Calvaria Medical Journal : 193-200, Desember 2025 e-ISSN 3031-092X Original Research Article Pengaruh Penggunaan Teknologi Informasi berbasis Seluler terhadap Peningkatan Kehadiran Balita dan Orang Tua untuk Imunisasi di Puskesmas Wasior Dilisio Meliano Renmaur1. Wike Herawaty2*. Mira Kusuma Wardhani3 Program Studi Kedokteran. Fakultas Kedokteran. Universitas Wijaya Kusuma. Surabaya Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat. Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Indonesia Departemen Kebidanan dan Penyakit Kandungan. Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Indonesia *Corresponding e-mail: wikeherawaty@uwks. Abstrak Latar belakang: Meningkatkan imunisasi ke anak bisa dilakukan dengan banyak cara, salah satunya melalui pemanfaatan teknologi sebagai salah satu pendekatan. Penggunaan teknologi dalam intervensi menunjukkan hasil yang positif dalam hal peningkatan kepatuhan waktu pada imunisasi Tujuan: Mengetahui apakah penggunaan teknologi informasi efektif dalam meningkatkan kehadiran balita dan orang tua untuk imunisasi di Puskesmas. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengumpulan data melalui kuesioner yang akan disebarkan secara langsung pada seluruh orang tua dengan bayi berusia 0-18 bulan yang melakukan imunisasi di Puskesmas Wasior. Kesimpulan: Dapat disimpulkan terdapat hubungan antara penggunaan teknologi informasi berbasis seluler dengan peningkatan kehadiran Kata Kunci: Imunisasi. Informasi. Seluler. Teknologi The Effect of Using Mobile-based Information Technology on Increasing the Attendance of Toddlers and Parents for Immunization at the Wasior Community Health Center Abstract Background: Improving child immunization coverage can be achieved through various approaches, one of which is the use of technology. The application of technology in health interventions has shown positive results in improving timeliness and adherence to immunization schedules. Objectives: To determine whether the use of information technology is effective in increasing attendance of toddlers and parents for immunization at the Community Health Center (Puskesma. Methods: This study employed an observational analytic design with a cross-sectional approach. Data were collected through questionnaires distributed directly to all parents with infants aged 0Ae18 months who received immunization services at Wasior Community Health Center. Results: show the overall results of the study including statistical results if any. Conclusions: It can be concluded that there is a relationship between the use of mobile-based information technology and the increased attendance for Keywords: Cellular. Immunization. Information. Technology A R T I C L E H I S T O R Y: Received 04-12-2025 Revised 16-12-2025 Accepted 22-12-2025 Pengaruh Penggunaan Teknologi Informasi berbasis Seluler terhadap Peningkatan Kehadiran Balita dan Orang. Dilisio Meliano Renmaur. Wike Herawaty. Mira Kusuma Wardhani PENDAHULUAN Teknologi adalah hasil dari upaya manusia untuk meningkatkan kualitas hidup manusia dengan menggunakan semua sumber daya yang ada. Penggunaan sumber daya ini menghasilkan berbagai perangkat atau perkakas yang dibutuhkan manusia, terutama teknologi yang berkelanjutan seperti mesin, telepon, dan internet. Tujuan dari imunisasi adalah untuk mendorong sistem kekebalan tubuh seseorang untuk menanggapi penyakit. Mereka mungkin tidak menderita penyakit tersebut atau hanya mengalami sakit yang ringan jika terpapar penyakit tersebut (Subratha, 2. Komunikasi berjalan lebih lancar dan efektif ketika pesan disampaikan dengan akurat dan dipahami sesuai dengan niat komunikator. Indonesia berada di urutan ke enam terbanyak