ANALISIS PEMASARAN CABAI MERAH (Capsicum annum L) DI DESA PASAR SIPIONGOT KECAMATAN DOLOK KABUPATEN PADANG LAWAS UTARA Ahmad Rizki Hidayat Sitompul1. Leni Handayani2 Prodi Agribisnis Fakultas Pertanian UMN Al-Washliyah Medan Jl Garu II A No. 93 Medan Telp . 7867044 Fax 78627471 Prodi Agribisnis Fakultas Pertanian UMN Al-Washliyah Medan Jl Garu II A No. 93 Medan Telp . 7867044 Fax 78627472 arizkihidayatsitompul@umnaw. lenihandayani@umn. ABSTRAK Saluran distribusi pemasaran pada cabai merah di mulai dari petani dan berakhir pada konsumen akhir. Tingginya marjin pemasaran di sebabkan oleh perbedaan harga yang cukup besar antara harga yang yang di bayarkan oleh konsumen dengan harga yang diterima petani. selain itu banyaknya lembaga pemasaran yang terlibat langsung dalam proses distribusi pemasaran, maka semakin banyaknya pula biaya-biaya pemasaran dan keuntungan yang diambil oleh pemasaran tersebut. Fokus penelitian ini adalah bagaimana saluran pemasaran dan marjin pemasaran cabai merah di daerah penelitian. Untuk menguji hipotesis yaitu Diduga terdapat saluran pemasaran dan marjin pemasaran cabai merah di Pasar Sipiongot Kecamatan Dolok Kabupaten Padang Lawas. Berdasarkan analisis yang dilakukan bahwa saluran pemasaran yang dapat memberikan petani keuntungan yang lebih besar adalah petani yang memasarkan cabai merah dengan menggunakan jalur pemasaran yang lebih singkat seperti saluran I. Margin pemasaran pada saluran pemasaran I sebesar Rp 5. 000 terdapat pada pedagang pengumpul dengan profit Rp. 500/Kg dan sebesar Rp. 000/kg pada pedagang pengecer dengan profit sebesar Rp. 615/kg. Margin pemasaran pada saluran pemasaran II sebesar Rp 5. 000 terdapat pada pedagang pengumpul dengan profit Rp 3. 500/kg dan sebesar Rp. 000/kg pada pedagang antar daerah dengan profit sebesar Rp. 190 dan pada pedagang pengecer Rp. 000 dengan profit margin sebesar Rp. Kata Kunci : Biaya Pemasaran. Marjin Pemasaran. Cabai Merah ABSTRACT The marketing distribution channel for red chilies starts from farmers and ends with final The high marketing margin is caused by a fairly large price difference between the price paid by consumers and the price received by farmers. Apart from that, there are many marketing institutions that are directly involved in the marketing distribution process, the more marketing costs and profits taken by the marketing increase. The focus of this research is the marketing channels and marketing margins for red chilies in the research area. To test the hypothesis, it is suspected that there are marketing channels and marketing margins for red chilies at Sipiongot Market. Dolok District. Padang Lawas Regency. Based on the analysis carried out, the marketing channel that can provide farmers with greater profits is farmers who market red chilies using shorter marketing channels such as channel I. The marketing margin on marketing channel I is IDR 5,000 for collecting traders with a profit of IDR. 3,500/Kg and Rp. 5,000/kg to retailers with a profit of Rp. 4,615/kg. The marketing margin in marketing channel II is IDR 5,000 for collecting traders with a profit of IDR 3,500/kg and IDR 5,000/kg for inter-regional traders with a profit of IDR 1,190 and for retail traders IDR. 10,000 with a profit margin of Rp. 2,615 Keywords: Marketing Costs. Marketing Margin. Red Chili keriting tidak dapat disubtitusikan sebagai tambahan makanan pokok (Wiryanta, 2. Siklus kebutuhan cabai di Indonesia meningkat biasanya menjelang memasuki bulan puasa dan lebaran, natal dan tahun Pada event-event tersebut permintaan cabai yang tinggi