Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 1 . , 2023. Page 79-94 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 Peningkatan Keterampilan Menulis Siswa Kelas 3 Sekolah Perkumpulan Mandiri Melalui Penggunaan Metode Plan. Do. Study. Act Fredericka Krisma Setyatami Program Studi Administrasi Perkantoran. Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi dan Sekretari Tarakanita krisma@starki. Submitted: 23-01-2023 | Reviewed: 26-01-2023 | Accepted: 30-01-2023 ABSTRAK Keberhasilan siswa dalam mengikuti proses kegiatan belajar-mengajar di sekolah seringkali diukur melalui kemampuan menulis mereka. Pentingnya kemampuan menulis juga terlihat dari kenyataan saat ini ketika orang tua mendaftarkan anaknya masuk Sekolah Dasar (SD), maka salah satu persyaratan yang harus dipenuhi pada saat seleksi penerimaan siswa baru adalah menulis. Melihat kenyataan tersebut, kemampuan menulis merupakan keterampilan dasar yang wajib dikuasai oleh peserta didik pada tingkat pendidikan dasar saat ini. Sekolah Perkumpulan Mandiri berusaha untuk memampukan siswa-siswanya menjadi penulis yang terlatih sejak dini. Salah satu metode yang digunakan adalah dengan menggunakan siklus PDSA (Plan. Do. Study. Ac. Metode ini mengajarkan siswa untuk secara bertahap menjalani proses menulis dan memperbaiki tulisan. Desain penelitian ini menggunakan pengukuran awal dan pengukuran akhir pada satu kelompok saja. Melalui lembar observasi dan lembar kerja, semua kegiatan penelitian tercatat secara rinci. Tes awal dan tes akhir dilakukan untuk memperoleh data yang diperlukan guna mengetahui peningkatan keterampilan menulis siswa. Dalam penelitian ini terlihat bahwa pembelajaran dengan metode ini mampu meningkatkan keterampilan menulis pada siswa secara keseluruhan. Kata Kunci: Act. Do. Keterampilan Menulis. Plan. Study ABSTRACT Writing skills are frequently used to assess a student's participation in teaching and learning activities at school. The importance of writing ability is further demonstrated by the fact that elementary schools (SD) demand applicants to demonstrate writing skill as one of the criteria for admission. Considering this fact, the ability to write is a basic skill that must be mastered by students at the current basic education level. Sekolah Perkumpulan Mandiri, try to enable their students to become trained writers from an early age. One method used is the PDSA cycle (Plan. Do. Study. Ac. This method teaches students to gradually go through the writing process and improve their writing. This study used one-group pretest-posttest design. Through observation sheets and worksheets, all research activities are recorded in detail. Initial tests and post-tests were carried out to obtain the necessary data to determine the improvement of students' writing skills. In this study, it was seen that learning with this method was able to improve students' writing skills as a whole. Keywords: Act. Do. Plan. Study. Writing Skills PENDAHULUAN Di sekolah, umumnya prestasi belajar siswa ditentukan oleh kemampuan kognitifnya dalam memahami materi pelajaran yang ditentukan dalam kurikulum. Keberhasilan siswa dalam mengikuti proses kegiatan belajar-mengajar di sekolah seringkali diukur melalui JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 1 . , 2023. Page 79-94 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 kemampuan menulis mereka. Pemahaman konsep dalam banyak bidang studi biasanya diketahui melalui tes formatif maupun sumatif secara tertulis. Pentingnya kemampuan menulis juga terlihat dari kenyataan saat ini ketika orang tua mendaftarkan anaknya masuk Sekolah Dasar (SD), maka salah satu persyaratan yang harus dipenuhi pada saat seleksi penerimaan siswa baru adalah menulis. Melihat kenyataan tersebut, kemampuan menulis merupakan keterampilan dasar yang wajib dikuasai oleh peserta didik pada