INFOKES : Jurnal Ilmiah Rekam Medis dan Informatika Kesehatan Vol 15 No 2 Tahun 2025 halaman : 101-106 E-ISSN : 2745 Ae 5629 PENGENDALIAN PERSEDIAAN OBAT MENGGUNAKAN METODE ANALISIS ABC-VEN DI INSTALASI FARMASI RS PANDAN ARANG BOYOLALI 1Rizka Wahyu Syahputra*, 2Opstaria Saptarini, 3Tri Wijayanti 1,2,3 Program Studi S2 Farmasi Universitas Setia Budi Email: 1rwahyusp@gmail. Submitted : 30 Juni 2025 Reviewed : 07 Juli 2025 Accepted : 11 Agustus 2025 ABSTRAK Pelayanan kefarmasian merupakan pelayanan penunjang dan sekaligus menjadi salah satu revenue centre primer, karena lebih dari 90% pelayanan di rumah sakit menggunakan perbekalan farmasi seperti obatobatan, bahan kimia, bahan radiologi, bahan medis habis pakai, alat kesehatan serta gas medik dan 50% dari semua pemasukan rumah sakit berasal dari pengelolaan perbekalan farmasi. Instalasi Farmasi RSUD Pandan Arang Boyolali mengelola 644 item obat yang terdaftar pada database. Perencanaan obat di RS Pandan Arang Boyolali masih menggunakan metode konsumsi. Penelitian ini bertujuan membuat usulan cara pengendalian perencanaan persediaan agar tidak terjadi stock out di Instalasi Farmasi RSUD Pandan Arang Boyolali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengendalian perencanaan persediaan obat dengan metode ABC-VEN di instalasi Farmasi RS Pandan Arang Boyolali dengan mengambil data persediaan obat yang digunakan untuk menghitung kebutuhan persediaan tahun 2022 dengan metode analisis kombinasi ABC-VEN. Metode yang digunakan yaitu metode ABC (Always. Better. Contro. VEN (Vital. Essensial. Non Essensia. Data yang diperoleh pada saat wawancara dengan narasumber, pengamatan dan observasi langsung pada saat penelitian serta data obat pada Instalasi Farmasi RS Pandan Arang Boyolali tahun 2021. Hasil analisis metode ABC-VEN diperoleh data item obat kelompok A 44 item obat kelompok B 159 item obat kelompok C 441 item obat dan dibagi menjadi 9 kategori yaitu : item obat kategori AV 15 item obat AE 24 item obat. AN 4 item obat. BV 26 item obat. BE 105 item obat. BN 28 item obat. CV 20 item obat. CE 289 item obat. CN 132 item obat dari total 644 item obat. Analisis ABC-VEN dapat dijadikan acuan untuk mendapatkan persediaan yang optimal, efektif dan efisien. Kata Kunci : konsumsi, analisis ABC, analisis VEN. ROP. EOR. ITOR ABSTRACT Pharmaceutical services are supporting services and at the same time become one of the primary revenue centers, because more than 90% of services in hospitals use pharmaceutical supplies such as drugs, chemicals, radiology materials, medical consumables, medical devices and medical gases and 50% of all hospital income comes from the management of pharmaceutical supplies. The Pharmacy Installation of Pandan Arang Boyolali Hospital manages 644 items of drugs registered in the database. Drug planning at Pandan Arang Boyolali Hospital still uses the consumption method. This study aims to determine the control of drug supply planning using the ABC-VEN method at the Pharmacy Installation of Pandan Arang Boyolali Hospital by collecting drug inventory data used to calculate inventory needs in 2022 using the ABC-VEN combination analysis method. The method used is the ABC method (Always. Better. Contro. VEN (Vital. Essential. Non-Essentia. Data obtained during interviews with informants, observations and direct observations during research as well as drug data at the Pharmacy Installation The results of the analysis of the ABC-VEN method at Pandan Arang Boyolali Hospital obtained data on 44 group A drug items, 159 group B drug items, 441 group C drug items and divided into 9 categories: AV category 15 drug items. AE 24 drug items. AN 4 drug items. BV 