ISSN 2581-2319 EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF DALAM MENINGKATKAN KESADARAN LINGKUNGAN Andi Saputra Mandopa*. Alwendi** . Lela Budiarti***. Nurkhasanah Rina Puspita**** Dosen Pend. Matematika. FKIP. Universitas Graha Nusantara Dosen ilmu Komputer. Fakultas Teknik Universitas Graha Nusantara *** Dosen Program Studi Teknologi Informasi Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan **** Dosen Manajemen Rekayasa Konstruksi Gedung. Politeknik Negeri Medan coresspondent author : *andimandopa100@gmail. com , **alwendi60@gmail. *** lelabudiarti1@gmail. com , ****nurkhasanahrinapuspitao9@gmail. Diterima : 28-04-2025 Revisi : 08-06-2025 Disetujui : 31-07-2025 Diterbitkan: 1-08-2025 Abstract The purpose of this study was to determine the effectiveness of the cooperative learning model in increasing students' environmental awareness. The subjects of the study consisted of two classes at the junior high school level that were selected purposively. One class as the experimental group was given treatment with the cooperative learning model, while the other class as the control group followed conventional learning. The research instruments were in the form of an environmental awareness questionnaire and a learning activity observation sheet. Data analysis was carried out using statistical tests to compare the pretest and posttest results of the two groups. This study used a quantitative method with a pretest-posttest control group design in two classes at a junior high school. One class as the experimental group used cooperative learning, while the control class followed conventional learning. The results showed that the experimental group experienced a significant increase in environmental awareness. These findings indicate that cooperative learning can improve students' understanding, attitudes, and behaviors towards environmental issues. Keywords: environmental awareness, cooperative learning, students. PENDAHULUAN Permasalahan lingkungan hidup semakin hari menjadi isu global yang mendesak untuk segera Berbagai permasalahan seperti pencemaran, perubahan iklim, kerusakan hutan, dan krisis air bersih menuntut adanya kesadaran kolektif dari seluruh lapisan masyarakat, termasuk generasi muda. Oleh karena itu, pendidikan memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai kepedulian dan tanggung jawab terhadap lingkungan sejak dini. Di lingkungan sekolah, upaya peningkatan kesadaran lingkungan dapat diintegrasikan melalui berbagai pendekatan pembelajaran. Salah satu pendekatan yang diyakini efektif dalam membentuk sikap dan kesadaran siswa adalah model pembelajaran Model ini menekankan pada kerja sama antar siswa dalam kelompok kecil untuk mencapai tujuan belajar bersama. Melalui interaksi yang aktif dan saling berbagi pengetahuan, siswa tidak hanya memperoleh pemahaman kognitif, tetapi juga mengembangkan sikap sosial dan peduli terhadap lingkungan sekitar. Namun, dalam praktiknya, pembelajaran di sekolah masih banyak didominasi oleh pendekatan konvensional yang berpusat pada guru. Hal ini menyebabkan kurangnya keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran, termasuk dalam memahami isu-isu lingkungan. Oleh karena itu, perlu dilakukan kajian lebih lanjut mengenai efektivitas model pembelajaran kooperatif dalam meningkatkan kesadaran lingkungan siswa. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana model pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kesadaran lingkungan peserta didik. Diharapkan, hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan strategi pembelajaran yang lebih partisipatif dan kontekstual dalam pendidikan lingkungan di sekolah. Jurnal TechLINK Volume 9 Edisi 1. April 2025 ISSN 2581-2319 Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah model pembelajaran kooperatif efektif dalam meningkatkan kesadaran lingkungan siswa. Selain itu, penelitian ini juga ingin mengetahui sejauh mana perbedaan peningkatan kesadaran lingkungan antara siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran kooperatif dengan siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran konvensional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas model pembelajaran kooperatif dalam meningkatkan kesadaran lingkungan siswa. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menganalisis perbedaan tingkat kesadaran lingkungan antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model kooperatif dan siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model konvensional. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan beberapa manfaat. Secara teoritis, penelitian ini dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan teori pembelajaran kooperatif dalam konteks pendidikan lingkungan, khususnya dalam upaya menumbuhkan kesadaran siswa terhadap isu-isu Secara praktis, hasil penelitian ini dapat menjadi referensi atau alternatif strategi pembelajaran yang dapat diterapkan oleh guru untuk meningkatkan kesadaran lingkungan siswa secara lebih efektif dan partisipatif. Secara sosial, penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi dalam mendorong terbentuknya generasi yang peduli terhadap lingkungan dan memiliki sikap bertanggung jawab dalam menjaga kelestarian alam. TINJAUAN PUSTAKA Model Pembelajaran Kooperatif Model pembelajaran kooperatif adalah pendekatan pembelajaran yang menekankan kerja sama antar siswa dalam kelompok kecil untuk mencapai tujuan pembelajaran bersama (Slavin, 1. Dalam model ini, siswa saling membantu, bertukar ide, dan bertanggung jawab atas keberhasilan diri sendiri maupun kelompoknya. Beberapa model kooperatif yang sering digunakan meliputi Jigsaw. Student Teams Achievement Division (STAD). Think-Pair-Share, dan Group Investigation. Menurut Lie , pembelajaran kooperatif tidak hanya meningkatkan prestasi akademik, tetapi juga keterampilan sosial siswa, seperti komunikasi, kepemimpinan, dan kemampuan memecahkan masalah. Prinsip dasar pembelajaran kooperatif mencakup interaksi tatap muka, pertanggungjawaban individu, keterampilan sosial, dan evaluasi kelompok. Kesadaran Lingkungan Kesadaran lingkungan adalah sikap dan pemahaman seseorang terhadap pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan hidup. Menurut Suryanto . , kesadaran lingkungan mencakup dimensi kognitif . , afektif . , dan konatif . indakan nyat. Pendidikan berperan penting dalam menumbuhkan kesadaran lingkungan melalui proses internalisasi nilai-nilai lingkungan ke dalam perilaku sehari-hari siswa. Indikator kesadaran lingkungan dapat dilihat dari pengetahuan siswa tentang isu lingkungan, kepekaan terhadap permasalahan lingkungan di sekitarnya, serta keterlibatan dalam tindakan nyata seperti daur ulang, penghematan energi, dan pelestarian alam. Penanaman kesadaran ini harus dilakukan secara sistematis dan terintegrasi ke dalam proses pembelajaran di sekolah agar menghasilkan dampak jangka panjang terhadap perilaku siswa. Hasil Belajar Siswa Hasil belajar siswa merupakan perubahan perilaku atau penguasaan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai yang terjadi setelah proses pembelajaran (Bloom, 1. Indikator hasil belajar dapat dilihat melalui nilai akademik, keterampilan praktis, dan sikap siswa terhadap pembelajaran. Gagne . menyebutkan bahwa hasil belajar meliputi lima kategori, yaitu informasi verbal. Jurnal TechLINK Volume 9 Edisi 1. April 2025 ISSN 2581-2319 keterampilan intelektual, strategi kognitif, keterampilan motorik, dan sikap. Oleh karena itu, untuk meningkatkan hasil belajar, metode pembelajaran harus mampu mengakomodasi berbagai gaya belajar Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif Efektivitas pembelajaran kooperatif dalam meningkatkan hasil belajar siswa telah banyak dibuktikan melalui berbagai penelitian. Slavin . menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif secara signifikan lebih efektif dibandingkan dengan pembelajaran tradisional dalam meningkatkan prestasi akademik. Hal ini disebabkan karena pembelajaran kooperatif mendorong siswa untuk lebih aktif, menguatkan pemahaman melalui diskusi, serta meningkatkan motivasi belajar. Penelitian oleh Johnson & Johnson . juga menemukan bahwa pembelajaran kooperatif meningkatkan hubungan interpersonal di antara siswa, meningkatkan harga diri akademik, dan mengembangkan sikap positif terhadap mata pelajaran. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Pembelajaran Kooperatif Menurut Arends . , keberhasilan model pembelajaran kooperatif dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: Pembentukan kelompok heterogen: Keberagaman dalam kelompok . erdasarkan kemampuan, gender, dan latar belakan. memperkaya diskusi dan pembelajaran. Keterampilan sosial siswa: Efektivitas interaksi antar siswa sangat bergantung pada keterampilan sosial yang dimiliki. Peran guru: Guru perlu bertindak sebagai fasilitator yang mengarahkan interaksi dan memastikan semua anggota kelompok berkontribusi. Penilaian: Sistem penilaian harus mencakup kinerja individu dan kelompok untuk mendorong tanggung jawab bersama. Penelitian Terdahulu Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif memberikan dampak positif terhadap pembentukan karakter dan nilai-nilai sosial siswa. Misalnya, penelitian oleh Nugroho . menyimpulkan bahwa penggunaan model Jigsaw dalam pembelajaran IPA mampu meningkatkan kepedulian siswa terhadap lingkungan sekitar. Penelitian lainnya oleh Lestari dan Wahyuni . menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan berbasis lingkungan seperti program Adiwiyata. Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif tidak hanya berdampak pada aspek kognitif, tetapi juga berkontribusi dalam membentuk sikap dan perilaku siswa terhadap lingkungan secara positif. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Researc. Menurut (Arikunto, 2008 : . bahwa penelitian tindakan kelas (PTK) merupakan suatu pencermatan terhadap kehgiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama. Tindakan tersebut diberikan oleh guru atau dengan arahan dari guru yang dilakukan oleh siswa. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII B SMP Negeri 9 Padangsidimpuan. Sedangkan objek penelitan ini adalah penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw untuk meningkatkan Jurnal TechLINK Volume 9 Edisi 1. April 2025 ISSN 2581-2319 hasil belajar siswa pada materi himpunan di kelas VII B SMP Negeri 9 Padangsidimpuan. Tahapan awal yang dilakukan peneliti sebelum melaksanakan penelitian memberikan tes awal kepada siswa yang menjadi subjek penelitian untuk mengetahui kesulitan siswa dalam menyelesaikan masalah himpunan. Sesuai dengan refleksi awal tersebut maka dilaksanakan tindakan kelas, sesuai dengan pendapat Arikunto . menjelaskan bahwa satu siklus PTK terdiri dari empat langkah yaitu: . perencanaan, . pelaksanaan, . pengamatan dan . Variabel dalam penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran kooperatif. Model yang digunakan adalah STAD (Student Teams Achievement Divisio. yang diukur melalui tes hasil belajar . re-test dan post-tes. yang mencakup aspek kognitif seperti pemahaman konsep, pengetahuan, dan kemampuan memecahkan masalah dalam mata pelajaran Matematika. Teknik pengunpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes dengan lembar Setelah tes diberikan kepada siswa selanjutnya diperoleh informasi dari hasil tes tersebut kemudian peneliti menganalisis hasil penelitian. Dimana hasil belajar siswa sesuai dalam petunjuk pelaksanaan proses belajar mengajar. Menurut Trianto, 2009 : 241 AuSetiap siswa dikatakan tuntas belajarnya . etuntasan individ. jika proporsi jawaban benar siswa Ou 65%, dan suatu kelas dikatakan tuntas belajarnya . etuntasan klasika. jika dalam kelas tersebut terdapat Ou 85% siswa yang telah tuntas Ay HASIL DAN PEMBAHASAN Dari hasil penelitian dipeoleh peningkatan antara pemberian tes awal, dengan penerapan siklus I dan penerapan model pembelajaran jigsaw pada siklus II dapat dilihat dari tabel dibawah ini: Tabel 1. Perbandingan Antara Hasil Belajar Tes Awal. Siklus I Dan Siklus II. INDIKATOR RATA-RATA Tes Awal Siklus I 76,47 Siklus II 89,33 Berdasarkan hasil pengumpulan data yang dilakukan, diperoleh rata-rata nilai hasil belajar siswa sebagai berikut: Pada tes awal sebelum penerapan model pembelajaran kooperatif, rata-rata nilai siswa adalah 69, yang menunjukkan tingkat penguasaan materi siswa masih tergolong cukup, namun belum memenuhi kriteria ketuntasan belajar yang