tingkat pendidikan dasar saat ini. Seperti tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (UndangUndang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, 2. Berdasarkan tujuan tersebut, peningkatan mutu pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional dan global perlu dilakukan. Saat kita belajar, kita biasanya terlibat dengan berbagai bentuk visual, termasuk gambar, grafik, animasi, video, augmented reality, dan teks. Representasi visual memberikan keuntungan khusus untuk belajar karena membatasi abstraksi dan membatasi kesimpulan peserta didik, sering membuat mereka lebih efisien (Ainsworth & Scheiter, 2. Osowski dalam (Pratama et al. , 2. menambahkan bahwa hasil tampilan visual menyampaikan informasi yang kompleks dengan cara yang mudah dipahami. Graphic organizer meningkatkan kemampuan siswa untuk berpikir, dan merencanakan tulisan. Sekolah Perkumpulan Mandiri merupakan salah satu Sekolah Dasar Nasional Plus yang menggunakan kurikulum nasional dalam proses pembelajaran namun menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dan dalam kegiatan belajar mengajar menekankan pada student centered dan inquiry-based learning. Pemilihan siswa-siswi Kelas 3 SD Sekolah Perkumpulan Mandiri dilandasi oleh pemikiran bahwa mereka memiliki kualifikasi sesuai dengan harapan penelitian. Selama ini siswa mampu untuk berkomunikasi dengan Bahasa Inggris, baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Hal ini terlihat pada keseharian mereka berkomunikasi dengan teman-teman dan guru mereka. Kesulitan yang dihadapi siswa dalam JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 1 . , 2023. Page 79-94 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 mengungkapkan pendapat dan perasaannya dalam bentuk lisan ternyata tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan dalam bentuk tulisan. Melalui metode dengan siklus PDSA (Plan. Do. Study. Ac. diharapkan mampu meningkatkan keterampilan menulis siswa. Siklus PDSA adalah teknik perbaikan berkelanjutan dalam sistem pengendalian kualitas yang dikenalkan oleh William Edwads Deming (Deming, 1. Dalam pembelajaran yang menggunakan metode PDSA, siswa mengembangkan perencanaan (Pla. untuk mengerjakan tugasnya (D. kemudian mempelajari dan mengobservasi indikator-indikator pembelajaran (Stud. untuk menentukan perbaikan apa yang harus dilakukan untuk membuat tugas menjadi lebih baik (Ac. Penggunaan siklus PDSA sebagai metode pembelajaran akan mempermudah siswa untuk menulis, dimana metode ini mengajarkan siswa untuk secara bertahap menjalani proses menulis dan memperbaiki tulisan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah penggunaan metode PDSA dalam pelajaran menulis Bahasa Inggris ini mampu meningkatkan keterampilan menulis Bahasa Inggris bagi siswa Kelas 3 Sekolah Dasar Sekolah Perkumpulan Mandiri. METODE PENELITIAN Penelitian kuantitatif ini merupakan eksperimen dengan menggunakan One-Group Pretest-Posttest Design. Desain ini digunakan karena sulit mendapatkan kelompok kontrol yang digunakan untuk penelitian. Hal itu disebabkan karena tempat penelitian. Sekolah Perkumpulan Mandiri, adalah sekolah dimana tidak ada kelas pararel untuk setiap tingkat, sehingga penelitian ini tidak menggunakan kelompok kontrol. Dalam desain ini semua siswa diberikan tes awal sebelum diberi perlakuan. Dengan demikian, hasil perlakuan dapat dibandingkan dengan keadaan sebelum diberi perlakuan. Yang menjadi subjek penelitian adalah siswa-siswi Kelas 3 Sekolah Dasar di Sekolah Perkumpulan Mandiri, yang terdiri dari 25 orang siswa. Terdapat dua variabel dalam penelitian ini, yaitu sebagai variabel bebas adalah metode PDSA, dan variabel terikat adalah keterampilan menulis. Teknik pengumpulan data untuk variabel penerapan metode PDSA adalah dengan menggunakan observasi, sedangkan untuk variabel keterampilan menulis adalah