Tepak Sirih : Jurnal Pengabdian Masyarakat Madani Vol. No. Oktober, 2025, pp. PELATIHAN KEWIRAUSAHAAN KREATIF PADA ERA INDUSTRI 0 BAGI GENERASI MUDA DI SMKN 10 MAKASSAR Andi Firman Muhibuddin1*. Noor Fadillah Romadhani2. Muhammad Haristo Rahman3. Irma Aswani Ahmad4. Dwi Wahyuni Aprianti5 Fakultas Teknik. Universitas Negeri Makassar1,2,3,4,5 Email: andi. muhibuddin@unm. Article History: Received: 5 September 2025 Revised: 29 Oktober 2025 Accepted: 30 Oktober 2025 Pelatihan. Kewirausahaan Kreatif. Generasi Muda. Bisnis Digital. Industri 5. Keywords: Abstrak: Kegiatan pengabdian masyarakat berupa pelatihan kewirausahaan kreatif di era Industri 5. dilaksanakan bagi siswa/i SMKN 10 Makassar sebagai upaya meningkatkan literasi dan keterampilan dasar kewirausahaan generasi muda. Pelatihan ini dirancang melalui tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan, serta monitoring dan evaluasi. Metode yang digunakan mencakup penyampaian materi dan diskusi partisipatif untuk mendorong interaksi aktif peserta. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada aspek pemahaman konsep kewirausahaan serta motivasi berwirausaha sebesar 38%, sementara indikator yang sebelumnya rendah seperti manajemen keuangan dan implementasi usaha juga mengalami perbaikan meskipun masih pada kategori sedang sebesar 14%. Sementara itu, kemampuan digital siswa yang sejak awal sudah relatif tinggi hanya menunjukkan peningkatan kecil. Temuan ini menegaskan bahwa pelatihan berbasis partisipatif efektif dalam membangun semangat wirausaha di kalangan generasi muda, sekaligus mempersiapkan mereka menghadapi tantangan bisnis digital dan dinamika industri 5. Pendahuluan Indonesia menghadapi tantangan besar terkait penyerapan tenaga kerja produktif dalam decade terakhir, khususnya dari kalangan generasi muda. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik . , jumlah angkatan kerja dari kelompok usia muda terus meningkat, sementara pertumbuhan lapangan kerja formal tidak sebanding. Ketidakseimbangan ini menimbulkan fenomena pengangguran terbuka yang tinggi, terutama di kalangan lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK), yang dirancang untuk mencetak tenaga kerja siap pakai. Sektor formal tidak lagi mampu menampung seluruh lulusan setiap tahunnya, mengakibatkan kompetisi yang semakin ketat dan tekanan psikologis bagi para pencari kerja muda. Pekerja dituntut untuk dapat fleksibel dan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan cepat dalam teknologi dan lingkungan kerja (Isnandar et al. , 2. Selain itu para pekerja juga diharapkan memiliki kecerdasan emosional, pemikiran kritis, dan kemampuan pemecahan masalah, memungkinkan pekerja untuk beradaptasi dengan lingkungan yang dinamis dan berkolaborasi secara efektif dengan mesin (Polakova et al. , 2. Dalam situasi ini, 79 | ISSN: x-x (Prin. ISSN: 2829-212X (Onlin. Tepak Sirih : Jurnal Pengabdian Masyarakat Madani Vol. No. Oktober, 2025, pp. hanya mengandalkan pencarian kerja bukan menjadi solusi yang cukup. Perlu ada pendekatan alternatif yang tidak hanya menciptakan peluang kerja baru tetapi juga mampu memberdayakan potensi lokal dan karakter kewirausahaan sejak dini. Berwirausaha muncul sebagai salah satu solusi strategis yang layak ditempuh oleh generasi muda sebagai jawaban atas permasalahan keterbatasan lapangan kerja yang ada. Kewirausahaan tidak hanya menjadi pilihan ketika peluang kerja sulit ditemukan, tetapi telah menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang ingin meraih kemandirian finansial, kreativitas, dan kebebasan dalam berkarya. Pengusaha sukses memiliki ciri-ciri seperti kreativitas, ketekunan, dan kemauan untuk mengambil risiko yang diperhitungkan, yang sangat penting untuk inovasi (Nikhila & Amudha, 2. (Rangarajan & Lakshmi, 2. Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan disrupsi teknologi, karakteristik ini menjadi sangat relevan. Program-program pemerintah seperti Gerakan Kewirausahaan Nasional. Kampus Merdeka, dan wirausaha pemula berbasis teknologi menjadi langkah konkret dalam mendorong penciptaan unitunit usaha baru dengan tujuan memberikan dampak positif bagi ekonomi lokal, mengurangi tingkat pengangguran, serta meningkatkan indeks pembangunan manusia. Para pengusaha muda tumbuh makin banyak dalam ekosistem kewirausahaan, mereka membawa perspektif segar, ide-ide inovatif, dan kemauan untuk mengambil risiko, yang sangat penting untuk inovasi dalam proses disrupsi (Syed et al. , 2. Oleh karena itu, menanamkan semangat wirausaha sejak dini menjadi investasi sosial dan ekonomi yang sangat strategis. Berwirausahan di era Industri 5. 0 tidak hanya memerlukan semangat dan kreativitas, tetapi juga pengetahuan dan keterampilan berbasis teknologi, kolaborasi manusia-mesin, serta orientasi pada keberlanjutan. Era Industri 5. 0 mempromosikan keseimbangan antara kreativitas manusia dan efisiensi mesin, memungkinkan produksi yang disesuaikan dan manufaktur cerdas (G & Boopathy, 2. Pada era ini, para wirausahawan memiliki kemampuan seperti: kemampuan beradaptasi, pemikiran visioner, dan berorientasi pada kepuasan pelanggan (Anunthawichak & Kitcharoen. Wirausaha di era 5. 0 selayaknya dapat menggunakan teknologi digital baik itu AI. IoT dan big data untuk menginovasi produk baru, memperluas jangkauan pasar, serta meningkatkan efisiensi operasional (Putra et al. , 2. Generasi muda harus dibekali dengan literasi digital, kemampuan berpikir desain . esign thinkin. , serta pemahaman mendalam terhadap kebutuhan konsumen. Keterampilan seperti branding, pemasaran digital, analisis pasar, dan manajemen keuangan menjadi elemen krusial dalam keberhasilan usaha. Transisi ke Industri 5. 0 memerlukan perubahan dalam sistem pendidikan untuk mempersiapkan generasi mendatang untuk lingkungan industri yang berpusat pada manusia. Ini termasuk mengembangkan keterampilan yang meningkatkan kreativitas dan kolaborasi dengan teknologi canggih (Ficzere, 2. Mengajarkan kewirausahaan kepada siswa SMK bukan lagi sekadar alternatif, tetapi menjadi keniscayaan dalam sistem pendidikan vokasi modern. Pengusaha muda patut dipersiapkan dengan baik menyambut tuntutan industri 5. 0 melalui intervensi pendidikan dan paparan industri (Chaturvedi et al. , 2. Untuk dapat sukses menjadi wirausahawan di era industri 5. 0 ini pola pikir harus dikembangkan terkait beberapa 80 | ISSN: x-x (Prin. ISSN: 2829-212X (Onlin. Tepak Sirih : Jurnal Pengabdian Masyarakat Madani Vol. No. Oktober, 2025, pp. hal seperti: mengidentifikasi peluang, berinovasi dan beradaptasi terhadap perubahan Program pelatihan dibutuhkan untuk mengembangkan jiwa kepemimpinan, kolaborasi, dan kemampuan untuk bekerja dengan teknologi yang baru (Stoesser. Kegiatan pelatihan ini, terutama jika dilakukan melalui pendekatan berbasis proyek nyata, akan memperkuat kepercayaan diri siswa serta menumbuhkan motivasi intrinsik untuk berwirausaha. Selain itu, pelatihan ini juga dapat menjadi media pengabdian masyarakat yang relevan bagi perguruan tinggi, dalam menjembatani kebutuhan pendidikan dan pembangunan ekonomi masyarakat. SMKN 10 Makassar ini berdiri sejak tahun 2010 namun sudah mendapatkan status akreditasi grade A pada tahun 2019 dari BAN-S/M (Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasa. Terdapat beberapa jurusan yaitu. Teknik komputer jaringan. Teknik instalasi tenaga listrik. Teknik pemesinan. Teknik pengelasan. Teknik kendaraan ringan. Desain pemodelan dan informasi bangunan. Teknik dan bisnis sepeda motor. Teknik elektronika industri, dan Teknik audio video. Visi SMKN 10 Makassar adalah menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang terampil, berkarakter dan berdayasaing berlandaskan IMTAQ dan IPTEK. Untuk membantu menunjang pencapaian visi tersebut, pelatihan kewirausahaan kreatif di era Industri 5. 