancang sedemikian trupa untuk memframing suatu konsep agar mudah dimengerti lalu diamalkan secara kontinue atau konsisten. Formulasi bukan hanya prosesi penyusunan ide, tetapi juga merumuskan dalam bentuk eksplisit yang terstruktur agar dapat diuji dan divalidasi serta diimplementasikan dalam konteks tertentu. Formulasi dalam konteks al-QurAoan juga menunjukkan hubungan erat antara teks wahyu dan konstruksi rasional yang digunakan dalam pengembangannya. Akal bukan hanya digunakan untuk memahami lafal, tetapi juga untuk membangun struktur makna dari teks-teks yang tersebar. Dalam konteks ini formulasi melibatkan interaksi erat antara teks, konteks, dan rasionalitas pembaca. Untuk merasionalkan kandungan al-QurAoan. Nurcholis Madjid memiliki tiga pendekatan. Yakni, pendekatan Sosilogis, filosofis, dan Muhammad Wahyuni Nafis. Tafsir Sosial atas al-QurAoan: Metodologi dan Aplikasi (Jakarta: Paramadina, 2. , 133 14 Hans Reichenbach. The Rise of Scientific Philosophy, (Berkeley: University of California Press, 1. , 15 Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2. , 429. Formulasi Etika Sosial Terhadap Sesama Manusia Dalam Surah Al- ujurAt (Hayyin M. N, et al. Pendekatan sosiologis dalam pembacaan agama, merupakan cara memahami Islam sebagai sistem nilai yang hidup dan dinamis dalam struktur sosial. Dalam kerangka ini, teori fungsionalisme digunakan untuk melihat bagaimana agama berperan menjaga keteraturan sosial, memelihara kohesi komunitas, dan memperkuat nilai-nilai moral Ajaran Islam dipahami sebagai sumber integrasi sosial yang rasional, di mana setiap norma keagamaan berfungsi menata hubungan antarmanusia demi keseimbangan Secara sederhana pendekatan fungsional Nurcholis berpusat pada Agama adalah institusi sosial yang memiliki peran vital dalam menjaga keteraturan masyarakat, nilainilai dalam agama tidak hanya bersifat spiritual, tapi juga rasional dan fungsional dalam kehidupan sosial, setiap ajaran agama mesti dipahami dalam konteks kehidupan masyarakat, dengan melihat fungsi sosial dan kemanusiaannya, dan tujuan utama agama adalah memperkuat kohesi sosial, kesetaraan, dan kemaslahatan. Nurcholish menolak pemaknaan Islam yang eksklusif dan skripturalistik, karena menurutnya, agama harus berfungsi sosial-humanistik, bukan sekadar normatif-legalistik. Selanjutnya, dalam kehidupan manusia, konsep akhlak (A CA/ al-akhlA. merupakan pondasi penting dalam membentuk kualitas pribadi dan masyarakat. Secara etimologis, kata akhlak berasal dari bahasa Arab khuluq (A)nA, yang berarti tabiat, watak, atau kebiasaan yang tertanam kuat dalam diri seseorang. Dari segi terminologi, para ulama merumuskan akhlak sebagai sifat yang tertanam dalam jiwa yang darinya timbul perbuatan-perbuatan secara spontan tanpa perlu pertimbangan akal terlebih dahulu. Konsep ini menunjukkan bahwa akhlak bukanlah sekadar perilaku luar, melainkan manifestasi dari kondisi batin yang mendalam. Oleh karena itu, pembentukan akhlak merupakan hasil dari pendidikan jiwa yang konsisten dan berkelanjutan, 19 Berdasarkan ruang lingkupnya, akhlak tidak hanya menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga hubungan dengan dirinya sendiri dan orang lain. Berdasarkan ruang lingkupnya, akhlak dapat diklasifikasikan menjadi akhlak sosial dan akhlak non-sosial . Perlu dipahami bahwa akhlak non-sosial tidak memiliki konotasi negatif yang mengacu kepada ranah individualistik, melainkan pijakan awal manusia untuk berdialog dengan masyarakat sekitarnya. Perkembangan moral pribadi 16 Nurcholish Madjid. Islam. Kemodernan, dan Keindonesiaan, (Bandung: Mizan, 2. , 286. 17 Nurcholish Madjid. Islam. Kemodernan, dan Keindonesiaan, 297Ae303. 18 Ahmad Amin. Etika: Ilmu Akhlak (Jakarta: Bulan Bintang, 2. , 55Ae60 19 Zakiyuddin Maliki. Ilmu Akhlak (Yogyakarta: UII Press, 2. , 65. At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Interpretation. Volume 2. Number 1. June 2025 . menjadi prasyarat bagi perilaku moral sosial yang konsisten. 