dengan menggunakan tes awal dan tes JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 1 . , 2023. Page 79-94 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 Data-data yang dikumpulkan dari tes awal dan tes akhir dinilai berdasarkan rubrik penilaian keterampilan menulis menggunakan statistik deskriptif dengan menghitung nilai rata-rata. Setelah diketahui nilai rata-rata dari tes awal dan tes akhir, dilakukan inferensi pada data tersebut dengan menggunakan uji t berpasangan. Uji ini akan menghasilkan nilai probabilitas . Bila p < 0,05 maka akan menolak hipotesis awal (H. dan menerima hipotesis alternatif (H. dan menyimpulkan bahwa variabel bebas berpengaruh terhadap variabel terikat. Berdasarkan aturan tersebut, maka dalam penelitian ini digunakan uji Wilcoxon dikarenakan data tidak homogen. Sedangkan analisis data observasi dilakukan dengan analisis kualitatif deskriptif. Berdasarkan observasi, maka dapat dideskripsikan aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung. HASIL DAN PEMBAHASAN Proses penerapan metode PDSA dalam pelajaran menulis Bahasa Inggris diamati dengan menggunakan instrumen lembar observasi selama eksperimen berlangsung. Proses penerapan metode PDSA ini diamati selama kegiatan belajar dalam eksperimen ini yaitu ketika guru menerangkan materi, siswa mengerjakan tugas menulis, tanya jawab dengan siswa, dan ketika siswa berbagi dengan teman-temannya. Dalam lembar observasi penerapan metode PDSA, indikator dibagi dalam kegiatan guru dan siswa. Hasil Untuk mengetahui kegiatan guru dalam proses penerapan metode PDSA dalam pembelajaran menulis Bahasa Inggris, maka diberikan lembar observasi bagi observer. Data lembar observasi yang diperoleh dapat dilihat pada Tabel 1. Berdasarkan Tabel 1, dapat dilihat bahwa secara umum guru dalam melakukan penerapan metode PDSA cukup Hal ini diketahui dari skor rata-rata enam indikator yang mengukur kegiatan guru pada setiap pertemuannya berkisar antara 3,2 sampai 3,8 dari skala 4. Melihat hasil observasi penerapan metode PDSA, dimana guru konsisten mendapatkan skor yang tinggi pada setiap pertemuannya, maka penemuan ini sesuai dengan artikel yang ditulis oleh Sumaira Jabeen dan Shabir Ahmed Ganaie bahwa di bidang pendidikan, guru memainkan peran kunci dalam menawarkan layanan pendidikan siswa (Jabeen, 2. Oleh karena itu, perspektif guru JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 1 . , 2023. Page 79-94 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 tentang lingkungan pendidikan yang berkualitas sangat penting. Ini mempertimbangkan harapan siswa, budaya akademik, dan persepsi guru. Kualitas dan prioritas utama adalah untuk perbaikan institusi. No. Tabel 1. Data Lembar Observasi Kegiatan Guru Dalam Penerapan Metode PDSA RataSkor Pada Pertemuan keTotal Rata Skor Skor Indikator Per Per Indikat Indikat Guru kan tujuan dan juga tujuan jangka panjang menulis dan berpikir kritis siswa dapat dengan kegiatan dalam kelas. Guru bertugas proses belajar siswa dan menjamin bahwa ada proses perbaikan yang Guru suasana yang hangat sehingga siswa tidak merasa takut dan dapat belajar secara efektif. Guru desakan atau JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 1 . , 2023. Page 79-94 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 target selama proses belajar yang menambah beban siswa. Guru penguatan pada proses belajar dan memberikan pujian atas keahlian siswa. Guru materi-materi pelajaran yang telah diketahui siswa yang dapat Total Skor Per Pertemuan Rata-Rata Skor Per Pertemuan 80 80 88 93 95 80 93 Kegiatan siswa dalam setiap tahap pembelajaran menggunakan metode PDSA berbeda-beda. Untuk mengetahui kegiatan siswa dalam proses penerapan metode PDSA dalam pembelajaran menulis Bahasa Inggris, maka disediakan lembar observasi bagi Eksperimen pembelajaran menulis teks narasi menggunakan metode PDSA dilakukan