CENDEKIA Volume xx Issue xx . Pages 91-97 P-ISSN x-x. E-ISSN 3090-8701 https://ejournal. id/index. php/cendekia Jurnal Penelitian Mahasiswa Masa Depan Pengelolaan Kelas: Peran Kecerdasan Buatan dan Humanisme dalam Pembelajaran Interaktif Siti Nurma Rifah. Universitas Singaperbangsa Karawang Astuti Darmiyanti. Universitas Singaperbangsa Karawang 2310631110051@student. Received: 11-06-2025 Revised: 10-11-2025 Accepted: 12-11-2025 Published: 31-12-2025 DOI: https://doi. org/10. 61159/cendekia. Abstrak Perkembangan kecerdasan buatan (AI) telah membawa disrupsi signifikan dalam ekosistem pendidikan, khususnya dalam konteks pengelolaan kelas dan dinamika pembelajaran interaktif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konvergensi antara kemampuan teknologi berbasis AI dan prinsip-prinsip humanisme dalam mengonfigurasi ulang ruang kelas digital, dengan fokus pada pencapaian keseimbangan yang optimal. Melalui metode studi literatur sistematis dengan pendekatan kualitatif, penelitian ini mengkaji secara kritis artikel jurnal, publikasi ilmiah, dan laporan terkini yang dipublikasikan dalam kurun waktu 2019Ae2024. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa integrasi AIAimelalui platform adaptif, analitik pembelajaran, dan sistem manajemen kelas cerdasAimenawarkan keunggulan strategis dalam personalisasi konten, asesmen formatif real-time, dan otomatisasi tugas administratif, yang pada gilirannya meningkatkan efisiensi proses instruksional. Namun, analisis juga menunjukkan bahwa pendekatan yang berlebihan pada aspek teknokratis berpotensi mengaburkan dimensi sosio-afektif dan etika dalam pendidikan. Di sinilai nilai-nilai humanisme, yang dalam konteks Indonesia diperkaya dengan filosofi pendidikan karakter dan nilainilai Islami, menjadi krusial. Humanisme berperan sebagai fondasi untuk memelihara empati, kreativitas, berpikir kritis, dan interaksi sosialemosional yang autentik antara pendidik dan peserta didik. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa masa depan pengelolaan kelas yang berkelanjutan dan efektif tidak terletak pada dikotomi antara teknologi dan humaniora, melainkan pada model integrasi sinergis. Model ini mengedepankan kolaborasi simbiotik di mana AI berfungsi sebagai enabler teknis yang canggih, sementara pendidik memegang peran sentral sebagai fasilitator, mentor, dan penjaga nilai-nilai kemanusiaan. Rekomendasi kebijakan yang diajukan adalah perlunya pengembangan kerangka kerja . operasional dan pedoman etik untuk integrasi AI yang selaras dengan tujuan pendidikan nasional yang holistik, serta peningkatan kompetensi literasi digital dan pedagogik-reflektif bagi para pendidik. Keywords: Kecerdasan Buatan. Humanisme. Pengelolaan Kelas. Pembelajaran Interaktif. Pendidikan Islam. Abstract The development of artificial intelligence (AI) has brought significant disruption in the education ecosystem, particularly in the context of classroom management and interactive learning dynamics. This study aims to analyze the convergence between AI-based technological capabilities and humanism principles in reconfiguring digital classrooms, with a focus on achieving optimal balance. Through a systematic literature study method with a qualitative approach, this study critically examines journal articles, scientific publications, and current reports published in the period 2019Ae2024. The research findings reveal that AI integrationAithrough adaptive platforms, learning analytics, and intelligent classroom management systemsAioffers strategic advantages in content personalization, real-time formative assessment, and