diiringi dengan harga yang melambung, terutama jika waktu-waktu bertepatan dengan musim hujan . iasanya petani yang menanam cabai hanyasedikit dan banyak gagal pane. , dan penyakit (Redaksi Agromedia, 2. Kecenderungan yang terjadi keberadaan cabai merah di pasaran menjadi langka, akibatnya jumlah pasokan cabai merah di pasaran yang tidak mampu memenuhi permintaan konsumen, sebaliknya harga komoditas cabai merah akan segera turun ketika pasokan dari sentral produksi meningkat di pasar (Bank Indonesia, 2. Tanaman cabai merah keriting dapat dipanen pada umur . hari (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Menurut Rumana danYuniarsih . , cabai merah dapat dipanen rata-rata 20 kali hingga tanaman berumur . Peningkatan produksi dan permintaan sangat berpengaruh terhadap peningkatan pendapatan dan keuntungan petani (Muhamad et al. , disamping itu sistem pemasaran yang mempengaruhi pendapatan petani. Petani harus pandai memilih saluran pemasaran PENDAHULUAN Latar Belakang Cabai merah merupakan komoditi yang penting di Desa Pasar Sipiongot Kecamatan Dolok. Salah satu sentra cabai merah di Desa Pasar Sipiongot dimana cabai merah banyak di tanam di dataran rendah. Komoditi cabai perlu dipandang sebagai sumber pertumbuhan untuk dikembangkan dalam sistem agribisnis, karena mempunyai keterkaitan yang kuat baik di sektor industri hulu pertanian . p stream agricultu. , mampu menciptakan nilai tambah proses produksi dan menyerap ketenaga kerja melalui suatu aktivitas pertanian sekunder . own stream agricultu. Diantara jenis komoditi petanian yang berprospek cerah, yaitu tanaman cabai merah (Capsicum annum L) termasuk komoditi penting di Indonesia merupakan tanaman perdu dari family terongterongan, berasal dari Benua Amerika tepatnya daerah Peru dan menyebar ke Negara-negara Benua Amerika. Eropa, dan Asia termasuk Indonesia (Miskun, 2. Bahkan pemerintah telah menetapkan sepuluh prioritas komoditas hortikultura nasional, salah satunya adalah cabai merah yang banyak mendapat perhatian karena merupakan komoditi sayuran yang dibutuhkan oleh hampir semua orang dari lapisan Masyarakat (Direktorat Jenderal Hortikultura, 2. Tingkat konsumsi cenderung meningkat setiap tahunnya . empunyai kandungan vitamin C), karena karbohidrat dan mineral pada cabai merah yang paling efisien yang akandigunakan untuk memasarkan produknya agar memperoleh pendapatan dan keuntungan yang maksimal. Keadaandi lapangan menunjukkan bahwa sistem pemasaran cabai merah yang selama ini dilakukan petani selalu menempatkan mereka pada posisi tawar yang lebih rendah, sehingga menyebabkan harga jual di tingkat petani rendah. Fakta sebagai komoditi yang mempunyai kapasitas manaikkan taraf pendapatan petani, cabai merah juga mempunyai nilai ekonomis yang tinggi (Soekartawi, 2. Kelembagaan pemasaran yang berperan dalam memasarkan komoditas pertanian hortikutura dapat mencakup petani, pedagangperantara/grosir Kelembagan hortikutura adalah berupa pasar tradisional, pasar modern dan pasar industri (Kartasapoetra. Pemasaran cabai merah menempatkan pedagang pengumpul pada posisi tawar yang lebih kuat dibandingkan dengan petani pada penentuan harga jual (Edward & Richard. Pada masa panen cabai merah, petani menjual hasil panen kepada satu orang pedagang pengumpul dari awal panen hingga akhir panen. Kondisi ini telah membatasi petani dalam menjual cabai merah pengumpul lain pada saat panen berikutnya. Pemasaran cabai merah selalu melibatkan berbagai lembaga pemasaran pada berbagai tingkat saluran distribusi. Setiap distribusi produk lembaga pemasaran satu ke lembaga