Infotekmesin Vol. No. Juli 2025 p-ISSN: 2087-1627, e-ISSN: 2685-9858 DOI: 10. 35970/infotekmesin. 2833, pp. Pengaruh Suhu Pemanas Pada Mesin Pengering Cocopeat Tipe Rotary Dryer Unggul Satria Jati*1. Nur Akhlis Sarihidaya Laksana2. Dian Prabowo3. Nur Indah Wardani4. Prastiyo Kurniyanto5. Bryan Dwi Fauzi6 1,2,3,5,6Program Studi Teknik Mesin. Politeknik Negeri Cilacap 4Program Studi Teknik Pengendalian Pencemaran Lingkungan. Politeknik Negeri Cilacap 1,2,3,4,5,6Jl. Dr. Soetomo. No. 01 Kec. Cilacap Selatan. Kab. Cilacap. Indonesia E-mail: unggulsatriajati@pnc. id1, akhlismesin2015@gmail. com2, diansheva@yahoo. nurindahwardani@pnc. id4, prastiyokurniyanto@gmail. com5, bryandwi1006@gmail. Abstrak Info Naskah: Naskah masuk: 3 Juli 2025 Direvisi: 9 Juli 2025 Diterima: 25 Juli 2025 Mesin pengering cocopeat tipe rotary dryer merupakan mesin yang dirancang untuk mempermudah proses pengeringan cocopeat. Proses saat ini masih menggunakan sinar matahari pengeringan tersebut memiliki kekurangan waktu pengeringan lebih lama dan kadar air tidak terkontrol. Kelembaban cocopeat yang harus dicapai yaitu maksimal Metode penelitian ini berupa eksperimen dengan menggunakan beberapa parameter yaitu kecepatan drum 6 rpm, suhu pemanas 600C, 900C, 1300C dengan variasi lama pengeringan 120 dan 150 menit. Proses pengeringan menggunakan mesin pengering sangat berpengaruh pada hasil uji yaitu terdapat penurunan kadar air dan massa cocopeat. Proses pengeringan dengan suhu 600C mendapatkan penurunan efisiensi kelembaban sampai dengan 56,7% dengan nilai kadar air 23,8% waktu 150 menit dan massa 3,7 Kg. Sedangkan untuk pengeringan suhu 130 0C mendapatkan penurunan efisiensi paling baik dibandingkan suhu sebelumnya penurunan kadar air sampai dengan 84% dengan nilai kadar air sebesar 8,55 dan massa 2,7 Kg menggunakan waktu 150 menit. Abstract Keywords: rotary dryer. The rotary dryer is a machine designed to simplify the cocopeat drying process. The current process still relies on sunlight. this drying process has the drawback of longer drying times and uncontrolled moisture content. The maximum moisture content of the cocopeat must be 15%. This research method is an experiment using several parameters: a drum speed of 6 rpm, heating temperatures of 600AC, 900AC, and 1300AC, with varying drying times of 120 and 150 minutes. The drying process at a temperature of 600 AC resulted in a decrease in humidity efficiency of up to 56. 7% with a water content value 8% in 150 minutes and a mass of 3. 7 kg. Meanwhile, for drying at a temperature of 1300 AC, the best reduction in efficiency was obtained compared to the previous temperature, a decrease in water content of up to 84% with a water content value of 8. and a mass of 2. 7 kg using a time of 150 minutes. *Penulis korespondensi: Unggul Satria Jati E-mail: unggulsatriajati@pnc. p-ISSN: 2087-1627, e-ISSN: 2685-9858 Pendahuluan Indonesia terkenal dengan luas perkebunannya, salah satunya yaitu kelapa dengan luas 3. 712 juta hektar. Buah kelapa merupakan salah satu tumbuhan yang dapat hidup di iklim tropis seperti Indonesia. Tanaman kelapa merupakan tanaman yang memiiki banyak manfaat atau multi manfaat, mulai daun sebagai ketupat atau lidi, batang bisa untuk pembuatan jembatan dan sampai akarnya juga banyak dimanfaatkan sebagai obat-obatan. Pemanfaatan buah kelapa umumnya terfokus pada dagingnya atau isinya saja, namun jika dikaji lebih lebih dalam pemanfaatan buah kelapa bisa secara menyeluruh. Secara prosentase buah kelapa terdiri dari sabut kelapa . %), tempurung . %), dagingnya . %), bauh kelapa . %) dan air kelapa . %) . , . , . Secara tradisional sabut kelapa masih banyak dimanfaatkan oleh masyarakat salah satunya dalam pembuatan kerajdinan lokal. Hasil penguraian sabut kelapa terbagi menjadi dua macam yaitu cocofiber dan cocopeat . Pemanfaatan cocofiber dilingkungan dapat digunakan sebagai produk kerajinan local . sedangkan pemanfaatan cocopeat dapat digunakan sebagai perbaikan lingkungan dengan cara rehabilitasi lahan agar tidak terdapat dampak negatif secara berkelanjutan . Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa penanganan zat tanin harus dilakukan dengan hati-hati, karena zat tersebut sangat berbahaya bagi tanaman. Oleh karena itu, cocopeat harus direndam terlebih dahulu dan dikeringkan hingga kadar kelembabannya turun secara signifikan . Dalam penelitian rancang bangun mesin pengering ikan tipe rotary dryer dengan suhu 600C didapatkan hasil bahwa terjadi penurunan pada kadar air sampai dengan 0,05% hal tersebut sangat membantu para petani . Penelitian lain juga meneliti pengaruh lama pengeringan terhadap mutu Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa penggunaan mesin pengering dapat menjaga kualitas teh dengan baik menggunakan suhu yang digunakan pada penelitian tersebut yaitu 500C dengan lama pengeringan 130 menit dengan nilai kadar air 5,46-10,47% dan sudah memenuhi SNI . Penelitian mengenai pengaruh suhu pemanas untuk mengukur kadar air pada cengkeh menggunakan gas LPG 3 Kg dengan suhu 60AC, 70AC, dan 80AC selama 10-90 menit menghasilkan penurunan kadar air cengkeh hingga 12,5% pada menit ke-84 pada suhu 80AC. Hal ini memberikan gambaran pentingnya penggunaan alat bantu dalam proses pengeringan . Sebuah penelitian mengenai pengeringan dengan teknologi hybrid di daerah pesisir menunjukkan bahwa proses pengeringan dapat dilakukan lebih cepat tanpa mengorbankan kualitas ikan yang dikeringkan . Penelitian lain tentang pengeringan cocopeat menggunakan sistem hybrid berbasis panel surya bertujuan untuk membantu proses pengeringan pada malam hari atau saat kondisi hujan. Hasilnya menunjukkan bahwa alat pengering ini memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan pengeringan menggunakan sinar matahari, dengan kelembaban pada cocopeat mencapai 23,4%, yang 17,2% lebih rendah dibandingkan pengeringan di luar ruangan dengan sinar matahari . Berdasarkan permasalahan yang ada maka perlu mesin pengering cocopeat. Perbandingannya dengan pengeringana secara alami atau dijemur dibawah sinar matahari, kelemahannya proses pengeringan akan memakan waktu yang lebih lama, ketergantungan pada kondisi cuaca yang tidak menentu dan kadar air yang tidak bisa terkontrol dengan baik. Kebaruan pada penelitian cocopeat ini berbeda dengan penelitian yang sudah ada karena di penelitian ini terdapat beberapa variasi seperti pengaturan suhu, kecepatan drum dan lama waktu pengeringan sehingga nilai kelembaban atau kadar air pada cocopeat selalu terjaga. Tujuan pada penelitian ini adalah melakukan proses pengeringan cocopeat dengan ketercapaian kelembaban maksimal 15%, variasinya dengan perbedaan suhu, sehingga kelembaban atau kadar air pada cocopeat selalu terjaga. Alat tersebut diharapkan bisa mambantu masyarakat mengurangi ketergantungan proses pengeringan saat kondisi hujan atau malam hari. Metode Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode tindakan atau ekperimen yaitu dengan melakukukan pengujian secara langsung. Dimana diagram dapat terlihat pada Gambar 1. Gambar 1. Diagram Alir Mesin pengering cocopeat diperlihatkan pada gambar 2 dimana dalam melakukan pengujian cocopeat beberapa yang harus diperhatikan yaitu: Persiapan spesimen dengan cara melakukan pembersihan atau memisahkan antara cocopeat dengan cocofiber. Setelah cocopeat terkumpul selanjutnya melakukan persiapan alat yaitu setting suhu yang akan digunakan . 0C, 90 0C dan 130 0C). Cocopeat dimasukan dengan kedalam drum pemutar dengan kecepatan drum 6 rpm dengan lama waktu pemutaran 120 dan 150 Setelah waktu pemanasan selesai dilakukan analisis hasil dengan target kelembaban cocopeat yang harus dicapai maksimal 15%. Seperti yang tertera pada Tabel 1. p-ISSN: 2087-1627, e-ISSN: 2685-9858 Tabel 1. Parameter Pengujian Cocopeat Suhu Berat 60 0C 5 Kg 90 0C 5 Kg 130 0C 5 Kg Waktu 120 dan 120 dan 120 dan Kecepatan Kadar Air . 