Manna Rafflesia, 8/2 (April 2. https://s. id/Man_Raf Manna Rafflesia, 9/2 (April 2. https://s. id/Man_Raf P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 Manna Rafflesia Article History: Submitted : 04/08/2025 Reviewed : 14/09/2025 Accepted : 17/10/2025 Published : 31/10/2025 ISSN: 2356-4547 (Prin. , 2721-0006 (Onlin. Vol. No. Oktober 2025, . , https://s. id/Man_Raf Published By: Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu TEOLOGI DIGITAL DAN RELEVANSI MISI GEREJA DI ERA VIRTUAL: STUDI KRITIS EVANGELISASI ONLINE DI KALANGAN GENERASI MILENIAL DAN GEN Z Bambang Sriyanto1*). Aji Suseno2 1Sekolah Tinggi Teologi Efata, 2Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia Email Correspondence: drbambangsriyanto@gmail. Abstract: The sophistication of digital-based technology and communication has shaped a new culture that fundamentally changes the way humans relate to and understand reality, including in their spiritual lives. The Church, as a community of faith, is challenged to redefine its mission of proclaiming the Gospel to align with the dynamic and complex communication patterns of the digital generation. Unfortunately, many online evangelisation practices remain technical in nature and lack deep theological reflection. Millennials and Gen Z, as digital natives, show an interest in spirituality but feel disconnected from church institutions perceived as irrelevant. This study aims to develop a theology of mission to address the dynamics of digital evangelisation among these younger generations. Through a qualitative approach based on literature review, the conclusion of this study states that digital theology becomes a new foundation for relevant Gospel proclamation in the virtual era, especially in reaching Millennials and Gen Z who live in a digital culture. Online evangelism practices require the development of contextual, ethical, and authentic message-based digital missiology. Therefore, the church needs to reformulate its mission theology as a form of incarnational, dialogical, and transformative witness in the midst of an ever-evolving virtual world. Keywords: Digital Theology. Church Mission. Virtual Era. Online Evangelism. Millennials and Gen Z . Abstraksi : Kecanggihan teknologi dan komunikasi berbasis digital telah membentuk budaya baru yang secara mendasar mengubah cara manusia berelasi dan memahami realitas, termasuk dalam kehidupan beriman. Gereja sebagai komunitas iman ditantang untuk merumuskan ulang misi pewartaan Injil agar selaras dengan pola komunikasi generasi digital yang dinamis dan Namun banyak praktik evangelisasi online masih bersifat teknis dan kurang ditopang oleh refleksi teologis yang mendalam. Generasi Milenial dan Gen Z sebagai digital native menunjukkan ketertarikan terhadap spiritualitas, namun merasa terputus dari institusi gereja yang dianggap tidak relevan. Penelitian ini bertujuan membangun teologi misi dalam menghadapi dinamika evangelisasi digital di kalangan generasi muda tersebut. Melalui pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka. Kesimpulan penelitian ini menyatakan bahwa teologi digital menjadi fondasi baru bagi pewartaan Injil yang relevan di era virtual, khususnya dalam menjangkau generasi Milenial dan Gen Z yang hidup dalam budaya digital. Praktik evangelisasi online menuntut pengembangan misiologi digital yang kontekstual, etis, dan berbasis pada keaslian pesan. Oleh karena itu, gereja perlu mereformulasi teologi misinya sebagai bentuk kesaksian yang inkarnasional, dialogis, dan transformatif di tengah dunia virtual yang terus berkembang. Kata kunci: Teologi Digital. Misi Gereja. Era Virtual. Evangelisasi Online. Generasi Milenial dan Gen Z. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 256 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf PENDAHULUAN Revolusi menciptakan perubahan besar dalam cara generasi Milenial dan Gen Z menyerap nilai-nilai, informasi, dan bahkan pengalaman spiritual. Media sosial telah merevolusi pola literasi digital, di mana Generasi Milenial sumber utama dalam memperoleh informasi, sementara Generasi Z menunjukkan kecenderungan yang lebih tinggi dalam berbagi informasi serta berinteraksi secara aktif dengan berbagai konten melalui platform-platform digital yang mereka gunakan secara khusus. Media sosial juga memiliki peran signifikan dalam membentuk pola interaksi sosial Generasi Z, yang memanfaatkannya untuk membangun relasi dengan teman-temannya yang sebaya, yang mana hal itu membentuk identitas diri, serta terlibat dalam komunitas-komunitas virtual. Meskipun berpotensi menimbulkan interaksi yang bersifat dangkal serta menurunkan kemampuan komunikasi langsung, yang pada gilirannya dapat memengaruhi perkembangan keterampilan sosial dan empati mereka. 2 Para generasi ini sebagai digital natives, mereka lebih akrab dengan narasi-narasi yang dibangun melalui media sosial, kanal streaming, dan forum digital ketimbang dengan model tradisional seperti mimbar atau katekisasi formal dikala dalam pembangunan kerohanian mereka. sisi lain, dominasi mereka dalam ruang digital dibarengi dengan meningkatnya Ahmad Salman Farid. AuDynamics of Changes in Literacy Culture in the Social Media Era: Comparative Study of the Millennial Generation and Generation Z,Ay KnE Social Sciences, 2024, 627Ae43, https://doi. org/10. 