Jurnal Cahaya Mandalika. Vol. No. 1, 2024, e-ISSN: 2721-4796, p-ISSN: 2828-495X Available online at: http://ojs. com/index. php/JCM Akreditasi Sinta 5 SK. Nomor: 1429/E5. 3/HM. 01/2022 IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS CERITA RAKYAT PADA PROGRAM SEHARI BERBUDAYA ACEH PASTI (SEDATI) DI TKIT AR RAHMAH KOTA BANDA ACEH Nurdial1. Rahmatullah2. Akmaluddin3 Pasca Sarjana. Universitas Bina Bangsa Getsempena nurdialfidelia2016@gmail. Abstrak: Penyelenggaraan pendidikan mempunyai peranan dalam membentuk karakter kesejahteraan peserta didik. Pendidikan karakter dilaksanakan sedemikian rupa sehingga peserta didik berencana untuk belajar dan bertindak sesuai dengan praktik dan prosedur yang ada di lingkungan setempat tanpa kehilangan pandangan dunianya. Oleh karena itu, sekolah harus mampu memahami budaya dan adat istiadat daerah setempat agar dapat menerapkan kearifan lokal yang berbeda. Karakter anak dapat diambil dari buku pelajaran saja, tetapi juga dapat diambil dari cerita rakyat yang merupakan kearifan local sebuah daerah. Cerita rakyat mempunyai tokoh-tokoh dengan karakter berbeda-beda yang dapat ditiru dan dapat mendorong siswa untuk aktif dan berperilaku baik serta memiliki semangat berjuang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan cara membangun karakter siswa melalui implementasi kearifan lokal cerita rakyat pada program sedati di TKIT AR Rahmah. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis pendekatan studi kasus. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu: pedoman wawancara, dan dokumentasi. Narasumber yang diwawancara dalam penelitian ini adalah guru dan siswa. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa perencanaan pendidikan karakter menggunakan cerita rakyat dalam proses pembelajaran terlaksana dengan baik dan dapat meningkatkan karakter anak di TKIT AR Rahmah. Pelaksanaan pendidikan karakter dilakukan dengan mengintegrasikan nilai-nilai karakter ke dalam cerita rakyat tokoh pahlawan Aceh. Simpulan penelitian peserta didik terinspirasi untuk menghayati nilai-nilai karakter seperti kepedulian, sopan santun, dan kejujuran untuk diaplikasikan dalam pergaulan sehari-hari. Kata Kunci: Pendidikan Karakter. Kearifan Lokal. Cerita Rakyat. SEDATI Abstract: The implementation of education has a role in shaping the character of student welfare. Character education is implemented in such a way that learners plan to learn and act in accordance with existing practices and procedures in the local environment without losing their worldview. Therefore, schools must be able to understand the culture and customs of the local area in order to apply different local wisdom. The character of Duke's son is not only taken from textbooks, but can also be taken from folklore which is local wisdom. Folklore has characters with different characters that can be imitated and can encourage students to be active and behave well. The purpose of this study is to describe how to build student character through the implementation of local wisdom of folklore in the sedati program at TKIT AR Rahmah. This research is qualitative research with a case study approach. The instruments used in this study are: interview guidelines, and documentation. The interviewees in this study were teachers and The results showed that character education planning using folklore in the learning process was carried out well and could improve children's character at TKIT AR Rahmah. The implementation of character education is carried out by integrating character values into the folklore of Acehnese heroes. The conclusion of the research is that students are inspired to live character values such as caring, courtesy, and honesty to be applied in daily associations. Keywords: Character Education. Local Wisdom. Folklore. SEDATI PENDAHULUAN Pendidikan adalah sebuah harapan mengenai tatanan kehidupan yang baik. Dengan adanya pendidikan diharapkan manusia dapat berkiprah dalam peradapan sesuai fitrahnya sebagai manusia. Karena itu, semua bentuk pendidikan baik itu formal, nonformal maupun informal memiliki satu tujuan yang sama yaitu manusia seutuhnya yang paripurna dimana fungsi pendidikan berhubungan dengan usaha yang terencana untuk pembinaan, pembentukan, pengarahan, pembelajaran, baik itu pada sikap maupun tindakan dan pengalaman yang terkait dengan pertumbuhan dan perkembangan manusia secara holistic dan berkesinambungan. Degradasi nilai karakter diperparah oleh tehnologi yang hadir namun digunakan tidak sesuai fungsinya. Sejumlah media sosial seperti tik tok. Instagram, facebook, dan lainnya menjadi sarana ampuh dalam melunturkan nilai-nilai karakter pada generasi Dalam hal berkomunasi misalnya berkomunikasi dengan bahasa yang jauh dari kesantunan yang berisi umpatan-umpatan dianggap lumrah, lucu serta keren bagi sekalangan orang. Tentu fenomena ini jauh dari karakter yang dituntut sesuai moral dan agama khususnya dalam aturan budaya Aceh yang kental dengan nilai religius. Kondisi ini mencerminkan bahwa krisis karakter bukanlah sebuah wacana namun sebuah kenyataan yang memprihatinkan. Pendidikan karakter melalui kegiatan bercerita merupakan salah satu cara menstransfer nilai-nilai budaya pada anak. Cerita rakyat nusantara adalah warisan budaya yang menjadi kekayaan bangsa Indonesia, bagian dari tradisi bangsa warisan leluhur yang disampaikan dengan cara ditutur. Pemilihan cerita bagi anak perlu mendapat perhatian yang serius, karena anak akan mendengarkan cerita rakyat penuh dengan kegembiraan dan kefokusan sehingga akan membuat kecerdasan anak akan Dari cerita rakyat, anak akan mempelajari berbagai karakter dan memotivasi anak untuk berprilaku seperti tokoh yang diceritakan. Pelestarian warisan budaya dan kearifan lokal merupakan hal penting dalam menjaga keberagaman budaya dan memperkaya identitas suatu masyarakat apalagi di tengah arus globalisasi dan modernisasi yang semakin pesat, banyak budaya lokal yang terancam terkikis dan terlupakan. Oleh karena itu upaya pelestarian yang nyata dan berkelanjutan guna menjaga keberadaan warisan budaya dan identitas lokal tersebut menjadi tanggung jawab bersama. Atas dasar pemikiran ini lah serta didukung dengan diluncurkan kurikulum merdeka yang mengusung konsep merdeka belajar yang disesuaikan dengan keragaman budaya Indonesia sesuai dengan bhineka tunggal ika oleh Mendikburistek pada Februari 2022 lalu sebagai salah satu program Merdeka Belajar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang mengintegrasikan pengenalan warisan budaya dan karakter bangsa dalam Pembelajaran. Program ini disambut