Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 2 Desember 2025 Hal 88 - 107 JURNAL PSIKOHUMANIKA http://ejurnal. id/ojs/index. php/psikohumanika KONFLIK KERJA-KELUARGA DAN STRATEGI KOPING PADA IBU GURU SEKOLAH MENENGAH PERTAMA LINTAS GENERASI Gayuk Zulaika1*. Yusti Probowati2. Artiawati3 1,2,3 Program Studi Doktor Psikologi. Universitas Surabaya ARTICLE INFO Article History Be accepted: Jan 2025 Approved: Feb 2025 Published: Dec 2025 Keywords: thematic middle school work-family ABSTRACT Female middle school teachers across generations exhibit unique characteristics in managing their work and family lives. This research aims to uncover the dynamics and differences in work-family conflict (WFC) experienced by these female middle school teachers across generations. A case study was utilized in this research. The participant criteria included married female middle school teachers from both public and private schools, who have co-residing children and a minimum of one year of teaching The participants consisted of nine female middle school teachers categorized as Generation X and Generation Y. The research method utilized a list of semi-structured interview questions developed by the researcher to collect data, and the data were analyzed thematically. The following themes were found: sources of conflict, consequences of conflict, coping strategies, and social support from both the work and family domains. The research findings indicate that most participants reported a relatively high workload . dministrative duties, technology adaptation, and multiple role. without neglecting domestic responsibilities. This finding expands the understanding of work-family role balance within the context of Indonesian culture Alamat Korespondensi: Jl. Raya Kali Rungkut. Surabaya 60293 E-mail: gayukzulaika@gmail. yprobowati@staff. artiawati@staff. Gayuk Zulaika1*. Yusti Probowati2. Artiawati3 p-ISSN: 1979-0341 e-ISSN : 2302-0660 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 2 Desember 2025 Hal 88 - 107 INFO ARTIKEL ABSTRAK Sejarah Artikel Diterima: Januari 2025 Disetujui: Februari 2025 Dipublikasikan: Desember 2025 Ibu guru sekolah menengah pertama (SMP) lintas generasi memiliki kekhasan dalam menjalani kehidupan kerja dan keluarganya. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dinamika dan perbedaan konflik kerja-keluarga (WFC) yang dialami oleh ibu guru SMP lintas generasi. Studi kasus digunakan dalam penelitian ini. Kriteria partisipan yaitu ibu guru yang sudah menikah baik dari SMP negeri maupun swasta, memiliki anak yang tinggal bersama dengan pengalaman mengajar minimal satu tahun. Partisipan terdiri dari sembilan ibu guru SMP yang dikategorikan sebagai Generasi X dan Generasi Y. Metode penelitian ini menggunakan daftar pertanyaan wawancara semi terstruktur yang disusun oleh peneliti dalam mengumpulkan data dan dianalisis secara tematik. Ditemukan tema sumber konflik, konsekuensi konflik, strategi koping dan dukungan sosial dari domain pekerjaan dan keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar partisipan menyatakan memiliki beban kerja yang cukup tinggi . dministratif, adaptasi teknologi dan multi pera. dengan tidak meninggalkan tanggungjawab domestik. Temuan ini memperluas pemahaman tentang kehidupan konflik kerjaAekeluarga dalam konteks budaya Indonesia. Kata Kunci: analisis tematik, strategis koping. guru SMP. konflik kerjakeluarga. lintas generasi PENDAHULUAN Guru adalah pendidik profesional dengan tanggung jawab komprehensif dalam mendidik, membimbing, dan mengevaluasi peserta didik (UU No. 14 Tahun 2. Profesionalisme guru ditunjukkan melalui penguasaan kompetensi kepribadian, pedagogik, sosial, dan profesional (Mulyasa, 2. Sesuai Permendikbud No. 15 Tahun 2018, beban kerja guru sebesar 