18502/kss. Hana Apriyanti et al. AuKeterlibatan Penggunaan Media Sosial Pada Interaksi Sosial Di Kalangan Gen Z,Ay Sosial Simbiosis 1, no. : 229Ae37, https://doi. org/10. 62383/sosial. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 Apalagi dewasa ini gereja tampak kurang optimal dalam mengembangkan karunia Roh Kudus di kalangan jemaat awam, khususnya di antara Generasi Z. Akibatnya, menjangkau dan membangun pemuridan generasi ini, tetapi juga mengalami stagnasi dalam memperkuat dan memfasilitasi pertumbuhan karuniakarunia Roh Kudus yang seharusnya dapat membentuk kapasitas spiritual mereka di tengah arus budaya digital keterlibatan mereka. Karena itu, gereja perlu hadir secara kontekstual dalam ruang-ruang digital tersebut sebagai bagian dari strategi misi yang responsif terhadap perkembangan zaman. Fenomena ini menunjukkan pergeseran paradigma dalam relasi antara iman dan media, di mana gereja tidak lagi menjadi satu-satunya otoritas penafsir kebenaran spiritual. Apalagi persoalan pada lingkungan digital membuka ruang bagi personalisasi dan fleksibilitas dalam otoritas keagamaan, di mana setiap individu memiliki kebebasan untuk memilih konten keterlibatannya, serta mengatur durasi interaksi sesuai dengan preferensi 4 Memang tidak dipungkiri dalam ruang digital memberi akses luas mengeksplorasi iman secara personal dan instan. Namun, muncul juga persoalan serius, apakah praktik evangelisasi online yang dilakukan gereja saat ini benar-benar efektif Joni Manumpak Parulian Gultom. AuStrategi Pengembangan Karunia Melayani Dan Memimpin Dalam Gereja Lokal Pada Generasi Z Di Era Digital,Ay Vox Dei: Jurnal Teologi Dan Pastoral , 2022, https://doi. org/10. 46408/vxd. Mynika Andok. AuThe Impact of Online Media on Religious Authority,Ay Religions 15, no. : 1103, https://doi. org/10. 3390/rel15091103. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 257 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf menjawab kebutuhan spiritual generasi digital dan dapat menjangkau dengan Injil bagi mereka yang belum pernah mengenal Yesus. Memang diakui ada banyak gereja telah mencoba masuk ke dunia digital melalui live streaming ibadah, konten video renungan, dan kampanye misi online. Sebab dalam pelayanan yang dikerjakan di media memnag diakui sangat berguna dan tepat untuk menjangkau setiap pribadi maupun komunal masyarakat yang sulit untuk dijangkau, 5 terlebih bagai generasi Milenial dan Z yang selalu terhubung dengan internet. Meskipun praktik evangelisasi digital terus berkembang, sebagian besar pendekatannya masih bersifat pragmatis dan kurang ditopang oleh refleksi teologis yang mendalam. Ada penelitian yang telah dilakukan oleh Yeremia dalam peneilitiannya yang menekankan bahwa generasi Z yang tumbuh dalam era digital menunjukkan karakteristik unik seperti adaptasi cepat terhadap perfeksionisme di media sosial, dan kelompok yang sulit dijangkau melalui pendekatan gereja tradisional. Meskipun kehadiran teknologi digital membuka peluang baru bagi misi gereja, minimnya kontekstual membuat pewartaan Injil kehilangan daya tariknya di kalangan generasi ini. Oleh karena itu, gereja perlu membangun pendekatan misi dialogis yang relevan di ruang digital dengan memahami kebutuhan spiritual, cara berpikir, serta budaya komunikasi Generasi Z. 6 Penelitian lain yang senada Yosua Feliciano Camerling. Mershy Ch. Lauled, and Sarah Citra Eunike. AuGereja Bermisi Melalui Media Digital Di Era Revolusi Industri 4. 0,Ay Visio Dei: Jurnal Teologi Kristen 2, no. : 1Ae22, https://doi. org/10. 35909/visiodei. Yeremia. AuGereja Dan Generasi Z: Misi Dialogis Pada Ruang Virtual,Ay Excelsis Deo: Jurnal Teologi. Misiologi. Dan Pendidikan 7, no. : 28Ae44. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 juga dilakukan oleh Lurusman Jaya Hia. Hia membahas Gereja virtual hadir sebagai respons adaptif terhadap perubahan digital, menunjukkan bahwa pelayanan misi kini dapat dilakukan secara efektif melalui media sosial dan ruang virtual. Strategi pelayanan digital yang terstruktur, seperti pembentukan tim media sosial gereja, memungkinkan gereja menjangkau Generasi Z dengan konten yang relevan, spiritual, dan Dengan mengintegrasikan teknologi secara kreatif dan teologis, gereja mampu memperluas pengaruh misi Kristus di era digital tanpa kehilangan esensi iman dan komunitas. Dari penelitian terdahulu masih ada celah riset . esearch ga. yang ingin dijawab dalam tulisan ini: yaitu ketiadaan kerangka teologi misi digital yang dapat mengintegrasikan antara konten iman yang real dengan cara penyampaian yang kontekstual, dimana teologi digital menjadi pendekatan baru yang merefleksikan bagaimana iman dan misi gereja dapat diwujudkan dalam ruang virtual. Studi ini mengkritisi praktik evangelisasi online yang dilakukan gereja terhadap Generasi Milenial dan Gen Z, untuk mengevaluasi relevansi misi gereja di tengah budaya digital yang dinamis. METODE Penelitian karya ilmiah ini menggunakan metode kualitatif,8 dengan pendekatan deskriptif-analitis melalui studi pustaka,9 untuk mengkaji secara kritis praktik evangelisasi online dalam perspektif teologi digital dan misiologi Lurusman Jaya Hia. AuStrategi Pelayanan Misi Gereja Di Era Digital Dan Integrasi Terhadap Generasi Zillenial,Ay Danum Pambelum: Jurnal Teologi Dan Musik Gereja 3, 2 . : 187Ae98, https://doi. org/10. 