Vol. No. 2, 2025, 94-99. Homepage: https://ejurnal. id/jbd Efek Sinergis Madu dan Air Kelapa terhadap Maskulinisasi. Daya Tetas, dan Tingkat Kelangsungan Hidup Larva Ikan Nila (Oreochromis niloticu. Irwan Azis1*. Indra Cahyono2 Institut Teknologi dan Bisnis Maritim Balik Diwa Email correspondence*: irwanasis12@gmail. ABSTRACT This study investigates the synergistic effects of honey and coconut water as natural masculinization agents on Nile tilapia (Oreochromis niloticu. The experiment evaluated the impact of these natural substances on sex ratio, hatchability, growth performance, and survival rate. A total of four treatments were tested: honey . ml/L), coconut water . %), a combination of both, and a control group. Results showed that the combination of honey and coconut water yielded the highest masculinization ratio . %), significantly higher than the control group . %). Additionally, the combination treatment also exhibited superior hatchability . 5%) and growth performance compared to the other treatments. Survival rates were highest in the combination group . 67%), followed by coconut water . 67%), honey . 33%), and control . 67%). This study provides promising evidence that honey and coconut water can be used as sustainable, eco-friendly alternatives to synthetic hormones in tilapia aquaculture. Keywords: coconut water. survival rate. PENDAHULUAN Budidaya ikan nila (Oreochromis niloticu. merupakan salah satu sektor perikanan air tawar unggulan di Indonesia karena spesies ini memiliki laju pertumbuhan cepat, toleransi lingkungan yang luas, serta permintaan pasar yang tinggi. Namun, permasalahan utama yang sering dihadapi pembudidaya, termasuk di Kabupaten Mamuju Tengah, adalah pertumbuhan ikan yang tidak seragam akibat terjadinya pemijahan alami yang tidak terkendali di kolam pemeliharaan. Pemijahan dini menyebabkan meningkatnya kepadatan populasi, kompetisi pakan, serta penurunan performa pertumbuhan, yang pada akhirnya berdampak pada rendahnya produktivitas dan kualitas hasil panen (ElSayed, 2006. Popma & Masser, 1. Upaya yang telah banyak diterapkan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah penggunaan benih ikan nila jantan tunggal . Ikan nila jantan diketahui memiliki laju pertumbuhan yang lebih cepat dan efisien dibandingkan betina karena energi tidak tersalurkan untuk proses reproduksi. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa budidaya nila monoseks mampu meningkatkan efisiensi pakan, keseragaman ukuran, serta hasil biomassa hingga 30Ae40% dibandingkan populasi campuran (Mair & Little, 1991. Beardmore. Mair, & Lewis, 2. Secara umum, produksi benih nila jantan dilakukan melalui teknologi maskulinisasi menggunakan hormon sintetis, khususnya 17-metiltestosteron (MT), baik melalui pakan maupun perendaman larva. Meskipun metode ini terbukti efektif dengan tingkat keberhasilan mencapai lebih dari 90% jantan, penggunaan hormon sintetis menimbulkan kekhawatiran terkait residu hormon pada ikan, risiko kesehatan manusia, serta potensi dampak negatif terhadap lingkungan perairan. Selain itu, penggunaan hormon sintetis keterampilan teknis, yang tidak selalu mudah diterapkan oleh pembudidaya skala kecil (FAO, 2011. Pandian & Sheela, 1. Seiring berkelanjutan dan ramah lingkungan, diperlukan alternatif alami sebagai agen 95 Jurnal Riset Diwa Bahari Vol. No. 2, 2025, 94-99 Homepage: https://ejurnal. id/jbd E ISSN: 3032-3177 maskulinisasi yang aman dan mudah diaplikasikan. keseimbangan elektrolit yang membantu larva Salah satu bahan alami yang berpotensi adalah madu, bertahan hidup dan berkembang secara yang diketahui mengandung berbagai senyawa optimal selama fase kritis awal kehidupan. bioaktif, termasuk flavonoid seperti chrysin. Chrysin Pendekatan berperan sebagai inhibitor aromatase, yaitu enzim menghasilkan benih nila jantan dengan rasio yang mengonversi androgen menjadi estrogen dalam tinggi, tingkat kelangsungan hidup baik, serta proses diferensiasi kelamin ikan. Inhibisi