40 jam per minggu mencerminkan tuntutan cukup tinggi terhadap dedikasi dan performa guru dalam menjalankan perannya di lingkungan sekolah. Guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) memiliki tantangan unik karena mendampingi siswa yang berada dalam masa transisi menuju remaja, dengan kompleksitas perkembangan sosial, psikologis, dan akademik (Eccles & Roeser, 2011. Steinberg, 2. Namun dalam praktiknya, guru SMP cenderung difokuskan pada capaian akademik, sehingga beban kerja mereka menjadi semakin berat (Cinamon, 2. Kemajuan teknologi digital menambah tuntutan baru terhadap guru dalam menyesuaikan metode pengajaran dengan kebutuhan generasi digital natives (Prensky, 2001. Palfrey & Gasser. Pandemi COVID-19 telah secara signifikan mengintensifkan tuntutan kerja guru melalui pergeseran mendadak ke pembelajaran daring dan tekanan untuk meningkatkan keterampilan teknologi (Eileen et al. , 2. Guru lintas generasi, khususnya di tingkat SMP, harus menguasai perangkat digital serta mengintegrasikannya dalam pembelajaran, yang tidak jarang menimbulkan tekanan kerja dan stres (Garcia-Carmona et al. , 2019. Kotowski et al. , 2. Perbedaan generasi memengaruhi cara guru menghadapi tekanan kerja dan kehidupan Konsep generasi menurut Mannheim . menyoroti pentingnya pengalaman historis bersama dalam membentuk respon individu terhadap tuntutan hidup. Perbedaan ini penting dalam memahami variasi konflik kerja-keluarga . ork-family conflic. antar guru lintas generasi di sekolah. Jumlah guru perempuan jenjang SMP yang tinggi di wilayah seperti Surabaya dan Sidoarjo (BPS, 2023/2. menunjukkan partisipasi besar perempuan dalam dunia pendidikan. Meskipun demikian, nilai-nilai tradisional tentang peran gender di Indonesia yang menempatkan Gayuk Zulaika1*. Yusti Probowati2. Artiawati3 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 2 Desember 2025 Hal 88 - 107 perempuan sebagai penanggung jawab utama dalam urusan domestik, membuat guru perempuan menghadapi tekanan multi peran dalam kehidupan profesional dan rumah tangga (Korabik et al. Konflik kerja-keluarga menjadi isu penting dalam dinamika kehidupan guru perempuan. Konflik ini timbul ketika tuntutan pekerjaan dan keluarga saling bertentangan, baik dari segi waktu maupun tekanan emosional (Greenhaus & Beutell, 1985. Carlson & Kacmar, 2. dan terus diteliti dalam dimensi berbasis waktu . ime-base. , ketegangan . train-base. , dan perilaku . ehavior-base. (Anglin et al. , 2022. Wang et al. , 2. Konflik ini berdampak negatif terhadap kesehatan fisik dan psikologis, kualitas pengasuhan, serta produktivitas kerja (Anggarwati & Thamrin, 2019. Rajendran et al. , 2020. Demir-ynztyrk et al. , 2. Penelitian telah menunjukkan bahwa faktor penyebab konflik kerja-keluarga meliputi beban kerja, stres, kurangnya dukungan organisasi dan keluarga, serta faktor demografis seperti status pernikahan dan jumlah anak (Artiawati, 2012. Ford et al. , 2. Michel et al. melalui meta-analisis komprehensif telah menyusun kerangka teoritis atas ribuan korelasi empiris, memperkuat bukti tentang kompleksitas anteseden konflik ini. Meskipun dominan berdampak negatif, beberapa studi menunjukkan bahwa konflik kerjakeluarga juga dapat mendorong individu untuk lebih resilien, mengembangkan strategi koping, termasuk dukungan sosial dan koping religius (Brouwers, 2012. Kuswardani & Nurtjahjanti. Dalam konteks budaya Indonesia yang religius, strategi penanggulangan spiritual ini sangat menonjol dan termanifestasi dalam konsep lokal 'ikhlas' . enerimaan tulu. atau 'syukur' . asa terima kasi. , yang berfungsi sebagai mekanisme kognitif untuk mengelola tuntutan multi peran (Yyksel & Akkaya, 2. Literatur mengenai WFC di Indonesia cukup banyak, terdapat kesenjangan signifikan yang perlu diisi. Sebagian