Room of Civil Society Development DOI: https://doi. org/10. 59110/rcsd. Volume 4 Issue 4. Year 2025 Sosialisasi Techno Parenting: Mewujudkan Pola Asuh Positif Era Digital di Desa Suanae Maria Magdalena Beatrice Sogen1*. Heryon Bernard Mbuik1. Viktorius Paskalis Feka1. Elisabet Beama1. Happy Auw1. Celine Onggong1. Demitrius Timu1 1Universitas Citra Bangsa. Kupang. Indonesia *Correspondence: beatricesogen11@gmail. ABSTRACT The rapid advancement of digital technology demands that parents adopt adaptive parenting strategies in response to the challenges of the digital era. However, many parents still lack digital literacy and do not fully understand their critical role in guiding childrenAos digital engagement. This community service program aimed to increase parentsAo awareness and capacity in implementing the Techno Parenting concept through educational and participatory approaches. The program was conducted in Suanae Village. Bima District, involving 45 participants, including parents, teachers, and local community leaders. The methods used included public education sessions, group discussions, technology use simulations, and pre- and post-activity The results showed significant improvement in parentsAo understanding of digital risks, the importance of open communication with children, and healthy and purposeful technology use. These findings reinforce the urgency of integrating local values and digital literacy to develop a reflective and contextual parenting model amid the ongoing digitalization of family life. Keywords: Digital Literacy. Digital Supervision. Family Education. Rural Community. Techno Parenting. ABSTRAK Perkembangan teknologi digital yang pesat menuntut orang tua untuk mengembangkan pola pengasuhan yang adaptif terhadap tantangan era digital. Namun, masih banyak orang tua yang memiliki literasi digital rendah dan belum memahami pentingnya peran aktif mereka dalam mendampingi anak di dunia maya. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kapasitas orang tua dalam menerapkan konsep Techno Parenting melalui pendekatan edukatif dan partisipatif. Kegiatan dilaksanakan di Desa Suanae. Kabupaten Bima, dengan melibatkan 45 peserta yang terdiri dari orang tua, guru, dan tokoh masyarakat. Metode yang digunakan meliputi sosialisasi, diskusi kelompok, simulasi penggunaan teknologi, serta evaluasi pre dan post. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman orang tua mengenai risiko digital, pentingnya komunikasi terbuka dengan anak, serta penggunaan teknologi secara sehat dan terarah. Temuan ini memperkuat urgensi integrasi nilai-nilai lokal dan literasi digital dalam membangun pola asuh yang reflektif dan kontekstual di tengah arus digitalisasi keluarga. Kata Kunci: Komunitas Pedesaan. Literasi Digital. Pengawasan Digital. Pendidikan Keluarga. Techno Parenting. Copyright A 2025 The Author. : This is an open-access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution ShareAlike 4. 0 International (CC BY-SA 4. Pendahuluan Perkembangan teknologi digital telah membawa dampak signifikan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, termasuk dalam pola pengasuhan anak. Orang tua kini menghadapi tantangan baru dalam membimbing anak-anak mereka di tengah maraknya penggunaan gawai, media sosial, dan internet. Yusuf et al. menekankan bahwa Volume 4 No 4: 598-610 Room of Civil Society Development penggunaan internet tanpa pendampingan orang tua dapat menimbulkan risiko serius terhadap perkembangan sosial dan emosional anak. Chatlina et al. menambahkan bahwa penggunaan teknologi tanpa pengawasan yang tepat dapat berdampak pada relasi orang tua-anak yang semakin renggang, sementara Aini dan Afrilia . menyoroti pentingnya literasi digital sebagai fondasi dalam membentuk praktik pengasuhan yang adaptif dan bertanggung jawab di era Society 5. Dalam konteks ini, banyak orang tua mengalami kesulitan dalam memahami dan mengendalikan perilaku anak yang dipengaruhi oleh interaksi dengan teknologi (Prameswari & Susanti, 2. Purba et al. juga mencatat bahwa sebagian besar keluarga belum memiliki strategi konkret dalam menghadapi dampak negatif teknologi, baik dari segi konten digital maupun intensitas penggunaan perangkat. Oleh karena itu, pola asuh yang responsif dan berbasis pemahaman digital menjadi sangat penting. Pola asuh merupakan fondasi penting dalam membentuk perilaku dan nilai-nilai anak sesuai dengan dinamika sosial dan perkembangan zaman. Kebutuhan akan pola asuh yang adaptif semakin mengemuka di tengah tantangan era digital yang kompleks, di mana anakanak terpapar berbagai bentuk informasi dan interaksi virtual sejak usia dini. Pengasuhan tanpa literasi digital yang memadai berisiko menimbulkan dampak negatif terhadap perkembangan sosial-emosional anak, terutama dalam konteks penggunaan internet dan media digital. Tingkat literasi digital orang tua juga berpengaruh terhadap cara mereka memandang dan mendampingi aktivitas digital anak, yang pada akhirnya membentuk praktik pengasuhan yang lebih reflektif dan partisipatif (Prihardini et al. , 2024. Mulya et al. Namun demikian, pola asuh tradisional yang masih banyak diterapkan, terutama di wilayah pedesaan, mulai menghadapi tantangan besar. Pramudita et al. menunjukkan bahwa pola pengasuhan berbasis keteladanan dan nilai-nilai lokal sering kali tidak siap menghadapi derasnya arus informasi digital. Anak-anak semakin mudah mengakses konten yang tidak sesuai usia, menjalin relasi virtual tanpa pengawasan, dan mengembangkan ketergantungan terhadap gawai. Ketimpangan ini diperkuat oleh minimnya kesiapan orang tua dalam melakukan pendampingan berbasis nilai dan komunikasi terbuka (Atmojo & Sakina, 2022. Prihardini et al. , 2. Fenomena tersebut tampak jelas di Desa Suanae. Kecamatan Miomafo Barat. Kabupaten Timor Tengah Utara. Berdasarkan hasil observasi awal, sebagian besar orang tua di desa ini masih memiliki tingkat literasi digital yang rendah. Hal ini disebabkan oleh terbatasnya akses pelatihan teknologi, rendahnya kepemilikan perangkat digital, dan ketergantungan pada pola pengasuhan turun-temurun (Sugiarti & Andyanto, 2022. Fitri et , 2. Akibatnya, anak-anak dibiarkan menggunakan teknologi secara bebas tanpa pengawasan yang memadai. Dalam menghadapi tantangan ini, dibutuhkan pendekatan baru yang tidak hanya menjawab kebutuhan zaman, tetapi juga menghargai nilai-nilai lokal. Salah satu pendekatan yang relevan adalah Techno Parenting, yaitu pola asuh yang mengintegrasikan pengasuhan tradisional dengan kecakapan literasi digital. Menurut Gui . , pendekatan ini mendorong orang tua untuk hadir secara aktif dalam kehidupan digital anak, tanpa mengabaikan identitas budaya keluarga. Dengan Techno Parenting, orang tua diharapkan mampu menjadi mitra yang kritis, reflektif, dan suportif dalam membentuk karakter anak di era digital. Oleh karena itu, penerapan pendekatan Techno Parenting dalam kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan literasi digital keluarga dan membentuk pola asuh Volume 4 No 4: 598-610 Room of Civil Society Development yang adaptif terhadap dinamika era digital, khususnya di wilayah pedesaan seperti Desa Suanae. Metode Pelaksanaan 1 Lokasi. Waktu, dan Sasaran Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan pada tanggal 22 Februari 2025 di Desa Suanae. Kecamatan Miomafo Barat. Kabupaten Timor Tengah Utara. Provinsi Nusa Tenggara Timur. Desa ini dipilih karena memiliki karakteristik masyarakat yang masih mempertahankan pola asuh tradisional serta tingkat literasi digital yang rendah, khususnya dalam hal pengasuhan Kegiatan ini dilakukan secara tatap muka di balai desa dan melibatkan 45 peserta, terdiri dari 39 orang tua, 4 guru, dan 2 tokoh masyarakat. Meskipun dilaksanakan dalam satu hari, kegiatan dirancang secara intensif melalui sesi terpadu yang mencakup penyampaian materi, diskusi kelompok, simulasi, dan refleksi. Seluruh rangkaian disusun untuk memaksimalkan interaksi dan partisipasi peserta, sementara evaluasi dilakukan segera setelah kegiatan berakhir guna menangkap dampak jangka pendek secara optimal. Pendekatan ini memungkinkan munculnya perubahan pemahaman dan sikap yang cukup mendalam meskipun waktu pelaksanaan relatif singkat. 2 Pendekatan dan Strategi Pelaksanaan Kegiatan sosialisasi ini dilaksanakan dengan menggabungkan pendekatan edukatif dan partisipatif. Pendekatan edukatif bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran orang tua mengenai pola asuh digital melalui penyampaian materi, diskusi interaktif, dan simulasi penggunaan teknologi. Pendekatan semacam ini terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman orang tua terhadap tantangan pengasuhan di era digital, sekaligus membentuk keterampilan reflektif dalam menghadapi dinamika perilaku anak (Monalisa. Nomiko, & Ekawati, 2. Sementara itu, pendekatan partisipatif memberikan ruang bagi peserta untuk berbagi pengalaman, merefleksikan praktik pengasuhan yang dijalani, serta menyusun strategi yang relevan dengan kondisi sosial dan budaya lokal. Strategi kolaboratif ini sejalan dengan model edukasi pengasuhan positif yang menempatkan orang tua sebagai subjek aktif dalam pembentukan budaya digital keluarga (Zakiah. Akbar, & Mauna, 2. Seluruh strategi pelaksanaan disusun secara kolaboratif agar kegiatan tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga transformatif dan kontekstual, sesuai dengan kebutuhan nyata peserta di lapangan. 3 Instrumen dan Teknik Evaluasi Evaluasi kegiatan dilakukan secara formatif dan sumatif dengan menggunakan angket pre-test dan post-test yang terdiri dari sepuluh pernyataan berbasis skala Likert 1Ae5. Angket ini dirancang untuk mengukur perubahan pemahaman peserta terhadap tiga aspek utama, yaitu risiko digital, strategi pendampingan, dan etika bermedia dalam keluarga. Validitas isi angket telah ditelaah melalui expert judgement oleh dua dosen yang memiliki keahlian di bidang pendidikan teknologi dan parenting. Selain evaluasi kuantitatif, dilakukan pula evaluasi kualitatif melalui wawancara semi-terstruktur pada akhir kegiatan guna menggali lebih dalam perubahan sikap dan komitmen peserta terhadap pola asuh digital. 4 Alur Pelaksanaan Kegiatan Tahapan kegiatan dirancang secara sistematis dalam empat tahap utama sebagai Volume 4 No 4: 598-610 Room of Civil Society Development Identifikasi Masalah dan Kebutuhan Observasi dan wawancara awal dilakukan dengan tokoh masyarakat dan orang tua untuk mengidentifikasi pola pengasuhan yang berlaku, tingkat pemahaman digital, serta hambatan dalam penggunaan teknologi yang berdampak pada anak. Penyusunan Materi Sosialisasi Materi disusun berdasarkan temuan lapangan dengan fokus pada aspek berikut: Konsep dan prinsip Techno Parenting A Risiko dan tantangan digital . onten negatif, adiksi gadget, cyberbullyin. A Strategi pendampingan berbasis nilai-nilai keluarga A Etika digital dan penggunaan perangkat digital yang ramah anak Pelaksanaan Sosialisasi Kegiatan inti dilaksanakan melalui empat bentuk utama: Ceramah Interaktif: Penyampaian materi menggunakan media visual, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Diskusi Kelompok (FGD): Peserta berdiskusi dalam kelompok kecil untuk berbagi pengalaman dan menyusun solusi kontekstual. Simulasi Praktik: Pelatihan penggunaan fitur parental control. YouTube Kids, dan pencarian aman. Refleksi dan Komitmen: Penyusunan komitmen pengasuhan digital oleh masingmasing peserta berdasarkan hasil pembelajaran. Evaluasi dan Tindak Lanjut Evaluasi dilakukan melalui angket pre-test dan post-test serta wawancara akhir untuk menilai perubahan pemahaman dan sikap peserta. Tindak lanjut kegiatan mencakup: Pembentukan Forum Orang Tua Peduli Digital (FOPED) A Pelatihan kader Techno Parenting di setiap RT Integrasi literasi digital keluarga dalam kegiatan PKK dan posyandu Produksi dan distribusi media edukasi lokal . nfografik, booklet bergambar, dan video singkat berbahasa daera. Untuk memperjelas tahapan kegiatan secara visual, berikut disajikan diagram alir kegiatan pengabdian masyarakat: Volume 4 No 4: 598-610 Room of Civil Society Development Identifikasi Masalah dan Kebutuhan Penyusunan Materi Sosialisasi Pelaksanaan Kegiatan Evaluasi dan Tindak Lanjut Gambar 1. Gambar Diagram Alir Pengabdian Hasil dan Pembahasan 1 Kondisi Awal Literasi Digital dan Pola Asuh Orang Tua Kegiatan sosialisasi Techno Parenting yang dilaksanakan di Desa Suanae melibatkan 45 peserta yang terdiri dari 39 orang tua, 4 guru, dan 2 tokoh masyarakat. Berdasarkan evaluasi yang dilakukan sebelum kegiatan, sebanyak 74% orang tua masih belum memiliki pemahaman memadai tentang bagaimana teknologi memengaruhi tumbuh kembang anak. Pola asuh yang diterapkan cenderung bersifat tradisional dan represif, seperti melarang anak menggunakan gawai tanpa penjelasan atau pendampingan yang memadai, tanpa strategi pendampingan yang komunikatif dan edukatif. Kekhawatiran ini sejalan dengan temuan Bergert et al. yang menunjukkan bahwa penggunaan gawai yang tidak diarahkan secara positif seringkali menimbulkan kecemasan orang tua bahwa anak-anak mereka kehilangan pengalaman nyata dan kedekatan sosial dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, data menunjukkan bahwa 86% keluarga memiliki minimal satu gawai/hp di rumah dan 14% tidak memiliki perangkat digital. Latar belakang pendidikan orang tua pun beragam, dengan mayoritas berasal dari jenjang pendidikan dasarAi43% lulusan SD dan 26% lulusan SMPAiyang turut memengaruhi literasi digital mereka. Salah satu temuan penting adalah bahwa 73% anak menggunakan gawai setiap hari, sementara 21% anak mengakses gawai 3Ae5 kali seminggu, dan hanya 6% yang menggunakan kurang dari dua kali dalam seminggu. Rata-rata durasi penggunaan gawai berada pada kisaran 2Ae4 jam per hari, mayoritas tanpa pengawasan langsung dari orang tua. Situasi ini sejalan dengan temuan enol et al. yang menunjukkan bahwa kurangnya pendampingan orang tua dalam penggunaan gawai pada anak usia dini berdampak negatif pada perkembangan sosial dan emosional mereka. Volume 4 No 4: 598-610 Room of Civil Society Development Berdasarkan hasil survei awal terhadap peserta kegiatan, diperoleh data mengenai karakteristik dasar keluarga dan pola penggunaan gawai di lingkungan rumah. Informasi ini memberikan gambaran penting tentang tingkat kepemilikan perangkat digital, latar belakang pendidikan orang tua, serta frekuensi penggunaan gawai oleh anak. Kondisi ini menjadi dasar dalam merancang materi dan pendekatan yang digunakan selama kegiatan Rincian data tersebut disajikan dalam Tabel 1 berikut: Tabel 1. Data Awal Peserta Sosialisasi Techno Parenting di Desa Suanae Indikator Kategori/Keterangan Presentase Memiliki gawai / HP Kepemilikan gawai di Tidak memiliki perangkat Tidak tamat SD Tingkat Pendidikan Orang Tua SMP SMA Setiap hari Frekuensi penggunaan gawai oleh anak 3Ae5 kali dalam seminggu Kurang dari 2 kali dalam Pelaksanaan program pengabdian yang berfokus pada pengenalan konsep Techno Parenting mengungkap sejumlah dinamika sosial dan tantangan kultural dalam proses Berdasarkan interaksi langsung dengan peserta, ditemukan bahwa sebagian orang tua merasa khawatir dengan dampak negatif teknologi, namun tidak memiliki pengetahuan atau keterampilan untuk menyikapinya secara bijak dan proporsional. "Saya takut anak saya kecanduan HP, tapi saya juga tidak tahu bagaimana cara mengawasinya. Saya hanya bisa melarang tanpa tahu apa yang sebenarnya dia lihat. " (Wawancara dengan Ibu N, peserta sosialisasi, 22 Februari 2. Pernyataan ini mencerminkan keresahan umum di kalangan orang tua Desa Suanae. Mereka berada di tengah arus perkembangan teknologi, namun belum memiliki bekal literasi digital yang memadai untuk mendampingi anak dengan pendekatan yang tepat. Hal ini sejalan dengan temuan Dewi. Darmawan, dan Dalimunthe . yang menunjukkan bahwa kemampuan literasi digital orang tua berpengaruh besar terhadap pola penggunaan internet anak usia dini dan remaja di rumah. Dalam konteks yang lebih luas. Adigwe . juga menekankan bahwa keberhasilan praktik pengasuhan digital sangat bergantung pada kemampuan orang tua untuk menyesuaikan pendekatan mereka dengan dinamika sosial dan teknologi yang ada. Kesenjangan inilah yang menjadi latar belakang kuat perlunya pelaksanaan sosialisasi Techno Parenting, sebagai upaya membekali orang tua dengan wawasan, keterampilan, dan kesadaran baru agar mampu bertransformasi menjadi pendamping digital yang adaptif, kritis, dan reflektif dalam menghadapi tantangan era 2 Proses Sosialisasi Techno Parenting dan Respons Peserta Kegiatan sosialisasi ini dilaksanakan melalui pendekatan edukatif dan partisipatif yang meliputi ceramah interaktif, diskusi kelompok, dan simulasi penggunaan perangkat kontrol digital sederhana. Materi disampaikan secara komunikatif dan aplikatif oleh narasumber dari tim pengabdian, dengan menyesuaikan konteks lokal dan latar belakang Melalui kegiatan ini, peserta dikenalkan dengan sejumlah tema penting, antara lain: Volume 4 No 4: 598-610 Room of Civil Society Development Konsep dasar Techno Parenting dan peran orang tua sebagai pendamping digital anak. Risiko penggunaan teknologi tanpa pengawasan, seperti konten negatif, adiksi digital, dan cyberbullying. Strategi pengasuhan digital berbasis nilai: membangun komunikasi terbuka, pengawasan berbasis dialog, dan pemilihan konten edukatif. Praktik langsung mengatur perangkat digital anak agar lebih aman dan sesuai usia. Gambar 2. Penyampaian materi tentang konsep dasar Techno Parenting Pemaparan materi inti oleh narasumber dari tim pengabdian. Materi disampaikan secara komunikatif dan aplikatif sesuai dengan konteks lokal dan kebutuhan riil para orang tua dalam menghadapi tantangan pengasuhan anak di era digital. Berikut dokumentasi dan narasi materi yang disampaikan oleh pemateri pengabdian masyarakat Desa Suanae. Gambar 3. Penyampaian materi tentang Risiko penggunaan teknologi tanpa pengawasan Secara umum, masyarakat menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap kegiatan sosialisasi ini. Kegiatan diikuti oleh A45 orang peserta, yang terdiri dari para orang tua, ibu Volume 4 No 4: 598-610 Room of Civil Society Development rumah tangga, tokoh masyarakat, guru, dan perwakilan pemuda desa. Antusiasme tersebut tercermin dari kehadiran peserta yang melebihi target awal serta tingginya partisipasi selama sesi diskusi dan simulasi. Gambar 4. Interaksi orang tua dengan Pemateri: Sesi Tanya Jawab Banyak peserta secara aktif menyampaikan pertanyaan, pengalaman pribadi, maupun pendapat mereka terkait penggunaan teknologi oleh anak, dampak negatif yang dirasakan di rumah, serta strategi yang dapat diterapkan untuk mengawasi dan mendampingi anak secara lebih bijak di era digital. Beberapa orang tua juga mengungkapkan keresahan mereka terhadap akses anak terhadap konten yang tidak sesuai usia, dan menyambut baik materi yang diberikan karena dinilai aplikatif dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Tingginya keterlibatan peserta dalam diskusi menunjukkan bahwa Techno Parenting menjadi isu yang dirasakan dekat dengan kehidupan keluarga dan membutuhkan pendampingan nyata. Antusiasme ini menjadi modal penting dalam membangun komitmen bersama untuk mewujudkan pola asuh digital yang positif dan berkelanjutan di Desa Suanae. 3 Dampak Sosialisasi terhadap Pemahaman dan Sikap Orang Tua Selama diskusi berlangsung, ditemukan beberapa tantangan yang menghambat penerapan pola asuh digital positif di Desa Suanae. Di antaranya: masih rendahnya literasi digital orang tua, keterbatasan pemahaman terhadap risiko dunia digital bagi anak, serta minimnya keterampilan teknis dalam mengoperasikan fitur pengawasan digital. Selain itu, sebagian orang tua masih mengandalkan pola asuh konvensional yang cenderung represif, seperti pelarangan total penggunaan gawai tanpa komunikasi atau pengertian terhadap kebutuhan anak. Tantangan lain yang muncul adalah keterbatasan akses terhadap jaringan internet yang stabil di beberapa wilayah, serta belum meratanya kesadaran akan pentingnya etika digital dalam keluarga. Temuan-temuan ini menjadi bahan evaluasi penting dalam merancang program pendampingan lanjutan yang lebih kontekstual, berkelanjutan, dan disesuaikan dengan kebutuhan serta kondisi sosial-budaya masyarakat lokal. Upaya lanjutan diharapkan tidak hanya fokus pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan kebiasaan baru dan komunitas belajar orang tua yang saling mendukung dalam pengasuhan digital. Volume 4 No 4: 598-610 Room of Civil Society Development Temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan pengabdian masyarakat yang bersifat transformatif, di mana kegiatan edukatif tidak hanya berfungsi sebagai media transfer pengetahuan, tetapi juga mendorong terbangunnya kesadaran kritis, pemberdayaan keluarga, serta terciptanya ruang dialogis antarwarga terkait pola asuh di era digital (Fajri. Budimansyah, & Komalasari, 2. Literasi digital dalam konteks pengasuhan bukan sekadar memahami teknologi, tetapi juga mencakup kemampuan orang tua untuk mengambil peran aktif dalam mendampingi, mengarahkan, dan melindungi anak di tengah ekosistem digital yang kompleks (Sabarudin et al. , 2023. Sogen et al. , 2. Pendidikan keluarga yang kontekstual dan aplikatif memainkan peran penting dalam membangun pola asuh yang lebih adaptif dan reflektif terhadap perubahan zaman (Permana et al. , 2. Dalam kegiatan ini, hasil observasi dan diskusi kelompok menunjukkan bahwa pemahaman sebagian besar orang tua terhadap dunia digital masih terbatas pada fungsi dasar penggunaan gawai, tanpa pemahaman yang memadai tentang risiko digital, etika bermedia, dan prinsip pendampingan anak secara proaktif. Beberapa peserta, misalnya, mengaku tidak memahami perbedaan antara "mengontrol" dan "mendampingi" anak dalam penggunaan media digital. Sebagian lain merasa bingung membedakan konten edukatif dan hiburan yang mengandung manipulasi Temuan ini sejalan dengan dinamika diskusi yang menunjukkan bahwa literasi digital keluarga belum menjadi bagian dari percakapan keseharian, terutama di kalangan orang tua yang berpendidikan rendah atau tidak terbiasa menggunakan teknologi (Nurhasanah. Auliaty, & Hidayah, 2. Kondisi ini menjadi refleksi penting bahwa intervensi sosialisasi Techno Parenting perlu terus dikembangkan, tidak hanya sebagai kegiatan sesaat, tetapi sebagai gerakan berkelanjutan yang melibatkan sekolah, komunitas lokal, dan pemerintah desa untuk membangun pola asuh digital yang inklusif dan Observasi ini memperkuat argumen bahwa program literasi digital berbasis keluarga sangat diperlukan untuk membekali orang tua dengan keterampilan dan kesadaran dalam menghadapi tantangan pengasuhan di era digital secara kritis dan bijak. Kegiatan seperti ceramah interaktif, simulasi penggunaan parental control, dan diskusi kelompok terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman tentang pentingnya pola asuh yang adaptif terhadap perkembangan teknologi informasi. Pendekatan partisipatif dalam kegiatan ini mampu menciptakan ruang belajar yang reflektif dan kontekstual bagi peserta. Sebelum kegiatan pengabdian masyarakat dilaksanakan, pemahaman orang tua di Desa Suanae terhadap risiko digital, strategi pendampingan, dan pentingnya etika bermedia dalam keluarga masih sangat rendah. Hal ini terlihat dari tingginya praktik pelarangan total terhadap penggunaan gawai oleh anak, tanpa pendampingan atau komunikasi yang efektif. Di sisi lain, sebagian orang tua justru cenderung permisif, membiarkan anak menggunakan perangkat digital tanpa pengawasan yang memadai. Minimnya kebiasaan berdiskusi dalam keluarga terkait konten digital, serta ketiadaan kontrol terhadap waktu layar anak, menunjukkan bahwa literasi digital belum menjadi bagian dari kebudayaan pengasuhan Setelah kegiatan sosialisasi dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif dan edukatif, terjadi peningkatan signifikan dalam kesadaran orang tua terhadap pentingnya menjadi pendamping aktif bagi anak di ruang digital. Kegiatan ini mencakup penyampaian materi Techno Parenting, simulasi penggunaan aplikasi pengawasan . arental contro. , serta diskusi kelompok berbasis pengalaman. Pasca kegiatan, peserta mulai menunjukkan perubahan sikap dalam memperlakukan teknologi sebagai sarana edukatif, bukan sekadar hiburan. Beberapa orang tua bahkan mulai menerapkan kebijakan waktu layar, berdiskusi dengan Volume 4 No 4: 598-610 Room of Civil Society Development anak soal konten yang dikonsumsi, dan menunjukkan ketertarikan terhadap aplikasiaplikasi ramah anak. Berikut ini disajiakn data hasil kegiatan sosialisasi. Tabel 2. Data Hasil Kegiatan Sosialisasi Indikator Hasil Setelah Kegiatan Rata-rata skor pemahaman pre-test 43,2 . Rata-rata skor pemahaman post-test 81,5 . Persentase peningkatan pemahaman Orang tua yang mulai membatasi 28 orang tua . %) waktu layar anak Orang tua yang mencoba fitur 12 orang tua . %) parental control Tingkat kepuasan peserta terhadap Sangat puas: 61% b. Puas: 34% c. Cukup puas: 5% d. Tidak puas: 0% Materi mudah dipahami . %) 2. Lebih Alasan utama kepuasan percaya diri mendampingi anak . %) Berdasarkan table 2, dapat disimpulkan bahwa dengan pendekatan literasi digital yang kontekstual dan aplikatif, masyarakat Desa Suanae mulai mengembangkan kapasitas mereka sebagai pendamping yang sadar terhadap bahaya dan potensi dunia digital bagi Pengabdian ini tidak hanya memberikan peningkatan pemahaman secara individu, tetapi juga membuka ruang kolaboratif dalam membentuk pola asuh yang lebih adaptif terhadap era teknologi. Sebagai tindak lanjut untuk memperkuat dampak kegiatan Techno Parenting, akan dilakukan langkah-langkah konkret antara lain: pembentukan Forum Orang Tua Peduli Digital (FOPED) sebagai ruang diskusi dan berbagi praktik pengasuhan digital. kader penggerak techno parenting dari masing-masing RT. integrasi literasi digital keluarga ke dalam kegiatan rutin PKK dan posyandu. penyusunan dan penyebaran media edukasi lokal berupa infografik, booklet bergambar, dan video singkat berbahasa daerah. pelaksanaan monitoring dan evaluasi berkala untuk menilai perubahan sikap dan praktik pengasuhan digital di rumah. Temuan ini sejalan dengan berbagai penelitian sebelumnya yang menekankan bahwa literasi digital keluarga memainkan peran penting dalam memperkuat ketahanan anak terhadap pengaruh negatif media digital. Ilmi. Fuad, dan Siregar . menegaskan bahwa keterlibatan aktif orang tua dalam dunia digital anak menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter dan kemandirian anak di era teknologi. Senada dengan itu. Mandala et al. serta Masfufah dan Salsabila . menunjukkan bahwa pola pendampingan berbasis komunikasi terbuka lebih efektif dibandingkan pendekatan larangan sepihak. Sementara itu, studi oleh Widhiasih . menekankan bahwa keterlibatan orang tua dalam menanamkan nilai-nilai kewarganegaraan digital berbasis budaya lokal dapat memperkuat ketahanan keluarga dalam menghadapi tantangan era digital secara partisipatif dan Meskipun metode yang digunakan telah dirancang dengan pendekatan edukatif dan partisipatif yang relevan, terdapat beberapa catatan penting yang perlu disampaikan sebagai bahan evaluasi. Pertama, meskipun kegiatan hanya berlangsung dalam satu hari, hasil evaluasi menunjukkan dampak yang cukup signifikan terhadap pemahaman dan sikap Hal ini menunjukkan bahwa metode yang dipilih bersifat intensif dan efektif, meskipun akan lebih kuat lagi bila dilengkapi dengan sesi pendampingan lanjutan untuk mengukur efek jangka panjang. Kedua, deskripsi instrumen evaluasi sudah tepat dan Volume 4 No 4: 598-610 Room of Civil Society Development terarah, namun akan lebih kuat jika disertai dengan penyebutan dimensi indikator dan contoh butir angket secara eksplisit dalam bagian metode. Penyempurnaan aspek teknis tersebut akan semakin memperkuat keterkaitan antara rancangan pelaksanaan dan bukti dampak kegiatan dalam laporan hasil. Secara keseluruhan, metode yang diterapkan telah mendukung pencapaian tujuan kegiatan secara kontekstual dan aplikatif. Kesimpulan Kegiatan sosialisasi Techno Parenting di Desa Suanae memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan literasi digital keluarga, khususnya dalam konteks pengasuhan anak di wilayah pedesaan. Melalui pendekatan edukatif dan partisipatif, kegiatan ini berhasil mendorong perubahan signifikan dalam pemahaman dan sikap orang tua terhadap penggunaan teknologi dalam kehidupan anak sehari-hari. Peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga mulai menerapkan praktik pengasuhan digital yang lebih reflektif, komunikatif, dan bertanggung jawab, seperti membatasi waktu layar, menggunakan parental control, dan berdiskusi dengan anak terkait konten digital. Kontribusi utama kegiatan ini terletak pada penerapan praktik Techno Parenting yang kontekstual dan berbasis nilai lokal, sehingga dapat menjadi model intervensi sosial yang efektif dalam membangun ketahanan keluarga di era digital, terutama di wilayah dengan akses literasi teknologi yang terbatas. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa techno parenting tidak hanya relevan dalam konteks urban, tetapi juga dapat diadaptasi secara aplikatif dalam lingkungan pedesaan dengan pendekatan yang tepat. Praktik-praktik baik dari kegiatan ini dapat direplikasi dan diintegrasikan dalam program pembangunan keluarga di tingkat desa, seperti dalam agenda PKK, posyandu, atau forum warga. Selain itu, dukungan dari pemerintah daerah sangat diperlukan untuk mendorong kebijakan literasi digital keluarga yang lebih sistematis dan berkelanjutan, baik melalui regulasi lokal, pelatihan kader pengasuhan digital, maupun pengembangan media edukasi berbasis komunitas. Dengan demikian, program seperti Techno Parenting dapat menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam membentuk budaya digital keluarga yang adaptif, inklusif, dan sadar risiko di tengah perkembangan teknologi yang semakin Ucapan Terima Kasih Sehubungan dengan pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Kepala Desa Suanae beserta seluruh jajaran perangkat desa atas dukungan, fasilitasi, dan sambutan yang luar biasa selama kegiatan berlangsung. Kami juga menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada seluruh masyarakat Desa Suanae, khususnya para orang tua, tokoh masyarakat, ibu rumah tangga, pemuda, serta guru-guru setempat yang telah berpartisipasi secara aktif, terbuka dalam berdialog, dan antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan sosialisasi Techno Parenting. Semangat kebersamaan, kehangatan, dan dukungan yang kami terima selama proses berlangsung menjadi sumber motivasi besar bagi kami dalam menjalankan kegiatan pengabdian ini. Kami berharap program ini dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan dalam membentuk pola asuh yang lebih adaptif, kritis, dan penuh kesadaran digital di tengah keluarga-keluarga Desa Suanae. Volume 4 No 4: 598-610 Room of Civil Society Development Daftar Pustaka