Hubungan Antara Perilaku Asertif dan Konformitas Teman Sebaya Dengan Perilaku Membolos Siswa Kelas IX SMP Negeri 39 Surabaya HUBUNGAN ANTARA PERILAKU ASERTIF DAN KONFORMITAS TEMAN SEBAYA DENGAN PERILAKU MEMBOLOS SISWA KELAS IX SMP NEGERI 39 SURABAYA Isna Nur Aini Program Studi Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Surabaya e-mail: isna. 22042@mhs. Titin Indah Pratiwi Program Studi Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Surabaya e-mail: titinindahpratiwi@unesa. Abstrak Masa remaja merupakan periode perkembangan yang sarat dengan pengaruh lingkungan sosial, terutama dari kelompok teman sebaya. Pada tahap ini, kebutuhan untuk diterima dan menyesuaikan diri dengan kelompok sering kali sangat kuat. Ketika remaja tidak mampu mengelola tekanan sosial tersebut secara tepat, kondisi tersebut dapat memicu munculnya berbagai bentuk perilaku menyimpang, salah satunya adalah perilaku membolos sekolah. Dalam situasi demikian, kemampuan untuk bersikap asertif menjadi faktor penting yang membantu remaja menghadapi tekanan sosial secara lebih sehat dan adaptif. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara perilaku asertif dan konformitas teman sebaya dengan perilaku membolos pada siswa kelas IX di SMP Negeri 39 Surabaya. Subjek penelitian berjumlah 171 siswa yang dipilih melalui teknik simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan angket yang mengukur tiga variabel, yaitu perilaku asertif, konformitas teman sebaya, dan perilaku Data yang diperoleh dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji normalitas, uji linearitas, korelasi Pearson, serta korelasi berganda. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara perilaku asertif dan perilaku membolos . = -0,. Hubungan negatif yang signifikan juga ditemukan antara konformitas teman sebaya dan perilaku membolos . = -0,. Selain itu, perilaku asertif dan konformitas teman sebaya juga memiliki hubungan negatif . = -0,. Analisis korelasi berganda menunjukkan bahwa perilaku asertif dan konformitas teman sebaya secara simultan berhubungan secara signifikan dengan perilaku membolos (R = 0,. Temuan ini menunjukkan bahwa kecenderungan perilaku membolos pada siswa berkaitan dengan tingkat perilaku asertif yang dimiliki serta tingkat konformitas mereka terhadap kelompok teman sebaya. Kata Kunci: Perilaku Asertif. Konformitas Teman Sebaya. Perilaku Membolos Abstract Adolescence is a developmental stage that is strongly influenced by the social environment, particularly peer groups. During this period, the pressure to conform to peers tends to be very strong. When adolescents are unable to manage such social pressures effectively, it may lead to various forms of deviant behavior, including truancy. Assertive behavior plays an important role in helping adolescents respond to social pressures in a more adaptive manner. This study aims to examine the relationship between assertive behavior and peer conformity with truancy behavior among ninth-grade students at SMP Negeri 39 Surabaya. The study involved 171 students who were selected using a simple random sampling technique. Data were collected through questionnaires measuring assertive behavior, peer conformity, and truancy The data were analyzed using descriptive statistics, normality tests, linearity tests. Pearson correlation, and multiple correlation analysis. The results revealed a significant negative relationship between assertive behavior and truancy behavior . = -0. A significant negative relationship was also found between peer conformity and truancy behavior . = -0. In addition, a negative relationship was identified between assertive behavior and peer conformity . = -0. Furthermore, the results of multiple correlation analysis indicated that assertive behavior and peer conformity simultaneously had a significant relationship with truancy behavior (R = 0. These findings suggest that studentsAo truancy behavior is associated with the combination of their level of assertive behavior and peer conformity. Keywords: Assertive Behavior. Peer Conformity. Truancy Behavior Hubungan Antara Perilaku Asertif dan Konformitas Teman Sebaya Dengan Perilaku Membolos Siswa Kelas IX SMP Negeri 39 Surabaya PENDAHULUAN perhatian dalam dunia pendidikan, termasuk di kota besar seperti Surabaya. Salah satu faktor individu yang dapat memengaruhi perilaku membolos adalah perilaku asertif. Perilaku asertif merupakan kemampuan individu untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan kebutuhan secara jujur dan tegas tanpa melanggar hak orang lain. Siswa yang memiliki perilaku asertif yang baik cenderung mampu menolak ajakan negatif dari teman sebaya, termasuk ajakan untuk Sebaliknya, siswa yang kurang asertif lebih rentan terhadap tekanan sosial. Penelitian Hasanah et al. menunjukkan bahwa konformitas teman sebaya memiliki pengaruh terhadap tingkat asertif siswa. Selain faktor individu, kondisi sosial seperti pengaruh kelompok teman juga memainkan peranan dalam tindakan Pengaruh kelompok