baik oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banda Aceh yang bertepatan dengan Hari Pendidikan Daerah (Hardikd. Aceh ke-63, dengan meluncurkan program Sehari Berbudaya Aceh Pasti (SEDATI) sebagai program untuk melestarikan budaya Aceh sebagai kearifan lokal sejak dini yang dilaksanakan di setiap hari kamis dimana para peserta didik juga personil guru dan tenaga kependidikan menggunakan atribut pakaian Aceh serta bertutur dengan bahasa Aceh. Namun, kondisi ini berangsur-angsur berubah setelah sekolah TKIT AR Rahmah menyesuaikan program SEDATI dengan mengintegrasikan pendidikan karakter dalam 6 pilar karakter AuSHALEHAy yaitu Sabar. Hormat. Amanah. Lemah lembut. Empati dan Hemat yang dikemas dalam cerita rakyat pada kegiatan pembelajaran melalui 4 tahapan yaitu pengetahuan moral . oral knowin. , perasaan moral . oral feelin. , pelaksanaan sesuai moral . oral actin. serta pembiasaan prilaku sesuai moral . oral habit. dengan metode Beyond Centers and Circle Times (BCCT). Guru menilai cara ini cukup efektif dalam mengenalkan budaya Aceh pada anak sebab anak menyukai cerita dan cara guru menuturkannya serta anak senang berperan sebagai tokoh dan berperilaku seperti tokoh dalam cerita yang diangkat. Ada perubahan prilaku yang terjadi misalnya anak lebih tertib, tidak menggangu teman, anak peduli dan senang membantu temannya juga gurunya, anak bertanggung jawab membereskan mainannya, mengikuti kegiatan sesuai waktunya seperti shalat dhuha berjamaah tanpa terpaksa dan sebagainya. Perubahan perilaku ini terjadi secara bertahap, berproses sesuai perkembangan anak. Perubahan karakter anak dapat terjadi secara holistic pada semua aspek perkembangan. hal ini sesuai dengan pendapat Burke dalam Murti Bunanta, . yang menyatakan bahwa manfaat cerita rakyat pada perkembangan anak meliputi perkembangan holistik, kognitif, moral, bahasa, dan sosial. Manfaat yang berkaitan dengan perkembangan holistik berasal dari nilai dalam cerita anak yang mengajarkan pada anak bahwa manusia mempunyai rasa cinta, benci, marah, sedih dan gembira, dilahirkan dan mati. Cerita rakyat juga bermanfaat bagi perkembangan emosionalnya karena memberikan suatu dunia fantasi sehingga anak dapat memandang rasa takut dan rasa Di dalam dunia imajiner ini anak berjuang melawan ketidakadilan dan kejahatan serta menjadi pemenangnya. Menurut Mardhatillah. Verawati. Evianti. , & Pramuniati. Program pendidikan/pembelajaran berbasis budaya Aceh merupakan pendidikan muatan lokal sebagai dasar pembentukan karakter bangsa. Pengenalan pembelajaran berbasis kearifan lokal sangat perlu dilakukan pada anak usia dini khususnya budaya Aceh karena budaya aceh identik dengan ajaran Islam. Selanjutnya, pengembangan bahan ajar berbasis cerita rakyat (Taat Kurnita et al. , 2. , bahan ajar bertema pahlawan Aceh (Ahmad & Fitriani, 2. Bahan ajar berbasis cerita anak cerita rakyat Banten (Sholeh Hidayat & Lukman Nulhakim, 2. Bahan ajar yang dihasilkan untuk mendukung anak dalam memahami kearifan lokal melalui cerita oleh ketiga penelitian ini menghasilkan bahan ajar berupa buku yang dikelompokkan menjadi dua yaitu buku mewarnai dan buku teks tentang cerita rakyat. Cerita rakyat mengandung cerita positif tentang perilaku dan sebagainya dan merupakan bagian dari kearifan lokal yang perlu dilestarikan. Cerita rakyat mampu membuat anak-anak menjadi lebih mudah dalam menyerap tutur kata yang sopan. Selain itu, anak- anak akan tertarik dan rasa penasaran ini membuat mereka ingin mencari tahu. Hal inilah yang membuat anak-anak mempunyai keinginan untuk menyimak cerita atau membaca. Untuk itu peneliti ingin mengetahui lebih mendalam mengenai implementasi pendidikan karakter dengan mengadopsi dan memodifikasi cerita rakyat pada program SEDATI atau Sehari Berbudaya Aceh Pasti di TKIT AR Rahmah Kota Banda Aceh yang bertujuan untuk melestarikan warisan budaya dan identitas lokal. Selain itu, juga untuk membangun kesadaran dan apresiasi terhadap keberagaman budaya dalam masyarakat. Melalui cerita-cerita ini, anak-anak belajar tentang nilai-nilai karakter AuSHALEHAy, yaitu sabar, hormat. Amanah, lemah lembut, empati dan hemat. Selain nilai karakter universal lainnya seperti persahabatan, kejujuran, keberanian, dan kerja sama, sambil tetap menghargai keunikan budaya Aceh. Berdasarkan pemaparan rumusan masalah tersebut, maka tujuan penelitian ini, sebagai berikut. Mendeskripsikan proses implementasi pendidikan karakter berbasis cerita rakyat pada program Sehari Berbudaya Aceh Pasti (SEDATI) METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang digunakan untuk meneliti kondisi subyek yang alamiah dimana peneliti adalah instrument kunci dalam penelitian. Teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi . , analisis data bersifat induktif/kualitatis, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dan generalisasi. Selaras dengan itu. Denzin & Lincoln dalam Nusa Putra menguraikan penelitian kualitatif merupakan fokus perhatian dengan beragam metode yang mencakup pendekatan interpretative dan naturalistic terhadap objek kajian. Hal ini berarti bahwa penelitian kualitatif mempelajari bendabenda dalam konteks alaminya yang berupaya untuk memahami atau menafsirkan fenomena dilihat dari sisi makna yang dilekatkan manusia . Dalam penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan studi kasus. Studi kasus merupakan penelitian yang dilakukan terhadap suatu Aukesatuan sistemAy baik berupa program, kegiatan, peristiwa, atau sekelompok individu yang terikat oleh tempat, waktu atau ikatan tertentu. Adapun alur/ langkah-langkah penelitian yang digunakan peneliti dalam memperoleh data penelitian tentang AuImplementasi pendidikan karakter berbasis cerita rakyat pada program SEDATIAy dengan menggunakan pendekatan studi kasus pada peserta didik Kelas B Aisyah TKIT AR Rahmah Banda Aceh, sebagai berikut: Penelitian ini dilakukan dengan alokasi waktu kurang lebih selama satu bulan yang dimulai pada bulan Oktober - November 2023 di TKIT AR Rahmah yang beralamat di Beurawe Kec. Kuta Alam TKIT AR Rahmah. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini melalui obervasi dan wawancra Prosedur Analisa Data Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis model Milles dan Huberman yaitu aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sampai data yang diperoleh sudah jenuh atau tidak ditemukan data baru. Model interaktif kegiatan analisis data dimulai dari data collection, data reduction, data dispay, dan conclusion drawing/ verification HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN Data hasil penelitian ini diperoleh dengan teknik pengamatan atau observasi pada kegiatan pembelajaran berdasarkan 4 orang responden mengenai implementasi karakter berbasis cerita rakyat pada program SEDATI pembelajaran karakter yang melalui kegiatan bercerita cerita rakyat tentang kepahlawanan pejuang Aceh pada pelaksanaan program SEDATI di TKIT AR-RAHMAH. Adapun penjabarannya sebagai berikut: Hasil Penelitian Tentang Implementasi Karakter Berbasis Cerita Rakyat Pada Program Sehari Berbudaya Aceh Pasti (SEDATI) Kegiatan Sehari Berbudaya Aceh Pasti (SEDATI) dilaksanakan pada setiap hari kamis di setiap pekannya. Kegiatan Pembelajaran berbasis budaya Aceh ini dimulai dari kedatangan anak pada pukul 08. 00 WIB hingga pukul 12. 00 WIB. Pada program SEDATI ini yang menjadi ciri khas dalam proses Pembelajaran adalah kegiatan pembelajaran diawali oleh kegiatan bercerita yang bersumber dari cerita rakyat. TKIT AR-RAHMAH mengambil cerita rakyat berjenis sage yaitu cerita rakyat tentang kepahlawanan yang bernilai sejarah. Adapun pemilihan sosok yang dikategorikan sebagai pahlawan Aceh dimulai baik dari masa kerajaan hingga masa penjajahan Belanda seperti tokoh pahlawan Tengku Fakinah. Laksamana Malahayati. Sultan Sri Safiatuddin, dan sederetan pahlawan lainnya baik yang dikenal umum atau yang tidak terlalu populer. Hal utama yang dikenalkan dari cerita rakyat tersebut adalah tentang karakter tokoh para pahlawan dan kehidupan mereka serta kebiasaan yang menjadi adat dan budaya. Oleh karena itu dalam program ini, nilai karakter dikenalkan secara bertahap dan berbeda setiap bulannya dan untuk karakter yang sudah dikenalkan tetap diimplementasikan secara kontinyu. Inilah yang menjadi alasan dari beberapa nilai karakter lebih ditonjolkan dari sejumlah nilai karakter lainnya. Seperti yang disampaikan oleh Ibu Eka di wawancara tanggal 27 Oktober 2023,Ay Sebenarnya bukan hanya karakter SHALEH, seperti 2 bulan lalu kami mengenalkan karakter PINTAR yaitu Patuh. Inisiatif. Netral. Tanggung jawab. Antusias dan Rajin. Dan bulan November mulai karakter BAIK. Berani. Adil. Integritas dan Kreatif. Jadi kami mengenalkan secara bertahap akan tetapi juga kan terus mengulang karakter yang sudah dikenalkan di bulan lalu dan bulan yang sedang berajalan sebagai pembiasaan ke anak hingga terbentuk karakter tersebut. Ay Tujuan pelaksanaan SEDATI adalah untuk melestarikan budaya Aceh sebagai warisan leluhur yang menjadi ciri khas dan melekat pada generasi Aceh. Dari catatan wawancara dengan guru kelas B Aisyah diketahui bahwa guru memahami tujuan dari Program SEDATI yang dilaksanakan di TKIT AR-RAHMAH yaitu untuk mengenalkan ragam kearifan lokal adat dan budaya sebagai warisan leluhur. Hal ini terungkap dalam pernyataan Ibu Eka yaitu. AuSEDATI adalah program pemerintah Aceh yang masuk dalam muatan lokal diprogram kembali oleh sekolah untuk mengenalkan budaya, adat istiadat, karakter serta kearifan lokal Aceh lainnyaAy. Sama halnya juga diungkapkan oleh informan ke 2 yaitu Ibu Ruwaida mengatakan bahwa AuSEDATI itu program dinas pendidikan Aceh tentang mengenalkan adat istiadat, dan budaya Aceh yang dilaksananakan setiap hari kamisAy. Selain dari hasil wawancara, tujuan program SEDATI juga tertuang pada dokumen RPPH guru yang dibuat secara khusus untuk dilaksanakan pada setiap hari kamis. Kegiatan SEDATI yang dilaksanakan di TKIT AR-RAHMAH sangat bervariasi, tidak terbatas pada tema tertentu saja seperti makanan, pakaian, rumah adat dan lain sebagainya namun terintegrasi di dalam tema melalui cerita rakyat yang tidak hanya mengangkat tentang kisah para pahlawan namun juga kehidupan serta adat budaya yang saling berkaitan. Hal ini sesuai yang disampaikan oleh Ibu Eka. AuSelama ini program SEDATI dilaksanakan dalam berbagai bentuk kegiatan seperti maulid, atau kegiatan lainnya seperti membuat kue, juga membaca hikayat Aceh atau bercerita tentang pejuang Aceh seperti bulan lalu tentang Tengku FakinahAy ungkap Bu Eka. Senada dengan pernyatan Bu Eka. Ibu Ruwaida mengatakan bahwa,Ay Program SEDATI yang dilaksanakan disesuaikan dengan tema. tapi bukan cuma mengenalkan dalam bentuk makanan, pakaian atau Bahasa Aceh tapi kita kenalkan karakter unggul dari indatu yang melekat pada kebiasaan orang Aceh, misalnya jiwa patriotik, suka membantu, religius dan selalu bermusyawarah, jadi kami mengangkat cerita rakyat atau hikayat Aceh atau hadis maja yang sebelumnya kami diskusikan karakter yang akan dikenalkan dalam bentuk singkatan agar anak juga mudah mengingatnya ketika kami memberikan motivasi atau penguatan prilakuAy. Program SEDATI yang dilaksanakan di TKIT AR-RAHMAH berbeda dengan tahun Perbedaan yang signifikan ini terjadi setelah mengaplikasi kegiatan bercerita dengan cerita rakyat ke dalam kegiatan pembelajaran dimana para murid diberikan pengetahuan dengan metode bercerita tentang cerita rakyat yang dilanjutkan dengan ragam kegiatan yang mendukung anak untuk lebih memahami nilai karakter yang sudah dikenalkan oleh guru. Dalam wawancara. Bu Eka menyebutkan bahwa,Ay Perbedaan yang mencolok, kalau dulu kan hanya sebatas mengenalkan makanan khas, pakaian juga kenduri hanya sebatas itu. Tapi kalau sekarang, sudah banyak kegiatannya yang dimasukkan dalam tema seperti bulan ini tentang Laksamana Malahayati, jadi setelah bercerita ada tindak lanjut seperti anak-anak membuat kue atau membersihkan ikan dan makan bersama atau AumeuramienAy. Jadi Pembelajaran lebih diingat dan mudah dipahami juga diterapkan nilai karakter seperti anak menggunakan air secukupnya saat mencuci tangan selesai membuat kue timpan, itu Ay Gambar 4. 4 kegiatan SEDATI, karakter sabar dalam menyelesaikan tugas, contoh cerita persiapan menyiapkan bekal makanan keumamah sebelum Pernyataan ini diperkuat oleh Ibu Ruwaida yang menyatakan,Ay Perbedaannya dulu itu setiap kelas beda-beda kegiatannya dan diterapkan hanya pada kegiatan inti dan sebentar saja sehingga tidak bermakna pada anak. hanya sebatas pengetahuan saja seperti kue dodoi, meusekat itu kue khas Aceh, tanpa penjelasan lainnya. hanya sekedar pengetahuan umum tanpa ada kgiatan yang berkaitan dengan topik sehingga anak mengalaminya langsung dan faham. Kalau sekarang sudah bervariasi, dan setiap kelas sama pembelajarannya tentang budaya Aceh. apalagi ada penerapan karakter yang dikenalkan dari cerita rakyat yang nanti dilanjutkan dengan kegiatan yang menguatkan pengetahuan sehingga anak semakin fahamAy. Dengan mengelaborasi beberapa metode. TKIT AR-RAHMAH menjadikan program SEDATI menarik bagi anak dalam mempelajari budaya dengan beragam aktivitas kreatif yang menyediakan kesempatan bagi anak untuk membangun