besar studi yang ada bersifat kuantitatif atau bersifat umum, sehingga kurang cukup menangkap kedalaman pengalaman subjektif ibu guru. Lebih lanjut, penelitian yang berfokus pada pendekatan kualitatif dan komparatif antar generasi di kalangan guru perempuan Indonesia masih sangat terbatas. Padahal, membandingkan pengalaman Gen X . ang berada di tahap maintenance karie. dengan Gen Y . ahap establishment karie. adalah krusial. Perbedaan tahapan hidup, nilai-nilai, dan cara mengelola tuntutan digital menciptakan dinamika konflik dan adaptasi peran yang berbeda. Penelitian ini hadir untuk memperkaya khazanah literatur dengan menawarkan eksplorasi kualitatif komparatif yang mendalam dan kontekstual mengenai bagaimana konflik kerja-keluarga ibu guru lintas generasi di jenjang SMP, sekaligus memberikan kontribusi orisinal dengan memetakan secara jelas perbedaan pengalaman konflik dan strategi koping yang dipengaruhi oleh tahapan hidup, nilai-nilai generasi, dan kerangka Gayuk Zulaika1*. Yusti Probowati2. Artiawati3 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 2 Desember 2025 Hal 88 - 107 METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang memberikan kedalaman informasi yang lebih komprehensif dalam memahami fenomena yang diteliti (Matveev, 2002. Creswell & Poth, 2. Penelitian ini berfokus pada eksplorasi pengalaman partisipan mengenai konflik kerja-keluarga yang mereka alami dalam kehidupan sehari-hari. Data penelitian diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur yang dilakukan oleh peneliti terhadap guru perempuan SMP di wilayah Surabaya dan Sidoarjo. Wawancara semi-terstruktur dipilih karena memberikan fleksibilitas bagi peneliti untuk menggali informasi mendalam sambil tetap mempertahankan fokus penelitian (Brinkmann & Kvale, 2. Partisipan dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria khusus sebagai berikut: . guru SMP perempuan yang telah menikah, baik dari sekolah negeri maupun swasta. memiliki anak yang tinggal bersama dalam satu rumah. memiliki pengalaman mengajar minimal satu tahun. Total partisipan berjumlah 9 orang guru perempuan SMP yang dibagi ke dalam dua kategori generasi, yaitu Generasi X . ahir 1965-1. dan Generasi Y atau Milenial . ahir 1981-1. berdasarkan klasifikasi Oblinger dan Oblinger . Seluruh sesi wawancara dilakukan dan direkam atas izin partisipan lalu ditranskripkan secara verbatim . ata demi kat. untuk memastikan akurasi data lisan sebagai dasar proses coding dan analisis tematik. Untuk menjamin kredibilitas dan keabsahan temuan dalam penelitian kualitatif ini, peneliti menerapkan kriteria trustworthiness dengan member checking yaitu partisipan diminta untuk memverifikasi apakah ringkasan atau interpretasi temuan tersebut sudah sesuai dengan maksud dan pengalaman yang mereka sampaikan. Peneliti melakukan analisis data menggunakan pendekatan analisis tematik dengan tahapan open coding melalui aplikasi ATLAS. ti versi 9. 1 untuk mengklasifikasikan kategori-kategori kode yang muncul dari pengalaman partisipan tentang konflik kerja-keluarga. Selanjutnya, dilakukan axial coding untuk mengidentifikasi hubungan antar kategori yang terbentuk dari jaringan kode-kode tersebut, sehingga dapat dianalisis lebih mendalam untuk mengembangkan pemahaman teoritis (Strauss & Corbin, 1998. Charmaz, 2. Gambar 1. Alur Data Analisis ATLAS. ttps://doc. Gayuk Zulaika1*. Yusti Probowati2. Artiawati3 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 2 Desember 2025 Hal 88 - 107 Berdasarkan kode dan kategori yang dihasilkan dari analisis kualitatif dengan ATLAS. peneliti melanjutkan proses analisis dengan menafsirkan pola-pola konflik kerja-keluarga yang dialami partisipan melalui integrasi dengan kerangka teoritis yang relevan. Tahapan ini melibatkan selective coding di mana temuan-temuan empiris dikaitkan dengan teori-teori yang telah ada, seperti teori konflik kerja-keluarga (Greenhaus & Beutell, 1. , teori perkembangan karier Super . , dan literatur terkait perbedaan generasi dalam konteks pekerjaan dan keluarga (Twenge et al. , 2. Proses interpretasi ini bertujuan untuk menghasilkan pemahaman yang mendalam mengenai dinamika konflik kerja-keluarga pada guru perempuan SMP lintas generasi, serta mengidentifikasi pola-pola unik yang muncul dari konteks sosial dan budaya Indonesia. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil temuan kualitatif dari wawancara diorganisasi untuk menyediakan informasi terkait komparasi dari partisipan lintas generasi (Gen X vs. Gen Y) sebagai berikut ini. Tabel 1. Profil Komparatif Partisipan Lintas Generasi Kriteria Generasi X Generasi Y . Pemeliharaan Pemantapan (Establishmen. Tahap (Maintenanc. Karier (Super, 1. 43 Ae 58 tahun 37 Ae 42 tahun Rentang Usia Memiliki anak Memiliki anak usia sekolah Kondisi Khas dewasa/kuliah dasar/balita . sia <12 tahu. Pengasuhan . sia >18 tahu. atau telah memiliki cucu. Beban waktu Beban waktu intensif pada Fokus pada pengasuhan anak usia Waktu tanggung jawab dini/sekolah . eliputi kebutuhan fisik, emosional dan anggota keluarga pendampingan belaja. uami sakit, orang tua, atau Gayuk Zulaika1*. Yusti Probowati2. Artiawati3 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 2 Desember 2025 Karakteristik Khas Karier Menunjukkan kepastian karier tinggi dan penasehat/senior di sekolah. Hal 88 - 107 Berfokus pada upaya mencapai stabilitas dan kemajuan posisi karier melalui peningkatan kompetensi dan Tabel 1 diatas menjelaskan bahwa penelitian ini melibatkan sembilan (N=. Ibu Guru SMP yang diklasifikasikan menjadi dua kelompok berdasarkan rentang tahun lahir, mengacu pada kerangka Teori Generasi (Mannheim, 1. dan Teori Perkembangan Karier (Super, 1. Partisipan Gen X . lahir antara tahun 1965-1980, menempatkan mereka pada tahap pemeliharaan . Sementara itu, partisipan Gen Y . lahir antara 19811995, mencerminkan tahap pemantapan . Tabel 2. Tanggung jawab Ibu Guru SMP di Keluarga Tema Kode Frekuensi Bersih-bersih Memasak Tugas terkait Mencuci pakaian dan Kebersihan Rumah Belanja Menyediakan sarapan Tugas Istri Menemani suami Bersama dan menemani Tugas Kepengasuhan Menitipkan anak Membantu anak Pada tabel 2 diatas, partisipan ibu guru SMP, baik dari Generasi X maupun Generasi Y, menghadapi tuntutan peran tradisional yang membebankan tanggung jawab rumah pada Tugas-tugas ini dikategorikan dalam tiga area utama: tugas terkait kebersihan rumah, tugas sebagai istri, dan tugas kepengasuhan. analisis frekuensi kode menunjukkan bahwa tugas terkait kebersihan rumah memiliki kepadatan tertinggi. Tugas yang paling menyita waktu dan tenaga adalah bersih-bersih . dan memasak . tuntutan ini diperkuat oleh peran menyediakan sarapan . dan belanja . Gayuk Zulaika1*. Yusti Probowati2. Artiawati3 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 2 Desember 2025 Tabel 3. Tanggung jawab Ibu Guru SMP di Sekolah Tema Kode Mengajar . enyiapkan materi Tugas terkait Administrasi RPP Koreksi Tugas Input data/rapot Konsultasi masalah/belajar anak Konsultasi Walimurid Konsultasi tugas guru Agenda Acara di Piket kelas Tugas Menggantikan jadwal rekan kerja . iluar Home Visit mengajar di Penanggungjawab Sie lainnya . eperti: PJ Sarpras. Kesiswaan. Olimpiade, dl. Kegiatan (Akreditasi. Adiwiyata, program Hal 88 - 107 Frekuensi Pada tabel 3 diatas, pada domain kerja di sekolah, ibu guru SMP dihadapkan pada tuntutan profesional yang kompleks, yang dikategorikan dalam tugas terkait mengajar dan tugas tambahan . i luar mengajar di kela. Tugas inti terkait mengajar, frekuensinya sangat tinggi di bagian administrasi . dan mengajar . selain tugas