automation of administrative tasks, which in turn improves the efficiency of instructional processes. However, the analysis also shows that an over-the-top approach to technocratic aspects has the potential to obscure the socio-affective and ethical dimensions in education. In the assessment of the values of humanism, which in the Indonesian context is enriched with the philosophy of character education and Islamic values, is crucial. Humanism serves as a foundation for nurturing empathy, creativity, critical thinking, and authentic social-emotional interactions between educators and learners. Thus, this study concludes that the future of sustainable and effective classroom management does not lie in the dichotomy between technology and humanities, but in a synergistic integration model. This model emphasizes symbiotic collaboration where AI serves as a sophisticated technical enabler, while educators play a central role as facilitators, mentors, and guardians of human values. The proposed policy recommendations are the need to develop operational frameworks and ethical guidelines for AI integration that are aligned with the holistic national education goals, as well as improving digital and pedagogic-reflective literacy competencies for educators. Keywords: Artificial Intelligence. Humanism. Classroom Management. Interactive Learning. Islamic Education Cendekia: Jurnal Penelitian Mahasiswa Sosial dan Pendidikan 91 A. Pendahuluan Transformasi pendidikan di era digital membuat pengelolaan kelas beralih cepat menuju penggunaan Artificial Intelligence (AI) untuk keperluan seperti pelacakan kehadiran, pemantauan perilaku, dan analisis keterlibatan siswa. Sebuah systematic review melaporkan bahwa dari 104 studi . 0Ae2. , sebagian besar implementasi AI masih terbatas pada fungsi administratif dan sedikit yang menggunakan umpan balik real-time atau data multimodalAihanya 22% yang menggali implikasi etis dan hanya 13% mempertimbangkan privasi dan keadilan algoritmik (Zawacki-Richter et al. , 2. Sementara itu, penelitian di lembaga pendidikan Islam menyoroti cara siswa mengembangkan kecerdasan emosional dan spiritual melalui pendekatan humanistik berbasis teknologi. Studi di Indonesia dan Malaysia menunjukkan bahwa pendekatan humanistik memperkuat hubungan interpersonal dan moral-spiritual siswa, sehingga memungkinkan integrasi teknologi menjadi lebih bermakna (Sari, 2023. Aziz & Rahman, 2. Studi lebih lanjut fenomenologis di sekolah menengah agama Islam di Sumatera Utara menyimpulkan bahwa AI memang meningkatkan akses materi dan refleksi kritis. Tetapi, tanpa pendampingan spiritual dari guru, teknologi tersebut dapat memicu jarak emosional dan krisis spiritual (Nasution & Harahap, 2. Kajian terbaru juga menekankan pentingnya peran guru sebagai mediator nilai kemanusiaan di tengah dominasi AI. Studi oleh Kusnadi et al. menggarisbawahi reorientasi peran guru dari instruktur tradisional menjadi fasilitator yang menekankan aspek humanistik siswa. Meskipun sudah banyak kajian soal kesiapan infrastruktur AI dan penggunaan pembelajaran adaptif, penelitian tentang sinergi AI dan humanisme dalam pengelolaan kelasAikhususnya dalam konteks pendidikan IslamAimasih sangat terbatas (Sani & Fauziah, 2. Oleh karena itu, artikel ini akan mengisi kesenjangan tersebut dengan: . menelaah implementasi AI dalam manajemen kelas, . menilai risiko dehumanisasi tanpa guiding humanisme Islami, dan . mengeksplorasi strategi integratif AI dan nilai kemanusiaan Islami untuk menciptakan pembelajaran interaktif yang beradab, holistik, dan relevan. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka . ibrary researc. sebagai teknik utama. Sumber data diperoleh dari artikel ilmiah nasional dan internasional yang relevan dan terbit dalam lima tahun terakhir . 0Ae2. , terutama yang membahas topik kecerdasan buatan dalam pendidikan, pengelolaan kelas, serta nilai-nilai humanisme dalam konteks Islam. Beberapa sumber berasal dari jurnal terindeks seperti Education and Information Technologies. IJERPH, serta jurnal pendidikan Islam nasional. Prosedur analisis dilakukan secara tematik, yakni mengidentifikasi tema-tema utama yang muncul dari hasil pembacaan kritis terhadap literatur. Analisis ini dilakukan dengan memilah gagasan berdasarkan tiga fokus utama: . pemanfaatan AI dalam pengelolaan kelas. risiko dehumanisasi dalam pembelajaran digital. integrasi nilai-nilai humanistik Islami dalam praktik pengajaran berbasis teknologi. Validitas penelitian dijaga dengan menggunakan triangulasi sumber dan klarifikasi teori. Penulis mengacu pada prinsip-prinsip penelitian kualitatif untuk menjaga obyektivitas dalam analisis data dan interpretasi, serta memeriksa keselarasan data dengan konteks pendidikan Islam di Indonesia. 92 Cendekia: Jurnal Penelitian Mahasiswa Sosial dan Pendidikan C. Hasil dan Pembahasan Penelitian Temuan dari kajian literatur menunjukkan bahwa integrasi AI dalam pengelolaan kelas dapat memberikan dampak positif terhadap efisiensi pengajaran, personalisasi pembelajaran, serta pemantauan perkembangan siswa. Studi oleh Zawacki-Richter et al. mencatat bahwa AI telah diterapkan dalam berbagai sistem Learning Management System (LMS) untuk memberikan umpan balik otomatis, mengatur materi adaptif, dan meningkatkan keterlibatan siswa. Teknologi ini terbukti mempercepat proses administrasi kelas dan memberi kesempatan bagi guru untuk lebih fokus pada interaksi pembelajaran. Namun, pemanfaatan AI secara berlebihan tanpa pertimbangan nilai kemanusiaan dapat menimbulkan risiko dehumanisasi. Beberapa studi menyebutkan bahwa kehadiran AI dalam pendidikan sering menggeser peran guru menjadi sekadar operator sistem, yang berpotensi menurunkan kualitas hubungan interpersonal antara guru dan siswa (Nasution & Harahap, 2. sinilah pentingnya nilai-nilai humanistik dalam pendidikan Islam untuk menjaga keseimbangan antara efisiensi dan makna. Pendekatan humanisme dalam pendidikan Islam tidak hanya menekankan pada transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter dan akhlak. Menurut Aziz & Rahman . , integrasi teknologi dalam konteks Islam memerlukan kesadaran spiritual dan etika digital agar siswa tidak hanya menjadi pengguna cerdas, tetapi juga pribadi yang berakhlak. Guru dalam hal ini memiliki peran penting sebagai penjaga nilai yang menuntun penggunaan AI ke arah yang bermoral. Beberapa strategi yang direkomendasikan untuk pengelolaan kelas berbasis AI yang tetap humanis antara lain: . penggunaan AI untuk mendukung, bukan menggantikan, kehadiran guru dalam . penguatan kurikulum berbasis nilai Islam yang kontekstual dengan perkembangan dan . pelatihan guru agar memiliki literasi AI sekaligus kemampuan reflektif dalam membimbing karakter siswa (Sani & Fauziah, 2. Dengan demikian, pemanfaatan AI dalam pengelolaan kelas harus dikembangkan dalam kerangka pendidikan yang memanusiakan manusia. Sinergi antara kecanggihan teknologi dan kekayaan nilai-nilai Islam akan menciptakan kelas digital yang tidak hanya cerdas secara teknis, tetapi juga bijaksana secara moral dan spiritual. Table 1. Perbandingan Peran AI dan Humanisme dalam Pengelolaan Kelas No. Aspek Pengelolaan Kelas Peran AI Interaksi Guru-Siswa