dalam tujuh kali pertemuan. Data hasil observasi yang diperoleh adalah seperti yang terlihat pada Tabel 2. Tabel 2 Data Lembar Observasi Kegiatan Siswa Dalam Penerapan Metode PDSA Jumlah Rata-Rata Rata-Rata Pertemuan Skor Kemunculan Tahap Indikator Setiap keSemua Pertemuan Siswa Penelitian Plan Siswa membuat rencana penulisan dengan bantuan graphic organizer. Siswa membuat kriteria penulisan yang JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 1 . , 2023. Page 79-94 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 Siswa mengerjakan tugas menulisnya setelah membaca Siswa menulis dan rencana yang telah dibuat menjadi sebuah teks narasi. Study 1. Siswa langsung menulis dan karangan tanpa menunggu perintah Siswa menganalisis hasil tulisan dengan kriteria yang telah dibuat sebagai alat Siswa memperbaiki tulisan dengan melihat kriteria yang telah dibuat siswa. Act Siswa dapat berbagi dengan teman atau guru mengenai apa yang telah dibuat/ Untuk mengetahui apakah eksperimen dengan menggunakan metode PDSA yang diberikan guru mampu meningkatkan keterampilan menulis, maka total skor tes awal dengan skor tes akhir dibandingkan. Dari perbandingan tersebut diperoleh rata-rata nilai tes awal siswa adalah 64 dan rata-rata nilai tes akhir adalah 75,8, sehingga secara rata-rata terjadi peningkatan prestasi atau pencapaian skor keterampilan menulis sebesar 11,8%. Pencapaian siswa menurut indikator keterampilan menulis dirangkum menggunakan Grafik 1. JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 1 . , 2023. Page 79-94 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 Grafik 1 Perbandingan Hasil Tes Awal dan Tes Akhir Keterampilan Menulis Tes Awal Indikator 8 Indikator 7 Indikator 6 Indikator 5 Indikator 4 Indikator 3 Indikator 2 Indikator 1 Tes Akhir Pembahasan Kegiatan Guru Pada penerapan metode PDSA observasi kegiatan guru meliputi 6 indikator. Indikator pertama yaitu mengkomunikasikan tujuan pembelajaran dan juga tujuan jangka panjang dimana keterampilan menulis siswa dapat meningkat dengan kegiatan dalam kelas, rata-rata skornya adalah 3,4. Dalam skala 4, maka persentase kemunculan indikator ini adalah 85%. Ini berarti guru sering mengkomunikasikan tujuan pembelajaran dan juga tujuan jangka panjang dimana keterampilan menulis siswa dapat meningkat dengan kegiatan dalam kelas. Dalam setiap pertemuan, guru seringkali memberi dorongan siswa untuk tetap fokus pada tujuan pembelajaran yaitu menjalani proses pembelajaran menulis teks narasi menggunakan metode PDSA yang tujuan jangka panjangnya adalah meningkatkan keterampilan menulis Guru mendorong siswa agar siswa berperan aktif dalam diskusi dan bertanya bila ada yang tidak dipahami untuk melatih kemampuan berpikir dan keterampilan menulis mereka. Indikator kedua yaitu guru bertugas untuk mengarahkan proses belajar siswa dan menjamin bahwa ada proses perbaikan yang berkelanjutan. Berdasarkan hasil analisis data dapat diketahui bahwa indikator ini paling banyak kemunculannya, yaitu dengan rata-rata skor 3,9 atau prosentase 98%. Ini terjadi karena dalam setiap pertemuan, guru memberi kesempatan siswa untuk berpikir, melihat, menilai apa yang sudah dikerjakannya dan membuat perubahan bila diperlukan. Guru memberikan arahan pada proses belajar siswa supaya siswa mempunyai tujuan yang konstan untuk kritis pada kualitas pekerjaannya. Hal JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 1 . , 2023. Page 79-94 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 ini didukung oleh Crawfor & Shutter dan Crosby dalam (Sharma, 2. bahwa TQM (Total Quality Managemen. dalam pendidikan berfokus pada kualitas sistem pengajaran yang digunakan daripada hasil ujian siswa. Untuk memenuhi kebutuhan pendidikan siswa, upaya perbaikan terus-menerus perlu diarahkan ke kurikulum dan layanan pembelajaran. Proses pembelajaran dengan memberdayakan