ARTES LIBERALES: Jurnal Studi Humaniora Volume 2. Nomor 1, (Agustus 2. Analisis Pengetahuan Mahasiswa UPH Terhadap Jenis Kata Baku dan Nonbaku dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Jonter Pandapotan Sitorus Universitas Pelita Harapan sitorus@uph. Abstrak Tingkat kompetensi dan performansi seseorang terhadap penggunaan bahasa menunjukkan kemampuannya memahami dan menggunakan bahasa secara baik dalam sistem Salah satu faktornya adalah bila seseorang dapat mengenal jenis kata yang digunakan khususnya penempatan jenis kata baku dan nonbaku. Demikian pula performansi dan kompetensi dalam mengenal dan menggunakan kata baku dan nonbaku dalam bahasa Indonesia. Hal inilah menjadi landasan utama penelitian ini bagaimana kompetensi dan performansi mahasiswa UPH khususnya dalam pengenalan dan penempatan jenis kata baku dan nonbaku. Penelitian ini menggunakan metode tes kompetensi bahasa melalui tes kata baku dan kata tidak baku. Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menemukan bahwa pengetahuan responden terhadap kategori kata baku dan tidak baku secara umum cukup baik. Dominasi pilihan jawaban yang sudah benar terdapat pada kata-kata analisis, apotek, sahur. Sementara itu, dominasi jawaban yang salah terdapat pada katakata marwah, sholat, hembusan, kadaluwarsa, dan contek. Solusi alternatif yang harus diberikan kepada responden antara lain terus mengingatkan dan mengoreksi kesalahan mahasiswa, sering menguji kemampuan kata baku dan tidak baku, dan semua dosen bertanggung jawab pada kesalahan penulisan mahasiswa sehingga terbiasa untuk melakukan hal yang benar. Kata Kunci: Analisis. Kata Baku dan Nonbaku. Kompetensi. Performansi. Mahasiswa UPH Received: 01/07/2025 Revised: 04/08/2025 Published: 30/08/2025 Page 1 Analisis Pengetahuan Mahasiswa UPH Terhadap Jenis Kata Baku dan Nonbaku dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Jonter Pandapotan Sitorus Pendahuluan Fungsi bahasa dapat dikatakan sebagai salah satu faktor penentu eksistensi diri manusia yang menjadikannya sebagai makhluk yang kaya akan kreativitas dengan kemampuan berpikir yang logis. Di sinilah juga peranan bahasa secara umum sebagai instrumen berpikir manusia sehingga mampu memikirkan dari hal-hal yang abstrak menjadi konkret atau sebaliknya. Kekuatan fungsi bahasa yang melekat pada diri manusia akan membawanya pada fase yang lebih maju dengan konstruksi berpikirnya yang kritis. Namun, fungsi bahasa itu tidaklah selamanya digunakan manusia sesuai dengan fungsinya. Adakalanya bahasa yang digunakan justru tidak tepat fungsinya sehingga saat berkomunikasi tidak efektif karena adanya perbedaan maksud atau persepsi dari komunikator dengan komunikannya. Salah satu penyebabnya adalah terkait dengan kompetensi dan performansi dari komunikator maupun dari Terkait dengan hal itu, persoalan yang cukup sering muncul adalah tentang kompetensi dan performansi masyarakat tutur yang belum mumpuni. Khususnya pada tataran kebahasaan yang paling mendasar, yaitu pada level penguasaan kata dan diksi. Faktor inilah yang termasuk dalam faktor kebahasaan. Akan tetapi, tentunya di samping faktor kebahasan itu, ada juga potensi sulitnya sebuah pesan disampaikan juga karena faktor nonkebahasaan. Terkait dengan faktor kebahasaan. Asruni Samad, dkk. pernah mengatakan bahwa banyak masyarakat Indonesia yang menggunakan bahasa gaul, singkatan-singkatan dalam komunikasinya sehari-hari yang merupakan bentuk penyimpangan dari penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tentunya temuan penelitian mereka menjadi salah satu dari sekian banyak ahli yang sudah mengemukakan betapa masih terjadinya penggunaan bahasa Indonesia yang belum mengikuti kaidah yang baik dan benar. Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar memiliki arti yang berbeda. Bahasa Indonesia yang baik artinya bahasa Indonesia yang digunakan hanya sebatas dapat dipahami orang lain sebagai mitra Di dalam konteks ini, masyarakat tutur tidak mempersoalkan kaidah kebahasaan karena hal yang utama yang menjadi krusial adalah ARTES LIBERALES: Jurnal Studi Humaniora Page 2 Analisis Pengetahuan Mahasiswa UPH Terhadap Jenis Kata Baku dan Nonbaku dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Jonter Pandapotan Sitorus makna tersampaikan dengan baik. Sementara itu, bahasa Indonesia yang benar artinya penggunaan bahasa Indonesia sudah sesuai dengan kaidah EYD yang berlaku. Di dalam konteks ini, masyarakat tutur akan mempersoalkan kebenaran kaidah bahasa yang digunakan karena sangat krusial bilamana sebuah kata atau kalimat yang disampaikan tidak memenuhi kaidah kebahasaan. Oleh karena itu, ketaatan terhadap tata bahasa yang digunakan menjadi sangat penting dipatuhi. Bilamana hal itu dilanggar, mereka akan mempersoalkannya dengan serius. Hal itu sejalan dengan apa yang disampaikan Kuntarto . di dalam bukunya yang berjudul AuCermat dalam Berbahasa dan teliti dalam berpikirAy. Di dalam pembahasan bukunya sangat jelas dikatakan bahwa seseorang harus cermat berbahasa karena ternyata hal itu berkaitan erat dengan cara berpikirnya apakah berpikir dengan teliti atau serampangan. Ia melanjutkan bahwa kompetensi dan performansi berbahasa yang dimaksudkan ternyata terkait dengan persoalan kesantunan berbahasa seperti kesantunan ejaan, kesantunan penggunaan istilah, kesantunan penulisan kalimat, kesantunan dalam menuliskan paragraf dan kesantunan kebahasaan yang lainnya. Dari pendapat itu, salah satu alasan dalam penelitian ini karena ingin menelusuri dan membuktikan tingkat kompetensi dan performansi mahasiswa Universitas Pelita Harapan (UPH) Karawaci. Tangerang terhadap pengenalan jenis kata baku dan nonbaku sebagai salah satu faktor yang menunjukkan kemampuan mahasiswa UPH terhadap faktor kebahasaan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Selain itu, persoalan jenis kata baku dan nonbaku juga menjadi menarik diteliti karena fenomena penggunaannya silih berganti. Posisi yang harusnya ditulis dengan kata baku justru menjadi kata nonbaku. Kondisi ini juga ditengarai karena pesatnya penggunaan bahasa gaul atau alay pada masyarakat tutur Indonesia dengan perkembangan tekonologi yang media sosial yang begitu beragam. Berbagai alasan yang telah dipaparkan di atas menjadi dasar penelitian ini . Apakah kondisi demikian juga dialami mahasiswa UPH yang notabene merupakan orang-orang yang sedang dalam pendidikan. Apakah mahasiswa UPH juga mengetahui dan menerapkan kata-kata baku dalam situasi yang resmi khususnya dalam ragam ilmiah yang setiap hari mereka geluti. Dengan demikian, tujuan penelitian ini akan ARTES LIBERALES: Jurnal Studi Humaniora Page 3 Analisis Pengetahuan Mahasiswa UPH Terhadap Jenis Kata Baku dan Nonbaku dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Jonter Pandapotan Sitorus menjawab pertanyaan penelitian . bagaimana gambaran pengetahuan mahasiswa UPH terhadap jenis kata baku dan nonbaku? . bagaimana dominasi ketepatan dan kesalahan jenis kata pada mahasiswa UPH? . Bagaimana solusi alternatif yang dilakukan agar mahasiswa UPH mengenal dan menerapkan jenis kata baku dan nonbaku secara tepat? Kompetensi dan Performansi dalam Berbahasa Indonesia Kompetensi dan performansi dalam berbahasa adalah dua istilah yang dikemukakan oleh Chomsky seorang ahli dalam Tata Bahasa Transformasi. Hal ini juga berlaku dalam jenis Bahasa Indonesia bahwa untuk memahami dan menggunakan bahasa Indonesia seseorang harus memiliki kompetensi dan performansi dalam berbahasa Indonesia. Terkait dengan istilah kompetensi dan performansi. Chomsky menjelaskan bahwa sebuah bahasa adalah sebuah kalimat yang di dalamnya terdiri atas deretan bunyi yang mempunyai makna sehingga tugas dari tata bahasa harus dapat menggambarkan hubungan hubungan bunyi dan arti dalam bentuk kaidah-kaidah yang tepat dan jelas. Ia juga melanjutkan pendapatnya bahwa kompetensi sendiri diartikannya sebagai pengetahuan yang dimiliki pemakai bahasa mengenai bahasanya, sedangkan performansi diartikan sebagai pemakaian bahasa dalam keadaan sebenarnya. Selain itu. Tarigan . juga memberikan penjelasan terkait dengan kompetensi adalah tata bahasa suatu bahasa seseorang pribadi yang terinternalisasi yang berarti kemampuan seseorang untuk menciptakan