54170/dp. John Creswell. Riset Pendidikan: Perencanaan. Pelaksanaan. Dan Evaluasi Riset Kualitatif & Kuantitatif (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. Lexy J Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif. Remaja Rosdakarya, (Bandung, 2. , 56. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 258 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf Sumber data utama berasal dari Alkkitab dan literatur akademik berupa jurnal-jurnal teologi bereputasi, buku-buku teologi digital, misiologi, serta studi sosial-keagamaan tentang generasi Milenial dan Gen Z. Langkahlangkah yang dilakukan meliputi: pertama, dimulai dengan menelaah konsep teologi digital sebagai fondasi baru pewartaan Injil di era virtual. Selanjutnya, dianalisis karakteristik Generasi Milenial dan Gen Z dalam kaitannya dengan misi digital, disertai evaluasi terhadap praktik evangelisasi online yang berkembang saat ini untuk membangun kerangka misiologi digital Tahap difokuskan pada perumusan ulang teologi misi gereja sebagai kesaksian yang relevan dan transformatif dalam konteks budaya digital. HASIL Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gereja di era digital tidak dapat lagi bergantung pada pendekatan pewartaan Injil yang konvensional semata, melainkan perlu merumuskan ulang teologi misinya secara kontekstual dan relevan dengan dinamika budaya digital masa kini. Sebab pewartaan Injil di ruang virtual tidak hanya menuntut penguasaan teknologi dan media sosial, tetapi juga integrasi nilai-nilai Injil yang otentik ke dalam bentuk komunikasi yang kreatif, dialogis, dan partisipatif, khususnya dalam menjangkau Generasi Milenial dan Gen Z. Hal itu menegaskan bahwa evangelisasi digital yang efektif harus dilandaskan pada etika teologi yang kokoh, menghindari mengutamakan kehadiran gereja sebagai saksi Kristus yang setia dan melayani di dunia maya. Sehingga gereja dipanggil bukan hanya sebagai penyampai konten rohani, tetapi sebagai pembentuk membimbing umat dalam pertumbuhan spiritual yang sehat. Oleh karena itu, reformulasi teologi misi gereja dalam P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 keniscayaan strategis dan teologis, agar Amanat Agung dapat terus dijalankan dengan cara yang transformatif dan eskatologis di tengah perubahan zaman. PEMBAHASAN Teologi Digital Dalam Fondasi Baru Pewartaan Injil di Era Virtual Era digital yang konplek dan semakin berkembang pesat, gereja tidak lagi cukup hanya mengandalkan pendekatan konvensional dan pelayanan di ruang fisik. Tidak dapat disangkal nilai-nilai 10 Terlebih gereja sebagai komunitas orang beriman memegang peranan krusial dalam mengemban misi pewartaan Kristus, yakni menyampaikan kabar keselamatan bagi semua manusia. Namun, pelaksanaan misi ini di era tantangantantangan tersendiri yang harus menjadi perhatian bersama dalam kehidupan 11 Oleh karena itu gereja perkembangan pesat media digital menjadi peluang strategis bagi gereja sebagai bagian dalam membangun ladang pelayanan yang baik dan efektif dalam menjangkau jiwa-jiwa di tengah era virtual. Dan kenyataan yang terjadi bahwa Penginjilan berbasis media sosial merupakan pilihan yang tepat penginjilan di era digital. Sebab dalam Remelia Dalensang and Melky Molle. AuPeran Gereja Dalam Pengembangan Pendidikan Kristen Bagi Anak Muda Pada Era Teknologi Digital,Ay Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen Dan Musik Gereja 5, no. : 255Ae71, https://doi. org/10. 37368/ja. Stepanus Angga and Antonius Denny Firmanto. AuDigital Ecclesia Sebagai Gereja Sinodal Yang Mendengarkan,Ay DUNAMIS: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani 8, no. : 170Ae83, https://doi. org/10. 30648/dun. Feyby Martince Goha. AuPenginjilan Berbasis Media Sosial: Suatu Strategi Misi Di Era Digital Serta Relevansinya Dalam Kehidupan Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 259 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf pelayanan media terbukti menjangkau banyak jiwa secara lebih luas dengan mengadakan pelayanan media baik elektronik maupun cetak 13 dan memang bermanfaat dalam menjangkau individu atau komunitas yang sulit dijangkau secara konvensional. Lebih dari itu, pelayanan media digital juga memiliki dimensi eskatologis, yakni mempercepat Amanat Agung sebagaimana tertulis dalam Matius 24:14, bahwa Injil Kerajaan akan diberitakan ke seluruh dunia sebagai kesaksian bagi segala bangsa sebelum Dengan demikian, pemanfaatan media digital secara strategis dan teologis menjadi keniscayaan bagi gereja masa kini dalam mewujudkan panggilan misioner yang relevan, transformatif, dan eskatologis di tengah arus perubahan zaman. Kemajuan informasi yang begitu kompleks menuntut kekristenan untuk tetap menjalankan misi penginjilan, termasuk di ranah digital. Hal ini menegaskan mengaktualisasikan Amanat Agung di tengah masyarakat yang sarat dengan Setiap orang percaya dipanggil untuk bersinergi sebagai bagian kesatuan gereja dan dari tubuh Kristus dalam melaksanakan misi tersebut, dengan membangun dampak yang nyata bagi pemberitaan Injil melalui berbagai platform digital. Kehadiran orang percaya di ruang digital menjadi krusial untuk menjangkau mereka yang belum mengenal Kristus, serta memberitakan kabar keselamatan melalui berbagai sarana dan pendekatan yang relevan di Umat Kristen,Ay Mello: Jurnal Mahasiswa Kristen 3, no. : 12Ae20. STEVANUS PARINUSSA, AuMengembangkan Pelayanan Injil Yang Relevan,Ay Kaluteros Jurnal Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen 5, no. : 26Ae 41, https://doi. org/10. 