siswa adalah konsep penting dalam TQM. Memberdayakan dalam penelitian ini memiliki artian menciptakan atmosfer yang mendukung otonomi, tanggung jawab, pembelajaran yang berkelanjutan dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan. Indikator ketiga adalah membangun suasana yang hangat sehingga siswa tidak merasa takut dan dapat belajar secara efektif. Indikator ini mendapat skor rata-rata 3,9 atau 98% Seperti indikator kedua, indikator ini menempati posisi kemunculan yang paling banyak dikarenakan guru dapat membangun suasana hangat dalam pembelajaran diharapkan dapat mendorong siswa menampilkan dan menghasilkan yang terbaik dalam pekerjaannya. Sesuai dengan pendapat (Putri et al. , 2. bahwa suasana belajar harus dipertimbangkan untuk memberikan dampak yang lebih baik untuk proses pembelajaran. Membangun suasana yang hangat dan menurunkan ketegangan akan memberikan hasil yang lebih baik. Penemuan ini juga didukung oleh pendapat (Gentaz & Richard, 2. bahwa anak-anak didorong oleh keingintahuan spontan dan motivasi intrinsik. mereka umumnya tidak takut gagal dan mereka membutuhkan pengulangan sampai mereka mencapai kesempurnaan Belajar dengan demikian dipandang sebagai sumber kepuasan. Siswa adalah agen penting bagi proses belajarnya sendiri dan bahkan pencipta pembelajarannya. Indikator dengan skor tertinggi kedua yaitu mengingatkan materi-materi pelajaran yang telah diketahui siswa yang dapat menunjang pembelajaran. Indikator ini memiliki skor 3,7 atau prosentase 93%. Dalam perkembangan kemampuan menulis dan berpikir kritis, anak-anak akan menggunakan pengalaman-pengalaman ataupun materi-materi pelajaran yang mereka sudah ketahui untuk menghasilkan sesuatu yang baru, yang dapat berupa tulisan maupun pemikiran. Sesuai dengan prinsip Deming bahwa individu ingin melakukan yang terbaik dan bahwa itu adalah tugas manajemen untuk memungkinkan karyawan untuk melakukannya dengan terus-menerus memperbaiki sistem di mana mereka bekerja, maka menafsirkan prinsip ini dalam pendidikan, guru sebagai manajer dalam rangka siswa JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 1 . , 2023. Page 79-94 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 membuat pekerjaan . yang terbaik, guru membantu siswa mengingatkan materi-materi pelajaran yang telah diketahui siswa yang dapat menunjang hasil karya yang lebih baik. Indikator dengan pencapaian skor terendah dengan rata-rata 2,7 atau 68% kemunculan adalah indikator 5, yaitu memberikan penguatan pada proses belajar dan memberikan pujian atas keahlian siswa. Walaupun skornya terendah, namun dilihat dari prosentase kemunculannya yang tergolong sedang, dapat disimpulkan bahwa guru seringkali memberikan penguatan pada proses belajar dan memberikan pujian atas keahlian siswa. Hal ini penting bagi siswa sebagai dorongan untuk menghasilkan karya yang terus lebih baik. Sesuai dengan pendapat P. Burden yang disadur Vijayan et al. , . bahwa penggunaan pujian dan penguatan positif adalah bentuk penghargaan yang paling penting, karena pujian dapat memuaskan siswa dan dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas pekerjaan dan kinerja siswa. Penggunaan pujian verbal dan umpan balik informatif dapat Aumemungkinkan siswa untuk merasa dihargai atas kemajuan yang telah mereka buat sejauh ini. Kegiatan Siswa Kegiatan siswa menggunakan metode PDSA pada tahap Plan, membutuhkan tiga kali pertemuan dan indikator yang diukur adalah membuat rencana penulisan dengan bantuan graphic organizer dan membuat kriteria penulisan yang baik. Untuk indikator pertama, pada setiap pertemuan diketahui rata-rata skor siswa berturut-turut adalah 3,6. dan 3,9 dalam skala empat. Dari ketiga pertemuan, indikator ini mempunyai rata-rata kemunculan 3,8 atau sebanyak 95%. Pada tahap ini, indikator tersebut muncul sebanyak 95% karena selain siswa yang antusias untuk belajar sesuatu yang baru, situasi yang kondusif juga mendukung suasana belajar. Indikator ini dapat muncul tinggi, juga karena guru mengajak siswa untuk melakukan tahap Plan ini secara bersama-sama, untuk memastikan semua siswa dapat mengikuti tahapan metode PDSA dengan baik. Penemuan ini sesuai dengan pendapat (Kotnour, 1. dimana metode PDSA dilakukan untuk menunjukkan bagaimana proses kegiatan belajar berlangsung secara terencana dan bertahap. Sedangkan untuk indikator yang kedua, diketahui rata-rata siswa berturut-turut adalah 1,1. 