dalam hal penggunaan telepon genggam, dengan 236 juta unit telepon genggam yang digunakan oleh penduduknya . ekitar 261 juta oran. Bahkan pada tahun 2015, ada 338 juta pelanggan telepon genggam di Indonesia, menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) (Astuti & Rahman, 2. Penggunaan teknologi dalam intervensi menunjukkan hasil yang positif dalam hal meningkatkan kepatuhan waktu pada imunisasi. Ini adalah salah satu dari banyak cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan imunisasi anak (Atkinson et al. , 2. BAHAN DAN METODE Penelitian ini merupakan jenis penelitian analitik observasional dengan desain penelitian menggunakan pendekatan cross sectional. Penelitian ini akan dilaksanakan di Puskesmas Wasior Kabupaten Teluk Wondama. Pengambilan data pada penelitian ini dilakukan pada bulan JanuariFebruari 2024. Populasi dalam penelitian ini adalah orang tua yang mempunyai anak balita di Puskesmas Wasior Kabupaten Teluk Wondama. Kriteria Inklusi Orang tua dengan bayi berusia 0-18 bulan yang melakukan imunisasi di Puskesmas Wasior Kabupaten Teluk Wondama, memiliki gawai atau telepon seluler, bersedia menjadi responden penelitian dan mengikuti penelitian dari awal hingga akhir Kriteria Eksklusi tidak memiliki gawai atau telepon seluler. Tidak bersedia menjadi responden Perghitungan jumlah sampel penelitian ditentukan dengan rumus Slovin, sebagai berikut: 1 ycA. 2 ycu= ycA ycu= ycu = 50 Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah consecutive sampling, yaitu penentuan sampel yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan peneliti hingga jumlah minimal besar sampel dalam penelitian terpenuhi, sehingga tidak seluruh anggota populasi memiliki kesempatan untuk dipilih menjadi sampel. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah penggunaan teknologi informasi berbasis seluler. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah peningkatan kehadiran imunisasi pada balita. HASIL Analisis Univariat Usia Orang Tua Distribusi orang tua yang membawa anaknya untuk melakukan imunisasi di Puskesmas Wasior. Kabupaten Teluk Wondama, selama periode Januari Ae Februari 2024 berdasarkan usia adalah sebagai berikut: Calvaria Medical Journal : 193-200, Desember 2025 e-ISSN 3031-092X Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan Usia Usia Frekuensi . Persen (%) 17-25 tahun 26-35 tahun 36-45 tahun *Sumber: Data Primer 2024 Keterangan: PM: Premopause. M: Menopause. PSM: Pascamenopause Usia 17-25 tahun 26-35 tahun 36-45 tahun Tabel 1 diketahui bahwa golongan usia yang paling dominan adalah golongan usia 17Ae25 tahun, yaitu sebanyak 22 orang tua . %), diikuti oleh golongan usia 26Ae35 tahun sebanyak 18 orang tua . %) dan golongan usia 36Ae45 tahun sebanyak 10 orang tua . %). Pendapatan Orang Tua Distribusi orang tua yang membawa anaknya untuk melakukan imunisasi di Puskesmas Wasior. Kabupaten Teluk Wondama, selama periode Januari Ae Februari 2024 berdasarkan pendapatan adalah sebagai berikut: Tabel 2. Distribusi Responden Berdasarkan Pendapatan Pendapatan Frekuensi . Persen (%) 2 orang Total *Sumber: Data Primer 2024 Persen (%) Dari Tabel 4 diketahui bahwa sebagian besar anak dalam penelitian ini diasuh oleh 2 pengasuh, yaitu sebanyak 24 anak . %), diikuti oleh 19 anak yang diasuh oleh lebih dari 2 pengasuh . %). Hanya terdapat 7 anak yang diasuh oleh 1 pengasuh pada penelitian ini . %). Jenis Imunisasi yang Diberikan Distribusi anak yang melakukan imunisasi di Puskesmas Wasior. Kabupaten Teluk Wondama, selama periode JanuariAeFebruari 2024 berdasarkan jenis imunisasi yang diberikan adalah sebagai Tabel 5. Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Imunisasi Jenis Imunisasi Frekuensi . HB 0 BCG Polio 1 DPT-HB-HIB 1 Polio 2 PCV 1 RV 1 DPT-HB-HIB 2 Polio 3 PCV 2 PCV 3 RV 2 DPT-HB-HIB 3 Polio 4 IPV MR 1 Total *Sumber: Data Primer 2024 Persen (%) Pada Tabel 5 diketahui bahwa sebagian besar orang tua dalam penelitian ini datang dengan membawa anaknya untuk jadwal imunisasi HB 0, yaitu sebanyak 8 anak . %). Masing-masing sebanyak 6 anak . %) datang untuk imunisasi Polio 1. PCV 1, dan Polio. Masing-masing sebanyak 5 anak . %) datang untuk imunisasi Polio 3. PCV 2, dan PCV. Tidak terdapat anak yang tercatat datang untuk imunisasi DPT-HB-HIB 1 dan IPV pada penelitian ini. Analisis Bivariat Hubungan Antara Penggunaan Teknologi Informasi Berbasis Seluler dengan Peningkatan Kehadiran Imunisasi Distribusi hubungan antara penggunaan teknologi informasi berbasis seluler dengan peningkatan kehadiran imunisasi di Puskesmas Wasior. Kabupaten Teluk Wondama, selama periode JanuariAe Februari 2024 adalah sebagai berikut: Calvaria Medical Journal : 193-200, Desember 2025 e-ISSN 3031-092X Tabel 6. Hubungan antara Penggunaan Teknologi dengan Kehadiran Imunisasi Kehadiran Imunisasi Total Penggunaan Teknologi Buruk Baik Sangat Kuirang Kuirang Cu ku p Baik Sangat Baik Total *Sumber: Data Prime r 2024 p-value Pada Tabel 6 dapat dilihat bahwa sebagian besar responden dengan penggunaan teknologi cukup memiliki kehadiran imunisasi buruk, yaitu sebanyak 9 responden . %). Di sisi lain, sebagian besar responden yang memiliki pengetahuan baik juga memiliki kehadiran imunisasi yang baik, yaitu sebanyak 14 responden . %). Hasil uji statistik dengan chi-square memperoleh nilai p-value sebesar 0,014. Sejalan dengan temuan tersebut, hasil uji statistik dengan FisherAos exact memperoleh nilai pvalue sebesar 0,008. Kedua nilai tersebut lebih kecil dari 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara penggunaan teknologi informasi berbasis seluler dengan peningkatan kehadiran imunisasi. PEMBAHASAN Usia Orang Tua Di daerah pinggiran kota seperti Papua Barat, tempat penelitian ini dilakukan, pernikahan dini paling banyak disebabkan oleh pemahaman budaya masyarakat serta ketidaksesuaian dengan aturan pemerintah setempat. Masyarakat desa masih sering berpikir bahwa anak perempuan tidak akan berperilaku baik apabila tidak segera dinikahkan. Hal ini menyebabkan sebagian besar orang tua di desa menikahkan anak perempuan mereka pada usia yang relatif muda. Selain itu, orang tua menikahkan anak perempuan mereka pada usia yang relatif muda dengan alasan agar dapat melepaskan diri dari tanggungan orang tua (Fitrianingsih, 2. Pendapatan Orang Tua Pada penelitian ini, banyak responden memiliki pendapatan rendah, yang dapat dikaitkan dengan tingginya proporsi responden berusia 17Ae25 tahun. Salah satu konsekuensi dari pernikahan dini adalah ketidakstabilan keuangan, yang dapat berdampak pada kelangsungan hidup pasangan, terutama jika mereka telah memiliki anak (Rahmawati, 2. Selain itu, telah diketahui bahwa berbagai upacara adat di Papua Barat membutuhkan dana, sehingga dimungkinkan adanya pengeluaran tersier (Deda & Mofu, 2. Faktor terakhir yang dapat dipertimbangkan sebagai penyebab rendahnya pendapatan dalam penelitian ini adalah tingkat pendidikan yang rendah. Data yang dikumpulkan pada tahun 2024 menunjukkan bahwa rata-rata lama sekolah di Papua Barat hanya 7,93 tahun, dengan Kabupaten Teluk Wondama sebesar 7,27 tahun (BPS, 2. Pada akhirnya, rendahnya kualitas sumber daya manusia dapat berdampak pada terbatasnya peluang untuk memperoleh pekerjaan yang lebih baik (Serneels et al. , 2. Pekerjaan Orang Tua Seiring perkembangan zaman, semakin banyak orang tua, terutama ibu, yang terlibat dalam dunia Banyak hal dipengaruhi oleh peran