AL-MUHITH JURNAL ILMU AL-QURAoAN DAN HADITS E-ISSN : 2963-4024 . edia onlin. P-ISSN : 2963-4016 . edia ceta. DOI : dx. org/10. 35931/am. METODE TAHLILI DALAM HADIS: TEORI DAN APLIKASI Rifqi Rahman UIN Antasari Banjarmasin. Kalimantan Selatan. Indonesia rifqirahmanihsan@gmail. Hairul Hudaya UIN Antasari Banjarmasin. Kalimantan Selatan. Indonesia hairulhudaya@uin-antasari. Abstrak Tulisan ini dilatarbelakangi oleh masih banyaknya kekurangan dalam penerapan metode tahlili dalam mengkaji hadis secara mendalam. Metode tahlili sejatinya memberikan peluang untuk memahami hadis secara komprehensif, baik dari segi matan maupun sanad, serta dalam konteks sosial-historisnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk merumuskan metode tahlili dalam memahami hadis serta mengaplikasikannya pada hadis AuAyyuma rajulin qala li akhihi ya kafir, fa qad baAoa biha ahaduhuma. Ay Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kajian literatur. Sumber data berasal dari kitab-kitab hadis, kitab syarh, buku-buku akademik, serta artikel jurnal yang relevan. Hasil penelitian menyimpulkan dua hal utama. Pertama, metode tahlili merupakan pendekatan yang mengkaji hadis dari aspek riwayah dan dirayah, serta mengaitkannya dengan disiplin ilmu lain seperti fikih, ushul fiqh, dan akidah. Kedua, hadis yang diteliti dapat dijadikan sebagai hujjah atau dasar hukum dalam beragama. Kata Kunci: Hadis. Tahlili. Metode. Takhrij Abstract This paper is motivated by the fact that the application of the tahlili method in hadith studies is still often lacking in depth. The tahlili method actually offers an opportunity to understand hadith comprehensively, both in terms of the matn . and sanad . hain of transmissio. , as well as within its socio-historical The aim of this research is to formulate the tahlili method in understanding hadith and to apply it to the hadith: "Ayyuma rajulin qala li akhihi ya kafir, faqad baAoa biha ahaduhuma" ("Whoever says to his brother, 'O disbeliever,' then surely it returns to one of them"). The method used in this study is literature The data sources include hadith collections, commentaries . , academic books, and relevant journal articles. The findings conclude two main points: first, the tahlili method analyzes hadith from both riwayah and dirayah aspects, and relates it to other relevant disciplines such as fiqh, usul al-fiqh, and aqidah. Second, the hadith studied can be used as valid hujjah . egal or religious proo. Keywords: Hadith. Tahlili. Method. Takhrij. A Author. 2025 This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. PENDAHULUAN Metode tahlili atau yang dikenal dengan metode analitik adalah penelitian hadis yang mencakup analisis sanad dan matan dengan cara takhrij. Salah satu tujuan dari takhrij hadis adalah Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Juli - Desember 2025 M. Rifqi Rahman. Hairul Hudaya: Metode Tahlili dalam Hadis: Teori dan Aplikasi untuk mengetahui kualitas serta kuantitas suatu hadis serta menemukan syawahid dan mutabiAo, dengan demikian adanya kemungkinan untuk mengangkat derajat suatu hadis menjadi lebih kuat. Tulisan ini dilatar belakangi karena masih banyak hal-hal yang kurang mendetail dalam mengaplikasikan metode tahlili hadis, penelitian Edriagasu Saputra dkk1 misalnya masih menjelaskan hadis yang dikaji bertentangan dengan al-QurAoan atau As-Sunah, serta belum melakukan kritik sanad seluruh jalur utama hadis yang di kaji. Begitu pula dengan penelitian Salwa Zakkiyah2 yang belum melakukan kegiatan takhrij dengan detail serta jarh wa taAodil yang hanya mencantumkan pendapat para kritikus hadis tanpa menyebutkan guru dan murid dari tiap perawi sanad utama hadis. Adapun penelitian Amrulloh3 sudah sangat detail dalam menjelaskan teori serta aplikasi metode tahlili hadis dengan cara takhrij, akan tetapi dalam penelitian tersebut menyebutkan bahwa dalam menentukan hadis yang akan dikaji, peneliti harus memperhatikan kehujjahan hadis, yakni harus bernilai sahih atau hasan, dan menghindari hadis dhaif meskipun tentang motivasi amal Sedangkan tujuan dari dilakukannya takhrij hadis adalah untuk mengetahui derajat dan nilai suatu hadis, serta untuk mengetahui ada tidaknya syawahid dan mutabiAo yang mampu untuk mengangkat derajat atau nilai suatu hadis. Dengan demikian, maka dapat penulis ungkapkan bahwa tujuan dari penelitian ini adalah untuk merumuskan teori secara detail mengenai metode tahlili dalam memahami hadis serta memberikan contoh pengaplikasiannya pada hadis Auayyuma rajulin qala li akhihi ya kafir, fa qad baAoa biha ahaduhumaAy. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kajian literatur, yakni penelitian dilakukan oleh penulis dengan cara mengumpulkan informasi dan data dengan bantuan berbagai macam sumber kepustakaan yang berkaitan dengan topik yang diteliti, dalam hal ini ialah yang berkaitan dengan teori serta aplikasi metode tahlili hadis. Sumber data yang penulis gunakan dalam penelitian ini diambil dari kitab-kitab hadis, kitab-kitab syarh, buku-buku dan artikel-artikel jurnal yang relevan dengan pembahasan. Analisis yang digunakan adalah analisis isi, dengan mengacu pada konsep teknik analisis Miles & Huberman yakni melakukan pengumpulan data, untuk selanjutnya direduksi dan disajikan dalam bentuk deskriptif, kemudian dilakukan penarikan kesimpulan sesuai dengan data yang telah dianalisis. Edriagus Saputra. Zakiyah Zakiyah, dan Dian Puspita Sari. AuKerukshahan Meninggalkan Shalat JumAoat Pada Hari Raya Idain (Studi Takhrij Hadi. ,Ay FOKUS Jurnal Kajian Keislaman Dan Kemasyarakatan 5, no. Desember 2. , https://doi. org/10. 29240/jf. Hilma Noor Salwa Zakiyyah. AuSusu Sapi Sebagai Obat Bagi Kesehatan Tubuh: Studi Takhrij Dan Syarah Hadis,Ay Jurnal Riset Agama 1, no. Agustus 2. , https://doi. org/10. 