konsep tentang nilai karakter dan juga pengetahuan lainnya hasil dari eksplorasi mereka sendiri. Pelaksanaan implementasi karakter melalui cerita rakyat pada program SEDATI menurut hasil wawancara kepada guru B Aisyah, secara umum dilakukan dalam 3 tahapan pada kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan penutup. Pada setiap kegiatan pembelajaran tersebut memiliki keterkaitan antara satu dengan lainnya yang disesuaikan dengan tema cerita yang dibelajarkan. Metode bercerita menjadi salah satu metode yang dipilih untuk mengenalkan nilai karakter dari cerita rakyat. Untuk itu guru harus memperhatikan durasi waktu bercerita, media, juga ketrampilan yang harus dimiliki guru dalam bercerita. Cerita rakyat dalam jenis sage dianggap cara terefektif dalam mengenalkan nilai karakter, hal ini seperti dinyatakan oleh Bu Eka,Ay Di sekolah kami setiap bulannya kan mengenalkan nilai karakter pada anak, jadi pengenalan itu lebih mudah melalui cerita sejarah pahlawan sebab anak suka mendengar dan meniru tokoh idola mereka. Dan sesuai dengan kearifan lokal di program SEDATI maka sekolah kami memutuskan untuk lebih mengenalkan pahlawan Aceh. Karena lebih menarik dan relevan juga. Ay Senada dengan pernyataan Bu Eka, informan ke 2 sependapat dengan pernyataan tersebut. Pada saat observasi berlangsung. TKIT AR-RAHMAH sedang mengenalkan nilai karakter sabar, hormat. Amanah, lemah-lembut, empati dan hemat atau disingkat dengan SHALEH dari kisah Laksmana Malahayati yang terungkap bahwa Laksamana Malahayati menjadi tokoh idola para murid. hal ini dinyatakan oleh bu Eka. AuSebenarnya anak-anak punya idola masing-masing. Tapi umumnya mereka lebih antusias dengan laksamana Malahayati karena punya kapal laut dan berperang di laut. Jadi ceritanya dianggap lebih seru oleh anak, apalagi kegiatan pendukung seperti buat kue dan bersihkan ikan dan proses panggang ikan, dimana anak dilibatkan secara aktif dalam kegiatan tetapi dalam pengawasan guruAy. Data wawancara di atas diperkuat oleh hasil observasi yang dilakukan sebanyak 4 kali bercerita tentang kisah Laksamana Malahayati yaitu tanggal 5, 12, 19 dan 26 Oktober 2023 yang diperoleh hasil sebagai berikut yakni selama observasi berlangsung peneliti mengamati 3 aspek yang tercakup dalam tahapan pendidikan karakter melalui cerita rakyat pada program SEDATI di TKIT AR-RAHMAH. Data yang terkumpul akan disajikan dalam bentuk tabel. Berikut ini hasil observasi selama guru melaksanakan kegiatan bercerita pada kelompok B Aisyah di TKIT AR-RAHMAH yang disajikan pada tabel 4. 1 berikut ini. Tabel 4. 1 Hasil Observasi Terhadap Guru dalam Implementasi Karakter Melalui Cerita Rakyat Pada Program SEDATI Penilaian Aktivitas Tahapan Indicator Ket i Pengenalan Guru menyiapkan media Sangat Baik AuSHALEHAy Guru mengenalkan tokoh cerita Malahayati dan nilai Sangat AumalahayatiAy karakter SHALEH dari Baik . oral knowin. kisah malahayati Guru menanyakan contoh Sangat karakter Ya Baik AuSHALEHAy. Identifikasi nilai Guru Sangat nilai karakter SHALEH Ya Baik AuSHALEHAy dalam budaya Aceh dalam keteladanan Guru memberikan contoh Sangat kegiatan keteladanan SHALEH Ya Baik . oral dalam kegiatan Guru peguatan nilai karakter Sangat SHALEH pada anak Ya Baik dengan motivasi atau Pembiasaan Guru membiasakan sikap Sangat . karakter Ya Baik karakter SHALEH AuSHALEHAy dalam sikap dan Guru memberi apresiasi Sangat . oral bagi Baik berkarakter SHALEH Dapat dilihat dari tabel bahwa guru melakukan 3 tahapan dalam pendidikan karakter berbasis cerita rakyat pada program SEDATI yaitu : Pengenalan karakter AuSHALEHAy melalui cerita rakyat kepahlawanan yaitu AuLaksamana malahayatiAy . oral knowin. Pada tahapan ini, dari hasil observasi di pertemuan pertama, peneliti menemukan bahwa sebelum guru mengenalkan nilai karakter, guru terlebih dahulu menyiapkan media sesuai yang tertera di RPPH seperti gambar laksamana malahayati, gambar malahayati kecil, aktivitas mengaji, olahraga, rutinitas, bermain dan sebagainya. Gambar 4. 5 Laksamana Malahayati Dari hasil pengamatan, peneliti melihat guru bercerita tentang kisah malahayati kecil dan rutinitas malahayati kecil yang digambarkan sebagai anak yang cerdas, patuh, taat, dan karakter Sabar. Hormat. Amanah. Lemah-lembut. Empati. Hemat (SHALEH). Gambar 4. 6 contoh gambaran aktivitas Malahayati kecil yang sabar dalam menuntut ilmu agama Kegiatan Pembelajaran yang diawali dengan doa, nyanyi yang syairnya sebagai berikut : AuSeorang pemudi di zamannya Malahayati Namanya Laksamana gelarnya Laut tempat berjuangnyaA. Jiwa-jiwa pemberani yang tak takut mati 2x Malahayati duhai malahayati Namamu abadi Harum disanubari Malahayati duhai malahayati Pahlawan sejati Yang Allah ridhai 3xAy Setelah bernyanyi, untuk apersepsi tentang malahayati guru menanyakan kepada anakanak siapa yang mengenal laksamana malahayati sambil memperlihatkan gambar Di sini peneliti melihat anak-anak antusias melihat gambar dan menjawab pertanyaan guru meskipun ada sebagian anak tidak mengenal sosok malahayati Gambar 4. 7 Anak-anak antusias menjawab pertanyaan guru pada saat apersepsi. Lalu guru melanjutkan bercerita tentang malahayati dengan sesekali mengenalkan kosakata dalam Bahasa Aceh seperti AuperangAy dengan AuprangAy. AusiangAy dengan Aucot uroeAy dan lainnya untuk memperkaya perbendaharaan kosakata anak dalam Bahasa Aceh. Pada saat bercerita, guru bercerita dengan intonasi suara yang berbeda pada setiap karakter tokoh dalam cerita namun tetap memperhatikan artikulasi. Dalam pengolahan suara setiap tokoh yang diperankan guru adalah untuk menarik perhatian anak dan memudahkan anak dalam membedakan tokoh dalam cerita melalui suara yang diperankan oleh guru atau pencerita. Guru juga mengekpresikan tokoh cerita yang menyesuaikan alur cerita. Ekpresi yang diperankan guru dalam bercerita membuat alur cerita semakin hidup, peneliti melihat guru menampakkan ekspresi sedih saat tokoh dalam cerita itu sedih. saja tokoh cerita sedang bersedih atau marah, guru mengekspresikan tokoh cerita tersebut juga terlihat sedih atau terlihat marah. Guru sangat menghayati cerita yang dibawakannya sehingga anak ikut terlibat secara emosional. Dalam setiap cerita yang dibawakan, guru menarik perhatian anak dengan media, meskipun di pertemuan 1 dan 2 media yang digunakan guru hanya berupa gambar, namun anak terlihat antusias menyimak cerita guru dan di kegiatan inti semua contoh nilai karakter SHALEH terintegrasi dalam kegiatan. Peneliti melihat guru menyediakan kegiatan maze, di kegiatan ini anak harus mencari jalan aktivitas membantu teman untuk karakter empati, bersalaman untuk karakter