3,6. dan 3,6. Dari ketiga pertemuan, indikator siswa membuat kriteria penulisan yang baik dari tahap Plan ini mempunyai ratarata kemunculan 2,8 atau 70%. Untuk indikator kedua ini, walaupun guru mengajak siswa JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 1 . , 2023. Page 79-94 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 untuk membuat kriteria penulisan yang baik, masih ada beberapa siswa yang tidak dapat mengembangkan ide akan kriteria yang diperlukan untuk menghasilkan cerita narasi yang baik, sehingga mereka hanya mengutip dari apa yang telah disajikan dalam pembelajaran. Tahap Do membutuhkan dua kali pertemuan, yaitu pertemuan keempat dan kelima. Indikator pertama yang diukur pada tahap ini adalah mengerjakan tugas menulis setelah membaca instruksi. Untuk indikator tersebut diketahui rata-rata siswa pada pertemuan keempat adalah 2,6 dan pada pertemuan kelima adalah 3,2. Dari kedua pertemuan, indikator ini mempunyai skor rata-rata kemunculan sedang yaitu 2,9 atau sebanyak 72,5%. Sedangkan untuk indikator kedua dalam tahap ini, yaitu menulis dan mengembangkan rencana yang telah dibuat menjadi sebuah teks narasi, memiliki rata-rata pada setiap pertemuannya adalah 2,4 dan 3,2. Sehingga dari kedua pertemuan, indikator tersebut mempunyai rata-rata kemunculan sebesar 2,8 atau 70%. Berdasarkan observasi pada saat penelitian, sebagian kecil siswa kembali melihat apa yang mereka rencanakan dan mengubah rencana penulisan mereka, sehingga mereka tidak langsung mengerjakan tugas menulisnya setelah membaca Namun demikian, lebih banyak siswa yang sudah yakin untuk mengembangkan rencana yang telah dibuat menjadi sebuah teks naratif. Sesuai dengan prinsip Deming untuk perbaikan dan peningkatan kualitas, bahwa guru dapat menghentikan ketergantungan pada inspeksi dan memberi kebebasan siswa untuk mengembangkan mutu pekerjaan ketika mereka sudah dibekali dengan pemahaman akan tugas. Tahap Study dilakukan dalam satu kali pertemuan, yaitu pertemuan keenam. Pada tahap ini, ada tiga indikator yang diukur. Indikator yang pertama adalah menulis dan memperbaiki karangan tanpa menunggu perintah guru. Indikator ini memiliki rata-rata pencapaian tinggi yaitu 3 atau 75%. Indikator kedua adalah memperbaiki tulisan dengan melihat kriteria yang telah dibuat siswa dan memiliki rata-rata pencapaian sebesar 3,2 atau Hal ini terjadi karena metode PDSA dikatakan sebagai model yang digunakan untuk membantu proses belajar yang berkesinambungan, memperbaiki proses belajar dan belajar itu Metode PDSA memotivasi siswa untuk tidak tergantung pada guru untuk menulis dan membuat perbaikan pekerjaannya. Siswa harus dapat menggunakan pengetahuan yang sudah mereka ketahui untuk membuat karya yang terbaik. Siswa diberi kesempatan untuk JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 1 . , 2023. Page 79-94 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 mengatur perilakunya sendiri, sehingga mempunyai kesempatan untuk bertanggung jawab akan proses belajarnya. Indikator ketiga adalah menganalisis hasil tulisan dengan kriteria yang telah dibuat sebagai alat kontrol. Kriteria ini memiliki rata-rata kemunculan sangat rendah, yaitu sebesar 1 atau 25%. Penemuan ini paling rendah karena berdasarkan Taksonomi Bloom, keterampilan berpikir anak usia kelas 3 Sekolah Dasar