26 drug items. BE 105 drug items. BN 28 drug items. CV 20 drug items. CE 289 drug items. CN 132 drug items out of a total of 644 drug items. ABC-VEN analysis can be used as a reference in order to obtain optimal, effective and efficient inventory Keywords : consumption. ABC analysis. VEN analysis. ROP. EOQ. ITOR PENDAHULUAN Indikator krusial pada pelayanan pasien di rumah sakit salah satunya yaitu obat. Obat merupakan salah satu komponen esensial yang wajib tersedia pada sarana pelayanan kesehatan, obat pula merupakan bagian korelasi antara pasien dan sarana pelayanan kesehatan, sebab ketersediaan obat di sarana INFOKES : Jurnal Ilmiah Rekam Medis dan Informatika Kesehatan INFOKES : Jurnal Ilmiah Rekam Medis dan Informatika Kesehatan Vol 15 No 2 Tahun 2025 halaman : 101-106 E-ISSN : 2745 Ae 5629 pelayanan kesehatan akan memberikan berbagai dampak terhadap mutu pelayanan (Satibi, 2. Manajemen obat yang baik merupakan aspek yang berpengaruh pada pelayanan kefarmasian di rumah sakit serta menjadi aspek utama untuk menaikkan mutu pelayanan farmasi rumah sakit (Depkes RI. Tujuan manajemen obat untuk menjamin ketersediaan obat apabila ketika diperlukan baik pada jumlah, jenis maupun kualitas (Depkes RI, 2. Evaluasi taraf kepuasan pasien terhadap kualitas pelayanan di Instalasi Farmasi RS Pandan Arang Boyolali masuk dalam kategori tinggi, ditinjau dari rata-rata kepuasan responden yang memiliki nilai sebesar 0,89. RS Pandan Arang Boyolali merupaka rumah Sakit milik Pemerintah Daerah Sejak tahun 1992-1993 hingga tahun 1996-1997 pendapatan obat selalu mengalami kenaikan dari 32,29% menjadi 43,95 %, sehingga Instalasi Farmasi RS Pandan Arang Boyolali merupakan revenue centre. Manajemen obat yang tidak lancar dapat memberi pengaruh buruk bagi rumah sakit, sehingga harus dilakukan evaluasi pengelolaan obat serta manajemen pendukung yang lain agar dapat diketahui permasalahan yang timbul sehingga dapat dilakukan upaya perbaikan dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Pada penelitian ini, indikator manajemen obat yang dievaluasi terdiri dari pemilihan, perencanaan serta pengadaan, distribusi dan penggunaan obat menggunakan model rancangan ABC dan VEN. Berdasarkan analisis ABC, maka aktivitas pengadaan persediaan obat dapat dikendalikan dengan menentukan frekuensi pesanan, yaitu item A dipesan harus lebih hati - hati, lebih sering, dan dalam jumlah yang lebih sedikit untuk meminimalkan biaya pengadaan, persediaan pengaman rendah, item B dikendalikan dengan frekuensi dan jumlah pengadan yang optimal, dan item C usaha pengendaliannya minimum (Satibi, 2. Metode yang tepat digunakan untuk perencanaan dan pengadaan yaitu dengan menggunakan analisis ABC dan VEN agar dapat mengetahui jenis obat yang menjadi prioritas untuk dikendalikan. Metode analisis ABC merupakan metode analisis yang dapat digunakan sebagai analisis pola konsumsi perbekalan farmasi, sedangkan metode analisis VEN (Vital. Esensial. Non-Esensia. merupakan system dalam menentukan seleksi pengadaan, dan penggunaan perbekalan farmasi. Analisis VEN berperan dalam mengontrol stok obat yang dapat kontrol ketat agar menghindari stock-out dan memperbesar kegunaan dari dana yang tersedia. Gabungan metode analisis ABC-VEN dapat digunakan dalam mengevaluasi pola pengadaan dengan dasar prioritas (Satibi, 2. Berdasarkan latar belakang dan permasalahan mengenai manajemen pengadaan obat di IFRS RS Pandan Arang Boyolali, maka peneliti ingin menganalisis sistem pengadaan persediaan obat di RS Pandan Arang Boyolali dengan menggunakan analisis kombinasi ABC dan VEN. Penelitian ini diharapkan akan menjadi suatu solusi untuk pengelolaan persediaan obat, yaitu menurut