E-ISSN : 2715-6036 P-ISSN : 2716-0483 DOI : 10. Vol. 5 No. Juni 2023, 17 - 22 HUBUNGAN SUPERVISI OLEH TIM PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI (PPI) DENGAN KEPATUHAN PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI (APD) HANDSCOON DALAM TINDAKAN KEPERAWATAN DI RUANG RAWAT INAP PENYAKIT DALAM RUMAH SAKIT Dr. ISKAK TULUNGAGUNG RELATIONSHIP BETWEEN SUPERVISION AND COMPLIANCE OF THE USE OF HANDSCOON PERSONAL PROTECTIVE EQUIPMENT (PPE) IN NURSING ACTION. INDEPENDENCE WARDS. RSUD Dr. ISAK. TULUNGAGUNG Manggar Purwacaraka1. Aesthetica Islamy1*. Suharyoto2. Suciati1 Program Studi S1 Keperawatan. STIKes Hutama Abdi Husada Tulungagung. Jawa Timur. Indonesia Program Studi D-i Keperawatan. STIKes Hutama Abdi Husada Tulungagung. Jawa Timur. Indonesia *Korespondensi Penulis : tika. aesthetica@gmail. Abstrak Masih sering ditemukan perawat yang tidak patuh dalam menggunakan Alat pelindung diri (APD), padahal APD berfungsi untuk melindungi diri terhadap bahaya infeksi nosokomial yang dapat terjadi pada petugas di rumah sakit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan supervisi tim PPI dengan kepatuhan perawat menggunakan APD handscoon. Jenis penelitian analitik dengan teknik cross sectional. Jumlah sampel penelitian sebanyak 30 perawat yang dipilih dengan purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan instrumen lembar observasi yang berisi ceklis kepatuhan penggunaan APD dan penilaian efektivitas supervisi yang dinilai dari parameter ketepatan waktu, akurasi, bersifat memberikan petunjuk dan teknis operasional serta dapat diterima. Penelitian diambil pada bulan Februari sampai dengan April 2019. Pengambilan data dilakukan secara observasi, data diolah dan dianalisis dengan uji Fisher's Exact Test. Hasil penelitian didapatkan bahwa tingkat keefektifan supervisi Tim PPI IPCN sebanyak 80% dan kepatuhan perawat sebanyak 83,3%, hal ini menandakan bahwa supervisi dan penggunaan APD handscoon ada hubungan secara bermakna dengan nilai p=0,003. Supervisi berkontribusi besar mempengaruhi perawat dalam menggunakan APD handscoon karena akan memberikan dorongan kepada perawat untuk menggunakan APD handscoon secara efektif dan jika supervisi dilakukan secara terus-menerus maka akan menjadikan perawat menjadi terbiasa untuk patuh dalam menggunakan APD handscoon. Disarankan pada Tim PPI IPCN untuk mempertahankan dan bahkan meningkatkan keefektifan dari supervisi untuk memperoleh hasil kepatuhan penggunaan APD handscoon yang lebih baik lagi Kata kunci : Kepatuhan. Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Alat Pelindung Diri. Supervisi. Abstract Nurses are still often found who are not compliant in using personal protective equipment (PPE), even though PPE functions to protect themselves against the dangers of nosocomial infections that can occur in hospital staff. The purpose of this study was to determine the correlation between the supervision by Team of Infection Prevention and Control Nurse (IPCN) With Obedience Use of Personal Protective Equipment (PPE) . Type of this research is analytical research with cross sectional techniques. The number of research samples were 30 nurses who were selected by purposive sampling. Data collection uses an observation sheet instrument that contains checklists for compliance with the use of PPE and an assessment of the effectiveness of supervision as assessed by the parameters of timeliness, accuracy, giving instructions and operational techniques Submitted Accepted Website : 15 Desember 2022 : 14 Maret 2023 : jurnal. di | Email : jurnal. pamenang@gmail. Hubungan Supervisi Oleh Tim Pencegahan dan Pengendalian Inveksi . (Manggar