aktivitas ramah lingkungan, sehingga sesuai dengan aromatase dapat menggeser jalur perkembangan kebutuhan pembudidaya lokal di Mamuju gonad ke arah jantan, sehingga meningkatkan rasio Tengah (Aris et al. , 2012. Yulianti et al. ikan berkelamin jantan (Aris et al. , 2012. El-Greisy & 2. El-Gamal, 2. Beberapa penelitian melaporkan bahwa II. METODE PENELITIAN perendaman larva ikan nila dalam larutan madu Penelitian ini menggunakan metode dengan dosis dan durasi tertentu mampu eksperimental untuk menguji pengaruh menghasilkan rasio jantan lebih dari 80%. Selain perendaman larva ikan nila (Oreochromis berfungsi sebagai agen maskulinisasi, madu juga mengandung gula sederhana, mineral, serta senyawa niloticu. pertumbuhan, dan tingkat kelangsungan antibakteri alami yang dapat meningkatkan energi Metode eksperimental dipilih karena metabolik dan kesehatan larva pada fase awal mampu menjelaskan hubungan sebabAeakibat perkembangan yang kritis (Fitriyah et al. , 2015. Putri et al. , 2. Dengan demikian, madu tidak hanya melalui pemberian perlakuan yang terkontrol berperan dalam manipulasi kelamin, tetapi juga (Steel & Torrie, 1. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak mendukung tingkat kelangsungan hidup larva. Selain madu, air kelapa muda juga berpotensi Lengkap (RAL), karena unit percobaan digunakan sebagai agen alami dalam proses dianggap homogen dan ditempatkan pada Air kelapa muda mengandung kondisi lingkungan yang relatif seragam berbagai nutrien penting seperti gula, asam amino (Gomez & Gomez, 2. Penelitian terdiri esensial, elektrolit, dan fitohormon, terutama atas empat perlakuan dengan tiga ulangan. Sitokinin diketahui berperan dalam yaitu kontrol (P. tanpa madu dan air kelapa, pembelahan sel, metabolisme, serta modulasi sistem perendaman madu 15 ml/L (P. mengacu pada Beberapa penelitian menunjukkan bahwa Talbiah et al. , perendaman air kelapa perlakuan air kelapa muda pada larva ikan dapat muda 30% (P. berdasarkan Masprawidinata dengan et al. , serta kombinasi madu 15 ml/L meningkatkan rasio jantan hingga 60Ae70%, meskipun dan air kelapa muda 30% (P. Perlakuan hasilnya lebih rendah dibandingkan agen hormonal diberikan melalui perendaman larva yang baru menetas selama 10 jam, karena fase larva (Yulianti et al. , 2016. Handayani & Rostika, 2. Meskipun efektivitas maskulinisasi air kelapa merupakan periode kritis yang sensitif relatif lebih rendah, bahan ini memiliki keunggulan terhadap manipulasi diferensiasi kelamin dalam meningkatkan daya tahan tubuh larva dan (Pandian & Sheela, 1. Setiap unit percobaan diisi 90 ekor larva di Balai Benih Ikan Patagang Kandungan elektrolit dan senyawa organik dalam air tawar dengan salinitas 0Ae5 kelapa dapat membantu menstabilkan kondisi 29Ae32AC, yang merupakan fisiologis larva selama fase stres awal, sehingga berpotensi meningkatkan tingkat kelangsungan hidup (El-Sayed, dan kualitas benih (Pratiwi et al. , 2018. Sari et al. Variabel yang diamati meliputi nisbah Berdasarkan potensi masing-masing bahan, kelamin sebagai indikator keberhasilan kombinasi madu dan air kelapa muda diduga dapat maskulinisasi, pertumbuhan mutlak, laju memberikan efek sinergis dalam proses maskulinisasi pertumbuhan (SR) ikan nila. Madu berperan sebagai pemicu utama diferensiasi kelamin jantan melalui mekanisme performa biologis ikan (Effendie, 2. inhibisi aromatase, sedangkan air kelapa muda Selain itu, parameter kualitas air yang meliputi dan suhu, oksigen terlarut (DO), pH, dan amonia E ISSN: 3032-3177 96 Jurnal Riset Diwa Bahari Vol. No. 2, 2025, 94-99 Homepage: https://ejurnal. id/jbd i. HASIL DAN PEMBAHASAN Derajat Penetasan Tabel 1 menunjukkan bahwa perlakuan perendaman selama 10 jam berpengaruh nyata terhadap tingkat penetasan telur larva ikan nila (NA. = 45. p < 0. Kombinasi madu 15 ml/L dan air kelapa 30%/L menghasilkan daya tetas tertinggi sebesar 77,5%, yang lebih tinggi 32,5 poin persentase dibandingkan dengan kontrol yang hanya menggunakan air biasa, dengan