dikategorikan dalam lower-order thinking, sehingga kemampuan mereka untuk menganalisis masih rendah. Tahap yang terakhir adalah Act dan dilakukan dalam satu kali pertemuan yaitu pertemuan terakhir. Pada tahap ini indikator yang diukur adalah siswa dapat berbagi dengan teman atau guru mengenai apa yang telah dibuat/ dipelajari. Indikator ini memiliki rata-rata pencapaian sebesar 3 atau 75%. Pencapaian ini tinggi karena guru memberi setiap siswa kesempatan untuk berbagi mengenai apa yang telah mereka dapatkan dengan pembelajaran menggunakan metode PDSA. Sesuai dengan pendapat (Kotnour, 1. bahwa pembelajaran tidak berhasil dalam langkah AoActAo bila tidak dibagikan dengan orang lain ataupun tidak menjadi pelajaran untuk proyek selanjutnya. Keterampilan Menulis Berdasarkan Grafik 1 dapat dilihat bahwa peningkatan tertinggi dicapai untuk indikator kedelapan, yaitu penyelesaian masalah dengan persentase 17%. Peningkatan ini terjadi karena pada tes awal, kebanyakan siswa belum menuliskan akhir cerita atau penyelesaian masalah yang ada. Sedangkan pada tes akhir, siswa menyadari bahwa dalam menulis cerita narasi harus ada resolusi dari masalah yang muncul. Hampir semua siswa menulis masalah dan penyelesaian masalah di graphic organizer dalam tahap AoPlanAo. Seperti dikatakan oleh (Pratama et al. , 2. bahwa graphic organizer adalah salah satu jenis pengajaran bahasa Inggris untuk pengajaran menulis dengan meminta siswa untuk menghasilkan, memilah, menyusun dan mengorganisasikan ide-ide untuk dikembangkan menjadi suatu bentuk karya tulis tertentu. Oleh karena siswa memiliki waktu yang cukup dalam merencanakan, siswa memiliki panduan untuk menulis penyelesaian masalah yang telah mereka rencanakan. JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 1 . , 2023. Page 79-94 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 Peningkatan yang cukup juga terjadi pada indikator ketujuh, yaitu masalah/konflik. Hal ini disebabkan karena siswa sudah mengetahui bahwa dalam menulis cerita harus ada masalah yang muncul. Siswa juga sudah menulis ide-ide akan kemungkinan masalah yang ada dalam cerita dalam graphic organizer di tahap AoPlanAo sehingga mereka memiliki kerangka berpikir yang visual untuk menulis. Selain itu, guru juga berulang kali mengingatkan siswa bahwa dalam struktur cerita narasi harus menampilkan masalah. Urutan berikutnya adalah indikator kedua, susunan paragraf logis dengan peningkatan sebesar 15%. Peningkatan ini dicapai karena pertama siswa sudah belajar mengenai paragraf sebelum materi teks narasi dan kedua siswa mempunyai kesempatan untuk memperbaiki tulisan mereka dalam tahap AoStudyAo. Guru dalam eksperimen pun kembali mengingatkan siswa untuk menggunakan paragraf dengan baik. Selain itu, guru juga mempermudah siswa untuk memperbaiki tulisan yang tidak menggunakan paragraf untuk membuat paragraf dengan menuliskan nomor pada kalimat pertama setiap paragrafnya. Urutan peningkatan yang tinggi selanjutnya adalah indikator kelima, judul yang Meskipun peningkatannya hanya 14% namun skor tes akhir yang dicapai menduduki tempat paling tinggi. Hal ini disebabkan karena siswa mempunyai tahapan dalam proses menulis yang melibatkan perbaikan dan mengedit tulisan dimana guru mendorong siswa untuk kembali melihat dan membaca cerita yang sudah ditulis untuk kemudian menentukan judul yang sesuai dengan jalan cerita. Untuk indikator pertama, tata bahasa dan ejaan yang tepat, para siswa menunjukkan peningkatan yang tidak terlalu tinggi, yaitu 8%. Untuk indikator ini, jumlah skor yang dicapai siswa adalah yang paling rendah. Ini disebabkan karena siswa kelas 3 SD masih berkembang dalam pengetahuan ketatabahasaan. Pengetahuan akan ejaan, kosa kata dan sintaksis masih belum akurat dan masih berkembang. Walaupun dalam tingkat perkembangan menulis, siswa kelas 3 SD sudah mulai konsisten dan akurat