Purwacaraka. Dk. and acceptable. Research was taken in February to April 2019. Data were collected by observation, the data is processed and analyzed by Fisher's Exact Test. The result showed that the effectiveness of the supervision team of PPI IPCN as much as 80% and obedience nurse as much 3%, it indicates that there are significant correlation between supervision and use of PPE with p = 0. Supervision contribute greatly affect nurses in using PPE because it will give a support to the nurse to use PPE effectively and if supervision is done continuously, it would make nurses become accustomed to obey in using PPE . It suggested to the team of PPI IPCN to maintain and even improve the effectiveness of supervision to gain better result of Obedience Use of Personal Protective Equipment (PPE) Keywords : Compliance. Occupational Health and Safety. Personal Protective Equipment. Supervision Pendahuluan Alat pelindung diri (APD) merupakan suatu alat yang dipakai untuk melindungi diri bahaya-bahaya kecelakaan kerja, dimana secara teknis dapat mengurangi tingkat keparahan dari kecelakaan kerja yang terjadi. Peralatan pelindung diri tidak menghilangkan atau pun mengurangi bahaya yang ada. Peralatan ini hanya mengurangi jumlah kontak dengan bahaya dengan cara penempatan penghalang antara tenaga kerja dengan bahaya. Dalam situasi rumah sakit, alat pelindung diri digunakan perawat dalam tindakan keperawatan. Menurut Berkanis . , kondisi kesehatan pasien yang mengalami gangguan kesehatan menuntut adanya kebutuhan kepada perawat untuk mendapatkan bantuan pelayanan kesehatan sehingga kemungkinan besar seorang perawat secara kuantitas seringkali terpapar dalam lingkungan yang beresiko penyakit dan menimbulkan gangguan kesehatan akibat kontaminasi penyakit. WHO (World Health Organizatio. sudah membuat piramida sarung tangan (Gloves Pyrami. yang isinya adalah kapan perawat harus menggunakan APD dan kapan perawat tidak boleh menggunakan APD dengan harapan ketentuan ini dapat dijadikan standar dalam tindakan keperawatan di semua rumah sakit, namun ternyata masih ada yang kurang patuh dalam penggunaan APD (WHO, 2. Berdasarkan hasil studi pendahuluan peneliti yang dilakukan pada tanggal 19 Januari 2019 terhadap 4 perawat di Irna Flamboyan dan 4 perawat di Irna Dahlia Rumah Sakit Dr. Iskak Tulungagung, didapatkan ada 6 perawat . %) yang kurang patuh dalam penggunaan APD dan hanya 2 perawat . %) yang patuh dalam penggunaan APD . Dampak dari tidak patuhnya perawat dalam menggunakan APD adalah terjadinya infeksi nosokomial di rumah sakit yang dapat membahayakan perawat dan pasien, selain itu juga dapat membahayakan partner kerjanya, semakin patuh tenaga profesi menjalankan standarts of good practice yang telah diterima dan diakui oleh masing-masing ikatan profesi akan semakin tinggi pula mutu asuhan terhadap pasien (Nurmantono, 2. Infeksi nosokomial merupakan salah satu risiko kerja yang dihadapi oleh tenaga kesehatan di rumah sakit. Darah dan cairan tubuh merupakan media penularan penyakit dari pasien kepada tenaga kesehatan. Human Immunodeficiency Virus (HIV). Hepatitis B dan Virus Hepatitis C merupakan ancaman terbesar pada tenaga kesehatan. Pada tahun 2002. WHO memperkirakan terjadi 16. kasus penularan virus hepatitis C, 66. kasus penularan hepatitis B dan 1. 000 kasus penularan HIV pada tenaga kesehatan di seluruh dunia dan Infeksi nosokomial banyak terjadi di seluruh dunia dengan kejadian terbanyak di negara miskin dan negara yang sedang berkembang karena penyakit-penyakit infeksi masih menjadi penyebab utama. Suatu penelitian yang dilakukan oleh WHO menunjukkan bahwa sekitar 8. 