http://journal. id/index. php/anterior Regenerasi Penari Dan Penabuh Dalam Seni Reog Obyok Di Tanah Laut. Kalimantan Selatan Regeneration of Dancers and Drummers in Reog Obyok Art in Tanah Laut. South Kalimantan Putri Dyah Indriyani1* Tutung Nurdiyana Abstrak Putri Yunita Permata Kumala Sari3 *1Pendidikan Seni Pertunjukan FKIP Universitas Lambung Mangkurat. Banjarmasin. Kalimantan Selatan. Indonesia 2Pendidikan Seni Pertunjukan FKIP Universitas Lambung Mangkurat. Banjarmasin. Kalimantan Selatan. Indonesia Penelitian ini bertujuan mengkaji pola regenerasi penari dan penabuh dalam kelompok seni Reog Obyok di Kabupaten Tanah Laut. Kalimantan Selatan. Regenerasi merupakan aspek krusial dalam keberlanjutan seni pertunjukan tradisional, terutama di komunitas transmigran yang menghadapi tantangan kultural dan sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi visual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses regenerasi berlangsung secara informal melalui pendekatan kekeluargaan, pewarisan tradisi lisan, dan pelatihan berbasis komunitas. Kendati demikian, regenerasi menghadapi berbagai tantangan, antara lain rendahnya minat generasi muda, keterbatasan fasilitas, serta minimnya dukungan institusional. Studi ini menegaskan pentingnya penguatan sistem regenerasi berbasis komunitas yang adaptif terhadap konteks sosial budaya lokal. 3Pendidikan Seni Pertunjukan FKIP Universitas Lambung Mangkurat. Banjarmasin. Kalimantan Selatan. Indonesia *email: indriyani@ulm. Abstract Kata Kunci: Reog Obyok Regenerasi Transmigrasi Seni Pertunjukan Komunitas This study aims to examine the patterns of dancer and drummer regeneration within the Reog Obyok art group in Tanah Laut Regency. South Kalimantan. Regeneration is a crucial aspect in the sustainability of traditional performing arts, especially in transmigrant communities facing cultural and social challenges. This research employs a descriptive qualitative approach with data collection techniques such as participatory observation, in-depth interviews, and visual documentation. The findings reveal that the regeneration process occurs informally through a familial approach, the inheritance of oral traditions, and community-based training. However, regeneration faces several challenges, including the low interest of the younger generation, limited facilities, and minimal institutional support. This study emphasizes the importance of strengthening a community-based regeneration system that is adaptive to the local socio-cultural context. Keywords: Reog Obyok Regeneration Transmigration Performing Arts Community A2025 The Authors. Published by Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya. This is Open Access article under the CC-BY-SA License . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. 0/). PENDAHULUAN Reog Obyok merupakan salah satu bentuk kesenian rakyat yang tumbuh dan berkembang secara dinamis di tengah komunitas transmigran asal Ponorogo. Jawa Timur, yang kini bermukim di wilayah Kalimantan Selatan. Sebagai ekspresi budaya kolektif. Reog Obyok tidak hanya menghadirkan elemen estetika dalam bentuk tarian, musik, dan kostum tradisional, melainkan juga berfungsi sebagai media pelestarian identitas kultural di tengah perubahan sosial. Kesenian ini bersifat kolaboratif dan melibatkan berbagai peran, mulai dari penari, penabuh gamelan, hingga pengatur pertunjukan, yang semuanya memerlukan kesinambungan dalam pengelolaan sumber daya manusianya. Dalam konteks tersebut, regenerasi menjadi aspek strategis yang menentukan keberlanjutan eksistensi Reog Obyok, khususnya di tengah tekanan modernitas dan transformasi nilai budaya (Sedyawati, 2010. Supanggah, 2. Program transmigrasi yang digalakkan pemerintah pada masa Orde Baru membawa serta dimensi kultural masyarakat Jawa ke berbagai wilayah luar pulau, termasuk Kalimantan Selatan. Migrasi ini bukan hanya perpindahan fisik, tetapi juga migrasi budaya yang kompleks. Masyarakat transmigran membawa serta nilai-nilai, tradisi, dan ekspresi seni seperti Reog Obyok sebagai instrumen integrasi sosial sekaligus penjaga identitas etnis (Nugroho, 2021. Handayani, 2. Di tengah Putri Dyah Indriyani. Tutung Nurdiyana dan Putri Yunita Permata Kumala Sari. Regenerasi Penari dan Penabuh Dalam Seni Reog Obyok Di Tanah Laut. Kalimantan Selatan lingkungan baru yang plural dan berbeda secara geografis maupun demografis. Reog Obyok berperan penting dalam membangun rasa kohesi sosial dan kontinuitas memori kolektif. Namun, dalam dua dekade terakhir, eksistensi Reog Obyok dihadapkan pada tantangan serius. Globalisasi dan arus budaya populer telah mengubah preferensi generasi muda, menjauhkan mereka dari bentuk-bentuk seni tradisional yang dianggap tidak relevan dengan realitas masa kini (Mahardika, 2020. Widiastuti, 2. Perubahan gaya hidup, dominasi media digital, serta minimnya ruang aktualisasi budaya tradisi dalam institusi pendidikan maupun ruang publik turut memperparah penurunan minat terhadap kesenian daerah. Akibatnya, proses regenerasi senimanAibaik sebagai penari maupun penabuhAiterhambat dan menghadapi ancaman stagnasi. Berbagai studi menggarisbawahi pentingnya adaptasi dan transformasi berbasis komunitas sebagai kunci keberlanjutan seni tradisional. Komunitas-komunitas seni perlu menyusun strategi regenerasi yang tidak hanya mempertahankan bentuk-bentuk lama, tetapi juga mampu merespons konteks sosial kontemporer secara kreatif (Prasetyo, 2016. Setiawan. Dalam hal ini. Reog Obyok di Tanah Laut menjadi contoh konkret yang layak dikaji lebih dalam. Pemahaman terhadap mekanisme regenerasi yang diterapkan, baik secara formal maupun informal, serta peran aktor-aktor sosial di dalamnya, menjadi krusial untuk memetakan potensi keberlanjutan seni pertunjukan ini di tengah arus perubahan zaman yang cepat dan disruptif. Regenerasi dalam seni pertunjukan mencakup transfer keterampilan, nilai-nilai budaya, serta transformasi peran sosial seniman dalam masyarakat (Harnoko, 2018. Rohidi, 2. Umumnya, proses ini berlangsung secara informal dalam lingkup keluarga atau komunitas (Setiawan, 2019. Atmadibrata, 2. Di komunitas transmigran, regenerasi budaya menghadapi kompleksitas sosial, karena perpindahan geografis berdampak pada fragmentasi identitas (Nugroho, 2021. Yampolsky, 2. Partisipasi komunitas menjadi kunci dalam mempertahankan praktik budaya. Widyastuti . dan Hapsari . menekankan pentingnya keterlibatan sosial dan penguatan peran tokoh adat dalam menjaga keberlanjutan budaya lokal. Selain itu, pendidikan seni dapat menjadi wahana strategis dalam mendukung regenerasi, terutama melalui integrasi kurikulum lokal (Tjahjono, 2017. Astuti, 2. Namun, sebagaimana diungkap oleh Siregar . dan Suryadi . , regenerasi sering terhambat oleh keterbatasan fasilitas, dana, dan minimnya intervensi kebijakan yang mendukung kesenian daerah secara sistematis. METODOLOGI Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus tunggal yang difokuskan pada satu komunitas Reog Obyok di wilayah transmigran. Lokasi penelitian berada di Desa Jorong. Kecamatan Jorong. Kabupaten Tanah Laut. Kalimantan Selatan, yang merupakan permukiman transmigran asal Ponorogo. Jawa Timur. Komunitas ini secara aktif melestarikan kesenian Reog Obyok sebagai bagian dari identitas budaya mereka (Nugroho, 2. Pemilihan lokasi dilakukan secara purposif dengan mempertimbangkan kontinuitas praktik Reog serta keterlibatan lintas generasi dalam kegiatan seni tersebut. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, terutama dalam sesi latihan dan pertunjukan Reog Obyok yang berlangsung secara rutin. Selain itu, dilakukan wawancara mendalam terhadap berbagai informan kunci, meliputi penari senior, pelatih, anggota muda, tokoh masyarakat, dan orang tua yang berperan dalam mendukung proses Wawancara dilakukan secara semi-terstruktur guna menangkap narasi, persepsi, dan strategi yang digunakan komunitas dalam menjaga keberlangsungan kesenian. Data pendukung juga dikumpulkan melalui dokumentasi visual dan tekstual, termasuk foto, video, serta catatan lapangan selama kegiatan berlangsung. Proses analisis data dilakukan secara tematik, dimulai dengan tahap reduksi data untuk menyaring informasi relevan. Selanjutnya dilakukan kategorisasi berdasarkan pola-pola regenerasi, peran aktor kunci, serta hambatan yang dihadapi Tahap akhir adalah penarikan kesimpulan secara induktif, dengan berlandaskan pada dinamika empiris yang ditemukan di lapangan (Yin, 2003. Mulyana, 2. Validitas data diperkuat melalui triangulasi sumber, teknik, dan waktu, guna memastikan kedalaman dan keabsahan temuan penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Pola Regenerasi Tradisional Regenerasi dalam kesenian Reog Obyok berlangsung secara alami melalui pola tradisional yang tidak mengandalkan sistem pendidikan formal. Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga pelaku seni umumnya diperkenalkan kepada Reog sejak usia dini, baik secara langsung maupun tidak langsung. Mereka belajar melalui proses pengamatan terhadap latihan yang dilakukan orang tua atau kerabat, meniru gerakan-gerakan dasar, dan secara bertahap terlibat aktif dalam pertunjukan. Tidak adanya guru tetap atau kurikulum terstruktur tidak menjadi hambatan bagi proses pembelajaran, karena pengetahuan disampaikan secara lisan dan bersifat intergenerasional. Seperti yang diungkapkan oleh Pak Suyono, seorang penabuh senior. AuDulu saya ikut Reog sejak kecil, karena bapak saya penabuh kendang. Sekarang anak saya juga sudah mulai ikut latihan. Kami tidak pakai guru tetap, anak-anak belajar sambil jalan. Ay Anterior Jurnal. Volume 24 Issue i. September 2025. Page 96 - 100 p-ISSN: 1412-1395. e-ISSN: 2355-3529 Model pendidikan informal ini menunjukkan bagaimana komunitas mempraktikkan sistem regenerasi seni yang berbasis pengalaman dan partisipasi aktif. Hal ini sesuai dengan pandangan Harnoko . dan Supanggah . , yang menekankan bahwa pendidikan seni berbasis komunitas sering kali bersandar pada metode tradisional yang fleksibel namun efektif. Pola ini memungkinkan anak-anak untuk membangun keterampilan secara bertahap, sembari memahami nilai-nilai budaya yang terkandung dalam Reog. Pembelajaran tidak hanya berlangsung di ruang latihan, tetapi juga di ruangruang sosial seperti lingkungan rumah, acara desa, dan perayaan adat, sehingga menciptakan ekosistem budaya yang mendukung keberlanjutan seni pertunjukan tersebut. Peran Keluarga dan Komunitas Keluarga memainkan peran sentral dalam mendorong regenerasi Reog Obyok di kalangan anak-anak dan remaja. Orang tua tidak hanya memfasilitasi partisipasi anak dalam latihan, tetapi juga menanamkan rasa cinta terhadap budaya leluhur. Dalam wawancara. Bu Listiani, seorang ibu dari penari muda, menegaskan. AuKalau anak-anak nggak saya kenalkan Reog dari kecil, nanti lupa budaya sendiri. Latihan pun kami anggap seperti kegiatan keluarga, bukan beban. Ay Sikap ini mencerminkan komitmen keluarga dalam menjadikan kesenian sebagai bagian dari aktivitas domestik yang menyenangkan dan bermakna, bukan semata-mata sebagai kegiatan ekstrakurikuler. Pola pengasuhan semacam ini memperkuat ikatan antaranggota keluarga sekaligus memperluas ruang belajar budaya bagi anak. Selain keluarga, komunitas lokal juga turut menciptakan lingkungan sosial yang kondusif bagi proses regenerasi. Latihan Reog Obyok sering kali dijadikan ajang berkumpul yang membangun solidaritas dan rasa kebersamaan. Anak-anak yang awalnya hanya ikut-ikutan orang tuanya, secara perlahan mulai menunjukkan minat dan keterampilan dalam menari maupun menabuh. Mas Rendra, pelatih muda dalam komunitas, menjelaskan. AuKita tidak hanya latihan, tapi menciptakan rasa kebersamaan. Anak-anak kecil biasanya ikut-ikutan dulu, lama-lama jadi bisa sendiri. Ay Pernyataan ini sejalan dengan temuan Widyastuti . dan Astuti . yang menekankan pentingnya partisipasi kolektif dan pendekatan berbasis komunitas dalam menjaga kelestarian budaya lokal. Keterlibatan lintas usia dan lintas peran menciptakan kesinambungan yang tidak tergantung pada lembaga formal. Hambatan Regenerasi Meskipun semangat pelestarian masih kuat, komunitas Reog Obyok menghadapi sejumlah hambatan serius dalam proses regenerasi, terutama dari sisi partisipasi generasi muda. Perubahan pola hidup dan dominasi teknologi digital membuat seni tradisional kian sulit bersaing dengan budaya populer. Anak-anak dan remaja cenderung lebih tertarik pada gawai dan hiburan digital daripada kegiatan seni yang dianggap kuno. Hal ini diungkapkan oleh Pak Mardi, tokoh masyarakat setempat. AuZaman sekarang anak-anak lebih suka main HP. Kesenian tradisional dianggap kuno. Jadi yang tertarik ikut Reog makin sedikit. Ay Fenomena ini mencerminkan adanya pergeseran nilai dan preferensi budaya yang mengancam keberlanjutan tradisi lokal. Selain kendala minat, komunitas juga mengalami keterbatasan fasilitas dan dukungan dari pihak luar, khususnya Peralatan musik seperti gong dan kendang mengalami kerusakan akibat usia pakai, dan sering kali harus diperbaiki secara swadaya oleh anggota komunitas. Mas Aris, koordinator alat musik, mengeluhkan. AuGong dan kendang banyak yang retak. Kalau tidak kami tambal sendiri, ya tidak bisa dipakai. Belum pernah dapat bantuan dari dinas Ay Situasi ini mencerminkan lemahnya dukungan struktural terhadap seni tradisional, sebagaimana disorot oleh Sudrajat . dan Suryadi . , yang menyatakan bahwa tanpa ekosistem pendukung yang memadai, kesenian tradisional berisiko terpinggirkan dan ditinggalkan oleh generasi penerus. Strategi Komunitas dalam Menjaga Regenerasi Menghadapi berbagai tantangan tersebut, komunitas Reog Obyok tidak tinggal diam. Mereka mengembangkan sejumlah strategi adaptif untuk memastikan keberlangsungan tradisi melalui pendekatan yang lebih kontekstual. Salah satu upaya inovatif adalah penggunaan media sosial seperti TikTok dan Instagram untuk mempublikasikan kegiatan latihan dan Dengan konten yang dikemas secara menarik, komunitas berharap dapat menjangkau anak-anak muda yang lebih akrab dengan dunia digital. Mbak Lestari, yang juga mengelola akun media sosial kelompok, mengatakan. AuKalau kita upload video latihan di TikTok, banyak anak-anak muda yang nanya. Malah ada yang akhirnya datang ke latihan. Ay Strategi ini tidak hanya membuka akses partisipasi baru, tetapi juga membangun citra bahwa kesenian tradisional bisa tampil modern dan menarik. Selain media sosial, strategi lain yang dilakukan adalah menjalin kerja sama dengan sekolah dasar setempat. Meskipun belum masuk dalam program ekstrakurikuler formal, beberapa guru mulai melibatkan komunitas Reog dalam kegiatan sekolah seperti peringatan Hari Kemerdekaan dan Hari Kartini. Inisiatif ini diharapkan bisa menjadi pintu masuk bagi pendidikan seni tradisional di lingkungan sekolah. Pak Agus, seorang guru SD, mengungkapkan. AuKalau bisa Reog masuk ekskul di sekolah, anak-anak akan lebih kenal lagi. Sekarang kami masih sebatas undang komunitas untuk tampil di acara 17-an. Ay Upaya ini mencerminkan bentuk adaptasi komunitas terhadap perubahan zaman, sebagaimana dipaparkan oleh Putri Dyah Indriyani. Tutung Nurdiyana dan Putri Yunita Permata Kumala Sari. Regenerasi Penari dan Penabuh Dalam Seni Reog Obyok Di Tanah Laut. Kalimantan Selatan Tjahjono . dan Yampolsky . , bahwa keberlanjutan seni tradisi bergantung pada kemampuan komunitas untuk merespons dinamika sosial dan teknologi secara kreatif. Gambar 1. Grafik Peran Keluarga dan Komunitas Grafik menunjukkan bahwa aspek peran keluarga dan komunitas . %) menjadi kekuatan dominan dalam proses Sementara itu, hambatan regenerasi masih cukup signifikan . %) yang berasal dari keterbatasan minat generasi muda dan infrastruktur. Strategi komunitas . %) dan pola pewarisan tradisional . %) menjadi fondasi utama regenerasi Reog Obyok. KESIMPULAN Proses regenerasi dalam seni Reog Obyok di Kabupaten Tanah Laut berlangsung secara informal melalui pendekatan kekeluargaan dan pewarisan tradisi lisan. Meskipun menghadapi tantangan berupa rendahnya minat generasi muda dan keterbatasan fasilitas, regenerasi seni ini tetap berjalan melalui peran aktif keluarga dan komunitas. Pentingnya penguatan sistem regenerasi berbasis komunitas menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan seni Reog Obyok, serta responsif terhadap dinamika sosial dan budaya yang berkembang. Oleh karena itu, perlu upaya bersama untuk memperbaiki akses fasilitas dan menggalakkan minat anak muda terhadap seni tradisional. Kesimpulan dibuat dalam satu paragraf tanpa sitasi memuat simpulan akhir serta saran untuk kegiatan pengabdian selanjutanya. UCAPAN TERIMA KASIH Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pelaksanaan kegiatan pengabdian ini. Terima kasih kepada Universitas Lambung Mangkurat yang telah memberikan dukungan melalui hibah penelitian, serta pihak-pihak yang telah membantu selama penelitian berlangsung. Penghargaan juga kami sampaikan kepada para informan kunci, khususnya para penari dan penabuh Reog Obyok di Tanah Laut, yang telah berbagi pengalaman dan pengetahuan mereka. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada masyarakat setempat, tokoh adat, serta sivitas akademika yang turut mendukung kelancaran penelitian ini. REFERENSI