inti, tuntutan pekerjaan juga diperparah oleh tugas tambahan yang bersifat non-akademik. di antara tugas tambahan tersebut adalah konsultasi masalah/belajar anak . dan kegiatan reguler sekolah . kreditasi, adiwiyata, dan lainnya = . memiliki kepadatan tertinggi, menunjukkan beban kerja guru meluas melampaui ruang kelas. Berdasarkan pemetaan temuan . ihat Gambar . , sumber konflik kerja-keluarga pada ibu guru SMP terbagi ke dalam dua domain utama yakni domain kerja di sekolah dan keluarga. Gayuk Zulaika1*. Yusti Probowati2. Artiawati3 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 2 Desember 2025 Hal 88 - 107 Gambar 2. Sumber Konflik Partisipan Pada gambar 2 diatas, dapat diketahui konflik di domain keluarga mayoritas diakibatkan oleh ketegangan interpersonal dan dilema perawatan. Pemicu ini mencakup adanya pertengkaran dengan suami, serta tekanan psikologis akibat dilema antara merawat anggota keluarga yang sakit . nak, suami, atau cuc. dengan kewajiban bekerja. Pada domain kerja, sumber konflik kerja memiliki spektrum yang lebih luas, berpusat pada tingginya tuntutan peran dan keterbatasan diri. Pemicu utama meliputi beban kerja yang tinggi . hususnya administrasi dan tugas tambaha. , kendala di kelas terkait karakteristik kemampuan siswa, serta kendala internal diri partisipan, baik dalam hal kemampuan adaptasi Teknologi Informasi (IT) maupun penurunan kondisi kesehatan fisik terutamanya pada generasi yang lebih tua (Generasi X). Konflik kerja-keluarga yang dialami ibu guru SMP memicu konsekuensi negatif di kedua domain . ihat Gambar . Konsekuensi ini mencakup aspek fisik, psikologis, dan interpersonal. Gambar 3. Konsekuensi Partisipan Pada gambar 3 menjelaskan konsekuensi di domain kerja di sekolah, yakni konsekuensi fisik dan psikologis sangat menonjol, di mana partisipan menjadi sering pusing memikirkan banyaknya beban tugas . , merasa capek, dan berakibat pada penurunan kesehatan . eperti mudah masuk angin, badan pegal, sakit kepal. Secara profesional, penurunan kesehatan ini menyebabkan tugas di kelas kurang maksimal. Sedangkan konsekuensi dari domain keluarga bersifat emosional dan relasional. Partisipan mengungkapkan adanya Rasa Bersalah terhadap Gayuk Zulaika1*. Yusti Probowati2. Artiawati3 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 2 Desember 2025 Hal 88 - 107 suami dan anak-anaknya atas kesibukan mereka. Konflik juga memicu pertengkaran dengan suami yang menginginkan perhatian, padahal istri sudah membawa beban dan kelelahan kerja ke Konsekuensi ini menjadi tekanan berat pada partisipan. Untuk meredakan konflik yang timbul, partisipan menerapkan berbagai strategi koping di kedua domain . ihat Gambar . , yang didukung oleh dukungan sosial . ihat Gambar . Gambar 4. Strategi koping yang dilakukan oleh partisipan Strategi koping di domain kerja cenderung bersifat problem-focused namun bersifat kompromi, yaitu membawa pekerjaan ke rumah, ijin/titip absen, cuti, oper jadwal mengajar, dan mencari alternatif metode pengajaran ketika menghadapi kendala siswa. Partisipan juga terkadang menggunakan alasan agar mendapat dispensasi dari kepala sekolah. Untuk domain keluarga, partisipan berusaha mencari strategi berfokus pada pemeliharaan hubungan dan self-care, seperti ijin ke suami, menjaga komunikasi melalui teknologi komunikasi . , berusaha memprioritaskan tugas domestik, mencari pertolongan ke dukungan sosial . audara/teman/warg. , dan meluangkan waktu rehat atau me time. Terdapat temuan kuat bahwa partisipan Generasi X lebih dominan dan eksplisit dalam melakukan Spiritual koping. Strategi ini diwujudkan melalui memperbanyak rasa bersyukur, doa, dan ibadah, serta memiliki keyakinan kuat bahwa pekerjaan menjadi guru adalah amalan dan amanah yang didasari niat ikhlas karena Tuhan