pemasaran yang lainnya dalam rantai pemasaran akan menghasilkan suatu marjin terhadap produk (Khamdani, 2. Pendapatan adalah seluruh penerimaan baik berupa uang maupun berupa barang yang berasal dari pihak lain maupun hasil industri yang dianalia atas dasar sejumlah uang dari harta yang berlaku saat itu. Pendapatan merupakan sumber penghasilan seseorang untuk memenuhi kebutuhan seharihari dan sangat penting artinya bagi kelangsungan hidup dan penghidupan seseorang secara langsung mau pun tidak langsung(Suroto, 2. Penelitian lain yang menjadi rujukan adalah penelitian yang dilakukan oleh (Muhammad Ickhsan Nurianto, 2022 ) bahwa saluran pemasaran yang dapat memberikan petani keuntungan yang lebih besar adalah petani yang memasarkan C abai Merah dengan menggunakan jalur pemasaran yang lebih singkat seperti saluran I. Petani ke Pedagang Pengumpul Desa kemudian ke Pedagang Pengecer dan yang terakhir ke Konsumen. Margin pemasaran pada saluran pemasaran I sebesar Rp 5. 000 terdapat pada pedagang pengumpul dengan profit Rp. 400/Kg dan sebesar Rp. 000/kg pada pedagang pengecer dengan profit sebesar Rp. 630/kg. Margin pemasaran pada saluran pemasaran II sebesar Rp 5. 000terdapat pada pedagang pengumpul dengan profit Rp 400/kg dan sebesar Rp. 000/kg pada pedagang antar daerah dengan profit sebesar Rp. 190 dan pada pedagang pengecer Rp. 000 dengan profit margin sebesar Rp. Harga jual tertinggi ditetapkan pedagang pengecer kepada konsumen yaitu sebesar Rp. 000/kg pada saluran I. Sedangkan harga jual tertinggi ditetapkan pedagang pengecer kepada konsumen yaitu sebesar Rp. /kg pada saluran II. Nilai efisiensi pemasaran pada saluran I sebesar 3,94% pada saluran II sebesar 4,63 %, ini menunjukkan bahwa semua jalur pemasaran Cabai Merah pada daerah penelitian telah efisien. Namun saluran I merupakan saluran yang paling efisien dikarenakan nilai efisiensi yang paling kecil yaitu 3,94 % lebih kecil dari 50 % . ,94 % < 50%) Berdasarkan uraian di atas penulis mencoba menganalisis Analisis Pemasaran Cabai Merah (Capsicum annum L) di Desa Pasar Sipiongot Kecamatan Dolok Kabupaten Padang Lawas Utara. METODE PENELITIAN Desain Penelitian Penelitian ini akan menemukan suatu informasi mengenai Analisis Pemasaran Cabai Merah (Capsicum annum L) di Desa Pasar Sipiongot Kecamatan Dolok Kabupaten Padang Lawas Utara Populasi dan Sampel Teknik penentuan sampel . di dalam penelitian ini digunakan tehnik snow ball. Sampling adalah dimana sampel . alam hal ini informasi kunc. dipilih secara purposive . Kemudian sampel berikutnya diambil berdasarkan saran atau petunjuk key informan. Jika dalam proses pengumpulan data sudah tak lagi ditemukan variasi informasi maka proses pengumpulan data sudah dianggap Tahapan pemilihan sampel dalam penelitian ini Pemilihan (Key Informa. Pemilihan sampel lanjutan, untuk memperluas deskripsi informasi dan melacak variasi informasi yang mungkin ada. Menghentikan pemilihan sampel jika variasi informasi sudah sesuai dengan jumlah yang telah diinginkan. Dalam menentukan Key Informasi harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : Responden sudah cukup lama tinggal didaerah penelitian . Responden bertani cabai merah . Responden mempunyai banyak waktu untuk melakukan kegiatan wawacara (Bungin, 2. Berdasarkan teori diatas, maka penelitian ini mengambil sampel sebanyak 20 orang petani cabai merah di desa Pasar Sipiongot Kecamatan Dolok Kabupaten Padang Lawas Utara. Untuk pedagang pengumpul desa sampel sebanyak 3 orang di daerah penelitian. Selanjutnya untuk pedagang pengecer diambil sebanyak 5 orang sampel