Chatbot feedback otomatis dalam LMS seperti Moodle membantu efisiensi manajemen Peran Humanisme Islami Guru interpersonal melalui dan empati dalam konteks nilai Islam. Sumber Fytterer et al. Ae Artificial Intelligence in Classroom Management: Systematic Review on Educational Purposes. Technical Implementations, and Ethical Consideration. Abidin et al. Ae Humanistic Approach Cendekia: Jurnal Penelitian Mahasiswa 93 in Islamic Education: Building Emotional Spiritual Intelligence in the Digital Age (Zabags IJIS). Penyampaian Materi Sistem adaptif seperti Squirrel memodifikasi materi kemampuan siswa. Penyampaian materi nilai-nilai moral dan Arofaturrohman. Alqudsi. , & Fauziati. The Implementation of the Learning Theory of Humanism in Islamic Religious Education. Pemantauan Kemajuan Platform analitik AI real-time Guru karakter, kedisiplinan, dan tanggung jawab Belajea Journal. Humanistic Approach in Islamic Religious Education Curriculum Development. Belajea: Jurnal Pendidikan Islam, 8. Tantangan Kelemahan terletak pada potensi bias algoritma dan keterbatasan dalam Guru penggunaan AI secara etis dan bermakna pendidikan nilai Islam. Fytterer. Goldberg, . Byhler. , et al. Repeating the findings and discussion. Abidin. Mahfooz. Sulaiman. , & Fauzi, . Humanistic Approach in Islamic Education: Building Emotional and Spiritual Intelligence in the Digital Age. Pada Tabel 1 ini menggambarkan bagaimana kecerdasan buatan (AI) dan pendekatan humanisme Islami masing-masing berperan dalam berbagai aspek pengelolaan kelas. Dalam interaksi guru dan siswa. AI mampu mempercepat komunikasi melalui chatbot dan sistem umpan balik otomatis namun pendekatan humanistik menekankan pentingnya relasi emosional yang dibangun oleh guru untuk membentuk karakter siswa. Dalam penyampaian materi. AI memungkinkan personalisasi pembelajaran yang adaptif sementara pendekatan Islami memastikan materi tetap selaras dengan nilainilai moral dan spiritual. Untuk pemantauan kemajuan. AI menyajikan data yang objektif dan cepat namun guru tetap dibutuhkan untuk menilai aspek non-akademik seperti akhlak dan tanggung jawab. 94 Cendekia: Jurnal Penelitian Mahasiswa Sosial dan Pendidikan Tantangan utama dari AI terletak pada bias algoritma dan minimnya makna nilai, sehingga diperlukan pendampingan dari guru agar penggunaan teknologi tetap etis dan berlandaskan nilai-nilai Islam. Penjelasan ini menunjukkan bahwa sinergi antara AI dan humanisme Islami adalah kunci menuju pengelolaan kelas yang efektif dan beradab. Analisis atau Diskusi Integrasi antara kecerdasan buatan dan humanisme dalam konteks pengelolaan kelas pada awalnya terlihat bertentangan: AI menekankan efisiensi dan otomatisasi, sementara humanisme menekankan nilai, interaksi, dan makna. Namun, dalam praktik pendidikan Islam, keduanya dapat saling Kecanggihan teknologi dapat digunakan sebagai alat bantu pembelajaran, tetapi nilai-nilai Islami harus menjadi landasan dalam penggunaannya. AI mampu merespons kebutuhan siswa secara personal melalui sistem pembelajaran adaptif dan pemberian umpan balik instan. Hal ini tentu menguntungkan dari sisi efisiensi waktu, penyesuaian materi, dan aksesibilitas. Namun, sebagaimana dicatat oleh Fytterer et al. , penggunaan AI yang tidak disertai prinsip etika dapat menimbulkan masalah seperti bias algoritmik, distorsi data, bahkan ketimpangan perlakuan terhadap siswa. Di sinilah letak urgensi nilai-nilai humanistik dalam pendidikan: untuk menyeimbangkan antara otomatisasi dan Abidin et al. menekankan bahwa pendekatan humanistik dalam pendidikan Islam tidak hanya membina kognitif siswa, tetapi