untuk menggunakan tanda hubung, namun seringkali penggunaannya disamakan dengan karakteristik dari bahasa lisan yang tidak sesuai bila digunakan dalam bahasa tulisan. Untuk indikator keempat, cerita yang menghibur, para siswa menunjukkan peningkatan yang paling rendah yaitu hanya 6%. Siswa kelas 3 SD . sia 8-10 tahu. dalam tingkat pembedaan dalam perkembangan menulis, masih dalam tahap pembedaan kategori- JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 1 . , 2023. Page 79-94 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 kategori kata . ata benda, kata kerja, kata sifat dan frasa preposis. , sehingga integrasi kategori-kategori kata tersebut seringkali masih dengan gaya bahasa lisan, yang pada akhirnya kurang menarik dalam bahasa tulisan. Yang cukup menarik adalah indikator ketiga, yaitu penggunaan huruf besar dan tanda baca yang tepat. Walaupun peningkatannya hanya 7% dan menempati urutan terendah kedua, namun skor tes akhir yang dicapai siswa melebihi skor tes akhir indikator penyelesaian masalah yang paling tinggi peningkatannya. Hal ini disebabkan karena siswa sudah terbiasa untuk menulis dengan huruf besar dan tanda baca yang tepat dalam berbagai pelajaran. Namun demikian, siswa kelas 3 SD masih terbatas dengan pengetahuan akan tanda baca yang beragam, seperti misalnya penggunaan tanda kutip dalam kalimat langsung. KESIMPULAN Penerapan metode PDSA dalam pelajaran menulis Bahasa Inggris dilakukan sebanyak tujuh kali pertemuan. Penerapan metode yang dibagi dalam empat tahap, yaitu Plan. Do. Study. Act ini melihat kegiatan guru dan siswa dalam proses pembelajarannya. Dalam observasi penelitian ini, guru konsisten mendapatkan skor yang tinggi untuk semua indikator penerapan metode PDSA di setiap pertemuannya. Untuk kegiatan siswa pada tahap Plan, indikator membuat rencana penulisan dengan bantuan graphic organizer muncul tinggi karena selain siswa yang antusias untuk belajar sesuatu yang baru, situasi yang kondusif juga mendukung suasana belajar. Namun indikator membuat kriteria penulisan yang baik mempunyai rata-rata kemunculan sedang, dikarenakan masih ada beberapa siswa yang tidak dapat mengembangkan ide akan kriteria yang diperlukan untuk menghasilkan cerita narasi yang baik. Pada tahap Do indikator yang diukur adalah mengerjakan tugas menulis setelah membaca instruksi serta menulis dan mengembangkan rencana yang telah dibuat menjadi sebuah teks narasi. Keduanya mempunyai rata-rata kemunculan sedang. Tahap Study mengukur respon atau daya tanggap siswa bila siswa langsung menulis dan memperbaiki karangan tanpa menunggu perintah guru serta memperbaiki tulisan dengan melihat kriteria yang telah dibuat. Keduanya memiliki rata-rata pencapaian tinggi. Hal ini terjadi karena metode PDSA memotivasi siswa untuk tidak tergantung pada guru untuk menulis dan membuat perbaikan pekerjaannya. Untuk indikator menganalisis hasil tulisan dengan kriteria yang telah dibuat sebagai alat kontrol memiliki rata-rata kemunculan rendah. Temuan paling JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 1 . , 2023. Page 79-94 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 rendah ini terjadi karena kemampuan mereka untuk menganalisis masih belum berkembang. Tahap Act mengukur indikator berbagi dengan teman atau guru mengenai apa yang telah dibuat atau dipelajari. Pencapaian indikator tersebut tinggi karena guru memberi setiap siswa kesempatan untuk berbagi mengenai apa yang telah mereka dapatkan dengan pembelajaran menggunakan metode PDSA. Ada perbedaan dari keterampilan menulis siswa sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran dengan metode PDSA. Secara umum peningkatan keterampilan menulis siswa mencapai 11,8 %. Ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan metode ini mampu meningkatkan keterampilan menulis pada siswa secara keseluruhan. UCAPAN TERIMA KASIH