dari sekitar daerah penelitian dan untuk pedagang antar daerah sampel sebanyak 3 Lokasi dan Waktu Penelitian Pemilihan lokasi penelitian ini dilakukan secara sengaja . , dengan pertimbangan bahwa di Desa Pasar Sipiongot Kecamatan Dolok Kabupaten Padang Lawas Utara rata-rata atau kebayakan penduduk petani menanam cabai merah, sedangkan lokasi penelitian pedagang yaitu pasar sipiongot karena pasar tradisional tersebut adalah banyak pedagang menjual cabai merah . Penelitian ini di rencanakan mulai pada bulan Juni hingga Juli Tahun 2023. Teknik Pengumpulan Data Adapun jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif dan data Data kuantitatif, yaitu data atau informasi yang diperoleh dari petani dan lembaga pemasaran dalam bentuk angka-angka yang masih perlu dianalisis. Data kualitatif, yaitu data atau informasi yang diperoleh dari petani dan lembaga pemasaran baik berupa lisan maupun wawancara dan observasi di lapangan untuk mendukung penjelasan dalam analisis data. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data Data primer, yaitu data yang diperoleh dengan melakukan pengamatan langsung dan wawancara dengan pihak petani dan lembaga pemasaran yang berhubungan langsung dengan masalah yang di teliti Data sekunder, yaitu data yang bersumber dari dokumen serta di peroleh melalui media perantara atau secara tidak langsung, yang berupa buku cacatan bukti yang telah ada atau arsip baik dipublikasikan maupun yang tidak dipublikasikan secara umum. Penelitian ini menggunakan teknik observasi,wawancara dan dokumrntasi : Observasi, yaitu kumpulan data yang di peroleh melalui pengamatan secara langsung terhadap aktivitas petani cabai besar di Desa Pasar Sipiongot Kecamatan Dolok Kabupaten Padang Lawas Utara Wawancara . , secara bebas dan langsung kepada sejumlah responden petani dan saluran pemasaran di Desa Pasar Sipiongot Kecamatan Dolok Kabupaten Padang Lawas Utara yang terpilih berkaitan dengan masalah yang akan dibahas. Interview atau wawancara adalah suatu metode pengumpulan data dengan cara mengadakan wawancara langsung dengan pengumpulan data primer. Dokumentasi, yaitu teknik pengumpulan data yang diambil langsung dari lokasi penelitian berupa data-data dari dokumen atau arsip yang ada di kantor Desa Pasar Sipiongot Kecamatan Dolok Kabupaten Padang Lawas Utara, namun bila kejadian tersebut akan dapat bercerita banyak jadi bila mana kejadian tersebut dilukiskan, dengan gambar atau dengan foto. Teknik Analisis Data Teknik analisis yang digunakan adalah adalah teknik analisis menggunakan rumus marjin pemasaran yaitu: Marjin pemasaran adalah selisih antara harga yang diterima produksi dengan harga yang dibayarkan oleh konsumen dan dinyatakan dalam satuan upiah per kilogram (Rp/K. pemasaran cabai merah sangat dibutuhkan peran lembaga pemasaran untuk menyalurkan cabai merah dari produsen hingga ketangan Di Desa Sipiongot terdapat beberapa lembaga pemasaran yang terlibat dalam memasarkan cabai merah yaitu petani pedagang pengumpul dan pedagang pengecer. Petani dalam pemasaran cabai merah bertindak sebagai produsen dan merupakan pihak pertama dalam penyaluran cabai merah. Dalam memasarkan cabai merah petani menjualnya secara langsung atau lewat perantara pedagang pengecer dan menjual cabai merah bahkan kepedagang pengumpul. Pedagang pengumpul adalah pedagang perantara yang aktif membeli dan mengumpulkan cabai merah dari petani di Desa Sipiongot dan menjualnya kepada pengecer sekaligus ke konsumen yang ada di wilayah Kecamatan Dolok, pedagang pengecer adalah perantara yang menjual cabai merah kepada konsumen