hormat, menjaga kebersihan untuk karakter Amanah, dan sebagainya. Di pertemuan ke 3 guru membawa kue khas aceh dan di kegiatan inti anak-anak praktek membuat kue timphan. Di pertemuan ke 4, selesai bercerita tentang pasukan Laksamana Malahayati yang sibuk menyiapkan bekal makanan yaitu kemamah sebelum berangkat berperang, pada kegiatan inti guru langsung mempraktekkan jual beli ikan, menjelaskan karakter jujur dan menghormati penjual ikan dan kemudian anak-anak praktek langsung membersihkan ikan sebagai contoh bentuk karakter sabar dalam menyelesaikan tugas dan menyelesaikan dengan tuntas sebagai bentuk karakter amanah. Anak-anak sangat tertarik untuk melihat gambar ketika malahayati berperang. guru juga menyediakan pakaian adat dalam bercerita. Gambar 4. Guru menjelaskan pakaian adat yang dikenakan oleh malahayati dan pasukannya. Cara guru berinteraksi dengan anak melalui tanya jawab setiap akhir cerita juga sangat Guru menanyakan pada anak tentang tokoh yang ada dalam cerita dan karakter tokoh tersebut serta contoh perilaku karakter SHALEH pada anak. Guru juga mengenalkan nilai karakter sabar seperti sabar menunggu giliran, mengantri dengan tertib, tidak berlari di dalam ruangan, tidak menyela antrian, mengekspresikan perasaan dengan wajar, tidak marah dan berteriak. Gambar 4. Anak-anak belajar sabar menunggu giliran dan mengantri mencuci tangan Kemudian karakter hormat seperti salam dengan mencium tangan, mengucapkan salam ketika masuk rumah atau kelas, tidak menyela pembicaraan orang lain, menyimak orang lain berbicara, meminta tanpa memaksa, tidak bercanda saat beribadah, menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda, mendengar penjelasan guru dengan Karakter hormat sangat perlu ditanamkan pada anak sebagai warisan budaya leluhur Aceh yang sangat menghormati tamu dan orang yang lebih tua. Gambar 4. 8 Anak dibiasakan menghormati dengan tidak menyela temannya yang sedang berbicara Adapun karakter Amanah yaitu bertanggung jawab dengan mainan atau tugas, menyelesaikan tugas dengan tuntas, menjaga barang atau mainan dengan baik, memperlakukan barang atau mainan dengan baik, merapikan Kembali mainan yang telah dimainkan, membuang sampah pada tong sampah, mengambil barang atau makanan sesuai haknya, menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Gambar 4. 9 Anak dibiasakan bersikap Amanah terhadap kebersihan lingkungannya dengan membuang sampah pada tong Karakter lemah lembut dikenalkan melalui perilaku malahayati kecil seperti, berteman baik dengan teman yang lebih muda atau sebaya, menyayangi orang lain, tidak berteriak atau bersuara nyaring ketika bicara, tidak berkata kasar dan buruk. Nilai karakter lemahlembut seperti mengucapkan tolong ketika ingin dibantu, mengucapkan terimakasih ketika mendapatkan sesuatu, mengucapkan maaf ketika melakukan kesalahan, mengucap permisi ketika meminta sesuatu dan berbicara dengan santun, memanggil dengan sebutan yang baik. Demikian dengan karakter empati yaitu, mau membantu orang tua atau orang lain, mau berbagi makanan maupun tempat, mau bermain bergantian, mau membantu teman yang sakit. Gambar 4. 10 Anak dibiasakan mau bermain bergantian sebagai internalisasi karakter empati. Adapun perilaku karakter hemat yang dikenalkan melalui kisah malahayati kecil dipertemuan 1 ini adalah, menggunakan air secukupnya saat wudhu, cuci tangan dan mandi, bertanggungjawab menghabiskan makanan, menggunakan barang sesuai Gambar 4. 11 Anak dibiasakn berwudhu dengan air secukupnya. Pada kisah malahayati belajar ilmu berperang di turki dan ketika diangkat sebagai laksamana oleh raja, guru mengenalkan berbagai karakter seperti karakter sabar, dimana saat di kapal semua pasukan sabar mengantri untuk berwudhu atau tidak mengeluh ketika sakit. Selain itu guru mengenalkan contoh karakter hormat dalam kisah malahayati yaitu ketika malahayati akan berangkat, dia terlebih dahulu berpamitan dengan mencium tangan gurunya serta bersikap lemah-lembut ketika berbicara kepada orang yang lebih tua dan bersikap tegas terhadap musuh. Guru juga mengenalkan karakter Amanah yaitu ketika malahayati diberikan kepercayaan untuk memimpin pasukannya dan dalaam keseharian anak-anak yang dipilih sebagai pemimpin juga dapat meniru malahayati dengan melayani teman-teman yang dipimpin saat mencuci tangan atau bersikap tertib saat berdoa. Guru juga mengenalkan karakter hemat dimana anakanak dapat menggunakan air secukupnya saat mencuci tangan atau berwudhu. Selain nilai hemat, guru juga menjelaskan sikap empati dimana malahayati senang membantu merawat pasukan yang sakit juga bershadaqah kepada orang miskin. Selesai bercerita, guru bertanya Kembali kepada anak-anak tentang karakter apa saja yang mereka ketahui dari sosok pahlawan laksamana malahayati dan contoh prilaku dalam kehidupan seharihari. Guru juga bertanya dengan sesekali menggunakan dengan menggunakan bahasa Aceh yang kemudian diterjemahkan sehingga anak-anak tidak asing dengan Bahasa Aceh. Kesemua nilai karakter ini terus diulang-ulang dengan versi yang sedikit berbeda disesuaikan dengan tema cerita dari kisah malahayati kecil hingga diangkat menjadi Dari hasil observasi juga diketahui respon anak terhadap guru pada saat Respon tersebut ditujukan dalam tabel berikut ini : Tabel 1 Hasil Observasi Respon Anak Terhadap Guru dalam Implementasi Karakter Melalui Cerita Rakyat Pada Program SEDATI Tahapan Indikator respon anak Pengenalan AuSHALEHAy melalui cerita AumalahayatiAy . oral anak membantu guru dalam menyiapkan media penjelasan guru anak antusias menjawab Penilaian Aktivitas i Ket Sangat Baik Sangat knowin. contoh prilaku karakter Identifikasi anak mampu mengenali nilai karakter nilai karakter shaleh AuSHALEHAy anak mencontoh sikap keteladanan guru dalam kegiatan Pembelajaran dan kegiatan anak mengulangi sikap . oral keteladanan guru Pembiasaan berprilaku sesuai nilai . karakter nilai karakter anak AuSHALEHAy pengulangan dalam sikap keseharian dan prilaku Anak . oral doin. pertanyaan guru tentang contoh prilaku SHALEH Baik Baik Baik Baik Baik Sangat Baik Sangat Dari tabel di atas diketahui bahwa anak tidak terlibat dalam persiapan media Pembelajaran pada saat cerita rakyat dilakukan. Namun anak menunjukkan sikap antusias dalam menyimak cerita dan menjawab pertanyaan guru tentang Malahayati. Guru terus memberi dukungan dengan memberi contoh perilaku SHALEH hingga anak Contoh yang diberikan bersifat konkrit dan langsung dipraktekkan oleh Dari observasi ini juga diketahui bahwa anak antusias meneladani dan menjawab pertanyaan guru tentang nilai karakter SHALEH sehingga guru dapat mengetahui