60146/kaluteros. Camerling. Lauled, and Eunike. AuGereja Bermisi Melalui Media Digital Di Era Revolusi Industri 4. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 dunia maya. 15 Dunia maya telah menjelma menjadi ruang hidup yang nyata, di mana individu membentuk identitas, membangun relasi, dan mencari makna spiritual. Maka, ruang digital perlu dipahami sebagai lahan strategis untuk misi gereja, bukan sekadar pelengkap pelayanan tradisional. Maka itu kemajuan teknologi internet, dan kegunaan dari internet yang merubah budaya komunikasi menjadi peluang baru di misi digital. Khususnya melalui media sosial digital dan perangkat seluler nirkabel, telah secara mendasar mengubah pola pikir Generasi melinial dan Z dalam menjalani kehidupan, mencakup cara mereka berkomunikasi, membangun relasi, memahami kepemimpinan dan otoritas, serta membentuk komunitas. Oleh karena itu, keberadaan media sosial digital membawa implikasi yang signifikan bagi arah dan strategi pelayanan gereja di era digital ini. Memang teologi digital hadir, bukan hanya sebagai alat bantu teknologi dalam aktivitas keagamaan, tetapi sebagai sebuah pendekatan teologis baru yang menyadari transformasi cara umat beriman hidup, berinteraksi pada komunitanya, terlebih cara baru dalam Injil. Perkembangan teknologi informasi dan spiritualitas manusia secara mendalam. Reinhard Berhitu. AuPeran Gereja Dalam Aktualisasi Amanat Agung Bagi Msyarakat Di Era Dunia Digital,Ay Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kriste. , 2022, https://doi. org/10. 59177/veritas. Aji Suseno. Yonatan Alex Arifianto, and Yohana Fajar Rahayu. AuPeran Podcast Dalam Penginjilan Digital. Upaya Gereja Terhadap Misi Dan Pembentukan Etis Teologis Jemaat Di Era Disrupsi,Ay Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia 5, no. 30Ae42, https://doi. org/10. 54403/rjtpi. Rumondang Lumban Gaol and Resmi Hutasoit. AuMedia Sosial Sebagai Ruang Sakral: Gereja Yang Bertransformasi Bagi Perkembangan Spiritualitas Generasi Z Dalam Era Digital,Ay KENOSIS: Jurnal Kajian Teologi 7, no. 1 (June 2. : 146Ae72, https://doi. org/10. 37196/KENOSIS. V1I1. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 260 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf sehingga teologi digital menjadi respons kontekstual terhadap realitas tersebut. Dengan demikian, perubahan digital yang melingkupi hampir seluruh dimensi kehidupan manusia menuntut gereja pelayanan dan pewartaan Injil di ruang Fondasi baru pewartaan Injil ini menuntut gereja untuk mengembangkan pemahaman teologis yang kontekstual, di mana pewartaan Injil tidak hanya berbicara tentang isi pesan, tetapi juga tentang bentuk dan penggunaan media digital yang melingkupinya. Maka itu gereja dapat memberi terobosan baru guna menjawab tantangan dalam era yang ditandai dengan segala sesuatu yang bersifat konvensional mulai tergerus dengan melibatkan teknologi Gereja dituntut untuk mengoptimalkan teknologi dan media sosial sebagai sarana strategis dalam melaksanakan pelayanan misi, sehingga pesan Injil dapat menjangkau lebih luas dan relevan dengan kehidupan umat di era digital. 19 Sebab dalam ruang digital, baik dalam paltform media sosial tidak dipungkiri bahwa pesan Injil bersaing dengan berbagai narasi populer, hiburan, dan informasi instan yang membentuk cara pandang generasi saat ini. Arus informasi digital yang tak terbatas dan mudah diakses oleh siapa saja telah individualistis dan kecenderungan antisosial, maraknya penyebaran hoaks dan informasi menyesatkan, penggunaan kebahagiaan semu, serta tumbuhnya Sugiono Sugiono and Mesirawati Waruwu. AuPeran Pemimpin Gereja Dalam Membangun Evektifitas Pelayanan Dan Pertumbuhan Gereja Di Tengah Fenomena Era Disrupsi,Ay DIDASKO: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristen 1, no. : 111Ae22, https://doi. org/10. 52879/didasko. Margareta Margareta and Romi Lie. AuPelayanan Misi Kontekstual Di Era Masyarakat Digital,Ay Jurnal Ilmu Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen 4, no. : 44, https://doi. org/10. 25278/jitpk. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 gaya hidup instan yang didorong oleh Jika berbagai tantangan ini tidak direspons dengan dasar iman yang kokoh, maka umat Kristen berisiko terjerumus ke dalam pola hidup yang nilai-nilai Kristiani. Terlebih kekristenan dapat menjadi saksi dan memiliki hati untuk menginjil. Maka itu pewartaan yang asli dan real dinyatakan dengan mengesampingkan dogma kaku, tetapi harus mampu membangun realitas, bahasa, dan estetika generasi digital demi bersaing dengan segala macam informasi yang menyesatkan dalam ruang publik virtual. Gereja ditantang untuk memperlakukan media sosial, platform internet hingga konten kreatif di segala media sosial sebagai sarana pelayanan dan penginjilan yang sahih, serta menjadikan teknologi sebagai rekan dalam menjalankan Amanat Agung. Demi mampu melaksanakan misi melalui media sosial gereja, bukan hanya untuk menjangkau orang-orang yang belum mengenal gereja, tetapi lebih penting lagi menjangkau mereka yang belum mengenal iman Kristen yang 21 Dengan demikian, gereja harus hadir secara autentik dan kontekstual di tengah dunia digital, menjadikan teknologi sebagai mitra strategis dalam mewartakan Injil dan mewujudkan Amanat Agung bagi generasi masa kini. Generasi Milenial dan Generasi Z menjadi kelompok utama yang hidup dalam ritme digital. Mereka tidak hanya menggunakan teknologi, tetapi dibentuk oleh budaya digital sejak lahir. Generasi ini sangat responsif terhadap komunikasi kecepatan informasi. Maka itu gereja perlu membangun kembali kehadirannya dengan pendekatan yang yang sangat Yakobus Adi Saingo. AuMenggagas Gaya Hidup Digital Umat Kristiani Di Era Society 5. 0,Ay CHARISTHEO: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen 3, no. (September 13, 2. : 101Ae15, https://doi. org/10. 54592/jct. Jaya Hia. AuStrategi Pelayanan Misi Gereja Di Era Digital Dan Integrasi Terhadap Generasi Zillenial. Ay Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 261 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf relevan di dunia maya. Pewartaan Injil tidak cukup hanya menghadirkan khotbah daring, tetapi perlu menciptakan komunitas digital yang membina, membimbing, dan menumbuhkan iman. Gen Z dan Melinial seirama dengan kehadiran digital kini menjadi elemen krusial dalam pengalaman keagamaan, karena memungkinkan terciptanya rasa komunitas dan kebersamaan yang melampaui batas geografis melalui 22 Bahkan platform media sosial menawarkan alat yang ampuh untuk penginjilan dan pembangunan 23 Maka itu di era digital yang menghadirkan peluang baru untuk menjangkau khalayak yang lebih luas dengan lebih efisien. 24 Teologi digital menegaskan bahwa pewartaan Injil di era virtual harus berakar pada nilai-nilai Kristiani yang kontekstual dan aplikatif. Pelayanan misi digital bukan sekadar memindahkan ibadah ke ruang online, tetapi melibatkan pengolahan konten menyentuh dimensi spiritual generasi Di sinilah pentingnya gereja memahami bahwa platform digital dapat menjadi altar baru tempat umat menjumpai Allah dalam bentuk yang Dalam dunia di mana batas ruang dan waktu melebur, gereja dipanggil untuk tetap menghadirkan Injil membebaskan, tanpa kehilangan esensi kasih dan kebenaran Kristus. Dengan Daekyung Jung. AuChurch in the Digital Age: From Online Church to ChurchOnline,Ay Theology and Science 21, no. (October 2, 2. : 781Ae805, https://doi. org/10. 1080/14746700. Dieter Becker. AuTugas Dan Tanggung Jawab Misiologis Gereja Di Era Digital,Ay Jurnal Teologi Vocatio Dei 6, no. 1 (November 28, 2. : 16Ae23, https://doi. org/10. 62926/jtvd. Yonatan Alex Arifianto. Jirmia Dofi Suharijono, and Kariyanto Kariyanto. AuDinamika Misiologi Di Era Digital: Mengaktualisasikan Kekristenan Dalam Penginjilan Online,Ay Boskos Daskalios: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristen 1, no. : 1Ae12. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 demikian, teologi digital menjadi landasan penting dalam membangun model pewartaan Injil yang relevan di era virtual. Generasi Milenial dan Gen Z Dan Misi Digital Generasi Milenial . ang lahir 1981Ae1. Generasi Z . ahir sekitar tahun 1997Ae 2. Generasi Z adalah generasi yang dekat dengan teknologi digital, sehingga penggunaan ruang digital sebagai sarana pengajaran menjadi penting untuk dilakukan oleh gereja. 25 Mereka merupakan dua kelompok generasi yang tumbuh dalam dunia yang sangat teknologi digital. Gen Z beradaptasi lebih cepat terhadap teknologi baru dan lebih memilih format informasi yang cepat dan interaktif, sementara Generasi Milenial lebih berhati-hati dan menyukai sumber tradisional. 26 Generasi Milenial cenderung mengonsumsi konten dalam bentuk panjang, menghargai informasi mendalam dan mendongeng, sedangkan Gen Z lebih menyukai konten bentuk pendek dan menarik secara visual. 27 Jadi mereka bukan hanya pengguna aktif teknologi, tetapi juga membentuk budaya digital melalui gaya hidup yang terhubung secara daring, penggunaan media sosial, dan cara berpikir yang Adhika Tri Subowo. AuMembangun Spiritualitas Digital Bagi Generasi Z,Ay DUNAMIS: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani 5, no. : 379Ae95, https://doi. org/10. 30648/dun. Nazhan Zahira and Muhammad Irwan Padli Nasution. AuPerbandingan Perilaku Manajemen Informasi Generasi z Dan Millennials Di Era Digital (Comparison of Information Management Behavior of Generation z and Millennials in the Digital Er. ,Ay Deleted Journal 2, no. : 51Ae59, https://doi. org/10. 