15575/jra. Amrulloh Amrulloh. AuMetode Studi Hadis Taull dan Implementasinya,Ay Nabawi: Journal of Hadith Studies 2, no. Maret 2. , https://doi. org/10. 55987/njhs. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Juli - Desember 2025 M. Rifqi Rahman. Hairul Hudaya: Metode Tahlili dalam Hadis: Teori dan Aplikasi HASIL DAN PEMBAHASAN Pengertian Hadis Tahlili Hadis tahlili atau hadis analitik menurut Dr. Said Nuh4 dalam al-hadis at-tahlili adalah kajian yang membahas tentang suatu hadis Nabi baik secara riwayah atau pun dirayah dengan cara takhrij, menjelaskan derajat hadis, mengumpulkan lafaz-lafaz yang serupa dalam periwayatan, menjelaskan makna kosa kata dan kalimat, menjelaskan hukum serta hikmah, memperkenalkan para perawinya serta transmisi sanadnya, dan menjelaskan kata dari segi balaghah dan iAorob, karena peranya dalam menyoroti dan memperjelas makna. AoAbd al-SamiAo Al-Anis5 berpendapat bahwa segi riwayah adalah hadis dilihat dari segi sanad, sedangkan segi dirayah adalah Hadis dilihat dari segi Dari definisi tersebut dapat penulis simpulkan bahwa Hadis tahlili menurut Dr. Said Nuh adalah kajian terhadap suatu hadis baik secara riwayah dan dirayah. Definisi hadis tahlili juga dipaparkan oleh Raid Al-Ubaydi6 bahwa Hadis tahlili adalah ilmu yang mengkaji suatu hadis Nabi dengan tahapan-tahapan khusus, dengan tujuan menganalisis segala jenis yang berhubungan dengan hadis dari segi sanad dan matan. AoAbd al-SamiAo al-Anis menambahkan setelah dia menganalisis beberapa definisi-definisi hadis tahlili, dia berpendapat bahwa hadis tahlili adalah kajian terhadap suatu hadis Nabi dari segi riwayah dan dirayah, serta mengaitkannya dengan disiplin ilmu lain yang relevan. 7 Penulis menyimpulkan dari definisidefinisi di atas setidaknya ada tiga poin penting dari definisi hadis tahlili yaitu kajiannya terfokus pada satu hadis, menganalisis sanad, menganalisis matan, dan mengaitkannya dengan disiplin ilmu lain yang relevan. Tahapan-Tahapan Metode Tahlili dalam Memahami Hadis Metode dalam memahami hadis tahlili terbagi menjadi dua macam. Pertama, harus memahami tahapan-tahapan dari segi sanad . Kedua, harus memahami tahapan-tahapan dari segi Selanjutnya penulis akan memaparkan pembagian tersebut menurut Raid al-Ubaydi. Pertama, tahapan-tahapan dari segi sanad: Melakukan Takhrij hadis Membuat syajaratul isnad . ohon sana. Menyajikan rijalus sanad . iografi peraw. Mengidentifikasi unsur syawahid . ukungan pada posisi sahaba. , dan mutabaAoat . endukung dari posisi tabiAoin ke bawa. Ashim al-qaryuti, al-hadis at-tahlili . irasah taAosilia. , t. , h. AoAbd Al-Sami Al-Anis. Nahwa manhajiyya muAosira li-dirasat al-hadith al-tahlili (Buraydah: kulliyat al-shariAoa wa al-Dirasat al-Isalmiyya jamiat al-Qasim, 2. Raid Al-Ubaydi. Al-Hadis Tahlili Dirasat TaAosiliah Tathbiqiyah (Baghdad: Maktab Shams alAndalus, 2. , h. Al-Anis. Nahwa manhajiyya muAosira li-dirasat al-hadith al-tahlili. Al-Ubaydi. Al-Hadis Tahlili Dirasat TaAosiliah Tathbiqiyah, h. 19Ae20. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Juli - Desember 2025 M. Rifqi Rahman. Hairul Hudaya: Metode Tahlili dalam Hadis: Teori dan Aplikasi Menilai sanad Menganalisis lathaif al-isnad . arakteristik/keistimewaan sana. Menganalisis permasalahan-permasalahan yang berhubungan dengan musthalah hadis . stilahistilah dalam ilmu hadi. Kedua, tahapan-tahapan dari segi matan: Menjelaskan sabab wurud al-hadis . atar belakang spesifik hadi. Menjelaskan sababu irad al-hadis . onteks hadi. Menjelaskan antar judul bab dengan hadis yang sedang dibahas. Memaparkan variasi redaksi matan hadis dan membandingkannya satu sama lain. Menjelaskan gharib al-hadis . afaz yang asin. Menjelaskan ikhtilaf . , isykal . asalah yang sulit dipaham. , serta nasikh . ang menghapu. dan mansukh . ang dihapu. Mensyarah hadis yang meliputi penjelasan bahasa dan balaghah-nya, penjelasan Hadis dari segi hukum Fikih. Akidah, dan Akhlak. Menyimpulkan makna umum hadis. Mengeluarkan nilai-nilai dakwah dan pendidikan yang terkandung dalam hadis. Tahapan-tahapan metode hadis tahlili di atas tidak bersifat mutlak menurut Raid alUbaydi. 9 Dengan demikian tahapan-tahapan tersebut bisa disesuaikan berdasarkan keperluan, dan dapat dipadukan satu sama lain untuk kepentingan efisiensi. Tahapan-tahapan di atas memberikan pemahaman bahwa Hadis tahlili memiliki dua tahapan yang sesuai dengan realitas penelitian ilmiah akademik dalam bidang hadis dan ilmu hadis yaitu analisis nilai atau derajat hadis dan analisis pemahaman matan hadis. Analisis Nilai Atau Derajat Hadis Analisis nilai atau derajat suatu hadis bisa dilakukan dengan menerapkan beberapa langkah sebagai berikut: Takhrij Hadis Takhrij adalah menunjukkan letak asal suatu hadis pada sumber aslinya . erbagai kita. , yang mana di dalam kitab-kitab tersebut dipaparkan hadis secara lengkap sanad dan matannya serta dijelaskan kualitas hadis tersebut untuk kepentingan penelitian. 10 Terdapat beberapa faktor tentang urgen-nya takhrij hadis yaitu: untuk mengetahui asal-usul riwayat hadis yang akan diteliti, untuk mengetahui seluruh riwayat hadis yang akan diteliti dan untuk mengetahui keberadaan syahid . endukung dari kalangan sahaba. serta mutabiAo . endukung dari kalangan Al-Ubaydi, h. Mahmud At-Thahhan. Ushul At-Takhrij wa Dirasatul al-Asanid (Beirut: Dar Al-QurAoan Al-Karim, 1. , h. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Juli - Desember 2025 M. Rifqi Rahman. Hairul Hudaya: Metode Tahlili dalam Hadis: Teori dan Aplikasi tabiAoin dan tabiut tabiAoi. 