teman merujuk pada kecenderungan seseorang untuk menyesuaikan sikap dan tindakannya dengan norma yang berlaku di dalam Beragam studi sebelumnya, termasuk yang dilakukan oleh Fransisca . Adriel dan Indrawati . , serta Putri dan rekan-rekan . , membuktikan bahwa semakin tinggi tingkat pengaruh teman sebaya, semakin besar kemungkinan siswa untuk terlibat dalam tindakan bolos. Hasil tersebut juga ditunjang oleh penelitian yang dilakukan oleh Dwita dan tim . serta Kamilah dan Ardi . yang menggarisbawahi bahwa pengaruh teman sebaya berperanan penting dalam membentuk perilaku siswa. Walaupun sejumlah penelitian telah membahas konformitas teman sebaya dan berbagai perilaku negatif pada remaja, penelitian yang secara khusus mengkaji hubungan antara perilaku asertif, konformitas teman sebaya, dan perilaku membolos pada siswa SMP masih Sebagian besar penelitian sebelumnya lebih banyak menyoroti siswa SMA atau SMK, sehingga kurang merepresentasikan karakteristik perkembangan siswa SMP. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara perilaku asertif dan konformitas teman sebaya dengan perilaku membolos pada siswa kelas IX di SMP Negeri 39 Surabaya. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam memperkaya kajian mengenai faktor-faktor psikososial yang memengaruhi perilaku membolos pada Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pendidik, konselor sekolah, dan pembuat kebijakan dalam merancang strategi atau intervensi yang efektif untuk mengurangi perilaku membolos di lingkungan sekolah. Penelitian ini diharapkan mampu menyumbangkan wawasan yang lebih dalam mengenai pengaruh faktor psikososial terhadap perilaku membolos di kalangan Selain itu, hasil dari studi ini diharapkan bisa menjadi acuan penting bagi para pendidik, konselor di Pendahuluan Remaja adalah tahap pertumbuhan yang memiliki ciriciri tertentu yang berbeda dari usia lainnya. Hurlock dalam (Nasution et al. , 2. menyatakan bahwa remaja adalah periode peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang terjadi dalam kisaran usia sekitar 10 hingga 20 tahun. Pada tahap ini, berbagai transformasi yang saling terkait berlangsung, termasuk dalam aspek fisik, kognitif, dan psikososial. Perubahan ini menjadikan remaja lebih mudah terpengaruh oleh lingkungan sosial, terutama dari teman-teman sebaya. Pendidikan memainkan peranan krusial dalam mendukung remaja membentuk karakter yang baik. Akan tetapi, di dalam konteks pergaulan, sejumlah remaja mungkin menghadapi penolakan atau tekanan dari lingkungan sosial yang dapat memicu rasa kesepian dan berisiko memunculkan perilaku negatif. Salah satu pengaruh sosial yang signifikan selama masa remaja adalah konformitas teman sebaya, yakni kecenderungan seseorang untuk menyesuaikan sikap dan tindakan dengan Konformitas teman sebaya bisa muncul akibat adanya tekanan secara langsung maupun berdasarkan persepsi terhadap tekanan dari kelompok tersebut. Sebagian besar waktu remaja dihabiskan di lingkungan sekolah bersama teman sebaya, bahkan mencapai 8Ae9 jam setiap hari. Kondisi ini membuat teman sebaya memiliki pengaruh yang besar terhadap sikap, perilaku, serta cara remaja menampilkan dirinya. Pengaruh tersebut dapat bersifat positif maupun negatif. Salah satu bentuk perilaku menyimpang yang kerap muncul di kalangan remaja adalah perilaku membolos. Gunarsa dalam (Rahayu et al. , 2. mendefinisikan membolos sebagai tindakan meninggalkan sekolah tanpa alasan yang sah selama jam pelajaran tanpa pemberitahuan kepada pihak sekolah. Penelitian Supriatna et al. terhadap 152 siswa di SMP Kartika XIX-2 Bandung menunjukkan bahwa 33% siswa memiliki tingkat perilaku membolos tinggi, 48% berada pada kategori sedang, dan hanya 19% berada pada kategori Perilaku membolos merupakan salah satu pelanggaran disiplin yang cukup sering terjadi pada siswa sekolah menengah pertama (SMP). Fenomena ini tidak hanya mencerminkan ketidakpatuhan terhadap aturan sekolah, tetapi juga dapat menjadi indikator adanya permasalahan psikologis maupun sosial yang lebih mendalam. Perilaku membolos berpotensi menurunkan prestasi akademik, mengganggu proses pembelajaran, serta meningkatkan risiko munculnya perilaku menyimpang lainnya. Indonesia, persoalan ketidakhadiran siswa masih menjadi Hubungan Antara Perilaku Asertif dan Konformitas Teman Sebaya Dengan Perilaku Membolos Siswa Kelas IX SMP Negeri 39 Surabaya sekolah, dan pihak pembuat kebijakan dalam merumuskan taktik atau langkah-langkah yang efektif untuk menanggulangi perilaku membolos di sekolah. mengungkapkan berbagai perasaan, baik negatif maupun positif, secara tepat tanpa menunjukkan reaksi yang Keempat, menghargai hak-hak individu lain, yang ditunjukkan melalui sikap menghargai orang lain, tidak menghakimi, serta mampu menyeimbangkan hak diri sendiri dengan hak orang lain dalam interaksi sosial. Konformitas merupakan bentuk penyesuaian individu terhadap perilaku atau keyakinan kelompok sebaya akibat adanya tekanan sosial, baik yang bersifat nyata maupun yang hanya dirasakan