diharapkan. Setelah penerapan model pembelajaran kooperatif pada Siklus I, rata-rata nilai siswa meningkat menjadi 76,47. Ini menunjukkan adanya peningkatan pemahaman dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran, meskipun masih terdapat beberapa siswa yang belum mencapai standar ketuntasan maksimal. Pada Siklus II, setelah dilakukan perbaikan dalam pelaksanaan pembelajaran kooperatif, ratarata nilai siswa meningkat lebih signifikan menjadi 89,33. Hal ini menandakan bahwa sebagian besar siswa telah berhasil mencapai bahkan melampaui target ketuntasan belajar yang Peningkatan rata-rata hasil belajar dari tes awal ke Siklus II ini memberikan gambaran bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Dengan Jurnal TechLINK Volume 9 Edisi 1. April 2025 ISSN 2581-2319 kerja sama dalam kelompok, siswa menjadi lebih aktif, termotivasi, dan mampu memahami materi pelajaran dengan lebih baik. Untuk lebih jelasnya dapat dilahat dari diagram berikut: Gambar 1. Perbandingan Tes Awal. I Dan Penerapan Model Pembelajaran Jigsaw Pada Siklus II Gambar 1. Perbandingan Tes Grafik di atas menunjukkan perkembangan rata-rata hasil belajar siswa pada tes awal. Siklus I, dan Siklus II setelah penerapan model pembelajaran kooperatif. Pada tes awal, rata-rata nilai siswa berada pada angka 69. Ini menunjukkan bahwa sebelum penerapan model pembelajaran kooperatif, tingkat penguasaan materi siswa masih dalam kategori cukup dan belum optimal. Setelah penerapan model pembelajaran kooperatif pada Siklus I, terjadi peningkatan rata-rata nilai siswa menjadi 76,47. Peningkatan ini menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran kooperatif mulai memberikan dampak positif terhadap pemahaman materi oleh siswa, walaupun belum sepenuhnya Pada Siklus II, setelah dilakukan perbaikan strategi pembelajaran berdasarkan evaluasi siklus sebelumnya, rata-rata hasil belajar siswa mengalami peningkatan yang lebih signifikan, yaitu mencapai 89,33. Pencapaian ini menunjukkan bahwa mayoritas siswa telah berhasil memahami materi pelajaran dengan sangat baik dan memenuhi kriteria ketuntasan yang diharapkan. Secara keseluruhan, grafik tersebut memperlihatkan adanya tren kenaikan yang konsisten dari tes awal ke Siklus II. Hal ini membuktikan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa, baik dari segi pemahaman konsep maupun keterlibatan aktif mereka dalam proses belajar. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, penerapan model pembelajaran kooperatif terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Pada tes awal, rata-rata nilai siswa adalah 69, yang menunjukkan tingkat penguasaan materi yang cukup namun belum mencapai ketuntasan belajar yang diharapkan. Setelah penerapan model pembelajaran kooperatif pada Siklus I, rata-rata nilai siswa meningkat menjadi 76,47, meskipun masih terdapat beberapa siswa yang belum mencapai standar ketuntasan Pada Siklus II, setelah perbaikan dalam proses pembelajaran, rata-rata nilai siswa meningkat Jurnal TechLINK Volume 9 Edisi 1. April 2025 ISSN 2581-2319 lebih signifikan menjadi 89,33. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, pembelajaran kooperatif merupakan pendekatan yang relevan untuk diintegrasikan dalam pendidikan lingkungan di Saran Berdasarkan temuan tersebut, disarankan agar penelitian selanjutnya fokus pada peningkatan pengelolaan waktu dan keterampilan sosial siswa dalam kelompok, karena hal ini masih menjadi tantangan yang perlu diperbaiki. Selain itu, peneliti selanjutnya dapat mencoba berbagai variasi model pembelajaran kooperatif, seperti Jigsaw atau Think-Pair-Share, untuk melihat apakah terdapat perbedaan dalam efektivitasnya. Penelitian yang melibatkan sampel yang lebih luas dan beragam juga dapat memberikan hasil yang lebih representatif dan aplikatif di berbagai konteks. Evaluasi jangka panjang juga penting untuk mengetahui apakah peningkatan hasil belajar bersifat berkelanjutan. Terakhir, mengingat perkembangan teknologi pendidikan, penggunaan platform digital dalam pembelajaran kooperatif dapat menjadi alternatif yang efektif untuk memperluas kesempatan kolaborasi di antara siswa. DAFTAR PUSTAKA