7% dari 55 rumah sakit di 14 negara di Eropa. Timur tengah. Asia Tenggara dan Pasifik terdapat infeksi nosokomial dengan Asia Tenggara sebanyak 10% (Anggraini, 2. Di Amerika Serikat ada 20. 000 kematian setiap tahun akibat infeksi nosokomial dan menghabiskan biaya lebih dari 4,5 miliar dolar per tahun (WHO, 2. Sedangkan di Asia Tenggara infeksi nosokomial sebanyak 10 %. Data kejadian Infeksi nosokomial di Hubungan Supervisi Oleh Tim Pencegahan dan Pengendalian Inveksi . (Manggar Purwacaraka. Dk. Malaysia sebesar 12,7% dan di Taiwan 13,8%(Marwoto, 2. Di Indonesia penelitian yang dilakukan Utji, . yang dikutip Habni . bahwa di sebelas rumah sakit di DKI Jakarta menunjukkan bahwa 9,8% pasien dirawat inap mendapat infeksi baru selama dirawat. Laporan-laporan rumah sakit di Indonesia nosokomial di beberapa rumah sakit adalah di RS Hasan Sadikin Bandung 9,9%, di RS Pirngadi Medan 13,92%. RS. Karyadi Semarang 7,3%. Dr. Soetomo Surabaya 5,32 dan RSCM 5,4 % (Depkes, 2. Berdasarkan survei awal peneliti di Rumah Sakit Dr. Iskak Tulungagung (RS Tipe B) yang dilakukan pada tanggal 22 Desember 2014, dengan metode studi dokumentasi didapatkan bahwa setiap tahun 351 pasien datang ke Rumah Sakit Dr. Iskak Tulungagung, jika di rata-rata maka 696 pasien setiap bulanya. Dari data grafik servelin infeksi nosokomial yang dilakukan oleh tim PPI di Rumah Sakit Dr. Iskak Tulungagung pada bulan November 2014 terdapat kejadian infeksi saluran kemih, plebitis dan dekubitus, dengan presentase plebitis 1,3%, . infeksi saluran kemih (ISK) 0,7% . dan infeksi luka operasi (ILO) 8. 7 pasie. Pada infeksi nosokomial lain : VAP. HAP IADP dan dekubitus tidak ditemukan angka infeksi. Total infeksi nosokomial yang terjadi di Rumah Sakit Dr. Iskak Tulungagung pada bulan November 2014 adalah 10,7% . 1 pasie. dengan total rata-rata adalah 1. 5 %. Untuk menilai kepatuhan perawat tentang penggunaan alat pelindung diri dibutuhkan adanya supervisi dari pihak rumah sakit sesuai dalam Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2010 tentang rumah sakit yang tercantum pada pasal 54 mengenai pembinaan dan pengawasan supervisi, untuk menyelesaikan masalah masih adanya perawat yang kurang patuh dalam penggunaan APD tindakan keperawatan maka perlu supervisi dan pengawasan didalam rumah sakit, supervisi dapat dilaksanakan oleh TIM PPI. Supervisi merupakan suatu pengawasan dan pembinaan, sedangkan secara terminologi pembinaan yang di berikan kepada seluruh staf untuk mengembangkan situasi yang lebih Dalam situasi rumah sakit sekarang sudah diadakan supervisi oleh tim Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) dengan target menggunakan alat pelindung diri dalam tindakan keperawatan untuk mengurangi tingkat infeksi di rumah sakit khususnya infeksi nosokomial. Dalam hal ini maka dibutuhkan kepatuhan yang baik agar supervisi berjalan sesuai harapan tim PPI. Melihat tingginya risiko terhadap gangguan kesehatan di rumah sakit, maka perlu dilakukan upaya-upaya pencegahan terhadap kejadian penyakit atau traumatik akibat lingkungan kerja dan faktor manusianya, salah satu diantaranya adalah penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) (Willy. F, 2. (Aesthetica Islamy, 2. Solusi yang baik untuk menyelesaikan beberapa masalah diatas adalah dengan paramedis di rumah sakit agar memberi menggunakan APD secara efektif (Purwanto, 2. Berdasarkan latar belakang tersebut penulis tertarik untuk meneliti tentang hubungan keefektifan supervisi oleh tim Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) dengan kepatuhan penggunaan alat pelindung diri (APD) dalam tindakan keperawatan sehingga diharapkan perawat dapat dilindungi dan dicegah dari bahaya dan risiko terjadinya