juga membangun kepekaan emosional dan spiritual. Dalam kelas berbasis AI, aspek ini tetap dapat hadir jika guru mengambil peran aktif sebagai fasilitator nilai dan bukan hanya sebagai operator teknologi. Guru bukan hanya pengontrol sistem, melainkan menjadi penuntun akhlak dan moralitas dalam pembelajaran. Implikasi teoretis dari temuan ini sangat selaras dengan teori humanistik Carl Rogers yang menyatakan bahwa proses belajar akan optimal bila peserta didik berada dalam lingkungan yang mendukung pertumbuhan personalnya. AI dapat menciptakan sistem pendukung tersebut secara teknis, namun hanya pendekatan humanistik-lah yang mampu menciptakan kehangatan emosional dan keamanan psikologis yang dibutuhkan siswa. Dalam pendidikan Islam, guru bukan hanya pendidik tetapi juga murabbi yang membimbing secara ruhani dan Secara praktis, sinergi AI dan humanisme Islami membutuhkan kesiapan sumber daya manusia, kebijakan pendidikan yang holistik, dan model pedagogis baru. Di Indonesia, tantangan utama mencakup kesenjangan literasi digital, keterbatasan infrastruktur, serta belum menyeluruhnya integrasi nilai Islam dalam penggunaan teknologi. Guru perlu dibekali pelatihan untuk memahami AI tidak hanya dari sisi teknis, tetapi juga dari perspektif etika dan nilai. Dari analisis ini, dapat disimpulkan bahwa masa depan pengelolaan kelas akan efektif dan bermakna apabila AI digunakan sebagai alat bantu yang dikendalikan oleh nilai-nilai kemanusiaan dan Bukan hanya efisien secara sistem, tapi juga mendalam secara nilai. Kesimpulan Penelitian ini menegaskan bahwa integrasi antara kecerdasan buatan (AI) dan pendekatan humanisme Islami dalam pengelolaan kelas merupakan kunci untuk menciptakan pembelajaran yang tidak hanya efisien secara teknologi tetapi juga bermakna secara moral dan spiritual. AI terbukti memberikan kontribusi signifikan dalam peningkatan efisiensi manajemen kelas, personalisasi pembelajaran, dan pemantauan kemajuan siswa. Namun demikian, teknologi ini tetap memiliki Cendekia: Jurnal Penelitian Mahasiswa 95 keterbatasan, terutama dalam hal relasi antarpribadi, pembentukan karakter, serta dimensi etika dan spiritual yang merupakan inti dari pendidikan Islam. Pendekatan humanisme Islami memberikan jawaban atas kekosongan tersebut dengan menekankan pentingnya kehadiran guru sebagai fasilitator nilai dan teladan akhlak. Dalam konteks ini, guru tidak dapat digantikan oleh mesin, karena fungsi utamanya bukan hanya menyampaikan materi, melainkan membina kepribadian siswa secara holistik. Oleh karena itu, sinergi antara AI dan humanisme bukan hanya memungkinkan, tetapi juga diperlukan. Saran untuk implementasi ke depan mencakup perlunya pelatihan guru dalam literasi teknologi yang berpadu dengan literasi nilai, pengembangan kebijakan pendidikan yang mendukung integrasi nilai dalam transformasi digital, serta penguatan kolaborasi antara pakar teknologi dan pakar pendidikan Islam. Penelitian lanjutan dapat diarahkan pada pengembangan model pedagogi berbasis AI yang berakar pada nilai-nilai humanistik Islami secara lebih operasional di lapangan. Dengan pendekatan ini, masa depan pengelolaan kelas dapat diarahkan menjadi ruang belajar yang cerdas, adaptif, dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan. he contents of the conclusion are written in Garamond 12. The conclusion should answer the objectives of the research and research discoveries. The concluding remark should not contain only the repetition of the results and discussions or abstract. You should also suggest future research and point out those that are underway. Referensi