0 bagi siswa/I SMKN 10 Makassar menjadi sebuah langkah strategis untuk mencetak generasi muda yang adaptif, mandiri, dan berdayasaing tinggi dalam menghadapi dunia kerja yang terus Metode Pelaksanaan Program pelatihan kewirausahaan sering kali mencakup kegiatan seperti brainstorming, studi kasus, dan simulasi untuk menumbuhkan keterampilan ini, memungkinkan siswa untuk menerapkan pengetahuan teoritis ke skenario dunia nyata (Galib et al. , 2. (Lase et al. , 2. Selain itu, pelatihan kewirausahaan kepada generasi muda dalam bentuk pemberian materi terbukti dapat meningkatkan literasi kewirausahaan secara signifikan (Sitorus et al. , 2. Sehingga dalam menjalankan kegiatan pengabdian ini, pemberian materi tentang kewirausahaan di era digital dilakukan kepada siswa/siswi SMK negeri 10 Makassar. Pelatihan kewirausahaan ini diikuti oleh 30 siswa dan siswi dengan secara umum kegiatan ini terdiri atas beberapa tahap, dimulai dari tahap persiapan, kemudian tahap pelaksanaan dan diakhiri dengan tahap monitoring dan evaluasi. Tahap Persiapan Pada tahap persiapan, seluruh aspek pelaksanaan pelatihan direncanakan agar sesuai dengan tujuan dan sasaran. Langkah yang dilakukan meliputi identifikasi kebutuhan peserta melalui koordinasi dengan pihak sekolah dan guru pendamping untuk mengetahui tingkat pemahaman awal siswa tentang kewirausahaan dan teknologi di era Industri 5. Selanjutnya, menyusun materi pelatihan yang relevan, mencakup konsep dasar kewirausahaan, strategi inovasi, dan pemanfaatan teknologi Pemilihan metode pembelajaran seperti ceramah interaktif dan studi kasus juga dilakukan pada tahap ini. Selain itu, dilakukan penjadwalan kegiatan, penyusunan daftar peserta, penyiapan sarana dan prasarana seperti ruang pelatihan, peralatan presentasi, bahan ajar, dan perangkat teknologi pendukung. 81 | ISSN: x-x (Prin. ISSN: 2829-212X (Onlin. Tepak Sirih : Jurnal Pengabdian Masyarakat Madani Vol. No. Oktober, 2025, pp. Tahap Pelaksanaan Sementara itu, pada tahap pelaksanaan kegiatan diawali dengan pembukaan yang mencakup sambutan dari pihak sekolah dan penyampaian tujuan pelatihan. Selanjutnya, materi disampaikan secara bertahap mulai dari pengenalan konsep kewirausahaan kreatif, strategi identifikasi peluang usaha, pengembangan ide inovatif, hingga pengaplikasian teknologi dan media digital untuk promosi produk di era Industri Tim pengabdi juga memfasilitasi tanya jawab serta memberikan bimbingan langsung kepada peserta selama kegiatan berlangsung. Dokumentasi berupa foto, video, dan notulensi kegiatan dilakukan untuk mendukung laporan akhir. Tahap Monitoring dan Evaluasi Kegiatan monitoring dan evaluasi sebagai tahap terakhir dilakukan selama kegiatan berlangsung untuk memastikan peserta aktif terlibat, materi tersampaikan dengan baik, dan sarana pendukung berfungsi optimal. Evaluasi dilakukan sebelum dan setelah pelatihan melalui pre-test dan post-test menggunakan instrumen skala Likert untuk mengukur peningkatan indikator kewirausahaan yang ingin ditanamkan kepada Indikator yang diukur antara lain: . pemahaman konsep kewirausahaan, . kemampuan identifikasi peluang usaha, . penguasaan literasi digital untuk usaha, . keterampilan perencanaan usaha, . kreativitas dan inovasi produk/jasa, . kemampuan manajemen keuangan usaha, . kemampuan presentasi dan komunikasi bisnis, . penggunaan teknologi industri 5. 