dan memahami kalimat-kalimat, termasuk kalimat-kalimat yang tidak pernah didengarkan sebelumnya dengan mencakup pengetahuan seseorang mengenai apa yang benar-benar kalimat dan yang bukan kalimat suatu bahasa tertentu. Sementara itu, performansi mengandung makna penggunaan bahasa aktual bahasa seseorang yang berarti bagaimana seseorang menggunakan pengetahuan dalam upaya menghasilkan dan memahami kalimat-kalimat. Dengan mencermati kedua istilah itu, tentu sederhananya baik kompetensi maupun performansi akan berakhir pada diri si pengguna bahasa yang memang memiliki pengetahuan tentang ARTES LIBERALES: Jurnal Studi Humaniora Page 4 Analisis Pengetahuan Mahasiswa UPH Terhadap Jenis Kata Baku dan Nonbaku dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Jonter Pandapotan Sitorus seluk-beluk bahasa dan yang nantinya akan digunakan dalam menjalin komunikasi dengan sesamanya. Dari penjelasan tersebut, seseorang yang memiliki kompetensi dan performansi dalam Bahasa Indonesia harus mampu menerapkan kalimat-kalimat yang efektif. Kalimat efektif adalah sebuah kalimat yang terbangun atas fonem atau kata dan diksi yang tepat dan sesuai. Tataran inilah yang menjadi dasar dalam penentuan kompetensi dan performansi sesorang dalam berbahasa Indonesia. Kata Baku dan Nonbaku dalam Bahasa Indonesia Kehadiran penulisan kata-kata yang baku dan tidak baku menjadi sebuah keharusan mengingat secara sosial masyarakat tutur kita sangat Secara teoretis dan praktis, fungsi ragam baku itu sebagai upaya menghadapi kediaglosian masyarakat. Akan tetapi, menurut Alwi, dkk. 3:14-. ragam baku atau kata-kata baku memiliki empat fungsi yaitu . fungsi pemersatu, . fungsi pemberi kekhasan, . fungsi pembawa kewibawaan, dan . fungsi sebagai kerangka acuan. Fungsi pertama jelas akan merujuk pada bagian ragam bahasa baku untuk mempersatukan seluruh dialek yang ada di nusantara ini. Artinya, dengan adanya ragam baku yang di dalamnya ada unsur kata-kata baku, akan dapat mempersatukan segala perbedaan yang ada. Fungsi kedua juga akan merujuk pada bagian ragam bahasa yang mampu memberi kekhasan bahasa Indonesia. Hal ini juga akan tampak pada salah satu sifat bahasa yaitu unik. Keunikan bahasa Indonesia juga tidak terlepas dari adanyanya kelompok kata-kata yang baku. Fungsi ketiga akan merujuk pada usaha seseorang untuk mencapai kesederajatan melalui penguasaan bahasa yang baku. Orang yang mampu menggunakan bahasa baku sering kali dianggap berwibawa saat berbahasa. Fungsi keempat akan merujuk pada bagian ragam bahasa baku sebagai norma atau kaidah yang berlaku. Fungsi ini akan menjadi satu aturan penting manakala ingin penggunakan bahasa baku maka lihatlah aturan yang mana termasuk kata-kata baku. ARTES LIBERALES: Jurnal Studi Humaniora Page 5 Analisis Pengetahuan Mahasiswa UPH Terhadap Jenis Kata Baku dan Nonbaku dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Jonter Pandapotan Sitorus Keberadaan kata-kata baku dan nonbaku juga pernah dikemukakan oleh Endarmoko . bahwa memang secara fakta kebahasaan yang kita saksikan sampai hari ini yaitu terkait kedua laras bahasa, baku dan tak baku, hidup berdampingan layaknya sepasang suami-istri, sekalipun terkadang keduanya saling mengingkari, bahkan saling menistakan. Penentuan kata baku dan tidak baku secara tertulis sudah ditentukan melalui pencatatan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi V (KBBI Edisi V Cetak dan KBBI Edisi VI Darin. Artinya, saat kapan penggunaan kata baku dan tidak baku sudah dapat dipilih yang mana yang sudah sesuai dengan EYD. Hal itu sejalan dengan ketentuan dari para penyusun kamus dari lema yang sudah ditetapkan. Persoalan penulisan kata baku dan tidak baku sebenarnya sudah bagus disosialisasikan pemerintah melalui Kemendikbudristek Dikti di bawah tanggung jawab Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Melalui lembaga itu, seluruh aplikasi tentang kebahasaan yang termasuk dalam ketentuan penulisan kata baku dan tidak baku, penerjemahan, dan penentuan padanan kata yang telah disesuaikan sudah dipermudah melalui aplikasi daring Halo Bahasa yang dapat diunduh pada