secara subjektif. David OAoSears dalam (Mardison, 2. menyatakan bahwa konformitas adalah perilaku individu yang dipengaruhi oleh tindakan orang lain. Myers . mendefinisikan konformitas sebagai perubahan perilaku atau keyakinan yang disebabkan oleh tekanan sosial. Senada dengan itu. Morgan dalam (Anindani et al. , 2. menjelaskan bahwa konformitas merupakan kondisi ketika individu menyesuaikan keyakinan atau perilakunya agar selaras dengan anggota kelompok lainnya. Dengan demikian, konformitas dapat dijelaskan sebagai modifikasi perilaku seseorang sebagai usaha untuk beradaptasi dengan standar kelompok, baik akibat dorongan langsung maupun harapan yang tidak secara eksplisit diungkapkan dari konteks sosial. Sears dalam (Mardison, 2. mengemukakan bahwa konformitas ditandai oleh perubahan perilaku individu agar selaras dengan perilaku orang lain demi mencapai tujuan tertentu, seperti memperoleh penerimaan atau pengakuan dari kelompok sosial. Dalam kehidupan remaja, kelompok sebaya sering menjadi acuan penting sehingga mendorong individu untuk menyesuaikan sikap dan perilakunya dengan norma yang berlaku dalam kelompok tersebut. Berdasarkan beragam definisi yang diuraikan, konformitas teman sebaya adalah sikap siswa yang cenderung mengikuti cara berpikir, bersikap, dan berperilaku seperti kelompok temannya agar bisa diterima dalam kelompok tersebut. Menurut David OAoSears dalam (Mardison, 2. , konformitas memiliki beberapa aspek, yaitu kekompakan, kesepakatan, dan ketaatan. Kekompakan berkaitan dengan keterikatan individu terhadap kelompok yang dipengaruhi oleh rasa saling menyukai, harapan memperoleh manfaat, serta keinginan untuk diterima dalam kelompok. Kondisi ini mendorong individu untuk menyesuaikan diri dengan norma kelompok dan menghindari penolakan sosial. Kesepakatan merujuk pada keselarasan pandangan di antara anggota kelompok yang dipengaruhi oleh tingkat kepercayaan, persamaan pendapat, serta adanya atau tidak adanya perbedaan pandangan dalam kelompok. Sementara itu, ketaatan berkaitan dengan kepatuhan individu terhadap tuntutan kelompok atau otoritas tertentu, yang Kajian Pustaka Perilaku asertif merupakan kemampuan individu untuk mengekspresikan pikiran, perasaan, kebutuhan, serta hak-hak pribadinya secara jujur dan terbuka tanpa melanggar hak orang lain. Menurut Alberti dan Emmons . , perilaku asertif mencerminkan hubungan yang setara antarindividu, di mana seseorang mampu memperjuangkan kepentingan pribadi, mengekspresikan perasaan secara jujur, serta menggunakan hak-haknya tanpa mengabaikan hak orang lain. Sikap asertif memungkinkan individu menyampaikan perasaan positif maupun negatif secara terbuka sehingga dapat menghindari perasaan kecewa yang muncul akibat ketidakmampuan mengungkapkan kebutuhan secara tepat. Corey . menjelaskan bahwa perilaku asertif menunjukkan kemampuan individu untuk bersikap terbuka, tegas, jujur, dan tepat dalam menyampaikan pikiran, perasaan, kebutuhan, maupun hak pribadi tanpa disertai kecemasan yang tidak berdasar. Sejalan dengan itu. Pearson dalam (Sofah et al. , 2. menyatakan bahwa perilaku asertif merupakan kemampuan menyampaikan pikiran, perasaan, dan keinginan secara langsung dan jujur, sekaligus tetap memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengekspresikan hal yang sama. Cawood dalam (Astuti et al. , 2. juga kemampuan individu untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, kebutuhan, dan hak-haknya secara jujur dan langsung tanpa disertai kecemasan, serta tetap menghargai hak orang lain. Dalam perilaku asertif, ekspresi yang disampaikan bersifat jelas, fokus, dan tidak menghakimi, serta menunjukkan keselarasan antara kata-kata, bahasa tubuh, dan perasaan. Berdasarkan beragam definisi yang diuraikan, perilaku asertif adalah kemampuan siswa untuk menyampaikan pendapat, perasaan, atau keinginannya secara jujur dan langsung tanpa menyakiti orang lain. Menurut Alberti dan Emmons dalam (Ratna, 2. , perilaku asertif memiliki beberapa aspek utama. Pertama, bertindak sesuai kepentingan pribadi, yaitu kemampuan individu untuk mengambil keputusan secara mandiri serta menunjukkan inisiatif dalam melakukan aktivitas dan menjalin hubungan sosial. Kedua, membela diri dan mempertahankan hak pribadi, yang tercermin dari kemampuan individu untuk menolak sesuatu yang tidak sesuai dengan prinsipnya, menyampaikan pendapat secara jelas, serta menanggapi kritik dengan sikap tenang dan Ketiga, menyampaikan perasaan secara jujur dan nyaman, yaitu kemampuan individu untuk Hubungan Antara Perilaku Asertif dan Konformitas Teman Sebaya Dengan Perilaku Membolos Siswa Kelas IX SMP Negeri 39 Surabaya dapat dipengaruhi oleh tekanan sosial, ganjaran, ancaman, maupun harapan dari orang lain. Membolos merupakan perilaku yang berkaitan dengan aspek fisik, psikologis, sosial, dan kognitif siswa (Sitorus. Perilaku ini umumnya muncul sebagai akibat dari kondisi lingkungan yang kurang kondusif, di mana siswa meninggalkan sekolah atau tidak mengikuti kegiatan pembelajaran tanpa