6 rpm 6 rpm 6 rpm 2 Pengeringan Pengeringan adalah suatu proses pemisahan zat-zat yang terdapat pada cocopeat . at padat dan cai. menggunakan sumber panas baik secara alami maupun secara bantuan. Proses pengeringan digunakan untuk menurunkan kadar air pada bahan tersebut. Pada gambar 4 pengeringan terjadi pada saat terlepasanya uap air dan udara pada bahan . Proses pengeringan sederhana yang masih digunakan sampai sekarang adalah proses pengeringan dengan pemanfaatan sinar matahari kondisi tersebut memilihi banyak kekurangan salah satunya adalah harus menunggu waktu yang tepat sesuai yaitu cuaca sedang kondisi panas dan tidak hujan atau hanya waktu siang. Gambar 4. Laju pengeringan bahan . Gambar 2. Mesin Pengering Cocopeat 1 Cocopeat Cocopeat seperti terlihat pada gambar 3 berasal dari kata coconut and peat jika digunakan sebagai media tanam memiki banyak sekali kelebihan, dilihat dari kandungannya terdapat unsur natriun, kalsium, kalium, magnesium dan fosfor . namun kekurangan dari cocopeat adalah terdapatnya zat tanin, zat tersebut berbahaya bagi tanaman karena dapat menghambat dalam proses perkembangan tanaman . 3 Rotary dryer Rotary dryer merupakan alat yang berbentuk tabung yang berputar secara terus menerus dan dipanaskan dengan elemen pemanas, tungku atau jenis lainnya dengan tujuan proses pemanasannya dilakukan secara merata. Pemanas rotary dryer ini digunakan untuk mengeringkan bahanbahan seperti serbuk, granular atau masih dalam bentuk bentuk padat. Pada saat proses pemanasan maka terjadilah penguapan kandungan air yang terdapat pada bahan. Alat pengering type rotary dryer ini terdapat beberapa elemen seperti pemanas, blower, panel control, conveyor dan . Gambar 5. Rotary dryer Gambar 3. Cocopeat p-ISSN: 2087-1627, e-ISSN: 2685-9858 Hasil dan Pembahasan Berdasarkan hasil uji hasil pada mesin pengering cocopeat type rotary dryer. Cocopeat sebelum dimasukan ke mesin pengering memiliki kadar air sebesar 55% dengan berat bahan 5 kg. seperti yang ditunjukan pada gambar 5. Uji hasil Cocopeat. Nilai Kelembaban Uji Hasil Uji Hasil Uji Hasil Uji Hasil t: 120 menit t : 150 menit Gambar 7. Grafik hasil Uji Suhu 600C Pengujian hasil dengan suhu 600C dengan lama waktu pengeringan cocopeat berbeda yaitu 120 dan 150 menit, terjadi penurunan kelembaban yang cukup signifikan, hasil terbaik pada waktu 1500C sebesar 23% sedangkan nilai terburuk pada menit 120 menit yaitu 31%. Pengujian dengan suhu pengeringan cocopeat 900C, waktu pengujian 120 dan 150 menit, keceapatan drum 6 rpm dan mendapatkan data seperti Tabel 3 dan Gambar 8. dibawah ini: Tabel 3. Pengujian Suhu 900C Uji Hasil . Time . Rata-rata Rata-rata Moistrure (%) Out Massa (K. 3,56 3,51 3,15 3,25 3,12 3,18 . Gambar 6. Uji Hasil Cocopeat Nilai Kelembaban Setelah dilakukan pengujian dengan suhu pengeringan cocopeat 600C pada gambar 6, waktu pengujian 150 menit, dengan kecepatan drum 6 rpm mendapatkan data seperti Tabel 2 dan Gambar 7. dibawah ini: Tabel 2. Pengujian Suhu 600C Uji Hasil Time . Rata-rata Rata-rata Moistrure (%) Out Massa (K. Uji Hasil Uji Hasil Uji Hasil Uji Hasil t: 120 menit t : 150 menit Gambar 8. Grafik hasil Uji Suhu 900C Pengujian dengan suhu 900C mendapatkan hasil yang siginifikan dan nilai kelembaban yang didapat lebih baik dari suhu sebelumnya, dengan perbedaan lama waktu pengeringan mendapatkan hasil 15% pada menit 150 sedangkan untuk suhu 120 mendapatkan nilai kelembaban Berat cocopeat berubah seiring dengan penurunan kadar air atau kelembaban berat paling baik cocopeat pada pengeringan suhu 900C dengan massa 3,12 Kg. Pengujian selanjutnya menggunakan suhu 130 0C dengan vasiasi waktu 120 dan 150 menit seperti yang terdapat pada Tabel 4 dan Gambar 9 dibawah ini: p-ISSN: 2087-1627, e-ISSN: 2685-9858 Tabel 4. Uji hasil suhu 1300C Uji Hasil Time . Rata-rata Rata-rata Moistrure (%) Out 8,55 Massa (K. 2,85 2,67 2,56 Ucapan Terimakasih Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih banyak kepada para anggota yang telah membantu dalam penelitian ini. Daftar Pustaka