analisis ABC, dan menurut klasifikasi VEN dalam menciptakan sistem pengendalian persediaan obat, agar kiprah instalasi farmasi menjadi reveneu centre dapat terpenuhi. METODE Dalam penelitian ini digunakan data primer yang didukung dengan data sekunder. Cara pengumpulan data primer dan sekunder adalah sebagai berikut : Pengumpulan data Penelitian ini didapatkan melalui data primer dengan wawancara langsung kepada pihak-pihak yang terkait dengan proses Perencanaan obat yaitu Kepala Instalasi Farmasi. Pengumpulan data dengan teknik ini dapat digunakan untuk memperoleh data yang bersifat fakta. Sumber dan data yang diharapkan diperoleh dari wawancara sebagai berikut : bagian pelayanan, diperoleh data mengenai peranannya dalam melakukan koordinasi dengan dokter dalam menetukan jenis-jenis obat yang dibutuhkan dan harus disediakan di Instalasi Farmasi Rumah Sakit. Bagian keuangan, mengenai perannya dalam menetukan besarnya anggaran untuk pengadaan persediaan dan sekaligus mengendalikan belanja perbekalan farmasi. Kepala Instalasi Farmasi, mengenai fungsinya sebagai pimpinan dalam melaksanakan manajemen logistik farmasi dan keinginannya mengenai konsep yang diterapkan di Instalasi Farmasi Rumah Sakit, termasuk pengendalian perencanaan dan persediaan obat. Data sekunder dalam penelitian ini berasal dari dokumen-dokumen di RS Pandan Arang Boyolali yang menunjang penelitian ini yaitu data daftar obat yang tersedia, copy resep, laporan mengenai pengadaan persediaan di Instalasi Farmasi Rumah Sakit, jumlah penggunaan obat, laporan mengenai Lead Time obat persediaan dan laporan mengenai harga-harga obat. Data yang diperoleh melalui data yang telah diteliti dan dikumpulkan oleh pihak lain yang berkaitan dengan masalah penelitian yang berasal dari buku-buku referensi, jurnal terkait, dan informasi yang didapat melalui internet. Jalannya penelitian Tahap pelaksanaan kegiatan yang dilakukan adalah mengumpulkan data pemakaian obat di instalasi farmasi RS Pandan Arang Boyolali, melakukan klasifikasi obat berdasarkan analisis kombinasi ABC-VEN kemudian membuat matriks dari kedua analisis tersebut. Setelah mengklasifikasikan obat dengan metode analisis ABC-VEN tahap selanjutnya mengitung SS (Safety Stoc. persediaan obat untuk mengantisipasi INFOKES : Jurnal Ilmiah Rekam Medis dan Informatika Kesehatan INFOKES : Jurnal Ilmiah Rekam Medis dan Informatika Kesehatan Vol 15 No 2 Tahun 2025 halaman : 101-106 E-ISSN : 2745 Ae 5629 unsur ketidakpastian permintaan dan persediaan. Perhitungan SS dengan melihat kondisi pemakaian atau permintaan obat yang fluktuatif atau variabel dan lead time cenderung konstan. Selanjutnya menghitungan ROP (Reorder Poin. untuk menhitung persediaan obat dan menghitung jumlah pembelian (Q) yang direkomendasikan sesuai dengan metode yang terpilih berdasarkan karakteristik obat dengan membandingkan total pembelian antara metode terpilih dengan kondisi riil yang dilakukan di obyek penelitiann dan menghitung EOQ (Economic Order Quantiti. , untuk mengoptimalkan pembelian barang atau obat yang dapat menekan biaya-biaya persediaan sehingga lebih efisien . enetukan jumlah barang yang akan dipesan agar lebih ekonomi. Tahap terakhir menghitung ITOR, untuk mengevaluasi persediaan obat yang dilakukan peneliti. Efisiensi persediaan diukur dengan besaran nilai ITOR yaitu melihat besarnya perputaran dana untuk masing-masing jenis obat dalam satu tahun. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis ABC Pengelompokkan obat berdasarkan jumlah serta nilai pemakaian diperlukan untuk mengetahui pemakaian tertinggi, sedang dan rendah yang ditunjukkan pada Tabel 1. Berdasarkan tabel 1, dapat dilihat kategori A terdapat dari 44 item obat beberapa diantaranya yaitu golongan obat gastroentritis, obat jantung. Human Albumin, obat Covid-19, antidiabetes, antihipertensi. Pemakaian sedang atau kelompok B terdiri dari 159 obat diantaranya yaitu golongan antibiotik, pengencer dahak, suplement, antivirus. Pemakaian rendah atau kategori C terdiri dari 441 item obat diantaranya yaitu golongan obat KB, dan asam folat. Obat tersebut secara keseluruhan dihitung dengan menggunakan analisa ABC (Paret. diperoleh 6,83% . item obat masuk pada kategori A), 24,69% . item obat masuk kategori B), 68,48% . item obat masuk kategori C). Sedangkan untuk hasil perhitunggan kebutuhan dana menggunakan analisa ABC diperoleh 74,85% (Rp 4. total dana pada kategori A, 20,14% (Rp 1. total dana pada kategori B, 5,01% ( Rp 331. total dana pada kategori Tabel 1. Pengendalian Obat Dengan Analisis ABC Jml item Kelompok 6,83% 24,69% Rencana Anggaran (R. 951,72 272,00 74,85% 20,14% 68,48% 142,50 5,01% Jumlah 366,04 Kebutuhan jenis/item obat tahun 2022 sejumlah 644 item dibutuhkan anggaran sebesar Rp. 366,04 Berdasarkan hasil analisis tersebut, diketahui bahwa jumlah persentase kebutuhan obat kategori A lebih rendah dibandingkan dengan kategori B dan C, akan tetapi dana yang dibutuhkan untuk menganggarkan obat kategori A jauh lebih besar persentasenya dibandingkan dengan kategori B dan C, sehingga dapat menjadi evaluasi tersendiri bagi pihak Rumah Sakit dalam pengawasan persediaan obat yang ditinjau berdasarkan aspek pengadaan dan keuangan. Hal tersebut sesuai dengan penelitian Kussuma . , menyatakan bahwa dengan melakukan pendekatan analisis ABC, semua item barang diklasifikasikan, sehingga memberikan keuntungan tersendiri bagi pihak Rumah Sakit baik pada aspek persediaan maupun aspek keuangan. Analisis VEN Kategori penentuan VEN berdasarkan penggunaan obat sesuai dengan pola 10 penyakit besar yang terjadi selama tahun 2021 antara lain. Coronavirus Infection. Chronic kidney diasease stage 5. Low birth weight. Prolonged first stage. Severe pre-eclampsia. Gastroenteritis and colitis of unspecifiedorigin and Dyspepsia. Pengelompokkan obat VEN juga didasarkan dengan penggunaan obat yang termasuk dalam potensial life-saving drugs. Mempunyai efek with drawal secara signifikan atau sangat penting dalam penyediaan pelayanan kesehatan berdasarkan hasil wawancara dengan dokter dan kepala IFRS RS Tabel 2. Pengendalian Obat Berdasarkan Analisis VEN Jenis Kelompok Jumlah Item 9,47% 64,91% 25,47% INFOKES : Jurnal Ilmiah Rekam Medis dan Informatika Kesehatan INFOKES : Jurnal Ilmiah Rekam Medis dan Informatika Kesehatan Vol 15 No 2 Tahun 2025 halaman : 101-106 E-ISSN : 2745 Ae 5629 Tabel 2 menunjukkan pengelompokan obat berdasarkan analisis VEN, diperoleh obat yang tergolong kelompok V adalah sebanyak 61 item obat atau 9,47% dari keseluruhan item obat di instalasi farmasi RS Obat yang tergolong kelompok E adalah sebanyak 418 item obat atau 64,91% dari keseluruhan item obat di instalasi farmasi RS X. Sedangkan untuk obat yang tergolong kelompok N adalah sebanyak 164 jenis atau 24,47% dari seluruh item obat di instalasi farmasi RS X. Analisis ABC-VEN Metode analisis ABC-VEN digunakan untuk menetapkan obat yang memiliki prioritas tinggi dan obat yang priotas pengurangannya cukup tinggi apabila anggaran yang tersedia tidak sesuai dengan kebutuhan. Hasil analisis dengan metode ABC VEN diperoleh beberapa kategori obat yaitu AV. AE. AN. BV. BE. BN. CV. CE. CN. Obat yang termasuk kategori NA merupakan obat yang ada dikelompok A dari ABC yang menjadi prioritas pertama untuk dikurangi karena nilai investasinya yang relatif tinggi, kemudian diikuti ketegori NB karena memiliki nilai investasi