11 Berdasarkan uraian di atas dapat penulis simpulkan bahwa takhrij adalah menyebutkan asal-usul hadis yang sedang diteliti dari sumber aslinya terutama dalam kutubu tisAoah lengkap dengan sanad dan matannya serta menilai kualitas hadis tersebut. Terdapat beberapa metode yang bisa dilakukan dalam meneliti hadis berdasarkan kitabkitab hadis. Menurut Syuhudi Ismail ada dua metode yang digunakan dalam meneliti hadis yaitu takhrijul hadis bil lafz dan takhrijul hadis bil mauduAo. Takhrijul hadis bil lafz adalah menelusuri atau mencari suatu hadis dari sebagian matannya saja, kitab yang digunakan pada metode ini adalah Al-MuAojam Al-Mufahras karya A. J Wensinck. Adapun takhrijul hadis bil mauduAo adalam menelusuri atau mencari suatu hadis berdasarkan topik masalah, bukan pada lafz tertentu dalam matan, kitab yang digunakan pada metode ini adalah Miftah Kunuz As-Sunnah karya A. Wensinck. 12 Takhrij bisa dilakukan secara manual, namun akan lebih mudah apabila dilakukan dengan bantuan perangkat lunak tertentu seperti Maktabah Shamila. IAotibar Al-Hadis Menurut istilah ilmu hadis iAotibar adalah menyertakan sanad-sanad yang lain untuk suatu hadis. Dengan iAotibar, maka akan terlihat dengan jelas seluruh jalur sanad hadis yang meliputi nama para perawinya dan metode periwayatan yang digunakan oleh masing-masing Tujuan dilakukannya iAotibar adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya pendukung . berupa periwayat yang berstatus syahid atau mutabiAo. Menurut Syuhudi Ismail syahid adalah perawi yang berasal dari kalangan atau golongan Sahabat, sedangkan mutabiAo adalah perawi yang berasal dari kalangan atau golongan tabiAoin dan tabiAout tabiAoin. 13 Untuk mempermudah proses iAotibar, maka diperlukan pembuatan syajaratul isnad . kema sana. seluruh sanad hadis. Menurut Raid Al-Ubaydi syajaratul isnad merupakan skema ilustrasi yang menunjukkan perjalanan rantai transmisi antara para perawi yang berbeda-beda dari sebuah Dalam membuat syajaratul isnad sebaiknya dimulai dari skema bagian bawah ke atas, yaitu dari mukharrij . rang yang menukil hadis dalam kitabny. lalu gurunya, kemudian tabiAoin, dan yang terakhir para sahabat yang mendengar hadis dari Nabi SAW. 14 Terdapat 3 hal penting yang harus diperhatikan ketika membuat syajaratul isnad, yaitu: jalur seluruh sanad, nama-nama perawi seluruh sanad dan metode periwayatan yang digunakan oleh masing-masing perawi. Ahmad Izzan. Studi Takhrij Hadis (Kajian Tentang Metodologi Takhrij dan Kegiatan Penelitian Hadi. , 1 ed. (Bandung: Tafakur, 2. Syuhudi Ismail. Metodologi Penelitian Hadis Nabi SAW, 2 ed. (Jakarta: Bulan Bintang, 2. , 44Ae47. Ismail, h. 49Ae50. Al-Ubaydi. Al-Hadits Tahlili Dirasat TaAosiliah Tathbiqiyah, h. Ismail. Metodologi Penelitian Hadis Nabi SAW, h. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Juli - Desember 2025 M. Rifqi Rahman. Hairul Hudaya: Metode Tahlili dalam Hadis: Teori dan Aplikasi Jalur seluruh sanad harus dilukis atau digambarkan dengan jelas, sehingga mudah dalam membedakan antara jalur sanad yang satu dengan jalur sanad yang lainnya. Begitu pula dengan nama para perawi seluruh sanad yang dicantumkan harus cermat, sehingga tidak terdapat kesulitan ketika melakukan jarh wa taAodil dalam kitab-kitab rijal . itab-kitab yang menerangkan keadaan para perawi hadi. Adapun metode periwayatan yang digunakan oleh masing-masing perawi adalah lambang-lambang periwayatan atau yang disebut dengan istilah tahammul wal adaAo. Tahammul wal adaAo adalah proses periwayatan hadis baik menerima atau menyampaikan yang dilakukan oleh para perawi secara ilmiah dengan menggunakan teori dan metode tertentu demi terpeliharanya hadis. Para ulama membagi tahammul wal adaAo menjadi 8 metode, di antaranya adalah: as-samaAo, al-qiraAoah, al-ijazah, al-munawalah, al-mukatabah, aliAolam, al-wasiyyah dan al-wijadah. Menurut jumhur ulama, metode yang tertinggi dari 8 motode tersebut adalah as-samaAo, kemudian al-qiraAoah. Jarh wa taAodil (Kritik sana. Definisi jarh wa taAodil menurut Dr. Ajjaj Khatib adalah suatu ilmu yang membahas tentang hal ihwal para rawi dari segi diterima atau ditolak periwayatannya. 18 Beberapa ulama juga mendefinisikan jarh wa taAodil sebagai ilmu yang membahas tentang para perawi hadis dari segi yang dapat menunjukkan keadaan mereka, baik yang dapat mencacatkan atau membersihkan mereka dengan ungkapan atau lafaz tertentu. 19 Dari definisi tersebut dapat penulis simpulkan bahwa jarh wa taAodil adalah ilmu yang menerangkan tentang kecacatan yang dihadapkan kepada para perawi dan tentang pen-taAodil-annya . emandang lurus perangai peraw. dengan menggunakan kata-kata yang khusus untuk menerima atau menolak riwayat Langkah pertama untuk melalukan jarh wa taAodil adalah seorang pengkaji harus menentukan jalur utama sanad hadis yang ingin dikaji dengan memperhatikan mukharrij-nya. Kemudian biografi pewarinya disajikan dengan pendekatan jarh wa taAodil. Sajian biografi jarh wa taAodil mencakup:20 Nama dan nasab Masa hidup yang bisa mengidentifikasi unsur muAoasara . idup sezaman dengan guru atau Ismail, h. 50Ae51. Dina Sakinah Wijaya dan Nurul Fitri Habibah. AuPeriwayatan Hadis Nabi (Tahammul Wal AdaA. Ilmu Jarh Wa TaAodil Dan Ilmu Nasikh Mansukh Dalam Hadis,Ay El-Sunnah: Jurnal Kajian Hadis Dan Integrasi Ilmu 5, no. Juni 2. : h. 26Ae27, https://doi. org/10. 19109/elsunnah. Fatchur Rahman. Ikhtisar Musthalahu al-Hadis, 1 ed. (Bandung: PT Al-MaAoarif, 1. , 268. Mudasir. Ilmu Hadis (Bandung: Pustaka Setia, 1. , h. Amrulloh. AuMetode Studi Hadis Taull dan Implementasinya,Ay h. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Juli - Desember 2025 M. Rifqi Rahman. Hairul Hudaya: Metode Tahlili dalam Hadis: Teori dan Aplikasi Nama guru dan murid sebagai representasi. Nama guru dan murid yang disajikan harus ada dalam sanad yang sedang dikaji, untuk mengidentifikasi adanya unsur liqa . Penilaian taAodil . enilaian positi. atau jarh . enilaian negati. dari kritikus hadis terhadap perawi yang sedang dikaji. Kesimpulan penilaian jarh wa taAodil perawi berlandaskan indikator-indikator yang ada. Menurut Syuhudi Ismail terdapat dua kaidah utama dalam penelitian matan, yaitu kaidah mayor dan kaidah minor. Kaidah mayor dalam penelitian matan hadis adalah terhindar dari syadz dan illah. 