infeksi nosokomial. Metode Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti, penelitian ini adalah termasuk penelitian analitik asosiasi yaitu mencoba mencari hubungan antar variabel, dan berdasarkan klasifikasinya peneliti melakukan penelitian ini dengan cara Cross Sectional yaitu yang bertujuan untuk mengetahui Hubungan Supervisi Oleh Tim Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi (PPI) Dengan Kepatuhan Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) Handscoon Dalam Tindakan Keperawatan Di Ruang Rawat Inap Penyakit Dalam RSUD Dr. Iskak Tulungagung. Populasi dalam penelitian ini adalah semua petugas tim PPI dan semua perawat di Irna Flamboyan dan Irna Dahlia RSUD dr. Iskak Tulungaung, jumlah petugas tim PPI ada 3 orang, jumlah perawat di Irna Hubungan Supervisi Oleh Tim Pencegahan dan Pengendalian Inveksi . (Manggar Purwacaraka. Dk. Flamboyan ada 17 perawat dan jumlah perawat di Irna Dahlia ada 16 perawat pada bulan Januari tahun 2019. Sampel pada penelitian ini adalah Tim PPI IPCN (Infection Prevention and Control Nurs. dan perawat di Irna Flamboyan dan Irna Dahlia RSUD dr. Iskak Tulungaung. Dalam pengumpulan data yang dipakai untuk alat ukur penelitian adalah lembar ceklis observasi. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 8 tanggal februari 2019 sampai tanggal 15 Maret 2019 di Rumah Sakit Dr. Iskak Tulungagung. Dalam keefektifan supervisi oleh tim Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) dengan kepatuhan penggunaan alat pelindung diri (APD) dalam tindakan keperawatan di Rumah Sakit Dr. Iskak Tulungagung Tahun menggunakan uji statistik FisherAos Exact Test. Bila p value < 0,05 dikatakan significant, yaitu hipotesis nol (H. ditolak, maka H1 diterima yang berarti menyatakan ada hubungan keefektifan supervisi oleh tim Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) dengan kepatuhan penggunaan alat pelindung diri (APD) dalam tindakan keperawatan, sedangkan p value Ou 0,05 maka hipotesis nol diterima, dan H1 ditolak yang berarti menyatakan tidak ada hubungan keefektifan supervisi oleh tim Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) dengan kepatuhan penggunaan alat pelindung diri (APD) dalam tindakan keperawatan Hasil Tingkat Keefektifan Supervisi Tim PPI IPCN Tabel 1 Distribusi Tingkat Keefektifan Supervisi Tim PPI IPCN Keefektifan Frekuensi Efektif Tidak Efektif Jumlah Presentase (%) Berdasarkan tabel 1 diatas dapat dilihat supervisi yang efektif adalah sebanyak 24 supervisi . %). Tingkat Kepatuhan Perawat Dalam Menggunakan APD Hadnscoon Dalam Tindakan Keperawatan. Tabel 2 Distribusi Kepatuhan Perawat Dalam Memakai APD Handscoon Tindakan Keperawatan Kepatuhan Frekuensi Kepatuhan Baik Kepatuhan Kurang Baik Jumlah Presentase (%) Berdasarkan tabel 2, dari 30 perawat yang patuh dalam menggunakan APD Handscoon dalam tindakan keperawatan adalah sebanyak 25 orang . ,3%). Hubungan Tingkat Keefektifan supervisi Tim PPI IPCN Dengan Kepatuhan Perawat Menggunakan APD Handscoon Dalam Tindakan Keperawatan. Tabel 3 Tabulasi Silang Keefektifan supervisi Tim PPI IPCN Dengan Kepatuhan Perawat Menggunakan APD Handscoon Dalam Tindakan Keperawatan KEPATUHAN PENGGUNAAN APD KEFEKTIFAN EFEKTIF TIDAK EFEKTIF KEPATUHAN BAIK KEPATUHAN KURANG BAIK TOTAL Berdasarkan tabel 3, didapatkan perawat yang patuh dalam menggunakan APD Handscoon dalam tindakan keperawatan dengan supervisi yang efektif adalah sebesar 95,8%. Hasil uji statistik Fisher's Exact Test didapatkan A = 0,003, sedangkan = 0,05, karena A < maka H0 ditolak dan H1 Artinya Ada Hubungan Antara Keefektifan Superfisi Tim PPI IPCN dengan Kepatuhan Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) Handscoon