gawai dan perangkat elektronik masing-masing. Para pembaca dapat mengunduh aplikasi tersebut dan menelusuri penggunaan kata baku, istilah asing dan padanannya, dan bidang-bidang istilah yang digunakan Selain itu, di dalam satu aplikasi ini berbagai fitur yang telah tersedia seperti KBBI. UKBI. EYD. PASTI (Padanan Istila. BIPA Daring. Buku Digital. Penjaring. Tesaurus. Koin. Dapobas, dan Ensiklopedia . ttps://badanbahasa. id/: 2. Selain itu, melalui terbitan buku padanan asing ke dalam bahasa Indonesia, penggunaan kata dan istilah bahasa asing juga dijelaskan tata cara penggunaannya. Dari bentuk kata atau istilah asingnya, padanan ke dalam bahasa Indonesia, dan sampai pada ranah penggunaan kata atau istilah yang dimaksudkan. Semuanya benar-benar diatur sedemikian rupa sehingga memudahkan para pembacanya menggunakanya secara tepat. Buku yang dimaksud dapat diunduh secara daring melalui Badan ARTES LIBERALES: Jurnal Studi Humaniora Page 6 Analisis Pengetahuan Mahasiswa UPH Terhadap Jenis Kata Baku dan Nonbaku dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Jonter Pandapotan Sitorus Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Indonesia Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang diresmikan pada 13 Juni 2019. Namun, secara lisan penentuan pelafalan baku belum seutuhnya seragam karena memang variasi pengucapan kata-kata dalam bahasa Indonesia masih terpengaruh oleh bahasa daerah masing-masing. Seharusnya, pelafalan baku yang seragam juga perlu digariskan. Akan tetapi, mengingat banyaknya bahasa daerah yang lebih dari 700 bahasa sehingga sangat sulit menetapkannya. Di sinilah tantangan yang besar bagaimana nantinya penulisan kata baku dan nonbaku digunakan secara Selain itu, berbagai pilihan atas bahasa asing khususnya bahasa Inggris merupakan salah satu bahasa yang cukup banyak memberi sumbangsih dalam kekayaan kosakata bahasa Indonesia. Dengan demikian, kesimpangsiuran penggunaan bahasa baku dan tidak baku akibat pengaruh bahasa asing juga masih menjadi problematik tersendiri. Metode Penelitian Dalam rangka mendapatkan data yang dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan penelitian ini, peneliti menggunakan metode tes bahasa dengan tes kata baku dan kata tidak baku melalui penggunaan aplikasi kuis seperti Quizizz dengan memberikan pertanyaan terkait jenis kata baku dan nonbaku. Adapun pertanyaan kuis yang dimaksud dapat https://quizizz. com/admin/quiz/63d3328dcc5086001d9fc5cd?searchLoc Selanjutnya, responden menjawab kuis tersebut melalui keikutsertaannya saat pembelajaran mata kuliah Bahasa Indonesia dengan sebanyak 22 soal dalam waktu 5 menit. Soal yang diberikan sengaja dipilih oleh peneliti dengan memperhatikan dan mempertimbangkan tingkat kebiasaan kata-kata tersebut digunakan di masyarakat umum dan masyarakat akademik. Data yang sudah diperoleh kemudian dianalisis dan dibahas sesuai dengan pertanyaan penelitian yang telah diajukan. ARTES LIBERALES: Jurnal Studi Humaniora Page 7 Analisis Pengetahuan Mahasiswa UPH Terhadap Jenis Kata Baku dan Nonbaku dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Jonter Pandapotan Sitorus Pembahasan Gambaran Pengetahuan Mahasiswa UPH terhadap Jenis Kata Baku dan Nonbaku Sebelum lebih jauh membahas gambaran pengetahuan mahasiswa UPH terhadap jenis kata baku dan nonbaku, perlu dipahami bahwa pengetahuan terhadap jenis kata baku dan tidak baku sangat penting. Hal itu akan berkaitan dengan keterampilan seseorang dalam mengenal dan menerapkannya sesuai dengan konteks yang tepat. Bila merujuk pendapat Alwi, dkk . , kata baku sendiri termasuk pada ragam baku dengan tiga ciri yang melekat yaitu . kemantapan dimanis, . bersifat kecendikiaan, dan . dan penyeraman Dari ketiga ciri yang dipaparkan, jelas bahwa kata baku merupakan suatu hal yang harus diketahui sebagai pengetahuan berbahasa yang sesuai dengan konteks formal dan informalnya. Dengan demikian, penggunaanya menjadi tepat dan tidak salah posisi. Pengetahuan dan performansi saat berbahasa yang secara khusus dalam menggunakan dan menempatkan kata yang baku dan tidak baku sesuai konteks