alasan yang jelas dan tanpa izin dari pihak sekolah. Tindakan tersebut termasuk dalam bentuk kenakalan remaja yang melanggar aturan sekolah dan berpotensi menimbulkan konsekuensi tertentu. Gunarsa dalam (Fauziyah, 2. mengartikan membolos sebagai tindakan keluar dari sekolah tanpa alasan yang dapat diterima selama waktu pelajaran dan tanpa persetujuan dari pihak sekolah. Kartono dalam (Fauziyah, 2. berpendapat bahwa perilaku membolos adalah suatu bentuk pelanggaran terhadap norma sosial yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang kurang Setyowati dalam (Nalman et al. , 2. mengemukakan bahwa membolos adalah tindakan pelajar yang tidak mematuhi peraturan sekolah dengan tidak mengikuti pelajaran pada waktu yang telah ditentukan, baik untuk sebagian atau seluruh waktu, dengan tujuan menghindari proses pembelajaran. Surya dalam (Utami, 2. juga menegaskan bahwa membolos berarti ketidakhadiran pelajar dalam aktivitas belajar tanpa izin yang valid. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa perilaku membolos merupakan pelanggaran terhadap peraturan sekolah yang tercermin melalui ketidakhadiran pelajar atau meninggalkan sekolah tanpa izin dan tanpa sepengetahuan pihak sekolah. Berdasarkan berbagai pengertian yang telah dijabarkan, perilaku membolos adalah perilaku siswa yang tidak ikut serta dalam proses pembelajaran di sekolah tanpa alasan yang valid atau izin resmi, baik untuk satu jam pembelajaran maupun sepanjang hari penuh. Menurut Dorothy H. Keiter dalam (Ibrahim et al. , perilaku membolos memiliki dua aspek utama, yaitu faktor yang bersumber dari diri individu dan faktor yang berasal dari luar individu. Faktor dari dalam diri meliputi rendahnya motivasi belajar, alasan kesehatan, serta kurangnya minat terhadap kegiatan sekolah. Sementara itu, faktor dari luar individu mencakup tindakan meninggalkan sekolah saat proses pembelajaran berlangsung, kurangnya perhatian atau dukungan keluarga, serta ketidaknyamanan terhadap lingkungan METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Menurut Sugiyono . , pendekatan kuantitatif digunakan untuk mengkaji karakteristik populasi atau sampel tertentu melalui proses pengumpulan serta analisis data yang dilakukan secara Metode korelasional dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabelvariabel yang telah ditentukan. Dalam penelitian ini, variabel independen meliputi perilaku asertif (X. dan konformitas teman sebaya (X. , sedangkan variabel dependen adalah perilaku membolos (Y). Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 39 Surabaya dengan populasi berupa seluruh siswa kelas IX pada semester ganjil tahun ajaran 2025/2026. Penentuan sampel dilakukan menggunakan teknik simple random sampling. Total sampel dihitung menggunakan rumus Slovin dengan margin kesalahan sebesar 5%, sehingga didapatkan sebanyak 171 responden yang menjadi sampel penelitian. Pengumpulan data dilaksanakan dengan menggunakan alat berbentuk kuesioner yang dirancang untuk menilai variabel perilaku asertif, konformitas teman sebaya, dan perilaku membolos di kalangan siswa. Penyusunan kuesioner mengacu pada indikator dari setiap variabel studi dan telah melalui proses pengujian untuk validitas dan reliabilitas guna memastikan akurasi dan ketahanan alat pengukur. Pengujian validitas dan reliabilitas dilakukan terhadap 100 siswa yang memiliki karakteristik yang serupa dengan subjek penelitian. Temuan dari pengujian menunjukkan bahwa alat ukur tersebut layak digunakan dan mampu memberikan data yang berkaitan dengan tujuan penelitian. Tahapan analisis informasi dalam studi ini dilakukan melalui beberapa metode statistik. Langkah awal adalah analisis statistik deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan sifat dari data pada masing-masing variabel yang diteliti. Berikutnya, dilakukan uji normalitas dan uji linearitas untuk memastikan bahwa data memenuhi prasyarat dasar sebelum melanjutkan analisis lebih dalam. Untuk menilai hubungan antar variabel. Tujuan Untuk mengatahui hubungan antara perilaku konformitas teman sebaya dengan perilaku membolos pada peserta didik kelas IX di SMP Negeri 39 Surabaya. Untuk mengetahui hubungan antara perilaku asertif dengan konformitas teman sebaya pada peserta didik kelas IX di SMP Negeri 39 Surabaya Untuk mengetahui hubungan antara perilaku asertif dan perilaku konformitas teman sebaya dengan perilaku membolos pada peserta didik kelas IX di SMP Negeri 39 Surabaya. Untuk mengetahui hubungan antara perilaku asertif dengan perilaku membolos pada peserta didik kelas IX di SMP Negeri 39 Surabaya. Hubungan Antara Perilaku Asertif dan Konformitas Teman Sebaya Dengan Perilaku Membolos Siswa Kelas IX SMP Negeri 39 Surabaya analisis korelasi Pearson diterapkan, sementara analisis korelasi berganda digunakan untuk mengkaji hubungan simultan antara ketiga variabel yang diteliti. Seluruh proses analisis data dilaksanakan dengan dukungan perangkat lunak IBM SPSS Statistics 27 untuk Windows. ,01%) kategori sedang, dan 26 siswa . ,20%) kategori tinggi. Sementara itu, pada variabel perilaku membolos ditemukan 34 siswa . ,88%) berada pada kategori rendah, 111 siswa . ,91%) pada kategori sedang, dan 26 siswa . ,21%) pada kategori tinggi. Secara keseluruhan, data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar siswa pada setiap variabel penelitian berada dalam kategori sedang. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Statistik Deskriptif Tabel 1. Hasil Analisis Statistik Deskriptif Variabel Min Max Mean Std. Deviation Perilaku Asertif 147,64 11,13 Konformitas Teman Sebaya 139,47 8,93 Perilaku Membolos 143,47 8,09 Uji Normalitas Tabel 3. Hasil Uji Normalitas Variabel Signifikansi Keterangan Perilaku Asertif 0,404 Berdistribusi Normal Konformitas 0,589 Berdistribusi Teman Sebaya Normal Perilaku 0,546 Berdistribusi Membolos Normal Berdasarkan hasil uji normalitas yang ditampilkan pada tabel, diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,404 pada variabel perilaku asertif, 0,589 pada variabel konformitas teman sebaya, dan 0,546 pada variabel perilaku Karena seluruh nilai signifikansi tersebut lebih besar dari 0,050, maka dapat disimpulkan bahwa data pada masing-masing variabel penelitian berdistribusi Berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif menggunakan SPSS versi 27 terhadap 171 responden, diperoleh nilai rata-rata . pada variabel perilaku membolos sebesar 143,47, perilaku asertif sebesar 147,64, dan konformitas teman sebaya sebesar 139,47. Nilai minimum menunjukkan skor terendah yang diperoleh responden pada masing-masing variabel, sedangkan nilai maksimum menggambarkan skor tertinggi pada variabel yang diukur. Sementara itu, nilai standar deviasi menunjukkan tingkat penyebaran data, yaitu sebesar 8,09 pada variabel perilaku membolos, 11,13 pada perilaku asertif, dan 8,93 pada konformitas teman sebaya. Berdasarkan hasil analisis tersebut, kriteria tingkat pada masing-masing variabel dapat ditentukan sebagaimana diuraikan pada bagian berikutnya. Tabel 2. Kategorisasi Tiap Variabel Keterangan Perilaku Konformitas Perilaku Asertif Teman Membolos Sebaya Rendah ,97%) ,79%) ,88%) Sedang . ,82%) . ,01%) . ,91%) Tinggi . ,22%) . ,20%) . ,21%) Uji Linearitas Tabel 4. Hasil Uji Linearitas X1 dan Y1 Variabel Nilai Signifikansi Keterangan Linearity Deviation Linearity Perilaku 0,000 0,694 Linear Asertif dan Perilaku Membolos Berdasarkan hasil uji linearitas antara variabel perilaku asertif dan perilaku membolos, diperoleh nilai signifikansi pada linearity sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0,050 serta nilai deviation from linearity sebesar 0,694 yang lebih besar dari 0,050. Hasil tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara variabel perilaku asertif dan perilaku membolos bersifat linear. Tabel 5. Hasil Uji Linearitas X2 dan Y1 Variabel Nilai Signifikansi Keterangan Linearity Deviation Linearity Konformitas 0,000 0,713 Linear Teman Sebaya dan Perilaku Membolos Berdasarkan hasil kategorisasi pada masing-masing variabel penelitian, diketahui bahwa tingkat perilaku asertif siswa menunjukkan 29 siswa . ,97%) berada pada kategori rendah, 104 siswa . ,82%) pada kategori sedang, dan 38 siswa . ,22%) pada kategori tinggi. Pada variabel konformitas teman sebaya, terdapat 27 siswa . ,79%) yang termasuk kategori rendah, 128 siswa Hubungan Antara Perilaku Asertif dan Konformitas Teman Sebaya Dengan Perilaku Membolos Siswa Kelas IX SMP Negeri 39 Surabaya Berdasarkan hasil uji linearitas pada variabel konformitas teman sebaya dan perilaku membolos, diperoleh nilai signifikansi linearity sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0,050 serta nilai deviation from linearity sebesar 0,713 yang lebih besar dari 0,050. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hubungan antara konformitas teman sebaya dan perilaku membolos bersifat menghindari konflik, mudah merasa cemas, serta lebih sering mengalah dan mengutamakan kepentingan orang lain (Permadi, 2. Sriyanto et al. juga menyimpang pada remaja, seperti merokok, berbohong, membolos, hingga kenakalan yang bersifat kriminal, dapat dipengaruhi oleh lemahnya aspek kepribadian remaja, terutama ketidakmampuan dalam bersikap asertif. Uji Korelasi Temuan dalam penelitian ini sejalan dengan penelitian Butar . yang menunjukkan bahwa individu dengan tingkat asertivitas tinggi mampu mengungkapkan kebutuhan, perasaan, dan pendapat secara terbuka sehingga dapat menentukan pilihan secara mandiri serta lebih mampu mengendalikan diri dari pengaruh negatif Selain itu. Levinston . dalam Butar . menyatakan bahwa semakin tinggi kemampuan individu dalam bersikap asertif, maka semakin kecil kemungkinan individu tersebut terlibat dalam perilaku Dengan demikian, rendahnya perilaku asertif pada peserta didik berpotensi meningkatkan kecenderungan munculnya perilaku membolos. Uji Hipotesis Kedua Tabel 7. Hasil Uji Korelasi X2 dan Y1 Korelasi Konformitas Teman Sebaya dan Perilaku Membolos Koefesien Korelasi Signifikansi Oe0,598 0,000 Uji Hipotesis Pertama Tabel 6. Hasil Uji Korelasi X1 dan Y1 Korelasi Perilaku Asertif dan Perilaku Membolos Koefesien Korelasi Signifikansi Oe0,621 0,000 Berdasarkan hasil analisis korelasi pertama, diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar -0,612 antara variabel perilaku asertif dan perilaku membolos. Nilai tersebut menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dengan tingkat kekuatan hubungan pada kategori sedang serta bersifat negatif. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat perilaku asertif yang dimiliki peserta didik, maka kecenderungan untuk melakukan perilaku membolos akan semakin rendah. Sebaliknya, semakin rendah perilaku asertif yang dimiliki, maka kecenderungan perilaku membolos akan semakin Temuan ini juga didukung oleh nilai signifikansi sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0,050, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku asertif dan perilaku Berdasarkan hasil analisis korelasi kedua, diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar -0,598 antara variabel konformitas teman sebaya dan perilaku membolos. Nilai tersebut menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dengan arah hubungan negatif dan tingkat kekuatan hubungan yang kuat. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat konformitas teman sebaya yang dimiliki peserta didik, maka kecenderungan perilaku membolos akan semakin rendah. Sebaliknya, rendahnya tingkat konformitas teman sebaya berkaitan dengan meningkatnya kecenderungan perilaku membolos. Temuan ini juga diperkuat oleh nilai signifikansi sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0,050, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara konformitas teman sebaya dan perilaku membolos. Perilaku asertif merupakan salah satu faktor internal yang dapat memengaruhi munculnya perilaku membolos pada peserta didik (Margareth, 2. Kemampuan ini berkaitan dengan keterampilan individu dalam mengungkapkan kebutuhan, keinginan, serta perasaan secara jujur dan terbuka tanpa melanggar hak orang lain (Butar, 2. Peserta didik yang memiliki tingkat asertivitas tinggi cenderung mampu menyampaikan pendapat secara tegas, membela diri ketika diperlakukan tidak adil, serta mengendalikan diri dari pengaruh negatif Hal ini sejalan dengan pendapat Wardani . yang menyatakan bahwa perilaku asertif merupakan kemampuan individu untuk memperjuangkan haknya tanpa rasa takut maupun rasa bersalah, namun tetap menghargai hak orang lain. Konformitas merupakan salah satu bentuk pengaruh sosial yang muncul ketika individu menyesuaikan sikap maupun perilakunya agar sesuai dengan norma yang berlaku dalam suatu kelompok. Dwita et al. menyatakan bahwa semakin kuat pengaruh kelompok sosial di sekitar individu, maka semakin besar pula kecenderungan individu untuk menyesuaikan diri dengan kelompok tersebut. Dalam konteks hubungan dengan teman sebaya, konformitas dapat dipahami sebagai perubahan sikap, perilaku, maupun keyakinan yang terjadi Sebaliknya, peserta didik dengan tingkat perilaku asertif yang rendah cenderung lebih rentan menunjukkan perilaku menyimpang, termasuk perilaku membolos. Kondisi tersebut berkaitan dengan keterbatasan individu dalam mengekspresikan diri dan menghadapi situasi yang Individu dengan asertivitas rendah umumnya memiliki rasa percaya diri yang lebih rendah, cenderung Hubungan Antara Perilaku Asertif dan Konformitas Teman Sebaya Dengan Perilaku Membolos Siswa Kelas IX SMP Negeri 39 Surabaya akibat adanya tekanan dari kelompok agar individu mengikuti norma yang berlaku. Pengaruh teman sebaya tersebut dapat memberikan dampak positif maupun negatif terhadap perkembangan remaja, bergantung pada nilai dan norma yang dianut oleh kelompoknya (Fitriana, dengan arah hubungan negatif dan tingkat kekuatan hubungan yang rendah. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat perilaku asertif yang dimiliki peserta didik, maka tingkat konformitas terhadap teman sebaya cenderung semakin rendah. Sebaliknya, semakin rendah perilaku asertif yang dimiliki, maka kecenderungan konformitas teman sebaya akan semakin Temuan ini juga diperkuat oleh nilai signifikansi sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0,050, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku asertif dan konformitas teman sebaya. Konformitas teman sebaya dapat memberikan dampak negatif apabila tekanan kelompok mendorong individu untuk melakukan perilaku menyimpang. Aryani . menjelaskan bahwa konformitas negatif sering muncul karena adanya rasa takut ditolak atau dikucilkan oleh kelompok, sehingga remaja cenderung mengikuti perilaku kelompok tanpa mempertimbangkan konsekuensi yang mungkin terjadi. Dalam kondisi tersebut, individu cenderung bersikap pasif dan meniru perilaku orang lain tanpa melakukan pertimbangan yang matang mengenai baik atau buruknya tindakan tersebut (Mardison, 2. Hubungan antara perilaku asertif dan konformitas teman sebaya dapat dipahami karena perilaku asertif merupakan faktor internal yang memengaruhi cara individu