di pasar eceran, setelah melakukan panen produsen cabai merah maka hal yang dilakukan produsen adalah menyalurkan cabai merahnya. Dari informasi yang diperoleh melalui wawancara dengan responden, saluran pemasaran cabai merah di Hj - Hb Keterangan: Hj : Harga jual produk di tingkat lembaga Hb : Harga beli produk di tingkat petani M= Pr - Pf Keterangan : M : Marjin pemasaran Pr : Harga di tingkat pengecer (Rp/K. Pf : Harga di tingkat petani (Rp/K. HASIL DAN PEMBAHASAN Saluran Pemasaran Saluran pemasaran dalam penelitian ini adalah dapat diidentifikasi dalam sistem pemasaran yaitu lembaga pemasaran, yang dilakukan oleh setiap lembaga pemasaran. Untuk memperluas dan memperlancar Produsen (Petani Cabai Merah Pedagang Pengumpul Desa Pedagang Pengecer Pedagang Pengumpul Antar Daerah Konsumen Pedagang Pengecer Gambar 1. Saluran Pemasaran Cabai Merah Keterangan : Saluran 1 Saluran 2 keuntungan yang diharapkan oleh masingmasing lembaga pemasaran, analisa marjin pemasaran dapat mencerminkan untuk mengektivitaskan saluran saluran pemasaran, namun dengan hanya melihat besarnya marjin pemasarn saja belum dapat menyimpulkan bahwa pemasaran itu sudah tepat, oleh karena itu harus dilihat distribusi keuntungan maupun biaya yang dikeluarkan oleh lembaga pemasaran yang terlibat semakin banyak pedagang perantara yang terlibat dalam saluran pemasaran maka semakin besar marjin pemasaran yang terbentuk. Besarnya marjin bagi pedagang perantara semakin menguntungkan secara ekonomis, efisien konsumen sebaliknya makin besar marjin semakin tinggi harga yang harus dibayar konsumen sehingga kurang efisien secara ekonomi tetapi konsekuensi yang diterima oleh konsumen adalah kemudahan untuk mendapatkan barang yang diinginkan konsumen tidak perlu datang langsung kelokasi produsen yang mungkin sulit dijangkau, secara sosial makin banyak pihak yang terlibat maka makin banyak individu yang mendapat keuntungan dari kegiatan pemasaran. Marjin total adalah penjualan dari marjin yang terdapat masing-masing Besarnya marjin pada berbagai saluran pemasaran berbeda-beda yang disebabkan oleh panjang pendeknya saluran distribusi marjin pada lembaga pemasaran pada berbagai saluran saluran pemasaran dan masing-masing tingkat Di daerah penelitian tanaman cabai merah memang bukan merupakan tanaman yang didominan diusahakan oleh petani. Namun daerah tersebut merupakan salah satu sentral produksi tanaman cabai merah untuk penyebaran Padang lawas Utara dan sekitarnya. Penanaman Cabai Merah didaerah penelitian awalnya sangat bergantung kepada keadaan iklim serta saat permintaan masyarakat meningkat yaitu disaat musim kemarau. Akan tetapi melihat dari permintaan masyarakat yang dinilai cukup stabil, akhirnya petani cabai merah didaerah peneltian terus dikembangkan, sehingga dengan sendirinya pasar dan saluran pemasaran tanaman cabai merah ini terbentuk. Didalam budidaya cabai merah, petani menghasilkan sebanyak 2. 500 kg/hektar. Hal = Produsen - Pedagang Pengumpul Desa Ae Pedagang Pengecer - Konsumen = Produsen - Pedagang Pengumpul Desa Ae Pedagang Pengumpul Antar Daerah Pedagang Pengecer Konsumen Pendistribusian merah, pada saluran I melibatkan satu lembaga pemasaran sebelum cabai merah sampai dikonsumen, dimana produsen menjual kepedagang pengumpul lalu menjual kembali kepada kekonsumen Saluran pemasaran II Pertama-tama produsen menjual kepedagang pengumpul kemudian kepedagang pengecer Sistem pendistribusian ini termasuk pembantu produsen dalam memasarkan cabai merah terutama pada saat pemanenan secara besarbesaran atau disaat produksi melimpah, pedagang