21 Menurut Imam Asy-SyafiAoe Syadz adalah hadis yang diriwayatkan oleh perawi yang tsiqah . , tetapi riwatnya bertentangan dengan riwayat yang dikemukakan oleh banyak periwayat yang tsiqah . 22 Sedangkan illah menurut Nururddin AoItr adalah sebab tersembunyi yang masuk ke dalam hadis, sehingga merusak kesahihannya. 23 Adapun kaidah minor dalam meneliti kualitas matan hadis, yaitu tidak bertentangan dengan Al-QurAoan, tidak bertentangan dengan hadis yang lebih kuat dan tidak bertentangan dengan akal sehat, fakta sejarah, ilmu sosial serat etika. Analisis Pemahaman Matan Hadis (Kritik Mata. Menurut Syuhudi Ismail terdapat dua kaidah utama dalam penelitian matan, yaitu kaidah mayor dan kaidah minor. Kaidah mayor dalam penelitian matan hadis adalah terhindar dari syadz dan illah. 25 Menurut Imam Asy-SyafiAoe Syadz adalah hadis yang diriwayatkan oleh perawi yang tsiqah . , tetapi riwatnya bertentangan dengan riwayat yang dikemukakan oleh banyak periwayat yang tsiqah . 26 Sedangkan illah menurut Nururddin AoItr adalah sebab tersembunyi yang masuk ke dalam hadis, sehingga merusak kesahihannya. Terdapat tiga tahap metodologi dalam meneliti matan hadis, yaitu meneliti kualitas sanad, meneliti susunan lafaz yang semakna dan meneliti kandungan matan hadis. 28 Dalam kegiatan penelitian hadis, para ulama terlebih dahulu meneliti kualitas sanad hadis sebelum meneliti kualitas Noor Annisa Fajriani dkk. AuTakhrij Hadis Penghormatan Kepada Nabi Muhammad Dan Pemaknaannya Dari Perspektif Sosiologi,Ay Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan Dan Kemasyarakatan 17, 3 . Mei 2. : h. 2097, https://doi. org/10. 35931/aq. Mahsyar Idris. AuTelaah Kritis Terhadap Syaz Sebagai Unsur Kaedah Kesahihan Matan Hadis,Ay Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis 6, no. : h. 75, https://doi. org/10. 24252/tahdis. Rajab. AuMuAoaradah Sebagai Metode Memahami AoIllah Pada Matan Hadis,Ay Jurnal Al-Mubarak: Jurnal Kajian Al-QurAoan Dan Tafsir 6, no. Juni 2. : h. 97, https://doi. org/10. 47435/almubarak. Fajriani dkk. AuTakhrij Hadis Penghormatan Kepada Nabi Muhammad Dan Pemaknaannya Dari Perspektif Sosiologi,Ay h. Fajriani dkk. , h. Idris. AuTelaah Kritis Terhadap Syaz Sebagai Unsur Kaedah Kesahihan Matan Hadis,Ay h. Rajab. AuMuAoaradah Sebagai Metode Memahami AoIllah Pada Matan Hadis,Ay h. Mushlihati Mushlihati dan Hairul Hudaya. AuKelembutan dalam Rumah Tangga sebagai Tanda Kebaikan: Studi Takhrij Hadis dan Pemaknaan dengan Pendekatan Psikologi,Ay Jurnal Ilmiah Ilmu Ushuluddin 21, no. Desember 2. : h. 152, https://doi. org/10. 18592/jiiu. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Juli - Desember 2025 M. Rifqi Rahman. Hairul Hudaya: Metode Tahlili dalam Hadis: Teori dan Aplikasi 29 setelah sanad hadis yang diteliti diketahui kualitas dan kuantitasnya, maka langkah selanjutnya adalah meneliti susunan lafaz yang semakna. Meneliti susunan lafaz yang semakna dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya ziyadah dan idraj. Ziyadah pada matan adalah tambahan lafaz atau kalimat yang terdapat pada matan yang dilakukan oleh perawi tertentu, namun perawi yang lain tidak melakukan hal tersebut. 30 Sedangkan idraj adalah adanya sisipan dalam matan hadis baik itu perkataan perawi atau hadis lain yang bersambung dengan matan hadis tanpa adanya keterangan, 31 sehingga menimbulkan dugaan bahwa sisipan tersebut berasal dari Nabi. Berdasarkan pengertian di atas, maka ziyadah dan idraj memiliki kemiripan, yaitu tambahan yang ada pada riwayat matan hadis, akan tetapi Syuhudi Ismail membedakan antara keduanya dengan mengatakan bahwa idraj berasal dari diri perawi, sedangkan ziyadah . ang memenuhi syara. merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari matan hadis Nabi. Seletah selesai meneliti susunan lafaz yang semakna, maka langkah selanjutnya adalah meneliti kandungan matan hadis. Meneliti kandungan matan hadis merupakan kaidah minor dalam menilai kualitas matan Meneliti kandungan matan hadis bertujuan untuk mengetahui hadis yang diteliti tidak bertentangan dengan Al-QurAoan, tidak bertentangan dengan hadis yang lebih kuat dan tidak bertentangan dengan akal sehat, fakta sejarah, etika serta ilmu sosial. Aplikasi Metode Tahlili Terhadap Suatu Hadis Analisis Nilai atau Derajat Hadis Auayyuma rajulin qala li akhihi ya kafir, fa qad baAoa biha ahaduhumaAy. Penulis akan mengaplikasikan metode hadis tahlili pada suatu hadis yang bisa dijadikan representasi. Di sini penulis akan menganalisis hadis yang dianggap baik dari segi sanad ataupun baik dari segi matan. Penulis memilih hadis yang bisa dijadikan sebagai hujah yaitu hadis Auayyuma rajulin qala li akhihi ya kafir, fa qad baAoa biha ahaduhumaAy. UA I NEE I I O NEE INIAUA I NEE I OIAUA OI IEEA:AI uIOE CEA A. A AC N INAUA O EAA:A AIO E CE EONA:AI OE NEE AEO NEE EON OEI CEA Ismail. Metodologi Penelitian Hadis Nabi SAW, h. Asih Pertiwi. AuSyarah Al-Mujtaba : Melacak Intertekstualitas Syarah al-Sindi Terhadap al-Suyuti,Ay Mashdar: Jurnal Studi Al-QurAoan Dan Hadis 1, no. Juni 2. : h. https://doi. org/10. 15548/mashdar. Muhammad Irfan. AuKaidah Kesahihan Hadis Dan Penerapannya Dalam Penelitian Hadis,Ay ANWARUL 2, no. Desember 2. : 598, https://doi. org/10. 58578/anwarul. Ismail. Metodologi Penelitian Hadis Nabi SAW, h. Fajriani dkk. AuTakhrij Hadis Penghormatan Kepada Nabi Muhammad Dan Pemaknaannya Dari Perspektif Sosiologi,Ay h. Bukhari. Sahih Al-Bukhari (Mesir: As-Sultaniah, 1. Jilid 8. No. 6104, h. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Juli - Desember 2025 M. Rifqi Rahman. Hairul Hudaya: Metode Tahlili dalam Hadis: Teori dan Aplikasi Telah menceritakan kepada kami Ismail berkata: telah menceritakan kepadaku Malik, dari Abdullah bin Dinar dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah shallallahu Aoalaihi wa salam bersabda :AySiapa saja yang berkata kepada saudaranya Aohai kafirAo, maka salah satu di antara keduanya kembali dengannya . Ay Penulis pada tahap ini akan melakukan analisis nilai atau derajat hadis yang meliputi: takhrij hadis, jarh wa taAodil jalur utama sanad, analisis jalur utama sanad, iAotibar seluruh jalur sanad. Dan analisis pemahaman matan hadis yang meliputi meneliti kesesuaian lafaz matan yang semakna dan meneliti kandungan matan. Takhrij Hadis Hadis Abdullah bin Umar di atas diriwayatkan oleh 5 mukharrij hadis terkemuka dalam kitab mereka masing-masing. Lima mukharrij terkemuka tersebut adalah: Bukhari dalam Shahih Bukhari, kitab Adab, bab man kafara akhahu bighairi taAowil fa huwa kama qala no 6104. Muslim dalam Shahih Muslim, kitab al-iman, bab bayan hal iman man qalali akhihi almuslim ya kafir no 6. Abu Daud dalam Sunan Abi Daud, kitab sunnah, bab ad-dalil Aoala ziyadati al-iman wa nuqsanihi no 4687. Tirmidzi dalam Sunan Tirmidzi, kitab al-iman Aoan rasulillah shalallahu Aoalaihi wa salam, bab ma jaAoa fi man rama akhahu bikufrin no 2637. Imam Malik dalam MuwathoAo, kitab al-kalam, bab ma tukrahu min al-kalam no 3606. Berdasarkan informasi di atas, ditemukan kelengkapan matan hadis yang sedang ditelili. Bunyi teks hadis secara lengkap sebagai berikut : Shahih Bukhari, kitab Adab, bab man kafara akhahu bighairi taAowil fa huwa kama qala no a a UA a II aI a NEEa I aI a aIa O NEE INIAUA a II aI a NEEa I aI aOIa sAUAEA a aAOE CA U aA a acaaOI aIEA:AEA a acaIa u IIaA a a a a aA AaIOa sE CA:AEA ca AA A. Aa a aINaA a aAOE NEEa AEO NEE EON OEI CA a AaI a aA a A Aa aC I aa Na AUA aO aEA aA:AE EaONA aa Shahih Muslim, kitab al-iman, bab bayan hal iman man qalali akhihi al-muslim ya kafir no Bukhari. Jilid 8. No. 6104, h. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Juli - Desember 2025 AAM. Rifqi Rahman. Hairul Hudaya: Metode Tahlili dalam Hadis: Teori dan AplikasiAA acaIa aaO a IE a I aI aa aIO aa Aa UAacaIa aIa acI a I aI a I sAa UAO aI a NEEa I aI aIaIsO Ca aEAa :AacaIa aa IO a NEEa I aI a aIaA a UA II aaIAa s Aa UA aI I aI a aIa acA AaNa Aa aC I aa aNaA Aac AEO NEE EON OEI Ca aA AEA A :Aua a aEac acA AaI EIa acA AE a aE aA AA36AA Aa a aINa AA. a Aas aA Aa aA As aA a AOEA AaO aacaIa IaO aO I aI IaO aO EacIOI IOAa UAO IaO aO I aI aOI aA AOAa UAOCaa IO aa I aI aOAa UAO aE IO I aI a I aa UOAa UA II u IIa aA Aa aA AOE I aI a I aA sAa UA II aI a NEEa I aI aOIa s IacNa aaI a I aI a aIaA AI aI a I aA s A UACa aA AE IaO aO I aI IaO aOA :A IA Aa aI u IIa aA a a AOE NEEa AEO NEE EON OEIA A :AaIOa I a s Ca a a a aA Aa a aINaAUAA AE a a aA AOEA :ACa aA AOa aC aA AIA AE EaONAa :AO aEA aA Ua aC I aa Na aA AA37AA A aEaIO aN AA. Aua II aE aI aE aI Ca aA AEAa UAOuaacE a a a IA AAc. Sunan Abu Daud, kitab sunnah, bab ad-dalil Aoala ziyadati al-iman wa nuqsanihi no 4687. AEA AEA :ACa aA AIO aE I aI a IaO aI Aa UA II aaIAa s Aa UA aI I aI a aIa Ca aA acaIa aI aI aI I aI aa aIO a UAI a a UOAa UA II Aa aA AOE NEEa AEO NEE EON OEIAA :AaIOa a a sE aI IEasI a IE a a aUE aI IEa UI Aaua II aE aI aEAaU aOuaacE aE aI aN aOA Aa a aA AA38AA AEI aEa. AAd. Sunan Tirmidzi, kitab al-iman Aoan rasulillah shalallahu Aoalaihi wa salam, bab ma jaAoa fi manAA AArama akhahu bikufrin no 2637. AasA a Aa a aa s a aA AEA:AA Aac AEO NEE EON OEI Ca aA acaIa Caa IO a UA II aIEEAa UA II aI NEE II OIa Aa UAI II a aIa UAI EIa a aIIOa sE Ca a a a a aA a AA39AA Aa a aINaA. AE EaONAa :AEAUAA Ua aC I aa Na aA a AAe. MuwathoAo, kitab al-kalam, bab ma tukrahu min al-kalam no 3606. AE a II aI a NEEa I aI aOIa s Aa UA II aI a NEEa I aI a aIa u acA AEAa :AI IIA AOE NEEa AEO NEE EON OEI Ca aA AaI a a aA AaIEa UA ACa a a a a aA a AA40AA Aa a aINaA. AE EaONAa :AEAUA Ua aC I aa Na aA AAMuslim. Sahih Muslim (Turki: Dar Al-ThabaAoah Al-AoAmirah, 1. Jilid 1. No. 60, h. AAMuslim. Jilid 1. No. 60, h. 56Ae57. AA38AA abu Daud. Sunan Abi Daud (India: Al-MathbaAoah Al-Anshariah, 1. Jilid 4. No. 4687, h. AA39AA at-Tirmidzi. Sunan At-Tirmidzi (Beirut: Dar Al-Magrib Al-Islami, 1. Jilid 4. No. 2637, h. AA40AA AAMalik. MuwathoAo (Emirate: MuAoasasah zaid bin sultan, 2. Jilid 5. No. 3606, h. AA36AA AA37AA al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan HaditsAA AAVol. 4 No. Juli - Desember 2025AA AA245AA Rifqi Rahman. Hairul Hudaya: Metode Tahlili dalam Hadis: Teori dan Aplikasi Jarh Wa TaAodil Jalur Utama Sanad (Kritik Sana. Jalur utama sanad hadis Auayyuma rajulin qala li akhihi ya kafir, fa qad baAoa biha ahaduhumaAy. Yang di riwayatkan oleh Imam Bukhari mempunyai 4 perawi yaitu: Ismail . Malik. Abdullah bin Dinar, dan Abdullah bin Umar. Selanjutnya penulis akan menjabarkan biografi para perawi tersebut dengan pendekatan ilmu jarh wa taAodil. Abdullah bin Umar . -655M) Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Umar bin Nufail. Beliau dikenal dengan sebutan Ibnu Umar. Beliau lahir satu tahun sebelum Nabi Muhammad diangkat menjadi Nabi. Beliau wafat di Mekah pada tahun 73 H. Beliau termasuk salah satu sahabat Nabi yang paling banyak meriwayatkan hadis. Selain meriwayatkan hadis dari Nabi secara langsung, beliau juga meriwayatkan hadis dari para sahabat Nabi yang lain, di antarnya adalah: Umar bin Khatab . yah belia. dan Hafsah binti Umar (Saudari belia. Beliau juga memiliki banyak murid, diantaranya adalah: Abdullah bin Dinar dan NafiAo. Abdullah bin Umar masuk islam bersama dengan ayahnya ketika beliau masih kecil dan ikut hijrah ke Madinah bersama Peperangan pertama yang beliau ikuti adalah perang khandaq, selain itu beliau juga ikut perang MuAotah bersama JaAofar bin Abu Thalib, fathu mekah dan perang yamruk dalam penaklukan Mesir. Dengan demikian dapat penulis simpulkan bahwa Abdullah bin Umar pernah rihlah ke Mesir. Nabi memuji Ibnu Umar melalui istri beliau yakni Hafsah binti Umar dengan mengatakan bahwa Ibnu Umar adalah orang yang saleh. 