YME. Keberhasilan ibu guru SMP dalam mengelola konflik tidak lepas dari ketersediaan dukungan sosial (Gambar . yang berfungsi meredakan tekanan dari kedua domain. Partisipan memiliki sumber dukungan yang luas, dikategorikan dari domain kerja di sekolah dan domain rumah. Gayuk Zulaika1*. Yusti Probowati2. Artiawati3 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 2 Desember 2025 Hal 88 - 107 Gambar 5. Dukungan sosial yang dimiliki partisipan Gambar 5, menjelaskan pada domain kerja di sekolah partisipan memiliki dukungan sosial dari atasan . erupa izin dan motivas. dan rekan kerja . erupa bantuan oper jadwal atau berbagi Pada dukungan sosial domain keluarga merupakan yang paling utama, datang dari suami, anak, orang tua, saudara, teman, dan lingkungan/tetangga. Dukungan suami sering kali diekspresikan melalui pemberian izin dan pemakluman atas kesibukan istri, sementara dukungan anak terwujud sebagai dukungan sosial informal di rumah. Temuan yang menarik adalah meskipun kedua generasi memiliki dukungan sosial yang sama. Generasi Y lebih intensif menggunakan dukungan sosial eksternal . eman/saudara/tetangg. untuk tugas pengasuhan dan domestik, yang menunjukkan ketergantungan praktis yang tinggi di fase establishment. Sementara itu. Generasi X yang telah menjadi penasihat, sering kali menjadi dukungan sosial bagi rekan kerja mereka, mencerminkan peran senior yang mereka emban. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dinamika konflik kerja-keluarga lintas generasi yang dialami oleh para ibu guru di jenjang SMP. Generasi X adalah partisipan ibu guru SMP yang lahir pada rentang tahun 1965-1980 dan memiliki usia sekitar 43-58 tahun. Generasi X memiliki karakteristik seperti. mandiri, loyal, tipe pekerja keras dan kemampuan dalam melakukan banyak tugas (Jurkiewicz, 2. Sedangkan generasi Y adalah partisipan ibu guru SMP yang lahir pada rentang tahun 1981-1995 dan memiliki usia sekitar 28-42 tahun. Generasi Y memiliki karakteristik seperti. mempunyai tekad dan harapan tinggi, sangat familiar dengan teknologi digital, dan cenderung reaktif terhadap perubahan lingkungan (Ng. Schweitzer, & Lyons, 2010. Lyons, 2. Carlson et al. menjelaskan bahwa konflik kerja-keluarga merupakan salah satu bentuk konflik multi peran yang terjadi ketika tuntutan serta perilaku individu dalam peran di pekerjaan tidak kompatibel dengan tuntutan dan perilaku pada perannya di domain keluarga atau rumah tangga, dan sebaliknya. Ibu guru SMP baik dari generasi X maupun generasi Y samasama memiliki multi peran yang dilakukan di 2 domain yaitu domain kerja di sekolah dan domain rumah/keluarga. emuan menunjukkan bahwa ibu guru SMP secara inheren mengalami konflik kerja-keluarga berbasis waktu dari tingginya tuntutan multi peran di kedua domain. domain keluarga, tugas-tugas rumah tangga, terutama membersihkan rumah, memasak, dan menemani anak, mendominasi alokasi waktu dan energi (Tabel . Hal ini menguatkan temuan Gayuk Zulaika1*. Yusti Probowati2. Artiawati3 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 2 Desember 2025 Hal 88 - 107 literatur yang melaporkan bahwa peran tradisional masih membebankan tanggung jawab domestik utama pada perempuan seperti bersih-bersih rumah, memasak (Demir-ynztyrk et al. Ergyl et al. , 2012. Dikmen & Maden, 2012. Akn-Acuner, 2. Beberapa penelitian terbaru juga menjelaskan bahwa perempuan memiliki tanggung jawab yang lebih besar terkait rutinitas pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan anak (Demir-ynztyrk et al. , 2020. Sevilla & Smith, 2020. Farry et al. , 2020. Del Boca et al. , 2. Di domain pekerjaan, ibu guru dihadapkan pada beban administratif yang berat, jam kerja yang panjang, dan tuntutan adaptasi teknologi informasi . Kondisi diatas kemudian berevolusi menjadi konflik kerja-keluarga