merespons tekanan sosial dari lingkungannya. Peserta didik yang memiliki tingkat perilaku asertif yang baik cenderung mampu menyampaikan pendapat serta mengambil keputusan secara mandiri tanpa harus selalu mengikuti keinginan kelompok. Margareth . menyatakan bahwa asertivitas berperan penting dalam kemampuan individu untuk menolak pengaruh sosial yang tidak selaras dengan nilai pribadinya, sehingga dapat mengurangi kecenderungan konformitas yang berlebihan pada remaja. Di sisi lain, konformitas juga dapat memberikan dampak positif apabila kelompok memiliki nilai dan norma yang konstruktif. Konformitas positif tercermin dari kecenderungan individu untuk mengikuti aktivitas yang bermanfaat, seperti mematuhi peraturan sekolah, terlibat dalam kegiatan sosial, serta berpartisipasi dalam kegiatan belajar bersama guna meningkatkan prestasi Temuan ini sejalan dengan penelitian Fardani . yang menunjukkan bahwa semakin tinggi kepercayaan individu terhadap informasi dan pendapat kelompok, maka semakin besar pula kecenderungan individu untuk melakukan konformitas. Hal tersebut juga diperkuat oleh teori Baron . dalam Indrasari . yang menyatakan bahwa kelompok teman sebaya menjadi sumber referensi penting bagi remaja dalam membentuk persepsi, sikap, dan perilaku. Perilaku asertif juga menjadi salah satu kemampuan penting dalam perkembangan sosial peserta didik. Individu dengan tingkat perilaku asertif yang tinggi mampu mengungkapkan kebutuhan, perasaan, serta pendapat secara jujur dan tegas tanpa melanggar hak orang lain (Butar, 2. Kemampuan ini membuat peserta didik lebih percaya diri dalam berinteraksi serta tidak mudah terpengaruh oleh tekanan dari teman sebaya. Sebaliknya, peserta didik dengan tingkat perilaku asertif yang rendah cenderung lebih mudah menyesuaikan diri secara berlebihan dengan kelompok karena kurang mampu menolak ajakan yang tidak sesuai dan lebih mengutamakan penerimaan sosial (Permadi, 2. Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa adanya konformitas teman sebaya berhubungan erat dengan perilaku membolos. Tingkat konformitas dapat berdampak pada keyakinan dan perilaku seseorang. Jika kelompok teman sebaya memiliki norma yang mendorong kegiatan belajar serta perilaku yang baik, maka semakin besar tingkat konformitas yang dimiliki oleh siswa, semakin rendah kecenderungan mereka untuk melakukan perilaku membolos. Uji Hipotesis Ketiga Tabel 8. Hasil Uji Korelasi X1 dan X2 Korelasi Perilaku Asertif dan Konformitas Teman Sebaya Koefesien Korelasi Signifikansi Oe0,287 0,000 Hasil penelitian ini juga sejalan dengan temuan Butar . yang menunjukkan bahwa individu dengan tingkat asertivitas tinggi cenderung lebih mandiri dalam mengambil keputusan serta tidak mudah terpengaruh oleh tekanan lingkungan sosial. Selain itu. Levinston . dalam Butar . menjelaskan bahwa individu yang memiliki kemampuan asertif yang baik umumnya memiliki kontrol diri yang lebih kuat dalam menghadapi pengaruh lingkungan. Oleh karena itu, perilaku asertif dapat berperan sebagai faktor pelindung yang membantu peserta didik menghindari kecenderungan konformitas yang berlebihan. Berdasarkan hasil analisis korelasi ketiga, diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar Oe0,287 antara variabel perilaku asertif dan konformitas teman sebaya. Nilai tersebut menunjukkan adanya hubungan yang signifikan Hubungan Antara Perilaku Asertif dan Konformitas Teman Sebaya Dengan Perilaku Membolos Siswa Kelas IX SMP Negeri 39 Surabaya teman sebaya dapat memberikan pengaruh positif maupun Konformitas terhadap kelompok dengan perilaku yang positif akan menghasilkan dampak konstruktif, sedangkan konformitas terhadap kelompok yang cenderung menyimpang dapat menimbulkan pengaruh negatif, kecuali apabila individu memiliki tingkat perilaku asertif yang tinggi sehingga mampu menolak tekanan Uji Korelasi Berganda Uji Hipotesis Keempat Tabel 9. Hasil Uji Korelasi X1 dan X2 Dengan Y1 Korelasi Perilaku Asertif dan Konformitas Teman Sebaya Dengan Perilaku Membolos Koefisien R Square Signifikansi Korelasi (Koefesien Determinas. 0,703 0,494 0,000 PENUTUP Berdasarkan hasil analisis korelasi berganda, diperoleh nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0,703 yang menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara variabel perilaku asertif dan konformitas teman sebaya dengan perilaku membolos. Selain itu, nilai Sig. F Change sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0,050 menunjukkan bahwa kedua variabel independen tersebut secara simultan memiliki hubungan yang signifikan dengan variabel Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perilaku asertif dan konformitas teman sebaya secara bersama-sama berhubungan secara signifikan dengan perilaku membolos pada peserta didik kelas IX SMP Negeri 39 Surabaya. Simpulan Berdasarkan pemaparan hasil kajian yang berjudul AuHubungan antara Perilaku Asertif dan Konformitas Teman Sebaya Dengan Perilaku Membolos Siswa Kelas IX SMP Negeri 39 SurabayaAy, bisa disimpulkan jika: Terdapat