41 Abdullah bin Umar adalah perawi yang tsiqah, karena semua sahabat itu Aoudul. Abdullah bin Dinar Alauddin Mughlathi mengatakan terdapat 3 riwayat tentang tahun wafat Abdullah bin Dinar. Riwayat pertama: tahun 136 H, riwayat kedua: 131 H dan riwayat ketiga: 132. Ibnu saAoad menambahkan bahwa Abdullah bin Dinar wafat pada tahun 127 H. 43 Abdullah bin Dinar memiliki banyak guru dan murid. Guru-guru beliau di antaranya adalah: Abdullah bin Umar. Abu Shalih Dzakwan dan Sulaiman bin Yasar. Ada pun murid-murid beliau di antarnya adalah: Malik bin Anas. SyuAobah bin Al-Hajjaj dan Sufyan bin Uyainah. Dalam konteks periwayatan Hadis. Ibnu MuAoin. Abu ZurAoah. Abu Hatim. Muhammad bin SaAoad. An-NasaAoi. Al-Ijli dan Ibnu Hajar AL-Asqalani berkomentar: tsiqah. 44 Dari kemontar para kritikus di atas dapat penulis simpulkan Bahwa Abdullah bin Dinar adalah perawi yang Izuddin Ibnu Al-atsir. Usudu Al-Ghabah fi MaAorifati Ash-Shahabah (Kairo: Kitabu Asy-SyaAoabi, 1. Jilid 3, h. 340Ae45. AoAlauddin Mughlathi. Ikmal Tahdzib Al-Kamal (Beirut: Dar Al-Kitab Al-AoAlamiah, 2. Jilid 4, 376Ae77. Ibnu Hajar Al-Asqalani. Tahdzib At-Tahdzib (Dubai: JamAoiah Dar Al-barri, 2. Jilid 6, h. Ibnu Hajar Al-Asqalani. Tahdzib At-Tahdzib (Beirut: MuAoassasah Ar-Risalah, 2. Jilid 2, h. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Juli - Desember 2025 M. Rifqi Rahman. Hairul Hudaya: Metode Tahlili dalam Hadis: Teori dan Aplikasi Malik bin Anas. Nama lengkapnya adalah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir bin Amru bin AlHarist bin Ghaiman bin Khatsil bin Amru bin Al-Harist Al-Ashbahi. Beliau lahir pada tahun 93 H di Madinah. 45 Al waqidhi mengatakan bahwa Malik bin Anas wafat pada tahun 179 H di Madinah. 46 Beliau memiliki banyak guru dan murid. Di antara guru-guru beliau adalah: Abdullah bin Dinar dan Suhail bin Abi Shalih. 47Adapun murid-murid beliau di antaranya adalah Muhammad bin Idris Asy-SyafiAoi. Laits bin SaAoad dan Ismail bin Abi Uwais. 48 Dalam konteks periwayatan hadis Ibnu hajar Al-Asqalani berkomentar: Malik bin Anas adalah seorang faqih imam darul hijrah dan imam masyhur. 49 Dari komentar Ibnu Hajar Al-Asqalani tersebut dapat penulis simpulkan bahwa Malik bin Anas adalah perawi yang tsiqah. Ismail bin Abi Uwais Beliau wafat pada tahun 226 H. Beliau banyak memiliki guru dan murid. Di antara guru-gurunya adalah: Malik bin Anas . aman belia. dan Abdul Hamid bin Abi Uwais (Saudara belia. Adapun murid-murid beliau di antaranya adalah: Imam Bukhari dan Ahmad bin Yusuf As-Salami. Dalam konteks periwayatan Hadis. Ahmad bin Hambal berkomentar: la baAoasa bihi. Ibnu MaAoin berkomentar : shuduq. Abu Hatim berkemontar: mahalluhu shuduq. An-NasaAoi berkomentar: dhaif dari komentar para kritikus Hadis di atas, dapat penulis simpulkan bahwa komentar paling negatif . yang tertuju pada Islmail bin Abi Uwais datang dari An-NasaAoi, akan tetapi kalau dilihat secara menyeluruh maka yang paling banyak adalah komentar positif . aAodi. , sehingga Ismail bin Uwais adalah perawi yang bisa dijadikan sebagai hujah, yang mana hal tersebut dikuatkan oleh imam Bukhari yang memasukkan Ismail bin Uwais ini ke dalam kitab Sahih beliau. Kesimpulannya perawi hadis Auayyuma rajulin qala li akhihi ya kafir, fa qad baAoa biha ahaduhumaAy dari Abdullah bin Umar yang diriwayatkan oleh Bukhari seluruhnya bisa dijadikan hujah dalam periwayatan hadis, karena semua perawi di nilai tsiqah kecuali Ismail bin Uwais, akan tetapi masih banyak komentar para kritikus bahwa Ismail bin Uwais adalah perawi yang bisa dijadikan sebagai hujah. Selanjutnya penulis akan menganalisis jalur utama sanad untuk mengetahui tentang ketersambungan sanad tersebut. Syamsuddin Adz-Dzahabi. Tahdzib Tahdzib Al-Kamal fi Asma Al-Rijal (Al-Faruq Al-Hadisiah, 2. Jilid 8, h. Jamaluddin Al-Mizzi. Tahdzib Al-Kamal fi Asma Al-Rijal (Beirut: Muassasah Ar-Risalah, 1. Jilid 27, h. Al-Mizzi. Jilid 27, h. 96Ae98. Al-Mizzi. Jilid 27. No. Ibnu Hajar Al-Asqalani. Taqrib At-Tahdzib (Suria: Dar Al-Rasyid, 1. , h. Adz-Dzahabi. Tahdzib Tahdzib Al-Kamal fi Asma Al-Rijal. Jilid 1, h. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Juli - Desember 2025 M. Rifqi Rahman. Hairul Hudaya: Metode Tahlili dalam Hadis: Teori dan Aplikasi Analisis Jalur Utama Sanad Penulis akan menganalisis jalur sanad utama hadis Auayyuma rajulin qala li akhihi ya kafir, fa qad baAoa biha ahaduhumaAy yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Analisis ini bertujuan untuk mengidentifikasi ketersambungan sanad. Dalam jarh wa taAodil sebelumnya telah dijelaskan bahwa perawi hadis Auayyuma rajulin qala li akhihi ya kafir, fa qad baAoa biha ahaduhumaAy seluruhnya bisa dijadikan hujah dalam periwayatan hadis. Sudah dipastikan juga bahwa antara masing-masing perawi murid dengan gurunya terdapat unsur muAoasara . idup sezama. , liqaAo . , dan adanya hubungan guru murid dalam konteks periwayatan Hadis. Rasulullah Abdullah bin Umar Aoan Abdullah bin Dinar Aoan Malik bin Anas Ismail bin Abi Uwais Bukhari Keterangan: = haddatsana/ni = akhbarana/ni = qola Aoan = Aoan Skema di atas menunjukkan bahwa Bukhari meriwayatkan hadis Auayyuma rajulin qala li akhihi ya kafir, fa qad baAoa biha ahaduhumaAy dari Ismail bin Uwais menggunakan redaksi haddatsana. Ismail bin Abi Uwais dari Malik bin Anas menggunakan redaksi haddatsana. Malik Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Juli - Desember 2025 M. Rifqi Rahman. Hairul Hudaya: Metode Tahlili dalam Hadis: Teori dan Aplikasi bin Anas dari Abdullah bin Dinar menggunakan redaksi Aoan. Abdullah bin Dinar dari Abdullah bin Umar menggunakan redaksi Aoan. Abdulullah bin Umar dari Rasulullah menggunakan redaksi Aoan dan Rasulullah Menyampaikan kepada Abdullah bin Umar dengan menggunakan redaksi Aoqala. Menurut konsep tahamul wal Aoada . etode penerimaan dan penyampaian hadi. redaksi haddatsana menunjukkan unsur ketersambungan sanad, dan redaksi Aoan juga menunjukkan unsur ketersambungan sanad selama perawi murid tidak dikenal