sebagai ibu yang bekerja, salah satunya adalah perubahan peran dalam rumah tangga. Menurut penelitian Noviasty et al . , terdapat perbedaan pada kelompok status pekerjaan ibu dengan pemberian rutin imunisasi pada bayi usia 0-6 bulan. Ibu yang bekerja harus mampu membagi waktunya untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Dalam penelitian ini, status pekerjaan ibu berdampak pada waktu yang dimilikinya untuk membawa anaknya melakukan imunisasi. Dapat dipahami bahwa ibu yang bekerja sebagai ibu rumah tangga memiliki Pengaruh Penggunaan Teknologi Informasi berbasis Seluler terhadap Peningkatan Kehadiran Balita dan Orang. Dilisio Meliano Renmaur. Wike Herawaty. Mira Kusuma Wardhani lebih banyak waktu luang karena tidak terikat oleh jam kerja, sehingga cenderung lebih rutin membawa anaknya ke fasilitas kesehatan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan (Isnoviana & Yudit, 2020. Herlina et al. , 2. Jumlah Pengasuh Dalam penelitian ini, dapat dipahami bahwa jumlah pengasuh dan pihak yang menjadi pengasuh turut berpengaruh terhadap tingkat kehadiran imunisasi. Misalnya, anak yang diasuh oleh anggota keluarga lain rentan mengalami miskomunikasi sehingga anak lupa dibawa ke fasilitas kesehatan untuk melakukan imunisasi sesuai jadwal. Sebaliknya, anak yang diasuh secara langsung oleh orang tuanya akan mendapatkan perhatian penuh, sehingga ibu juga akan mengingat jadwal imunisasi anaknya. Jenis Imunisasi yang Diberikan Dalam penelitian ini dapat dipahami bahwa distribusi imunisasi dapat dipengaruhi oleh faktor geografis yang meliputi sulitnya akses ke puskesmas, serta keterbatasan finansial yang dapat dilihat dari banyaknya responden yang memiliki pendapatan golongan rendah. Selain itu, faktor seperti regulasi dari tenaga kesehatan dan pemerintah setempat juga memiliki peran penting dalam distribusi Hubungan antara Penggunaan Teknologi berbasis Seluler dengan Peningkatan Kehadiran Imunisasi Penelitian ini menemukan bahwa banyak responden memiliki tingkat kehadiran imunisasi yang rendah meskipun mereka menggunakan teknologi dengan tingkat cukup atau baik. Temuan ini sebagian besar disebabkan oleh faktor ekonomi, sebagaimana ditunjukkan oleh proporsi responden dengan pendapatan rendah sebesar 54%. Temuan serupa juga dilaporkan dalam penelitian yang dilakukan oleh Widaningsih dan Sawitri . , yang menunjukkan adanya korelasi kuat antara pendapatan keluarga dan kelengkapan imunisasi dasar. Orang tua dengan status ekonomi yang lebih baik cenderung memiliki akses yang lebih baik terhadap layanan kesehatan. Mereka juga kemungkinan tidak menghadapi kendala geografis, seperti keterbatasan akses atau transportasi menuju fasilitas kesehatan (McMaughan et al. , 2. Selain itu tingkat pengetahuan ibu mengenai imunisasi dasar juga berpotensi terhadap kelengkapan imunisasi dasar pada bayinya (Isnayni, 2. , terutama terkait dengan ketersediaan teknologi. Karena jauhnya lokasi pelayanan, biaya yang harus dikeluarkan dapat menjadi lebih besar, tidak hanya untuk pelayanan kesehatan, tetapi juga untuk biaya transportasi. Oleh karena itu, hal ini dapat menjadi faktor penting yang memengaruhi pemanfaatan layanan kesehatan (Istiarini et al. , 2. Faktor lain yang juga dapat dipertimbangkan adalah faktor sosial, yang tidak diteliti dalam penelitian Faktor sosial tersebut meliputi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap layanan yang diberikan oleh petugas kesehatan, banyaknya informasi yang salah, keyakinan masyarakat bahwa vaksin dapat menimbulkan efek negatif yang tidak diinginkan pada anak, serta budaya masyarakat yang masih menganut pengobatan tradisional atau alternatif (Mtenga et al. , 2. Jika ditinjau dari