pengumpul selain menjual dipasar lokal mendistribusikan kepedagang pengecer, baik pengecer lokal maupun pengecer luar daerah untuk selanjutnya dijual kekonsumen. Pola ini terjadi dengan cara pedagang pengumpul mendatangi produsen kemudian dibawah kerumah untuk menjual kepedagang Pada umumnya kedua perantara ini memiliki fasilitas kendaraan pengangkut dan ketempat khusus. Pendistribusian saluran pemasaran i melibatkan tiga lembaga pemasaran sebelum cabai merah sampai ditangan konsumen. Pertama-tama produsen menjual kepedagang pengumpul kemudian pedagang pengumpul menjual ke pedagang besar lalu pedagang besar membawa langsung cabai merahnya ke Kecamatan Dolok tepatnya di pasar terong dan kemudian pedagang pengecer yang ada di terong tersebut menjual Bentuk saluran ini banyak digunakan oleh produsen dan dinamakan saluran distribusi tradisional. Disini produsen hanya melayani penjualan dalam jumlah besar kepengumpul dan pedagang besar dan pembelian oleh konsumen dilayani pengecer Marjin Pemasaran Cabai Merah Marjin pemasaran merupakan selisih antara harga di tingkat produsen atau merupakan jumlah biaya pemasaran dengan ini menunjukkan bahwa budidaya cabai merah di daerah penelitian sudah optimal. Akan tetapi sifat cabai merah yang pada umumnya mudah rusak, akhirnya membawa kekhawatiran bagi petani yang kurang mampu mengatasi bertani cabai merah Sehingga petani didaerah penelitian pada umumnya mengatasi masalah tersebut dengan menjual langsung ke pedagang pengumpul tanpa memperhitungkan keuntungan optimal yang dapat di raih atau ada sebagian petani yang memajakkan tanaman cabai merah nya untuk di panen oleh pedagang pengumpul sehingga biaya tenaga kerja untuk memanen ditanggung oleh pedagang pengumpul. % dari jumlah seluruh sampel menjual Sedangkan 4 orang petani lainnya atau 20 % menjual produknya ke pedagang pengecer. Ini menunjukkan bahwa petani lebih tertarik menjual hasil taninya ke pedangan pengumpel berdasarkan atas beberapa alasan : Pertama, kekhawatiran terhadap ketahanan Petani begitu kuatir jika mereka memasarkan hasil ke pengecer atau konsumen yang ada di pasar tradisional. Sebab biasanya pedangan pengecer tidak membeli dalam jumlah yang besar sehingga dikuatirkan buah akan rusak tanpa ada yang membeli. Kedua, petani agak keberatan untuk mengeluarkan biaya tenaga untuk proses pemasaran sebab mereka sangat membutuhkan kesiapan modal sehingga dapat melakukan bididaya kembali. Jika petani menjual hasilnya ke pedagang pengumpul maka petani tidak mengeluarkan biaya apapun, sebab seluruh biaya ditanggung oleh pedagang pengumpul tersebut. Pedagang pengumpul yang membeli cabai merah dari petani ini meyimpan cabai merah di gudang tempat penyimpanan cabai merah dan ke esokan hari cabai merah akan di bawah ke pasar tradisional dengan memakai keranjang bamboo atau goni plastik. Berat satu keranjang/goni bervariasi sesuai dengan bagaimana si pedagang menyusun isi keranjang/goni, berat satu keranjang/goni mencapai 30 -50 kg. Namun harga yang ditetapkan pedagang pengumpul terhadap pedagang pengecer umumnya tidak terlalu tinggi dari harga beli mereka dilapangan, ini disebabkan pedangan pengumpul memberikan kesempatan kepada pedangan pengecer dapat dibagi 2 saluran mata rantai pemasaran. Sistem Mata Rantai Pemasaran Cabai Merah Sistem pemasaran cabai merah merupakan gambaran dari proses penyampaian cabai merah dari tangan petani produsen hingga ke tangan konsumen yang melibatkan lembagalembaga pemasaran sehingga terbentuklah saluran-saluran pemasaran atau mata rantai Hal ini merupakan konsekuensi dari jauhnya jarak