pemahaman tentang nilai karakter yang dikenalkan. Identifikasi nilai karakter AuSHALEHAy dari cerita rakyat kepahlawanan melalui contoh dan keteladanan . oral feelin. Pada tahap ini, guru mengidentifikasi nilai karakter SHALEH dari cerita rakyat dan kebudayaan Aceh, seperti prilaku yang senang berbagi makanan pada perayaan maulid yang menjaadi ciri khas budaya Aceh. Selain itu, guru juga mengidentifikasi dengan menyebutkan ciri-ciri dari prilaku sabar dalam kehidupan sehari-hari, yaitu tidak berteriak ketika marah seperti yang dilakukan malahayati terhadap musuhnya. Dia menahan amarah kepada musuhnya dengan takbir. Selain prilaku sabar, prilaku hormat seperti memberi salam dan bersalaman kepada orang lain adalah bentuk perilaku hormat, guru juga menyebutkan contoh prilaku Amanah yaitu menjaga dan melaksanakan tanggungjawab seperti memelihara kebersihan kelas dan lingkungan sekolah yang menjadi tanggungjawab bersama, menjaga maianan agar tidak rusak sehingga dapat terus digunakan atau mengambil makanan sesuai arahan guru seperti malahayati yang bertanggungjawab terhadap perbekalan dengan membagi makanan dan minuman secara adil, atau karakter hemat yaitu tidak membuang makanan tetapi dapat menyimpannya jika tidak habis di makan atau dapat berbagi dengan teman. Semua bentuk prilaku tersebut terus dikenalkan oleh guru melalui keteladanan seperti guru ikut mengantri untuk mencuci tangan sebelum makan, dan selalu mengingatkan serta memotivasi anak untuk melakukannya prilaku yang diharapkan. Gambar 4. 12 Anak-anak dibiasakan dengan karater amanah bertanggungjawab terhadap kebersihan kelas Pembiasaan . nilai karakter AuSHALEHAy dalam sikap dan prilaku anak . oral actin. Pada tahap ini, peneliti menemukan bahwa guru selalu mengingatkan dan memotivasi anak sesuai nilai karakter yang diharapkan. Guru juga membiasakan prilaku karakter SHALEH dalam kehidupan si anak dengan sesekali mengingatkan anak pada sosok pahlawan Aceh. Di tahapan ini, peneliti juga melihat ketika ada anak yang bertanya mengapa guru tidak mencuci tangan, guru langsung istighfar dan berterimakasih sudah mengingatkan guru untuk mencuci tangan. Dari hasil wawancara, guru menyebutkan bahwa terkdang guru harus memberikan contoh yang berlawanan dari nilai karakter yang dikenalkan untuk melihat kepekaan anak juga hal ini sangat membantu si anak untuk lebih percaya diri dan terbiasa dengan prilaku tersebut. Gambar 4. 16 Anak dibiasakan berwudhu dengan air secukupnya Faktor Pendukung dan Kendala dalam Implementasi nilai Karakter Melalui Cerita Rakyat Pada Program SEDATI Pendidikan karakter melalui cerita rakyat pada anak diupayakan relevan dan dekat dengan kehidupan anak sehingga untuk menuturkan cerita rakyat sesuai referensi cerita asli dianggap kurang relevan karena terbatasnya catatan sejarah yang menceritakan perjalanan hidup sang tokoh secara lengkap. Karena itu naskah cerita disunting dan diimprovisasi dari rangkaian cerita dengan tujuan agar cerita menjadi lebih menarik. Dari hasil wawancara diketahui bahwa factor pendukung program SEDATI ini yaitu sesuai ungkapan Bu Eka,Ay Hal yang mendukung itu. Kerjasama tim ya dengan guru lain juga dengan orangtua dalam menumbuhkan karakter yang sesuai budaya kita Aceh. Jadi kalau saya kesulitan, guru lain akan membantu mencari referensi juga membuat naskah cerita meski harus banyak improvisasi saat bercerita sehingga anak mudah memahami. Selain itu dukungan dari Yayasan ya. seperti dana yang dibutuhkan untuk menhadirkan Pembelajaran yang konkrit seperti bahan alhamdulillah disediakan oleh sekolahAy. Alasan ini diperkuat oleh pernyatan Bu Ruwaida,Ay Yang mendukung itu, kami selalu bekerjasama untuk membuat naskah cerita atau Menyusun konsep, program untuk program SEDATI. Kami juga difasilitasi wifi oleh sekolah untuk cari bahan dan orangtua juga kadang membantu kami dalam program ini, mereka juga ikut dalam kegiatan yang kita buat walaupun mereka sibukAy. Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa hal utama yang mendukung implementasi karakter melalui cerita rakyat pada program SEDATI adalah Kerjasama tim dalam Menyusun konsep, rencana hingga naskah cerita yang kemudia diimprovisasi oleh masing-masing guru. Selain itu dukungan daari Yayasan dan orangtua sangat membantu terlaksananya program SEDATI ini dengan baik. Dari wawancara dengan Bu ruwaida diketahui bahwa,Ay Kendalanya belum ada program baku dari dinas ya kayak modul, jadi dalam program SEDATI ini ya semampu kami melaksanakan pemeblajaran berbasis budaya Aceh. Selain itu susah juga mencari kisah atau biografi lengkap dari tokoh yang kita ambil, foto atau gambar tokoh. Kan dimana kita cari foto malahayati kecil?. kan mustahil. makanya kami memang harus bisa lebih kreatif dalam bercerita atau menghadirkan media yang sekonkrit mungkin untuk anak, kayak foto malahayati kecil apa dia pakai baju kurung atau celana kan kita tidak tau, jadi kami buat saja bahwa malahayati selalu menutup aurat kayak anak-anak juga di sekolah. Nah proses buat naskah cerita, kadang harus buat Bersama karena kalau sendiri-sendiri kayak kurang pas. Kan harus diimprovisasi supaya cerita bisa sedekat mungkin dengan kehidupan anak. maksudnya supaya anak faham jadi kisahnya juga harus se real mungkin. Ay AyKalau kesulitan pasti ada, seperti kami belum memiliki modul yang baku tentang pelaksanaan SEDATI ini. Jadi terkadang harus ekstra bingung dan mikir mau kasih kegiatan apa pada anak sehingga mereka paham dan juga mencari gambar-gambar yang relevan dengan tokoh zaman dulu itu juga sulit. Selain gambarnya yang kurang terang sehingga ini memaksa kami juga untuk bisa menghadirkan gambar yang sedekat mungkin dengan cerita yang diangkatAy. Ungkap Bu Eka. Pernyatan kedua responden ini menjelaskan bahwa selama ini TKIT AR-RAHMAH belum memiliki modul yang baku. Namun program disusun secara sederhana oleh tim guru. Selain itu kurangnya referensi bahkan memang tidak ada catatan sejarah lengkap kehidupan tokoh menjadikan guru tertantang untuk mengkreasikan dengan improvisasi baik dari rangkaian cerita maupun media dalam penyampaian cerita rakyat. Keberhasilan program SEDATI dengan penerapan karakter melalui cerita rakyat sudah mulai terlihat hasilnya yaitu adanya peubahan perilaku anak yang positif yang menetap dan dilakukan secara terus menerus. Dari hasil wawancara dengan Bu Eka didapatkan hasil bahwa. AuSekarang anak-anak faham ya dalam menggunakan air, jadi mereka membuka keran air itu dengan hati-hati dan kecil, jadi tau konsep hemat dalam menggunakan air. Selain itu mereka juga sudah bisa bersabar ya, ngantri dan juga suka ikut