0 dalam kewirausahaan, . sikap dan motivasi berwirausaha, serta . implementasi dan keberlanjutan usaha. Hasil dan Pembahasan Pelatihan kewirausahaan bagi siswa/siswi SMKN 10 Makassar ini terlaksana dengan baik di lingkungan sekolah sebagai respon terhadap menariknya pembahasan tentang dunia bisnis utamanya bisnis di era digital dengan dihadiri sebanyak 30 siswa/siswi jurusan teknik komputer jaringan. Kegiatan disampaikan melalui penyampaian materi dan inovasi terkait kewirausahaan yang dipadukan dengan diskusi partisipatif, sehingga mendorong interaksi aktif dan keberanian peserta menyampaikan rasa keingintahuannya. Hasil pelatihan ditunjukkan antara lain melalui tingginya antusiasme peserta, sebagaimana tergambar pada Tabel 1 yang merepresentasikan respons positif terhadap kegiatan sosialisasi literasi kewirausahaan di era industri 5. Gambar 1. Penyampaian materi kepada siswa/siswi SMKN 10 Makassar 82 | ISSN: x-x (Prin. ISSN: 2829-212X (Onlin. Tepak Sirih : Jurnal Pengabdian Masyarakat Madani Vol. No. Oktober, 2025, pp. Tabel 1. Perbandingan Rata-rata Skor Sebelum dan Setelah Pelatihan Kewirausahaan Indikator Pemahaman Konsep Kewirausahaan Kemampuan Identifikasi Peluang Usaha Penguasaan Literasi Digital untuk Usaha Keterampilan Perencanaan Usaha Kreativitas dan Inovasi Produk/Jasa Kemampuan Manajemen Keuangan 6 Usaha Kemampuan Presentasi dan Komunikasi 7 Bisnis Penggunaan Teknologi Industri 5. dalam Kewirausahaan 9 Sikap dan Motivasi Berwirausaha 10 Implementasi dan Keberlanjutan Usaha Rata-rata Skor Sebelum Pelatihan Rata-rata Skor Setelah Pelatihan Sumber: Hasil analisis penulis . Berdasarkan hasil evaluasi berbasis skala likert . untuk 10 indikator pada 30 siswa SMKN 10 Makassar menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada sebagian besar indikator kewirausahaan setelah siswa mengikuti pelatihan. Sebelum pelatihan, skor rata-rata indikator cenderung rendah, terutama pada aspek manajemen keuangan . , implementasi usaha . , serta identifikasi peluang usaha . Hal ini menggambarkan bahwa siswa SMK relatif awam dalam memahami konsep dasar kewirausahaan, meskipun memiliki keterampilan digital yang lebih baik . Kondisi tersebut sejalan dengan karakteristik generasi muda yang akrab dengan teknologi, tetapi belum terbiasa mengaplikasikannya dalam konteks kewirausahaan. Ketimpangan ini menegaskan pentingnya pelatihan yang sistematis untuk meningkatkan pemahaman mendasar, sehingga kemampuan digital dapat terintegrasi dengan keterampilan bisnis. Gambar 2. Siswa/siswi SMKN 10 Makassar mengikuti evaluasi yang diberikan 83 | ISSN: x-x (Prin. ISSN: 2829-212X (Onlin. Tepak Sirih : Jurnal Pengabdian Masyarakat Madani Vol. No. Oktober, 2025, pp. Setelah pelatihan, terjadi peningkatan yang konsisten pada semua indikator. Aspek pemahaman konsep kewirausahaan meningkat dari 2,10 menjadi 4,00, sedangkan sikap dan motivasi berwirausaha meningkat tajam dari 2,10 menjadi 4,20. Data tersebut menunjukkan terjadi peningkatan pemahaman terkait konsep kewirausahaan dan motivasi dalam berwirausaha sebesar 38%. Peningkatan signifikan ini menunjukkan keberhasilan pelatihan dalam membangun kesadaran dan motivasi dalam diri siswa terhadap kewirausahaan. Indikator lain seperti perencanaan usaha, kreativitas, dan komunikasi bisnis juga menunjukkan kenaikan yang cukup berarti yakni masing-masing sebesar 14%, meskipun rata-rata skor pasca pelatihan masih berada pada kategori menengah. Hal ini menandakan bahwa intervensi pelatihan mampu meningkatkan pemahaman dan keterampilan dasar, tetapi masih membutuhkan pendalaman lebih lanjut untuk mencapai kompetensi tinggi. Setelah