masing-masing. Penempatan yang dimaksud secara khusus dalam penerapan saat berbahasa formal dan informal. Hal inilah yang kemudian muncul padanan kata bahwa bahasa formal sering digantikan dengan bahasa standar atau disebut juga dengan istilah ragam tinggi, sedangkan bahasa informal sering digantikan dengan bahasa nonstandar atau ragam rendah. Dengan melihat konsep tersebut, jelas saat seseorang mampu menggunakan pilihan kata yang baku berarti dia sedang menerapkan ragam standar atau ragam tinggi. Sebaliknya, saat seseorang menggunakan kata yang tidak baku berarti ia juga sedang menggunakan ragam rendah. Bila posisinya bertukar, di situlah penerapan berbahasa yang keliru karena tidak tepat dan sesuai Selain itu, pengetahuan ragam baku melalui pengetahuan kata baku dan tidak baku akan membawa dampak positif bagi penggunanya. ARTES LIBERALES: Jurnal Studi Humaniora Page 8 Analisis Pengetahuan Mahasiswa UPH Terhadap Jenis Kata Baku dan Nonbaku dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Jonter Pandapotan Sitorus Hal itu sejalan dengan pendapat Alwi, dkk . bahwa ragam bakuAi dalam hal ini pengetahuan terhadap kata baku dan tidak bakuAiakan memuat berbagai fungsi. Fungsinya antara lain . fungsi pemersatu, . fungsi pemberi kekhasan, . fungsi pembawa kewibawaan, dan . fungsi kerangka acuan. Bila merujukan keempat fungsi ragam baku tersebut, seseorang akan mengetahuinya dan menggunakannya akan sangat baik karena hal itu akan menjadi konsep berpikir bahwa kata baku pun menjadi pemersatu dari segala perbedaan yang ada, kata baku akan memberikan kekhasan tersendiri, kata baku juga akan memberikan wibawa penggunanya, dan akan menjadi kerangka acuan bagi penggunanya. Namun, seringkali fungsi ragam baku tersebut yang secara eksplisit pada pengenalan dan penerapan kata baku justru dianggap tidak penting karena bagi masyarakat pengguna umum hanya akan memikirkan penggunaannya dapat dipahami bersama dan tidak akan mempersoalkan aturan kebakuan dan tidak bakunya sebuah kata. Tampaknya paradigma seperti itu masih terlihat di dalam dunia Meskipun secara umum dipahami bahwa dalam konteks pendidikan atau akademik, seyogianya penggunaan kata baku menjadi hal yang harus dipastikan ketepatannya. Oleh karena itu, penggunaan kata baku sebagai salah satu ciri yang tampak pada pemakaian bahasa secara formal. Bukan sebaliknya, penggunaan kata tidak baku yang juga masuk dalam ranah akademik. Pengetahuan semacam ini sangat perlu dimiliki masyarakat akademik termasuk responden penelitian ini. Berdasarkan data yang dituangkan ke dalam tabel-tabel hasil penelitian, pengetahuan responden dari berbagai jurusan atau prodi terkait dengan pilihan kata dan diksi yang baku dan tidak baku cukup Artinya, responden secara umum dapat memberikan jawaban. Namun, tidak dapat dipungkiri dari berbagai prodi yang mengikuti tes atau kuis kata baku dan tidak baku masih ditemukan berbagai jawaban yang salah. Hal itu juga diperkuat pernyataan sebagian responden bahwa ada beberapa kata yang dianggap benar justru salah dan sebaliknya yang dianggap salah jusru merupakan jawaban yang benar. ARTES LIBERALES: Jurnal Studi Humaniora Page 9 Analisis Pengetahuan Mahasiswa UPH Terhadap Jenis Kata Baku dan Nonbaku dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Jonter Pandapotan Sitorus Dari berbagai temuan hasil penelitian tersebut, dapat dikatakan bahwa pengetahuan mahasiswa UPH secara umum terhadap kata baku dan tidak baku masih tergolong kurang baik. Hal itu terbukti dengan jawaban yang didapatkan tingkat akurasi jawaban masih rata-rata di bawah 50% dan kenyataannya bahwa dari berbagai prodi yang diberikan tes kata baku dan tidak baku tersebut masih ditemukan tingkat akurasi Hal ini membuktikan secara khusus pada berbagai jenis kata baku dan kata tidak baku yang diberikan mengisyaratkan pengenalan atau pengetahuan responden masih tergolong kurang bagus. Pengetahuan yang terlihat dari tingkat akurasi jawaban dengan berbagai bentuk jumlah kesalahan yang ditemukan mengindikasikan bahwa fungsi ragam baku secara khusus pada fungsi keempat sebagai kerangka acuan belum seutuhnya