rendah, selanjutnya diikuti oleh kategori NC. EA. EB dan EC (Priatna et al. , 2. Berdasarkan kategori tersebut menggambarkan efisisensi dan efektifitas dari pengelolaan obat. Kategori kelompok CE (C Esensia. lebih banyak, dikarenakan fungsinya sebagai penanggulangan penyakit pasien, secara biaya yang dikeluarkan relatif rendah dalam pengadaannya. Kategori kelompok AE ( A Esensia. memiliki jumlah item tidak sebanyak pada kelompok CE, akan tetapi nilai investasi yang dikeluarkan lebih besar daripada kategori kelompok lain. Hasil analisis tersebut menentukan prioritas pilihan obat yang dapat diminimalisir pengadaannya karena pemakaian yang tidak efektif atau sedikit maupun dan memiliki kesamaan manfaatnya dalam pengobatan. Parameter yang dapat mempengaruhi yaitu pemakaian obat pada waktu sebelumnya, lead time merupakan jumlah obat yang dihitung sejak obat dipesan sampai obat datang, safety stock yaitu stok pengaman yang merupakan jumlah obat yang harus ditambahkan agar obat masih tersedia sampai pengadaan obat baru datang, dan sisa stok yang harus dihitung dengan teliti (Priatna et al. , 2. Tabel 3. Hasil Pengelompokan Obat dengan Analisis ABC-VEN Kategori Item % item Biaya %Biaya Rp 2. 3,73% Rp 1. 0,62% 4,04% Rp 845. 16,30% Rp 472. 4,35% 3,11% Rp 152. 44,88% Rp 132. 20,50% TOTAL Rp 6. Analisis ROP (Reorder Poin. Perhitungan ROP meliputi permintaan atau jumlah pemakaian obat selama lead time, sedangkan safety stock berfungsi sebagai buffer stock untuk permintaan persediaan yang fluktuatif. Pada RS X belum memiliki suatu metode tertentu dalam menghitung ROP. RS X dalam penetuan ROP berdasarkan penggunaan waktu lampau dan faktor estimasi yang dilakukan IFRS, maka penelitian ini akan memberikan usulan dalam penghitungan ROP. Contoh hasil usulan perhitungan ROP obat dapat dilihat pada tabel 4. Tabel 4. Hasil Perhitungan ROP Persediaan Obat Tahun 2022 RSUD Pandan Arang Boyolali Safety Titik Nama Barang ROP Stock ROP Fibrion inj 1. 000 IU Vial Gammaraas inj Vial Zometa inf 4mg/100ml Botol Octalbin 25% 100ml Botol Plasbumin 25% 100mL Botol Hyperhep inj Vial Pegasys 180mcg Vial Cystistat Vial Covifor Inj 100 mg Vial Plasmanate 250 mL inf Botol INFOKES : Jurnal Ilmiah Rekam Medis dan Informatika Kesehatan INFOKES : Jurnal Ilmiah Rekam Medis dan Informatika Kesehatan Vol 15 No 2 Tahun 2025 halaman : 101-106 E-ISSN : 2745 Ae 5629 Berdasarkan tabel 4, diperoleh titik ROP pada obat yang merupakan titik persediaan dalam melakukan pembelian kembali pada periode pembelian yang akan direncanakan. Titik ROP tersebut merupakan titik atau jumlah ideal untuk dilakukannya pembelian ulang agar dapat terhindar dari kekurangan stok karena stock out dan terhindar dari kekurangan stok karena permintaan yang meningkat sewaktu-waktu. Titik ROP yang diperoleh jika dibandingakan dengan rencana kebutuhan obat tahun 2022 pada IFRS terdapat perbedaan yang cukup bermakna, misalkan pada obat Fibrion Inj 1. 500 UI pada rencana kebutuhan obat 2022 membutuhkan sebanyak 22 vial, akan tetapi jika dilihat berdasarkan titik ROP yang diperoleh menggunakan rumus membutuhkan sebanyak 82 vial. Obat Cylistat inj pada rencana kebutuhan obat 2022 tidak membutuhkan, akan tetapi jika ditinjau dari titik ROP yang diperoleh memerlukan sebanyak 6 Analisa EOQ (Economic Order Quantit. Metode EOQ merupakan suatu cara untuk menentukan jumlah pemesanan yang paling efisien dengan meminimalisir jumlah biaya pemesanan dan penyimpanan. EOQ merupakan ukuran suatu pesanan yang memperkecil total biaya. Metode EOQ memerlukan perhitungan mengenai permintaan obat, biaya pemesanan dan biaya penyimpanan. Biaya pemesanan akan semakin besar apabila frekwensi pesamanan yang dilakukan semakin besar juga, contoh hal padanya biaya administrasi (Herawan et al. , 2. Tabel 5. Jumlah Optimum Pemesanan Masing-masing Item Obat Nama Barang Satuan P/bulan RKO 2DS/H EOQ Fibrion inj 1. 