pelatihan, terjadi peningkatan yang konsisten pada semua indikator. Aspek pemahaman konsep kewirausahaan meningkat dari 2,10 menjadi 4,00, sedangkan sikap dan motivasi berwirausaha meningkat tajam dari 2,10 menjadi 4,20. Data tersebut menunjukkan terjadi peningkatan pemahaman terkait konsep kewirausahaan dan motivasi dalam berwirausaha sebesar 38%. Peningkatan signifikan ini menunjukkan keberhasilan pelatihan dalam membangun kesadaran dan motivasi dalam diri siswa terhadap kewirausahaan. Indikator lain seperti perencanaan usaha, kreativitas, dan komunikasi bisnis juga menunjukkan kenaikan yang cukup berarti yakni masing-masing sebesar 14%, meskipun rata-rata skor pasca pelatihan masih berada pada kategori menengah. Hal ini menandakan bahwa intervensi pelatihan mampu meningkatkan pemahaman dan keterampilan dasar, tetapi masih membutuhkan pendalaman lebih lanjut untuk mencapai kompetensi tinggi. Pelatihan kewirausahaan ini terbukti efektif dalam meningkatkan kapasitas kewirausahaan siswa SMKN 10 Makassar, dengan pola peningkatan paling menonjol pada aspek motivasi, pemahaman konsep, dan keterampilan dasar. Meskipun indikator terkait literasi digital dan penggunaan teknologi 5. 0 hanya menunjukkan peningkatan kecil, hal tersebut dapat dijelaskan karena kemampuan awal siswa pada aspek digital sudah relatif tinggi. Sebaliknya, peningkatan besar pada indikator rendah sebelumnya menegaskan efektivitas program pelatihan dalam mengisi kesenjangan kompetensi dasar kewirausahaan bagi mereka. Dengan demikian, pelatihan kewirausahaan bagi siswa SMK di era Industri 5. 0 dapat dipandang sebagai strategi yang relevan dan adaptif dalam menyiapkan generasi muda untuk menjadi wirausaha pemula yang mandiri, inovatif, serta berdaya saing di tengah perubahan global. 84 | ISSN: x-x (Prin. ISSN: 2829-212X (Onlin. Tepak Sirih : Jurnal Pengabdian Masyarakat Madani Vol. No. Oktober, 2025, pp. Gambar 3. Perbandingan hasil penilaian indikator sebelum dan setelah pelatihan Gambar 4. Foto bersama peserta dan tim pemateri Berdasarkan grafik pada Gambar 3 terlihat adanya peningkatan yang cukup signifikan pada hasil evaluasi pelatihan kewirausahaan secara umum berdasarkan total capaian 10 indikator. Sebelum pelatihan, capaian siswa berada pada kisaran 48% dari skor maksimal, yang menunjukkan pemahaman dan keterampilan kewirausahaan mereka masih relatif rendah. Setelah mengikuti pelatihan, nilai evaluasi meningkat menjadi sekitar 65,4% dari skor maksimal, mencerminkan adanya penguatan pemahaman konsep dasar, motivasi, serta keterampilan praktis kewirausahaan. Peningkatan ini membuktikan bahwa program pelatihan yang dilakukan di sekolah efektif dalam 85 | ISSN: x-x (Prin. ISSN: 2829-212X (Onlin. Tepak Sirih : Jurnal Pengabdian Masyarakat Madani Vol. No. Oktober, 2025, pp. membekali siswa SMK yang sebelumnya awam terhadap bisnis dengan pengetahuan dan keterampilan awal untuk berwirausaha, sekaligus menegaskan pentingnya intervensi pendidikan kewirausahaan di era Industri 5. Kesimpulan Pelatihan kewirausahaan kreatif di era Industri 5. 0 yang dilaksanakan bagi siswa/i SMKN 10 Makassar terbukti mampu memberikan dampak positif terhadap peningkatan literasi dan keterampilan kewirausahaan peserta. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan yang konsisten pada hampir seluruh indikator, terutama pada aspek pemahaman konsep kewirausahaan serta sikap dan motivasi Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan pelatihan tidak hanya memperluas pengetahuan siswa, tetapi juga mendorong perubahan pola pikir menjadi calon wirausahawan mandiri. Secara umum, indikator yang sebelumnya rendah seperti manajemen keuangan usaha, perencanaan usaha, serta implementasi usaha mengalami peningkatan meskipun masih pada kategori sedang yaitu sekitar 14%. Sementara itu, aspek literasi digital dan penggunaan teknologi 5. 