beres-beres kelas usai kegiatan. Mereka mengembalikan mainan dengan baik, menjaga mainan. itu kan bentuk karakter Amanah pada anak. mereka juga sudah terbiasa menyimak temannya bicara, ini bentuk karakter hormat dan tidak berteriak atau bersuara keras saat berbicara atau mengekspresikan persaan, ini bentuk karakter lemah-lembut. Jadi intinya semua karakter SHALEH itu secara bertahap mulai melekat pada anak, begituAy. Pernyataan ini diperkuat oleh Bu Ruwaida yang mengatakan,Ay Alhamdulillah karakter SHALEH itu semua sudah sering muncul pada anak-anak, cuma sesekali harus diingatkan kayak saat anak sesekali bicara dengan berteriak. Ay. dalam hal ini orangtua juga mengatakan bahwa perubahan terjadi pada anak mereka dalam pola perilaku. Namun orangtua sangat antusias untuk dilibatkan agar pembelajaran di sekolah dan di rumah dapat terjadi dengan berkesinambungan. Lebih lanjut orangtua menyampaikan saran mereka seperti pernyataan Ibu Raudhatul Jannah. AuSarannya sesekali orangtua juga bolehlah diundang untuk ikut dengar guru bercerita, jadi orangtua tau caranya mengenalkan karakter dari tokoh sesuai Bahasa dan tingkat pemahaman anak. Ay demikian juga apa yang disampaikan oleh bu adriana. AuSaran saya, sekolah lebih sering juga membuat kegiatan parenting. jadi lebih nyambung ke kami para orangtua apalagi mengenai cerita rakyat Aceh ya. banyak yang kami sendiri tidak terpikirkan untuk halhal seperti itu. Dari kedua saran dari orangtua ini dapat ditarik kesimpulan bahwa orangtua mau berpartisipasi aktif dalam program SEDATI tersebut karena mereka sudah merasakan manfaatnya dan melihat hasil perubahan pada perilaku anak-anak mereka yang sedang bertumbuh dan berkembang seiring perubahan zaman namun karakter unggul dapat melekat pada mereka. PEMBAHASAN Program SEDATI yang dilaksanakan di TKIT AR-RAHMAH bertujun untuk melestarikan warisan budaya Aceh dalam berbagai bentuk baik berupa adat kebiasaan maupun ciri khas yang menjadi identitas bangsa. Pelaksanaan program SEDATI dilakukan dalam berbagai ragam kegiatan, diantaranya dengan mengangkat cerita rakyat sebagai bentuk kegiatan pengenalan karakter bangsa Aceh dengan metode bercerita dengan jenis cerita sage yaitu salah satu cerita rakyat yang memiliki kisah atau cerita yang mengandung nilai sejarah. Cerita rakyat dapat dipahami sebagai sebuah kisah atau cerita yang berasal dari masyarakat zaman dahulu dan berkembang secara luas yang ditutur dari mulut ke mulut hingga pada akhirnya dikenal secara luas. Cerita rakyat sendiri merupakan warisan budaya yang perlu dilestarikan hingga generasi selanjutnya. Cerita rakyat disampaikan secara lisan, maka sangat sulit untuk mengetahui siapa pengarangnya bahkan untuk menemukan cerita lengkapnya. Hal ini menjadi salah satu kendala yang dihadapi oleh tim guru TKIT AR-RAHMAH dalam pelaksanaan program SEDATI dengan metode bercerita berbasis cerita rakyat dalam jenis sage. Menurut Chodijah, 2018 ( Siregar dkk, 2021:. metode bercerita adalah metode yang dapat memberikan pengalaman kepada anak dengan cara bertutur kata secara lisan. Para pelopor teori perkembangan moral dan Pendidikan moral anak-anak juga mendukung penggunaan metode bercerita untuk menyampaikan pengetahuan tentang nilai-niilai moral kepada anak-anak. Dalam hasil penelitian Isbell. Sobol. Lindauer, and Lowrance bahwa anak usia dini 3-5 tahun yang diberikan perlakuan dengan kegiatan bercerita lebih mampu memahami latar cerita, memahami pesan moral dan karakter dari cerita (Siregar dkk, 2021:. Implementasi karakter melalui cerita rakyat pada program SEDATI dilakukan dengan tiga tahapan yaitu : Pengenalan karakter AuSHALEHAy melalui cerita rakyat kepahlawanan yaitu AuLaksamana malahayatiAy . oral knowin. Pada tahapan ini, dari hasil observasi di pertemuan pertama, peneliti menemukan bahwa sebelum guru mengenalkan nilai karakter, guru terlebih dahulu menyiapkan media sesuai yang tertera di RPPH seperti gambar laksamana malahayati, gambar malahayati kecil, aktivitas mengaji, olahraga, rutinitas, bermain dan sebagainya. Media Pembelajaran yang digunakan guru akan mempermudah guru dalam menyampaikan informasi kepada anak. hal ini sesuai dengan pendapat Karwono . yang menyatakan bahwa Secara umum media pembelajaran bermanfaat untuk memperlancar proses interaksi antara pendidik dan peserta didik. Anak akan tertarik untuk belajar ketika media yang digunakan sesuai dengan materi. Pada tahap ini guru juga mengenalkan nilai-nilai karakter SHALEH yang ada dalam cerita rakyat yang diangkat. Identifikasi nilai karakter AuSHALEHAy dari cerita rakyat kepahlawanan melalui contoh dan keteladanan . oral feelin. Pada tahap ini, guru mengidentifikasi nilai karakter SHALEH dari cerita rakyat dan kebudayaan Aceh, seperti prilaku yang senang berbagi makanan pada perayaan maulid yang menjadi ciri khas budaya Aceh. Selain itu, guru juga mengidentifikasi dengan menyebutkan ciri-ciri dari prilaku sabar dalam kehidupan sehari-hari, yaitu tidak berteriak ketika marah seperti yang dilakukan malahayati terhadap musuhnya. Dia menahan amarah kepada musuhnya dengan takbir. Selain prilaku sabar, prilaku hormat seperti memberi salam dan bersalaman kepada orang lain adalah bentuk perilaku hormat, guru juga menyebutkan contoh prilaku Amanah yaitu menjaga dan melaksanakan tanggungjawab seperti memelihara kebersihan kelas dan lingkungan sekolah yang menjadi tanggungjawab bersama, menjaga maianan agar tidak rusak sehingga dapat terus digunakan atau mengambil makanan sesuai arahan guru seperti malahayati yang bertanggungjawab terhadap perbekalan dengan membagi makanan dan minuman secara adil, atau karakter hemat yaitu tidak membuang makanan tetapi dapat menyimpannya jika tidak habis di makan atau dapat berbagi dengan teman. Cerita rakyat mampu mengakomodir semua nilai-nilai karakter yang menjadi adat dan budaya sebagai kearifan lokal. Hal ini dibuktikan dalam hasil penelitian Isbell. Sobol. Lindauer, and Lowrance bahwa anak usia dini 3-5 tahun yang diberikan perlakuan dengan kegiatan bercerita lebih mampu memahami latar cerita, memahami pesan moral dan karakter dari cerita (Siregar dkk, 2021:. Semua bentuk nilai karakter tersebut terus dikenalkan oleh guru yang disusun sebagai program dan dipraktekkan melalui keteladanan seperti guru ikut mengantri untuk mencuci tangan sebelum makan, dan selalu mengingatkan serta memotivasi anak untuk melakukannya prilaku yang diharapkan. Dalam kurikulum pembelajaran memiliki prinsip-prinsip sebagai dasar yang digunakan untuk meningkatkan kualitas Terdapat 2 prinsip-prinsip yang dapat di terapkan untuk mengembangkan instruksional adalah