petani produsen ke konsumen serta kekhawatiran akan resiko usaha yang umumnya terjadi pada semua usaha pertanian sayuran yang memiliki karakteristik mudah busuk dan mudah rusak. Lembaga-lembaga yang terkait dalam pemasaran cabai merah didaerah penelitian adalah petani produsen, pedagang pengumpul desa, pedagang antar daerah, pedagang pengecer dan konsumen. Dari hasil penelitian terhadap 20 orang petani . yang diharapkan dapat menjelaskan bagaimana saluran atau mata rantai pemasaran di daerah penelitian, diperoleh data , 16 orang petani sampel atau 80 Saluran I Petani ---------Ped. Pengumpul Desa------------- Ped. Pengecer -------- Konsumen Saluran II Petani ----------Ped. Pengumpul Desa ---------Ped. Pengumpul Antar Daerah -------- Ped. Pengecer --------- Konsumen Gambar 2. Skema Saluran Pemasaran di daerah Penelitian Di daerah penelitian tidak terdapat lembaga khusus baik pemerintah maupun swasta yang menangani proses pemasaran cabai merah. Penetapan harga jual cabai merah petani pun ditentukan berdasarkan negoisasi antara petani dan pedangan pembeli. Apabila banyaknya musim buah yang terjadi pada saat yang bersamaan dengan panennya cabai merah sehingga dapat menyebabkan harga cabai merah menjadi rendah. Sebenarnya agar petani cabai merah tidak mengalami kerugian karna rendah harga cabai merah yang terjadi di pasar. Petani membuat suatu kegiatan pengolahan cabai merah menjadi saos, asinan dari cabi merah dan sebagainya yang diharapkan dapat Untuk lebih rinci tentang harga, biaya, marjin menjadi lebih tahan lama dan harga jual yang dan profil marjin pemasaran Cabai Merah diterima jual lebih tinggi. tersebut dapat diketahui pada Tabel 1 berikut Biaya dan Marjin Pemasaran Tabel 1. Analisis Margin Pemasaran Cabai Merah Uraian Saluran I Saluran II Harga RataShare Harga Share Rata (%) Rata-Rata (%) (Rp/K. (Rp/K. Petani - Harga Jual Ped. Pengumpul Desa Harga Beli Biaya Pemasaran - Ongkos angkut - B. Penyimpanan - Keranjang - Tenaga Kerja Total Biaya Marjin Profit marjin Harga Jual 0,90 0,36 0,54 0,90 2,72 9,09 6,36 90,90 0,90 0,36 0,54 0,90 2,72 9,09 6,36 90,90 90,90 0,36 0,90 0,018 0,18 1,47 3,63 2,16 94,54 Ped. Pengumpul Antar Daerah Harga Beli Biaya Pemasaran - B. Transportasi - B. Tenaga Kerja - B. Restribusi - B. Bongkar Muat Total Biaya Margin Profit Marjin Harga Jual Pedangang Pengecer Harga Beli Biaya pemasaran - Sewa Tempat - Ongkos Angkut - Sampah - Keamanan - Kantong Plastik - Tenaga Kerja Total Biaya Marjin Uraian Profit Marjin 90,90 0,18 0,36 0,03 0,018 0,009 0,09 0,70 9,09 Saluran I Harga RataShare Rata (%) (Rp/K. 8,39 0,18 0,36 0,03 0,018 0,009 0,09 0,70 9,09 Saluran II Harga Share Rata-Rata (%) (Rp/K. 4,75 e. Harga Jual Total Biaya Pemasaran Total Profit Marjin Total Marjin Konsumen Harga Beli Sumber : Data Primer diolah. Tahun 2023 Dari Tabel 1 pada saluran I dapat di jelaskan bahwa petani menjual cabai merah kepada pedagang pengumpul Rp 45. 000 /kg atau sekitar 81 % dari harga beli konsumen akhir. Untuk pedagang pengumpul harga jual yang mereka tetapkan sebesar Rp 50. 000 /kg. Sedangkan untuk pedagang pengecer harga jual kepada konsumen yang mereka tetapkan sebesar Rp 55. 000 /kg. Besarnya harga pemasaran yang dikeluarkan lembaga-lembaga pemasaran pada saluran ini terdiri dari biaya pemasaran Rp 1. 500/kg yang dikeluarkan oleh Tabel 2. Saluran I No. Uraian Petani 3,42 14,75 18,18 4,90 13,28 18,18 pedagang pengumpul dan untuk pedagang pengecer Rp 385 /kg. Untuk profit, pedagang pengumpul memperoleh Rp 3. 500 /kg dan untuk pedagang pengecer Rp 4. 