hubungan negatif . = -0,. dan signifikan . ilai signifikansi sebesar 0,. antara perilaku asertif dengan perilaku membolos yang menandakan jika semakin tinggi perilaku asertif, maka semakin rendah perilaku membolos, dan sebaliknya semakin rendah perilaku asertif, maka semakin tinggi perilaku Terdapat hubungan negatif . = -0,. dan signifikan . ilai signifikansi sebesar 0,. antara konformitas teman sebaya dengan perilaku membolos yang menandakan jika semakin tinggi konformitas teman sebaya, maka semakin rendah perilaku membolos, dan sebaliknya semakin rendah konformitas teman sebaya, maka semakin tinggi perilaku membolos. Terdapat hubungan negatif . = -0,. dan signifikan . ilai signifikansi sebesar 0,. antara perilaku asertif dan konformitas teman sebaya yang menandakan jika semakin tinggi perilaku asertif, maka semakin rendah konformitas teman sebaya, dan sebaliknya semakin rendah perilaku asertif, maka semakin tinggi konformitas teman sebaya. Perilaku asertif dan konformitas teman sebaya secara simultan memiliki hubungan (R = 0,. yang signifikan . ilai signifikansi sebesar 0,. dengan perilaku membolos. Kedua variabel tersebut mampu menjelaskan sebagian variasi perilaku membolos peserta didik. Hasil analisis korelasi sebelumnya menunjukkan bahwa hubungan antarvariabel memiliki arah negatif dengan tingkat keeratan hubungan yang bervariasi dari rendah hingga kuat. Namun, pada pengujian hipotesis keempat ditemukan hubungan yang sangat kuat dan bersifat positif antara ketiga variabel yang diteliti. Temuan ini mengindikasikan adanya kemungkinan perbedaan arah hubungan dalam pengujian hipotesis. Penelitian Dwita . juga menunjukkan adanya hubungan positif antara konformitas teman sebaya dan perilaku membolos, yang mengindikasikan bahwa remaja cenderung lebih memprioritaskan kepentingan kelompok dibandingkan dengan kegiatan belajar, terutama karena intensitas interaksi dengan teman sebaya sering kali lebih tinggi dibandingkan dengan interaksi dengan keluarga. Di sisi lain, perilaku asertif merupakan kemampuan individu untuk menyampaikan pendapat, perasaan, dan keinginan secara tegas tanpa melanggar hak orang lain (Nursalim, 2. Individu yang memiliki tingkat asertivitas tinggi umumnya lebih mandiri dalam mengambil keputusan, termasuk dalam menentukan sikap terhadap berbagai situasi yang dihadapi di lingkungan Kemampuan berperilaku asertif memungkinkan peserta didik bertindak berdasarkan pertimbangan pribadi, sedangkan konformitas teman sebaya dapat mendorong individu untuk mengikuti perilaku kelompok apabila tindakan tersebut telah menjadi norma dalam kelompoknya, termasuk perilaku membolos. Pearl . dalam Aryani . menjelaskan bahwa konformitas Saran Berdasarkan hasil kajian, peneliti memberikan masukan sebagai berikut: Bagi Sekolah Sekolah diharapkan dapat mengembangkan kebijakan dan kegiatan yang mendukung pembentukan perilaku asertif peserta didik. Hubungan Antara Perilaku Asertif dan Konformitas Teman Sebaya Dengan Perilaku Membolos Siswa Kelas IX SMP Negeri 39 Surabaya seperti pelatihan keterampilan sosial, kegiatan penguatan karakter, serta menciptakan iklim sekolah yang kondusif dan suportif. Bagi Guru Bimbingan dan Konseling Guru BK disarankan untuk lebih intensif memberikan layanan bimbingan dan konseling yang berorientasi pada peningkatan perilaku asertif dan pengelolaan pengaruh teman sebaya, khususnya bagi peserta didik yang menunjukkan kecenderungan perilaku membolos. Bagi Peserta Didik Peserta didik diharapkan dapat mengembangkan kemampuan bersikap asertif dalam kehidupan sehari-hari serta lebih selektif dalam memilih teman sebaya agar tidak terjerumus pada perilaku yang menyimpang dari aturan sekolah. Bagi Peneliti Selanjutnaya Peneliti selanjutnya disarankan untuk mengkaji variabel lain yang berpotensi memengaruhi perilaku membolos, seperti motivasi belajar, dukungan keluarga, iklim sekolah, atau kontrol diri, serta menggunakan metode penelitian yang berbeda agar diperoleh pemahaman yang lebih Dwita. Kamal. Afrinaldi. , & Arif. Pengaruh Konformitas Teman Sebaya Terhadap Prilaku Membolos Siswa di SMA Negeri 2 Kec. Bukik Barisan. Innovative: Journal Of Social Science Research, 3. , 8394-8408. Fardani. Hubungan Antara Konformitas Teman Sebaya dengan Perilaku Membolos Pada Siswa SMP (Doctoral dissertation. Universitas Brawijay. Fauziyah. Efektivitas layanan konseling individu dengan teknik behavior contract untuk mengatasi perilaku membolos siswa: Literature Jurnal Bikotetik (Bimbingan Dan Konseling: Teori Dan Prakti. , 5. , 17-21. Fitriana. Hertinjung. , & Psi. Hubungan Antara Konformitas Dengan Perilaku Membolos (Doctoral dissertation. Universitas Muhammadiyah Surakart. Fransisca. Perbedaan konformitas terhadap perilaku membolos ditinjau dari jenis kelamin pada siswa SMP Negeri 18 Malang (Doctoral dissertation. Universitas Negeri Malan. Hasanah. Suharso. , & Saraswati. Pengaruh perilaku teman sebaya terhadap asertivitas Indonesian Journal of Guidance and Counseling: Theory and Application, 4. DAFTAR PUSTAKA