61722/jrme. Mr Prasanth and Praveen Kumar M S. AuMarketing Mentality and ItAos Difference Between Millenials and Gen Z Consumers: Digital Marketing,Ay International Journal of Advanced Research in Science. Communication and Technology, 2023, 474Ae80, https://doi. org/10. 48175/ijarsct-11474. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 262 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf lebih terbuka terhadap informasi global. Dalam konteks kekristenan, kehadiran generasi ini menuntut gereja untuk merefleksikan kembali cara mereka melakukan pelayanan, termasuk dalam mengemban Amanat Agung, yakni misi penginjilan ke seluruh dunia (Mat 28:1. Misi digital mengacu pada bentuk pewartaan Injil dan kesaksian iman yang dilakukan melalui medium digital, seperti media sosial, situs web, podcast, video streaming, dan platform digital lainnya. Bagi Milenial dan Gen Z, misi digital bukan sekadar sarana tambahan, tetapi merupakan ruang hidup yang real di mana nilai-nilai, dinyatakan kerohaniannya dengan digital. Mereka pendekatan tradisional untuk memahami iman, melainkan lebih terhubung melalui narasi visual, konten singkat, dan interaksi yang cepat. Oleh karena itu, gereja perlu memahami bahwa generasi ini mencari spiritualitas yang relevan, dialogis, dan bermakna, bukan hanya dogma yang disampaikan satu arah. Media digital, termasuk media sosial, situs web, dan aplikasi seluler, telah menjadi alat penting untuk menyebarkan Injil dengan cepat dan luas. Platform ini memungkinkan pesan umum dan pribadi, sehingga memungkinkan untuk menjangkau khalayak yang beragam secara efektif. 28 Sementara di ruang virtual atau dunia maya yang dihadirkan oleh internet, segala keterbatasan dapat dilampaui, memungkinkan setiap orang mengakses berbagai tempat di seluruh penjuru dunia melalui teknologi digital. Hal ini membuka peluang besar bagi gereja untuk menghadirkan pelayanan yang lebih baik dan menjangkau tanpa batas geografis. 29 Maka itu gereja di era Evangel Glady Symphoni HaAoaretz and Ayub Sugiharto. AuKontekstualisasi Metode Penyampaian Pesan Injil Di Era Digital,Ay Teokristi 4, no. : 17Ae31, https://doi. org/10. 38189/jtk. Fransiskus Irwan Widjaja and Harls Evan R. Siahaan. AuMisi Dan Dialog Iman Pada P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 digital diharapkan dapat menghadirkan Injil dalam format yang mampu berkomunikasi generasi ini. Pelayanan penginjilan melalui media digital perlu dilakukan dengan terencana dan teratur, agar pesan Injil dapat tersampaikan secara efektif serta memberi dampak nyata bagi kehidupan rohani banyak Artinya, menyampaikan isi teologi, tetapi juga estetika media, dan bahasa digital yang mereka gunakan. Dengan demikian, misi digital yang melibatkan Milenial dan Gen Z bukan hanya soal menyebarkan pesan, tetapi mengajak mereka menjadi pelaku pewartaan itu sendiri, menjadi saksi Kristus dalam dunia digital yang mereka kuasai. Gereja yang mampu melibatkan generasi ini secara aktif dan kreatif dalam pelayanan digital akan memiliki daya jangkau dan relevansi yang lebih besar dalam menghadirkan Injil di tengah dunia yang terus berubah. Sebab memberitakan Injil kepada seluruh menjangkau manusia di era ini, menggunakan cara-cara yang relevan agar kabar keselamatan dapat diterima dan dihidupi. 31 Dengan demikian, misi digital menjadi jalan strategis bagi gereja untuk menjangkau dan melibatkan Milenial dan Gen Z secara aktif dalam pewartaan Injil, sekaligus menghadirkan Ruang Virtual: Sebuah Model Reflektif Yohanes 3:1-21,Ay THRONOS: Jurnal Teologi Kristen 2, 1 . : 40Ae48, https://doi. org/10. 55884/thron. Aldrin Purnomo et al. AuRevitalisasi Konsep Amanat Agung Dalam Matius 28:18-20 Dan Implementasinya Bagi Penginjilan Di Masa Pandemi Covid-19,Ay Real Didache 6, no. : 81Ae94. Yonatan Alex Arifianto. Sari Saptorini, and Kalis Stevanus. AuPentingnya Peran Media Sosial Dalam Pelaksanaan Misi Di Masa Pandemi Covid-19,Ay HARVESTER: Jurnal Teologi Dan Kepemimpinan Kristen 5, no. (December 17, 2. : 86Ae104, https://doi. org/10. 52104/harvester. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 263 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf Kristus secara relevan di tengah arus zaman yang terus bergerak maju. Proses follow up dari penginjilan berkelanjutan melalui pendampingan rohani yang personal dan komunitatif di ruang virtual maupun tatap muka. Gereja dapat membentuk kelompok daring untuk pembinaan iman, pendalaman Alkitab, dan doa bersama sebagai tindak lanjut dari respon positif yang muncul melalui konten digital. Selain itu, penting bagi para pelayan digital untuk menyediakan jalur komunikasi terbuka, seperti pesan pribadi atau forum diskusi, agar setiap individu yang terjangkau dapat dibimbing lebih dalam dalam Dengan demikian, hasil penginjilan digital tidak berhenti pada penerimaan pesan Injil, tetapi berlanjut pada pembentukan murid Kristus yang aktif dan bertumbuh secara Praktik Evangelisasi Online: Membangun Misiologi Digital Evangelisasi online telah menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi misi memanfaatkan berbagai bentuk konten seperti khotbah daring, video pendek media sosial untuk menjangkau khalayak yang lebih luas. Sebab platform digital memungkinkan pesan keagamaan menjangkau khalayak Ini sangat efektif untuk melibatkan generasi muda yang lebih terhubung dengan teknologi. 