terlihat karena di antara sesama responden pun masih terlihat perbedaan jawaban. Terlebih lagi bila merujuk pada fungsi kata baku sebagai pembawa kewibawaan menjadi bertolak belakang dengan temuan penelitian ini. Namun, bukan berarti bahwa pengetahuan responden tidak bagus pada jenis kata-kata baku di luar kata yang diujikan, kemungkinan akan berbeda jawabannya bila jenis kata baku lainnya yang diujikan. Berdasarkan temuan ini, jelas pada 22 jenis pertanyaan terkait berbagai bentuk kata baku dan tidak baku yang telah diujikan memang harus diterima sebagai sebuah fakta bahwa pengetahuan responden penelitian ini belum seutuhnya bagus karena tingkat akurasi jawaban belum berada di atas rata-rata. Padahal bila mencermati pilihan kata-kata baku dan tidak baku yang diberikan sebenarnya tidak terlalu asing atau dapat dikatakan bahwa kata-kata tersebut lumrah didengarkan dalam dunia akademik. Mungkin juga pengetahuan responden berada pada tingkat kesalahan yang lumrah didengarkan. Artinya, justru kata-kata yang tidak bakunya yang paling sering diketahui yang dianggapnya selama ini benar. Di sinilah nanti perlu diberikan solusi alternatif kepada para responden guna menambah wawasan atau pengetahuan responden terhadap kata baku dan tidak baku. ARTES LIBERALES: Jurnal Studi Humaniora Page 10 Analisis Pengetahuan Mahasiswa UPH Terhadap Jenis Kata Baku dan Nonbaku dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Jonter Pandapotan Sitorus Dominasi Ketepatan dan Kesalahan Jenis Kata Baku dan Nonbaku pada Mahasiswa UPH Dari data-data yang telah diperoleh sebelumnya, pilihan kata baku dan tidak baku yang telah diujikan kepada responden, yaitu mahasiswa UPH dari berbagai prodi/jurusan memperlihatkan nomor soal dan jenis kata yang dominan tepat dan salah dijawab. Hal itu jelas menunjukkan bahwa ternyata persoalan pilihan kata baku dan tidak baku menjadi suatu masalah penting dari perspektif keterampilan berbahasa responden yang secara khusus berkaitan dengan teori kompetensi dan performansi berbahasa responden. Agar lebih jelas data-data ketepatan dan kesalahan pilihan kata baku dan tidak baku yang dimakud, dua tabel di bawah ini akan memperlihatkan data secara keseluruhan. Tabel 1 Tabel Ketepatan dan Kesalahan Kata Mahasiswa UPH Lintas Prodi terhadap Jenis Kata Baku dan Nonbaku Tabel 2 Lanjutan Gambaran Pengetahuan Mahasiswa UPH Lintas Prodi terhadap Jenis Kata Baku dan Nonbaku ARTES LIBERALES: Jurnal Studi Humaniora Page 11 Analisis Pengetahuan Mahasiswa UPH Terhadap Jenis Kata Baku dan Nonbaku dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Jonter Pandapotan Sitorus Bila mencermati data-data di atas, dominasi jawaban yang sudah tepat dapat dilihat dari hampir setengahnya setiap prodi menjawab dengan benar jenis pilihan kata baku dan tidak baku. Artinya, baik kata baku dan tidak baku yang ditanyakan dapat membuktikan bahwa memang jawaban yang diberikan mendukung pengetahuan responden pada kata-kata yang termasuk dalam kategori kata baku dan kata tidak Dengan demikian, gambaran dominasi ketepatan ini menjadi salah satu indikator penentu bahwa responden dari berbagai prodi memiliki pengetahuan yang cukup baik. Berdasarkan data-data di atas, secara umum beberapa kata yang sudah tepat kategorinya adalah kata analisis karena ketika dimasukkan ke dalam proses peluluhan jawaban responden secara umum dari berbagai prodi sudah tepat, yaitu menganalisis. Selain itu, pada kata sahur juga sudah mendapatkan jawaban yang tepat. Artinya, responden pengetahuannya tentang kata ini sudah baik. Berikutnya, dominasi jawaban yang sudah tepat adalah pada kata apotek. Walaupun masih terlihat ada jawaban yang salah, tetap saja dominasi jawaban dari berbagai prodi sudah tepat. Jawaban ini jelas juga memberikan penjelasan bahwa terhadap kata ini pengetahuan responden juga sudah Sebaliknya, hal yang menarik dibincangkan adalah dominasi kata yang salah. Bila mencermati kedua tabel di atas, dari 22 jumlah soal yang diberikan, ada beberapa kata yang tergolong sulit dijawab atau kata-kata yang mendominasi tingkat kesalahan jawaban. Pemilihan kata-kata yang