0 hanya menunjukkan peningkatan kecil yaitu sebesar 4% karena kemampuan awal siswa pada aspek tersebut sudah relatif tinggi. Hasil pelatihan ini menegaskan bahwa program pelatihan kewirausahaan berbasis partisipatif sangat relevan untuk diterapkan di lingkungan pendidikan vokasi. Ke depan, keberlanjutan kegiatan perlu diarahkan pada program pendampingan intensif agar pengetahuan yang diperoleh siswa dapat diimplementasikan secara nyata dalam pengembangan usaha. Dengan langkah tersebut, diharapkan siswa SMK tidak hanya memiliki literasi kewirausahaan, tetapi juga mampu menciptakan usaha kreatif yang inovatif, berkelanjutan, dan berdaya saing di era Industri 5. Daftar Referensi Anunthawichak. , & Kitcharoen. Entrepreneurial Leadership to Create Business Success in The Digital Age. Journal of Business and Industrial Development, 3. https://doi. org/10. 14416/j. Badan Pusat Statistik. Indikator Ketenagakerjaan Indonesia. BPS. Chaturvedi. Bansal. Sharma. , & Singhi. Skills and competencies for 0: Millenial perspective for sustained career growth. Journal of Information and Optimization Sciences, 45. , 1921Ae1929. https://doi. org/10. 47974/jios-1743 Ficzere. Industry 5. Present or Future? Design of Machines and Structures, 14. , 19Ae34. https://doi. org/10. 32972/dms. Galib. Maulana. Basri. Mashuri. , & Ardasanti. Menumbuhkan Jiwa Entrepreneur Mahasiswa melalui Pelatihan Kreativitas dan Inovasi. PengabdianMu, 9. , 1464Ae1470. https://doi. org/10. 33084/pengabdianmu. Isnandar. Muliadi. Nurmalasari. , & Maula. Identifikasi dimensi skill lulusan pendidikan vokasi dengan kebutuhan keterampilan kerja di industri. Learning, 4. , 335Ae345. https://doi. org/10. 51878/learning. Nikhila. , & Amudha. Creativity and innovation enhance business growth and . 195Ae. 86 | ISSN: x-x (Prin. ISSN: 2829-212X (Onlin. Tepak Sirih : Jurnal Pengabdian Masyarakat Madani Vol. No. Oktober, 2025, pp. https://doi. org/10. 58532/v3bhma15p8ch4 Polakova. Horvythovy Suleimanovy. Madzik. Copu. Molnyrovy. , & Polednovy. Soft skills and their importance in the labour market under the conditions of Industry 5. Heliyon, 9. https://doi. org/10. 1016/j. Putra. Karundeng. Gofur. Tresnadjaja. Suhara. Sukmayadi. , & Sopyan. Entrepreneurship in the era of society 5. 0: Navigating digitalization for innovation and growth. Journal of Sustainable Tourism and Entrepreneurship. https://doi. org/10. 35912/joste. Raj. , & Boopathy. A Survey on AI Integration into Industry 5. Gazi University Journal of Science. https://doi. org/10. 35378/gujs. Rangarajan. , & Lakshmi. Creativity and Innovation in Entrepreneurship -A Brief Assessment. Sumedha Journal of Management, 2. , 55Ae60. http://w. com/ijor. aspx?target=ijor:sjm&volume=2&issue=4&article =005 Sitorus. Hasmarani. Jusbaeni. Shiber. Firnawati . Sosialisasi Literasi Kewirausahaan bagi Wirausaha Pemula. Pengabdi. , 7-13. Stoesser. An Overview and Synthesis of Entrepreneurial Theories for Start-Ups and MSMEs in the Era of Industry 5. Advances in Business Strategy and Competitive Advantage Book Series, 1Ae24. https://doi. org/10. 4018/978-1-6684-64038. Susiana Lase. Zendrato. , & Belo. Pentingnya Keterampilan Hidup dalam Mewujudkan Ide-Ide Bisnis yang Inovatif. Nian Tana Sikka, 3. , 93Ae106. https://doi. org/10. 59603/niantanasikka. Syed. Singh. , & Butt. Age and entrepreneurship: Mapping the scientific coverage and future research directions. International Entrepreneurship and Management Journal. https://doi. org/10. 1007/s11365-024-00964-8 87 | ISSN: x-x (Prin. ISSN: 2829-212X (Onlin.