32 Ini merupakan cara-cara kreatif untuk menyajikan ajaran agama, membuatnya lebih relevan dan menarik bagi audiens 33 Namun selain itu, penting Anwar Jenris Tana and Milton T. Pardosi. AuEfektivitas Penginjilan Digital Sebagai Media Dan Tantangan Dalam Pemuridan Generasi Muda,Ay JUITAK : Jurnal Ilmiah Teologi Dan Pendidikan Kristen 2, no. 14Ae26, https://doi. org/10. 61404/juitak. Artur Banaszak. AuEvangelization Through Social Media Ae Opportunities and P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 untuk mengkaji etika digital dalam penyebaran konten rohani. Dalam praktiknya, tidak jarang ditemukan konten-konten manipulasi spiritual demi menaikkan jumlah tayangan, menyebarkan hoaks teologis yang tidak berdasar pada Alkitab, hingga menggunakan judul clickbait yang menyesatkan demi Terlebih kekristenan mau memperbarui metode komunikasi menjadi hal yang krusial agar pesan iman tetap relevan bagi generasi digital. Upaya ini mencakup integrasi pesan Injil ke dalam lanskap budaya baru yang dibentuk oleh perkembangan komunikasi modern. Oleh karena itu, evangelisasi digital harus dijalankan secara kreatif namun tetap berlandaskan etika dan kebenaran Injil, agar pesan iman tidak hanya relevan dan menarik, tetapi juga membawa transformasi rohani yang autentik bagi generasi digital. Pelayan digital memang harus dikerjakan dengan spenuh hati dan untuk popularitas atau platform digital saja, melainkan pada integritas pewartaan Injil. Sebab penginjilan di era digital bukan hanya sebatas perubahan metode melainkan menekankan pada totalitas penyelenggaraan yang berlandaskan kebenaran Alkitab. Dengan demikian, setiap bentuk pelayanan digital tetap harus mencerminkan esensi Injil yang murni dan relevan bagi kehidupan manusia masa kini. 35 Tentunya misiologi digital harus dibangun di atas prinsipThreats to the Religious Life of an Individual and Community,Ay KouciyC i Prawo 11, no. : 45Ae62, https://doi. org/10. 18290/kip22112. Bartolomeus Sihite. AuMedia Sosial: Wadah Baru Evangelisasi,Ay Jurnal Magistra 2, 1 . : 104Ae17, https://doi. org/10. 62200/magistra. Anatje Ivone Sherly Lumantow and Wulan Agung. AuOrang Kristen Dalam Sinergi Penginjilan Digital Di Era Disrupsi,Ay Sabda: Jurnal Teologi Kristen, 2021, https://doi. org/10. 55097/sabda. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 264 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf prinsip teologis yang kokoh, dan memiliki etis teologi yang menghargai manusia serta bertanggung jawab, di mana kehadiran gereja dalam ruang digital bukan hanya sebagai produsen konten, tetapi sebagai saksi yang setia dan kredibel akan kabar keselamatan. Dan juga gereja juga perlu menjadi sarana yang memperkokoh upaya pemberitaan Injil serta menyampaikan pesan-pesan Kristiani kepada semua orang, sehingga iman umat semakin diteguhkan dan kesaksian Kristus dapat dirasakan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga membangun hal tersbut perlunya evaluasi kritis terhadap bentuk dan isi evangelisasi online ini bertujuan untuk membangun standar pelayanan digital yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga mengakar dalam kebenaran Injil. Dengan demikian, gereja dipanggil untuk mengembangkan misiologi digital yang sehat, relevan, dan etis, sehingga Injil dapat diberitakan secara autentik di tengah dunia digital yang penuh dinamika dan tantangan. Reformulasi Teologi Misi Gereja dalam Kesaksian Kontekstual Misi digital tidak seharusnya dipahami hanya sebagai proyek produksi konten rohani atau sekadar strategi komunikasi massa. Maka itu pemimpin gereja perlu memberikan perhatian dan tenaga yang serius di dunia digital. Sebab misi ini harus dimaknai sebagai wujud nyata dari kehadiran spiritual yang nyata dan mengarah pada nilai melayani, menyembuhkan luka batin, serta membangun relasi dan komunitas iman di tengah ruang-ruang virtual. Yeremia Hia and Elfin Warnius Waruwu. AuDampak Teknologi Digital Terhadap Pewartaan Injil Dalam Konteks Menggereja,Ay Phronesis: Jurnal Teologi Dan Misi 6, no. : 178Ae92, https://doi. org/10. 47457/phr. Daniel Ronda. AuPemimpin Dan Media: Misi Pemimpin Membawa Injil Melalui Dunia Digital,Ay Jurnal Jaffray, 2016, https://doi. org/10. 25278/jj71. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 mana keberadaan tersebut membangun komunitas dan komunikasi Kristen yang mudah diakses dan dipahami di platform 38 Dengan menghadirkan Kristus secara nyata di dunia digital, dengan pendekatan kontekstual yang mampu menyampaikan Injil dalam bahasa, bentuk, dan budaya yang dipahami oleh generasi digital. Oleh karena itu, di teknologi dan digitalisasi kehidupan manusia, gereja ditantang untuk mereformulasi kembali teologi misinya agar tetap kontekstual, relevan, dan tetap berakar kuat dalam semangat Injil. Teologi misi digital yang dikembangkan gereja perlu bersifat dialogis, artinya terbuka terhadap percakapan dua arah yang melibatkan pergumulan nyata manusia modern. Hal itu harus berlandaskan pada hakikat teologi misi yang mencakup Missio Dei. Missio Christos, dan Missio Ecclesiae