berbasis ketegangan (Greenhaus & Beutell, 1. Literatur yang mendukung temuan ini menunjukkan adanya hubungan positif antara persepsi stres dan konflik kerja-keluarga (Ergyn & Yyksel, 2019. Frat. Erdilek & Karabay, 2015. Tekingyndyz et al. , 2015. Palmer et al. , 2. Konsekuensi konflik ini bersifat kompleks pada diri ibu guru SMP yakni, penurunan kesehatan fisik yang berujung pada kinerja yang kurang maksimal di domain kerja, dan ketegangan emosional yang meluber ke domain rumah/keluarga berupa rasa bersalah dan pertengkaran suami . Meskipun sama-sama memiliki multi peran, interpretasinya dimaknai secara berbeda pada lintas Ibu guru SMP generasi X yang memiliki peran lain di luar mengajar seperti, penanggungjawab sarana prasarana dan "penasehat" bagi rekan kerja . Hal ini, mengarah tambahan peran sebagai pengayaan dalm kehidupan kerja-keluarga pada diri ibu guru. Sementara Guru generasi Y, cenderung melihat keikutsertaan pada peran-peran lainnya di lingkungan rumah tinggal sebagai beban yang belum penting, yang menunjukkan upaya mereka membatasi peran untuk mengamankan waktu bagi keluarga inti. Super . menjelaskan konsep pelangi karier kehidupan . ife-career rainbo. dalam teori perkembangan karier yang menguraikan hubungan antara usia dan tahapan perkembangan karier sebagai tugas perkembangan dalam kehidupan seorang pekerja. Berdasarkan teori ini, partisipan ibu guru SMP generasi X berada pada tahapan maintenance, di mana mereka memiliki tiga tugas perkembangan utama: mempertahankan pencapaian yang telah diraih, meningkatkan kemampuan dan pengetahuan, serta melakukan inovasi dengan mengerjakan tugas secara berbeda atau menggali tantangan baru (Super, 1990. Savickas, 2. Sementara itu, partisipan ibu guru SMP generasi Y berada pada tahap establishment, di mana mereka berusaha mencapai stabilitas posisi karier dan mengembangkan kemajuan dalam karier mereka (Super, 1. Menjadi temuan menarik lainnya bahwa sumber dan konsekuensi berbasis ketegangan tidak bersifat universal antara Generasi X dan Generasi Y, yang dikendalikan oleh tahapan perkembangan karier mereka. Ibu guru SMP generasi Y . ahap establishment, usia 28-42 tahu. berada pada fase di mana mereka berjuang mencapai stabilitas karier dan menghadapi tuntutan pengasuhan anak usia dini/sekolah . Karakteristik generasi Y yang reaktif (Lyons, 2. lebih emosional dan relasional sebagai sumber konflik utama, yaitu pertengkaran dengan suami dan ketegangan psikologis . Sebaliknya. Ibu guru SMP generasi Y . ahap maintenance, usia 43-58 tahu. yang telah mencapai kepastian karier tinggi (Super, 1. , sumber konflik mereka bergeser ke tantangan Gayuk Zulaika1*. Yusti Probowati2. Artiawati3 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 2 Desember 2025 Hal 88 - 107 pemeliharaan kapasitas dan relevansi. Mereka secara menjelaskan kendala pada kondisi fisik/kesehatan dan kesulitan adaptasi teknologi informasi . Selain itu, konflik juga timbul dari beban waktu yang bergeser ke tanggung jawab perawatan anggota keluarga dewasa/lanjut usia . erawat suami, orang tua, atau cuc. Perbedaan lainnya juga terlihat pada konsekuensi adanya konflik kerja-keluarga yang dialami oleh ibu guru SMP. Pada ibu guru SMP generasi Y menunjukkan konsekuensi yang didominasi oleh rasa bersalah . eeling guilt. dan berkonflik dengan suami . Hal ini menunjukkan bahwa konflik kerja meluber dan mengganggu hubungan interpersonal, ini adalah kekhasan pada fase establishment. Sementara ibu guru SMP generasi X cenderung mengalami konsekuensi kondisi fisik/kesehatan yang menghambat kinerja, menunjukkan tekanan kumulatif dari beban kerja yang panjang. Strategi koping dan penggunaan dukungan sosial pada ibu guru SMP generasi X dan Y juga menunjukkan perbedaan. Ibu guru SMP generasi X menunjukkan dominasi