20 Pada titik ini, ajaran islam mengalami perjumpaan dengan pendekatan etika kontemporer yang tidak hanya perfeksionis dihadap publik, melainkan harus dpupuk dari kedalaman kesadaran Integrasi antara akhlak sosial dan non-sosial ialah bentuk sempurna dari moralitas Islami yang utuh, kontekstual, dan transenden. Teks. Konteks, dan Rasionalitas Pembaca Terhadap Surah al-HujurAt Surah al-HujurAt merupakan surah ke-49 dalam Al-QurAoan dan terdiri dari 18 ayat, dengan mengusung pesan etika sebagai pegangan manusia. Pesan tersebut diperoleh berdasarkan sajian segmen ayat yang membawa prinsip etika dan kehormatan dalam membina masyarakat Muslim yang beradab dan terorganisir Surah ini secara keseluruhan merumuskan fondasi masyarakat yang beradab, inklusif, dan harmonis. Surah ini membentuk kerangka etika sosial Islam yang menyeluruh, dimulai dari kepemimpinan, komunikasi, konflik, hingga identitas dan penghormatan antar individu. Surah al-HujurAt ayat 1 dan 2. Secara tekstual Surah al-HujurAt ayat 1 dan 2 menekankan adab terhadap Allah dan Rasul-Nya sebagai fondasi etika sosial-spiritual umat Islam. a Aea a A a Ao a ci aO a Oa nU OAoA Aa aae UO aUae UA c Aa IA c a a e a a a c a a a ea e a c a a e a a a e a a Aea a aA a aAeaAUe aa au eaA aCA a A Oa aeO a U aace aoaE au a cAUA AA au eA ea e a e a e e a e ea e e a a e a e a a a ca aA e A s AaeaA eUA AC a eU a au e aOaeAoa e a a eUaaeO aIA a aA a eI aeeA Pada ayat pertama, larangan AulA tuqaddim bayna yaday AllAh wa RaslihAy menunjukkan bahwa umat Islam tidak boleh mendahului ketetapan Allah dan Rasul, baik dalam hukum maupun pendapat, karena hal itu merupakan pelanggaran adab ilahiah dan Kata tuqaddim mencerminkan tindakan tergesa-gesa atau mendahului secara tidak patut, yang dalam banyak kamus dimaknai melampaui batas dan tidak menghormati waktu serta otoritas ketetapan syarAoi. 23 Seruan ittaq AllAh setelah larangan itu memperkuat bahwa menjaga adab terhadap wahyu adalah bagian integral dari takwa. Ayat kedua melanjutkan prinsip ini dengan melarang orang beriman meninggikan suara di atas suara Nabi dan bersikap seperti kepada sesama manusia biasa. Menurut Lane dan Kohlberg. Essays on Moral Development. The Philosophy of Moral Development, vol. 1 (San Francisco: Harper & Row, 2. , 172Ae173. 21 Nurcholish Madjid. Islam: Doktrin dan Peradaban (Jakarta: Paramadina, 2. , 218Ae219. 22 Fazlur Rahman. Major Themes of the QurAoan, (Minneapolis: Bibliotheca Islamica, 2. , 134Ae136. 23 A. Munawwir. KAmus al-Munawwir: Arab-Indonesia (Yogyakarta: Pustaka Progressif, 1. , 1212 20Lawrence Formulasi Etika Sosial Terhadap Sesama Manusia Dalam Surah Al- ujurAt (Hayyin M. N, et al. Wehr, kata kerja tarfaAo dan tajhar mengandung nuansa penghinaan verbal dan ketidaksopanan yang dapat membatalkan amal secara tidak disadari 24. Hubungan antara dua ayat ini sangat erat, ayat pertama mengatur adab terhadap wahyu dan hukum, sedangkan ayat kedua mengatur adab komunikasi dengan Nabi secara langsung. Dalam penjelasan asbAb al-nuzl, ayat ini diturunkan ketika sebagian sahabat seperti Ab Bakr dan Umar berbeda pendapat dengan suara keras di hadapan Nabi saat menerima delegasi Ban Tamm. Al-Suyt meriwayatkan bahwa peristiwa tersebut memicu turunnya ayat sebagai teguran atas sikap yang dianggap kurang adab terhadap Rasul. 25 Menurut al-BiqA dan Ibn Ashr, susunan ayat ini bukan kebetulan, 26 Ibn Ashr menunjukkan bahwa adab seperti nada suara harus dipandu oleh ketundukan batin yang lahir dari keimanan yang benar. 27 Ayat ini kemudian dilanjutkan dengan pujian kepada mereka yang merendahkan suara di hadapan Rasul, menunjukkan bahwa adab merupakan unsur keimanan yang memiliki konsekuensi spiritual nyata. Dalam merasionalkan kandungan Surah al-HujurAt ayat 1 dan 2, para ulama menyebutkan bahwa ayat tersebut berisi penekanan terhadap pentingnya adab terhadap otoritas tertinggi dalam Islam, yaitu Allah dan Rasul-Nya. Ayat pertama melarang umat mendahului Allah dan Rasul dalam urusan agama, menegaskan bahwa sumber kebenaran bersifat ilahi dan harus dihormati dengan penuh adab dan ketakwaan. Al-Tabar 28 dan Ibn Kathr 29 menafsirkan ayat ini sebagai peringatan keras untuk tidak berbicara atau menetapkan hukum sebelum adanya wahyu atau sabda Nabi. Ab HayyAn30 menambahkan bahwa takwa dalam ayat ini adalah prinsip etika spiritual yang menyatu dengan sikap ilmiah dan sosial terhadap wahyu. Ayat kedua melarang meninggikan suara di hadapan Nabi, menyoroti pentingnya adab dalam komunikasi. Al-Nasaf menilai larangan ini sebagai bentuk perlindungan terhadap kehormatan Nabi,31 sedangkan Sayyid Quthb melihatnya sebagai upaya ilahi 24 Edward William Lane. An Arabic-English Lexicon, vol. 1 (London: Williams and Norgate, 1. , 1111. JalAl al-Dn al-Suy. LubAb al-Nuql f AsbAb al-Nuzl (Kairo: DAr al-adth, 1. , 203. 26 Muhammad TAhir ibn Ashr, al-Tahrr wa al-Tanwr (Tunis: DAr Sahnn, 1. , 26:206. 27 IbrAhm al-BiqA. Nadzm al-Durar f TanAsub al-AyAt wa al-Suwar. Vol. 18, (Beirut: DAr al-Kutub alIlmiyyah, 1. , 19. 28 Al-Thabar. JAmi al-BayAn, vol. 26, (Kairo: DAr al-MaArif, 2. , 26:90. 29 Ibn Kathr. Tafsr al-QurAn al-Aem vol. 7, 358. 30 Ab HayyAn al-Andalus, al-Bahr al-Muhth, (Beirut: DAr al-Kutub al-Ilmiyyah, 1. , 9:201Ae202. 31 Al-Nasaf. MadArik al-Tanzl wa-aqAiq al-Tawl, vol. 4 (Beirut: DAr al-Kutub al-Ilmiyyah, 2. At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Interpretation. Volume 2. Number 1. June 2025 mencegah kesombongan spiritual yang tersembunyi. 32 ibn Ashr menyebut kedua ayat ini sebagai fondasi etika dalam pencarian ilmu . l-adab f al-il. 33 Hal ini juga ditegaskan oleh Ibn al-Jawz, 34 al-Shanqth, 35 dan al-MAward 36 yang mengaitkan adab terhadap Nabi dengan kualitas iman dan penghormatan terhadap wahyu. Lebih jauh. Ab al-Sud 37 dan Ibn Adil 38 menilai bahwa pelanggaran adab terhadap Nabi berdampak pada tidak diterimanya amal dan menggambarkan kegagalan memahami posisi transenden Nabi. Al-BiqA 39 menyebut konsekuensi langsung dalam struktur ayat sebagai bentuk penegasan sakralitas adab, sementara Rashd RidhA menegaskan pentingnya menjaga adab terhadap Nabi bahkan dalam diskursus modern. Dari perspektif sosiologi, ayat 1 mencerminkan pentingnya kepatuhan sosial terhadap otoritas demi keteraturan kolektif, sedangkan ayat 2 menunjukkan bahwa cara bicara adalah simbol status sosial-keagamaan. Dalam konteks ini, adab verbal mencerminkan struktur kekuasaan simbolik dalam masyarakat. Surah al-HujurAt ayat 6. Selanjutnya pada ayat keenam Surah al-HujurAt memperkenalkan prinsip penting dalam etika sosial Islam: verifikasi informasi . a a Aea a e aU a AoA a AeA AiA a AA AuA a AA a AA a AeA a AA AIA a AA a AA a AeA a AoA a AeA a AeA a AA AcA AnA a AeA AuA a AA e a a a a U e a e a e a a e a a aa a a U a e a AeaA aa e a aee eI aA aa AiA a e AeaA aU eoa e A Ayat ini juga memperingatkan dampak dari keteledoran informasi, yaitu menyakiti suatu kaum karena kebodohan . ahAla. dan kemudian menyesal tanpa bisa membalikkan keadaan. Dalam konteks asbAb al-nuzl, ayat ini diturunkan terkait laporan tidak akurat al-Wald ibn Uqbah yang hampir memicu tindakan keliru dari Nabi. Hubungan ayat ini dengan ayat sebelumnya . terletak pada kesamaan tema kehatihatian dalam menyikapi informasi, pertama dari Nabi, kemudian dari selain Nabi. Sedangkan munasabah dengan ayat setelahnya . memperlihatkan bahwa tabayyun 32Sayyid Quthb. F dhilAl al-QurAn vol. 6 (Kairo: DAr al-Shurq, 2. , 783. 33 Al-Ahir ibn Ashr, al-Taurr wa al-Tanwr, vol. 26, 189. 34Ibn al-Jawz. ZAd al-Masr f Ilm al-Tafsr, vol. 4 (Beirut: DAr al-Kutub al-Ilmiyyah, 2. , 429. 35Al-Shanqth. AdhwA al-BayAn, vol. 8 (Riyadh: Maktabat al-UbaykAn, 2. , 255. 36Al-MAward, al-Nukat wa al-Uyn, vol. (Beirut: DAr al-Kutub al-Ilmiyyah, 2. , 329. 37Ab al-Sud. IrshAd al-Aql al-Salm, vol. 8, (Beirut: DAr al-Kutub al-Ilmiyyah, 2. 48Ae49. 38Ibn Adil al-Hanbal, al-LubAb f Ulm al-KitAb, vol. 18 (Beirut: DAr al-Kutub al-Ilmiyyah, 2. , 216. 39IbrAhm al-BiqA. Nadzm al-Durar vol. 19, 130. 40 Muhammad Rashd RidhA. Tafsr al-ManAr, vol. 9 (Kairo: al-Hayah al-Miriyyah li al-KitAb, 2. 41 Muhammad ibn Jarr al-Thabar. JAmi al-BayAn f Tawl Ay al-QurAn, vol. 26, (Kairo: DAr al-MaArif, 2. , 84. Formulasi Etika Sosial Terhadap Sesama Manusia Dalam Surah Al- ujurAt (Hayyin M. N, et al. bukan hanya aspek sosial, melainkan bagian dari penyucian jiwa dan penguatan iman. Dengan demikian, verifikasi informasi bukan semata-mata tindakan administratif, tetapi sebuah etika iman yang mencegah terjadinya kerusakan sosial akibat informasi yang Surah al-HujurAt ayat 6 memerintahkan umat beriman untuk mewaspadai informasi yang datang, khususnya dari pihak yang dikenal fasik. Kata fatabayyan . menjadi inti dari ayat ini. Ibn Ashr menekankan bahwa bentuk perintah tersebut menunjukkan kehati-hatian sebagai bagian dari kode etik dalam menerima 43 Al-Als menyatakan bahwa ayat ini adalah seruan untuk bersikap objektif dalam menilai kebenaran berita sebelum mengambil keputusan. 44 Al-Qurtub mengutip qirAAoah alternatif fatathabbat . , yang memperkuat makna perlunya konfirmasi informasi. Pasca-turunnya ayat ini, para sahabat pun menjadi lebih selektif terhadap berita, bahkan jika datang dari orang saleh, menandakan bahwa kejujuran informasi lebih penting daripada reputasi pengirimnya. Ayat ini menanamkan prinsip bahwa dugaan tidak cukup sebagai dasar bertindak, melainkan harus dilakukan verifikasi yang Al-RAz menjelaskan bahwa ayat ini mengandung peringatan tegas, tindakan terburu-buru karena berita palsu dapat membawa kerugian sosial dan penyesalan 46 Muhammad Izzat Darwazah menyebut ayat ini sebagai pondasi dasar Islam dalam membangun budaya anti-hoaks dan tanggung jawab etis terhadap informasi. Secara sosiologis, ayat ini membentuk fondasi etika komunikasi sosial. Dalam perspektif sosiologi informasi, verifikasi merupakan instrumen vital dalam menjaga harmoni masyarakat dan mencegah disintegrasi yang diakibatkan oleh informasi palsu. Surah al-HujurAt ayat 9 Surah al-HujurAt ayat 9 memberi pedoman bagi umat Islam dalam menyikapi konflik internal, dengan menekankan pentingnya rekonsiliasi dan keadilan. a An a e a aa aUa ea e OA a a AcA AIA a AeA a AA a AA a AA a AcA a AeA a AoA a AoA a AA AiA AIA AiA a ai aO eI EA e a a a a ea e a e e a a a e e a a 42 Muhammad ThAhir ibn Ashr, al-Tahrr wa al-Tanwr, vol. 26, 208 43 Al-TAhir ibn Ashr, al-Tahrr wa al-Tanwr vol. 26, 193. 44 Al-Als. Rh al-MaAn f Tafsr al-QurAn al-Adzm wa al-Sab al-MathAn , vol. 26, (Beirut: DAr IhyA al-TurAth al-Arab, 2. , 142. 45 Al-Qurthub, al-JAmili AhkAm al-QurAn vol. 16, 311. 46 Fakhr al-Dn al-RAz, al-Tafsr al-Kabr, vol. (Beirut: DAr IhyA al-TurAth al-Arab, 2. , 155. 47 Muhammad Izzat Darwazah. Tafsr al-Hadth, vol. 9, (Beirut: DAr al-Ilm li al-MalAyn, 2. , 218. At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Interpretation. Volume 2. Number 1. June 2025 a a a e a a Aa a e cAaea a aa aace aU e aEA a AeA a e e a aA neaa eI eA c AeaA aoaa a eA aA eea e a c ai ea E aeA a a aa AiA Aa aau A a e Aa e a eoEA c AaOaeEae IA Kata ThAifatAn menunjuk pada dua kelompok dalam masyarakat yang berselisih. Dalam Wehr Dictionary, istilah ini merujuk pada kelompok yang terlibat dalam sebuah peristiwa sosial tertentu, termasuk konflik. 48 Al-muminn menunjukkan bahwa pertikaian bisa terjadi di antara orang-orang beriman tanpa membatalkan status keimanan 49 Kata iqtatal . berasal dari akar qatala, yang menandakan bentrokan serius antar pihak, istilah ini digunakan untuk menggambarkan konflik fisik. 50 Perintah fa-ashlih berarti AudamaikanlahAy, bermakna memperbaiki atau mendamaikan hubungan yang rusak. 51 Makna bi al-adl . engan adi. menekankan penyelesaian konflik secara netral dan proporsional, dan menjadikanadl sebagai prinsip utama dalam interaksi sosial yang adil dan setara. AsbAb al-nuzl ayat ini, menurut riwayat dari MujAhid ibn Jabr, berkaitan dengan konflik antara dua kelompok AnshAr: Bani al-HArithah dan Bani Abs, yang sempat bersitegang dan mengangkat senjata. Nabi lalu turun tangan untuk mendamaikan 53 Ayat ini juga berkaitan erat dengan ayat sebelumnya tentang verifikasi informasi, yang jika diabaikan bisa menyebabkan konflik sosial. Menurut al-MarAgh, perintah fa-ashlih baynahumA menekankan pentingnya inisiatif sosial dalam mendamaikan, bukan menunggu pihak yang berselisih. 54 Quraish Shihab mencatat bahwa kata muminn tetap digunakan meskipun mereka bertikai, sebagai isyarat bahwa rekonsiliasi masih mungkin dilakukan. 55 Jika salah satu pihak baghat . elampaui bata. , maka diperintahkan untuk diperangi hingga kembali kepada hukum Allah. Buya Hamka menilai ini sebagai bentuk keadilan korektif, bukan 56 Al-RAz menyebut al-bughAt sebagai pihak yang menolak keputusan damai yang sah menurut hukum syari. A 57 Setelah itu, perintah kembali pada al-adl wa al-qisth berarti menyelesaikan konflik secara adil. Al-Baghaw menegaskan bahwa 48 Hans Wehr. A Dictionary of Modern Written Arabic, 562. 49 Hans Wehr. A Dictionary of Modern Written Arabic, 38. 50 Hans Wehr. A Dictionary of Modern Written Arabic, 592. 51 Hans Wehr. A Dictionary of Modern Written Arabic, 524. 52 John L. Esposito. The Oxford Dictionary of Islam, 6. 53 Al-Suyth. LubAb al-Nuql f AsbAb al-Nuzl, 212. 54 Ahmad MusthafA al-MarAgh. Tafsr al-MarAgh, 26, (Kairo: Mabaat al-BAb al-alab, 2. , 143. 55 M. Quraish Shihab. Tafsir al-Mishbah, vol. 12, 527. 56 Hamka. Tafsir al-Azhar, vol. 9, 188. 57 Fakhr al-Dn al-RAz, al-Tafsr al-Kabr, 30, 156 Formulasi Etika Sosial Terhadap Sesama Manusia Dalam Surah Al- ujurAt (Hayyin M. N, et al. keadilan ini mencakup aspek emosional dan sosial. 58 Al-Shanqth menyatakan bahwa perintah wa aqsit bersifat universal dalam penyelesaian konflik dan menjadi prinsip moralitas publik Islam. Dari sudut pandang sosiologis, ayat ini mengakui potensi konflik dalam komunitas beriman, namun menekankan pentingnya penyelesaian damai untuk menjaga stabilitas sosial. Teori konflik dalam sosiologi menekankan bahwa tanpa rekonsiliasi, konflik bisa merusak ikatan sosial dan memperlemah persatuan umat. Surah al-HujurAt ayat 11. Surah al-HujurAt ayat 11 mengandung larangan keras terhadap sikap merendahkan sesama, baik antar kelompok laki-laki maupun perempuan. AeaA aa ae a a e a a e a e aA eUI ac e aA esI aU e a eI au eAa e a e Uc aceA a e aOa a aaU ac e ca aa sA aeAa cA a AaU e a eI au a ec aceA a o Oa aAe a aeeO aeA ai au Oa acA aO aac eae aoA A a e a e ai a e aCA AUA ea a e a a o a AA Ao a a Oca a e aIA AOA a AeA a AoA a AA ACA AOA AaIA ai e aa e e a a aAcAa eU a e eyA Kata yaskhar berarti Aumengolok-olokAy, yang dalam konteks ini menunjukkan bentuk penghinaan yang mencederai nilai kesetaraan dalam Islam. 60 Istilah qawm . dalam LisAn al-Arab merujuk pada kelompok dengan identitas kolektif, yang dalam ayat ini menunjukkan bahwa pelecehan lintas kelompok, baik karena status sosial maupun etnis, harus dihindari. 61 Kata asA . oleh jad. mengandung kemungkinan bahwa orang yang diolok bisa lebih baik di sisi Allah. 62 Kata talmiz berarti mencela, berasal dari akar lamaza yang menunjukkan tindakan verbal yang merendahkan. 63 Demikian pula tanAbaz bi al-alqAb adalah larangan memanggil dengan julukan buruk. Dalam Mujam al-Lughah al-Arabiyyah al-MuAthirah, istilah ini berkaitan dengan pemberian label yang merusak 64 Kata al-fusq . menandai kondisi moral seseorang yang keluar dari batas etika agama. Yakni, sebagai pelanggaran terhadap norma-norma keimanan. Dalam konteks kandungan ayat 11 menurut Ikrimah, ayat ini turun karena TsAbit 58 Al-Baghaw. MaAlim al-Tanzl, vol. (Beirut: DAr IuyA al-TurAth al-Arab, 2. , 125. al-BayAn vol. 8, 257. 60 Hans Wehr. A Dictionary of Modern Written Arabic, 447. 61 Ibn Mandzr. LisAn al-Arab, vol. 12 (Beirut: DAr HAdir, 2. , 451. 62 Ibn Mandzr. LisAn al-Arab, vol. 14, 36. 63 Ibn Mandzr. LisAn al-Arab, vol. 14, 538. 64 Ahmad MukhtAr Umar. Mujam al-Lughah al-Arabiyyah al-MuAirah, vol. 2, (Kairo: Alam al-Kutub, 2. , 912. 65 Ibn Mandzr. LisAn al-Arab, vol. 10, 302. 59 Al-Shanqth. AdhwA At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Interpretation. Volume 2. Number 1. June 2025 ibn Qays mengolok seseorang dengan menyebut ibunya secara merendahkan. Ada juga riwayat mengenai Umm Salamah dan kelompok perempuan yang mencela Shafiyyah binti Huyayy dan Zaynab. Hubungan ayat ini dengan ayat 10 adalah kesinambungan etika ukhuwah, setelah diperintahkan menjaga persaudaraan, umat juga dilarang merusak kehormatan orang lain dengan celaan atau olok-olok. Al-Suyth menyebut larangan ini sebagai penegasan prinsip menjaga kesatuan umat. Secara rasionalitas Imam al-Thabar membaca ayat ini sebagai perintah ini untuk menjaga kehormatan sesama Muslim, karena hanya Allah yang tahu siapa yang lebih baik secara iman. 67 Al-Qurthub mengingatkan bahwa julukan seperti AufasikAy merusak nilai keimanan yang sudah dibangun. 68 Al-Baghaw juga menekankan dampak sosial negatif dari sikap saling merendahkan. Wahbah al-Zuhayl menyebut bahwa ejekan mencerminkan kelemahan karakter dan bertentangan dengan kasih sayang antarumat. 70 Al-GhazAl menambahkan bahwa lisan yang menyakiti adalah cermin hati yang tidak bersih. 71 Ibn al-Sad mengingatkan bahwa merendahkan orang lain dapat memicu perpecahan umat. 72Ayat ini ditutup dengan peringatan bahwa siapa yang tidak bertobat, dialah orang zalim. Sehingga secara sosiologis, ayat ini menggarisbawahi pentingnya menjaga kesetaraan dan harga diri dalam Islam mendorong interaksi yang bermartabat untuk menjaga stabilitas sosial dan solidaritas umat. Surah al-HujurAt ayat 12. Surah al-HujurAt ayat 12 melarang tiga bentuk perilaku sosial yang destruktif: prasangka buruk . uAou dzan. , tajassus . emata-mata. , dan ghibah . Ayat ini menjadi kelanjutan etis dari ayat 11, yang sebelumnya menekankan larangan mengolok-olok dan mencela sesama. an a a a Aea a aA AA au eA a Aa cA eUA a AoaeaA e auu e Uc c a O ca I cAa eUA e a ae a e aA O ca eeU Oa aa a e aOa Aa eaoA a a A AA AoA a AA AOA AoA AuA AeA a AoA a AA A e UA a AA AIA AOA AuA AIA AuA a AuA U AcAa eUA U ac ac ea e ae a e a a ae a Wahai orang-orang 66 Al-Suyth. LubAb al-Nuql f AsbAb al-Nuzl, 213. 67 Al-Thabar. JAmi al-BayAn f Tawl Ay al-QurAn, vol. 26, 105. 