615 /kg. Selanjutny pada Tabel 4. ini dapat dilihat rekapitulasi harga beli, biaya pemasaran, profit margin, harga jual dan margin pemasaran saluran I. Tabel 4. Rekapitulasi Harga beli. Biaya pemasaran. Profit margin. Harga jual dan Margin pemasaran saluran II Pedagang Pengumpul Pedagang Pengecer Konsumen Biaya Pemasaran (Rp/K. Profit Marjin (Rp/K. Harga Jual (Rp/K. Marjin Pemasaran (Rp/K. Sumber : Data Primer diolah. Tahun 2023 Dari Tabel 2 yaitu pada saluran I dapat dilihat bahwa besarnya perbedaan margin pemasaran antara pedagang pengumpul dengan pedagang pengecer sebesar Rp 5. 000 /kg dan nilai marjin pemasaran hanya ada pada pedagang pengumpul dan pedagang pengecer, dimana besar masing-masing marjin pemasaran Rp 5. 000 /kg untuk pedagang pengumpul, dan Rp 5. 000 /kg untuk pedagang pengecer. Dan nilai untuk profit margin pedagang pengumpul 500 /kg dan untuk pedagang pengecer Rp. 615 /kg. dengan total biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh pedagang pengumpul sebesar Rp 1. 500 /kg dan sebesar 385 /kg untuk pengecer dengan total biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh pedagang pengumpul dan pedagang pengecer sebesar Rp 885 /kg. Jika diteliti lebih lajut, maka pada pedagang pengecer pada dasarnya memiliki marjin pemasaran sama dengan pedagang pengumpul, 8,39% Harga Beli (Rp/K. Saluran I Gambar 3. Persentase Keuntungan Pemasaran Saluran I 6,36 8,39 % Petani Produsen Ped. Pengumpul Desa Ped. Pengecer Konsumen Dari gambar diatas pada saluran I dapat dijelaskan bahwa keuntungan yang diperoleh petani mencapai 81 % dari harga jual. Untuk pedagang pengumpul sebesar 6,36 % dari harga jual. Sedangkan untuk pedagang pengecer sebesar 8,39% Tabel 3. Saluran II No. Uraian Harga Beli (Rp/K. Biaya Pemasaran (Rp/K. Profit Marjin (Rp/K. Harga Jual (Rp/K. Petani Pedagang Pengumpul Pedagang Antar Daerah Pedagang Pengecer Konsumen Margin Pemasaran (Rp/K. Sumber : Data Primer diolah. Tahun 2023 Berikut di gambarkan persentase keuntungan yang diperoleh masing-masing lembaga 6,36% 2,16 % Petani Produsen Ped. Pengumpul Desa Ped. Pengumpul Antar Daerah 4,75 % Ped. Pengecer Konsumen Gambar 4. Persentase Keuntungan Pemasaran Saluran II Pada saluran II dapat dijelaskan bahwa keuntungan yang diperoleh petani mencapai 81 % dari harga jual. Untuk pedagang pengumpul sebesar 6,36 % dari harga jual. Sedangkan untuk pedagang pengumpul antar daerah sebesar 2,16 % dan untuk pedagang pengecer sebesar 4,75 %. Persentase keuntungan paling besar diperoleh petani hal ini di karenakan petani tidak mengeluarkan biaya pemasaran, sedangkan pedagang pengumpul dan pengecer harus mengeluarkan biaya pemasaran untuk menyampaikan hasil produknya kepada lebih besar adalah petani yang memasarkan cabai merah dengan menggunakan jalur pemasaran yang lebih singkat seperti saluran I Margin pemasaran pada saluran pemasaran I sebesar Rp 5. 000 terdapat pada pedagang pengumpul dengan profit Rp. 500/Kg dan sebesar Rp. 000/kg pada pedagang pengecer dengan profit sebesar Rp. 615/kg. Margin pemasaran pada saluran pemasaran II sebesar Rp pengumpul dengan profit Rp 3. 500/kg dan sebesar Rp. 000/kg pada pedagang antar daerah dengan profit sebesar Rp. 190 dan pada pedagang pengecer Rp. 000 dengan profit margin sebesar Rp. KESIMPULAN Dari hasil penelitian dan analisa yang dilakukan, peneliti mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut : Saluran memberikan petani keuntungan yang Sugiar. SP. MP atas arahan dan bimbingannya sehingga penulisan skripsi ini dapat di selesaikan dengan baik. Terima Kasih juga disampaikan kepada Ibu Sri Wahyuni. Si. MSi selaku Wakil Dekan UCAPAN TERIMA KASIH