000 IU Vial Gammaraas inj Vial Zometa inf 4mg/100ml Botol Octalbin 25% 100ml Botol Plasbumin 25% 100mL Botol Hyperhep inj Vial Pegasys 180mcg Vial Cystistat Vial Covifor Inj 100 mg Vial Plasmanate 250 mL inf Botol Berdasarkan hasil perhitungan pada tabel 5 dapat dilihat waktu yang tepat untuk menentukan kapan pemesanan kembali dilakukan berdasarkan kondisi persedian yang telah dihitung menggunakan perhitungan ROP untuk dijadikan dasar dalam pemesanan kembali. Hasil analisis EOQ pada tabel 5, diperoleh nilai EOQ yang rendah pada obat-obat tertentu, misalnya pada obat Remedia injeksi diperoleh nilai EOQ adalah 126, yang artinya pemesanan ideal dari obat Remedia injeksi yaitu 126 vial. Berbeda pada obat Covifor injeksi yang memiliki nilai EOQ 57, artinya nilai pemesanan ideal dari obat tersebut yaitu 57 vial. Jumlah pesanan setiap obat menyesuaikan dengan kebutuhan Rumah Sakit, dalam hal ini kebutuhan obat Remedia injeksi dan Covifor injeksi yang memiliki kandungan yang sama akan tetapi nilai EOQ obat Remidia lebih tinggi karena harganya yang relatif lebih murah jika dibandingkan dengan Covifor injeksi. Metode EOQ merupakan set point yang dirancang untuk membantu meminimalkan biaya pemesanan dan penyimpanan persediaan. Analisa ITOR (Inventory Turn Over Rati. Pada perhitungan ITOR merupakan indikator untuk mengetahui berapa kali perputaran modal dalam kurun waktu 1 tahun. Rasio perputaran persediaan obat dapat mengetahui pengelolahan persediaan obat efisien atau tidak. Rasio ini sebagai indikator untuk menilai efisiensi operasional yang memperlihatkan seberapa efektifnya manajemen mengontrol modal yang ada pada persediaan. Tabel 6. Hasil Inventory Turn Over Ratio (ITOR) keseluruhan obat tahun 2021 HPP Nilai Rata-rata Persediaan (Januari Ae ITOR (Januari Ae Desember 2. Desember 2. 182,25 Rp 627. 838,00 9,28 Berdasarkan hasil analisis ITOR pada tabel 6, menunjukkan bahwa rata- rata nilai rasio perputaran persediaan / ITOR Instalasi Farmasi RS X adalah 9,28 kali/tahun yang artinya tergolong ideal. Hal tersebut menunjukan bahwa nilai presisi data stok, presentase obat ED, nilai TOR serta nilai stok akhir tahun telah memenuhi target rumah sakit. Hasil ITOR yang diperoleh dapat dijadikan tolak ukur bahwa INFOKES : Jurnal Ilmiah Rekam Medis dan Informatika Kesehatan INFOKES : Jurnal Ilmiah Rekam Medis dan Informatika Kesehatan Vol 15 No 2 Tahun 2025 halaman : 101-106 E-ISSN : 2745 Ae 5629 perputaran persediaan berdasarkan nilai penjualan dan pembelian telah efisien. Menurut Hartih . ITOR merupakan indikasi utama dalam mengukur efisiensi pengendalian inventory yang sudah Nilai ITOR yang ideal di IFRS yaitu 8-12 kali setahun, sedangkan di apotek adalah 6-8 kali KESIMPULAN Proses pengendalian persediaan obat dengan menggunakan metode konsumsi yang dikontrol dengan metode analisis ABC-VEN di RSUD Pandan Arang Boyolali diperoleh data 44 item obat kelompok A, 159 item obat kelompok B, 441 item obat kelompok C dan terbagi dalam 9 kategori daintaranya: kategori AV 15 item obat. AE 24 item obat. AN 4 item obat. BV 26 item obat. BE 105 item obat. BN 28 item obat. CV 20 item obat. CE 289 item obat. CN 132 item obat dari jumlah total 644 item obat. Perencanaan dan pengadaan obat menggunakan metode Konsumsi yang dikendalikan dengan analisis ABC-VEN dan perhitungan ROP. EOQ dan ITOR dapat digunakan sebagai acuan untuk dilaksanakan dalam pengelolaan persediaan di RS X agar didapatkan persediaan yang optimal, efektif dan efisien DAFTAR PUSTAKA