68 Al-Qurthub, al-JAmi li AhkAm al-QurAn, vol 16, 69 Al-Baghaw. MaAlim al-Tanzl, vol. 4, 128. 70 Wahbah al-Zuuayl. Tafsr al-Munr, 26, 141. 71 Al-GhazAl. IuyA Ulm al-Dn, vol. 3, (Kairo: DAr al-MaArif, 2. , 121. 72 Abd al-RaumAn al-Sad. Taysr al-Karm al-RaumAn (Riyadh: Maktabat al-Rushd, 2. , 727. Formulasi Etika Sosial Terhadap Sesama Manusia Dalam Surah Al- ujurAt (Hayyin M. N, et al. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. Al-HujurAt . :12. Kata ijtanib bermakna Aujauhilah secara sadarAy, berasal dari akar janaba yang dalam LisAn al-Arab digunakan untuk menggambarkan tindakan aktif dalam menghindari bahaya. 73 Larangan ini ditujukan khusus terhadap katsr min al-dzann, prasangka yang umumnya tidak didasari bukti dan membuka jalan bagi kerusakan 74 Kata tajassas berarti Aumencari-cari kesalahan orang lain,Ay berasal dari akar jassa, bermakna menggali rahasia atau aib tersembunyi. 75 Tindakan ini dipandang sebagai pelanggaran terhadap ruang privat dan kepercayaan sosial. Adapun yaghtab, yakni AughibahAy, adalah menyebut keburukan orang lain di belakangnya, meskipun benar. Dalam etika Islam, ghibah dianggap sebagai dosa sosial yang merusak harmoni Seecara rasional, ayat ini diarahkan kepada makna yang memberkan perumpamaan menyentuh hati, memakan daging saudara sendiri yang telah mati, yang menggambarkan betapa menjijikkannya tindakan ghibah. Buya Hamka menyebut bahwa ini adalah bentuk sentuhan emosional dalam Al-QurAoan yang mengajak manusia merenung dengan hati nurani. 77 Wahbah al-Zuhayl menegaskan bahwa ayat ini bertujuan menjaga keutuhan masyarakat Islam dari perpecahan yang kerap diawali dari Dalam konteksnya, menurut al-Zamakhshar, ayat ini berhubungan dengan kebiasaan sebagian sahabat yang mencari-cari aib saudaranya lalu membicarakannya. Relasi ayat ini dengan ayat 11 membentuk kesinambungan logis dan moral, prasangka mendorong tajassus, dan tajassus mengarah pada ghibah. Korelasinya dengan ayat 13 juga sangat kuat, karena setelah peringatan menjaga lisan dan hati. Allah menegaskan bahwa 73 Ibn Mandzr. LisAn al-Arab, vol. 1, 298. 74 Ibn Mandzr. LisAn al-Arab, vol. 13, 522. 75 Hans Wehr. A Dictionary of Modern Written Arabic, 134. 76 Hans Wehr. A Dictionary of Modern Written Arabic, 859. 77 Hamka. Tafsr al-Azhar, vol. 8, 199. 78 Wahbah al-Zuhayl. Tafsr al-Munr, 79 Al-Zamakhshar, al-KashshAf , vol. 4 (Beirut: DAr al-KitAb al-Arab, 2. , 450. At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Interpretation. Volume 2. Number 1. June 2025 kemuliaan seseorang tidak terletak pada status sosial, tetapi pada ketakwaan. Dengan demikian, fondasi ukhuwah dibangun atas penghargaan terhadap martabat, bukan saling Lebih jauh, dalam perspektif sosiologi, ayat ini menyentuh inti komunikasi sosial dan etika kolektif. Ketika prasangka dan ghibah merajalela, kepercayaan dan stabilitas masyarakat terancam. Islam menawarkan sistem etika yang menekankan perlunya menjaga lisan dan batin demi keberlangsungan hubungan sosial yang sehat dan Surah al-HujurAt ayat 13. Surah al-HujurAt ayat 13 merupakan puncak dari rangkaian ajaran etika sosial dalam Islam. Berbeda dari ayat sebelumnya yang menyapa orang beriman, ayat ini dibuka dengan seruan universal yA ayyuhA al-nAs, yang menunjukkan bahwa pesan tentang kesetaraan dan kemuliaan berlaku untuk seluruh umat manusia. Aa a aa eo au e ac e a au s OaeAu aO a aUe au e aUa eUac OaAeaa ia a aoaA aU aaeaA e o a I a euaa au e Uae aA a AeaA aa A a Aa aeA o au a IA c e UAa aUe U aea ecA Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian. Kami menjadikan kamu berbangsa- bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti. :13 Al-HujurAt Lafal khalaqnAkum menunjukkan bahwa penciptaan manusia bersifat satu sumber, yaitu dari laki-laki dan perempuan, yang kemudian berkembang menjadi bangsa . dan suku . abAi. agar saling mengenal, bukan saling membanggakan atau 80 Kata li taAraf menyiratkan relasi timbal balik, mengenal dan dikenal, yang menekankan pentingnya dialog, toleransi, dan keterbukaan sosial. 81 Tolok ukur kemuliaan bukan pada identitas sosial, tetapi pada taqwA, yaitu kualitas moral dan spiritual yang tersembunyi di balik penampilan luar. 82 Ayat ini menjadi koreksi terhadap praktik jahiliyah yang mengukur kemuliaan lewat garis keturunan. Al-Suyth mencatat bahwa ayat ini turun menanggapi penghinaan terhadap BilAl ibn RabAh oleh kaum 80 Ibn Mandzr. LisAn al-Arab, vol. 2, 148. 