sebagai perawi mudallis . ang memanipulasi periwayata. Kesimpulannya adalah bahwa sanad hadis Auayyuma rajulin qala li akhihi ya kafir, fa qad baAoa biha ahaduhumaAy adalah ittisal . , dan seluruh perawinya bisa dijadikan hujah dalam periwayatan Hadis. Selanjutnya penulis akan melakukan iAotibar seluruh jalur sanad dan analisisnya. IAotibar Seluruh Jalur Sanad dan Analisisnya Di sini Penulis akan melakukan IAotibar seluruh jalur sanad sebagai berikut: Skema di atas menunjukkan bahwa hadist Auayyuma rajulin qala li akhihi ya kafir, fa qad baAoa biha ahaduhumaAy riwayat Abdullah bin Umar memiliki satu orang syahid, yaitu Abu Hurairah. Abdullah bin Dinar memiliki 1 tabiAo yaitu NafiAo. Malik bin Anas memiliki 3 tabiAo yaitu Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Juli - Desember 2025 M. Rifqi Rahman. Hairul Hudaya: Metode Tahlili dalam Hadis: Teori dan Aplikasi Ismail bin JaAofar. Fudhail bin AoAzwan dan Ubaidullah bin Dinar. Sedangkan Ismail bin Abi Uwais mempunyai banyak tabiAo dari 4 jalur yaitu: Jalur Muslim: Qutaibah bin SaAoid. Yahya bin Yahya At-Tamimi. Yahya bin Ayub. Ali bin Hujr dan Abdullah bin Numair. Jalur Abu Daud: Jarir bin Abdul Hamid. Jalur Al-Tirmidzi: Qutaibah bin SaAoid. IAotibar jalur sanad ini memastikan terbebasnya hadis dari syudzudz dan Aoillah. Setelah jalur utama sanad yang sudah dinilai muttasil dan perawinya tsiqah dibandingkan dengan seluruh jalur sanad yang ada, hasilnya adalah tidak ditemukan adanya penyimpangan perawi baik dari segi sanad ataupun variasi redaksi matan. Dengan demikian bisa dipastikan bahwa hadis Auayyuma rajulin qala li akhihi ya kafir, fa qad baAoa biha ahaduhumaAy riwayat AoAbdullah bin Umar terbebas dari syudzuz dan Aoillah. Kesimpulan Nilai Hadis: Hasil takhrij memastikan bahwa hadis yang berbunyi Auayyuma rajulin qala li akhihi ya kafir, fa qad baAoa biha ahaduhumaAy adalah hadis yang ditemukan dalam berbagai sumber asli hadis . ashadir asliyya. Hasil dari jarh wa taAodil memastikan bahwa rangkaian perawi yang meriwayatkan hadis ini semua tsiqah, meskipun ada komentar negatif . terhadap Ismail bin Abi Uwais, akan tetapi komentar tersebut tidak mempengaruhi ke-tsiqah-annya karena masih banyak komentar yang positif . aAodi. , dan juga karena Imam bukhari yang dikenal sangat ketat dalam periwayatan Hadis memasukkan riwayat Ismail bin Abi Uwais ke dalam kitab Sahih beliau. Hasil iAotibar jalur utama sanad memastikan bahwa sanad hadis ini muttasil . , sedangkan hasil iAotibar seluruh jalur sanad memastikan tidak adanya indikasi unsur syudzudz dan Aoillah, sehingga kualitas hadis riwayat Abdullah bin Umar di atas bernilai sahih. Adapun kuantitas sanad hadisnya adalah Aoaziz. Analisis pemahaman matan hadis Hadis Auayyuma rajulin qala li akhihi ya kafir, fa qad baAoa biha ahaduhumaAy. (Kritik mata. Meneliti Kesesuaian Lafaz Matan Yang Semakna Hadis yang telah dipaparkan di atas, terdapat 6 hadis dari kitab yang berbeda dengan varian lafaz yang berbeda. Dalam Muwatho Imam Malik terdapat 1 hadis. Sunan Abu Daud 1 hadis. Sahih Muslim 2 hadis. Sunan At-Tirmidzi 1 Hadis dan dalam Sahih Bukhari 1 Hadis. Untuk mempermudah meneliti kesesuaian lafaz, maka penulis membuat tabel sebagai berikut: Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Juli - Desember 2025 M. Rifqi Rahman. Hairul Hudaya: Metode Tahlili dalam Hadis: Teori dan Aplikasi Varian i Varian II Varian I Mukharrij AAC N INA AO EAA AIO E CE EONA Bukhari AAC N INA AEAA AII CE EONA Malik AAuI EI EA OuEA AEA UE IEIA AIO E IEIA Abu Daud AAC N INA AEAA AIO E CE EONA Tirmidzi UAAC N INA A OuEAUAuI EI EI CEA A EONA AO EAA AIO I CE EONA AEI NO EEAA Muslim AAC N INA Au EA EE NA Tabel diatas menunjukkan bahwa pada Varian I terdapat perbedaan antara lafaz AEA dengan A IIAdan A IA. Perbedaan tersebut tidak merubah makna pada hadis, karena ketiga lafaz tersebut memiliki makna yang sama yaitu Ausiapa saja/seorangAy. Adapun pada lafaz A IEIAdan AA juga memiliki makna yang sama, karena umat islam adalah saling bersaudara . alam agam. Pada Varian II meski berbeda lafaz, tetapi maknanya sama yaitu Aumemvonis kafirAy. Sedangkan pada Varian i juga demikian, meski kalimatnya berbeda, akan tetapi maknanya sama, yaitu Aukembali kepada salah satu di antara kepada keduanya . ang memvonis atau divoni. Meneliti Kandungan Matan Imam Bukhari mencantumkan hadis Auayyuma rajulin qala li akhihi ya kafir, fa qad baAoa biha ahaduhumaAy dalam Kitab Adab pada bab man kafara akhahu bighairi taAowil fa huwa kama qala (Barang siapa mengkafirkan saudaranya tanpa penakwilan, maka keadaannya seperti yang dia kataka. Ini mengindikasikan bahwa menurut imam Bukhari memvonis seseorang dengan tuduhan kafir tanpa dasar yang kuat adalah salah satu dari perilaku yang tercela. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fath Al-Bari menjelaskan hadis tersebut dengan mengatakan bahwa seseorang yang mengkafirkan seorang muslim, maka harus diteliti. Apanila ia memvonis tanpa adanya takwil . , maka dia pantas mendapatkan celaan dan tak jarang dia sendirilah yang kafir. Dan apabila dia memvonis dengan adanya takwil . , maka dia pantas mendapatkan celaan, akan tetapi tidak sampai derajat kafir. 51 Sedangkan Imam Malik dalam Syarh An-Nawwi Aoala Shahih Muslim mengatakan barang siapa yang muncul dari Ibnu Hajar Al-Asqalani. Fath Al-Bari (Beirut: Darul Kutub Al-Islamiyyah, 2. Jilid 16. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Juli - Desember 2025 M. Rifqi Rahman. Hairul Hudaya: Metode Tahlili dalam Hadis: Teori dan Aplikasi dirinya perkara yang memungkinkan menyebabkan dirinya kafir dari 99 sudut pandang, akan tetapi dia tetap dalam keimanan dari 1 sudut pandang, maka dia dihukumi tetap dalam Tidak terdapat ayat Al-QurAoan yang secara ekspilis menerangkan larangan memvonis saudara sesama Muslim sebagai kafir. Akan tetapi terdapat ayat Al-QurAoan yang melarang manusia mencaci maki orang lain dan memanggil dengan sebutan yang buruk, sebagai mana yang termaktub dalam surah Al-Hujarat ayat 11: AeOaOI aN Eac aOI aI e aIIa IO aE Oa I a I Ca IOUI aaI II Ca IOsI a eO a II Oac aE IOIa IO a I UO aai aN II aOaE Ia aU aaI II Iaa a s a eO a IIA a A aIA acao a aa AOac aE acI a IO aai aN oacacI OaE aEI aI aIO aII aA aEI OaE aIa aIO a IEaEI aCA A E I aI EI aA a IO aC a I a IEIOaI aOaI II acEIA a a IA U AE aN aI EaE aI IO aIA a A aOeE aiOA AOaa IA Artinya: AuWahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain . boleh jadi mereka . ang diolok-olokkan it. lebih baik daripada mereka . ang mengolok-olo. dan jangan pula perempuan-perempuan . engolok-olo. perempuan lain . boleh jadi perempuan . ang diolok-olok it. lebih baik daripada perempuan . ang mengolok-olo. Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah . setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalimAy. Hadis di atas juga tidak bertentangan dengan hadis yang lain, bahkan hadis lain pun mendukung dan menguatkan larangan memvonis sesama muslim sebagai kafir sebagai mana yang diriwayatkan imam bukhari dari Abu Dzar: a AeEa IA :A a acaaOI IaO aO I aI Oa I aIaA:aA a II aI a NEEa I aI aaOI aAUAeOA a A a aI IAUA aacaIa aI a EI aOA:acaIa aaO aI I aIA a a a AaI a IEA :AOEA a Aac AEO NEE EON OEI Oa aCA ca a aO E aOaE acO a acaNa a II aa a as O NEE IN IacNa aI a EIA A ac a IA a Aac EaO aN ua II aacE O aEI AA aa a a A. AEA a AaNa aE aEA AAE Oa IIO a a UE a aUE aEI aA aOC aOaE Oa IION aEI aE IA a uaacE Ia I a IA a AIa IA Hadis tentang larangan memvonis sesama muslim sebagai kafir ini juga dapat dipahami dengan pendekatan sosiologi agama. Secara sosiologis, agama bersifat individual sekaligus Agama dalam interaksi antar individu menjadi sistem gagasan, sebagai sistem nilai yang menjadi pedoman dan jalan hidup individu yang menganutnya. Adapun pada ranah sosial, agama Malik. Syarh An-Nawawi Aoala Shahih Muslim (Beirut: Darul Kutub Al-Islamiyyah, 2. Jilid 1. Bukhari. Sahih Al-Bukhari. Jilid 8. No. 6045, h. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Juli - Desember 2025 M. Rifqi Rahman. Hairul Hudaya: Metode Tahlili dalam Hadis: Teori dan Aplikasi menjadi alat legitimasi tindakan sosial dan struktur sosial. 54 Pemahaman hadis ini jika ditinjau dengan perspektif sosiologi agama maka terdapat keterkaitan pada ranah kohesivitas sosial dan kontrol sosial. Kohesivitas sosial/kelompok adalah faktor-faktor yang dimiliki kelompok yang membuat anggota kelompok tetap menjadi anggota sehingga terbentuklah kelompok. kohesivitas penting bagi kelompok karena yang menyatukan beragam anggota menjadi satu 55 Kohesivitas kelompok adalah ketertarikan anggota kelompok sehingga termotivasi untuk tetap bertahan didalam kelompok serta bekerjasama dalam mencapai tujuan bersama. Hadis ini berperan krusial dalam menjaga kohesivitas atau kekompakan sosial dalam umat Islam. Karena tuduhan kafir dapat memicu perpecahan, konflik bahkan kekerasan. Maka dengan adanya larangan tuduhan kafir tersebut. Islam ingin menciptakan ikatan persaudaraan yang kuat di antara sesama muslim. Hadis ini juga berfungsi sebagai bentuk kontrol sosial, yakni dengan adanya larangan ini maka umat Islam diharapkan dapat menjaga perilaku mereka dan menghindari tindakan yang dapat merusak keharmonisan umat. KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa Hadis tahlili adalah kajian terhadap suatu hadis Nabi dari segi riwayah dan dirayah, serta mengaitkannya dengan disiplin ilmu lain yang relevan. Terdapat dua tahapan Hadis tahlili yang sesuai dengan realitas penelitian ilmiah akademik dalam bidang hadis dan ilmu hadis, yaitu analisis nilai atau derajat hadis dan analisis pemahaman matan hadis. Analisis nilai atau derajat hadis meliputi takhrij Hadis, jarh wa taAodil jalur utama sanad, analisis jalur utama sanad, iAotibar seluruh jalur sanad. sedangkan analisis pemahaman matan hadis Hadis yang meliputi Meneliti kesesuaian lafaz matan yang semakna dan meneliti kandungan matan. Hasil takhrij menunjukkan bahwa hadis Auayyuma rajulin qala li akhihi ya kafir, fa qad baAoa biha ahaduhumaAy diriwayatkan oleh 5 mukharrij hadis terkemuka dalam kitab mereka masingmasing. Lima mukharrij terkemuka tersebut adalah Bukhari. Muslim. Abu Daud. Tirmidzi dan Malik bin Anas. Hasil kritik sanad menunjukkan bahwa hadis tersebut bisa dijadikan hujah dalam periwayatan hadis, karena semua perawi di nilai tsiqah kecuali Ismail bin Uwais, akan tetapi masih Moh Soehadha. AuMenuju Sosiologi Beragama: Paradigma Keilmuan Dan Tantangan Kontemporer Kajian Sosiologi Agama Di Indonesia,Ay Jurnal Sosiologi Agama 15, no. Juni 2. : h. https://doi. org/10. 14421/jsa. Eko Meinarno dan W. Sarlito Sarwono. Psikologi Sosial, 2 ed. (Jakarta: Salemba Humanika, 2. , h. Purwaningtyastuti Purwaningtyastuti dan Anna Dian Savitri. AuKohesivitas Kelompok Ditinjau dari Interaksi Sosial dan Jenis Kelamin pada Anak-Anak Panti Asuhan,Ay Philanthropy: Journal of Psychology 4, 2 . Desember 2. : h. 122, https://doi. org/10. 26623/philanthropy. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Juli - Desember 2025 M. Rifqi Rahman. Hairul Hudaya: Metode Tahlili dalam Hadis: Teori dan Aplikasi banyak komentar para kritikus bahwa Ismail bin Uwais adalah perawi yang bisa dijadikan sebagai IAotibar Seluruh Jalur Sanad menunjukkan bahwa hadist Abdullah bin Umar di atas memiliki syawahid dan mutabiAo. Kualitas hadis tersebut adalah sahih, sedangkan kuantitasnya adalah Aoaziz. IAotibar Seluruh Jalur Sanad juga menunjukkan bahwa hadis tersebut terbebas dari syudzuz dan Aoillah. Adapun analisis pemahaman matan hadis Hadis menunjukkan bahwa hadis tersebut tidak bertentangan dengan Al-QurAoan dan As-Sunah dan tidak bertentangan dengan ilmu sosial serta Bahkan Hadis ini berperan krusial dalam menjaga kohesivitas atau kekompakan sosial dalam umat Islam. DAFTAR PUSTAKA