Dalam Tindakan Keperawatan RSUD Dr. Iskak Tulungagung (Di Irna Flamboyan dan Irna Dahli. Pembahasan Hasil Penelitian Keefektifan Superfisi oleh Tim PPI IPCN Berdasarkan hasil penelitian menyatakan bahwa Tim PPI IPCN melakukan supervisi 30 kali dimana supervisi dilakukan setiap hari dan sebagian besar supervisi dilakukan secara Hubungan Supervisi Oleh Tim Pencegahan dan Pengendalian Inveksi . (Manggar Purwacaraka. Dk. Menurut Suardi . , supervisi adalah kegiatan manager yang mengusahakan agar pekerjaan terlaksana sesuai dengan rencana yang ditetapkan dan atau hasil yang Agar pengawasan berhasil maka manager harus mengadakan supervisi untuk pencocokan, inspeksi, pengendalian dan berbagai tindakan yang sejenis dengan itu, bahkan bilamana perlu mengatur dan mencegah sebelumnya terhadap kemungkinan adanya yang mungkin terjadi. Menurut Imam . , supervisi yang efektif adalah supervisi yang memenuhi kriteria-kriteria seperti halnya supervisi harus akurat, tepat waktu, objektif dan menyeluruh, titik-titik terkoordinasi, fleksibel, bersifat petunjuk dan operasional serta dapat diterima para anggota Dari hasil penelitian pada tabel 1 diatas dapat dilihat supervisi yang efektif adalah sebanyak 24 supervisi . %). Peneliti setuju dengan teori diatas, hal pengawasan yang dilakukan oleh Tim PPI IPCN dalam penggunaan APD Handscoon dalam tindakan keperawatan sudah baik, hal ini akan berdampak pada kepatuhan maupun kedisiplinan perawat dalam penggunaan APD Handscoon dalam tindakan keperawatan, serta memperkecil risiko terjadinya infeksi Fenomena supervisi di RSUD Dr. Iskak sudah memenuhi kriteria supervisi yang efektif. Tim PPI IPCN juga akan menegur perawat yang kurang patuh dalam menggunakan APD Handscoon, mengecek ketersediaan APD Handscoon dan apakah sudah ditaruh ditempat yang benar, mengecek apakah tempat cuci tangan sudah memenuhi standar, mengecek ketersediaan sabun handwash dan mengecek apakah APD Handscoon dibuang ditempat yang benar. Hasil Penelitian Kepatuhan Perawat dalam Menggunakan APD Handscoon Kepatuhan perawat terhadap pelaksanaan kewaspadaan universal merupakan hal yang penting karena dengan perawat patuh, maka penularan penyakit dapat dicegah, dapat membantu proses penyembuhan pasien, akan tetapi bila perawat tidak patuh maka risiko penularan dapat terjadi, dan tidak menutup kemungkinan proses kesembuhan pasien akan Berdasarkan tabel 2 didapatkan hasil bahwa responden yang memiliki kepatuhan baik dalam menggunakan APD handscoon dalam tindakan keperawatan sebanyak 25 responden . ,3%). Kepatuhan dalam menggunakan APD handscoon memang Nurmantono . Dampak dari tidak patuhnya perawat dalam menggunakan APD nosokomial di rumah sakit yang dapat membahayakan perawat dan pasien, selain itu juga dapat membahayakan partner kerjanya, semakin patuh tenaga profesi menjalankan standarts of good practice yang telah diterima dan diakui oleh masing-masing ikatan profesi akan semakin tinggi pula mutu asuhan terhadap pasien. Berdasarkan sependapat bahwa dengan patuhnya perawat dalam menggunakan APD Handsccon yang baik maka akan mengurangi tingkat infeksi nosokomial yang dapat membahayakan pasien dan perawat itu sendiri. Hasil Analisa Hubungan Keefektifan Supervisi Tim PPI IPCN Dengan Kepatuhan Perawat Dalam Memakai APD Handscoon Berdasarkan hasil penelitian didapatkan supervisi efektif yang memiliki kepatuhan baik adalah sebesar 95,8% dan supervisi yang tidak efetif dengan kepatuhan yang baik adalah sebesar 33,3%. Hasil uji statistik Fisher's Exact Test didapatkan A = 0,003, sedangkan = 0,05, karena A < maka H0 ditolak dan H1 Artinya Ada Hubungan Antara Keefektifan Superfisi Tim PPI IPCN dengan Kepatuhan Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) Dalam Tindakan Keperawatan di Rumah Sakit Dr. Iskak Tulungagung (Di Irna Flamboyan dan Irna Dahli. Supervisi Tim PPI IPCN merupakan variabel yang mempunyai peran penting terhadap kepatuhan penggunaan APD Handscoon bagi seorang perawat sejalan dengan hasil membuktikan ada pengaruh yang kepatuhan penggunaan APD . = 0,. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Handoko . yang mengemukakan bahwa responden yang mendapatkan pengawasan baik memiliki kepatuhan pemakaian APD Handscoon lebih Hubungan Supervisi Oleh Tim Pencegahan dan Pengendalian Inveksi . (Manggar Purwacaraka. Dk. tinggi dibandingkan dengan responden yang mendapatkan pengawasan kurang baik. Perilaku pekerja terhadap penggunaan APD Handscoon sangat dipengaruhi oleh perilaku dari supervisi. Supervisi harus menjadi contoh yang pertama dalam menggunakan APD Handscoon. Harus ada program pelatihan dan pendidikan ke pekerja dalam hal menggunakan APD Handscoon dengan benar (Wentz, 2. Purwanto . solusi yang baik untuk menyelesaikan dan meningkatkan kepatuhan adalah dengan memberikan supervisi pada tenaga paramedis di rumah sakit agar memberi dorongan para perawat untuk menggunakan APD secara efektif. Peneliti sependapat dengan teori diatas, bahwa supervisi yang efektif berpengaruh penting pada kepatuhan perawat dalam memakai APD Handscoon, dan dengan dilakukanya supervisi yang efektif secara terus-menerus maka akan membuat perawat itu sendiri menjadi terbiasa untuk patuh dalam menggunakan APD Handscoon dalam tindakan keperawatan Kesimpulan Berdasarkan Tabulasi Silang antara Keefektifan supervisi Tim PPI IPCN Dengan Kepatuhan Perawat Menggunakan APD Handscoon Dalam Tindakan Keperawatan didapatkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara Hubungan supervisi Tim PPI IPCN dengan Kepatuhan Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) Handscoon Dalam Tindakan Keperawatan di Rumah Sakit Dr. Iskak Tulungagung (Di Irna Flamboyan dan Irna Dahli. Tahun 2019 dengan nilai A = 0,003, sedangkan = 0,05. Ucapan Terima Kasih Kami ucapkan terima kasih kepada seluruh pihak terkait atas konribusinya dalam keberlangsungan penelitian ini, hingga penelitian ini berjalan dengan lancar tanpa ada halangan yang begitu berarti. Sectional Survei di Desa Mangunsari. Kabupaten Tulungagun. Jurnal Ilmiah Pamenang - JIP, 4. , 16Ae22. Anggraini. Universal Precautions Guidelines for Primary Health Care Centers in Indonesia Initiatives. Berkanis. Hubungan Motivasi dengan Kepatuhan Perawat dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri (Ap. di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Tentara Wirasakti Kupang. CHMK Health Journal, 3. , 35Ae39. Depkes. Pedoman Kewaspadaan Universal di Pelayanan Kesehatan. Depkes R. Habni. Prilaku Perawat dalam Pencegahan Infeksi Nosokomial. Di Rindu A. Rindu B. Rawat Jalan Di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan. USU Medan. Handoko. Managemen Personalia dan Sumber Daya Manusia. UGM Yogyakarta. Imam. dan S. Aplikasi Manajemen Perusahaan : Analisis Kasus dan Pemecahannya. Mitra Wacana Media. Marwoto. Analisis kinerja perawat dalam pengendalian infeksi nosokomial, di ruang IRNA - I RSUP. Dr. Sardjito. Yogyakarta. Nurmantono. Infeksi rumah sakit. Purwanto. Pengantar Perilaku Manusia Untuk Perawat. EGC. Suardi. Sistem Menejemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. PPM. Wentz. Safety. Health and Environmental Protection. Penerbit Boston Mc Graw Hill. WHO. Review of health sector response to HIVand AIDS in Indnesia. http://w. int/hiv-aids Willy. Ilmu Perilaku dalam Pelayanan Kesehatan . st University Press Airlangga. Daftar Pustaka