yang kuat dan eksplisit dalam menerapkan strategi koping spiritual dengan memunculkan rasa ikhlas dan syukur (Gambar . Strategi ini merupakan kontribusi teoretis pada aspek budaya konflik kerjakeluarga. Rasa syukur dan keyakinan ikhlas bahwa pekerjaan adalah amanah dan ibadah berfungsi sebagai cara pandang yang berbeda dalam melihat suatu masalah atau disebut reappraisal kognitif (Lazarus & Folkman, 1. Mekanisme ini memberikan rasa damai dan resistensi yang kuat terhadap konflik dari ketegangan. Hal ini menjelaskan bahwa ibu guru SMP generasi X mampu mempertahankan kepastian karier dan kesejahteraan subjektif yang tinggi di usia senior (Barnett & Hyde, 2. Ibu guru SMP generasi Y yang cenderung reaktif dan emosional, lebih mengandalkan strategi koping yang praktis dan instrumental, seperti manajemen batasan . embatasi peran sosia. dan dukungan sosial instrumental (Gambar . Dukungan sosial dari suami, atasan, atau saudara/tetangga diorientasikan untuk memfasilitasi tugas domestik, sehingga energi dapat difokuskan pada stabilitas karier dan pengasuhan anak usia dini. Penelitian sebelumnya menunjukkan arti pentingnya tingkat dukungan atasan di kalangan guru (Sarkaya & Keskinkly Kara, 2019. ynzdemir, 2. dan sebuah penelitian di Indonesia selama pandemi COVID-19 juga mengungkapkan pentingnya dukungan atasan yang memadai di kalangan guru (Rasmitadila et , 2. Sementara. Ibu guru SMP generasi X menginterpretasikan dukungan sosial di sekolah sebagai kontribusi timbal balik. Mereka, yang telah mengemban peran "penasihat" . toritas informa. , berfungsi sebagai pemberi dukungan bagi rekan kerja. Kontribusi ini secara langsung meningkatkan status dan makna peran mereka di tahap mendekati usia pensiun, di mana mereka menunjukkan kepastian karier yang lebih tinggi dan lebih memaknai profesi guru. Gayuk Zulaika1*. Yusti Probowati2. Artiawati3 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 2 Desember 2025 Hal 88 - 107 SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dipaparkan, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar ibu guru SMP mengalami konflik kerja-keluarga yang dipicu oleh beban kerja yang cukup tinggi . ugas administratif, adaptasi teknologi informasi, dan multi pera. yang dilakukan tanpa meninggalkan kewajiban di rumah, berakibat pada kurangnya waktu bersama suami dan anak/cucu, masalah kesehatan, serta kelelahan emosional, terutama rasa bersalah. Temuan penelitian ini menegaskan bahwa penanggulangan konflik bersifat dinamis dan berbeda pada lintas generasi. Ibu guru SMP Generasi Y cenderung mencari sistem dukungan sosial terdekat, sementara Ibu guru SMP Generasi X menunjukkan temuan unik, yakni memiliki kepastian karier yang lebih tinggi di usia pensiun. Pada kelompok ini, multiperan justru menjadi motivasi untuk beraktifitas, dan mereka konsisten dalam memelihara kebiasaan strategi koping spiritual . engungkapkan rasa ikhlas dan syuku. serta kuat memaknai profesi guru untuk menghadapi kekhawatiran utama mereka, yaitu masalah kesehatan dan kesejahteraan keluarga. Oleh karena itu, kepada pemangku kebijakan dan pihak manajemen sekolah, perlu mempertimbangkan pemberian fleksibilitas tugas-tugas di sekolah yang disesuaikan dengan usia ibu guru SMP, yang bertujuan untuk menyeimbangkan tanggung jawab pekerjaan dengan keluarga demi memberikan kenyamanan emosional maupun fisik pada kehidupan ibu guru, karena guru yang sehat batin dan raganya akan memberikan karya terbaik bagi anak bangsa. Penelitian ini membuka peluang bagi studi komparatif lanjutan, baik secara kualitatif maupun kuantitatif, pada tema, kategori generasi, dan tingkat pendidikan yang berbeda. Gayuk Zulaika1*. Yusti Probowati2. Artiawati3 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 2 Desember 2025 Hal 88 - 107 DAFTAR PUSTAKA