mendominasi kesalahan jawaban dengan melihat jumlah responden ARTES LIBERALES: Jurnal Studi Humaniora Page 12 Analisis Pengetahuan Mahasiswa UPH Terhadap Jenis Kata Baku dan Nonbaku dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Jonter Pandapotan Sitorus pada setiap program studi yang termasuk dalam satu kelas. Dengan melihat berbagai jumlah responden dalam satu kelas, setidaknya lebih dari setengah responden yang menjawab salah pada soal yang diberikan. Berikut akan dipaparkan soal-soal yang mendominasi kesalahan jawaban dari berbagai jumlah jawaban responden. Soal yang banyak kesalahan yaitu terkait pilihan kata baku dari kata muruah yang sudah Akan tetapi, dari berbagai responden rata-rata jawaban yang salah diberikan dengan memilih marwah. Jelas kata ini sebenarnya sudah populer di masyarakat dan di dalam dunia jurnalistik dan pertelevisian kata-kata ini sering kali menghiasi informasi masyarakat. Namun, justru yang terjadi penulisan kata tersebut masih salah. Selain itu, pada soal, kata-kata yang mendominasi kesalahan yaitu penulisan kata salat yang seharusnya baku, tetapi justru yang paling sering digunakan kata yang tidak bakunya yaitu sholat. Padahal kata itu sangat dekat dengan masyarakat kita yang hampir setiap hari digunakan. Soal lainnya juga masih yang mendominasi salah antara penulisan hembusan dengan embusan. Rata-rata jawaban responden memilih hembusan yang jelas-jelas dalam kerangka acuan penulisannya salah yang seharusnya adalah kata embusan. Hal ini menjadi salah satu ciri kesalahan penulisan kata baku dalam bahasa Indonesia karena adanya penambahan huruf di awal kata tersebut sehingga menjadi salah. Penambahan yang dimaksudkan adalah hadirnya huruf h. Berikutnya, soal yang mendominasi kesalahan jawaban berada pada pilihan kata kadaluwarsa. Padahal yang benar seharusnya penulisannya adalah kedaluwarsa. Namun, kata ini juga termasuk kata yang tidak asing sebab termasuk salah satu kata yang populer di Ternyata kepopuleran kata yang dimaksudkan adalah bentuk ketidakbakuannya. Bila merujuk intensitas pemakaiannya, kata itu termasuk sangat populer digunakan dalam kemasan makanan atau kemasan produk-produk lainnya. Selain itu, kata sontek pun yang sangat sering terdengar dalam dunia akademik, ternyata tidak menjamin pengetahuan responden pada penggunaan kata ini. Rata-rata responden justru memilih kata contek ARTES LIBERALES: Jurnal Studi Humaniora Page 13 Analisis Pengetahuan Mahasiswa UPH Terhadap Jenis Kata Baku dan Nonbaku dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Jonter Pandapotan Sitorus sebagai kata yang baku yang menyebabkan salah kaprah. Ditambah lagi pengetahuan responden terhadap konsep peluluhan kata Me(N) pada kata tersebut yang umumnya salah dengan mencontek padahal yang benar adalah menyontek sebab kata dasarnya bukan contek, melainkan sontek sehingga yang baku penulisannya adalah menyontek dengan prinsip peluluhan huruf awal yang kata dasarnya di mulai dari huruf K. P dengan diikuti vokal setelah huruf pertama tersebut. Solusi Alternatif bagi Mahasiswa UPH dalam Mengenal dan Menerapkan Jenis Kata Baku dan Nonbaku Dari dua pembahasan pertanyaan penelitian di atas, jelas bahwa masih ditemukannya pengetahuan mahasiswa UPH yang kurang terhadap pengenalan mana kata baku dan tidak baku. Selain itu, dengan adanya temuan jenis kata-kata tertentu yang dominan salah, menandakan bahwa mahasiswa UPH masing jarang AubergaulAy dan mengenal kata-kata dan diksi dalam Bahasa Indonesia yang mungkin saja kata-kata itu hampir setiap hari digunakan dalam bahasa sehari-hari dan terlebih dalam bahasa akademik. Melihat dua temuan tersebut, ada beberapa solusi alternatif yang dapat membantu mahasiswa UPH untuk mengenal dan menerapkan mana kata-kata baku dan mana kata-kata yang tidak baku. Kita memang harus mengakui bahwa ketentuan persoalan kata baku dan tidak baku masih diatur dalam ranah penulisan. Sementara itu, ranah pengucapan atau pelafalan masih belum diatur. Hal itu mengingat banyaknya dialek dan bahasa daerah masing-masing dari warga penutur bahasa Indonesia. Dengan demikian, urusan kata