81 Ibn Mandzr. LisAn al-Arab, vol. 9, 313. 82 Fakhr al-Dn al-RAz. Tafsr al-Kabr , vol. 28, 109. Formulasi Etika Sosial Terhadap Sesama Manusia Dalam Surah Al- ujurAt (Hayyin M. N, et al. Quraisy karena status sosialnya. Keterkaitan ayat ini sangat erat dengan ayat 12 dan ayat 14. Ayat 12 tentang bahaya prasangka dan ghibah, sedangkan ayat 13 melandaskan norma etika sosial pada kesetaraan dan penghormatan universal, lalu ayat 14 menekankan pentingnya keimanan sejati di balik klaim lisan. Al-abar menjelaskan bahwa li taAraf bermaksud memperluas ikatan sosial bukan sebagai alat pembedaan. 84 Al-Zamakhshar menyebut ayat ini sebagai deklarasi spiritual bahwa hanya Allah yang mengetahui kadar ketakwaan 85 Dalam perspektif modern. Sayyid Quthb menafsirkan ayat ini sebagai konsekuensi logis dari tauhd, bahwa semua manusia setara di hadapan Allah. 86 Quraish Shihab menyatakan bahwa ayat ini mengajarkan sikap rendah hati karena takwa tidak dapat diukur oleh manusia. 87 Buya Hamka menyebutnya sebagai Aupiagam kesetaraan umat manusiaAy yang membalikkan semangat jahiliyah atas nasab. 88 Wahbah al-Zuhayl menegaskan bahwa taqwA menjadi parameter mutlak karena ia mencerminkan keikhlasan, amal, dan integritas moral yang hanya Allah ketahui. Dalam perspektif sosiologis fungsional ayat ini menjadi prinsip kesetaraan universal manusia sebagai prasyarat bagi terciptanya masyarakat yang adil dan beradab. Berusha menghapus sekat primordial seperti ras, suku, dan status sosial, dan menjadikan takwa, sebagai kesadaran etis serta tanggung jawab moral, sebagai satu-satunya ukuran Dalam pandangan Nurcholish, pluralitas manusia adalah kehendak Ilahi yang harus difungsikan sebagai mekanisme sosial untuk saling mengenal dan membangun dialog antar komunitas. Islam, menurutnya, hadir untuk mendukung keteraturan dan integrasi sosial dengan cara mengedepankan nilai-nilai keadilan, saling menghormati, dan penghargaan terhadap martabat setiap individu, bukan untuk melanggengkan fanatisme golongan atau kebanggaan terhadap identitas kultural semata. Rekonstruksi Nilai Akhlak Sosial Melalui Formulasi QurAoani Pondasi Epistemik dan Penghormatan Hierarki Nilai Dua ayat awal Surah al-HujurAt menjadi pondasi penting bagi akhlak sosial Islam, 83 JalAl al-Dn al-Suy. AsbAb al-Nuzl, 178. 84 Al-abar. JAmi al-BayAn vol. 85 Al-Zamakhshar, al-KashshAf, vol. 4, 452. 86 Sayyid Quthb. F DzilAl al-QurAn, vol. 87 Quraish Shihab. Tafsir al-Misbah, 12, 388. 8, 204. 89 Wahbah al-Zuhayl. Tafsr al-Munr , vol. 26, 154. 88 Hamka. Tafsr al-Azhar, vol. At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Interpretation. Volume 2. Number 1. June 2025 yang menekankan etika berpikir . dan berbicara . Ayat pertama memerintahkan agar tidak mendahului Allah dan Rasul-Nya, yang berarti larangan bersikap tergesa dalam menilai sebelum menyandarkannya pada otoritas wahyu, menanamkan sikap tawAdhuAo epistemologis. Sementara ayat kedua melarang meninggikan suara di hadapan Nabi, sebagai simbol larangan bersikap kasar, sombong, dan tak menghargai kehormatan seseorang dalam dialog sosial. Keduanya membentuk formulasi nilai bahwa berpikir jernih dan berbicara santun bukan hanya soal etika sosial, tetapi juga bagian dari integritas spiritual. Jika diterapkan dalam konteks modern, terutama di era media sosial, ayat ini menuntun pada terbentuknya masyarakat yang lebih beradab dan reflektif, di mana akal dan lisan dikendalikan oleh nilai-nilai ilahi. Etika Informasi dan Akhlak Digital Ayat ini menegaskan prinsip tabayyn sebagai dasar etika informasi dalam Islam, yakni kehati-hatian dalam menerima dan menyebarkan berita, terutama dari sumber yang tidak terpercaya. Dalam konteks digital, nilai ini menjadi sangat relevan sebagai panduan akhlak digital untuk melawan hoaks, fitnah daring, dan informasi yang belum diverifikasi. Tabayyn tidak hanya berfungsi sebagai tindakan teknis memeriksa data, tetapi juga mencerminkan integritas pribadi, keadilan sosial, dan tanggung jawab kolektif dalam membangun masyarakat yang adil dan harmonis. 