perspektif psikologis, hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan yang menyatakan bahwa individu dengan tingkat reaktansi yang lebih tinggi, yaitu individu yang lebih skeptis dan kurang toleran terhadap pendapat orang lain, memiliki kecenderungan yang lebih rendah dibandingkan dengan individu dengan tingkat kolektivisme yang lebih tinggi (Sulistyawati et al. , 2. Penelitian ini juga menemukan beberapa orang tua yang memiliki tingkat kehadiran imunisasi yang baik meskipun penggunaan teknologinya kurang atau sangat kurang. Hal ini dimungkinkan karena adanya kontribusi faktor sosial dan jumlah pengasuh. Faktor sosial mendorong sebagian besar ibu untuk berperan sebagai ibu rumah tangga. Studi oleh MladenoviN. Bruini, dan Kalia . menyarankan bahwa terdapat tiga motivasi sosial yang mendorong transmisi informasi di antara ibu rumah tangga, yaitu keterikatan sosial, persahabatan sosial dengan orang lain, dan keinginan untuk berbagi informasi sebagai norma sosial. Motivasi ketiga tersebut mendorong ibu untuk menyebarkan informasi dari mulut ke mulut. Pendapat komunitas dan keputusan individu sebelum mengambil Calvaria Medical Journal : 193-200, Desember 2025 e-ISSN 3031-092X tindakan juga dipengaruhi oleh informasi dari mulut ke mulut, terutama apabila informasi tersebut berasal dari sumber yang dapat dipercaya (Damayanti et al. , 2025. Iova et al. , 2. Dalam konteks penelitian ini, dapat dipahami bahwa para ibu hidup dalam suatu komunitas dan saling berbagi informasi dari mulut ke mulut mengenai kondisi anak, termasuk jadwal imunisasi (Rahayu et al. , 2. Kader Posyandu dalam suatu komunitas memiliki peran penting untuk kelengkapan imunisasi dasar Dengan demikian, ibu yang memiliki penggunaan teknologi yang kurang baik tetap dapat datang ke fasilitas kesehatan sesuai jadwal imunisasi. Terkait dengan jumlah pengasuh anak, dapat disimpulkan bahwa anak yang memiliki lebih dari satu pengasuh menunjukkan bahwa ibu memperoleh bantuan dari orang lain dalam mengasuh anak. Bantuan tersebut dapat berupa waktu, tenaga, maupun informasi. Apabila ibu lupa terhadap suatu hal, pengasuh lain dapat mengingatkan, termasuk terkait jadwal imunisasi. Dengan demikian, meskipun ibu memiliki keterbatasan dalam penggunaan teknologi, kehadiran imunisasi anak tetap dapat terjaga. Hal ini sejalan dengan temuan penelitian yang menunjukkan bahwa 48% anak diasuh oleh dua orang dan 38% diasuh oleh lebih dari dua orang (Gichuki et al. , 2025. Maamor et al. , 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Puskesmas Wasior. Kabupaten Teluk Wondama, selama periode Januari Ae Februari 2024 mengenai hubungan antara penggunaan teknologi informasi berbasis seluler dengan peningkatan kehadiran imunisasi, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Orang tua yang membawa anaknya untuk melakukan imunisasi sebagian besar berusia 17Ae25 tahun, memiliki pendapatan rendah, dan bekerja sebagai ibu rumah tangga. Sebagian besar anak yang dibawa untuk melakukan imunisasi memiliki 2 pengasuh. Distribusi jenis imunisasi yang paling banyak diberikan adalah HB 0. Terdapat 40% responden dengan kehadiran imunisasi buruk dan 60% responden dengan kehadiran imunisasi baik. Terdapat hubungan yang signifikan antara penggunaan teknologi informasi yang efektif dengan peningkatan kehadiran imunisasi di puskesmas. UCAPAN TERIMA KASIH Saya selaku peneliti mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pembimbing saya karena telah banyak memberikan bantuan dalam menyelesaikan skripsi ini. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada pihak terkait lainnya yang telah membantu dalam pelaksanaan penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA