Firs Marcello Ahimsa Hayamaputra et al. Cultural Diversity Jurnal Sosial dan Budaya Vol. No. , 13-22 http://dx. org/10. 30983/it. Cultural Diversity: Jurnal Sosial dan Budaya e-ISSN: x-x p-ISSN: x-x BELIATN SENTIU: RELEVANSI DAN HARMONISASI PENGOBATAN TRADISIONAL PADA MASYARAKAT DAYAK BENUAQ Marcello Ahimsa Hayamaputra1. Luthfi Nabilah Ailen2. Hanum Zahrotuddiniyah3. Juana Krismelita Saragih4. Erna Paramitha5 *Corespondence : Email : main@gmail. Authors Affiliation: 1Universitas Mulawarman. Indonesia 2Universitas Jenderal Soedirman. Indonesia 3Institut Seni Budaya Indonesia Bandung. Indonesia 4Universitas Islam Riau. Indonesia 5Universitas Jember. Indonesia Article History : Submission : January 15, 2024 Revised : January, 19 2024 Accepted : February 21, 2024 Published: February 23, 2024 Kata Kunci : Beliatn. Beliatn Sentiu. Harmonisasi. Relevansi. Dayak Keywords: Beliatn. Beliatn Sentiu. Harmonization. Relevance. Dayak Abstrak Dalam penelusuran penelitian ritual Beliatn Sentiu terdapat banyak faktor yang membentuk harmonisasi dengan tujuan untuk menjaga eksistensinya di kehidupan masyarakat Dayak Benuaq agar tetap lestari. Tidak hanya itu, penelitian ini juga akan membantu mencegah konflik atau ketegangan sosial yang sekiranya mungkin terjadi di masyarakat karena perbedaan pendapat individu. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif deskriptif yang menjelaskan apakah ritual Beliatn Sentiu masih relevan di zaman modern serta bagaimana pandangan masyarakat terkait harmonisasi Beliatn Sentiu di lingkungan sosial. Data mengenai penelitian ini didapat dari observasi, studi literatur, dan Dari hasil penelitian tersebut ditemukan bahwa ritual Beliatn Sentiu merupakan ritual penyembuhan suku Dayak Benuaq dan Tunjung untuk menyembuhkan pasien atau orang sakit dengan memiliki tahapan dan caranya tersendiri berdasarkan ajaran leluhur dan hingga saat ini masih eksis karena sistem kepercayaan setempat dan akses yang sulit ke fasilitas Kesehatan di beberapa tempat. Diketahui juga bahwa ritual Beliatn Sentiu tidak hanya sekedar ritual magis yang dijalankan turun temurun, tetapi juga memiliki nilai-nilai kehidupan berupa nilai ekonomis, budaya, sosial, dan seni yang membentuk solidaritas sosial. Tetapi terdapat potensi konflik sebagai akibat pertentangan dari agama kontemporer dengan kepercayaan setempat. Abstract In the research relating to Beliatn Sentiu, a lot of factors emerge that form the process of harmonization with the locals that ensures the existence of said rituals in the modern world. This research aims to provide a general understanding of the socio-cultural situation of the Dayak Benuaq pertaining to Beliatn Sentiu to minimize and mitigate conflicts within the Dayak Benuaq society. Using a qualitative and descriptive approach in describing the situations pertaining to Beliatn Sentiu, observation, literature review, and interviews are used to answer the relevance of Beliatn Sentiu in the Dayak Benuaq community, how Beliatn Sentiu harmonized with itAos social surrounding, and to describe the procedures of Beliatn Sentiu. Beliatn Sentiu is still very much relevant in the life of the Dayak Benuaq community due to the religious belief of the Dayak Benuaq, the individual push to be healed from ailments by any way necessary, and the lack of access to healthcare facilities in certain areas. Beliatn Sentiu isnAot only a ritual that is run by many generations, but it also have an intrisict value which form a community together like social, cultural, economic, and artistic value. Although thereAos a conflict potential due to a clash between religion and the traditional belief. PENDAHULUAN Di tengah gempuran modernisasi, kepercayaan terhadap pengobatan alternatif seperti masih bertahan hingga sekarang. Salah satunya adalah ritus Beliatn bawo yang cukup sering dilaksanakan di Kecamatan Barong Tongkok. Kabupaten Kutai Barat Alam pemikiran masyarakat Dayak Benuaq masih sarat dengan perihal-perihal mistis membuka jalan bagi pelaksanaan ritual-ritual seperti ini (Sebastianus, 2. dan juga fenomena pengobatan Ida Dayak. Namun fenomena ini tidak terbatas pada suku Dayak Benuaq saja, melainkan dapat dilihat juga pada ritual belian Sasak pada suku Sasak di A2023 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons License Cultural Diversity: Jurnal Sosial dan Budaya is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License . ttps://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Firs Marcello Ahimsa Hayamaputra et al. Cultural Diversity Jurnal Sosial dan Budaya Vol. No. , 13-22 http://dx. org/10. 30983/it. Cultural Diversity: Jurnal Sosial dan Budaya e-ISSN: x-x p-ISSN: x-x Nusa Tenggara Barat (Yuliatna. Wijayanti. Syuhada, 2. Di Sulawesi Selatan fenomena ini juga terlihat dalam ritual Assongka Bala dalam masyarakat Bugis-Makassar (Rijal. Syamsidar. Badollahi, 2. Terlihat bahwa fenomena pengobatan alternatif yang berakar dari kebudayaan tradisional merupakan fenomena nasional dan tidak terbatas pada etnis tertentu. Pemfokusan pembahasan kepada suku Dayak menjadi menarik mengingat masyarakat Dayak merupakan salah satu kelompok yang termarjinalkan saat masa kolonial hingga orde baru yang menggerogoti gaya hidup masyarakat suku Dayak di segala aspek kehidupan terutama kepercayaan suku Dayak dan ritual-ritual yang berkaitan dengan kepercayaan tersebut seperti ritual Beliatn. Dari pengamatan penulis, bekas dari perlakuan diskriminatif tersebut masih terlihat dalam beberapa aspek kehidupan masyarakat khususnya di bidang religi yang menjadi potensi konflik sebagai akibat dari benturan antara kepercayaan tradisional dengan agama resmi yang ada di Indonesia terutama pada ritus Beliatn. Kedekatan masyarakat Dayak dengan hal-hal mistis tidak lepas dari keyakinan yang dimiliki oleh suku Dayak yang erat kaitannya dengan magic. Kedekatan antara keyakinan dan magic yang ada pada suku Dayak Benuaq terlihat jelas dalam ritual Beliatn sebagai sarana pengobatan alternatif. Beliatn sendiri memiliki berbagai macam jenis, dan salah satu yang masih cukup sering dilakukan adalah Beliatn Sentiu. Beliatn Sentiu sendiri terdiri dari dua kata yaitu Beliatn yang berarti berpantang, dan Sentiu yang berarti penerawangan. Dengan demikian Beliatn Sentiu dapat didefinisikan sebagai ritual pengobatan dengan berpantang dan menerawang jenis dan sumber penyakit untuk selanjutnya disembuhkan (Emmanuel, 2. Kegiatan pendukung yang turut menyertai ritual Beliatn Sentiu turut membentuk solidaritas Ritual ini sejatinya memiliki unsur gotong royong, kebersamaan, dan kesatuan antar masyarakat suku Dayak Benuaq karena kegiatan ini dihadiri dan diikuti oleh banyak orang sebagai perayaan upacara adat suku Dayak Benuaq. Masyarakat suku Dayak Benuaq meyakini bahwa ritual Beliatn Sentiu mampu menghindari mereka dari segala musibah dan marabahaya, keyakinan inilah yang membuat mereka menjadi antusias ketika akan diadakannya ritual tersebut. Jika dilihat makna simboliknya dari salah satu sisi pertunjukan upacara ini, yaitu ketika pengiringan musik kelentangan yang memiliki arti keselarasan kehidupan sosial masyarakat. Hal tersebut dikatakan memiliki keselarasan karena mampu menghidupkan lambang identitas kelompok yang memiliki hubungan dengan leluhur masyarakat Dayak Benuaq (Eli Irawati, 2. Pentingnya upacara Beliatn Sentiu ini tentu karena keinginan dari masyarakat untuk sembuh dan terhindar dari penyakit, tetapi ada hal lain yang membuat masyarakat menghadiri upacara tersebut, yaitu karena adanya rasa toleransi, rasa ingin tahu dan mempelajari, hubungan kekerabatan, dan rasa empati menjenguk orang sakit. Faktor Ae faktor tersebut yang mampu membangun solidaritas masyarakat di lingkungan suku Dayak Benuaq. Tidak hanya itu, prosesi upacara Belian yang dilakukan di rumah adat suku Dayak Benuaq tidak semata Ae mata tanpa alasan. Rumah tempat tinggal masyarakat Dayak yang berbentuk rumah panjang memiliki makna atau simbol kekeluargaan bagi masyarakat Dayak. Jadi, ketika akan dilakukannya ritual tersebut di salah satu rumah, semua keluarga penghuni rumah dan seluruh lapisan masyarakat Dayak yang bermukim di sana turut ikut membantu dan bergotong royong menyiapkan peralatan serta perlengkapan ritual Beliatn Sentiu karena tidak dapat dipungkiri bahwa manusia akan melakukan aktivitas untuk memenuhi kehidupannya sehari Ae hari. Besarnya upacara Beliatn Sentiu ini membuat masyarakat hidup dengan saling memenuhi antarmakhluk dan antarmanusia (Setya Ariani, 2. http://dx. org/10. 30983/it. 14 | P a g e Firs Marcello Ahimsa Hayamaputra et al. Cultural Diversity Jurnal Sosial dan Budaya Vol. No. , 13-22 http://dx. org/10. 30983/it. Cultural Diversity: Jurnal Sosial dan Budaya e-ISSN: x-x p-ISSN: x-x Sama halnya di zaman sekarang. Beliatn Sentiu juga masih menjadi sarana pembentukan solidaritas bagi masyarakat suku Dayak Benuaq. Tarian Ae tarian yang ada dalam prosesi upacara Beliatn Sentiu tidak lagi hanya bagian dari upacara yang bersifat magis, tetapi juga digunakan sebagai tarian Ae tarian di acara festival dan acara resmi pemerintahan. Dengan adanya fenomena tersebut dapat membuat pandangan dan perspektif masyarakat tentang suku Dayak Benuaq merupakan suku yang kental akan kebudayaannya karena kebersamaan, keselarasan, dan kekerabatannya yang kuat. Fakta lainnya, bahwa saat ini pemain alat Ae alat musik yang mengiringi upacara Beliatn Sentiu tidak lagi hanya dari masyarakat biasa setempat, melainkan dari anak Ae anak sekolah SMP/SMA di daerah pemukiman itulah yang dipanggil untuk turut berpartisipasi membantu berjalannya upacara Beliatn Sentiu. Hal Ae hal tersebut yang mengindikasi masih adanya keberadaan Beliatn Sentiu di zaman modern. Dari serangkaian fenomena yang telah disampaikan, terdapat indikasi bahwa Beliatn Sentiu membentuk harmonisasi yang cukup signifikan di masyarakat Dayak Benuaq. Penelitian mengenai ritual Beliatn sendiri telah banyak dilakukan di masyarakat Kabupaten Kutai Barat terutama penelitian yang menguraikan makna-makna yang terdapat di dalam Beliatn itu sendiri. Pembahasan mengenai relevansi dan harmonisasi Beliatn Sentiu lebih serta prosesi Beliatn Sentiu lebih sedikit apabila dibanding dengan penelitian yang membahas tentang makna yang terkandung dalam Beliatn Sentiu. Maka dari itu, fokus penelitian ini akan membahas tentang relevansi dan harmonisasi Beliatn Sentiu di tengah kehidupan masyarakat Dayak Benuaq di dunia modern disertai dengan pembahsan mengenai jalannya Beliatn Sentiu. Penelusuran mengenai kondisi ritual masyarakat Dayak Benuaq seperti Beliatn Sentiu akan menemukan faktor-faktor yang berkontribusi dalam menjaga eksistensi ritual serupa di kehidupan masyarakat Dayak Benuaq. Selain itu, pengungkapan faktor-faktor yang membentuk harmonisasi ritual serupa dengan Beliatn Sentiu akan membantu dalam mitigasi dan pencegahan konflik yang mungkin timbul sebagai akibat dari tidak mulusnya harmonisasi yang terjadi. METODE Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif yang menjelaskan tentang mengapa ritual Beliatn Sentiu masih relevan di tengah dunia modern dan juga bagaimana masyarakat memandang Beliatn Sentiu dan membentuk harmonisasi di dalam lingkungan sosialnya. Data primer diperoleh dari empat narasumber yang diperoleh melalui purposive sampling dan diwawancarai secara daring berdasarkan pedoman wawancara yang telah dirumuskan sebelumnya dengan komposisi narasumber satu pamong budaya, satu akademisi, dan 2 masyarakat yang berdomisili di Kutai Barat dan juga observasi yang dilakukan dengan melihat fenomena secara daring dan dari pengalaman peneliti sebelumnya ketika berada di lapangan secara langsing. Data sekunder yang digunakan berupa buku dan artikel yang berkaitan dengan topik yang dibahas pada penelitian ini. Teknik analisis data menggunakan model analisis Miles dan Huberman dengan langkah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Reduksi data dimulai dengan mengategorikan semua data primer baik sekunder yang telah dikumpulkan sebelumnya berdasarkan rumusan masalah yang telah dibuat sebelumnya. Penyajian data disusun dengan menggunakan data yang telah direduksi terlebih dahulu dalam bentuk narasi dengan mengaitkan data-data yang terkumpul dengan rumusan masalah yang ada http://dx. org/10. 30983/it. 15 | P a g e Firs Marcello Ahimsa Hayamaputra et al. Cultural Diversity Jurnal Sosial dan Budaya Vol. No. , 13-22 http://dx. org/10. 30983/it. Cultural Diversity: Jurnal Sosial dan Budaya e-ISSN: x-x p-ISSN: x-x HASIL DAN PEMBAHASAN Tata Laksana Beliatn Sentiu Beliatn merupakan salah satu upacara atau ritual pengobatan tradisional dengan cara berpantang. Beliatn Sentiu sendiri berasal dari dua kata, yaitu Beliatn yang artinya berpantang dan Sentiu yang artinya penerawangan. Jadi. Beliatn Sentiu adalah ritual pengobatan dengan cara berpantang dan menerawang jenis serta sumber penyakit untuk selanjutnya disembuhkan. Ritual ini digunakan untuk pemulihan atau penyembuhan orang sakit, hal ini biasa dilakukan orang Dayak di Kalimantan, seringnya oleh Dayak Benuaq dan Dayak Tonyooi (Tunjun. sebagai pengobatan alternatif. Dalam hal ini, tipe Ae tipe Beliatn sebenarnya ada banyak, di antaranya: Beliatn pahuq. Beliatn benuaq. Beliatn tonyooi. Beliatn pariiq, dan Beliatn bawo. Setiap Beliatn memiliki cara ritualnya masing-masing. Jika pada Beliatn bawo menggunakan bahasa bawo (Dayak Luangaa. , berbeda dengan Beliatn Sentiu memakai bahasa Kutai yang telah dipengaruhi bahasa Melayu dan dicampur juga menggunakan bahasa Benuaq. Gambar 1. Pelaksanaan Beliatn Sentiu (Sumber: Buku Ritual Beliatn Sentiu Kutai Bara. Sebelum memulai Beliatn jenis apapun, terlebih dahulu dilaksanakan ngentas yaitu proses penerawangan dan penyembuhan awal sebelum berlanjut ke Beliatn. Apabila pasien sembuh saat ngentas. Beliatn tidak dilaksanakan. Namun apabila tidak sembuh, ngentas kemudian berlanjut ke tipe Beliatn tertentu yang ditetapkan saat ngentas. Jika berlanjut ke Beliatn Sentiu, proses penyembuhan dimulai dengan ngejakaat. Terdapat dua jenis ngejakaat yaitu ngejakaat entaaq yang lebih sederhana dan ngejakaat encaak yang lebih kompleks dan perlu mencapai Benua Marak Marai. Urutan proses ngejakaat, dimulai, dengan ngejakaat entaaq dan berlanjut ke ngejakaat encaak apabila pasien belum Ngejakaat encaak juga bisa langsung dilakukan setelah ngentas. Proses penyembuhan dalam setiap prosesi dinamakan bekawaat. Bekawaat dilakukan dalam kondisi Pemeliatn sedang dalam trance. Dalam kondisi ini. Pemeliatn berperan sebagai host dari roh-roh yang telah dikumpulkan dalam perjalanan melewati berbagai macam Benua. Bekawaat dilakukan dengan gerakan berputar layaknya gasing oleh Pemeliatn. Setelah itu. Pemeliatn kemudian bergerak mendekati pasien dan menghisap bagian tubuh pasien yang dipandang sebagai sumber penyakit. Penghisapan ini adalah simbolisme penarikan keluar penyakit dari tubuh Apabila penyakit tidak kunjung sembuh, maka Beliatn Sentiu berlanjut kepada dasuq yaitu proses penyembuhan yang lebih intens daripada ngejakaat. Dalam dasuq, bekawaat tetap dilakukan. Terdapat tuturan tambahan yaitu pempaankng dan juga perlengkapan tambahan untuk melaksanakan dasuq sesuai tingkatan dasuq yang dilalui. Dasuq harus dilaksanakan apabila pasien ingin sembuh. http://dx. org/10. 30983/it. 16 | P a g e Firs Marcello Ahimsa Hayamaputra et al. Cultural Diversity Jurnal Sosial dan Budaya Vol. No. , 13-22 http://dx. org/10. 30983/it. Cultural Diversity: Jurnal Sosial dan Budaya e-ISSN: x-x p-ISSN: x-x Apabila tuan rumah tidak mampu untuk melaksanakan dasuq dengan segera, maka tuan rumah harus membentuk perjanjian dengan roh-roh penyembuh yang dinamakan samaat sahut payat pantai untuk melaksanakan dasuq di lain waktu dalam jangka waktu yang dekat. Kegiatan perjanjian ini dimakan nyolukng samaat atau nyolukng payat. Terdapat beberapa pihak yang terlibat dalam prosesi Beliatn Sentiu, pihak-pihak ini Bernama: Pawang dalam ritual Beliatn Sentiu yang biasa disebut dengan Pemeliatn Sentiu. Ketika ritual Beliatn Sentiu ini berlangsung, orang yang bertugas menjalankan ritual atau yang menyembuhkan orang sakit tidak hanya satu, tetapi lebih dari satu, bisa sampai delapan Maka dari itu dibutuhkan pemimpin dalam ritual tersebut. Pemimpin ini disebut Guruuq atau Sentuar dan Pemeliatn yang bukan sebagai pemimpin disebut Perajiiq atau Penuing. Tidak hanya orang yang menjalankan ritual penyembuhan, orang yang disembuhkan atau pasien dalam prosesi ritual juga memiliki penyebutan, yaitu Lakiiq Yang Peneliatn. Ada pun pelayan sebagai orang yang membantu prosesi ritual, pelayan ini disebut Pengegugu. Pengegugu bisa lebih dari satu orang dan ada pemimpinnya juga yang disebut Tempuaq Pengegugu. Dalam ritual Beliatn Sentiu juga terdapat pemain musik yang mengiringi Pemeliatn menari saat ritual tersebut dilaksanakan. Pemain musik di sini disebut Peneteet atau Penuung. Peneteet atau Penuung ini memainkan beberapa alat musik yang berfungsi sebagai melodi, di Satu set kelentangan, kelentangan ini fungsinya sebagai melodi komando yang memandu dan harus diikuti oleh alat musik lain. Beberapa gendang atau gimar, orang Dayak Benuaq menyebut alat ini biasanya dibuat dari bahan kayu harum perau atau orang Dayak Tonyooi menyebut ini dibuat dari perewaliq. Alasan digunakannya kayu perau atau perewaliq karena kayu ini dipercaya mampu mengusir iblis atau setan pengganggu manusia yang menyebabkan sakit. Ditambah dengan alat musik lainya berupa satu buah gong dan satu pasang sompeekng. Tidak hanya alat musik, tetapi jenis irama dalam memainkan alat musik pada ritual Beliatn Sentiu juga memiliki aturan, yaitu harus dengan 26 jenis irama musik dimainkan. Irama musik pertama dan terakhir harus berasal dari musik Sentiu karena sebagai pembuka dan penutup. Terdapat berbagai macam Benua yang merupakan urutan tatanan perjalanan spiritual Pemeliatn mengumpulkan roh Ae roh untuk menyembuhkan pasien. Benua ini dijadikan sebagai nama dari beberapa musik di Beliatn Sentiu, di antaranya : Benua Ujung Jelangan sebagai musik Ujung Jelangan. Benua Ujung Mangur sebagai musik Ujung Mangur. Benua Rengalon Panjang sebagai musik Rengalon Panjang. Benua Perencilang jadi musik Neriah Jadi. Benua Pinang Maoq sebagai musik Pinang Maoq. Benua Marak Marai sebagai musik Raja Raksasa. Ada pun saat di beberapa bagian proses Beliatn Sentiu terdapat ketentuan musik Ae musik. Seperti saat nijaq jempatan, musik yang digunakan adalah Legag Lego Tenang Teno. Berbeda ketika proses Bekawaat, setidaknya ada 3 jenis musik, yaitu musik raja bengkarukng kuat, musik sidin sentiri aji laki berani, dan musik maq ini maq ana bermain kira-kira. Ketika Bedasuq pada kegiatan nyemaah balai, terdapat delapan jenis musik berurutan, yaitu siabat baru siti mayang mengurai, siabat lawas lama, tak jotukng ngeke rore, raja tengkese, bengkalang/domaaq, raja gaib, semur, dan topeng raja Lain halnya saat prosesi dasuq singkui, walaupun sama Ae sama bagian dari Bedasuq, musik yang http://dx. org/10. 30983/it. 17 | P a g e Firs Marcello Ahimsa Hayamaputra et al. Cultural Diversity Jurnal Sosial dan Budaya Vol. No. , 13-22 http://dx. org/10. 30983/it. Cultural Diversity: Jurnal Sosial dan Budaya e-ISSN: x-x p-ISSN: x-x digunakannya berbeda, ketika dasuq singkui, musik yang digunakan adalah musik raja banci dan musik raja remaung. Jika semua musik dalam Beliatn Sentiu dikaitkan dengan durasi, maka durasi yang dibutuhkan tidak ada aturannya, tetapi tergantung pada tingkatan upacaranya, mulai dari ngejakaat atau ngawaat nganaam, kemudian bedasuq besingkui, dan terakhir nyolukng samaat sahut payat Sama halnya dengan durasi dari keseluruhan proses ritual Beliatn Sentiu tidak ada ketentuannya, tetapi durasi paling singkatnya adalah satu malam dan bisa sampai berminggu Ae minggu bahkan bulan Ae bulanan. Meskipun tidak ada ketentuan durasi, tetapi prosesi Beliatn hitungannya tidak boleh ganjil, tidak boleh berdasarkan angka tujuh karena menurut kepercayaan tradisional angka tujuh sama dengan angka kematian, contohnya 1x7 hari, 2x7 hari itu tidak boleh. Jadi, harus berdasarkan angka kehidupan dalam masyarakat Benuaq misalnya angka sembilan, 1x9 hari, 2x9 hari. Dilakukannya pun selalu malam hari dan tidak bisa siang. Gambar 2. Proses Bekawaat (Sumber: Buku Ritual Beliatn Sentiu Kutai Bara. Disamping aturan musik Ae musik di atas, terdapat pula aturan mengenai perlengkapan balai-balai atau biasa disebut ruyaq rencaatn dalam Beliatn Sentiu. Balai ini merupakan tempat atau rumah singgahnya roh yang dipanggil Pemeliatn. Balai ini terbagi menjadi 3 kelompok yang disesuaikan dengan level upacara Beliatn, yaitu balai di depan rumah terdiri dari kerewili jadi, serampoq lama, dan geredu Balai di dalam rumah terdiri dari setia malam, lempukut jadi, perentomaan, balai tarsan, mencigit muda, mencigit kuning jadi, mencigit kamar bola, dan balai betukng. Terakhir, balai di luar rumah terdiri dari balai ebook, balai 40, balai ebook puncuq, balai agukng, balai biowo, balai banci, balai bengkarukng bawo, balai bengkiring ari, balai burung polokng, balai bengkanaaq, balai mulaakng dan lain-lain. Relevansi Beliatn Sentiu di Masa Modern Terdapat beberapa faktor yang membuat Beliatn Sentiu masih relevan di zaman modern. Pertama, ontologi masyarakat Dayak Benuaq mengenai realita yang memahami realita sebagai realita fisik dan non-fisik. Kedua. Keinginan internal dari individu yang menderita penyakit untuk sembuh dari penyakitnya apabila pengobatan konvensional tidak dapat menyembuhkan penyakit yang dideritanya dengan beralih ke pengobatan alternatif seperti Beliatn. Masyarakat Dayak Benuaq melihat realita yang terdiri dari dua hal yaitu realita fisik dan non-fisik. Hubungan antara realita fisik dan non-fisik dalam masyarakat Dayak Benuaq sangat penting dalam memahami mengapa ritual-ritual tradisional dan kepercayaan mistis lainnya masih sangat melekat di kalangan masyarakat Dayak Benuaq. Masyarakat Dayak Benuaq memercayai bahwa mereka hidup http://dx. org/10. 30983/it. 18 | P a g e Firs Marcello Ahimsa Hayamaputra et al. Cultural Diversity Jurnal Sosial dan Budaya Vol. No. , 13-22 http://dx. org/10. 30983/it. Cultural Diversity: Jurnal Sosial dan Budaya e-ISSN: x-x p-ISSN: x-x dengan kekuatan dan sosok-sosok mistis secara berdampingan. Di sisi penyakit dan kesehatan, kekuatan-kekuatan mistis ini dapat memengaruhi kesehatan seseorang. Penyakit datang tidak hanya dari penyakit yang terdeteksi secara medis, tetapi juga bisa berasal dari hal-hal mistis dan kepercayaan ini masih terlihat jelas pada masyarakat Dayak Benuaq di Kabupaten Kutai Barat. Alam pikiran masyarakat Dayak Benuaq hingga kini sangat dipengaruhi oleh perihal mistis dan Keberadaan dunia mistis masih melekat ketat dengan kehidupan masyarakat Dayak Benuaq bahkan pada daerah urban di Kabupaten Kutai Barat. Pengobatan alternatif masih banyak dipraktikkan oleh masyarakat Dayak Benuaq mulai dari pengobatan sederhana menggunakan air mineral yang didoakan hingga ritual yang lebih kompleks seperti Beliatn. Kedekatan masyarakat Dayak Benuaq dengan dunia mistis juga terlihat dalam aspek kehidupan masyarakat lainnya. Tempat-tempat mistis masih dihormati dan yang dianggap berbahaya diwaspadai oleh masyarakat Dayak Benuaq. Masyarakat Dayak Benuaq di Kutai Barat masih memegang teguh bahwa mereka hidup berdampingan dengan dunia mistis dan hal ini tercerminkan dalam pelaksanaan Beliatn Sentiu yang telah dijelaskan sebelumnya. Pengobatan-pengobatan alternatif seperti Beliatn yang memanfaatkan kekuatan magis masih lumrah dilakukan di kalangan Masyarakat Benuaq khususnya di kabupaten Kutai Barat. Secara umum. Beliatn masih sering dilakukan di kecamatan Barong Tongkok dan sekitarnya. Beliatn yang paling sering dilakukan adalah Beliatn bawo. Hal ini dikarenakan terdapat proses ngentas yang merupakan proses penerawangan awal sebelum melakukan yang dilakukan untuk mengetahui jenis Beliatn apa yang cocok dilakukan untuk menangani pasien yang sedang sakit. Walaupun demikian, tidak terlihat adanya perbedaan persepsi masyarakat terhadap pelaksanaan jenis Beliatn yang satu dengan jenis Beliatn lainnya sehingga Beliatn Sentiu masih relevan di mata masyarakat sama dengan jenis Beliatn lainnya. Frekuensi pelaksanaan ritual Beliatn pada umumnya berada di rentang satu hingga dua kali di satu daerah dalam waktu satu bulan. Semakin lama berjalannya sebuah ritual Beliatn, semakin meriah dan hidup aktivitas masyarakat di sekitarnya. Saat prosesi Beliatn Sentiu dilaksanakan, masyarakat lain . -6 oran. yang memiliki keluhan kesehatan dapat membersamai jalannya prosesi Beliatn Sentiu. Hal ini dikarenakan pelaksanaan ritual Beliatn Sentiu membutuhkan materi yang cukup banyak sehingga masyarakat merasa tidak setimpal apabila Beliatn Sentiu dilaksanakan demi masalah kesehatan yang Terlihat juga beberapa benturan antara Beliatn Sentiu dengan dunia modern. Di kalangan pemuda, ritual tradisional seperti Beliatn mulai kurang diminati. Namun terlihat sebuah fenomena baru muncul dimana kelompok musik pemuda digandeng untuk menjadi pemain musik dalam ritual Beliatn. Fenomena ini memiliki potensi yang baik untuk menjaga kelestarian ritual tradisional. Selain itu juga, peralatan Beliatn Sentiu yang dibutuhkan dari alam berpotensi untuk menyulitkan pelaksanaan ritual Beliatn ke depannya. Alih fungsi lahan hutan menjadi area pertambangan khususnya ataupun area lain membuat masyarakat semakin sulit untuk mengumpulkan tanaman-tanaman yang diperlukan untuk melaksanakan ritual Beliatn. Saat ditulisnya artikel ini, pergeseran penggunaan tanamaan sebagai akibat dari adaptasi masyarakat dengan keadaan lingkungan mereka belum terlihat. Namun fenomena ini layak disampaikan sebagai bahan untuk penelitian lebih lanjut. Keinginan internal dari individu untuk sembuh dari penyakit menjadi faktor penting yang terus mendorong eksistensi pengobatan alternatif seperti Beliatn Sentiu di tengah perkembangan medis. Sebelum meminta untuk melakukan Beliatn Sentiu, masyarakat terlebih dahulu memanfaatkan sarana medis modern yang ada. Apabila mereka tetap tidak sembuh setelah melewati proses pengobatan modern, maka masyarakat beralih ke pengobatan alternatif seperti melaksanakan Beliatn Sentiu. Pelayanan kesehatan yang kurang maksimal dan juga akses menuju fasilitas kesehatan yang sulit http://dx. org/10. 30983/it. 19 | P a g e Firs Marcello Ahimsa Hayamaputra et al. Cultural Diversity Jurnal Sosial dan Budaya Vol. No. , 13-22 http://dx. org/10. 30983/it. Cultural Diversity: Jurnal Sosial dan Budaya e-ISSN: x-x p-ISSN: x-x (Yolanda, 2. , terutama di daerah yang terisolir, juga menjadi faktor mengapa Beliatn Sentiu masih banyak dilakukan. Harmonisasi Beliatn Sentiu di tengah masyarakat Sebuah ritual tidak terlepas dari konteks sosio-kultural ritual itu dilaksanakan. Eksistensi Beliatn Sentiu hingga sekarang tidak bisa dilepaskan dari persepsi dan penerimaan masyarakat terhadap Beliatn Sentiu. Secara umum, masyarakat masih memandang Beliatn Sentiu secara positif karena di dalamnya mengandung beberapa nilai yang menjadi penting di masyarakat dan penting bagi keberlangsungan Beliatn Sentiu. Namun, terdapat beberapa fenomena yang menunjukkan bahwa terdapat potensi konflik di tingkat individu yang dapat menimbulkan ketegangan sebagai akibat dari pertentangan antara agen keagamaan dan kebudayaan yang ada. Ritual Beliatn pada umumnya menjadi pusat aktivitas masyarakat terutama Beliatn yang memakan waktu dan materi dalam jumlah besar. Di sisi ekonomi, ritual Beliatn Sentiu menghidupkan aktivitas ekonomi masyarakat. Pengumpulan materi yang besar dan banyak dan membutuhkan waktu berharihari dan gotong royong masyarakat. Setelah Beliatn Sentiu berjalan, gotong royong masyarakat masih diperlukan dalam pelaksananaannya. Beliatn Sentiu menawarkan sebuah pengalaman yang unik bagi mereka yang menyaksikannya secara langsung. Dengan demikian, menyebarluaskan dan memikat masyarakat luas untuk menyaksikannya. Berjalannya Beliatn Sentiu membuka kesempatan ekonomis. Perjudian dalam skala kecil tak jarang turut menyertai jalannya sebuah Beliatn. Adanya aktivitas lain yang menyelimuti Beliatn Sentiu membentuk solidaritas sosial di antara masyarakat sebagai akibat dari gotong royong yang ada dan interaksi yang dilakukan selama terjadinya Beliatn Sentiu. Gotong royong yang diperlukan seringkali melibatkan tidak hanya tuan rumah tetapi juga masyarakat sekitar. Fenomena ini membuka lebar ruang interaksi dari berbagai unsur masyarakat dan membangun hubungan satu sama lain. Terbukanya ruang interaksi ini juga berpotensi meningkatkan perspesi masyarakat secara positif terhadap Beliatn Sentiu. Dengan demikian, masyarakat dapat menerima Beliatn Sentiu dengan baik. Keunikan Beliatn Sentiu juga menjadi daya tarik tersendiri. Beliatn Sentiu berpotensi untuk menjadi objek wisata. Beberapa aspek dari Beliatn Sentiu seperti tari-tarian telah diambil sebagai tari-tarian yang ditampilkan dalam acara-acara tertentu. Potensi yang dimiliki oleh Beliatn secara umum dan Beliatn Sentiu secara khusus dapat dijadikan modal dalam menjaga kelestarian tradisi oral yang seringkali sulit Kondisi demografi Kutai Barat menimbulkan potensi konflik sebagai akibat dari benturan berbagai macam latar belakang yang berbeda. Hal ini terlihat jelas dengan benturan beberapa Gereja-Gereja Protestan. Di dalam khotbah yang disampaikan di beberapa Gereja Protestan untuk tidak melakukan dan mengikuti Beliatn dikarenakan Beliatn Sentiu dianggap menyembah berhala. Di Gereja Katolik, khotbah semacam itu tidak dilakukan. Secara umum, di daerah yang dominan beragama Protestan. Beliatn Sentiu jarang dilakukan dibanding desa yang dominan beragama Katolik dikarenakan perbedaan teologi yang mengarah kepada pembentukan sentimen negatif di desa yang dominan beragama Protestan. Masyarakat yang beragama Islam umumnya tidak terlalu memperdulikan adanya Beliatn Sentiu dikarenakan masyarakat Islam umumnya adalah pendatang dan tidak berlatar suku Dayak. KESIMPULAN Beliatn Sentiu merupakan salah satu ritual pengobatan yang masih lumrah dilakukan oleh masyarakat Dayak Benuaq dan Tunjung di Kabupaten Kutai Barat. Alam pikiran masyarakat Dayak Benuaq yang melihat realita sebagai realita fisik dan non-fisik berperan dalam kontinuitas Beliatn Sentiu http://dx. org/10. 30983/it. 20 | P a g e Firs Marcello Ahimsa Hayamaputra et al. Cultural Diversity Jurnal Sosial dan Budaya Vol. No. , 13-22 http://dx. org/10. 30983/it. Cultural Diversity: Jurnal Sosial dan Budaya e-ISSN: x-x p-ISSN: x-x yang dapat mengobati penyakit dari dunia non-fisik. Keinginan masyarakat untuk sembuh dengan segala cara dan akses menuju fasilitas Kesehatan yang masih cukup sulit di beberapa daerah juga mendorong masyarakat Dayak untuk terus melakukan ritual ini. Terdapat potensi yang mengancam eksistensi Beliatn Sentiu yaitu alih fungsi lahan hutan dan juga regenerasi yang minim sebagai akibat dari tradisi oral. Penelitian lebih lanjut sebaiknya dilakukan untuk melihat dampak alih fungsi lahan terhadap pelaksanaan Beliatn Sentiul Di sisi regenerasi, modal sosial telah dimiliki dalam bentuk kelompok seni pemuda yang dapat digaet untuk terus melestarikan produk kebudayaan ini. Pelaksanaan Beliatn Sentiu menjadi pusat aktivitas masyarakat baik secara ekonomis maupun sosial. Semarak yang menyertai kegiatan ini seperti gotong royong dalam mengumpulkan dan melakukan Beliatn Sentiu menjadi modal yang efektif untuk membangun solidaritas sosial dan pandangan positif masyarakat terhadap Beliatn Sentiu. Namun, diperlukan langkah mitigasi dalam meredam potensi konflik sebagai akibat pertentangan antara agama dengan kebudayaan tradisional seperti Beliatn Sentiu. DAFTAR PUSTAKA