90 Ayat ini juga mengajarkan kecerdasan sosial: bahwa setiap keputusan berbasis informasi memiliki dampak luas terhadap individu dan komunitas. Dalam pandangan formulatif, ayat ini memperkuat sistem sosial QurAoani yang menyeimbangkan kecermatan berpikir, kesantunan berbicara, dan kehati-hatian bertindak, serta menanamkan taqwA al-Aoaql dan taqwA al-qalb, ketakwaan akal dan hati, dalam menghadapi arus informasi yang tak terkendali. Solidaritas Sosial dan Manajemen Konflik Ayat ini merumuskan prinsip rekonsiliasi sosial Islam yang berbasis keadilan dan tanggung jawab kolektif. Islam mengakui realitas konflik di antara sesama mukmin, tetapi langsung mengarahkan pada solusi aktif, yaitu fa-ashlih . , bukan saling Ayat ini menolak netralitas pasif dan menyerukan islAh serta Aoadl sebagai fondasi masyarakat yang beradab. 91 Prosesnya dimulai dari upaya damai, lalu intervensi terhadap pihak yang melampaui batas, dan diakhiri dengan perdamaian berkeadilan. Ayat 90 Jasser Auda. MaqAid al-Sharah as Philosophy of Islamic Law: A Systems Approach (London: International Institute of Islamic Thought, 2. , 93Ae96 91 Fakhr al-Dn al-RAz, al-Tafsr al-Kabr, vol. 28, 97. Formulasi Etika Sosial Terhadap Sesama Manusia Dalam Surah Al- ujurAt (Hayyin M. N, et al. ini juga menekankan bahwa tanggung jawab menyelesaikan konflik tidak hanya pada pemimpin, tetapi seluruh komunitas beriman. Dalam konteks modern yang penuh polarisasi, ayat ini menjadi sistem nilai yang relevan, karena mengajarkan bahwa solidaritas sosial harus ditopang oleh keberanian moral dan kecerdasan etis. Allah mencintai orang-orang yang adil . , menjadikan rekonsiliasi bagian dari ibadah, bukan sekadar solusi sosial. Reformulasi Etika Komunikasi dan Relasi Sosial Ayat 11 dan 12 membentuk pilar akhlak sosial QurAoani yang menekankan pentingnya penghormatan, privasi, dan kesadaran moral dalam berinteraksi. Ayat 11 melarang bentuk pelecehan verbal seperti ejekan, celaan, dan julukan buruk, dengan menegaskan bahwa merendahkan orang lain berakar dari kegagalan mengenali kemuliaan batin mereka. Sementara itu, ayat 12 memperluas larangan ke wilayah pikiran dan privasi melalui larangan suAo al-dzann . , tajassus . engintai ai. , dan ghibah . , menunjukkan bahwa kerusakan sosial bermula dari kerusakan niat dan 92 Formulasi nilai dari dua ayat ini membangun sistem etika sosial yang bukan hanya melarang perilaku destruktif, tetapi juga membentuk masyarakat yang menjunjung martabat, saling menjaga kehormatan, dan menyucikan batin sebagai fondasi relasi yang sehat dan bermakna. Nilai Anti-Rasisme. Inklusivitas, dan Takwa sebagai Asas Relasi Ayat ini merupakan puncak sistem sosial QurAoani yang menegaskan bahwa seluruh manusia berasal dari asal-usul yang sama, dan kemuliaan mereka tidak ditentukan oleh identitas sosial, seperti ras, etnis, atau status, tetapi oleh takwa, yaitu integritas moral dan kesadaran spiritual. Seruan AuyA ayyuhA al-nAsuAy menunjukkan bahwa nilai-nilai yang dibawanya bersifat universal, membentuk fondasi inklusivitas dan solidaritas 93 Dalam konstruksi formulatif, ayat ini merumuskan taAruf . aling mengena. sebagai prinsip relasi sosial berbasis penghormatan terhadap perbedaan, bukan Takwa menjadi simpul dari seluruh nilai etis yang dibangun dalam ayat-ayat sebelumnya, pengendalian ego, kesopanan lisan, kehati-hatian informasi, serta komitmen pada keadilan, sehingga menjadikan ayat ini sebagai deklarasi nilai anti-rasisme dan cetak biru masyarakat QurAoani yang adil dan bermartabat. 92 Ab Amid al-GhazAl. IuyA AoUlm al-Dn, vol. 3, 142Ae145 93 Buya Hamka. Tafsir al-Azhar, vol. 9, 165Ae166. At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Interpretation. Volume 2. Number 1. June 2025 KESIMPULAN Penelitian ini menegaskan bahwa Surah al-HujurAt memuat sistem nilai akhlak sosial QurAoani yang terstruktur dan relevan lintas zaman, mulai dari adab kepada otoritas, kehati-hatian dalam informasi, manajemen konflik, hingga etika komunikasi dan penghormatan terhadap kemanusiaan. Melalui pendekatan tafsir tematik dan sosiologis fungsional Nurcholis Madjid, ditemukan bahwa nilai-nilai seperti tabayyn, islAh, dan ukhuwah bukan sekadar aturan lahiriah, tetapi ekspresi dari penyucian batin yang membentuk masyarakat yang adil, santun, dan bermartabat. Dalam konteks digital dan sosial modern, ajaran-ajaran ini menjadi sangat penting untuk merespons krisis moral dan konflik sosial. Oleh karena itu, disarankan agar pendekatan integratif ini diperluas ke surah-surah lain, nilai-nilainya diadopsi dalam kurikulum pendidikan, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama oleh generasi muda di ruang publik dan digital. Formulasi Etika Sosial Terhadap Sesama Manusia Dalam Surah Al- ujurAt (Hayyin M. N, et al. DAFTAR PUSTAKA