baku dan tidak baku harus benar-benar mengingat, mengetahui, dan menerapkannya dalam penulisan yang Penulisan kata baku dan tidak baku itu nantinya berkaitan dengan penggunaan bahasa Indonesia yang benar. Benar dalam pengertian setiap kata dituliskan sesuai dengan kaidah yang diberlakukan. Salah satu kaidah yang paling mudah dipelajari adalah KBBI Edisi V. Dalam KBBI tersebut, setiap kata dan jenis katanya sudah ditetapkan mana yang ARTES LIBERALES: Jurnal Studi Humaniora Page 14 Analisis Pengetahuan Mahasiswa UPH Terhadap Jenis Kata Baku dan Nonbaku dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Jonter Pandapotan Sitorus harus digunakan dalam ketentuan baku dan tidak baku. Namun, dengan berbagai alasan dan penggunaan, seringkali masyarakat awam melupakan ketentuan tersebut. Bagi mereka baik kata baku dan tidak baku tidak penting, asal sama-sama dimengerti. Sebagai contoh, kita masih menemukan kata AuapotikAy yang salah dalam setiap nama toko obat di lingkungan kita, padahal jelas penulisannya salah. Akan tetapi, masyarakat tidak peduli baik AuapotekAy maupun AuapotikAy sama saja. Bagi mereka yang penting sama-sama tempat menjual obat. Di sinilah calon-calon akademik, khususnya para mahasiswa UPH memiliki kepekaan akademik dalam berbahasa. Jangan sampai anggapan demikian juga terjadi dalam pola berpikirnya mereka. Diperlukan kesadaran penting dari mahasiswa dan secara khusus penggunaan yang taat asas agar kelak masyarakat luas bisa melihat dan mencontoh para calon akademik yang nantinya menjadi akademisi dan profesional di bidang masing-masing dengan menyelesaikan studinya di perguruan Berdasarkan hal itu, ada beberapa solusi yang dapat diterapkan bagi mahasiswa UPH agar semakin mengenal dan terbiasa menggunakan kata-kata baku dalam keperluan akademik. Sebaliknya, mahasiswa UPH tetap diperbolehkan menggunakan kata tidak baku pada keperluan di luar akademik. Adapun beberapa solusi yang dimaksud adalah sebagai Mahasiswa UPH harus tetap diingatkan menggunakan KBBI di luar kamus di bidang profesionalnya. Hal ini mutlak mengingat bahasa Indonesia menjadi bahasa yang menjembatani keilmuan mereka dan ketentuan itu pun sudah diatur dalam setiap mata kuliah dari berbagai prodi yang ada. Mahasiswa UPH harus dibiasakan mengikuti kuis dalam memilih mana kata baku dan tidak baku sebagai wadah dan kesempatan mereka mengetahui mana kata-kata yang baku dan kata-kata yang tidak baku. Setiap tugas mahasiswa secara khusus dalam bentuk proyek tulisan harus dipastikan mengikuti kaidah penulisan yang baku. ARTES LIBERALES: Jurnal Studi Humaniora Page 15 Analisis Pengetahuan Mahasiswa UPH Terhadap Jenis Kata Baku dan Nonbaku dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Jonter Pandapotan Sitorus Dosen setiap pengampu mata kuliah harus memiliki tanggung jawab yang sama dengan dosen-dosen bahasa dalam memberikan komentar dan arahan kepada mahasiswa yang salah menuliskan kata-kata baku. Di berbagai prodi diperlukan adanya lokakarya atau seminar untuk mengingatkan kembali agar mahasiswa memiliki kepekaan dalam menggunakan kata baku dan tidak baku terlebih dalam urusan akademik. Kesimpulan Berdasarkan hasil temuan yang didapatkan dan pembahasan atas pertanyaan yang telah diuraikan, simpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut. Pengetahuan responden dalam hal ini mahasiswa UPH dari berbagai prodi terhadap pilihan kata baku dan tidak baku secara umum terlihat cukup baik. Ada beberapa responden yang sudah tepat memberikan kategori kata yang termasuk dalam kata baku dan tidak baku, tetapi ada juga yang masih salah dalam pemilihan kategori tersebut. Dominasi kata-kata yang sudah tepat dan yang salah dalam penempatan kategori kata baku dan tidak baku menunjukkan bahwa pengetahuan dan performansi penggunaannya masih silih berganti dan diperlukan cara khusus dalam mengenali saat kapan kategori kata yang baku dan tidak baku. Ada beberapa solusi alternatif yang dapat dilakukan dalam memantapkan pengetahuan dan performansi responden dalam mengenal dan menggunakan kata-kata yang baku dan kata-kata yang tidak baku. DAFTAR PUSTAKA