sebagai berikut (Hannafin & Peck, 1988, pp. 46Ae47. Suparman, 2014, pp. 23Ae. Prinsip 1 Respon-respon baru diulang sebagai akibat dari reaksi-reaski tersebut. Implikasinya adalah perlunya pemberian umpan balik positif atau pujian dengan segera atas keberhasilan atau respon yang benar dari peserta didik dan peserta didik harus aktif membuat respon-respon, bukan duduk diam dan mendengarkan saja. Prinsip 2 Perilaku tidak hanya dikontrol oleh akibat dari respon, tetapi juga di bawah pengaruh kondisi atau tanda-tanda . ulisan, gambar, komunikasi verbal, keteladanan guru atau perilaku sesama peserta didi. yang terdapat dalam lingkungan peserta didik. Dengan demikian media Pembelajaran dan metode yang dipilih guru akan berdampak pada keberhasilan pembelajaran. Pembiasaan . nilai karakter AuSHALEHAy dalam sikap dan prilaku anak . oral actin. Pada tahap ini, peneliti menemukan bahwa guru selalu mengingatkan dan memotivasi anak sesuai nilai karakter yang diharapkan. Guru juga membiasakan prilaku karakter SHALEH dalam kehidupan si anak dengan sesekali mengingatkan anak pada sosok pahlawan Aceh. Di tahapan ini, evaluasi dapat dilakukan dengan menguji kepekaan anak dari sikap maupun perbuatan guru untuk mengetahui sejauh mana anak memahami nilai-nilai karakter yang sudah dikenalkan. Upaya melestarikan cerita rakyat dapat menjadi salah satu cara untuk melakukan pendidikan tentang kearifan lokal terhadap anak sebagai generasi penerus bangsa. Selain itu, cerita rakyat juga bisa menjadi hiburan, sosial dan budaya suatu masyarakat. Kelebihan cerita rakyat sendiri yaitu mampu membangkitkan imajinasi dan memberikan pengetahuan sekaligus menanamkan nilai moral pada anak. Dari hasil observasi, wawancara dan dokumentasi di atas, peneliti beberapa nilai karakter yang teramati pada program SEDATI dalam penelitian ini , karakter sabar . pada karakter sabar, ditunjukkan oleh perilaku anak yang mau mengantri dalam mencuci tangan, mengantri dalam mengambil makanan, juga sabar dengan mengontrol tidak memotong atau menyela pembicaraan teman keika teman bercerita atau ketika guru bercerita. Hal ini sesuai dengan pendapat Yusuf . 0 :. Sabar adalah kemampuan individu dalam mengatur, mengendalikan, mengarahkan . ikiran, perasaan dan tindaka. , serta mengatasi berbagai kesulitan secara komprehensif dan integratif. karakter hormat. Pada karakter hormat teramati perilaku anak seperti anak memberi salam atau menjawab salam guru, anak juga menghargai temannya yang sedang berbicara dengan tidak menyela dan menyimak pembicaraan. Selain itu peneliti juga menemukan perilaku hormat seperti bertanggung jawab dengan mainannya. Hal ini sesuai pengertaian hormat yaitu sifat menghargai/menghormati diri sendiri, orang lain, dan lingkungan, memperlakukan orang lain seperti keinginan untuk dihargai, beradab dan sopan, tidak melecehkan dan menghina orang lain, tidak menilai orang lain sebelum mengenalinya dengan baik (Niken dwi cahyani : 2014 : . selanjutnya Lickona . menyatakan Autwo universal moral values form the core of a public, teachable morality: respect and responsibilityAy . ua bentuk inti nilai moral secara universal yang harus diajarkan kepada publik adalah karakter hormat dan tanggung jawa. Karakter amanah. Karakter Amanah teramati pada perilaku anak yang jujur di dalam melaksanakan sesuatu yang dipercayakan padanya, yaitu bertanggung jawab terhadap mainannya, melakukan aktifitas sesuai waktunya, melakukan tugas dan kewajiban dengan baik dan Amanah terdiri dari beberapa sifat, yaitu : prinsip, harmoni, cinta, teliti. Analisa, kecepatan, fakta, tanggungjawab, tepat janji, wewenang, penghargaan, kehrmatan. Amanah adalah suatu sifat an sikap pribadi yang setia, tulus hati dan jujur dalam melaksanakan kepercayaan kepadanya. Karakter lemah -lembut Karakter lemah lembut teramati pada perilaku anak yang menegur temannya dengan baik dan sopan. kelemahlembutan adalah tentang memfilter tindakan dan ucapan kita untuk memastikannya perhatian, membantu, dan bijaksana. Belajar tentang kelembutan merupakan aspek penting dalam membangun karakter. Anak-anak perlu tahu untuk berhati- hati terhadap orang dan hewan yang lebih kecil, lebih muda, atau lebih lemah. Anak belajar mengendalikan apa yang kita katakan dengan mempertimbangkan orang Karakter Empati Empati merupakan bagian dari kecerdasan emosi berupa kemampuan mengenali perasaan diri kita sendiri dan perasaan orang lain, kemapuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan salam hubungannya dengan orang lain. Sedangkan (Borba, 2. berpendapat bahwa, empati merupakan kemampuan memahami perasaan dan kekhawatiran orang lain. Memiliki toleransi yang ciri Ae ciri ataupun karakteristik dari empati itu sendiri. Karakter Hemat Hemat adalah menggunakan sesuatu dengan cermat dan hati-hati. Sementara menurut mohamad Masrun. dkk hemat adalah sikap hati-hati dan teliti dalam mengatur dan membelanjakan uang atau harta. Karakter hemat pada anak ditunjukkan pada prilaku berwudhu dengan air secukupnya, mencuci tangan dengan air secukupnya, tidak membuang makanan, tidak membawa makanan berlebihan ke sekolah, tidak menggunakan perhiasan berlebihan di sekolah dan sebagainya. Dari beberapa nilai karakter yang dikenalkan pada anak melalui cerita rakyat pada penelitian ini menunjukkan perubahan perilaku yang signifikan karena kegiatan yang dilakukan secara berkesinambungan dan saling terkait. Demikian juga dengan media dan metode yang digunakan sesuai dengan tahapan usia perkembangan anak. KESIMPULAN Dari hasil penelitian di TKIT AR-RAHMAH mengenai implementasi pendidikan karakter berbasis cerita rakyat pada program sehari berbudaya Aceh pasti dapat disimpulkan sebagai berikut: Implementasi karakter melalui cerita rakyat dengan kisah malahayati pada program SEDATI di TKIT AR-RAHMAH dilaksanakan dengan tiga tahapan yaitu dengan pengenalan nilai karakter AuSHALEHAy melalui cerita rakyat kepahlawanan yaitu AuLaksamana malahayatiAy . oral knowin. Identifikasi nilai karakter sabar, hormat, amanah, lemah-lembut, empati dan hemat atau AuSHALEHAy dari cerita rakyat kepahlawanan melalui contoh dan keteladanan . oral feelin. Dan tahap ke tiga yaitu pembiasaan . nilai karakter AuSHALEHAy dalam sikap dan prilaku anak . oral actin. Kerjasama tim guru, yayasan dan orangtua menjadi factor pendukung dalam pelaksanaan implementasi karakter berbasis cerita rakyat pada program SEDATI. Akan tetapi belum adanya modul yang baku, kurangnya referensi berupa kisah lengkap, narasumber dan foto dokumentasi menjadi kendala dalam pelaksanaan program sedate untuk mengenalkan budaya Aceh. DAFTAR PUSTAKA