merujuk pada misi Allah (GodAos Missio. , yakni karya aktif Allah Tritunggal (The Triune Go. dalam menebus dunia ciptaan-Nya dari kehancuran akibat dosa. Kerangka teologis ini menjadi fondasi utama bagi setiap gerakan misi dan komunikasi Kristen, menegaskan bahwa misi bukan sekadar aktivitas manusia, melainkan partisipasi dalam karya penyelamatan Allah yang sedang berlangsung di 39 Gereja tidak lagi bisa memposisikan diri hanya sebagai penyampai doktrin satu arah, melainkan harus hadir sebagai sahabat dialog bagi generasi Milenial dan Gen Z yang mencari makna hidup melalui berbagai kanal digital. Di sisi lain, keterbukaan terhadap transformasi budaya digital sangat penting agar gereja tidak ketinggalan zaman, melainkan dapat menjadi garam dan terang di tengah arus Margareta and Lie. AuPelayanan Misi Kontekstual Di Era Masyarakat Digital. Ay Jamin Tanhidy. AuTeologi Misi Bagi Gerakan Misi Dan Komunikasi Kristen Pasca Pandemi Covid-19,Ay Jurnal Teologi Kontekstual Indonesia 2, no. : 1Ae12, https://doi. org/10. 46445/jtki. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 265 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf informasi dan perubahan gaya hidup yang sangat cepat. Kesaksian iman sebagai bagian branding kekristenan dapat menyentuh dan mampu menjembatani antara kebenaran teologis dan dinamika sosialbudaya digital, sehingga gereja benarbenar Tuhan dapat memakai segala sesuatu sebagai alat dan sarana untuk memberitakan Injil. Misi sendiri merupakan Auhati TuhanAy bahkan disebut sebagai Aujantung Tuhan,Ay sehingga pelaksanaannya harus bersifat holistik dan berlandaskan kebenaran Alkitab. Oleh karena itu, gereja dipanggil untuk menghidupi misi tersebut secara perkataan, tetapi juga melalui tindakan nyata yang memuliakan Kristus. 40 Ini tentu membangun paradigma bahwa Injil adalah sumber kekuatan bagi semua orang, dan setiap orang percaya dipanggil untuk ambil bagian dalam memberitakannya serta menjadikan penginjilan sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari. Dengan demikian, hidup orang percaya bukan hanya menjadi saksi melalui kata-kata, tetapi juga melalui teladan yang menghadirkan kasih dan kebenaran Kristus bagi 41 Reformulasi teologi misi bukan berarti mereduksi isi Injil, melainkan menerjemahkannya dalam bentuk yang dapat diterima dan dialami secara nyata oleh masyarakat digital. Dengan demikian, gereja diundang untuk membangun paradigma misi yang lebih adaptif, partisipatif, dan menyentuh dimensi terdalam kehidupan manusia di era digital yang terus bergerak maju. Antonius Missa. AuTeologi Misi Holistik,Ay Indonesia Journal of Religious 5, no. : 17Ae34, https://doi. org/10. 46362/ijr. Yonathan Alex Arifianto and Dicky Dominggus. AuDeskripsi Teologi Paulus Tentang Misi Dalam Roma 1: 16-17,Ay ILLUMINATE: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani 3, no. : 70Ae83, https://doi. org/10. 54024/illuminate. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 KESIMPULAN perkembangan teknologi dan budaya digital, gereja dituntut untuk tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga secara strategis dan teologis di ruang virtual. Teologi digital menjadi fondasi baru pewartaan Injil, di mana bentuk, medium, dan bahasa penyampaian harus menyesuaikan dengan ritme kehidupan generasi digital, khususnya Milenial dan Gen Z. Misi gereja di era digital bukan hanya tentang produksi konten rohani, menghadirkan Kristus secara nyata dalam ruang digital melalui kesaksian iman yang otentik, pelayanan yang menyentuh luka batin, dan pembangunan komunitas spiritual yang inklusif dan Dengan teknologi sebagai mitra pelayanan, gereja mampu memperluas jangkauan penginjilan, menyentuh kehidupan yang tidak terjangkau secara konvensional, serta turut mempercepat penggenapan Amanat Agung secara global dan Lebih membangun misiologi digital yang tidak hanya kreatif dan inovatif, tetapi juga berakar kuat pada prinsip-prinsip teologi yang alkitabiah, etis, dan dialogis. Misi partisipasi dalam Missio Dei misi Allah Tritunggal yang menyelamatkan, dengan pendekatan yang adaptif terhadap perubahan budaya dan sosial yang ditimbulkan oleh digitalisasi. Oleh karena itu, reformulasi teologi misi menjadi keniscayaan bagi gereja masa agar mampu menjembatani kebenaran Injil dengan dinamika kehilangan esensi kasih, kebenaran, dan kuasa penyelamatan Kristus. Di era di mana batas ruang dan waktu semakin memudar, gereja dipanggil untuk menjadi terang dan garam di dunia digital, menghadirkan Injil sebagai kabar baik yang hidup dan relevan bagi setiap Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 266 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf Implikasinya, misiologi digital perlu diterjemahkan gereja ke dalam program yang terstruktur, seperti pembentukan tim pelayanan digital yang berfokus pada penginjilan, konseling rohani, dan pembinaan iman secara Gereja digital teologis bagi pelayan dan jemaat agar mampu menggunakan teknologi secara bijak dan berlandaskan nilai-nilai Injil. Dengan demikian, misiologi digital tidak hanya menjadi konsep teologis, pelayanan yang nyata dan kontekstual dalam menjangkau dunia digital secara DAFTAR PUSTAKA