tingkat penetasan sebesar 45% . _adj < 0. Perlakuan kombinasi ini menunjukkan bahwa penggabungan madu dan air kelapa memiliki efek sinergis yang signifikan dalam meningkatkan daya tetas telur. Tabel 1. Jumlah telur ikan nila yang menetas perendaman perlakuan 10 Jam Telur Telur Tidak Perlakuan Menetas Menetas Madu Air Kelapa Kombinasi Kontrol Sumber: hasil penelitian Perlakuan dengan madu . ,5%) dan air kelapa . ,5%) masing-masing peningkatan moderat dalam tingkat penetasan dibandingkan dengan kontrol. Tingkat penetasan pada perlakuan madu dan air kelapa lebih tinggi masing-masing 12,5 poin dan 11,5 poin persentase dibandingkan dengan kontrol . _adj = 0. 037 dan 0. Namun, tidak ada perbedaan signifikan antara perlakuan madu dan air kelapa . _adj = 0. , yang menunjukkan bahwa keduanya secara individual memberikan dampak yang hampir setara dalam meningkatkan daya tetas telur larva ikan nila. Gambar 1. Grafik jumlah telur ikan nila menetas setelah perendaman 10 jam jumlah telur yang menetas . diamati secara berkala untuk memastikan kondisi pemeliharaan tetap optimal dan tidak menjadi faktor pembatas dalam interpretasi hasil penelitian (Boyd, telur menetas telur tidak menetas 175 Madu Air kelapa Kombinasi Kontrol Sumber: hasil penelitian Nisbah Kelamin Analisis nisbah kelamin (Tabel . menunjukkan perbedaan signifikan antara perlakuan (NA. = 66. p < 0. Perlakuan P1 (Mad. P2 (Air Kelap. , dan P3 (Kombinas. menghasilkan rasio jantan sebesar 87%, 88%, dan 94%, yang jauh lebih tinggi seperti pada tabel 2 dibawah ini: Tabel 2. Analsis Nisbah Kelamin Perlakuan Jantan Madu Air kelapa Madu dan Air Sumber: hasil penelitian Dibandingkan kontrol yang hanya 53%. Uji lanjut menunjukkan bahwa semua perlakuan berbeda signifikan dengan kontrol . _adj < 0. , dengan odds ratio berkisar antara 5,98 hingga 13,94, menunjukkan peningkatan peluang yang substansial untuk E ISSN: 3032-3177 97 Jurnal Riset Diwa Bahari Vol. No. 2, 2025, 94-99 Homepage: https://ejurnal. id/jbd menghasilkan jantan. Namun, perbedaan antara perlakuan perendaman tidak signifikan . _adj > 0,. , yang menunjukkan bahwa madu atau air kelapa secara tunggal sudah cukup efektif dalam memodifikasi kelamin ke arah jantan. Tingkat Kelangsungan Hidup (SR) Gambar 2. Sintasan benih perlakuan maskulinisasi Sumber: hasil penelitian Analisis SR (Gambar . menunjukkan perbedaan signifikan antar perlakuan (F = 8,64. p = 0,0. Perlakuan kombinasi madu dan air kelapa (KMAK) memiliki SR tertinggi sebesar 94,67%, diikuti oleh air kelapa . ,67%), madu . ,33%), dan kontrol . ,67%). Uji lanjut Tukey menunjukkan bahwa kelompok kontrol memiliki tingkat kelangsungan hidup yang lebih rendah secara signifikan dibandingkan dengan KMAK dan air kelapa, yang mengindikasikan bahwa perlakuan keduanya memberikan efek positif dalam meningkatkan kelangsungan hidup larva. Kualitas Air Parameter Suhu Tabel 3 Analisi Kualitas Air Nilai Satuan Kisaran RataOptimal AC 28Ae32 AC (Makori et al. mg/L > 5 mg/L (Mramba & Kahindi, 2. 6,5-8,5 (Pramleonita et , 2. Parameter kualitas air, seperti suhu . ,5AC). DO . ,5 mg/L), dan pH . , berada dalam kisaran yang optimal untuk pertumbuhan ikan nila selama periode 5 minggu penelitian. Semua parameter ini terjaga sepanjang eksperimen, memastikan bahwa kualitas air tidak membatasi keberhasilan perlakuan maskulinisasi. IV. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa madu dan air kelapa dapat digunakan sebagai agen maskulinisasi alami pada larva ikan nila. Kombinasi kedua bahan ini memberikan efek sinergis yang meningkatkan maskulinisasi, daya tetas, dan kelangsungan hidup larva. Penggunaan bahan alami ini menawarkan alternatif ramah lingkungan dan berkelanjutan untuk mengurangi ketergantungan pada hormon sintetis dalam pembenihan ikan nila. Penelitian lebih lanjut mengenai dosis optimal dan mekanisme molekuler yang terlibat dalam proses maskulinisasi ini sangat diperlukan untuk mengoptimalkan penggunaan bahan alami dalam industri akuakultur. REFERENSI